WHO AM I

WHO AM I?

Sebenarnya tidak terlalu penting siapa saya. Yang penting adalah apa yang saya tulis (dan dengan demikian Anda baca). Tapi in case data berikut bisa membantu Anda, inilah saya:

Nama saya Alif Hamzah, usia di atas 30, dan sejak remaja saya menyadari kondisi bahwa saya mempunyai “keistimewaan”. Keistimewaan tersebut adalah bahwa saya (dalam penafsiran saya yang kadang tidak lazim) dikaruniai kekuatan untuk menanggung cobaan yang sangat berat. Karena Allah sudah memberi kekuatan tersebut, Dia menguji saya dengan memberi saya ketertarikan kepada sesama pria.

Ketertarikan ini harus saya tanggung sepanjang hidup dan hanya orang yang tidak berperasaanlah yang mengatakan bahwa memikul ujian seperti ini bukan hal yang berat. Bagi sebagian kecil orang barangkali memiliki ketertarikan pada sesama bukanlah suatu masalah (bagi sebagian lain merupakan end-of -the-world), tapi jika Anda faham bagaimana menggelegaknya dorongan hasrat yang tidak bisa tersalurkan, sementara di sisi lain Anda meyakini bahwa keyakinan Anda melarangnya, maka kata “cobaan berat” saja kadang tidak bisa mewakili apa yang saya tanggung.

Namun demikian, karena keyakinan pula saya mampu bertahan. Jika sampai akhir hayat saya sanggup untuk tidak mengumbar hawa nafsu di arena yang tidak dibenarkan, itu karena masih ada setitik iman dalam hati.

Jika Anda dengan tulus berdoa untuk saya (dan orang-orang yang berjuang seperti saya, for that matter), barangkali Tuhan akan menjadikan titik iman itu lebih besar dari waktu ke waktu. Dan barangkali suatu saat saya bisa mencapai apa yang saya cita-citakan : ikhlas sepenuhnya dengan apa pun yang Allah berikan untuk saya. Amiin

Ini adalah blog pertama saya dan ini adalah tulisan pertama di sini. Saya akan menulis topik sebagaimana niatan blog ini dibuat : perihal homoseksualitas dan keyakinan agama.

Tulisan di bawah ini semula adalah tanggapan yang saya kirim ke sebuah bloglain untuk mengomentari topik homoseksualitas yang dia angkat. Saya meng-copy-nya kembali untuk dijadikan tulisan pertama saya.

The – path 1

Bagi sebagian orang, barangkali tema homoseksualitas adalah tema yang bikin jengah, bikin risih, dan karenanya dihindari, bagi sebagian yang lain, mungkin tema yang membuat penasaran dan karenanya dicari (dengan alasan yang sama, mungkin ada yang berpendapat mengangkat tema ini hanya upaya mencari perhatian).

Bagi saya, mengangkat tema homoseksualitas adalah berbicara tentang apa yang saya hadapi dalam hidup ini. Sangat sulit untuk menulis sesuatu secara netral, benar-benar obyektif, apalagi jika kita merupakan “obyek” yang menjadi topik pembicaraan. Tapi dengan segala keterbatasan tersebut, saya mencoba menyampaikan apa yang keluar dari hati saya tentang topik ini.

Tulisan ini insya Allah ditulis dengan semangat memberi kejelasan dan amar maruf nahi munkar, dan mudah-mudahan dibaca dengan semangat yang sama. Tidak ada judgement di sini, saya hanya menulis apa yang saya alami dan dalami. So, be prepared!

HOMOSEKSUALITAS

Saya perlu menekankan perbedaan antara kecenderungan atau dorongan terhadap homoseksual dengan aktivitas homoseksual itu sendiri. Yang pertama dikenal secara umum sebagai Same-Sex Attractions (SSA) dan yang kedua adalah perilaku atau aktivitas yang memenuhi dorongan atau kecenderungan SSA tersebut. Pelaku inilah yang dapat dikategorikan sebagai homoseksual/gay.

Yang perlu difahami, karena seseorang memiliki SSA (ketertarikan kepada sesama jenis) tidak dengan sendirinya dia menjadi homoseks atau gay (kedua istilah ini belakangan dipakai baik untuk laki-laki maupun wanita, meskipun untuk wanita lebih sering dipakai istilah lesbian). Sangat banyak orang yang memiliki SSA tapi tidak mewujudkannya dalam tindakan karena berbagai alasan. Moral, sosial, religi, medis, bisa menjadi alasan yang membuat orang tidak menindaklanjuti dorongan seksualnya.

DARI MANA DATANGNYA KETERTARIKAN ITU?

Ada dua kubu pendapat tentang asal-usul kecenderungan homoseksual. Meyakini mana dari kedua mazhab tersebut yang benar akan menentukan bagaimana sikap dan pandangan kita terhadapnya (baik Anda sebagai orang yang memiliki SSA ataupun tidak).

Teori Pertama bahwa sifat itu bawaan lahir, genetik, innate, terberi, sudah ditakdirkan.

Teori Kedua bahwa kecenderungan ini bukan bawaan lahir, dia tumbuh dan berkembang karena banyak faktor dalam masa perkembangan seseorang.

Tentu tidak banyak yang bisa dibicarakan dengan teori pertama. Kalau sesuatu dikatakan sudah takdir, sudah ada sejak lahir, apa lagi yang bisa diperbuat? Kalau Anda dilahirkan dengan rambut kriting, meskipun Anda melakukan rebounding berkali-kali, tetap saja rambut Anda akan kembali kriwil-kriwil.

Michael Jackson tidak menjadi seorang white meskipun melakukan terapi bleachingkulit berulang kali. Karena dia ditakdirkan untuk lahir dari orang tua black. Dengan pola yang sama, kecenderungan homoseksual jika sudah ada sejak lahir berarti sesuatu yang normal, merupakan ketetapan Tuhan, dan tidak bisa dirubah.

Tapi apakah demikian?

Mazhab kedua tidak meyakini hal ini. Menurut mazhab ini, setiap manusia lahir dengan fitrah. Dan fitrah awal manusia adalah mencintai atau menyukai lawan jenisnya. Pengaruh (dari berbagai arah) selama masa bayi, anak-anak, dan remaja-lah yang kemudian memberi peluang tertanamnya bibit – bibit SSA dan membiarkan SSA itu tumbuh dan berkembang subur dalam diri seseorang. Karena tidak mungkin untuk memberikan uraian lebih detail di sini, tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, ada paling tidak tiga penyebab timbulnya homoseksualitas:

1. Karena pernah mengalami pelecehan (abuse) waktu kecil, kanak-kanak atau bahkan setelah masa remaja.

2. Karena pola asuh oleh orang tua yang tidak tepat.

3. Karena faktor lingkungan lainnya (media massa, pergaulan, perlakuan orang lain terhadapnya, pendidikan, faham-faham tertentu, dll).

(CATATAN: kapan-kapan akan kita bahas tentang ketiga faktor ini lebih dalam).

Yang paling menonjol dari faktor-faktor tersebut adalah tidak terpenuhinya kebutuhan yang sangat krusial dalam perkembangan psikologis seorang anak, yakni ikatan emosiaonal antara anak dengan orang tua sesama gender (anak laki-laki dengan ayah, anak perempuan dengan ibu). Adanya jarak atau terlepasnya ikatan emosional (emotional detachment) antara anak dan ayah (atau dengan ibu, kalau anaknya perempuan) merupakan sesuatu yang hilang dalam perkembangan seorang anak.

Karena kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi (unmet) semasa kecil, terdapat semacam kekosongan dalam dirinya dan di masa remaja atau dewasa atau bahkan sepanjang hayatnya si anak akan berusaha memenuhinya. Kebutuhan akan hubungan emosional sesama lelaki (male bonding) tersebut semula tidak terkait dengan fisik atau seksual, tapi seiring berkembangnya hormon seseorang, maka ketika masuk masa pubertas, kehausan tersebut bergeser menjadi hal-hal seksual.

Keinginan dekat dengan sesama lelaki bukan lagi hanya emosional, tapi telah dicampuri dengan seksual. Hampir semua hal yang berbau lelaki akan menjadi sesuatu yang dapat membangkitkan hasrat seksualnya. Bagi seorang yang memiliki SSA, melihat lelaki lain yang memenuhi citra idealnya, merupakan suatu sensasi. Membaca nama seseorang yang dikaguminya (jangan lagi melihat wajahnya, apalagi lebih jauh dari itu), akan memberikan getaran yang sulit dimengerti orang-orang yang tidak mengalaminya. Membaca nama orang yang dikaguminya dalam deretan inbox email atau sms saja akan memberikan getaran yang (mungkin) melebihhi yang dialami seorang straight yang menerima kecupan dari kekasihnya.

Bagi mereka penganut teori bahwa homoseksualitas bukan sesuatu yang ditakdirkan, melainkan pengaruh dalam masa perkembangan, maka kecenderungan tersebut dianggap sebagai deviasi (penyimpangan) dan karenanya bisa diluruskan.

PANDANGAN AGAMA TERHADAP HOMOSEKSUALITAS

Karena saya seorang Muslim, tanpa mengurangi rasa hormat kepada non-Muslim, saya hanya akan mengutarakan apa yang saya pelajari dari agama Islam.

Di beberapa negara seperti AS dan UK, banyak organisasi yang mewadahi kaum G*BTQ Muslim (at least thats what they call themselves). Mereka biasa berpartisipasi dalam gay pride parade dengan membawa plakat sebangsa, We are gay and Muslim and proud. Dalam berargumen, mereka menekankan bahwa mereka ditakdirkan sebagai gay dan melawan kecenderungan tersebut merupakan perlawanan terhadap takdir. Mereka berdalih bahwa tidak ada ayat yang secara eksplisit melarang praktik homoseksual. Pendapat bahwa homoseksual adalah haraam karena penafsiran yang ada saat ini didominasi oleh rezim hetero.

Adapun tentang kisah Nabi Luth mereka mengatakan bahwa yang diharamkan bukanlah perilaku homoseksual yang consent (suka sama suka), diazabnya kaum Nabi Luth karena kejahatan-kejahatan lain yang dilakukan yaitu (terutama) perkosaan. Jadi selama perilaku homoseksual itu dilakukan atas dasar kasih sayang (tanpa paksaan) dan suka sama suka, bagi mereka, tidak diharamkan.

Nah, saat ini rupanya gejala tersebut bukan hanya muncul di AS atau UK (atau Eropa) saja, tapi sudah merambah ke mana-mana, termasuk ke Timur Tengah (terutama Lebanon) bahkan sampai ke Indonesia. Beberapa organisasi yang selama ini tidak diembeli label keagamaan, kini ada yang mencari pembenaran dari sisi agama.

Bagi kalangan mainstream Muslim, tentu apa yang mereka sampaikan hanyalah upaya justifikasi dari perilaku mereka. Kaum G*BTQ Muslim tersebut menilai mereka progresif dalam menafsirkan Al Quran, sementara sebagian besar yang lain menilainya sebagai upaya memelintir ayat untuk membenarkan perilaku mereka.

Dalam Al Quran sendiri ada belasan ayat yang mengecam perilaku homoseksual. Di antaranya:
An-Nisa 4:16 Al-Araf 7:80 Al-Shuara 26: 166-170 Al-Naml 27:55-57.

Perlu ditekankan bahwa yang dikecam (dan dihukum) dalam Al-Quran adalah TINDAKAN atau AKSInya, bukan KECENDERUNGAN. Artinya memiliki kecenderungan terhadap sesama jenis (SSA) bukanlah suatu dosa. Mewujudkan kecenderungan atau dorongan tersebut dalam tindakan, itulah yang dinilai sebagai dosa besar.

Jadi sebagai apakah SSA tersebut?

Sebagaimana yang sudah disebut beberapa orang, tak lain adalah sebuah ujian. Di sinilah pentingnya penggunaan istilah. Seseorang yang diuji dengan SSA, tetapi karena berpedoman kepada Al Quran dan meyakini bahwa ajaran agama melarang perbuatan homoseksual, dia tidak serta merta menjadi gay.

Bagi yang sadar bahwa SSA adalah sebuah ujian, ada perbedaan besar antara dua kalimat berikut:

a. Saya seorang gay.

b. Saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki.

Pada saat seseorang mengatakan Saya gay, maka dia memasukkan suatu konsep dalam dirinya. Konsep tentang gay ini juga tidak terlepas dari stereotype tentang gay. Dan seseorang cenderung untuk memenuhi predikat yang disematkan padanya (self-fulfilling prophecy). Dengan mengatakan diri sendiri gay, seseorang menafikan unsur-unsur lain dalam dirinya yang sebenarnya berkarakter straight. Jika kita yakin dengan kondisi fitrah kita saat lahir, seharusnya kualitas yang diperlukan bagi setiap lelaki telah ada dalam diri kita. Potensi itulah yang harus digali untuk menumbuhkan karakter laki-laki dari setiap orang yang memiliki SSA.

Dengan menyadari saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki tetapi saya bukan gay, seseorang sebenarnya telah secara sadar menepis image atau stereotype gay bagi dirinya.

Dalam Islam, semata kecenderungan atau dorongan bukanlah dosa. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari/Muslim tentang seseorang yang berniat jelek tapi tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Lihatlah janji Allah dalam surat Al-Bayyinah (98:8) bagi mereka yang sanggup menahan hawa nafsu dan berusaha menjaga keimanan.

Supaya tidak terlalu berkepanjangan (inipun udah panjaaang, pasti udah banyak yang bete bacanya), saya ingin berpesan kepada beberapa pihak:

1. Kepada Mereka Yang Stright

Saya tidak ingin menyebut yang straight sebagai normal, karena itu akan menjadi unfair karena konsekuensinya yang memiliki kecenderungan gay berarti abnormal.Saya sangat menghargai mereka yang memandang kaum gay dengan netral tanpa menjadi judgemental. Saya himbau kepada mereka yang mencela apalagi sampai menghujat kaum gay untuk berfikir ulang.

Tahukah Anda jumlah orang yang memiliki kecenderungan ini?

Sebuah riset menyebut jumlahnya antara 5-10% dari seluruh populasi (ok, Ok, riset lain ada yang menyebut di bawah 5%). Mengagetkan? Tentu, karena sebagian besar dari yang 5-10% tersebut tidak menunjukkan ke-gay-annya (dengan berbagai alasan) sehingga tidak diketahui orang-orang sekitar, bahkan orang terdekat sekalipun.

Pernahkah Anda berfikir bahwa orang terdekat Anda sebenarnya punya kecenderungan gay? Pernahkan terfikir bahwa tetangga Anda yang penolong itu, paman Anda tempat Anda curhat, adik yang Anda sayangi, kakak atau sepupu yang Anda hormati, sebenarnya gay? Pasti Anda akan menyebut bahwa saya mengada-ada kalau saya katakan bahwa bisa jadi ayah yang sangat Anda banggakan, atau suami (jika Anda wanita) yang begitu memanjakan Anda, sebenarnya punya kecenderungan gay?

Percayalah, itu mungkin. Dan percayalah, orang-orang dengan kecenderungan gay ini (di Indonesia) lebih banyak yang menikah dan memiliki anak daripada yang melajang. (Karena tidak mungkin saya membuktikannya di sini, Anda sebaiknya percaya saja. Just believe me, I know what Im talking about.)

Dan tahukah Anda apa yang menyuburkan ke-gay-an seseorang?

Salah satunya, adalah sikap homophobia dari mereka yang menyebut dirinya straight. Sindiran, celaan, hujatan, makian, penolakan, pengucilan, hanya akan membuat mereka semakin terikat dengan dunia mereka dan terpisah dari dunia straight pada umumnya. Dan karena adanya rasa terasing itu, mereka semakin merasa kesepian. Di sinilah kondisi menjadi semakin memburuk, karena rasa kesepian semakin memperkuat ketertarikan dan keterikatan mereka kepada kaum senasib.

Padahal yang diperlukan oleh mereka yang berusaha untuk menekan kecenderungan ini (if you know what I mean, ketertarikan itu tidak bisa dihilangkan, hanya dikendalikan) adalah bergaul secara sehat dengan sesama lelaki, terutama yang straight. Begitu mereka merasa menjadi bagian dari lelaki biasa mereka lebih bisa mengendalikan dirinya, menerima dirinya, dan menumbuhkan kualitas kelelakian dalam dirinya.

Kalau mereka semakin tenggelam dalam dunia (yang Anda nilai) sesat karena sikap Anda kepada mereka, bukankah Anda pun punya andil dalam keterpurukan mereka? (Dengan segala hormat kepada mereka yang memiliki kecenderungan gay dan menganggap kecenderungan tersebut tidak perlu dilawan : saya menghargai sikap Anda, meski saya tidak menyetujuinya). So, please, fikir ulanglah next time Anda mengeluarkan hujatan.

2. Kepada Para Orang Tua

Jika di sini ada yang sudah memiliki anak (lelaki ataupun perempuan) saya ingin berpesan : syukurilah dan jagalah karunia Allah tersebut. Berhati – hatilah dengan cara Anda memperlakukan anak Anda.

