Mairil

Mairil ?

Dalam perjalanan panjang Gambir – Kediri, di atas kereta api Gajayana, aku menanggapi sepenggal kisah dari putriku yang hari itu kuantar kembali ke Pesantrennya. “Ayah, aku boleh sharing gak…” Youma meminta izinku. Aku menganggukkan kepala tanda setuju. “Ada kejadian yang aku sebenarnya gak setuju banget, tapi kayanya sudah dianggap biasa, beberapa temanku yang junior, takut mengadukan hal ini kepada pengurus.” “Soal apa sih kak?” Tanyaku menyelidik. “Hmmm, waktu zaman ayah nyantri dulu apakah suka ada yang namanya Mairil?.”

Deg….

Aku memutar tubuh, memandangi wajah lugunya yang penuh harap akan jawabanku. “Ya kak, Mairil itu sejenis rasa suka sama sejenis, apa yang sudah kamu ketahui tentang hal itu?” Aku kembali bertanya, aku ingin dia mengemukakan semua yang dia tahu. “Iya yah, temanku jadi korban, tapi dia gak berani marah apalagi sampe ngadu ke pengurus. Tapi aku pernah tanya langsung ke salah seorang pengurus, hanya dijawab begini, “itu soal biasa di pesantren, nanti juga hilang sendiri.” Begitu jawaban pengurus di pesantrenku, tapi aku kan jijik, soalnya tuh kadang – kadang mereka yang sampe kaya pacaran gitu, saling perhatian, sampe dibelikan makanan, dicucikan baju, terus kaya dilindungin gitu deh.”

Enough

Aku bersyukur, sejak kecil putriku sangat terbuka untuk menceritakan apapun peristiwa yang terjadi, sejak dari sekolah dasar sampai sekarang di usia memasuki sekolah menengah atas. Keterbukaan semacam ini penting, agar kita sebagai orang tua, bisa bersama – sama anak merenda kehidupan yang keras dengan berbagai ujiannya.

Fenomena Mairil, sepertinya dianggap biasa, padahal ia bisa meningkat pada aktivitas seks yang mengerikan. Di Pesantren dikenal dengan istilah “nyempet”. Nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis.

Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama – sama terlibat dalam hubungan seksual satu jenis kelamin.

Salah seorang pelaku Mairil yang saya kenal dengan baik, bahkan berlanjut setelah lulus dari Pesantrennya di Jawa Barat. Ketika akhirnya menikah ternyata hanya bertahan dua tahun, karena terbukti sang istri dianggurin alias tidak disentuh. Mereka bercerai, istrinya sudah menikah lagi dan setahun kemudian melahirkan. Sementara temanku itu sampai sekarang tidak menikah lagi. Meskipun pengetahuan agamanya sangat bagus, di kampungnya dia seorang ustadz yang cukup disegani.

Lain lagi cerita Munaryo, bukan nama sebenarnya, ia benar – benar aktivis L*BT, cowok berkulit putih dan berambut panjang ini memegang jaringan utama homoseksual untuk alumni Pesantren. Gila, tapi ini fakta yang sebenarnya. Lelaki berwajah imut ini pernah menyampaikan kepada saya, “alumni – alumni Pesantren yang tidak punya salurannya, kan perlu difasilitasi ustadz, beberapa dari mereka sudah pernah berkencan dengan saya, suka sama suka, tanpa paksaan.”

Stop…

Apa yang saya ceritakan bukan yang pertama, Syarifuddin, alumni Pesantren Wonorejo, bahkan pernah menuliskan sebuah buku kontraversial yang diberi judul, “Mairil, Sepenggal kisah biru di Pesantren.”

Budaya Mairil, saya duga, tidak akan segera berakhir, iklim sosiologis Pesantren serta kekurangpedulian pengurus pada fenomena ini, menjadi salah satu indikator dugaan saya. Aktivitas harian yang mempertemukan kelamin sejenis berpeluang melahirkan apa yg disebut dalam istilah Jawa, “witing tresno jalaran songko kulino_cinta tumbuh karena terbiasa.” Tapi kan itu sejenis? Bukankah mereka juga belajar bahwa yang demikian itu diharamkan? Tidakkah materi fikih dan hadits apalagi kitab akhlaq banyak menyinggung persoalan ini? Ya, benar sekali, tapi boleh jadi, ketiadaan lawan jenis di sekitar Pesantren telah membentuk konstruksi seksual yang demikian itu.

Maka, pada saat diberi amanat mendirikan pesantren, hal pertama yang saya lakukan adalah membuat kamar besar yang menampung semua santri, dan menyediakan kamar kakak pendamping di dalam ruangan besar asrama santri itu. Berikutnya adalah mendirikan Asrama putri di area Pesantren besar juga dengan konsep yang sama. Mereka masih bisa berjumpa saat sekolah, apel, makan dan sholat jamaah. Meskipun bukan tanpa hambatan, karena ujian awal adalah banyak santri yang ketahuan berpacaran, meskipun hanya lewat surat – suratan lewat modus “tukar buku pelajaran”, tapi Alhamdulillah seiring waktu semua dapat dikontrol lewat pendampingan. Setiap pekan ada small gathering antara kakak pendamping dengan adik – adik dampingannya. Sejauh ini sih efektif, mereka mulai terbangun spirit mengasihi sebagai keluarga, keluarga besar Pesantren Motivasi Indonesia.

Bukan Penyakit

Budaya Mairil di Pesantren yang tumbuh lewat sebuah sistem yang tak direncanakan namun dibiarkan (karena sejauh ini tidak pernah ada ta’zir khusus atas pelanggaran seperti ini), hal demikian juga terjadi pada kasus tumbuh kembang anak di lingkungan keluarga yang tak sempat mengenali perubahan orientasi seksual anak – anak.

Pada banyak kasus dampingan, saya menemukan “pembiaran” di masa awal sebagai biang keladi paling efektif liarnya orientasi seksual anak. Beberapa data kasus yang pernah saya tangani, Ada anak laki – laki yang tumbuh bersama semua saudaranya yang perempuan, lalu ia berubah orientasi ke arah feminin.

Ada juga anak perempuan yang sejak masa kehamilannya dulu diharapkan oleh orang tuanya terlahir laki – laki, faktanya ia lahir sebagai perempuan. Jiwanya labil, di usia remaja ia memilih menjadi perempuan macho, waktu anak ini berumur 14 tahun pernah bertanya kepada saya di mana dokter yang bisa membantunya operasi kelamin, “aku sudah muak terlahir sebagai perempuan ust, jiwaku, lahir batin adalah lelaki.” Begitu kata dia, saya masih mengingatnya dengan jelas.

Ada juga kasus seorang anak yang tumbuh di keluarga religius, ia tumbuh dengan dua saudara lelaki dan lima saudara perempuan, namun sejak kecil memilik fantasi seks yang luar biasa, wajahnya yang standar membuatnya frustasi karena tidak pernah mendapatkan pacar, sehingga suatu waktu mendapatkan pelecehan seksual (baca: sodomi) dari pamannya. Ia berkembang menjadi pecinta laki – laki, namun, usai pendampingan, Alhamdulillah orientasi seksualnya dapat diarahkan untuk kembali normal. Kini ia sudah menikah dengan perempuan yang dicintainya dan telah memberinya keturunan, dua anak kembar perempuan.

Ada lagi kasus keluarga dari minoritas tionghoa, ya Allah temanku ini, meski beda agama mereka orang – orang baik, tapi perlakuan para tetangga kepada mereka sangat keji, tudingan sebagai antek PKI amat menyakitkan. Mereka hijrah dari Jakarta lalu bertekad menjadikan anak – anaknya sukses lewat pendidikan tinggi. Salah satu putranya berhasil menamatkan magister bisnis di Sorbonne University, Paris, lalu tinggal di sana, setelah menikah ternyata ditinggal istrinya yang selingkuh. Tekanan demi tekanan dalam hidupnya membuatnya memilih menjadi Homoseksual. Ia mendapatkan kepuasan batin bersama teman prianya.

Belum lagi cerita seorang teman yang lahir dan besar di tengah dominasi keluarga baik orang tua maupun kakak – kakaknya. Rafi, sebut saja begitu, merasa dikerdilkan, tak punya hak suara, keputusan selalu didominasi oleh keluarganya. Ia bagaikan boneka yang tak boleh protes, meskipun harta berlimpah, tekanan batinnya tak jua dimengerti sehingga ia berjumpa dengan teman lelakinya yang memberinya perhatian, mereka jatuh cinta dan kini tinggal serumah di Amsterdam.

Rumah adalah pesantren kecil. Pesantren adalah rumah besar. Bila di rumah ada ayah, ibu, kakak dan adik, maka di Pesantren ada Kyai, ustadz pendamping dan juga teman – teman sepengajian dan sepergaulan. Di antara keberadaan para subjek di atas ada sebuah sistem nilai dan juga rules yang terkadang tidak berpihak kepada mereka yang berorientasi seksual berbeda.

Bagi saya, homoseksual bukan penyakit, apalagi disejajarkan dengan Schizophrenia. Penderita Schizophrenia dikarenakan kesadarannya yang berubah, seringkali tingkah polah mereka jadi aneh (Bisa tampak lucu, ngoceh sendiri atau paranoid ). Tetapi, bukannya kasihan, orang yang sakit seperti ini justru seringkali jadi bahan tontonan, bahan olok – olok yang seolah asyik.

Kegagalan Parenting

Homoseksual dan Lesbian atau Mairil pada budaya Pesantren maupun di rumah adalah fakta kegagalan parenting. Orang tua dan pengasuh anak boleh jadi terlalu asyik dengan dunianya sehingga tak mengenali disorientasi seksual anak – anaknya. Seiring waktu mereka tumbuh bersama fantasi yang tak bisa dikekang. Pada gilirannya mereka tinggal menunggu bom waktunya; kekecewaan mendalam, selalu disalahkan, dipermalukan di depan umum, kerap menjadi objek bullying dan dikucilkan dalam dominasi lingkungan sekitar.

Semua fakta ini saya beberkan dari sisi kemanusiaan untuk bisa mengenali mereka. Bahwa pilihan menjadi Homoseksual atau Lesbian bukan sesuatu yang baru datang, ada sejuta persoalan yang melatarbelakanginya. Lalu tiba – tiba saja sebagian kita mem-bypass-nya dan tampil sebagai polisi agama menghujat, mencaci, memaki, menyebut mereka gila, menuduh pewaris kaum sodom, pengundang adzab Tuhan dan karenanya harus segera dibumi – hanguskan, sebagaimana dulu kaum Sodom dihancurkan Tuhan.

Saya yakin ada skenario Tuhan yang lebih positif untuk memanggil para pemerhati kemanusiaan, menemukan upaya pendampingan terhebat, bukan dengan legalitas perkawinan antar mereka, tetapi penerimaan atas eksistensi mereka sebagai makhluk Tuhan, manusia seperti kita.

Terkadang, ada sesuatu yang kukhawatirkan, bila ternyata kemudian ada di antara orang terdekat kita yang mengalami itu. Kebanyakan memang perasaan iba bercampur dengan rasa malu tanpa bisa mungkin tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu yang bisa mengembalikan mereka, yang ada hanya menyalahkan, mencurigai begitu seterusnya.

