Daily Archives: February 18, 2020

Waspada Dunia Pelangi di Dalam Anime

sumber gambar : https://statik.tempo.co/data/2016/04/01/id_494460/494460_620.jpg

Anda suka anime ?

Pasti jawabannya “Ya saya suka anime” termasuk saya juga ! penggemar anime sejak kecil terutama anime yang bergenre action dan olahraga.

Siapa sih yang gak suka anime, hampir seluruh anak kecil hingga orang dewasa pasti tahu dan suka dengan anime.

Ada berbagai genre anime yang sekarang bermunculan, dari yang biasa sampai anime ektrim pun ada.

Kalo saya dari kecil sukanya cuma anime itu – itu saja seperti naruto, captain tsubasa, dragon ball, dan upin – ipin walaupun serialnya diulang – ulang ditonton berulang – ulang tetap tidak bosan,hahahaha

Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi dan makin mudahnya akses internet untuk berbagai kalangan masyarakat, Semua dari anak kecil, orang dewasa, orang tua, semua pegang yang namanya smartphone dan tidak mungkin kalo tidak bisa membukka akses internet.

Karena kebebasan dan kemudahan akses internet itulah maka juga semakin lebarnya kesempatan hal – hal negatif untuk diakses, walaupun di mesin pencarian google di negara kita sudah tidak akan keluar jika mengetikkan kata kunci berbau mesum namun ketahuilah bukan hal sulit untuk menemukan hal negatif dan mesum di internet dengan kecanggihan teknologi saat ini, terutama dalam tulisan ini saya mengkhususkannya ke anime.

Tulisan ini saya salinkan dari anggota group facebook menanti mentari, yang sharing tentang fenomena dunia pelangi di dalam anime dan efeknya.

Simak penjelasannya

Jadi gini. Beberapa hari lalu, ada postingan grup Polygot di beranda saya yang membahas guyonan LGBT, saya baca sekilas komentar-komentar netizen. Lalu perhatian saya teralihkan pada beberapa akun yang menggunakan pp anime.

Saya stalk. Dan nyesek saya bacanya saat kepoin juga akun lain yang mirip-mirip. Pemilik akun-akun tersebut kebanyakan adalah para remaja, dan mereka mengaku sebagai wibu. Wibu adalah sebutan untuk orang yang amat menggemari segala hal tentang Jepang, entah anime, manga, serial drama, kebudayaan, bahasa dan lain sebagainya tentang Jepang. Biasanya kebanyakan wibu adalah otaku. Otaku adalah sebutan untuk orang yang benar-benar fanatik serial anime, manga, tokusatsu.

Gak ada yang aneh dari para wibu atau otaku. Sah-sah aja toh dulu jaman saya SMP ~ SMA saya sempat menjadi wibu/otaku (sekarang enggak, udah emak-emak). Yang bikin saya terkejut dan nyesek adalah wibu dan otaku jaman sekarang ternyata lebih SINTING daripada generasi jaman dulu (90’an akhir ~ 2000’an awal). Serius SINTING.

Mungkin karena jaman millenial ini segala informasi mudah diakses bahkan sulit untuk disaring. Sehingga muatan-muatan negatif yang dimiliki oleh kebudayaan negara lain akhirnya tertelan mentah-mentah.

Jepang misalnya, bangsa Jepang terkenal bersih, disiplin dan hardworking. Tetapi mereka juga punya sisi negatif lain, salah satunya budaya LGBT yang dibiarkan tumbuh subur di sana bahkan mungkin sudah menjadi budaya pop. LGBT begitu transparan, gak lagi tabu bahkan diterima meski pun belum ada undang-undang yang meresmikan pernikahan sesama jenis. Begitu yang pernah saya baca. Di sana itu, sebuah perusahaan gak bisa main pecat karyawan yang ketahuan LGBT. Malah mereka diberi hak yang sama seperti karyawan lainnya, misal karyawan yang memilik pasangan sejenis dan anak adopsi diberi fasilitas tunjangan kesehatan dan asuransi jiwa dari perusahaan, mereka diberi hak yang sama dengan pasangan hetero yang lain. Gak boleh ada yang menjudge malah. Demikian lah Jepang, negara yang belum meresmikan pernikahan sesama jenis, tetapi LGBT begitu diterima. CMIIW.

Dulu jaman saya sekolah tahun 90’an sampai 2000’an. Satu-satunya media yang memberikan informasi soal anime dan manga hanya televisi dan penerbit elex, juga majalah-majalah anime. Memang saat itu ada warnet namun gak banyak. Di jaman itu kita disuguhkan beberapa anime yang genre nya masih aman, seperti Detektif Conan, Captain Tsubasa, Rurouni Kenshin, Inu Yasha, beberapa serial tokusatsu (Power Ranger, Ultraman, Kamen Rider), serial J-Drama dan anime lain sebagainya. Saat itu sependek yang saya tahu, semua masih aman, para wibu/otaku remaja masih lebih suka serial kisah cinta male x female. Normal.

Namun sekarang? Kebanyakan selera para otaku/wibu jaman now melenceng dari jalur. Selera percintaan mereka mulai bergeser ke arah LGBT. Bahkan mereka berpendapat, jaman now gak musim lagi kisah cinta lawan jenis. Jaman sekarang lebih asik serial Yaoi dan Yuri.

FYI, Yaoi adalah anime/manga kisah Boy’s love (kisah cinta antara sesama laki-laki/Gay) dan Yuri adalah anime/manga kisah Girl’s love (kisah cinta antara sesama perempuan/Lesbian).

Jaman now para otaku dan wibu sudah banyak juga yang melenceng seleranya. Siapakah mereka? Mereka adalah Fujoshi dan Fudanshi.

Fujoshi adalah sebutan untuk kaum cewek yang sangat menggemari serial anime/manga Yaoi Yuri.

Fudanshi adalah sebutan untuk kaum cowok yang sangat menggemari serial anime/manga Yaoi Yuri.

Betapa jumlah mereka mulai semakin banyak dan sangat banyak. Anak remaja yang tadinya straight bisa banget berpotensi SSA. Kok bisa? Bisa lah. Kan cerita yang disuguhkan dikemas sangat manis dan indah. Tahu sendiri lah manga-manga Jepang yang pernah kita baca, ceritanya selalu menarik dan bervariasi. Termasuk manga/anime LGBT. Menurut mereka cinta itu universal, tidak peduli apa pun jenis kelaminnya, cinta adalah cinta. Nah, rasanya saya juga dulu pernah berpikiran sama.

Jaman saya sekolah dulu saya langganan majalah Animonster. Majalah anime/manga terkeren pada jamannya. Di majalah itu banyak sekali bahas anime manga terbaru, bahkan membahas tentang musik, drama, hingga kebudayaan dan bahasa Jepang. Dan saya tahu soal LGBT dari majalah tersebut. Ada beberapa volume yang mengupas tuntas perkara anime/manga LGBT. Dari majalah itu saya tahu anime/manga mana saja yang genrenya LGBT dan mana yang enggak. Dan manga LGBT pertama yang saya baca judulnya adalah GRAVITATION (Yaoi).

Saat itu saya antusias, pikir saya keren nih kisah cinta cowok x cowok, maka saya baca lah manga itu. Manga Gravitation berkisah soal seorang rocker muda yang terkenal yang jatuh cinta kepada seorang penulis tekenal. Keduanya adalah publik figure. Karena mereka figure terkenal, mereka menyembunyikan hubungan terlarang mereka dari publik, lalu suatu hari hubungan mereka akhirnya ketahuan, kemudian ramailah berita percintaan homo mereka sampai geger se-Jepang. Lalu ada scene di mana si novelis ini mengadakan konferensi pers lalu menyatakan kepada publik bahwa tidak ada yang salah dari hubungan mereka, kurang lebih begini isi dialog balonnya ;

“Apa yang salah dari cinta kami? Apa hanya karena dia seorang laki-laki lalu aku tak berhak mencintainya? Seandainya dia seorang gadis, aku pun pasti akan mencintainya. Hanya kebetulan ia adalah seorang laki-laki. Jadi tak ada yang salah dari cinta kami.”

Nah dulu saat saya masih remaja, saya sempat terbius juga tuh dengan quotes tersebut. Ya saya pikir gak ada yang salah kok, namanya juga cinta. Namun tetap sih di hati kecil, saya merasa jengah juga, untungnya saya gak jadi Fujoshi. Saya masih lebih suka serial manga/anime yang genrenya normal-normal aja. Alhamdulillah. Karena kalau enggak, kemungkinan saya bakal jadi fanatik fujoshi.

Banyak banget ternyata serial manga/anime yang memasukkan kaum pelangi sebagai tokoh utamanya. Bahkan serial Sailor Moon, Cardcaptor Sakura, Naruto, juga Saint Saiya sebenarnya juga ada unsur LGBT hanya saja tersajikan secara samar/halus. Nah yang halus/samar ini sebutannya serial shounen-ai dan shoujo-ai.

Shounen = Anak laki-laki
Shoujo = Anak perempuan
Ai =Cinta.

Saya pikir gak aneh sih kenapa negara Jepang sangat ramah terhadap kaum pelangi. Karena jaman dulu, di jaman edo, jaman kekaisaran Shogun Tokugawa masih bertakhta, sempat terbentuk suatu kelompok kepolisian samurai yang bertugas sebagai pelindung pemerintahan Shogun dari para pemberontak. Nama organisasi itu adalah Shinsengumi. Mereka ini pasukan khusus yang dibina sejak remaja sampai dewasa hingga terbentuk menjadi pasukan Shinsegumi siap pakai. Kayaknya semacam sekolah militer kali ya, cuma alatnya pedang katana, karena saat pelatihan mereka diharuskan tinggal di asrama. Nah karena dari usia remaja hingga dewasa ketemu nya sema kawan sejenis lagi, dan lagi maka gak sedikit dari mereka yang terlibat cinta lokasi sesama jenis. Banyak manga/anime yang mengangkat tema Shinsengumi, dan biasanya pasti ada saja tokohnya yang diceritakan gay. Karena memang begitulah adanya. Pemerintah kekaisaran dulu gak melarang praktik homosexual merebak di kalangan militer.

Itu di Jepang ya, di negara lain pun pasti ada. Termasuk negara kita, hanya saja negara kita masih waras (semoga seterusnya).

Di dalam serial Rurouni Kenshin juga diceritakan kelompok Shinsegumi ini. Kalau pernah nonton film Rurouken pasti tahu adegan saat di mana Himura Kenshin membantai para samurai muda yang tengah berjalan beriringan di gang sempit, seragam pakaian yukata yang mereka kenakan sangat khas, yaitu berwarna biru muda dengan aksen zigzag putih di tepian lengan. Ciri khas lain kepala plontos menyisakan cepol ditengah, sambil nyelipin pedang katana di sela ikat pinggang. Nah mereka itulah pasukan Shinsengumi. Tapi gak semua anggotanya homo, masih ada kok yang hetero.

Selain Shinsegumi ada juga budaya kuno Jepang yang berpotensi banget mempraktekkan LGBT, yaitu Kabuki. Kabuki adalah seni teater di mana tokohnya adalah seorang aktor yang diwajibkan berperan sebagai seorang wanita (bisa berperan jadi geisha atau wanita bangsawan) pokoknya harus pria yang memerankan peran wanita, gak boleh wanita asli. Semua pemeran harus laki-laki, wanita gak boleh ikut di teater Kabuki. Entah lah kenapa harus begitu, emak pun tak tahu. Belum cek Google.

Di Indonesia juga ada deh, seni ritual kuno yang melibatkan figure transgender sebagai pemimpin ritual adat di dalamnya. Ah saya lupa naman ritualnya dan daerah mana. CMIIW.

Yah, makanya serial manga/anime bahkan drama Jepang sana, udah gak aneh lagi, banyak banget serial yang bertemakan kaum LGBT, bahkan ada satu atau dua boyband yang semua membernya adalah gay. Sengaja katanya demi memuaskan para penggemar fujoshi dan fudanshi. Saya lupa nama boybandnya. Video klipnya sungguh menggelikan.

Makin ke sini ternyata semakin parah. Jaman millenial yang serba cepat mengakses informasi ini, menjadikan anak-anak remaja mudah terpapar LGBT dalam bentuk apa pun. Para wibu/otaku di jaman ini telah banyak menjelma menjadi para fujoshi dan fudanshi. Kata saya sih lebih Sinting.

LGBTQ emang pinter menularkan virusnya. Dikemas dalam bentuk apa pun dan mereka selalu menggaungkan bunyi yang sama, bunyi dialog tiap kali saya baca serial manga yaoi/yuri, pasti kurang lebih gini ;

“Tidak ada yang salah dari cinta kami. Meskipun dia laki-laki dan aku laki-laki, kami saling mencintai.”

atau

“Tidak peduli ia adalah seorang perempuan sepertiku, tidak ada yang salah, kami sama-sama saling mencintai.”

Nah secara gak sadar, pembaca akan tercuci otaknya. Sering baca/nonton serial begituan lambat laun akan menerima LGBT. LGBT akan menjadi gak aneh lagi, bahkan mungkin menantang. Malah kalau saya baca komentar remaja wibu yang fujoshi/fudanshi, mereka akan cenderung lebih menyukai kisah percintaan sesama jenis lalu bukan tidak mungkin mereka akan terpapar hasrat SSA di jiwa mereka atau malah mempraktikkannya. Maka gak jarang, kita temukan remaja jaman sekarang tiba-tiba jadi belok dan malah bangga akan kebelokannya.

Ya itu tadi kisah percintaan sesama jenis dibuat begitu indah dan sweet, lalu penokohan/pewatakan para tokoh imajiner bisa dikemas sangat keren. Dua cowok tampan yang saling jatuh cinta atau dua cewek cantik yang saling jatuh cinta. Ditambah dengan quotes andalan kaum pelangi bahwa Cinta itu Universal, apa pun jenis kelaminnya gak ada yang salah dari cinta kami.

Eww 😑

Sekian …..

Jadi harus lebih waspada sekarang , dan peran orang tua sangatlah penting dalam hal ini, orang tua harus jadi sahabat bagi anak, dengan begitu dalam hal ini orang tua bisa menggali tentang apa saja kesukaan atau apa saja yang suka anak akses di dunia maya.

Orang tua harus mulai mau belajar dengan yang namanya teknologi karena jika orang tua acuh dengan teknologi dan hanya memfasilitasi anaknya dengan kemajuan teknologi yang ada tanpa orang tua juga mau belajar maka antipasi dan pengawasan orang tua kepada anak dari hal negatif hanya sebatas yang ia lihat secara nyata tanpa tahu aktifitas anak di dunia maya.

Karena dunia maya menawarkan fasilitas yang lebih menarik di jaman sekarang, dan siapa saja bisa mendapatkannya.

Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari ALLAH Ta’ala dari hal – hal yang buruk dan selalu dibimbing dijalan yang lurus.

sumber : https://web.facebook.com/groups/menantimentari/permalink/3513177075424274/ Grup Menanti Mentari merupakan grup khusus dari Peduli Sahabat yang menampung suami atau istri (juga para simpatisan) yang pasangannya diketahui berorientasi non-heteroseskual.