Sebagian besar orang yang ber-SSA disebabkan karena pola asuh dan pola didik yang salah oleh orang tua. Saya sempat berfikir bahwa para orang tua sekarang sudah lebih well-informed tentang bagaimana perkembangan psikologis seorang anak, sehingga seharusnya mereka lebih tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tapi melihat jumlah penyandang SSA dari kalangan usia muda semakin banyak belakangan ini, anggapan saya bahwa para orang tua sudah lebih tahu bagaimana mendidik anak, harus saya telan kembali.

Para ayah (juga berlaku bagi ibu, untuk anak perempuan), kapan Anda terakhir kali memeluk anak lelaki Anda? Atau tidak pernah? Berapa kalikah Anda menyuruh anak diam karena Anda kelelahan sehabis kerja? Apakah secara tidak sengaja Anda pernah menyakitinya? Pernahkan Anda melihat anak Anda merasa ragu atau takut untuk mendekati Anda? Pernahkah Anda merasakan ketidaknyamanan pada anak justru pada saat Anda ada di dekatnya? Pernahkan Anda tanpa sadar melakukan tindakan berbau pelecehan karena Anda menganggapnya sebagai suatu joke atau sekadar fun atau iseng?

Ayah, berhati-hatilah saat anak berusia 3-7 tahun. Jika pada masa itu Anda gagal membangun ikatan emosional dengan anak, Anda masih ada kesempatan untuk memperbaikinya di usia 8 hingga pertengahan belasan. Tapi jika kesempatan kedua itu Anda sia-siakan maka tanpa Anda sadari Anda telah menanamkan benih-benih homoseksual di diri anak Anda. Anda telah menorehkan luka yang dalam dalam diri anak Anda, sebuah luka yang akan dibawa dengan pedih oleh anak sepanjang hayat.

Luka itu menyedot energi dan emosi anak, menempatkannya pada posisi tersudut, membuatnya selalu dahaga akan ikatan emosional dan kepercayaan diri dan untuk memenuhinya ia akan terus mencari sepanjang hidupnya. Pencarian itu bisa membawanya kepada kebaikan, tapi tak jarang justru menjerumuskannya di lembah nista.

Tidak penting apakah si anak menyadari kesalahan ayahnya itu, atau bahwa ia menyadari bahwa dirinya memiliki luka. Yang jelas karena kelalaian sang ayah, luka itu tertoreh dan itu adalah luka yang lebar dan dalam. Tidak terlalu bermanfaat jika setelah dewasa sang anak mengkonfrontir ayahnya atas perlakuan terhadapnya semasa kecil atau remaja. Konfrontasi tidak akan menyembuhkan luka, apalagi biasanya sang ayah merasa tidak berbuat salah.

Oleh karena itu, para orang tua, cegahlah sebelum kesalahan itu Anda perbuat terhadap anak Anda. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana beratnya cobaan dan godaan yang dihadapi anak yang memiliki SSA. Orang bisa mengatakan bahwa tidak perlu pergi ke kutub untuk mengetahui gunung es. Tapi untuk SSA, itu tidak berlaku. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana berat dan pedih rasanya memikul cobaan ini sampai Anda mengalaminya sendiri.

3. Kepada Mereka Yang Punya Kecenderungan Gay

Terlepas dari bagaimana rasa ketertarikan ini muncul pada diri kita (kalau sampai di paragraf di atas belum jelas bagi Anda, yes, I also have SSA), yang lebih penting sesungguhnya bukan bagaimana kita memiliki SSA, tapi bagaimana SIKAP kita terhadap kecenderungan ini.

Kalau saya melakukan pendekatan agama dalam menulis ini, karena itulah yang bagi saya bisa memberikan solusi saat ini. Saya telah mencoba mengatasi permasalahan ini dengan mengkaji dari berbagai cara approach. Beberapa cara lain telah saya pelajari, tapi pada akhirnya agamalah yang bisa memberi jawaban.

Saya ingin menyampaikannya dalam beberapa poin:

Adalah HAK setiap orang untuk menentukan pilihan. Anda berhak untuk menentukan jalan hidup Anda. Menjadi gay atau tidak sepenuhnya pilihan Anda. Tapi setiap pilihan mengandung konsekuensi. Dan karena ketetapan tentang homoseksual telah ditetapkan dalam Alkitab, apapun asal-usul kecenderungan ini (karena pelecehan, karena salah asuh, karena salah gaul, atau bahkan jika Anda menganggap hal ini bawaan lahir) tanggung jawab dan konsekuensinya tetaplah sama. Saya ingin mengatakan, jika menentukan pilihan adalah HAK Anda, maka membuat pilihan yang BENAR adalah KEWAJIBAN (Making choices is a right, making the right choice is an obligation).

Masuk akal-kah jika Allah menciptakan kita sebagai gay, kemudian mengutuk kita for being gay? Kalau kita percaya dengan firman Allah, berarti kecenderungan ini bukanlah pemberiannya yang kemudian harus diikuti, ini adalah ujian. Dan sebagaimana kita telah diajarkan, kita tidak akan diberi ujian yang melampaui kemampuan kita. Sekarang bahwa kita memiliki kecenderungan ini, sebenarnya kita orang-orang terpilih, yang sudah dibekali Allah dengan kemampuan mengendalikannya. Apakah kita mau menggunakan kemampuan mengendalikan itu atau tidak, berpulang kepada Anda.

Seorang ahli mengatakan, Every homosexual is a latent heterosexual. Jadi ada jiwa heteroseks dalam diri kita, dan itulah sebenarnya fitrah. Katakanlah kita punya dua serigala peliharaan, yang satu bersifat pemarah, sirik, munafik, pelit, pembohong, & dengki, sedangkan binatang yang satunya lagi bersifat ramah, soleh, penuh harapan, dermawan, empati, penyayang dan bahagia. Nah, manakah dari dua serigala itu yang akan menang? (Jika Anda serius untuk mengetahui jawabannya, silakan diskusi dengan saya melalui alif2hamzah@yahoo.com).

Kebutuhan yang harus kita penuhi adalah rasa komplet menjadi seorang lelaki untuk meraih keseimbangan dalam hidup. Rasa sebagai lelaki itulah yang kita dambakan sepanjang hidup. Jika kita berhubungan secara tidak sehat dengan sesama lelaki, kita tidak memenuhi kebutuhan itu, karena kita melepaskan karakter kelelakian kita kepada yang lain. Yang timbul justru rasa kekosongan yang lebih dalam dan keterlepasan kita kepada karakter kelelakian.

Silakan simak surat Al-Baqarah (2:216) “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita bisa mengendalikan orientasi seksualitas kita. Dan ini adalah sesuatu yang harus di-manage. Hanya karena Anda menikah tidak berarti Anda telah mengatasi kecenderungan Anda terhadap sesama. Berapa banyak dari kita yang living double lives? Menikah dan sekaligus menjalani kehidupan sebagai gay di belakang istri? Menikah dan resolving SSA adalah dua hal yang berbeda dan dua-duanya harus dikelola secara benar.

Tanpa mengurangi pandangan saya terhadap perlunya upaya – upaya lain, jika kita memang berniat untuk meninggalkan kehidupan gay, hal paling pertama kita lakukan ialah memasrahkan diri kepada Allah. Pasrah dan ikhlas dalam arti yang sebenar-benarnya. Yakin bahwa Allah akan memberikan Anda hal terbaik dalam hidup Anda kini dan di akhirat kelak. Pasrah dan ikhlas di sini dalam arti Anda rela menerima cobaan ini dan rela untuk menjalani kehidupan sesuai dengan perintah-Nya.

Anda berdamai dengan diri sendiri, tidak menyalahkan orang tua, orang yang pernah melecehkan Anda, menyalah diri sendiri, apalagi menyalahkan Tuhan. Terimalah semuanya sebagai garis hidup. Bahwa memang Anda harus menjalani cobaan ini dan yakinlah bahwa Allah akan menolong setiap langkah Anda, dan akan membalas segala upaya Anda untuk hidup di jalan-Nya.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Tapi bukan perjalanan pergi, melainkan perjalanan kembali. Kembali kepada-Nya. Tentu, jalan yang kita tempuh bukan jalan tol yang mulus. Jalan kehidupan penuh liku, banyak tanjakan dan turunan, banyak lubang dan duri, ada halangan disetiap ruas. Tapi Allah telah memberi rambu-rambu. Jika pun Anda sempat salah belok, selalu terbuka untuk kembali ke jalan yang lurus.

Ampunan Allah selalu terbuka. Rahmat Allah tak terkira luasnya. Berjalanlah padanya, maka Dia akan menyambutmu dengan berlari. Adalah tidak masuk akal sehat jika Anda menukar kebahagiaan abadi di akhirat dengan kenikmatan sesaat di dunia.

Sumber: http://alif2hamzah.blogdetik.com/2008/08/26/halo-dunia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *