Kuatkan Niat

Masih ingat dengan kaum Nabi Luth? Sebagian dari kita mungkin masih keheranan, bagaimana bisa semua laki-laki kaum Nabi Luth yang awal mulanya heteroseksual kemudian hanya mau melakukan hubungan seksual sesama jenis (berorientasi seksual homoseksual atau same sex attraction).

Nah, ini salah satu kisah nyata yang akan membuka mata Anda bahwa suami, saudara laki-laki, ayah, kakek, atau siapa saja yang tadinya berorientasi heteroseksual bisa menjadi homoseksual (ssa = same sex attraction). Ini hanyalah salah satu contoh saja, masih banyak orang di luar sana yang serupa dan terjadi juga pada wanita.

Simak kisahnya

Ada beberapa rekan yang bertanya proses taubat, bagaimana saya terlibat SSA, dan sebagainya, untuk itu dengan niat mudah – mudahan jadi inspirasi bagi sahabat, disini izinkan saya bercerita.

Dulu saya seperti laki – laki kebanyakan, biasa saja, suka sama cewek, kecil – kecil dulu juga sering mandi toples bahkan bugi* sesama cowok di empang. Di kampung tidak ada kasus mengarah ke SSA, bahkan saya juga sering iseng dengan teman – teman ngintip cewek mandi

Soal keluarga, saya mungkin termasuk kurang beruntung, punya bapak yang maniak kawin, sampai saya sendiri tidak hafal nama – nama ibu tiri, tapi tidak begitu berpengaruh sama kecenderungan SSA menurut saya, soalnya waktu saya hidup di lingkungan keluarga seperti itu tidak ada kecenderungan untuk tertarik dengan cowok.

Pertengahan 1990an saya kuliah jauh dari kampung, di sini saya mulai agak bebas, memang waktu SMA saya juga ada pacaran, tapi biasa – biasa saja. Waktu kuliah saya pacaran agak ekstrem kelewat batas, yah namanya juga mungkin puber anak kampung pergi ke kota, tapi saya tidak sampai ML dengan cewek, tapi memang pacarannya kelewat batas, saya dulu paling suka di or** (maaf bukan maksud porno).

Kemudian saya putus dengan pacar, ini buat saya agak stres, karena mungkin sudah terbiasa lepas syahwat, tau – tau tidak ada lagi waktu itu, saya jadi sering onani, terus juga mulai zaman – zaman internet, sering buka – buka situs porno, sampai kenal dengan fasilitas chatting MiRC. Di MiRC inilah awal SSA saya, saya ketemu dengan remaja tanggung cowok, saya diajak ngesek, awalnya saya nolak, tapi ia menawarkan, saya cukup diam saja, dia yang aktif, dia sudah lama tidak ngul** pen** katanya, disinilah mulainya, saya yang memang lagi tidak bisa mengendalikan nafsu karena ditinggal pacar, tergoda juga, singkat kata akhirnya saya ketagihan dengan SSA, sampai jadi “Top”, ganti – ganti pasangan, dan yang buat saya sering nangis sampai sekarang saya tidak ingat nama dan berapa jumlah cowok yang telah saya f**k, singkat kata saya sampai punya BF, hidup seatap bertahun – tahun lamanya, ada mungkin 7 – 8 tahun seatap.

Kemudian saya dapat penyakit, berobat sampai habis – habisan, inilah titik awal saya taubat, tapi perkenalan dengan agama yang lucu bin goblok, saya dan pasangan SSA waktu itu nekat mencari ustadz yang mau menikahkan kami, berbagai hujatan, hinaan sampai sumpah serapah saya terima, sampai akhirnya ketemu seorang ustadz yang justru tidak marah, menasehati kami tentang SSA.

Ini awal mulai tobat sebenarnya, sambil berobat sakit kelamin, saya ikuti berbagai majelis taklim, susahnya pasangan tidak mau ditinggal, tapi dengan berbagai perjuangan akhirnya bisa juga. Awal proses taubat memang sulit, godaan masih banyak, saya berusaha keras menolak hubungan seks SSA, pelampiasan kembali ke onani dan nonton film porno (tapi bukan porno gay, saya berusaha fokus liat wanita bugi*, aneh memang dan tetap bejat), tapi seiring berjalan waktu keduanya bisa saya tinggalkan. Yang pasti saya menyibukkan diri dengan kajian agama, dan berbagai kegiatan saya ikuti, seperti renang, beladiri, kelas musik, klub motor, dsb.

Di renang saya menemukan pengalaman yang unik, awalnya susah karena di lokasi renang banyak cowok – cowok toples, tapi justru itu ujiannya, awalnya saya jengah, tapi lama – lama terbiasa juga, toh apa yang cowok itu punya saya juga punya, itu pokok pikiran dasarnya.Prosesnya ndak sebentar memang, bertahun, sampai akhirnya saya mantap untuk menikah.

Disini ujian lagi, yang dikenalkan pada saya muslimah baik – baik semua, saya takut tidak pantas. Akhirnya setelah perjuangan panjang saya nekat jujur, karena tidak mau jadi batu sandungan kelak, syukurlah calon menerima waktu itu dan masa kelam SSA saya jadi rahasia rumah tangga kami. Pas menikah dan malam pertama tidak ada masalah, saya bisa melakukan kewajiban sebagai suami dengan baik. Karena jauh sebelum menikah sekita 4 – 5 tahun saya sudah meninggalkan kehidupan SSA.

Kunci perubahan itu dasarnya niat yang kuat untuk mengharap ridho ALLAH Ta’ala dan istiqamah, dan nasehat klasik sibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif, jangan bilang susah kalau tidak melakukannya, kalau hari – hari sudah diisi berbagai kegiatan positif apalagi kegiatan religi, maka hasrat untuk SSA bisa ditepis.

Sekali lagi bagi saya prosesnya tidak sebentar, tapi dengan tekad kuat InsyaALLAH bisa lebih baik. Ingat, kilat yang sekejap saja perlu proses menghasilkan kilat tersebut, apalagi perubahan diri.

Semoga dengan adanya kisah ini dapat memberikan motivasi dan pelajaran bahwa SSA bisa sembuh dan menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya asalkan dibarengi dengan niat yang sungguh – sungguh mengharap ridho ALLAH Ta’ala.

Salam Peduli Sahabat

sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *