Daily Archives: January 11, 2020

Seks Sesama Jenis (Boarding vs Full Day School)

sumber gambar : https://cdn2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/20160226-lgbt_20160226_102505.jpg

“Kak Sinyo, saya takut memasukkan putra saya ke boarding karena katanya di sana kadang muncul tindakan seks sesama jenis. Bagaimana pendapat kakak?”

Curhatan ini banyak dikemukakan peserta seminar saat saya mengisi acara keliling Indonesia. Ketakutan yang mungkin juga dirasakan oleh pembaca.

Berdasarkan klien yang datang ke Peduli Sahabat, tindakan seks sesama jenis bisa dilakukan siapa saja tanpa memandang orientasi seksnya (apakah heteroseksual, homoseksual, biseksual, dan lain sebagainya), jenis kelamin (tapi kebanyakan laki-laki), tingkat ekonomi, latar belakang pendidikan, suku, agama, ras, atau bahkan model sekolahnya.

Pelaku seks sesama jenis ada yang bersekolah di boarding atau full day. Jadi anak kita mau sekolah di mana saja tetap ada risiko melakukan tindakan seks sesama tadi.

Apa perbedaannya?

Berikut ini empat contoh kasus seks sesama jenis (laki-laki) yang Peduli Sahabat tangani, perhatikan pola per kasus untuk diambil hikmahnya.

1. Contoh pertama di boarding school

Seorang laki-laki setara SMA di Depok berorientasi heteroseksual sudah tidak tahan menahan kantung sp*rmanya yang sudah penuh. Dia tertarik melihat paha temannya sesama jenis yang mirip perempuan maka pada suatu kesempatan dia berusaha merangsang dirinya dengan menggerayangi seputaran paha temannya.

2. Contoh kedua di boarding school

Seorang laki-laki SMP di Kab. Bogor masuk ke boarding sebagai anak pindahan. Dia menawarkan diri untuk melakukan or*l seks ke 10 orang teman sesama jenis.

Kesepuluh anak tersebut mencoba-coba mau dior*l seks dan ketagihan. Saat si anak pindahan tadi absen karena sakit maka kesepuluh anak tersebut kemudian saling melakukan or*l seks.

Masih banyak kasus lain yang serupa, ringkasnya kalau kejadian seks sesama jenis di boarding school:

a. Cepat diketahui/terlacak b. Melibatkan banyak orang dalam satu kasus

3. Contoh pertama di full day school

Di Semarang ada laki-laki SMA berorientasi heteroseksual mengaku sudah biasa dior*l seks oleh beberapa teman sesama jenis sejak SMP. Posisinya dia sebagai laki-laki dan tidak mau diminta mengor*l seks balik.

4. Contoh kedua di full day school

Di salah satu provinsi Sumatra ada anak SMP laki-laki hidup sebagai ‘pasangan’ dengan gurunya (sudah punya istri dan anak) dengan dalih anak dan bapak angkat selama 13 tahunan.

Masih banyak kasus lain yang serupa, ringkasnya kalau kejadian seks sesama jenis di full day school:

a. Senyap, tertutup, tersamar, dan gelap bahkan kadang tidak diketahui siapa saja. b. Melibatkan sedikit orang dalam satu kasus

Kembali ke pertanyaan awal para peserta seminar tadi maka:

Kalau anak kita ingin dimasukkan ke borading school idealnya:

– Cari institusi boarding yang sudah memahami dunia seks sesama jenis dengan baik. – Calon murid dan wali murid harus diedukasi tentang hal tersebut sebelum masuk sekolah. – Peraturan dibuat seketat mungkin untuk menghindari tindakan seks sesama jenis atau meminimalisirnya.

Jika anak kita masuk full day school idealnya:

– Ortu dan anak memahami dengan baik dunia seks sesama jenis.

Entah anak bersekolah di boarding atau full day school yang terbaik adalah orang tua selalu menjadi sahabat bagi anak-anaknya sehingga apa yang menjadi buah pikiran atau keresahan hatinya, maka mereka akan selalu bercerita kepada salah satu atau kedua orang tua untuk dipecahkan bersama.

Semoga bermanfaat, Sinyo Peduli Sahabat

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014