APAKAH Kalian Termasuk Helikopter Parenting ? Wahai Para Orang Tua

sumber gambar : https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2019/11/10/1710-helicopter-parenting-5dc78c88d541df5f1a7274c2.png

Hai para orang tua pernahkah kalian selalu merasa harus berasda di dekat anak, selalu ingin mengawasi apa saja yang sedang dilakukan anak di luar sana, selalu ingin membantu anak ketika ia mengalami kesusahan.

Perlu diketahui wahai para orang tua, mungkin tujuan kalian baik sekali ingin selalu melihat dan membuat anak bahagia atau ingin selalu menjadi pahlawan bagi anak – anak kalian, namun jangan salah dengan kalian memperlakukan anak dengan perhatian – perhatian yang berlebih justru akan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak yang nantinya akan menghadapi berbagai macam ujian hidup dan juga berbagai macam karakter manusia yang berada disekitarnya.

Mungkin fenomena Helikopter Parenting adalah hal yang pas untuk para orang tua yang kadang terlalu memberikan perhatian berlebih pada anak – anak mereka. Dilansir dari popmama.com ingin tahu bagaimana pembahsan mengenai helikopter parenting ? Simak ulasannya dibawah ini.

1. Gaya pengasuhan yang selalu membayangi si Kecil

Layaknya helikopter yang terbangnya tidak setinggi pesawat lain, gaya pengasuhan helikopter menerapkan hal yang sama. Dengan kata lain, orangtua kerap membayangi si Kecil. 

Tujuan utamanya, agar si Kecil tetap dalam perlindungan dan pengawasan orangtua. Maksud awalnya baik, ingin si Kecil terlindungi dari hal yang tidak diinginkan. Namun bisa berefek buruk pada perkembangan anak.

Gaya pengasuhan ini yang membuat Mama selalu memperhatikan anak saat di taman bermain dan tak ragu untuk membela anak saat terlibat konflik. 

Atau, yang membuat Mama terus bertanya pada guru si Kecil mengenai keseharian anak, di luar dari laporan yang sudah diberikan. Sehingga Mama bisa mengetahui keseluruhan kegiatan si Kecil. Dengan kata lain, agar Mama bisa terus mengontrol perkembangan buah hati.

Dengan begitu, anak tidak akan belajar inisiatif untuk menyelesaikan konflik dan berkembang jadi pribadi yang lebih berani. Anak akan cenderung diam dan kurang inisiatif karena bagian itu sudah dilakukan oleh Mama atau Papanya.

2. Kerap menyelamatkan anak dari keadaan tidak menyenangkan

Mama selalu membantu tugas sekolah si Kecil. Bahkan, saat buah hati sudah terlalu lelah dan tak bisa menyelesaikannya, Mama bisa membenahinya tanpa diminta. 

Saat si Kecil ketinggalan tugas atau buku pelajarannya, Mama akan mengantarkannya ke sekolah agar mereka bisa belajar dengan maksimal.

Ketika anak terlibat dalam konflik antar sesama teman, Mama tidak ragu mengintervensi keadaan agar konflik segera selesai dan si Kecil bisa kembali bermain. Serta segudang penyelamatan lainnya. 

Jika sering dilakukan, anak akan selalu mengandalkan orangtua mereka. Tak peduli tanggung jawab yang telah dibebankan padanya, karena orangtuanya pasti menolongnya. 

Bagaimana jika Mama tidak bisa lagi ada di sisinya? Bagaimana ia akan menjalani hari-harinya?

3. Seringnya orangtua tidak menyadari melakukan gaya pengasuhan ini

Pada dasarnya, tidak ada orangtua yang ingin mengasuh dengan gaya helicopter parenting. Namun di sisi lain, ada keinginan besar agar si Kecil selalu bisa berhasil dan bisa nyaman menjalankan hari.

Hal inilah yang membuat Mama menjadi terlibat dalam pengasuhan helicopter parenting. 

Bahkan beberapa orangtua sadar hal ini tidak baik untuk perkembangan si Kecil. Hanya saja tidak tahan melihat si Kecil mengalami ketidaknyamanan atau kegagalan. 

Kalau sudah begini, bukan anak yang harus berubah. Tapi orangtua yang harus membenahi diri dan mengatur kembali mindset pengasuhan anak.

4. Biarkan anak mengenal konsekuensi

Untuk menghindari gaya pengasuhan helicopter parenting yang tidak sehat bagi anak dan orangtua, ada baiknya mengenalkan anak pada konsekuensi. 

Saat anak lupa bawa tugasnya, biarkan ia mendapatkan konsekuensinya dari sekolah. Dengan begitu, ia akan belajar untuk lebih teliti dan bertanggung jawab atas tugasnya. 

Begitu juga saat terjadi konflik, biarkan anak belajar menyelesaikan masalah. Jika kesalahan ada di si Kecil, saatnya ia belajar untuk jadi pribadi yang baik. Jika kesalahan ada di temannya, saatnya ia belajar memaafkan. 

Dengan begitu, ia bisa lebih berhati-hati jika ingin melakukan sesuatu. Juga, anak bisa menimbang mana yang prioritas, mana yang tidak. 

Biarkan ia mengenal konsekuensi dan menjadi anak yang lebih mandiri. 

5. Ajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya

Salah satu efek negatif jangka panjang helicopter parenting adalah anak tidak mengenal kegagalan. Ini dikarenakan orangtua kerap melindungi anak dari merasakan kegagalan. 

Jika tidak pernah gagal dan pada suatu hari mereka merasakan pahitnya terjatuh, kemungkinan besar bisa berujung pada depresi. Paling parah, bisa terpuruk dan akan sulit untuk kembali bangkit. 

Belum terlambat bagi Mama untuk mengajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah akhir dunia. Serta, kegagalan bisa jadi proses pendewasaan dan penyempurnaan diri. 

Terima kegagalan dan belajar dari sana agar jadi pribadi yang lebih kuat dan berani. Ini adalah bekal penting yang harus dimiliki anak di kemudian hari. 

Tak ada kata terlambat untuk menghentikan gaya pengasuhan yang tidak sehat ini, Ma. Masih ada memperbaiki keadaan dan membekali anak untuk jadi pribadi yang kuat dan hebat. 

sumber artikel : https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/faela-shafa/tipe-helicopter-parenting-dan-efeknya-untuk-anak/full oleh Faela Shafa 27 November 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *