Bamsoet: DPR Ditekan Negara Lain Agar LGBT Tak Dilarang di RUU KUHP

sumber gambar : https://cctvsemarang.id/wp-content/uploads/2018/01/Akses-Gedung-DPR-RI-akan-Diperketat-dengan-Kartu-Khusus.jpg

Presiden Joko Widodo memutuskan menunda pembahasan RUU KUHP yang sebetulnya tinggal selangkah lagi disahkan di paripurna menjadi UU. Salah satu penyebabnya banyak pro kontra dalam beberapa pasal.

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengakui memang penyusunan RUU KUHP pelik karena banyak ketentuan di dalamnya, juga karena banyak kepentingan. Termasuk ada kepentingan asing yang terusik dengan RUU KUHP. Bamsoet mengungkap DPR mendapat tekanan dari beberapa negara terkait ketentuan di RUU KUHP yang memperketat hukuman bagi tindak LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).”Saya bisa merasakan tekanannya yang luar biasa. Dalam pembahasan RUU KUHP ini terus terang DPR RI juga mendapat tekanan yang kuat terkait masalah LGBT,” ucap Bamsoet di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (20/9.

“Setidaknya ada 14 perwakilan negara-negara Eropa termasuk negara besar tetangga kita, saya tidak perlu sebutkan namanya, tidak ingin adanya pelarangan LGBT dalam KUHP kita.

– Bamsoet

Bamsoet menyebut negara-negara itu menginginkan LGBT tumbuh subur di Indonesia, seperti halnya mereka melegalkan LGBT. Namun, tekanan tak membuat DPR layu. “Sikap DPR tegas, kita penentang terdepan untuk LGBT berkembang di Indonesia,” tegas Bamsoet.

Ketentuan itu diatur dalam Pasal 421:

1. Setiap orang yang melakukan perbuatan cabul terhadap orang lain yang berbeda atau sama jenis kelaminnya:

a. di depan umum dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan atau pidana denda paling banyak Kategori III.

b. secara paksa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

c. yang dipublikasikan sebagai muatan pornografi dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

2. Setiap orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa orang lain untuk melakukan perbuatan cabul terhadap dirinya dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

Politikus Golkar itu menyebut RUU KUHP memang masih mengandung pasal-pasal kontroversial, di antaranya soal kumpul kebo, kebebasan pers, dan penghinaan terhadap kepala negara. Maka diharapkan jika akhirnya seluruh fraksi di DPR juga sepakat menunda RUU KUHP ke periode berikutnya, diharapkan pro kontra itu lebih sedikit.

“Memang tidak mudah kita berjuang untuk memiliki buku induk atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana sendiri menggantikan KUHP kolonial peninggalan Belanda.

sumber berita : https://kumparan.com/@kumparannews/bamsoet-dpr-ditekan-negara-lain-agar-lgbt-tak-dilarang-di-ruu-kuhp-1rtyWIwuCBi

Hari Anak Perempuan Internasional, Ini 5 Fakta Miris yang Tengah Dihadapi

sumber gambar : https://lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2015/11/kekerasan-seksual-anak-1280×720.jpg

Suara.com – Hari Anak Perempuan Internasional, Ini 5 Fakta Miris yang Tengah Dihadapi

Kekerasan adalah masalah terbesar bagi anak perempuan di seluruh dunia, dan tingkat penolakan yang tinggi bagi mereka di mata sosial memperburuk kondisi ini. 

Hal inilah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap tanggal 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan International (International Day of Girl Child).

Dilansir dari situs UNICEF USA, Hari Anak Perempuan Internasional dijadikan sebagai momen khusus agar setiap lapisan masyarakat bisa fokus terhadap masalah yang dialami anak perempuan di seluruh dunia. 

Sebuah penelitian terbaru oleh UNICEF menemukan bahwa kekerasan adalah masalah utama bagi jutaan dari mereka. Berikut adalah lima fakta mengejutkan tentang bagaimana kondisi anak perempuan di seluruh dunia.

1. Sejumlah besar anak perempuan dilecehkan

Seperempat anak perempuan melaporkan menjadi korban beberapa bentuk kekerasan fisik. Itu termasuk anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun di seluruh dunia atau sekitar sekitar 70 juta anak perempuan yang melaporkan kekerasan sejak usia 15 tahun. Angka itu hanya mencakup kasus yang dilaporkan; sementara masih sangat banyak yang tidak menjadi perhatian.

2. Kekerasan seksual adalah masalah besar yang mereka alami

1 dari 10 anak perempuan telah mengalami tindakan seksual paksa. Itu angkanya sama dengan sekitar 120 juta gadis di bawah 20 tahun di seluruh dunia. Sepertiga dari mereka berusia antara 15 sampai 19 tahun dan sudah menikah, dan telah menjadi korban kekerasan emosional, fisik atau seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangan mereka.

3. Kebanyakan kekerasan terhadap anak perempuan tidak dilaporkan.

Di beberapa negara, sebanyak 70 persen anak perempuan tidak pernah mencari bantuan. Hampir setengah dari anak perempuan usia 15 hingga 19 tahun berpikir jika seorang pria dibenarkan untuk memukuli istri atau pasangannya jika mereka menolak berhubungan seks, meninggalkan rumah tanpa izin, berdebat, mengabaikan anak-anak mereka atau tidak menyiapkan  makan malam.

4. Pernikahan anak adalah hal biasa

Lebih dari 700 juta wanita di seluruh dunia menikah sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Sekitar sepertiga atau sekitar 250 juta dari mereka menikah sebelum usia 15 tahun. Dan di beberapa tempat, terutama komunitas pengungsi Suriah, insiden pernikahan anak meningkat.

5. Intimidasi tersebar luas

1 dari 3 anak perempuan di seluruh dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun mengalami intimidasi secara teratur. Ini termasuk intimidasi langsung seperti menggoda, intimidasi tidak langsung seperti menyebarkan desas-desus, hingga cyber-bullying.

UNICEF bekerja dalam banyak cara untuk mencegah kekerasan terhadap anak perempuan, termasuk menyediakan tempat berlindung dan ruang lindung; mempromosikan pendidikan anak perempuan dan membantu anak perempuan mengembangkan keterampilan hidup; mendukung orang tua dengan program seperti transfer tunai yang membantu mengurangi risiko yang dihadapi anak perempuan; dan bekerja dengan pemerintah untuk memperkuat sistem peradilan, kriminal dan sosial yang penting untuk menjaga keamanan anak perempuan.

“Kita semua bertanggung jawab untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak perempuan,” kata Geeta Rao Gupta, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF.

sumber berita : https://www.suara.com/health/2019/10/11/081500/hari-anak-perempuan-internasional-ini-5-fakta-miris-yang-tengah-dihadapi

Buah Hati Bukan Benda Mati

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2016/02/29/09/57/sorrow-1228329__340.jpg

Sebulan terakhir saya bertemu tiga keluarga yang kisah hidupnya ‘mirip’.
Sang ortu sukses secara materi, mungkin sebagian dari kita ‘iri’ melihat kekayaannya ‘kapan ya kita bisa berada di posisi kemapanan harta seperti itu’.

Wajah mereka tampak fine-fine saja begitu juga anak-anaknya.
Andai kita melihat kebersamaan mereka rasanya ingin bertukar tempat ‘cling’ memakai alat ajaib Doraemon.

Tapi tahan dulu imajinasi Anda karena sebenarnya para ortu keluarga tersebut sedang ‘menangis darah’.
Dua keluarga ortunya curhat sang bujang mereka kuliah di manca negara dan saat ini sudah hidup dengan ‘sesama jenis’. Bahkan salah satu buah hati dari keluarga tersebut tidak ada pikiran menikah dengan lawan jenis, pokoknya sudah ‘mandep mantep’ menikah dengan ‘pacar lelakinya saat ini’.
Satu keluarga yang tersisa tidak kalah miris, anak-anaknya telah beberapa tahun ogah sekolah, maunya di rumah menikmati game dan media sosial. Kalau sedang emosi, si anak bisa merusak barang-barang sehingga sang ibu sampai ketakutan dibuatnya.

Sobat, buah hati kita bukan hanya membutuhkan materi tetapi juga asupan gizi di hati berupa cinta, kasih sayang, dan perhatian secara psikolgis dari kedua ortu.
Tanpanya maka anak-anak kita akan tumbuh sehat secara biologis namun jiwa dan hatinya kering kerontang atau bahkakan musnah sehingga seperti benda mati.

Jika sudah sampai tahap ini maka percayalah andaikan kita mempunyai emas segunung Uhud sekalipun tidak akan pernah bisa membeli hidayah Allah.
Tinggal tersisa butiran-butiran air mata sambil terus berdoa agar anak-anak kembali ke fitrah.

Selepas pulang melayani keluarga-keluarga seperti itu rasanya saya lebih kaya dari Raja Salman, ya memang hutang saya masih banyak namun masih bisa mencukupkan diri buat transportasi tanpa dibayari mereka bahkan menghadiahinya buku sebagai bahan renungan.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”

(QS. Ar-Ra’du: 28).

Keseringan Begadang Sambil Main Ponsel, Bocah 13 Tahun Mengalami Masalah Mental

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2015/02/01/21/20/blackboard-620322__340.jpg

Intisari-online.com – Kecanduan smartphone di kalangan remaja sekarang merupakan masalah sangat umum dan serius. Karena hampir kebanyakan anak-anak diberi akses penuh dengan menggunakan perangkat ini, hal itu ternyata bisa menyebabkan masalah kesehatan.

Seperti memengaruhi kesehatan mata, masalah fokus dan yang terparah adalah kerusakan otak.

Begitulah yang dialami oleh seorang bocah berusia 13 tahun asal Zhejiang, Tiongkok setelah dibelikan ponsel pertamanya oleh ibunya.

Melansir Oriental Daily, pada Jumat (5/7/2019), bocah tersebut dibelikan ponsel pertamanya sebagai hadiah supaya bisa terhubung karena sibuk bekerja. Namun, bocah tersebut justru menggunakannya secara berlebihan, dengan hampir setiap malam menggunakan ponselnya.

