Kehilangan Sebelum Kehilangan

Tidak ingin lagi aku bertanya, mengapa aku diuji sedemikian perih. Aku ingin berdamai dengan semuanya, dengan semuanya, terutama dengan hatiku. Meyakini bahwa semua yang Allah beri adalah baik.

“mengapa kita ditemukan dan akhirnya kita dipisahkan, mungkinkah menguji kesetiaan, kejujuran dan kemanisan iman..tuhan berikan daku kekuatan…

Masih saja terngiang lagu itu dihatiku..yang terasa lebih istimewa saat kudengar dengan deraian airmata saat aku sendirian dirumah.
Pernahkah engkau merasa berada dalam gua yang begitu pekat ? tiba-tiba tanpa kau kira,
Ya aku pernah,bukan pernah, hmm aku sedang mengalaminya.
Berada dalam gua yang gelap, aku mendengar suara. Normal seperti biasa, ada suara teman teman, ada suara kakak, ayah, ibu, semuanya. Merekapun melihatmu, mendengarmu. Hanya saja mereka tak tahu bahwa kau sedang berada dalam kegelapan, karena mereka melihatmu justru sedang gemerlap dalam bahagia sebagai seorang pengantin baru.

Aku sedang ingin mengingatnya..masa-masa taaruf..

Teringat pertama kali menerima lembar biodatanya. Biodata pertama yang hadir resmi melalui guru ngajiku. Seperti yang kuharapkan dari semula, aku hanya ingin berproses dengan cara itu saja. Maka bismillah, aku menerimanya, aku berharap saat itu ia akan jadi ayah dari anak2 ku…ayah yg baik..krn ia adalah guru yg baik, aku akan punya tpa yg dikelola bersamanya..

Tapi Allah selalu punya kejutan manis untuk setiap hamba Nya. Mungkin saat ini bisa saja kubilang manis, meski saat menjalaninya dulu aku merasakan kegetiran luar biasa.

Sejak awal meniti rumah tangga bersamanya, sekejap saja mulai muncul keanehan yang ku rasa, yang membuat ku tidak nyaman, bingung dan tertekan, aku seperti merasa terpenjara, tak bisa bersuara. Dan tiba-tiba , aku sudah berada dalam gua yang gulita.

Aku bingung mengapa rumahtangga ini begini. Sering aku bertanya, apa ia membenciku, apa ia tidak pernah suka padaku. Apa ia terpaksa menikahiku. Sehingga dua tiga kali ia mencoba menyentuhku tapi tak berhasil. Lalu tak pernah lagi ia mendekatiku. Ia memang sering memberiku hadiah, mengatakan ia sangat menyayangiku, mengatakan aku adalah bidadari baginya, tapi saat aku senang dan ingin memeluknya ia menolakku. Kalaupun membiarkanku memeluknya dari belakang, ia akan diam mematung tanpa ekspresi. Hmm, sejak itu aku tahu kabut kian gelap menyelimuti gua ku.

Bayangan romantisme rumah tangga, rencana-rencana manis yang kubuat seketika menjadi hambar. Ketika semua aksi yang ada, hampa, ianya tak berbuah reaksi dari orang yang kuharap akan jadi kekasih hati. Belum lagi getir ketika orang-orang melihat dan berkata betapa senangnya kami berdua, iri melihat kami, ataupun teman yang cerita bahwa ia merajuk pada suaminya karena ingin diberi juga hadiah seperti suamiku memberi hadiah. Sungguh didalam hati saja kukatakan, temanku kau tak perlu iri padaku, sungguh, engkau lebih beruntung dari ku. Tapi aku hanya bisa senyum dan diam ,pura-pura sibuk bekerja.

Sejak itu aku selalu marah pada diri ku, kesal mengapa rumah tangga ini begini, mengapa tak bisa seperti rumah tangga orang lain, Aku ingin marah pada semua orang yg terus saja bertanya tentang kehadiran seorang anak, pada orang yg sok tahu ttg kondisi didalamny?..tp utk apa……tokh aq tak mungkin mampu utk membuat orang lain senang semua padaku…..Rasul saja tdk apalagi aku….

