Tujuh Rahasia Mendidik Anak dari Ustadz Farid Ahmad Okbah

sumber gambar : https://cdns.klimg.com/dream.co.id/resized/750×500/news/2019/10/07/119322/cara-mendidik-anak-secara-islami-dengan-lima-prinsip-dasar-191007k_3x2.jpg

1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.

2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.

3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.

4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.

5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.

6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.

7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

sumber : https://www.panjimas.com/muslimah/2015/06/07/7-rahasia-mendidik-anak-dari-ustadz-farid-ahmad-okbah/

Diriku Yang Lain

sumber : https://ikimfm.my/wp-content/uploads/2014/08/smile-wallpaper-31222-31955-hd-wallpapers.jpg

Orang pasti tidak akan mengira kalau diriku ini tertarik secara seks kepada sesama jenis. Selain terlihat macho dan gagah, aku juga anak seorang ustadz terkenal di kotaku. Dididkan bapak ‘keras’, kalau anaknya salah maka akan berujung hukuman, itu semua agar anak-anaknya taat beragama. Jadi siapa yang akan menyangka aku tertarik sesama jenis?

Masa anak-anak dan remaja aku bahagia walau dilarang bermain dan bergaul dengan orang sembarangan di luar. Aku akrab dan nyaman bermain dengan anak-anak sekitar yang memang kebanyakan adalah perempuan. Prestasi di sekolah ‘istimewa’ dari SD hingga perguruan tinggi dan kemudian bekerja.

Aku baru sadar tertarik sesama jenis ketika kelas II SMA, saat itu suka sekali melihat ‘pacar’ kakak wanitaku yang sering datang ke rumah. Boleh dikatakan dia adalah cinta pertamaku dan sampai sekarang susah untuk dihilangkan, kadang dulu kalau mencari pasangan sejenis juga yang mirip-mirip dengan dirinya.

Cap sebagai ‘anak ustadz’ mengantarkan aku aktif di kegiatan keagamaan dan menjadi ketua lembaga keagamaan di kotaku. Aku Banyak memberi pelajaran agama Islam untuk anak-anak TK dan SD.

Saat di perguruan tinggi aku mulai berani berpacaran sesama jenis. Aku berpacaran dengannya sekaligus mempunyai pacar perempuan, kami bertiga bahkan bersahabat kental (gila ya…?), hanya saja aku belum berani melakukan tindakan seks sesama jenis.

Setelah lulus PT lah aku baru terjerembab ke dunia seks sesama jenis karena mendapat rayuan dari teman SSA lama. Aku putuskan untuk meninggalkan dia setelah 6 bulan, ternyata aku ketagihan dan mencari laki-laki lain untuk pemuasan seksual.

Aku baru ‘tersadar’ saat ibu menanyakan kapan akan menikah di usia yang ideal ini. Aku panik dan bingung atas apa yang telah terjadi hingga suatu hari terdampar di Peduli Sahabat. Entah aku sendiri lupa bagaimana bisa mengenal Peduli Sahabat.

Di sini aku merasa tidak sendiri dan mendapat support yang luar biasa. Aku tahu telah salah tapi niat untuk tobat dan berbuat baik di jalan Allah sudah bulat. Aku sadar bahwa cobaan ini berat untuk dilalui berdasarkan pengalaman teman-teman di PS juga informasi dari pendampin PS. Setidaknya aku telah menemukan tempat baru yang menguatkan niatku untuk berubah.

Berhasil atau tidak aku tidak ingin memikirkan sekarang, terpenting aku harus berusaha secara maksimal. Mohon dukungan dan doa semua member PS agar usahaku berjalan lancar. Semoga dibalas dengan kebaikan yang berlimpah.

sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Yuk Edukasi Anak Agar Terhindar dari Pelecehan Seksual

Ancaman pelecehan seksual terhadap anak masih menjadi momok bagi para orang tua saat ini dikarenakan pergerakan para predator seksual ini masih suliit untuk diindikasi ataupun dideteksi. Mereka selalu pandai untuk bersembunyi dibalik keramahan dan kebaikan baik sebagai keluarga, saudara, dan teman.

Maka dari itu perlu orang tua mengetahui dan memberikan edukasi kepada anak tentang batasan – batasan orang lain ketika berinteraksi dengan anak. Agar anak dapat membentengi diri dari ancaman predator seksual.

Berikan edukasi dengan mudah sesuai dengan tingkat pemahaman dan umurnya. Berikut beberapa edukasi simple bagi anak agar terhindar dari tindakan pelecehan seksual.

