MEMBULLY ATAU DIBULLY ?

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2018/01/18/10/06/bullying-3089938__340.jpg

Seorang bapak dari Depok kemarin telpon saya atas permintaan putrinya. Jadi si buah hati pernah ikut materi saya saat masih SD kemudian berinisiatif meminta masukan tentang masalah yang dihadapi. Tantangan yang dihadapi adalah dia memilih keluar dari sekolah lanjutan karena sering dibully (mengalami perundungan) oleh teman-temannya.

Secara akademik jangan ditanya dah. dia termasuk yang luar biasa begitu juga dengan hafalan Qur’annya. Sayangnya sejak kecil dididik oleh ortu secara ‘steril’ sama dengan salah satu kasus yang saya tangani di kota Magelang namun berjenis kelamin laki-laki.

Dalam otaknya hanya ditanam isinya positif melulu akhirnya saat bertemu dengan dunia luar yang ‘kejam’ maka dia kaget, shock, lemah, dan tidak berdaya yang berujung ‘menyerah’.

Membully dan dibully itu sesuatu yang ‘wajar’ ada di dunia ini bahkan perlu diajarkan ke anak-anak dengan taraf yang ringan sebagai pengetahuan bahwa selalu ada positif dan negatif dalam kehidupan.

Contohnya:

Ketika kita sebagai orang tua berujar ‘weeeeek lu kalah lu kalah’ sambil menjulurkan lidah saat bermain game dengan anak-anak itu mengajarkan membully namun bukan bagian itu yang penting, adalah saat kita ‘meminta maaf’ karena bullyan kita menyakiti hati si anak hingga menangis atau tidak terima itulah yang ‘utama’.

Sebaliknya saat dibully pun anak juga dilatih untuk melawan dan mempertahankan hak milik dan serta kehormatannya. Jika memang dia sudah tidak sanggup menghadapi baru diarahkan lapor kepada yang berwenang (entah guru, polisi, dan lainnya).

Jadi yang kita tumbuhkan adalah imunitas si buah hati bukan sterilisasi.

Saat anak kita membully atau menyakiti orang lain maka dia ‘wajib’ meminta maaf dan siap dibalas (dihukum) begitu juga sebaliknya kalau dibully atau disakiti maka anak-anak kita ‘wajib’ melawan dan mempertahankan eksistensinya semaksimal mungkin sesuai dengan aturan yang berlaku.

Tentang gadis yang tadi, sekarang dia sedang memilih homeschooling dan saya minta berlatih untuk mengenal dan menghadapi banyak orang lewat berbagai aktivitas karena ini skill yang harus dipraktikkan secara bertahap bukan sekadar teori.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *