Daily Archives: February 24, 2020

Perjalanan Peduli Sahabat

Bagi kawan-kawan yang masih baru mengenal Peduli Sahabat, mungkin masih bertanya tanya atau masih bingung dengan Peduli Sahabat.

Kali ini saya akan berbagi tentang awal mula bagaimana Peduli Sahabat terbentuk hingga telah menjadi Yayasan resmi dengan salah satu misinya yaitu memberikan pendampingan dan konsultasi individu yang merasa bermasalah dengan orientasi seksual dan identitas sesksualnya, individu yang yang maniak gadget/game/pornografi, individu yang mengalami perundungan, individu yang mengalami pelecehan/kekerasan seksual, individu yang melakukan seks pranikah, baik pribadi yang bersangkutan atau pendampingan kepada keluarga dan orang terdekatnya.

Dan bagi yang ingin ditangani oleh Peduli Sahabat jangan khawatir karena setiap pendampingan dan konsultasi tidak akan dipungut biaya sepeserpun alias gratis karena Peduli Sahabat murni memberikan layanan berbasis sosial untuk membuka kapling yang baik di akhirat kelak.

Saya perkenalkan siapa pendiri Peduli Sahabat dan perjalanan Peduli Sahabat.

Ya pendirinya adalah Agung Sugiarto atau yang sering kita panggil Kak Sinyo, entah apa sejarahnya kok bisa dipanggil Sinyo tapi mungkin itu yang membuat kita lebih mudah mengingat kalo denger kata Kak Sinyo pasti teringat Peduli Sahabat. Beliau berasal dari Magelang Jawa Tengah yang pada awalnya juga sama dengan orang awam lainnya buta soal dunia LGBT.

Hingga pada tahun 2008 ketika salah satu lini Penerbit Erlangga bernama Esensi mengadakan lomba menulis kisah nyata dengan topik (memilih salah satu) yaitu PSK, narkoba, selingkuh, dan homoseksual dengan syarat narasumber harus nyata/asli.

Dari keempat topik tersebut menurut Kak Sinyo topik homoseksual paling menarik dan berkesempatan untuk menang karena topik yang lain mudah untuk digali oleh para peserta lomba sebab narasumbernya banyak tersedia di masyarakat. Topik homoseksual agak beda karena tidak akan mudah mencari narasumbernya.

Di tahun itu Kak Sinyo masih bekerja di salah satu penyedia jasa layanan internet, maka untuk mencari narasumber homoseksual dilakukan lewat online. Kak Sinyo membuat pengumuman berisi pencarian narasumber untuk diwawancarai menjadi naskah buku di milis-milis seperti FLP (Forum Lingkar Pena), blog pribadi, dan juga di salah satu situs portal gay yang cukup terkenal di Indonesia.

Sayangnya saat mencari narasumber itu yang didapatkan dari kaum gay bukan tanggapan positif melainkan tanggapan negatif. Menurutu kaum gay bahwa orientasi dan tindakan homoseksual itu bukan penyakit sedangkan sesuai yang Kak Sinyo pelajari dalam Islam hal itu tergolong penyakit hati dan penyimpangan seksual. Sebab tidak ada ilmu pengetahuan untuk berdiskusi tentang hal itu maka Kak Sinyo mengurungkan niat mengikuti lomba menulis tersebut.

Beberapa waktu setelah Kak Sinyo memutuskan batal ikut lomba ada email masuk yang memberitahunya bahwa ada komunitas orang-orang yang tertarik sesama jenis (SSA) namun tidak mau menjadi LGBT. Mereka tergabung dalam sebuah milis (mailing list) ‘hijrah_euy’dari grup Yahoo.com. Tentu informasi itu menarik minat Kak Sinyo kembali untuk mengikuti lomba dan mengulik komunitas tersebut karena sepemahamannya semua yang berbau tentang homoseksual pasti LGBT namun ternyata tidak semuanya begitu.

Dari situlah kemudian Kak Sinyo mulai mendaftar menjadi member di milis ‘hijrah_euy’ (HE) dan mencari narasumber di sana untuk diwawancarai guna dijadikan naskah lomba. Tanggapan member milis HE ternyata sangat positif bahkan pemilik milisnya turun tangan langsung memberikan masukan baik berupa bacaan cetak atau tautan-tautan online tentang dunia homoseksual.

Namun karena data milis HE sangat banyak dan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan naskah lomba tidak terkejar Kak Sinyo gagal untuk mengkuti lomba. Kak Sinyo membutuhkan waktu kurang lebih setahun untuk menulis naskah tentang homoseksual.

Kak Sinyo terlanjur menjadi tempat curhat puluhan teman-teman SSA. Lama-lama semakin banyak apalagi saat naskah yang buat lomba diterbitkan secara indie di tahun 2011 ( judul bukunya adalah ‘Dua Wajah Rembulan’ ). Ada teman yang telpon berjam-jam sampai hp Kak Sinyo hang, banyak yang chat lewat YM (Yahoo Messeger), sampai datang ke rumah.

Dari beberapa narasumber yang sudah berhasil menjalani hidup di jalan ALLAH walau tertarik secara seks kepada sesama jenis maka mulailah Kak Sinyo membuat uji coba dengan menyusun langkah-langkah untuk membantu teman-teman yang mempunyai SSA. Ternyata rangkaian langkah tersebut cukup efektif membantu.

Tahun 2014 buku Dua Wajah Rembulan dibuat versi parenting dengan judul Anakku Bertanya tentang LGBT dan pada tahun yang sama berdirilah komunitas Peduli Sahabat di Facebook yang digawangi oleh Kak Sinyo untuk membantu orang-orang dengan SSA agar tetap dapat hidup sebagai orang yang sesuai dengan fitrahnya (heteroseksual). Sedangkan Yayasan Peduli Sahabat sendiri didirikan pada tahun 2015 lewat bantuan Aila (Aliansi Cinta Keluarga) hingga sekarang.

Salam Peduli Sahabat