Jika saja ‘Joker’ Tahu Tentang Kisah Para Nabi

sumber gambar : https://esqnews.id/uploads/images/5d9f027b40fc6.jpg

Perbincangan mengenai sebuah film memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat dan penikmat film dalam hal ini adalah film JOKER yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Mengapa demikian ?

Dari kesekian banyak film yang telah saya lihat memang kalau kita telaah dalam – dalam ada sebuah pesan tersirat yang sangat mendalam dari film tersebut. Salah satunya bagaimana kerja keras seorang Joker untuk menjadi komedian terkenal dengan bekerja disebuah agensi dan merias wajahnya layaknya seorang badut untuk menghibur orang. Tak jarang dia akan dibulli habis – habisan oleh banyak orang dan menjadi bahan tertawaan. Tapi karena pesan Ibunya untuk selalu tersenyum, dia selalu berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Namun dibalik itu semua tersimpan rasa tertekan yang sangat mendalam di dalam hatinnya yang berujung dendam terhadap orang orang yang pernah membullinya, bahkan ia tidak ragu melakukan tindakan kriminalitas kepada para pembullinya untuk melampiaskan apa yang yang telah ia tahan selam ini.

Dan yang menarik dari film ini, terdapat sebuah tagline “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti.” benarkah statemen demikian jika kita terapkan dalam kehidupan nyata. Tentu akan banyak pro dan kontra jika kita terapkan statemen demikian di dalam kehidupan nyata

Namun jika kita seorang muslim mungkin pernyataan mengenai “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti ” itu tidak mesti terjadi, tak selalu orang baik akan menjadi jahat jika ia disepelekan,dimanfaatkan ataupun dibulli habis habisan. Karena kita sebagai seorang muslim selalu diajarkan untuk memaafkan masalah bagaimana tentang orang yang telah mendzolimi kita ?. Sepenuhnya, mari kita serahkan kepada hakim yang maha adil yaitu ALLAH.

Dan juga kita sebagai umat muslim patut untuk menengok sejarah bagaiman perjuangan para Nabi,Rasul, dan para pejuang muslim untuk menyebarkan agama ISLAM di dunia ini apakah mereka mendapat respon yang baik. Tentunya juga tidak, mereka juga mendapatkan kedzoliman dari kaum yang menentang ISLAM bahkan tak jarang ada yang sampai dibunuh atau terbunuh dalam memperjuangkan ISLAM. Tetapi apa yang mereka lakukan ? Mereka tetap sabar dan istiqomah juga memafkan para kaum yang menentang ISLAM bahkan mereka malah mendoakan para kaum yang menentang ISLAM agar segera diberi hidayah oleh ALLAh untuk segera bertaubat dan memeluk agama ALLAH yaitu ISLAM

Banyak kisah para Nabi dan Rasul yang sepanjang hidupnya tersakiti, tapi toh mereka bisa tetap menjadi orang baik dan bahkan suri tauladan bagi umat manusia. 

Mulai dari Nabi Ibrahim AS yang dibakar hidup-hidup, Nabi Yusuf AS yang jadi korban kedengkian saudara-saudaranya sendiri, Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS yang dibuli dan dijahati masyarakatnya. Hingga Nabi Muhammad SAW, yang dijahati sepanjang masa dakwahnya. 

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kejahatan tak selamanya mengubah orang baik jadi jahat. 

“Pertama yang pasti Nabi yang kita tahu perjuangan hidupnya itu adalah orang-orang spesial yang memang dijaga Allah dari akhlak tercela. Mereka terjaga dari fitnah,” kata Yeni Cerahmawarti, SPd, konsultan keluarga dan parenting dari Rumah Keluarga Indonesia  (RKI) Kota Bekasi. Yeni yang sering menjadi narasumber tentang pendidikan dan parenting dalam berbagai kesempatan.

Jika menengok kisah para Nabi, pasti kita juga akan menemukan bagaimana mereka memiliki beberapa orang dewasa sangat menyayangi mereka yang mengajarkan tentang akhlak mulia sejak kanak-kanak. 

“Bonding yang kuat dengan sosok yang mengajarkan kebajikan ini akan tertanam lama di bawah alam bawah sadar. Maka ketika para Nabi ini mendapat cobaan, misalnya Nabi Yusuf AS saat digoda Zulaikha yang teringat adalah pesan ayahandanya,” kata Yeni.

Sementara dalam kisah Joker, dia tak memiliki sosok sebagai panutan dalam masa perkembangannya. Lebih jauh dia tak punya ‘bonding’ yang kuat dengan seseorang yang tulus mencintainya. 

“Sepemahaman saya kisah Joker ini adalah kisah anak dengan kepribadian yang pecah. Ini bisa terjadi pada anak korban bullying berat yang tak tertangani. Sehingga dia tak tahu mana yang nyata dan mana yang halusinasi,” kata Yeni. “Kesedihannya terlalu dalam di luar ambang batas kemanusiaan. Dari segi pengasuhan memang bisa jadinya seperti itu.” 

Namun Yeni menggarisbawahi fakta lapangan yang menyatakan korban bullying tak mesti berakhir seperti Joker yang jadi pelaku kejahatan. 

Dengan bimbingan yang tepat, semua tergantung pada korban bullying sendiri dalam memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya. “Ya, bisa berpotensi memunculkan dendam, tapi juga bisa diarahkan untuk potensi mendewasakan si korban. Dalam arti jika dia bisa memaafkan pelaku dan move on menjalani hidup.” 

Yeni mencatat, selain para Nabi yang memang sudah dijamin penjagaan akhlaknya, banyak korban bullying yang bisa ‘survive’ dan malah menjadi relawan untuk menolong korban-korban lain. “Biasanya korban seperti ini sudah mencapai tingkat kesadarannya bahwa perilaku bullying yang pernah dialami itu bukan kesalahannya sendiri, tapi takdir yang memang terjadi dan mau tak mau harus diterima.” 

Yeni mengutip ucapan Ustadz Bendri Jaisyurahman yang mengatakan seorang anak termasuk korban bullying yang bisa disebut Mandiri. Yakni jika anak tersebut bisa mengatasi tiga hal berdasarkan kisah Nabi Yusuf AS. “Anak bisa mengatasi syahwatnya, bisa mengatasi ujian hidup dan terakhir bisa memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim padanya,” kata Yeni.

sumber artikel : http://www.moeslimchoice.com/read/2019/10/23/28174/andai-%E2%80%98joker%E2%80%99-belajar-tentang-kisah-para-nabi RABU, 23 OKTOBER 2019 | 01:30 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *