Bagaimana Dampak Memviralkan video kekerasan anak ?

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan juga komunikasi, berbagai informasi terkini ataupun update informasi dari berbagai sumber media dapat kita dapatkan secara cepat juga mudah. Beredarnya berita sekarang pun juga bukan dari mulut ke mulut tapi dari share ke share mekakui platsform media sosial.

Namun tidak semua memiliki kebijaksanaan dalam menyebarkan informasi melalui media sosial apakah inforasi ini akan menimbulkan dampak baik atau tidak jika disebar luaskan. Karena sebenarnya pun penyebar informasi belum benar – benar tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kita sebagai muslim pun diingatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmannya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Untuk itu marilah kita bijak dalam menyebarkan informasi yang beredar luas di dunia maya saat ini, kroscek dulu dari berbagai sumber lain apakah informasi ini benar adanya atau tidak sebelum mengeshare informasi tersebut tetapi dengan etika yang baik untuk mengeshare berita. Berikut informasi yang dijelaskan bbc.com/indonesia mengenai bagaimana dampak memviralkan informasi khusunya pada kasus kekerasan pada anak.

Seperti dilansir dari bbc.com/indonesia beberapa hari yang lalu, ada suatu video yang viral di media sosial. Dan, tidak, saya tidak akan menjadikan video itu lebih viral lagi dengan mencantumkan tautannya di sini.

Video itu menunjukkan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan mengenakan seragam sekolah. Dia tampak diinterogasi oleh orang-orang dewasa tentang luka dan memar yang ada di tubuhnya.

Beberapa orang dewasa kemudian membuka baju dan celana si anak, sembari menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya. Ketika ditanya siapa pelakunya, anak itu menjawab, “Bunda.”

Komentar-komentar orang dewasa di dalam video dan juga orang-orang di media sosial cukup seragam. Mereka mengutuk perbuatan itu, mengasihani si anak, dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Ini bukan kali pertama kita melihat video yang menunjukkan identitas anak sebagai korban kekerasan dengan jelas. Kasus ini bukan pula kasus kekerasan terhadap anak pertama yang kisahnya tersebar di dunia maya.

Harap diingat, kekerasan di sini bukan melulu terkait dengan kekerasan fisik. Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah tindakan atau praktik yang meliputi kekerasan fisik, seksual, emosional, penelantaran, dan eksploitasi.

Serba tidak tahu

Sebenarnya kalau kita pikirkan lagi, setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak, kita serba tidak tahu.

Kita tidak tahu apakah anak itu sudah dirujuk ke pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keterampilan untuk menangani kasus kekerasan pada anak. Kita juga tidak tahu siapa orang-orang dewasa yang menginterogasi, merekam, dan menyebarkan video itu.

Padahal, cara menangani yang salah justru bisa menimbulkan kembali kekerasan terhadap anak, membuat anak harus mengulang peristiwa traumatis tanpa dukungan konseling, dan tanpa kepastian akan adanya pertolongan yang memadai dan tepat.

Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi“.

Anda mungkin balik bertanya, “Loh, tapi kami sebarkan karena kami peduli. Masa peduli itu salah?”

Tentu peduli tidak salah. Tetapi mari kita coba membayangkan apa rasanya bila video kita yang sedemikian sensitif tersebar ke seluruh penjuru negeri ini.

Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol “share”.

Kita tidak tahu apa saja yang dapat menjadi faktor pemicu trauma anak tersebut. Sebaiknya kita pikirkan dengan matang sebelum menyebarkan informasi atau…melakukan apapun.

Mari kita terus belajar tentang isu kekerasan terhadap anak, apa saja bentuk-bentuknya, dan dampaknya bagi anak.

Kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah

Berdasarkan penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW), sebanyak 84% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Penelitian yang dirilis awal Maret tahun 2014 ini melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM yang terlibat. Penelitian dilakukan di Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Tingginya tingkat kekerasan di lingkungan sekolah Indonesia melampaui tren kekerasan di lingkungan pendidikan di kawasan Asia, yaitu 70%.

Menanggapi data temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa jumlah tersebut sejatinya merupakan fenomena gunung es dan belum mewakili fakta kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan satuan pendidikan, apalagi kekerasan yang dialami anak sehari-hari.

Dugaan ini muncul karena tak semua kasus kekerasan didata, dilaporkan, dan ditangani oleh lembaga layanan, sehingga datanya belum dapat merepresentasikan tren nasional.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan yang keras diperlukan untuk membentuk generasi yang kuat dan ‘tahan banting’, timbul banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya tidak tahu apa yang beliau maksud dengan pendidikan keras dan generasi ‘tahan banting’. Saya juga ingin tahu rujukan beliau menghubungkan pendidikan keras dengan kualitas pendidikan.

Tetapi bisa kita bayangkan, anak akan menghabiskan paling tidak 10 tahun dari masa kanak-kanaknya di sekolah.

Oleh sebab itu, kita perlu terus mendorong pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapan sekolah untuk menjadi ruang yang aman bagi anak.

Misalnya, apakah disiplin positif sudah masuk ke dalam kurikulum ajar guru? Apakah kepekaan terhadap kepentingan anak sudah menjadi salah standar kualifikasi seseorang untuk bekerja di lingkungan sekolah?

Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang tidak aman bagi murid-muridnya. Dan jangan sampai sekolah tidak tahu atau melakukan tindakan yang salah terhadap muridnya yang menjadi korban kekerasan.

Kita punya peran

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya institusi. Ada keluarga, pesantren, tempat les, dan masyarakat sekitar yang menentukan apakah anak dapat merasa aman.

Beberapa penelitian di Namibia, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang yang mereka kenal dekat. Data laporan dari KPAI juga menunjukkan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak juga terjadi di lingkungan keluarga/privat. Bisa jadi pelaku kekerasan berpendapat sama bahwa “anak perlu pendidikan yang keras agar bisa kuat” atau pandangan bahwa anak adalah ‘milik’ orangtua sehingga orangtua berhak melakukan berbagai hal pada anaknya.

Sebelum menyalahkan keluarga, kita perlu ingat bahwa keluarga tidak berdiri sendiri. Ada struktur-struktur di luarnya yang bisa menentukan kesejahteraan dan keselamatan anak di dalam keluarga.

Pemerintah dengan pelayanannya, misalnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk untuk melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Akan tetapi, menurut siaran pers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2016, dengan asumsi bahwa masalah perempuan dan anak tersebar di seluruh wilayah tanah air, dan setidaknya setiap wilayah provinsi dan kabupaten/kota memiliki minimal satu P2TP2A, masih ada 260 kabupaten/kota yang belum memiliki P2TP2A.

Untuk itu, ke depan, selain menambah jumlah P2TP2A, daerah juga perlu terus meningkatkan kualitas P2TP2A, baik dari fasilitas maupun SDM.

Pertanyaan saya adalah, apakah P2TP2A yang ada sudah sangat siap menangani semua laporan? Sudahkah mereka membangun jejaring sebanyak-banyaknya, seperti dengan psikolog anak, polisi, titik layanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang berketerampilan dalam menghadapi anak korban kekerasan?

Apakah kita punya cukup psikolog yang berpengalaman dalam menangani anak korban kekerasan? Apakah jajaran kepolisian cukup sensitif ketika menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak?

Apakah bidan di tiap desa bisa memberi layanan kesehatan yang tepat untuk anak korban kekerasan?

Bagaimana dengan pekerja sosial, apakah kita punya cukup pekerja sosial yang mampu menangani konflik kekerasan terhadap anak di dalam keluarga?

Sekarang, sebagian dari Anda mungkin sedang berpikir, “Itu kan pemerintah, bagaimana dengan saya sebagai anggota masyarakat?

Apa yang harus saya lakukan apabila menduga atau menghadapi anak yang menjadi korban kekerasan?

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa kok untuk berdiam sejenak dan memikirkan apa langkah yang harus diambil. Kita perlu menjadi seseorang yang lebih reflektif dibanding reaktif.

Sebagai anggota masyarakat, ada empat langkah yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Jangan menyebarkan identitas anak atau bentuk dokumentasinya ke orang yang tidak berwenang. Baik di media sosial, grup WhatsApp, atau media-media lainnya. Kalau ada yang membagikan tautan ke foto atau video anak korban kekerasan, pastikan tautan itu berhenti di Anda.
  2. Hubungi crisis center terdekat. Contohnya P2TP2A yang merupakan lembaga pemerintah, atau bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tanya ke pihak-pihak yang berwenang, apa yang harus Anda lakukan di situasi tersebut. Sebaiknya masing-masing dari kita mengetahui kontak informasi crisis center terdekat.
  3. Manfaatkan internet sebagai tempat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Sebarkan cerita si anak (tanpa menyebarkan foto atau identitas si anak) dan kontak rujukannya ke orang lain. Ingat, tujuan dari menyebarkan adalah untuk berbagi informasi tentang rujukan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan bila berada di situasi yang sama seperti Anda.
  4. Cari tahu lebih banyak lagi informasi tentang crisis center di dekat Anda. Bahkan jika tertarik, Anda bisa menjadi sukarelawan atau mengambil kelas tentang perlindungan anak dan etikanya.

Saya yakin kita semua punya niat baik dan ingin melindungi anak dari kekerasan. Ayo, kita gabungkan niat baik kita dengan praktik yang baik dan melindungi anak.

Sadari apa peran dan kemampuan kita, dan jangan sampai melakukan sesuatu di luar kapasitas. Jangan sampai kita blunder dan memperburuk keadaan.

sumber artikel : 1. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42928417 2. https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html

Terbukti, Balita yang Sering Pakai Gadget Berisiko Terlambat Bicara

Oleh Fauzan Budi Prasetya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri – Dokter Umum

sumber gambar : https://warasmedia.com/wp-content/uploads/2017/10/anak-mudah-pakai-gadget.jpg

Tak diragukan lagi, gadget (gawai) seperti smartphone dan tablet memang memiliki segudang manfaat bagi manusia, bahkan bagi anak kecil. Cukup banyak orangtua yang memberikan gadget kepada anaknya. Alasannya biasanya seperti hiburan yang aman karena anak hanya akan duduk diam sambil bermain atau menonton. Namun, apakah ada pengaruh gadget bagi perkembangan anak?

Segudang pengaruh gadget yang positif bagi anak

Pengaruh gadget bisa sangat baik terhadap kemampuan kognitif anak. Dibandingkan membaca atau melihat gambar pada buku, anak-anak lebih tertarik dengan gambar-gambar yang bergerak dan bersuara. Anak-anak bisa menonton video edukasi melalui berbagai aplikasi. Anak bisa melihat berbagai video seperti video tentang kehidupan hewan dan tumbuhan, video tentang benda-benda di luar angkasa, hingga video sejarah pada masa lalu. Selain itu, berbagai aplikasi seperti aplikasi kuis dan berbagai games edukatif sudah banyak sekali ditemukan pada smartphone.

Bahkan, gadget dengan mesin pencari akan menjadi guru yang hebat untuk membuka wawasannya. Ketika anak ingin mencari tahu mengenai sesuatu, dia tinggal mengetikkan kata kuncinya pada mesin pencari ribuan jawaban mengenai hal tersebut siap untuk dibuka.

Pengaruh gadget terhadap kemampuan bicara Anak

Namun di sisi lain, memberikan gadget kepada anak bisa berbalik arah jadi hal yang negatif. Salah satunya adalah gadget terbukti berpengaruh terhadap kemampuan bicara anak.

Seorang spesialis jiwa anak dan remaja, dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K) dalam sebuah diskusi media Rumah Sakit Pondok Indah pada Maret 2017 mengungkapkan bahwa pemberian gadget di bawah usia lima tahun akan mengurangi rangsangan pada interaksi sosialnya. dr. Gita menjelaskan lebih jauh kepada Viva, ini karena gadget tidak butuh respon anak, sehingga sulit untuk berinteraksi dan hal ini berdampak pada proses bicaranya.

Penelitian yang dipresentasikan di Pediatric Academic Societies Meeting di San Francisco menjelaskan hal ini. Catherine Birken, seorang dokter anak di Hospital for Sick Children in Toronto Kanada menemukan adanya hubungan antara penggunaan gadget dengan kemampuan bicara pada anak.

Dari tahun 2011 hingga 2015, Birken menanyakan kepada orangtua yang memiliki anak berumur 6 hingga 24 minggu, berapa lama mereka biasa diberikan waktu menonton lewat layar gadget.  Nah, 20 persen dari anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini menggunakan gadget paling tidak selama 28 menit setiap harinya.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa setiap tambahan 30 menit waktu yang digunakan untuk bermain gadget dapat meningkatkan risiko terlambat bicara atau speech delay hingga 49 persen. Sedangkan bentuk komunikasi lain seperti bahasa tubuh, emosi, hingga tatapan mata tidak terpengaruh.

Namun, Barken mengunggapkan bahwa riset lanjutan masih diperlukan, misalnya riset eksperimental untuk membuktikan pengaruhnya secara klinis. Namun, riset awalan ini dapat menjadi acuan ke depan bagi para orangtua dan tenaga kesehatan anak.

Studi lain yang dilakukan oleh University College London Inggris menemukan bahwa waktu yang digunakan di depan layar juga berpengaruh terhadap perkembangan otak. Studi tersebut menemukan bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk menonton gadget bisa menyebabkan berkurangnya waktu tidur hingga 16 menit. Padahal, tidur amat bermanfaat bagi otak anak, apalagi pada masa-masa perkembangan otak ketika perkembangan syaraf sedang bagus-bagusnya.

Pengaruh keterlambatan bicara pada kehidupan anak

Keterlambatan untuk mulai berbicara dapat membawa dampak lainnya. Jenny Radesky, seorang ahli dari University of Michigan Amerika Serikat, berpendapat bahwa ketika anak-anak tidak mampu mengekspresikan rasa frustasinya lewat kata-kata, mereka akan cenderung menggunakan gerakan tubuhnya atau suara lantang untuk menarik perhatian. Dengan kata lain, anak-anak akan terlihat tidak mampu mengontrol emosi.

Selain itu, keterlambatan berbicara bisa memengaruhi kemampuan akademis anak di sekolah nantinya. Kemampuan dalam memahami teks dan merangkai kata bukan hanya penting dalam pelajaran bahasa saja, namun bisa pada pelajaran lainnya seperti sains, matematika, seni, dan ilmu sosial.

Jadi apakah anak tidak boleh pegang gadget sama sekali?

Meski ada pengaruh gadget yang harus diwaspadai, Anda bisa menggunakan gadget sebagai media pembelajaran.

Untuk anak usia 18 bulan ke bawah, sebaiknya gadget hanya digunakan untuk video-chatting. Bila Anda ingin mengenalkan media digital, ini bisa Anda lakukan pada anak usia 18-24 bulan dengan menonton tayangan edukatif. Pastikan Anda menonton bersama anak dan menjelaskan apa yang ditonton agar anak paham betul mengenai apa yang ia tonton.

Pada anak usia 2-5 tahun, Anda dapat membiarkan anak untuk menggunakan gadget maksimal satu jam per hari. Orang tua harus menggunakan gadget bersama anak dan menjelaskan mengenai apa yang ditampilkan serta menerapkan apa yang didapat dari tayangan tersebut ke dunia sekitar.

Jadi, pada usia 5 tahun ke bawah, jangan biarkan anak asyik sendiri dengan gadget. Gunakanlah gadget seperti layaknya buku. Pegang gadget dan duduklah Anda di samping anak Anda sambil bercerita atau menjelaskan mengenai gambar yang ada di layar. Berinteraksilah bersama anak ketika sedang melakukan ini.

Untuk anak usia 6 tahun ke atas, Anda tidak perlu selalu berada di sisi anak ketika menggunakan gadget. Namun, Anda harus sadar bahwa ada banyak media pembelajaran lainnya di luar sana. Misalnya pergi ke kebun binatang atau tempat rekreasi lainnya yang bisa membuat anak lebih aktif bergerak dan berinteraksi dibandingkan menggunakan gadget.

Selain itu, untuk mencegah pengaruh gadget yang negatif, tentukan durasi pemakaian gadget yang konsisten dan pastikan penggunaan gadget tidak mengganggu waktu tidur, waktu bermain atau beraktivitas fisik, dan kegiatan lainnya yang penting untuk kesehatan.

sumber artikel : https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/pengaruh-gadget-bicara-anak/

Direview tanggal: September 26, 2017 | Terakhir Diedit: September 14, 2017

SALAH SATU CITA CITAKU

Kantor Peduli Sahabat awalnya ada di BSD Kencanaloka Tangerang, sebab gedung di BSD mau dipakai pemiliknya maka kita memutuskan pindah. Waktu itu ada beberapa penawaran tempat bagi kami tapi akhirnya pilihan jatuh di rumah salah satu klien PS di Cibinong Griya Asri.

Klien kami ini, inisialnya R, sejak SMP kelas VII mogok sekolah karena mengalami bullying (perundungan). Di rumah kesepian akhirnya kecanduan game dan sekarang mencapai tingkat maniak.

Sholat tidak mau, berinteraksi dengan masyarakat malu, berhari-hari kadang tidak mandi, tidak sikat gigi, dan tentu saja main game melulu sudah kayak robot. keluar kamar kalau ingin ke WC atau makan habis itu tenggelam dalam kesunyian bersama game-game yang disukai sampai laptopnya panas dan mobo kebakar. dari laptop ganti ke ponsel.
jangan tanya soal doa mau tidur, bangun tidur atau masuk WC, yah kalau mau tidur ya molor saja kagak pakai aba-aba.

Sudah ditanyakan ke psikolog tidak mempan, malah psikolognya bingung mau ngapain.
Dicarikan guru dan pelatih juga enggan, pokoknya nggak mau diapa-apain dah. Ibundanya bingung tujung keliling.

Suati hari saya dihubungi kak Jumiatun Diniah untuk membantunya, pas datang mau salaman saja ditolak tangan saya oleh dik R.
Ya sudah saya buka laptop dan main di sebelahnya, main game Lost Saga wkekekeke.
Terus saya tanya password wifinya, dia jawab.
Terus saya selidiki kenapa gak mau sekolah, dia jawab.
Pas mau pulang, eh dia cium tangan saya hihihih, kalau di koran Republika saya dijuluki Penakluk L*BT maka di sini kali saya penakluk para maniak game. Dik R bertambah percaya kepada saya setelah tahu saya mantan maniak game.

Ibu dik R menawari saya sejumlah gaji untuk selalu menemani putranya tapi saya tidak sanggup, bukan soal uangnya tapi saya tidak ada waktu. Saya hanya berjanji (dan saya tepati lo ya, saya tepati janji-janji saya) bahwa akan sesekali mampir ke rumah buat memantu perkembangan dik R.

Dik R yang awalnya hanya mau belajar kepada saya, sekarang sudah ikut homeschooling dan besok tgl 22 April akan test ujian kelas IX SMP, mohon doanya ya supaya lulus lancar.
Sedikit demi sedikit mau menurunkan berat badan, kadang mau sholat walau tidak bisa diprediksi, dan tentunya sudah sering mandi.

Barusan saya telpon ibundanya, katanya dik R mencari saya karena akan ujian pekan depan tersebut. Insyaa Allah Senin besok saya kan mampir ke rumahnya setelah syuting iklan buku dengan GIP.

Adik R hanyalah salah satu klein yang saya tangani, masih banyak yang lain di berbagai tempat sayangnya tangan saya hanya dua sehingga saya hanya sanggup melayani lewat telpon saja atau ketemu sekali dua kali.

