Tren Parenting Organic, Bagaimana Kriteria Orang Tua Supaya menjadi Parenting Organic

sumber gambar : https://img.lovepik.com/original_origin_pic/18/10/19/9f0bd4d1f5501c878efab2c955dcd0e4.png_wh860.png

Pola pengasuhan orang tua pada anak kian hari makin menunjukkan berbagai inovasi, dikarenakan di era milenial dan di kemajuan jaman saat ini, pasti akan banyak pola perubahan perilaku manusia khususnya juga terhadap pekembangan pola perilaku anak – anak yang mestinya sangat berbeda dengan pola perilaku anak- anak diera tahun 90-an.

Maka dari itu perlu inovasi di dalam pola asuh anak diera saat ini. Dulu mungkin di era 90-an pola pengasuhan lebih keras dan tegas namun di era sekarang sangatlah tidak bisa sembarangan untuk mengasuh anak. Di era jaman 90-an mungkin anak akan langsung diam ketika orang tua marah, alih – alih marah bahkan kadang ada juga yang marah sambil menggunakan kekerasan fisik untuk membuat anak jera.

Dari tahun ke tahun perkembangan berbagai pola pengasuhan yang sudah banyak yang dinovasi, dan salah satunya adalah Organic Parenting, hal yang unik dari pola pengasuhan anak ini adalah menurut mungkin lebih mengingatkan saya pada pola pengasuhan di era 90-an yang lebih menyatu dengan alam tapi tidak dengan kekerasan fisik yang mana di era 90-an pola asuh orang tua terhadap anak identik dengan kata – kata tegas kekerasan fisik .

TEMPO.CO, JakartaOrganic parenting adalah salah satu pola asuh anak yang sedang diperbincangkan. Secara sederhana, orang tua akan menggunakan gaya alami dalam membesarkan dan pendidikan anak-anak.

Sebagai bentuk penggambaran yang lebih detail, psikolog tumbuh kembang anak, Chitra Annisya, pun menjelaskan empat karakteristik dari pengasuhan organik ini. Pertama, orang tua akan menetapkan pola makan yang bergizi tapi organik. 

“Artinya dia tidak menyentuh pestisida dan kandungan nonorganik lainnya, sehingga benar-benar alami,” katanya.

Selanjutnya, orang tua juga memperkenalkan banyak aktivitas fisik, sebab di era yang semakin modern ini, secara tidak sadar kegiatan yang membutuhkan gerakan itu sangat minim. Padahal, menurut Chitra, kegiatan multisensori sangat penting untuk tumbuh kembang anak. 

“Sekarang kalau mewarnai pakai gadget hanya menggunakan sentuhan jari saja. Hal ini bisa memperlambat sensorik dan motorik anak. Jadi untuk orang tua yang menerapkan organic parenting akan banyak mengimbau aktivitas multisensori,” katanya.

Ada pula interaksi dua arah antara orang tua dan anak. Menurut Chitra, orang tua sering kali mau berbicara namun enggan mendengar. Sedangkan bagi orang tua yang menerapkan pengasuhan organik, hukum alam untuk berbicara dan mendengar pun akan dilakukan.

“Biasanya orang tua lebih liberal. Jadi dia tidak malu dan mau menerima masukan maupun pendapat dari anak,” katanya.

Terakhir, orang tua dengan pengasuhan organik akan menyatukan anak dengan alam sebab berbagai manfaat positif bisa diraih dari hal ini. Misalnya, anak tidak mudah sakit karena kekebalan tubuh yang meningkat hingga lebih bahagia, sebab paparan sinar matahari bisa melepas hormon senang tersebut.

“Mereka biasanya kalau berlibur tidak ke mal tapi naik gunung atau ke pantai,” katanya.

Dari empat ciri ini, apakah Anda melakukan hampir semuanya? Bisa disimpulkan, Anda adalah seorang penganut pola asuh organik.

Dari berbagai pola asuh anak yang sedang berkembang pasti juga terdapat kelebihan dan kekurangannya, namun kita sebagai orang tua pasti juga tahu apa yang terbaik untuk anak, mau pola asuh seperti di era 90-an yang keras dan tegas juga masih boleh asalkan sesuai dengan proporsi dan tidak berlebihan, begitu pula sebaliknya mau menggunakan pola asuh yang lebih santai tapi tegas atau yang lainnya bisa – bisa saja asalkan sesuai kondisi dan proporsinya. Masih banyak berbagai macam pola asuh yang dapat kita terapkan sebagai orang tua terhadap anak – anak. Mari menjadi orang tua yang cerdas dan menyenangkan bagi anak- anak.

sumber artikel : https://gaya.tempo.co/read/1253385/kriteria-orang-tua-agar-masuk-kategori-tren-parenting-organic/full&view=ok Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua , Editor: Yayuk Widiyarti , Sabtu, 28 September 2019 09:48 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *