Menanamkan Pola Asuh Gentle Parenting

Siapa yang sering dapat hadiah saat rangking 1 atau minimal dapat 10 besar ?

Siapa juga yang sering kena hukuman atau kena marah saat nilai anjlok saat gak tuntas KKM ?

Itulah mungkin yang sering kita rasakan sebagai anak saat orang tua bangga atau kecewa. Pemberian penghargaan dan hukuman memiliki harapan agar memberikan pelajaran hidup dan memberikan motivasi untuk semakin baik.

Namun disisi lain ada orang tua yang tak pernah memberikan penghargaan dan hukuman atau sering disebut pola pengasuhan gentle parenting.

Mereka yang menggunakan pola asuh gentle parenting menganggap pemberian penghargaan dan hukuman hanya akan membuat anak melakukan sesuatu karena ada penghargaan dan konsekuensinya dan juga akan menghambat anak untuk mencoba hal baru.

Lalu apasih sebenarnya pola suh gentle parenting ?

Sesuai dengan pencetusnya Sarah Ockwell yang merupakan psikolog dan penulis buku parenting asal Inggris dalam bukunya The Gentle Parenting Book: How to Raise Calmer, Happier Children from Birth to Seven, menjelaskan, gentle parenting merupakan metode pengasuhan yang mengedepankan prinsip-prinsip empati, respek, dan pengertian untuk membesarkan anak-anak yang lebih percaya diri dan bahagia.

Gentle parenting menurut Sarah Ockwell bukalah sebuah pola asuh namun lebih kepada etos dan cara pandang orang tua. Orang tua akan berempati dan berusaha memahami alasan dibalik perilaku anak mereka.

Dengan kata lain, gentle parenting adalah pola asuh dengan pendekatan yang lembut dan positif. Dalam pola pengasuhan gentle parenting ini, orangtua selalu memikirkan perasaan anak-anaknya. Dengan demikian, orangtua dan anak bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah.

Ada tiga prinsip yang harus dipahami dalam penerapan gentle parenting :

Empati

Orang tua selalu berusaha untuk memahami perasaan anak, bukan penghakiman saat anak melakukan hal buruk maupun kesalahan. Namun lebih mencari apa penyebabnya sampai ia melakukaannya.

Setelah mengetahui penyebabnya akan mudah untuk memberikan pengertian dan menyelesaikan masalah agar kelak tidak terulang lagi.

Respek

Orang tua menghormati anak bukan berarti takut atau tunduk, namun disini orang tua memberikan edukasi bahwa orang tua juga menghormati perasaan anak-anak, kepribadian anak-anak. Dengan begitu diharapkan anak juga akan belajar menghormati dan menghargai orang tua.

Memahami

Perkembangan tiap anak pasti berbeda, disini orang tua harus memahami bahwa anak belum berkembang sepenuhnya dan belum bisa mengontrol diri. Dengan memahami diharapkan mengubah ekspektasi orang tua kepada anak dan mengharuskan orang tua juga memahami perilaku mereka sendiri.

Tapi apakah, gentle parenting mirip permissive parenting? Gaya pengasuhan yang membiarkan anak mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Hal ini jelas sangat berbeda, Sarah Ockwell sendiri memastikan ini adalah dua hal berbeda. Orangtua boleh menetapkan batasan. Bedanya, batasan dalam gentle parenting tidak diatur orangtua. Batasan-batasan yang ditetapkan adalah kesepakatan bersama di dalam keluarga.

Apapun gaya pengasuhan orang tua pasti tujuannya baik dan ingin memberikan yang terbaik. Disinilah orang tua memegang kunci bagaimana pendidikan maupun pola asuh yang ia terapkan kepada anak apakah nantinya menjadi bumerang bagi orang tua atau tidak.

Maka dari itu orang tua harus terus selalu evaluasi dan mau update ilmu juga mau belajar tentang apa saja gaya pengasuhan yang tepat untuk anak-anak mereka.

Sumber penulisan : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900789 17 Dec 2019 15:00:00. oleh Yanuar Jatnika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *