Daily Archives: February 21, 2020

Dont Judge !!!

Woy banci !!!

Woy dasar maho !!!

Woy dasar murahan !!!

Dan masih banyak woy woy woy yang lainnya !

Pernahkah kalian ngatain orang dengan kata – kata tersebut, dengan penuh keyakinan bahwa orang yang kalian kata – katain seperti apa yang kalian katakan.

Pasti jawabnya banyak yang pernah .

Ya sayapun mungkin juga pernah ngatain kayak gitu walaupun mungkin sudah lupa kapan.

Namun setelah saya baca kisah ini, mungkin saya dan kalian telah melakukan suatu kesalahan besar saat dengan mudahnya ngata – ngatain orang . Semoga ALLAH ampuni dosa kita jika kita pernah melakukannya.

Sungguh kisah ini mungkin akan membuat kita mulai berfikir lagi saat ingin menjudge orang.

Simak kisahnya

Labelling

Beberapa hari yang lalu saya membaca kisah orang tua kak SM, ayahnya gay. Saat kak SM kecil, seringkali berjalan dengan ayahnya yang tampan, rapi, halus, sopan, guru SD dan anak-anak tetangga sekitar meledek ayah kak SM, “Woyy bencong…bencong ..bencooong…”

Hmm mulut anak-anak itu memang kasar tapi menyuarakan kebenaran, yang akan terungkap pada sidang perceraian menginjak 33 tahun usia pernikahan ortu kak SM.

Saya teringat masa kecil saya. Adik-adikku yang laki-laki sering mengata-ngatai anak laki – laki tetangga kami bernama AD sebagai Si Bencong. Anak-anak lelaki di lingkungan kami tak mau mengajak AD bermain karena AD kemayu, putih, tampan dan senang bermain dengan anak perempuan, bermain anjang-anjangan (masak-masakan), bermain boneka.

AD kadang menangis dan mengadu pada ortunya. Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, mulutnya tidak bisa disumpal nasehat orang tua. Labelling “Bencong” melekat pada AD, mungkin walau perih AD akhirnya abai terhadap sebutan itu. Ia tidak lagi reaktif menangis keras, kala anak-anak lelaki bermain sepeda ramai-ramai sambil teriak, “Bencong wooy Bencong” saat AD bermain Barbie dengan anak-anak perempuan.

Bertahun-tahun kemudian, saat itu tahun pertama pernikahan saya, saat kendaraan kami melintas di jalan komplek perumahan yang kami tempati, suami saya mengomentari sosok perempuan cantik, full make up, berpenampilan sexy, “Wuih…di sini ternyata ada cewek 200%.”
(Tahun pertama itu, kami masih tinggal di Kompleks Mertua Indah, di rumah ortuku😅).

Ternyata cewek 200% itu AD! Konon dia juara 1 kontes waria tingkat provinsi. Pantesan …cuantik bgt🤭🤭. Nah kan? Ledekan anak-anak itu seperti ramalan yang akan menjadi kenyataan suatu hari nanti….

Tepat di 10 tahun pernikahan kami, saat suamiku opname di sebuah RSUD, tak sengaja aku bertemu dengan JY, adiknya AD. “Eh, JY naha maheh di dieu ….Saha nu geuring?” AD jawabnya. Tapi di ruang isolasi, kemungkinan AIDS.

Tak berapa lama, suamiku sehat kembali sedangkan AD meninggal dunia.
….

Saya kemudian teringat masa SMP. Saya bersekolah di SMP favorit di kotaku. Saat kelas 2, Ada guru matematika ganteng, wangi, agak melambai. Busananya khas, bersafari, celana pantalon ketat. Guru math itu berinisial SDSB wkkkk seperti singkatan judi yang hits kala itu. Dia minta dipanggil Pard*d*.

Pard*d* guru yang baik tapi galak jika menghadapi kami, siswinya. Lembut menghadapi siswa. Pernah aku salah menjawab soal di papan tulis, dan dia menarik rambut lembut yang ada dekat pelipis. Dia tarik kencang. Perih, sakit tau, dasar homo!

Nah, Aku baru tahu istilah homo dari teman2ku. Di depan guru math, kami memanggil dia Pak Pard*d*, dibelakang kami sebut dia si PJ homo. Soalnya ngeselin banget tau! Itu sama si BY, dia kasih les tambahan gratis. Tiap malam Minggu datang ke rumah BY ngasih les math. Belum lagi sama YD …kata temen sekelas YD, si PJ homo ngasih satu set jangka. Pokoknya si homo jadi perbincangan hot kala itu.

Lama waktu berselang, saat itu aku sudah kuliah di universitas negeri ternama, aku sedang jalan kaki menuju rumahku. Deg! Kulihat pemandangan mengharukan. Seorang bapak menggendong bocah memakai kain aisan sambil memegang payung. Di samping bapak itu, seorang perempuan ayu berjilbab menjinjing belanjaan di tangan kanannya. Tangan kirinya menggenggam anak kecil kisaran 5 tahun.

Kami berpapasan, dan tak akan kulupa pemandangan mengharukan tersebut. Si PJ homo ternyata telah menikah dan punya 2 anak. Duh! Ternyata dia tidak homo? Batinku. Kali ini mulut kasar jaman remaja muda ternyata salah? Syukurlah dia tidak homo. Dia tampil jadi bapak penyayang, walau aneh. Iya aneh, karena dia menggendong anaknya memakai samping (kain batik tradisional) sambil membawa payung. Fatherhood? He’s just fathering. ..what a day!

Bertahun2 kemudian, saat itu aku sedang mengambil S2 di univ ternama juga di Jkt, aku sedang santai baca Kompas. Kubaca berita tentang seorang kepsek SMP initial SDSB di kota asalku yang dilaporkan OB atas tindak pencabulan. OB tersebut disodomi secara paksa. Dia tidak terima sehingga membuat laporan pada kepolisian setempat.

OMG! Si PJ homo ternyata memang homo!!

Labeling, sekali lagi labeling. Penyebutan negatif secara berulang-ulang menorehkan luka mendalam. Entah karena labeling di masa kecil, lantas AD kelak menjelma jadi waria.

Labeling, kutemukan pada kisah kakak2 di sini. Betapa seorang SSA menjadi tertekan karena sedari kecil dicap BANCI oleh teman2 masa kecil sehingga di usia dewasa menjadi pribadi intovert yang takut bersosialisasi, takut di panggil misalnya dengan sebutan “Si PJ homo” panggilan “kesayangan” kami anak2 smp pada guru math kami.

Maka ada baiknya kita mengajarkan pada anak2 kita untuk tidak mengolok2 dengan panggilan yang menyakitkan hati. Mungkin takdir bisa sangat berbeda bila AD, tetaplah kita panggil AD. Atau PJ Homo kita panggil Pard*d* saja …sebab nama adalah doa!

Sekian

Sudah agak ngeh kan sekarang saat kita mau ngata – ngatain orang, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada setiap orang nantinya. Namun setelah membaca kisah ini setidaknya berfikirlah kembali saat ingin ngata – ngatain atau mengolok – olok orang dan fikirkan lagi dampak apa yang akan terjadi.

ta mau ngata – ngatain orang, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada setiap orang nantinya. Namun setelah membaca kisah ini setidaknya berfikirlah kembali saat ingin ngata – ngatain atau mengolok – olok orang dan fikirkan lagi dampak apa yang akan terjadi.

Seperti cerita diatas jika mungkin Si AD tetap dipanggil sesuai dengan namanya yaitu AD dan kita nasehati ,kita tetap mau bergaul dengan AD, dan memberikan motivasi – motivasi agar AD bisa menjadi laki – laki sesuai dengan fitrahnya. Bisa saja kejadian dia Si AD yang akhirnya jadi seorang waria dan berakhir denga AIDS bisa terhindarkan.

Semoga ALLAH ampuni dosa kita dan selalu dituntun dijalan kebaikan dan tetap sabar dan ikhlas dalam menerima setiap ujiannya.

Dan semoga dengan kisah diatas kita bisa jadi lebih peduli terhadap sodara sodara kita yang mungkin sedang menerima ujian yang sama seperti Si AD. Agar tetap mau bergaul, menasehati dan memberikan motivasi motivasi agar menjadi manusia sesuai dengan fitrahnya.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/