Semoga dengan peran penuh orang tua dalam memberikan edukasi tentang potensi – potensi tindakan pelecehan seksual terhadap anak, kasus pelecehan seksual terhadap anak bisa semakin ditekan.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/menantimentari/ Grup Menanti Mentari merupakan grup khusus dari Peduli Sahabat yang menampung suami atau istri (juga para simpatisan) yang pasangannya diketahui berorientasi non-heteroseskual.

Penyebab SSA

Kawan, agar tidak bingung ini Kak Sinyo sarikan 3 hal yang membentuk orientasi seks seseorang (heteroseksual, homoseksual/ssa, biseksual, aseksual, dll.).

1. Biologis
Ini yang sering diributkan antara kelompok yang pro dan kontra LGBT. Sampai saat ini biologis memang PASTI menjadi salah satu faktor (karena kita kan makhluk biologis). Hanya saja sejauh manakah pengaruh biologis mempengaruhi orientasi seksual seseorang masih menjadi perdebatan. Antara peneliti di APA(American Psychological Association) dan NARTH (The National Association for Research & Therapy of Homosexuality) masih tarik ulur.

2. Psikologis (keluarga, rekan, sosial)
Jelas dan terang (hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan atau kontak langsung dengan kita, misalnya pendidikan dalan keluarga, hubungan dengan teman sebaya, dll.)

3. Faktor Sosial (lingkungan dll.)
Jelas dan terang (Berkenaan dengan lingkungan seperti adat budaya yang secara tidak langsung turut memberi sumbangan pada kita).

Nah, nomor 2 dan 3 sudah jelas pengaruhnya, dan itulah yang membedakan antara NARTH dan APA.

APA mengabaikan nomor 2 dan 3, mereka sudah menutup mata hanya nomor satulah penyebab seseorang mempunyai orientasi seksual.

Sementara NARTH menekankan bahwa nomor 2 dan 3 lah penyebab utama orientasi seksual.

Apakah layak sesuatu yang masih ‘absurd’ dijadikan tolak ukur mengambil keputusan? Misalnya saya menjadi ‘gay’ karena adanya cetak biru ‘gay gene’? Ya silakan berbuat semaunya tapi kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Jika orientasi seksual adalah ‘niat’ dan tindakan seksual adalah realisasi dari niat itu maka perlu dipahami bahwa dalam Islam yang jelas dilarang adalah tindakan homoseksual, bukan orientasi seksualnya.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia (secara turun-temurun) dari kalimat kenabian terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” [HR. Al-Bukhari]

“Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain.” [HR. Ath-Thabrani]

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/

Mendampingi Anak Ber-gadget Ria

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2019/10/25/06/33/tablet-4576139_960_720.jpg

Kaget?

Ya, sebagai orang tua tentu akan terkejut dengan media Internet saat ini. Saya mah sudah mengalaminya sejak tahun 2003 kala menjadi praktisi di dunia Internet. Dulu iklan-iklan berhubungan dengan pornografi atau konten yang tidak pantas untuk anak-anak masih susah ditemukan walau ada.

Sekarang? Tidak usah jauh-jauh kita mencari website khusus ‘dewasa’, di sosal media semacam FB juga bertebaran konten yang harus diwaspadai. Coba Anda perhatikan iklan-iklan di bagian kanan FB, ada banner ‘T*han L*ma’ atau ajakan pariwisata dan bisnis dengan gambar yang tidak ada hubungannya sama sekali akan jasa yang ditawarkan, kebanyakan memakai gadis-gadis berpose seronok.

Youtube adalah contoh lainnya, setiap video yang mendapat hit banyak akan menjadi headline di bagian halaman utama. Pernah seorang pria tanpa b*sana muncul di halaman muka padahal waktu itu Nyo mau membukakan film Naruto buat si buah hati.

Game online anak-anak? Jangan salah, buka dan Anda akan menemui game khusus dewasa yang siap dikonsumsi anak-anak.

Melarang anak-anak? Jelas tidak bijak karena gadget bertebaran di mana-mana. Dilarang di depan PC mereka bisa membuka lewat ponsel atau tablet tanpa sepengetahuan kita.

Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memahamkan kepada anak-anak entah lewat jalan agama atau logika sesuai dengan kemampuan mereka. Salah satunya Nyo mendidik agar anak selalu jujur, sehingga ketika mendapatkan hal baru di Internet dia akan bertanya dulu kepada kita. Anak-anak Nyo juga mendapat pemahaman tentang aurat, sehingga mereka sudah mempunyai ‘rasa malu’ saat melihatnya.