Pendampingan terhadap masalah yang sensitif ini tidak pernah terbuka disosialisasikan secara umum dan terbuka, bahkan oleh tokoh agama sekalipun. Sebagian besar akan dicibir karena dianggap mendukung, padahal tujuannya untuk membantu mengatasi masalah ini sampai ke akarnya yang mendalam.

Bahwa ada yang menyebut ini sebagai rekayasa global atau konspirasi internasional menghancurkan Islam, saya rasa terlalu berlebihan, bagaimana tidak, budaya nyempet dan mairil di Pesantren saja masih belum ada penyelesaian. Tokoh agama banyak yang sembunyi di balik busana kesalehan, menyerang dengan hujatan tanpa solusi untuk mengembalikan fitrah mereka. Kasus yang dialami Rahman dan Bowo (dua klien saya yang saya tuturkan pada postingan sebelum ini merupakan fakta tak terbantahkan bahwa rencana taubat mereka saja dimentahkan oleh sebagian kalangan agamawan).

Dompet Cinta

Bila kita mau belajar dari sang utusan, Nabi Muhammad itu sempurnanya seorang teladan. Beliau memiliki spirit kasih yang tak tertandingi oleh manusia manapun di jagat raya ini. Bahkan saat dihancurkan oleh berbagai tipudaya musuh, Sang Nabi tetap saja serius melayani mereka dengan kasih sayang. Sang Nabi benar – benar mengajarkan kepada para penyeru kebajikan untuk memiliki sub-modalitas seperti yang telah beliau contohkan:

1. Equality (kesetaraan). Sang Nabi telah dipilih oleh Allah dari jenis yang sama dengan kita yakni manusia, beliau bukan Jin, bukan pula Malaikat. Karenanya, Nabi tidak diutus kepada umatnya melainkan dengan bahasa kita, kaumnya. Prinsip kesetaraan ini membuat Nabibtak boleh jumawa, meskipun derajat kenabian telah menempatkan beliau sebagai ma’shum (tak tersentuh dosa), tapi meskipun demikian kebiasaan istighfar beliau melebihi kebiasaan semua pengikutnya. Adakah di antara kita yang istighfarnya melebihi Sang Nabi?

2. Empathy (tidak semata – mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam, lebih dari sekedar peduli). Ya, begitulah sang nabi dalam menjalani pendampingan kepada umatnya, sungguh sangat berat terasa olehnya penderitaan yang kita rasakan.

3. Solutif (menyuguhkan jalan keluar). Beliau itu sangat menginginkan keselamatan umatnya, maka sejumlah program dakwah yang mencerahkan dan berorientasi pemberdayaan telah dicanangkan oleh beliau. Beliau kerap menyuguhkan jalan keluar dalam kebingungan yang sedang dialami umatnya. Bukan menghujat apalagi mengutuknya. Kepada mereka yang memusuhinya, sang nabi berdoa, “Ya Allah, tunjukilah mereka, karena sesungghunya merek tidak mengetahui.”

4. Unconditional love (cinta tanpa syarat). Sang Nabi mencintai umatnya lahir batin bahkan menjelang wafatnya beliau berulangkali memanggil-manggil umatnya, ummatiii…ummatiii…ummatiii…. Beliau itu amat besar belas kasihannya serta amat menyayangi kita umatnya.

Duhai para penyeru kebajikan, sudahkan Dompet Cinta-mu terisi penuh dengan empat sub-modalitas kenabian?

Bacalah surat cinta Sang Pencipta yang menegaskan kembali sosok terpilih, Sayyidina Muhammad sebagai teladan kita dalam kehidupan ini:

QS 9/128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang – orang mukmin.

Wallâhu A’lam bi ash-shawâb

Enha
Talbot Crescent, London
July 1, 2015 03.00 GMT

WAHAI KOMUNITAS GAY, ANAK-ANAKMU TERLUKA

Komunitas gay, aku adalah anak perempuanmu. Ibuku membesarkan aku di tahun 80 dan 90-an bersama pasangan sejenisnya. Sebelumnya, Dia dan ayahku sudah menikah beberapa lama. Sebelum menikah, ibu sudah tahu kalau beliau gay, tapi jaman dulu keadaan berbeda dengan sekarang. Walaupun dengan kondisi yang cukup rumit, lahirlah aku. Ibu meninggalkan ayah ketika aku berumur dua atau tiga tahun karena beliau ingin dapat kesempatan hidup bahagia dengan seseorang yang benar-benar Ia cintai : seorang wanita.

Ayahku bukan orang hebat juga, karena sesudah Ibu meninggalkannya, Dia tak pernah hadir dalam hidupku lagi.

Kalian ingat ada buku berjudul, ”Heather Has Two Mommies” (“Heather Punya Dua Mama”) ?. Itulah hidupku. Ibuku, pasangannya, dan aku tinggal rumah kecil yang nyaman di lingkungan yang sangat liberal dan berpikiran terbuka. Pasangan Ibu memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Dengan adanya pasangan Ibu itu, aku juga mendapatkan teman-teman gay dan lesbian dari komunitasnya yang serba tertutup. Atau mereka yang mendapat aku sebagai teman?

Apapun itu, aku masih merasa orang-orang gay adalah orang-orangku. Aku belajar banyak dari kalian. Kalian mengajarkanku bagaimana menjadi berani, terutama dalam keadaan sulit. Kalian mengajarkanku empati. Kalian mengajarkan bagaimana mendengarkan, dan cara berdansa. Kalian mengajarkan aku untuk tidak takut akan hal-hal yang berbeda. Dan kalian mengajarkanku bagaimana membela diriku sendiri, walaupun itu berarti aku sendirian.

Aku menulis kepada kalian karena aku berusaha membuka diri : aku tidak mendukung pernikahan sejenis. Tapi alasannya mungkin bukan seperti yang kalian pikirkan.

Anak-anak Membutuhkan seorang Ibu dan Ayah.

Ini bukan karena kalian gay. Aku sangat mencintai kalian. Ini karena sifat alami dari hubungan sesama jenis itu sendiri.

Sepanjang aku tumbuh, bahkan sampai umur 20-an, aku mendukung dan menyetujui pernikahan gay. Setelah beberapa lama meninggalkan masa kecil, pengalaman membuatku merenung dan menyadari konsekuensi yang kualami atas pendidikan dari orang tua yang sesama jenis. Sekarang ini, ketika aku memandangi anak-anakku mencintai dan dicintai oleh ayahnya setiap hari, aku bisa melihat keindahan dan kebijaksaan yang ada dalam pernikahan tradisional dan pendidikan orang tua tradisional.

Pernikahan sesama jenis menyebabkan anak kehilangan salah satu orang tua, ibu atau ayah, dimana si anak diberi penjelasan kalau hal itu tidak masalah, sama saja. Tapi itu tidak sama. Banyak dari kami, banyak dari anak-anakmu yang terluka di sini. Ketidak-hadiran ayahku membuat adanya lubang yang besar dalam diriku, dan hatiku sakit setiap hari mengharapkan seorang ayah. Aku sangat mencintai pasangan ibuku, tapi seorang ibu tambahan tidak akan pernah menggantikan ayah yang hilang.

Aku tumbuh dikelilingi oleh wanita yang mengatakan mereka tidak butuh dan tidak menginginkan seorang pria. Tapi sebagai seorang gadis kecil, aku mati-matian membutuhkan seorang ayah. Rasanya aneh dan membingungkan setiap hari bergerak dengan memendam kerinduan mendalam akan seorang ayah, seorang pria, dalam komunitas yang berprinsip tidak perlu ada pria disini. Ada kalanya aku merasa sangat marah pada ayahku karena tidak pernah hadir untukku, dan kemudian aku bisa merasa marah pada diri sendiri karena menginginkan ayah. Sampai sekarang sebagian diriku masih meratapi rasa kehilangan itu.

Aku tidak bilang kalian tidak bisa jadi orang tua yang baik. Kalian bisa. Aku punya orang tua yang terbaik. Aku juga tidak bilang kalau dibesarkan orang tua normal berarti semua dijamin akan jadi baik. Kita tahu keluarga bisa saja pecah karena berbagai alasan, dan menyebabkan anak-anaknya menderita : perceraian, penelantaran, perselingkuhan, penganiayaan, kematian dan lain-lain. Tapi struktur keluarga yang paling baik dan mempunyai kemungkinan terbesar untuk sukses dalam keluarga dimana anak-anak dibesarkan bersama oleh ayah dan ibunya.

Kenapa Anak-anak Pasangan Gay Tidak Boleh Jujur?

Pernikahan sesama jenis bukan cuma mengubah ulang arti penikahan tapi juga parenting. Pernikahan sejenis mengusung dan menjadikan normal suatu struktur keluarga yang pada intinya menghilangkan sesuatu yang mendasar dan berharga. Ia menghilangkan sesuatu yang secara alamiah kami butuhkan dan dambakan, sementara kami diyakinkan kalau kami tidak butuh itu dan akan baik-baik saja. Tapi kami tidak baik-baik saja. Kami terluka. Kalau ada orang yang bisa bicara tentang kesulitan, itu kami.

Anak-anak dari orang tua yang bercerai bisa berkata, ”hai ayah dan ibu, aku cinta kalian, tapi perceraian ini sudah menghancurkanku dan ini sangat berat bagiku. Kepercayaanku sudah hancur dan aku merasa ini semua salahku. Sulit sekali harus tinggal di dua rumah yang berbeda.” Anak adopsi boleh berkata, ”hai orang tua angkat. Aku cinta kalian. Tapi ini sangat berat untukku. Aku menderita karena hubunganku dengan orang tua pertamaku terputus, aku bingung dan aku merindukan mereka walaupun aku tidak pernah bertemu mereka.”

Tapi anak-anak dari orang tua sesama jenis tidak pernah diberi suara yang sama. Bukan hanya aku. Banyak sekali di antara kami yang terlalu takut untuk maju dan mengatakan pada kalian tentang luka dan sakit kami, karena apapun alasannya sepertinya kalian tidak mau mendengarkan. Seandainya kami bilang sudah terluka karena dibesarkan oleh orang tua sesama jenis, kami diacuhkan atau dicap sebagai hater.

Ini sama sekali bukan tentang benci. Aku tahu kalian mengerti sakitnya diberi label yang tidak benar dan sakitnya diberi label yang tujuannya menistakan atau membungkam kalian. Dan aku tahu kalian sudah merasakan benar-benar dibenci dan disakiti. Aku ada disana, di dalam barisan, saat mereka mengacungkan poster bertuliskan ”Tuhan benci homo” dan ”AIDS menyembuhkan homoseksualitas”. Di jalanan itu aku ikut menangis dan marah bersama kalian. Tapi itu bukan aku. Bukan kita.

Aku tahu ini percakapan yang berat, tapi kita butuh membicarakannya. Kalau ada siapapun yang bisa bicara tentang hal-hal sulit, itu kita. Kalian yang mengajarkannya padaku.

Heather Barwick dibesarkan oleh ibunya dan pasangan sesama jenis ibunya. Ia dahulu seorang yang mendukung pernikahan sesama jenis yang berubah haluan menjadi aktivis hak-hak anak. Ia seorang istri dan ibu dari empat orang anak yang luar biasa aktif.

sumber dan terjemahan dari : https://thefederalist.com/2015/03/17/dear-gay-community-your-kids-are-hurting/?fbclid=IwAR2354DQ1JnId0yyr1fe4z-lk0KO_AhPUpSWKl-GKT637pTEmbo746fhnEU

Mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penerjemahannya .

Salam Peduli Sahabat

Kekuatan Sesungguhnya, Mengalahkan Diri Sendiri

Sungguh musuh yang sebenarnya adalah diri sendiri.

Seperti apa yang terjadi pada kisah ini dimana sebuah perjuangan keras untuk melawan gejolak hati yang begitu kuat.

Bukan sebuah perkara mudah sekali saja lepas kendali mungkin akan terjebak dalam lubang hitam dan sulit untuk keluar.

Namun dengan sebuah kesungguhan dan selalu memanjatkan doa serta selalu mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Gejolak tersebut dapat diredam dan semoga bisa hilang selama – lamanya.

Simak kisahnya

Perkenalkan aku laki – laki berusia 40’an tahun. Berasal dari sebuah pedesaan yang asri dan lingkungan yang agamis.

Bahkan leluhurku termasuk tokoh agamawan yang cukup dihormati di mata masyarakat. Dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sederhana dan memiliki banyak bersaudara.

Masa kecilku seperti umumnya anak laki – laki biasa. Bermain bola, hujan – hujanan, main mobil – mobilan, perang – perangan, serta tak lupa mandi bareng teman perempuan di sungai pada usia sekitar kelas 4 – 5 SD.

Saat itu belum paham makna sebuah syahwat. Mengerti tentang fungsi alat kelamin lawan jenis saja tak tahu walaupun sering melihat punya teman sepemandian tersebut.

Namun sejak kelas 5 SD, sudah merasakan adanya ketertarikan terhadap teman perempuan. Bahkan rasa itu masih ada hingga saat ini. Mungkinkah ini cinta pertama?

Di samping ada rasa seperti yang di tulis di atas terhadap teman perempuan, ternyata aku pun memiliki rasa suka pada sesama jenis (laki – laki), khususnya yang ganteng dan putih.

Dulu gak pernah berpikir macam – macam, apalagi tentang hubungan badan. Karena waktu itu aku belum mendapatkan mimpi basah.

Selama usia kelas 4 – 6 SD, seringkali tidur bareng bersama teman laki – laki.

Bahkan beberapa kali pernah bercanda saling meniduri sesama teman (tidak sampai membuka pakaian alias berpakaian lengkap). Hanya sekedar saling tumpang – tindih tanpa mengetahui bahwa seperti itulah cara orang dewasa melakukan hubungan intim.

Tak ada rasa menikmati maupun enak. Semua dilakukan hanya sekedar bercanda diiringi tertawaan.

Bahkan aku pernah ditiduri dari belakang oleh teman laki-laki yang 5 tahun lebih tua usianya. Organ vitalnya ditempelkan (maaf) tepat pada belahan bokongku, namun tidak sampai melakukan penetrasi ke dalam lubang dubur.

Itu terjadi hanya beberapa saat dan sekali saja. Lagi – lagi aku tidak menikmatinya sama sekali. Tidak lebih hanya sebatas itu saja.

Satu lagi, di antara usia – usia di atas itu juga, aku pernah ditiduri oleh kakak laki – laki kandungku sendiri. Terbangun malam – malam gara – gara ditindih oleh dia dengan posisi telentang, dan celana dipelorotkan.

Artinya (mohon maaf) organ vital dia dengan punyaku saling menempel. Aku tak berontak dan diam saja. Sama sekali tak paham apa yang sedang dia lakukan padaku? Hanya membiarkannya saja, tak merasakan kenikmatan, tak ada rasa apa – apa selain pengap. Kemudian kembali tertidur lelap.

Hingga saat ini, aku tak pernah mengatakan pada siapa pun terkait kejadian malam tersebut, kecuali melalui tulisan ini sekarang. Aku malu dan kasihan, karena dia saudara kandung.

Usia sekitar 14 tahun mendapatkan mimpi basah. Saat itu belum juga paham apa yang terjadi pada tubuh ini? Hanya saja, syahwatku mulai muncul sejak saat itu. Ada rasa terangsang ingin sesuatu yang aneh, namun belum juga tahu nama hubungan badan (baik melihat maupun cara melakukannya).

Masturbasi?

Aku tak tahu, benar-benar sangat polos. Akan tetapi, rasa ketertarikan terhadap sesama dan lawan jenis tetap ada. Porsi bandingnya mungkin 40% tertarik ke perempuan dan 60% pada laki – laki.

Ingin sekali pada saat itu bisa berpelukan ataupun ciuman dengan kedua jenis tersebut. Jika sedang membayangkan keduanya dalam keadaan ‘polos’ aku bisa ereksi.

Usia sekolah SMA kelas 2, di sanalah aku pertama kali menonton blue film. Bagaimana cara berhubungan badan serta teknik – tekniknya. Pada usia itu pula, aku mengalami pelecehan seksual oleh teman – temanku.

Di mana (maaf) organ vitalku dipegang dan dikocok – kocok oleh mereka tanpa bisa melawan, karena kedua tangan dan kaki ditahan mereka. Tidak sampai ejakulasi dan dalam keadaan masih berpakaian lengkap.

Sialnya, sejak saat itulah aku mengenal istilah masturbasi dengan sabun mandi. Pertama kali mencoba, ketagihan. Itu dilakukan hingga sekarang.

Usia 17 – 25 tahun, keanehan seksual yang ada pada jiwa ini semakin berat kurasakan. Tak mengerti, mengapa aku seperti ini?

Aku ingin normal sebagaimana teman – teman lainnya. Memiliki pacar perempuan dan wakuncar di malam Minggu, sebagaimana umumnya remaja lain.