Aku selalu memelihara rasa gagal dalam hatiku. Aku selalu merasa bersalah. Ingin sekali kuceritakan semua, jelas tanpa sekat kepada siapa saja. Agar orang-orang tahu bahwa aku sedang tidak tahu arah, sedang berada dalam kegelapan. Tapi tiba-tiba muncul rasa yakin dalam hati, bahwa aku bisa menyelesaikan ini sendirian. Belum lagi rasa takut, karena emosimu bisa meledak-ledak jika tahu aku cerita sedikit saja tentang keanehan rumah tangga ini. Semua itu membuatku ragu untuk bertanya pada orang-orang diluar.

Seperti di tahun kedua menikah, aku pernah mencoba untuk bercerita pada mbak iparku. Bahwa ia tak pernah menyentuhku, bahwa aku tak tahu sebenarnya tujuan ia menikahiku. Beliau menasihatiku agar bersabar, dan mengatakan akan membantu untuk menasihatimu. Saat itu aku menurut, meski aku tahu kesabaran sudah kupilih sejak awal menikah, sejak awal aku merasa aneh dengan dirinya.

Sedikit cerita itu saja telah membuatnya marah besar padaku. Meski untungnya ia tak pernah menyakiti fisikku. Berkali-kali ia bilang jangan pernah cerita pada orang lain tentang masalah rumah tangga kami. Namun saat kuajak bicara untuk mencari solusi, ia hanya diam.

Kecurigaanku pada dirinya kian besar, saat semakin jarang ia dirumah. Semakin sering ia pulang larut malam. Ya aku curiga bahwa ia tidak normal. Sejak dari awal sebenarnya, namun berusaha kutepis. Tapi perasaan wanita itu begitu sensitif. Sungguh aku merasakan itu.

Aku kian jeli memperhatikan tingkah lakunya. Cara nya berinteraksi dengan sesama jenis. Kian sering kuperhatikan ia berdandan rapi, melebihi aku yang wanita. Rajin sekali menjaga kulit wajahnya, kulit tubuhnya. Dan sungguh itu semua membuatku mual. Mual jika fikiranku ternyata benar. Rasa mual itu sampai membuatku pernah bicara sendiri didepan cermin, mulai dari bicara perlahan, berdoa, menangis, bahkan marah-marah.

Aku beruntung Allah masih menjaga keimananku. Allah masih menguatkanku, dan tidak membuatku gila dengan kondisi yang luar biasa menekan kesadaranku. Gelap gulita dan sendiri.

Lalu aku mulai banyak mencari informasi diinternet. Aku baca habis semua materi tentang homoseks, gay. Grup-grup mereka aku buka, aku lihat, aku baca, dan aku nyaris muntah-muntah. Aku benci sekali, meski aku juga kasihan. Aku pernah mengirim pertanyaan ke rubrik konsultasi majalah wanita muslimah, tapi sayang tak berbalas. Aku pernah mengirim inbox ke penulis wanita yang kutahu sering menerima curhat, tapi sayang tak ada kejelasan juga. Dan aku terus mencari, sendiri.

Di tahun ketiga menikah aku benar-benar menemukan buktinya. Dan aku hampir pingsan. Kalian tahu, aku menemukan buktinya, justru di sebuah momen yang aku harapkan bisa membuat rumah tanggaku normal. Saat jalan-jalan kebandung.

HP adalah barang yang ia jaga sepenuh jiwa raga, sedikit saja kusentuh ia akan khawatir luar biasa. Bahkan bisa marah. Dan saat itu, di hotel pada malam hari. Ia tertidur begitu pulas. Mungkin karena perjalanan jauh. Ia sampai lupa menyimpan handphone di kantong celananya, seperti yang biasa ia lakukan saat tidur.