Jika saja sultan Brunei mau mendanai, saya ingin membuat pusat rehabilitasi para maniak game/gadget dan pornografi, sistemnya sudah ada di otak saya tinggal diejawantahkan dalam bentuk nyata.
Sayangnya kapan saya bisa ketemu Sultan ya, mau ketemu capres saja susah… #eh

Sinyo – Peduli Sahabat

Pasti Ada Jalan, sebuah kisah inspiratif

Aku SSA?

SSA, pertama kali tahu istilah itu dari seseorang yang kukenal di dunia maya. Saat dimana asa berubah jadi resah yang tak berkesudahan, merasa tak berharga bahkan merasakan perjuangan panjang yang telah dilalui untuk menjadi lebih baik adalah sebuah hal yang sia-sia. Sendiri, terpuruk lalu aku inginkan mati. Tapi aku sadar kematian yang diharapkan itu hanya akan menambah penderitaan panjang. Cukup di dunia saja rasa sakit ini.

Menulis adalah caraku untuk melampiaskan resah dan mengurai gelisah, agar yang tersampaikan bukan hanya sekedar keluh kesah namun juga ada hikmah.

Dititik itu aku putuskan menuliskan setiap episode kehidupan disebuah komunitas menulis FB dengan nama pena, banyak anggotanya.
Episode demi episode berhasil aku tulis dengan penuh air mata. Bagaimana tidak? Luka lama yang mengering, kini aku korek lagi hingga kembali terasa teramat perih. Banyak yang merespon dan memberi dukungan, bahkan banyak yang curhat bahwa mereka juga punya luka sama seperti aku.

Lalu ada seseorang yang inbox dan mengatakan aku bukan L*BT tapi aku SSA.
SSA? Apa itu? Baru pertama kali mendengar kata-kata itu. Setelah diskusi panjang, beliau kenalkan pada sebuah akun yaitu akun kk sinyo. Lama-lama aku beranikan diri untuk inbox kk sinyo dan mendaftarkan diri jadi klien.

Setelah baca-baca artikel ditugas baca, fikiranku benar-benar merasa terbuka, hatiku mulai terasa lapang dan rasanya jalan kembali terasa terbuka.
Dulupun aku sudah sering konsultasi kepsikolog, rukiyah dll. Namun dari pendampingan yang selama ini dijalani, malah membuatku merasa semakin hina, gagal dan merasakan jalan buntu.
Tiap kali melakukan pelanggaran aku selalu dihukum, diceramah dan ntahlah.
“Mereka tidak mengerti rasanya menjadi aku dan tak seorangpun akan mengerti, aku sudah mati-matian berjuang untuk sampai ketitik ini, mengapa saat aku lemah dan gagal menjalankan terapi yang diberikan malah aku dihukum. Seolah-olah mereka tak menganggap perjuangan kerasku.”
Kata-kata itu selalu hadir dibenakku tapi tak menyerah, aku terus berjuang untuk jadi lebih baik. Bahkan saat ada salah satu konsulat yang pergi meninggalkanku karena lambannya proses yang aku jalani.
Saat itu aku terpukul banget, merasa sangat gagal.

Aku ingin berubah tapi tak semudah yang mereka katakan.
Aku sudah lakukan semuanya, namun aku sadar aku sangat lemah. Meskipun aku lemah tapi aku menolak untuk menyerah pada keadaan.

Namun di PS aku merasakan hal yang berbeda. Saat ini aku baru mengerjakan PR III, tapi tiap tahapan yang aku lalui membuat aku bisa menghargai setiap proses yang telah lalui.
Aku menikmati proses tanpa beban dan tekanan. Walaupun sesekali masih melakukan pelanggaran tapi bagiku ini sudah sangat jauh lebih baik.

Rasa minderku pun mulai berkurang dan aku sadar perjuangan ini tidak hanya aku saja yang melakukannya, tapi masih banyak orang lain yang diuji bahkan lebih berat ujiannya.

Tujuan akhir kita adalah surga Nya.
Jika orang lain mampu berjihad dengan ilmu, harta, atau yang lain namun aku disini berjihad melawan hawa nafsuku. Barangkali ibadahkan dan kebaikanku tak cukup untuk menggapai surga Nya namun siapa tahu dengan jihad melawan nafsu ini Allah ridho padaku.