Aku orangnya pemalu dan kurang percaya diri.

Di usia remaja, aku pernah penasaran membuka celana salah seorang teman laki – laki. Melihat, memegang, dan (maaf) mengulum alat vital mereka. Mencium bibir mereka pada saat tertidur.

Untuk hal yang beginian, hanya pernah dilakukan sekali saja karena dorongan rasa penasaran. Selanjutnya aku tak berani karena takut ketahuan. Pokoknya orientasi seksualku lebih mengarah ke suka terhadap sesama jenis.

Sadar akan apa yang ada dalam diri ini salah, aku selalu berusaha menahan dan melawan syahwatku pada sesama jenis. Aku tak mau hidupku hancur dan menanggung malu seumur – umur.

Rahasia keanehan ini selalu kujaga ketat, walaupun ada beberapa teman yang sepertinya mencium gelagat keganjilanku ini. Aku tak pernah membukanya, kecuali melalui tulisan ini.

Kututupi kecurigaan mereka dengan cara menjalin hubungan dengan lawan jenis. Berkali – kali gonta – ganti pasangan, sampai ada yang memberiku stempel playboy.

Padahal bukannya aku tak ingin serius. Hanya saja kurang tertarik dengan perempuan, terkecuali rasa cinta pada teman perempuanku semasa SD seperti yang diceritakan di atas tadi.

Jujur, aku tak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

Tubuhku masih suci sampai ke jenjang pernikahan. Aku takut dosa dan terkena penyakit menular. Hanya bisa menyalurkan syahwat ini melalui masturbasi dan tontonan film porno, baik yang heteroseksual maupun homoseksual.

Landasan ilmu keagamaan yang ditanamkan orangtua sejak kecil, setidaknya bisa membantu aku berpikir ulang jika ingin melakukan perbuatan seks menyimpang semacam itu. Jika tak ada, entahlah, mungkin aku sudah lama terjun ke dunia hitam.

Akhirnya diusia kepala 3, aku memutuskan untuk menikah. Hidup normal sebagaimana umumnya kaum lelaki dewasa. Memiliki istri, rumah, serta anak-anak.

Bersyukur, dari pernikahan itu aku dikaruniai empat orang anak. Namun dorongan ketertarikanku pada sesama jenis hingga saat ini masih ada.

Jatuh cinta dan berimajinasi bercinta dengan mereka (laki – laki) kerap menggoda. Aku selalu bertahan dan berusaha menepis hasrat laknat tersebut.

Akan tetapi sepertinya istriku sempat curiga akan rahasia yang selama ini kupendam. Dia pernah secara halus namun aku paham maksudnya, memeriksa (maaf) lobang anusku.

Mungkin dia curiga karena kadang-kadang aku ‘dingin’ padanya dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Bersyukur, karena area pengeluaran sisa makanan dalam perutku, masih asli. Tak pernah digunakan untuk hal – hal terkutuk. Dia percaya bahwa aku adalah laki-laki tulen.

Selama memiliki keanehan ini, aku tak pernah ingin berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Waria atau transgender, misalnya. Demi Tuhan!

Aku sangat mengutuk kaum – kaum tersebut. Aku ingin normal. Menjadi laki – laki seutuhnya.

Menikmati hari – hari bersama anak dan istri serta mengisi aktivitas luang dengan mereka. Aku menyayangi istriku. Aku mencintai anak-anakku. Aku tak ingin, keanehan ini akan terungkap dan menghancurkan semuanya.

Biarlah rahasia ini tetap menjadi milikku dan Tuhan. Aku tak ingin keluar dari jalur keharusanku sebagai laki – laki, suami dan bapak anak-anak.

Aku ingin mengisi hidup ini dengan keyakinan beragamaku. Soal rasa – rasa itu, PERSETAN aku anggap hanya bisikan iblis yang hendak mencelakaiku. Aku ingin menjadi orang baik dan meninggal dalam keadaan baik pula.

Catatanku, Agama adalah satu – satunya jalan untuk menuntun hidup kita lebih baik. Semakin mengenal Tuhan, maka semakin besarlah tekad kita untuk melawan bisikan syetan.

Aku, laki – laki yang ingin menjadi sosok suami dan bapak yang baik selamanya.

Tambahan :

Dari kecil aku sering mendengar penilaian orang bahwa sikap dan cara bicara serta suaraku kadang seperti perempuan. Tapi tak sampai kemayu maupun ‘melambai’.

Aku berusaha menjaga sikap sebagaimana laki – laki normal pada umumnya. Seiring pertambahan usia dan akil baligh, suaraku berubah besar. Disitulah, aku selalu berusaha ekstra waspada menjaga sikap kemayuku agar tak keluar secara tak disadari.

Aku memelihara kumis, janggut dan sering berakting layaknya laki – laki macho. Mungkin ada hasilnya, karena setelah usahaku tersebut sangat jarang sekali aku diolok – olok sebagai ‘banci’.

Bahkan setelah menikah, hinaan itu lenyap sama sekali hingga kini.

Namun yang jadi masalah adalah aku merasa sebagai manusia pembohong pada anak dan istriku.

Rahasia hidup ini selalu ketat kujaga. Aku tidak ingin semua orang tahu bahwa aku ini manusia ‘aneh’. Mungkin aku termasuk biseksual (AC/DC).

Dalam hal hubungan intim, aku bisa dan sering memuaskan istri. Artinya, secara sex desire, aku tak bermasalah.

Aku takut kehilangan anak dan istri jika sampai jujur mengungkapkan hal ini pada mereka.

Terus terang, aku benci dan sangat mengutuk eksistensi kaum pelangi menyimpang tersebut, walaupun dalam diriku ada jiwa mereka. Aku takut Tuhan murka atas ulah dan perilaku terkutuk mereka.

Aku sama sekali tak akan pernah berani membuka diriku yang asli pada istri. Takut dia kecewa dan meninggalkanku. Aku butuh sosok pendamping untuk menjagaku dari hasrat aneh ini. Aku ingin dialah istriku yang pertama dan terakhir sampai akhir hayat.

Pokoknya, rahasia hidupku ini hanya bisa tertuang di sini. Aku tak peduli penilaian orang (pembaca) setelah mengetahui kisah kelamku ini.

Aku laki – laki dan manusia biasa yang ingin melenyapkan sisi penyimpanganku. Salah satunya dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan atau mencintai keluarga kecilku sepenuhnya.

Jika ada rekan – rekan yang berkenan membantu membabat habis sisi penyimpanganku ini, aku menghaturkan banyak terima kasih. Apapun caranya, dengan syarat tak sampai mengetahui wajah asliku. Terus terang, aku sangat malu. Terima kasih.

Bdg, 23/01/2020

Semoga perjuangan saudara kita ini bisa menjadi motivasi untuk saudara – saudara kita lainnya yang mungkin memiliki masalah yang sama dan sedang berusaha berjuang.

Dimana ada usaha pasti akan ada jalan keluar, terutama mengendaplah serendah – rendahnya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar senantiasa selalu diberikan perlindungan dari perbuatan yanng tidak baik dan selalu diberikan pertolongan.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/menantimentari/ Grup Menanti Mentari merupakan grup khusus dari Peduli Sahabat yang menampung suami atau istri (juga para simpatisan) yang pasangannya diketahui berorientasi non-heteroseskual.

Miris ! Eksploitasi Ekonomi, Seksual, dan Perdagangan Anak Berkedok Kafe

sumber gambar : https://ecpatindonesia.org/wp-content/uploads/2017/03/49-persen-anak-indonesia-alami-eksploitasi-seks-dan-ekonomi.jpg

Kembali lagi Ibu Pertiwi kita dibuat sedih dan miris, atas terungkapnya kasus eksploitasi anak secara ekonomi dan seksual juga perdagangan anak berkedok kafe di Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kasus tersebut berhasil terungkap pada tanggal 13 Januari dan berhasil mengamankan 6 tersangka dan telah dilakukan penahanan ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus selasa (21/1).

Pada kasus tersebut juga ditemukan ada 10 korban anak – anak dengan usia antara 14 – 18 tahun yang dieksploitasi dengan cara melayani para pria hidung belang dalam memenuhi hasrat seksualnya.

Tidak tanggung – tanggung tersangka menetapkan target kepada para korban dengan harus melayani pria hidung belang setidaknya 10 kali dalam satu hari. Di dalam aksinya tersangka menetapkan tarif 150 ribu kepada para pria hidung belang untuk sekali main.

Dari hasil tersebut dibagi 90 ribu untuk tersangka dan 60 ribu untuk korban. Namun jika korban tidak dapat memenuhi target 10 kali melayani dalam sehari maka akan mendapatkan denda sebesar 50 ribu sehari.

Bukan hanya itu, tersangka juga memberikan pil khusus untuk menahan masa menstruasi kepada para korban dengan alasan karena target yang harus dipenuhi korban.

Bahkan tersangka pun tidak memperhatikan kesehatan para korbannya untuk melakukan pemeriksaan berkala. Hal itu diperkuat karena ditemukannya luka di bagian alat kelamin korban.

Dalam motifnya ke-6 tersangka tersebut mempunyai peran masing – masing dalam melakukan tidakannya. Ada 2 yang salah satunya berperan sebagai mucikari dan pemilik kafe, juga memaksa para korban untuk melayani pria hidung belang.

Ada 2 yang bertugas mencari target pengeksploitasian (anak – anak) di media sosial dengan iming – iming memberikan pekerjaan dengan gaji yang besar kemudian menjualnya kepada pemilik kafe atau mucikari di kafe tersebut, dan 2 yang lainnya adalah sebagai cleaning service.

Dalam kasus ini tersangka dijerat dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP. Dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita untuk menyadari bahwa di era kemajuan teknologi dan perkembangan jaman hendaklah agar selalu waspada dan hati – hati khususnya di ranah media sosial.

Semua kejahatan mudah untuk disembunyikan dan disamarkan jika berada di media sosial.

Dan juga menjadi peringatan bagi kita Bangsa Indonesia bagaimana kasus pengeksploitasian dan kekerasan terhadap anak masih marak dan merajalela.

Bagi anak – anak yang mengalami pengeksploitasian dan kekerasan entah secara ekonomi maupun seksual akan mengalami sebuah trauma secara mental yang sulit hilang bahkan mungkin akan selalu teringat sampai dewasa, tua dan akhir hayatnya.

sumber artikel : 1. https://www.merdeka.com/trending/aksi-keji-mami-di-penjaringan-tega-jual-anak-di-bawah-umur-ke-pria-hidung-belang.html Rabu, 22 Januari 2020 09:01 oleh Reporter : Tantiya Nimas Nuraini, 2. https://www.republika.co.id/berita/q4gdqf409/polisi-ungkap-praktik-eksploitasi-anak-dijadikan-psk Selasa 21 Jan 2020 17:42 WIB oleh Rep: Flori Sidebang / Red: Andri Saubani

Perjalanan Hijrah

sumber gambar : https://artikula.id/wp-content/uploads/2018/06/taubat-768×512.jpg

ALLAH tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya

Masih banyak dari kita termasuk saya yang mungkin masih selalu mengeluh saat ALLAH menguji kita. Selalu bertanya – tanya kenapa aku yang harus menerima ujian ini, kenapa aku harus menjadi salah satu yang harus menerima ujian ini, adilkah ini Ya ALLAH ?, dan masih banyak lagi.

Ya itulah sifat alamiah manusia, namun jarang kita dan saya sadari bahwa kita selalu mengingnkan Surga namun apa yang telah kita perbuat untuk menuju Surga ?

Apakah amal soleh kita jauh lebih banyak dari dosa kita ? Rasanya dosa kita malah jauh lebih buanyak dibandingkan amal soleh kita.

Mulai berfikir kan kenapa ALLAH menguji kita ?

Bisa jadi saat ALLAH menguji kita itulah altenatif / jalan yang sedang ALLAH siapkan untuk kita dalam perjalanan menuju Surganya ALLAH, bukankah harusnya kita bahagia?

Ya itulah kita manusia termasuk saya sendiri.

Marilah teman – teman untuk kita selalu berprasangka baik kepada ALLAH tentang apapun yang telah menimpa kita, tentang apapun yang ALLAH ujikan kepada kita, karena sungguh pendahulu kitapun juga mendapatkan ujian yang bahkan lebih berat daripada kita.

Menuju Surga bagi kita manusia biasa bukanlah perkara mudah, tetapi jika kita ikhlas dalam menjalani apapun dan selalu berprasangka baik kepada ALLAH, insyaALLAH semua akan terasa mudah dan tanpa diduga – duga.

Seperti kisah dibawah ini yang mengajarkan bagaimana sikap kita saat ALLAH sedang memberikan kita ujian.

Ingin medapatkan dunia saja harus melalui berbagai jurang terjal, lha ini Surga yang tingkatannya juauh lebih tinggi tak terhingga dibandingkan dunia, pantaskah untuk memasukinya tanpa melalui ujian?

Simak kisahnya

Mengenal peduli sahabat 2014-2019

Tahun 2016, ada mahasiswa psikologi yang memintaku untuk menjadi respondennya dalam penelitian skripsi. Awalnya ragu, tapi kemudian meyakinkan diri untuk menyanggupi. Walau sadar, akhirnya akan bertambah orang yang mengenalku sebagai SSA.

Wawancara demi wawancara sudah aku lewati. Sampai kemudian, dia mengenalkanku pada peduli sahabat. Dia tahu grup ini dari dari buku yang ditulis kak Sinyo Egie.

Alhamdulillah, waktu itu aku bersyukur banget bisa kenal dengan peduli sahabat. Karena aku menemukan teman-teman yang senasib seperjuangan. Menemukan orang – orang yang menerima dan mendukung perjuangan kami.

Dan yang paling penting aku punya konsep diri yang baru. Aku gak lagi merasa minder, merasa gak percaya diri, merasa gak layak dan berbagai hal negatif lainnya.

Sejak kenal kak Sinyo Egie dan Peduli Sahabat, aku punya semangat dan cita – cita ingin seperti kak Sinyo. Menolong teman – teman yang punya masalah sama denganku. Menjadi teman berbagi pengalaman jatuh bangun hijrah.

Dan Alhamdulilah, dua kali ALLAH memberi kesempatan padaku untuk bertatap muka langsung dengan kak Sinyo dan ikut pelatihan dari beliau. Dan saat ini, aku sedang belajar menerapkan ilmu yang aku dapat dari beliau.

Sejak mengenal peduli sahabat dan punya konsep diri yang baru, aku juga semakin percaya diri untuk bisa terbuka tentang ke-SSA-anku pada orang – orang terdekat. Tujuannya, agar aku bisa mengajak mereka berpikir terbuka dan tahu bahwa gak semua orang yang punya kecenderungan menyukai sesama jenis itu hanya memikirkan nafsu semata.

Bahwa ada diantara mereka yang berjuang keras untuk hijrah dan butuh dukungan. Bahwa ada diantara mereka yang masih berpikir dan bertindak waras. Bahwa ada diantara mereka yang ingin hidup normal seperti yang lainnya.

Dan akhirnya, aku menemukan orang – orang yang menerimaku, mendukungku dan selalu memberi semangat untuk bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Proses hijrahku sama dengan teman – teman SSA yang lain. Penuh drama jatuh bangun. Pernah berpikir untuk bunuh diri, pernah ingin menjual diri sebagai PSK sesama jenis, pernah merasa benci, jijik dan muak pada diri sendiri, pernah membenci Tuhan, pernah ingin membunuh dan balas dendam pada orang yang melukaiku di masa kecil dan seabrek perasaan negatif lainnya.

Alhamdulillah semua itu tak pernah terealisasi. Sampai sekarangpun, aku tak pernah punya pasangan sesama jenis. ALLAH selalu menarik tanganku untuk bangkit saat aku hampir terjatuh ke jurang maksiat.

Saat ini aku sepenuhnya menyadari, bahwa apapun takdir kita itulah yang terbaik. Ada hikmah yang luar biasa yang sedang ALLAH siapkan. Walau kita belum menemukannya saat itu juga, teruslah berada di jalan ALLAH.

Bersabar dengan aktif dan teruslah mencari solusi terbaik. Lakukan hal-hal positif agar tak ada celah untuk meratapi takdir. Cintai dirimu, cintai semua ujian – ujianmu dan cintai semua kesulitanmu. Agar ALLAH mencintaimu dan menguatkan hatimu untuk menjalani hidupmu yang istimewa.

Terima kasih kak Sinyo Egie. Semoga ALLAH memberkahi perjuangan kakak dan memberkahi keluarga kakak. Untuk teman – teman seperjuangan, semangat berjuang dan semoga ALLAH menguatkan langkah kita untuk tetap berada di jalan ALLAH.

Bumi Allah
31 Desember 2019

Salam Peduli Sahabat

sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014