Aku buka, aku baca, aku menggigil, aku sholat, aku menangis, dan aku tak bisa tidur semalaman.

Aku membaca kata-kata romantis di smsnya, berbalasan, antara ia dan orang lain entah siapa. Ku telpon nomor itu dan suara yang mengangkatnya adalah lelaki. Kata-kata mesra yang tidak pernah ia berikan padaku, bukan hanya mesra, juga kata-kata yang menjurus pada hubungan lebih dari sekedar pacaran. Kubaca terus dan kulihat tanggalnya, dan aku tahu hubungan itu sudah lama sekali. Ia tidak menghapusnya, pantaslah hape itu tak ia izinkan aku memegangnya. Bahkan belakangan di password. Betapa aku merasa paling bodoh seisi muka bumi.

Saat itu ingin langsung aku bangunkan ia dan bertanya padanya. Untung logikaku berjalan, dan mengingat bahwa perjalanan ini bersama dengan banyak teman kerja kami. Jika saat itu kulakukan hanya akan membuka aibnya, aibku, aib kami. Aku menahannya. Hingga 4 hari. Menunggu saat kepulangan kami ke kota tempat tinggal.

Kalau kufikir, bagaimana bisa aku menahan semua perasaan itu. Dan aku mulai sadar, ternyata aku adalah salah satu wanita yang ditakdirkan Allah mampu menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun aku teringat, wanita itu mampu menahan rasa sakit berpuluh kali lipat rasanya saat ia melahirkan. Yah, ternyata apa yang kurasakan belum sebanding dengan perjuangan para ibunda.

Sebelum aku berani bertanya langsung padanya, aku pernah menyamar via sms padanya. Pura-pura bertanya tentang hal yang menjurus ke perilaku ssa. Dan yah jawabannya tentu saja membuatku menangis. Dan pada akhirnya kutanyakan padanya, memberanikan diri, namun ia tentu saja tidak mengaku. Tidak juga menjelaskan. Hanya berkata bahwa ia berharap aku percaya padanya. Saat itu ingin sekali kuteriakkan adanya,, heiiiii apalagi yang bisa aku percaya padamu, bahkan kau tidak lagi pernah berusaha menyentuhku………sungguh aku muaaallll saat itu.

Dan aku kembali pada malam-malam panjang penuh tangis. Sendiri. Aku bingung, ingin cerita tapi aku takut sekali aib itu menyebar kepada semua orang. Dan aku juga memikirkan ayah ibu yang sudah tua. Apa perasaan mereka, terutama ayahku. Ia adalah lelaki yang begitu sangat menyayangiku. Ibu pun sama, tapi aku tahu ibu tidak semelankolis ayah menyikapi segala sesuatu.

Masuk awal tahun keempat, aku masih berkutat pada doa-doa panjangku. Doa yang kadang mebuatku terdiam. Bahkan aku bingung aku ini ingin apa ya Allah. Ingin cerai? Aku tak sanggup membuat sedih keluargaku, keluarganya, guru ngajiku. Aku sering tertegun saat berdoa. Hingga kukatakan saja pada Allah, pertemukan aku dengan orang-orang baik yang bisa membantuku mencari jalan keluar, membantuku menyalakan cahaya dalam hidupku. Ingin sekali melihatnya sadar, meski sisi hati yang lain ragu bisakah ia sadar. Aku tak lagi bertanya padanya. Aku bertanya pada tuhanku, pada Robbku.

Hingga aku ditakdirkan berganti guru ngaji. Ia tipikal orang yang begitu lembut. Ia bertanya padaku tentang kondisi rumah tanggaku. Aku masih berkata baik-baik saja. Terus saja ia bertanya, sampai aku merasa, apakah ia adalah jawaban doaku. Karena guru yang ini begitu menyentuh hati, caranya bertanya sungguh berbeda. Membuatku percaya, membuatku sadar bahwa akupun perlu diselamatkan.