Tips dari Nyo:

1. Contohkan Kejujuran
Semua diawali dari perilaku kita sebagai orang tua. Ortu harus jujur kepada anak-anak sehingga mereka akan mencontoh kita. Jelaskan secara logika (sesuai kemampuan kosa kata mereka) jika kita melarang sesuatu, jangan berbohong. Bahkan saat kita bercanda tidak boleh berbohong. Manfaatnya besar sekali, setiap menemukan hal baru maka anak akan berkata jujur. Setiap ditanya sesuatu, mereka akan jujur.

2. Bersikap Terbuka
Bukalah selebar-lebarnya ruang untuk berdiskusi. Tidak marah, panik atau bingung apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan saat anak melihat atau menemui hal baru yang bukan pada tempatnya. Jelaskan sesuai kemampuan kita. Jangan hanya berkata: “ini tidak baik”, “ini buruk” tanpa memberi alasan. Saat anak berani berbohong, maka orang tua perlu mengevaluasi hubungan/komunikasi dengan putra-putri mereka. Percayalah, anak-anak diberi kemampuan untuk memahami ‘keinginan’ kita jika bersikap terbuka termasuk batasan waktu penggunaan gadget.

3. Dampingi
Ya walau sudah SD misalnya, usahakan ortu tetap mendampingi anak dalam ber-Internet atau teknologi lainnya. Jika mereka mempunyai FB, kita juga harus memiliki akun FB agar dapat mengetahui bagaimana mereka bersosialisasi. Bukan sebagai pengawas atau satpam tetapi menjadi sahabat akrab anak-anak. Sehingga kelak saat anak dewasa akan berkata: “Sahabat terbaik saya adalah Ibu dan bapak.”

4. Dengarkan
Beri kesempatan anak mejelaskan apa yang ada di dalam pikirannya. Jangan menghakimi sebelum kita mengetahui apa yang ada di benak mereka. Anak akan bahagia saat orang tua mau mendengarkan keluh-kesahnya sekecil apa pun. Jika anak kita mempunyai tipe pasif, kita harus banyak bertanya dengan cara yang tepat.

5. Tulus Cinta
Banyak ortu yang berpura-pura ‘mendengarkan/mendampingi’ kegiatan anak, sayang kita tidak tulus melakukannya. Gerak-gerik serta aura tubuh kita dapat dibaca oleh anak, apakah kita tulus atau tidak. Mereka mengajak bicara, kita cuma berkata “hm.. ya ya.” Padahal muka meleng sambil FB-an. Sungguh terlalu…, ubah tatapan dan pandanglah dia dengan cinta, dengarkan baik-baik apa yang mereka sampaikan.

6. Pelajari Teknologi Baru Perluas wawasan ortu soal dunia teknologi.
Jangan hanya asal menyalahkan teknologi dan anak-anak jika kita buta sama sekali soal teknologi. Minimal tahu walau tidak harus menguasainya. Kalau perlu libatkan anak-anak untuk mengajari kita sehingga mereka merasa tersanjung bisa membantu kita.

7. Atur Waktu
Usia di bawah 2 tahun maksimal terpapar elektronika adalah 2 jam selama sepakan (7 hari). Umur 2 tahun ke atas maksimal terpapar elektronika adalah 2 jam selama sehari (24 jam). Ini menurut ahli otak lo bukan saya, searching kalau masih tidak percaya. Khusus gagdet yang disukai boleh bermain setiap hari dengan durasi tertentu (misalnya sehari 1 jam), jangan ditumpuk di hari Sabtu atau Ahad/Minggu secara berjam-jam.

8. Kembali ke Alam
Perbanyak aktivitas di luar (alam terbuka sehat) bersama buah hati. Carilah kegiatan seru bersama sehingga mereka mengenal serunya kebersamaan.

9. Evaluasi Diri
Perhatikan diri anda (orang tua), jangan-jangan Anda juga kecanduan gadget. Bagaimana kita akan memberi contoh anak-anak kalau kita juga kecanduan 😀

10. Doa
Apapun agama Anda, berdoalah agar buah hati kita selalu di jalan kebaikan.

Semoga tips ini bermanfaat buat ortu dalam mendampingi anak ber-Internet/teknologi lainnya.

Salam Kak Sinyo