Bahkan, kadang-kadang sampai larut malam dan tidak pernah tidur, karena bermain dengan ponselnya. Dia mempraktikkan kebiasaan buruk ini selama beberapa bulan, hal itu membuat masalah kesehatan serius menimpa bocah tersebut.

Sekitar sebulan lalu, bocah tersebut tiba-tiba menjadi gila dan mulai membenturkan kepalanya ke dinding tanpa henti. Bahkan hingga gurunya memanggil ibunya, dan saat tiba di sekolah mendapati situasinya sudah lebih buruk.

Tubuh bocah tersebut tidak hanya lemas, dia menjadi tidak responsif ketika dipanggil oleh ibunya ketika mencoba membangunkannya. Hasilnya keluarga membawanya ke rumah sakit di mana dia dirawat selama 28 hari.

Akan tetapi, kondisinya tidak membaik dan tetap memburuk hingga akhirnya dia mengalami cacat mental. Sebagai anak berusia 13 tahun dia memiliki perilaku seperti bayi, tidak bisa berjalan, berbicara atau menjaga dirinya.

Bahkan hingga dibawa ke Departemen Neurologi dan Departemen Rheumatologi, kondisinya masih juga belum membaik. Para dokter kemudian melakukan pemeriksaan terperinci, terhadap bocah tersebut dan melaporkan dia menderita Ensefaliatis Autoimun.

Penyakit ini merupakan kategori baru, yang diperantarai kekebalan yang melibatkan sistem saraf pusat yang mengarah pada gangguan kognitif, lapor American Journal of Neurology. Setelah diberikan obat dan perawatan, kondisi bocah itu akhirnya mulai membaik, wajahnya tidak lagi kejang dan bisa berbicara normal.

Pada hari keempat perawatan, dia mulai mengenali orang tuanya, pada hari ke-12 kesehatannya meningkat dan segera dipulangkan dari rumah sakit. Dokter menjelaskan, bahwa bocah tersebut secara berlebihan memainkan ponselnya hingga terngah malam, itu menyebabkan sistem kekebalannya melemah hingga mengakibatkan Ensefaliatis Autoimun.

sumber berita : https://intisari.grid.id/read/031775948/keseringan-begadang-sambil-main-ponsel-bocah-13-tahun-mengalami-masalah-mental?page=all

Pusdikham: HAM LGBT Tetap Dilindungi, Tapi Bukan Legalisasi

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2018/11/09/18/24/human-rights-3805188__340.jpg

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Pusat Studi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia (Pusdikham) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Maneger Nasution, mengatakan orang-orang yang berperilaku lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) memang tetap harus dilindungi hak-hak dasarnya. Mereka juga mesti dimanusiakan.

“Semua manusia harus diperlakukan sebagai manusia, terutama hak-hak dasarnya,” ujar Maneger yang juga merupakan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2012-2017 ini, kepada Republika.co.id, Selasa (23/1).

Misalnya, lanjut Maneger, negara tetap harus memberikan pengobatan bila mereka sakit. Pun soal pendidikan di mana negara tidak boleh melarang mereka untuk menikmati pendidikan di Indonesia.

Karena itu, bentuk diskriminasi apa pun terhadap mereka, tetap tidak boleh dilakukan negara. “Soal kesehatan, negara tidak boleh tidak mengobati mereka. Kemudian kalau mereka sekolah tidak boleh dilarang, atau didiskriminasi oleh negara. Hak-hak dasar seperti itu yang harus dimanusiakan,” kata dia.

Namun, kalau kelompok LGBT itu meminta agar perilakunya dilegalisasi, menurut Maneger, tentu tidak bisa karena bertentangan dengan berbagai hal yang ada di negara ini. Perilaku mereka bertentangan dengan Pancasila, UU Perkawinan, dan moralitas bangsa.

“Kalau mereka minta legalisasi apalagi minta diperbolehkan kawin sejenis atau pengakuan eksistensi, itu bertentangan dengan Pancasila kita, UU kita, UU Perkawinan, dan bertentangan dengan moralitas bangsa kita,” ucap dia.

Sebelumnya aktivis LGBT, Hartoyo, meminta pemerintah dan semua pihak agar memandang kaumnya sebagai manusia dan warga negara Indonesia. Artinya, kelompok LGBT hanya ingin hak-hak mereka sebagai manusia terpenuhi.

“Apa yang kami perjuangkan, ya kami ingin dipandang dan diperlakukan sebagai manusia,” kata Hartoyo.

Dia mengatakan, selama ini perjuangan para aktivis LGBT tetap konsisten mewujudkan hak-hak dasar kaum LGBT yang masih banyak didiskriminasi. Karena itu, dia pun meminta agar pihak-pihak yang berpandangan kontra akan LGBT bisa tetap fair dalam mengeluarkan aspirasi dan pandangannya.

“Tidak setuju boleh, asal baik-baik saja ketika mengeluarkan aspirasinya. Dengan cara yang baik pula,” tegas dia.

sumber berita : https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/01/23/p300ij330-pusdikham-ham-lgbt-tetap-dilindungi-tapi-bukan-legalisasi