Untuk kita yg berjuang.
Bersabarlah. Barangkali kelak jihad kita melawan hawa nafsu akan menjadi hujjah kita tuk bisa memasuki surganya.

Semoga tetap istiqomah dan selalu berusaha mencari jalan kebaikan, karena yakinlah tidaklah Allah akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya dan yakinlah bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. SEMANGAT !!!

Hati – Hati Pornografi Masih Tetap Hidup Aman di Alam Twitter

sumber gambar : https://www.areakost.net/wp-content/uploads/2016/04/CaraTerbaruMembukaSitusyangDiblokir.jpg

Masalah pornografi sedang menjadi ancaman besar bagi setiap negara yang melarang konten maupun perilaku yang mengandung pornografi berkeliaran di internet. Berbagai cara telah dilakukan untuk memberantas dan menghapus situs pornografi namun sayangnya banyak timbul pro dan kontra disebagian kalangan masyarakan untuk kegiatan tersebut.

Dan dari kalangan masyarakat yang kontra pasti akan mencari berbagai cara untuk bisa memenuhi keinginannya bahkan ada juga yang menciptakan sistem yang mempermudah untuk membuka situs pornografi tersebut. Kalo kita telasah banyak diberbagai website cara – cara untuk membuka situs pornografi dengan penjelasan yang sangat mudah dipahami dan mudah untuk dipraktekkan. Di platform media sosial pun masih banyak halaman – halaman yang mengandung konten pornografi entah itu halaman yang mengandung unsur bisnis maupun sekedar halaman yang memang khusus berisi konten pornografi.

Banyak artikel – artikel yang memberitahukan bagaimana pornografi masih tetap hidup dan aman di berbagai platform media sosial dan salah satunya diberitakan dari tirto.id

Ketika konten pornografi mudah ditemukan di Twitter.

tirto.id – Perang terhadap pornografi di internet tak kunjung usai. Padahal, di 2018 lalu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) rajin melakukan aksi blokir, termasuk pada pemain-pemain besar. Pada bulan Maret 2018, misalnya, Kominfo resmi memblokir Tumblr. Lantas, empat bulan berselang, giliran TikTok yang bernasib serupa.

Selain diperangi pemerintah, pornografi pun diperangi para pemilik platform. Google, misalnya, memiliki fitur bernama SafeSearch guna membendung kata kunci berbau mesum menghasilkan hasil pencarian yang relevan. Pada Agustus tahun lalu, fitur ini secara aktif bagi seluruh pengguna internet Indonesia.

Lalu, ada pula Facebook. Media sosial sejuta umat ini, sejak Maret 2019, mempekerjakan artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi, sebagaimana diwartakan CNET, “foto atau video telanjang yang dibagikan tanpa persetujuan di Facebook dan Instagram.”

Kerja Facebook memerangi pornografi itu merupakan perluasan dari apa yang mereka lakukan pada Oktober 2018. Kala itu, untuk membendung pornografi anak berkembang biak d Facebook, Facebook menciptakan machine learning khusus.

Sayangnya, meskipun telah dicekik pemerintah melalui aksi blokir, juga oleh pemilik platform dengan segala fiturnya, pornografi tak enyah dari dunia internet, khususnya media sosial. Dan setelah sukar berkembang di Tumblr dan sulit ditemukan di Google, pornografi kini berpusat pada Twitter. Microblogging yang didirikan Jack Dorsey dan Evan Willian pada 2006 silam ini masih menjadi tempat terbaik konten mesum bertempat.

Mencari konten pornografi di Twitter bukanlah hal yang sukar dilakukan. Kuncinya ada di kolom pencarian. Dari kolom itu, pengguna tinggal memasukkan kata-kata mesum nan cabul apa pun. Twitter memang tidak memblokir penggunaan kata-kata mesum dan cabul di sistem pencariannya.

Dari kata mesum yang diketikkan, Twitter lantas memberi hasil pencarian berupa konten-konten pornografi di platformnya. Beberapa bahkan menampilkan video mesum berdurasi sekitar 2 menit. Dan dari hasil pencarian yang diberikan Twitter pula, pengguna dapat diarahkan pada pengguna Twitter yang saban hari mengunggah konten pornografi, misalnya @vcrsc* hingga @penggila_jilb*b.

Pada akun-akun penyebar konten cabul itu, Twitter hanya memberikan peringatan “Caution: This profile may include potentially sensitive content” yang mudah dilewati. Video pendek pornografi, baik dari cuplikan video porno profesional seperti dari Pornhub ataupun video porno balas dendam, dapat ditemukan pada akun-akun cabul di Twitter.

Dari akun-akun mesum ini, pengguna dapat memperoleh informasi dari penyebar konten mesum lainnya di jagat Twitter, karena Twitter menerapkan konsep “rekomendasi sejenis.” Yang mengherankan, segala konten pornografi yang ada di Twitter dapat diakses tanpa virtual private network (VPN) ataupun harus meregistrasi diri di Twitter.

Cipluk Carlita, Twitter Head of Communications Indonesia, Thailand, Philippines, tak merespon ketika dimintai konfirmasi terkait terpaparnya Twitter oleh pornografi.

Sedikit, tapi Berpengaruh

Dalam berkehidupan, manusia memiliki sistem bernama jaringan sosial. Jaringan sosial ialah sistem yang merekatkan orang-orang dengan melalui topik relevan tertentu. Dalam jaringan sosial, tak hanya ada topik-topik yang beradab, tetapi juga menyimpang. Contohnya adalah topik terkait kekerasan atau pornografi yang pada akhirnya menciptakan “deviant network” atau “jaringan menyimpang.”

Mauro Coletto, dalam dalam papernya berjudul “Pornography Consumption in Social Media” (2016), menyebut bahwa media sosial memudahkan orang-orang membentuk jaringan menyimpang. Salah satu topik populernya ialah pornografi. Temuannya, 0,8 persen dari seluruh pengguna Tumblr dan 1,1 persen pengguna Flickr masuk dalam jaringan menyimpang yang disatukan pornografi.

Coletto menyebut konten-konten pornografi di media sosial diramaikan oleh pengguna yang ia sebut “produser,” sosok pengguna yang secara aktif mengunggah konten pornografi. Juga ada “konsumen,” sosok pengguna yang tidak mengunggah konten pornografi namun menjadi pengikut produser.

Dalam kasus Twitter di atas, @vcrsc* merupakan sosok producer yang memiliki lebih dari 208 ribu consumer.

Sayangnya, konten pornografi yang ditransaksikan di media sosial bukan hanya antara produsen-konsumen belaka. Menurut Coletto, ada pula “unintentionally exposed user,” yakni pengguna media sosial yang dipaksa mengkonsumsi pornografi di media sosial. Sangat mungkin anak-anak merupakan bagian dari unintentionally exposed user ini.

Meskipun meresahkan, konten pornografi di media sosial merupakan daya tarik tersendiri. Kaskus, misalnya, pernah memiliki sub-forum bernama BB17 yang khusus membahas hal-hal dewasa sebagai daya tarik sebelum akhirnya ditutup demi menghindari permasalahan dengan peraturan perundang-undangan. Sementara itu, sebagaimana dipaparkan Statista, Tumblr mengalami penurunan pengunjung semanjak mereka memerangi pornografi eksis di platform itu.

Di bulan September 2018, Tumblr dikunjungi 568 juta pengunjung aktif bulanan. Namun, dua bulan berselang total kunjungannya berkurang menjadi 538 juta pengunjung aktif. Pada Februari lalu, media sosial ini hanya dikunjungi 369 juta pengunjung aktif.

Konten pornografi mungkin menguntungkan bagi platform media sosial, tetapi unintentionally exposed user, dalam hal ini anak-anak, harus menjadi pihak utama yang dilindungi.

sumber artikel : https://tirto.id/pornografi-tetap-hidup-dan-baik-baik-saja-di-semesta-twitter-ed17 11 Juli 2019 Penulis: Ahmad Zaenudin Editor: Maulida Sri Handayani