Tepat saat itu juga, aku menemukan link tentang buku ABTL (Anakku bertanya tentang LGBT), aku search penulisnya. Aku add fb nya. Confirm!! Tapi aku belum jadi berkonsultasi padanya. Aku memilih cerita pada guru ngajiku. Bismillah, terbata-bata aku ceritakan semuanya. Dan ia terus saja memintaku untuk menceritakan semuanya. Hingga tuntas, tuntas, detail. Semua kukeluarkan. Dan Allah saat itu aku ingin tersungkur. Aku merasa begitu lega, aku merasa ada sedikit cahaya didepan.

Meski aku juga tahu, saat ia tahu. Ia bisa saja marah besar padaku. Tapi aku sudah terlanjur menceritakannya. Dan aku merasa lega.

Dan mulailah saat itu kami dimediasi. Ia depresi dan merasa ada gangguan dalam dirinya. Maka ruqyah menjadi solusi saat itu. Ia merasa semakin bersalah, dan aku semakin di protect oleh kakakku. Dan aku merasa perceraian sangat mungkin terjadi. Meski aku sampaikan padanya langsung, mungkin saja aku memilih cerai, namun jika ia mau berjanji untuk berubah, mau benar-benar berusaha untuk menjadi normal aku akan mendampinginya.

Meski hasil tes psikologi ku mengatakan aku tak bisa membuatnya berubah, karena aku bukan tipikal orang yang bisa menuntut, terlalu penurut. Tapi aku bilang padanya, jika ia mau dan sungguh-sungguh aku akan mendampinginya terus…

Namun harapan hanyalah harapan…ada takdir Allah yang lain yang tengah menanti. Saat proses itu berjalan sekitar 5 bulan, Allah memanggilnya…kembali kepada Nya, dan ternyata inilah yang kemudian menjadi keputusan terbaik bagi kami. Tidak berpisah di dunia, tapi Allah yang memisahkan dengan cara Nya..

Aku tak akan pernah membencimu…
Karena aku tahu kamu…sesungguhnya kamu baik
Kamu hanya perlu benar-benar memperbaiki keimananmu…bukan utk manusia tapi untukmu, dihadapan Robbmu…

Mengapa aku mampu bertahan sampai 4 thn bersamamu? Dalam kebisuan, ketakutan, ketakmengertian, keegoisan, kegelapan dan sendiri…
Itu semua karena aku terus berharap,,suatu hari tetiba melembutlah hatimu, kau ajak aku utk meraih cahaya keimanan, melembutlah hatimu, runtuh egomu….inilah sebuah harapan, sebuah mimpi

Dikirim 22 Mei 2015, tanpa editing, oleh salah satu teman Sinyo. Tetap semangat ya kak 😉

Grup Menanti Mentari bagian dari Peduli Sahabat
https://www.facebook.com/groups/menantimentari/

3 thoughts on “Kehilangan Sebelum Kehilangan

  1. SubhanaAlloh…Allahu Akbar….

    Manusia hanyalah “pemeran” dr skenario lakon yg Alloh pilihkan&tetapkan.

    Manusia, wajib mengimani bahwa tidak ada yg sia-sia dari apa yg telah ia usahakan.

    Ujian dan terpaan hidup hanyalah salah satu rangkaian perjalanan menuju titian iman.

    Dan Alloh tdk menciptakan jin&manusia kecuali untuk beribadah (menyembah Alloh).

    Dan apakah sekiranya manusia itu mengaku telah beriman tanpa Alloh uji keimanan mereka?.

    Sungguh Maha Benar segala firman Alloh.

    Semoga..
    Semua “para muslimah” yg saat ini tengah menghadapi ujian (iman) mereka yg Alloh gulirkan lewat kisah2 tak manis sebagaimana impiannya dulu. Diteguhkan hati & kelak mendapat balasan pahala yg manis dr Sang pemberi skenario.

    Wallahu’alam bishowab.

  2. Masya Allah .. Mbak.. semoga Allah SWT selalu melindungimu. .

    Insha Allah, syurga adalah balasan bagimu mbak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *