PEDULI SAHABAT ,[ SAHABAT ITU PEDULI]

Oleh . Langit Senja

sumber gambar : http://renunganlenterajiwa.com/wp-content/uploads/2018/11/Saling-membantu.jpg?w=640

“Apa yang kau rasakan itu dosa!” Kata murabbiyahku. Ada gurat kecewa di wajahnya. Mengetahui kenyataan bahwa aku, mutarabhiyahnya memiliki orientasi seks yang menyimpang. Dan kini, aku ada di hadapannya. Mengatakan kondisi diriku karena bingung harus bagaimana lagi menghilangkan perasaan terlarang itu.

Aku hanya tertunduk takut. Bulir-bulir bening mengalir dari mataku tanpa bisa ku tahan lagi. “Jika memang apa yang aku rasakan adalah dosa, lalu untuk apa aku bertahan selama ini?” Batinku menjerit. Bukankah lebih baik aku menikmati maksiat dengan sesama perempuan? Daripada lelah menahan hasrat, tapi tetap berdosa juga.

“Lalu aku harus bagaimana, kak?” Aku bertanya dengan wajah masih menunduk. Tak berani menatap wajahnya. Takut ada ekspresi jijik di sana yang bisa membuat hatiku sakit.

“Kau harus menyembuhkan penyakit laknat itu!” Ucap beliau dingin.

“Tapi bagaimana caranya?” Jawabku pelan.

“Aku sudah konsultasi beberapa kali ke psikolog. Sudah ruqyah juga. Hipnoterapi juga sudah aku coba. Tapi hasilnya masih belum seperti yang kuharapkan. Aku belum bisa menghilangkan perasaan ini.” Kali ini, aku beranikan bicara sambil menatap wajah beliau. Dan aku temukan ekspresi yang tak bisa kutebak. Entah apa yang sedang beliau pikirkan tentangku.

“Kalau begitu, pulanglah dulu. Perbanyak ibadah. Nanti kita cari solusinya sama-sama.”

Aku mendesah pelan. Jujur, ada sedikit kecewa saat itu. Beliau yang biasanya hangat tiba-tiba berubah seperti orang yang tak ku kenal. Apakah aku sudah menjelma menjadi makhluk mengerikan di hadapannya? Entahlah.

Kutinggalkan rumah beliau dengan perasaan campur aduk. Ada bisikan agar aku menyerah saja. Tak ada gunanya bertahan. Buat apa selama ini aku menutup aurat? Ikut kajian? Ikut dalam aktivitas dakwah di kampus dan masyarakat. Kalau semua itu tak ada gunanya. Buat apa aku menahan diri untuk tidak pacaran dengan siapapun. Buat apa semua itu?

Mungkin, keberanianku menceritakan semua ini adalah hal konyol. Bunuh diri. Tapi saat ini aku benar-benar galau. Aku hampir menyerah karena lelah menahan beban dalam jiwa. Aku takut terjerumus ke dalam maksiat.

“Ya Allah, selamatkan hamba-MU ini!” Bisikku dalam hati.

🌷🌷🌷

Sampai di kontrakan aku langsung masuk kamar. Aku rebahkan badan di kasur tipis. Mencoba menenangkan jiwa yang sedang gundah gulana. Aku merenungi semua perjalanan hidupku. Mulai dari peristiwa menyakitkan itu hingga aku bisa sampai seperti ini. Kalau dipikir-pikir sudah banyak yang aku korbankan untuk bisa bertahan dengan kondisi ini. Waktu, pikiran dan juga uang. Aku rela menahan diri untuk tak membeli barang-barang yang kuinginkan, padahal menurut orang-orang gajiku lumayan. Uangnya aku tabung, dan aku pakai untuk konsultasi ke psikolog dan hipnoterapi. Apakah aku harus menyerah setelah berjuang sejauh ini? Lalu bagaimana dengan ibuku jika tahu anak yang dibanggakannya ini punya orientasi seks yang menyimpang? Mungkin beliau tak akan menganggapku lagi sebagai anaknya. Ah, lelah sekali jika memikirkan semua ini.

Aku memilih tidur untuk menghilangkan penat pikiran. Berharap bisa bangun dengan hati yang sedikit lapang.

Setelah bangun tidur dan membersihkan badan, aku mencoba berselancar di dunia Maya. Dengan smartphone baru yang aku beli seminggu yang lalu. Awalnya, aku tak berani memakai ponsel pintar itu. Karena takut terjerumus ke dalam komunitas-komunitas LGBT yang kian hari kian menjamur. Tapi akhirnya aku terpaksa membelinya karena tuntutan pekerjaan. Dan kini, akan aku manfaatkan untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang metode penyembuhan orientasi seks yang menyimpang.

Aku ketikkan kalimat LGBT dan metode penyembuhannya dimesin penjelajah. Aku buka artikel ataupun yang muncul di sana. Hampir semuanya berisi hal-hal yang sudah aku lakukan. Aku hampir putus asa saat netraku membaca sebuah tulisan yang berisi rangkuman pelatihan dari seseorang. Tulisan itu berisi tentang sebuah metode pendampingan bagi SSA yang ingin hijrah. aku baca dengan jeli apa yang dimaksud dengan SSA. Jujur, itu pertama kali aku membaca istilah tersebut. Selama ini, aku hanya mendengar orang-orang seperti kami disebut lesbian. Ternyata ada istilah lain yang lebih manusiawi; SSA (same seks attraction). Istilah ini digunakan untuk penyuka sesama jenis yang tidak ingin diakui identitasnya secara hukum agama, masyarakat dan negara.

Aku bersemangat membaca tulisan tersebut. Apalagi saat penulis menyarankan untuk bergabung di grup peduli sahabat yang didirikan oleh kak Sinyo Egie. Itu grup tertutup di Facebook yang bisa jadi tempat berbagi dengan sesama SSA dan kalau aku mau, bisa mendapatkan pendampingan online secara gratis.

Segera aku buka akun Facebook, mencari grup peduli sahabat. Aku meminta bergabung. Dan menunggu sampai disetujui. Aku menunggu cukup lama, seminggu. Hampir tiap hari aku cek notifikasi. Berharap sudah diterima jadi anggota grup. Jiwaku dipenuhi semangat dan harapan baru.

Setelah aku diterima jadi anggota grup, segera Aku baca file wajib. Dan, disitulah aku menemukan jawaban dari apa yang aku pertanyaanku selama ini. Salah satu file yang yang berjudul hukum berniat buruk menjelaskan bahwa perasaan SSA ini tidak dihukumi dosa jika tidak diekspresikan dengan apapun. Semua perjuanganku untuk bertahan selama ini tak sia-sia. Aku sujud syukur.

Bahagia membuncah dalam dada. Ada konsep baru dalam diriku. Aku SSA, bukan LGBT. Dan SSA itu adalah ujian diantara banyak ujian yang Allah berikan pada masing-masing hamba-NYA. Aku diuji sebagai SSA, karena aku mampu untuk melewatinya. Jadi, tak ada alasan apapun yang bisa membuatku menyerah. Biarlah orang menganggapku buruk, pendosa, manusia dengan penyakit jiwa, yang penting dalam pandangan Tuhanku, aku sama seperti manusia lainnya. Aku akan berusaha terus memperbaiki diri. Semoga bisa istiqomah hingga akhir usia. Dan semoga kesabaran menjalani ujian sebagai SSA, kelak akan menghantarkan ku ke surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *