Monthly Archives: January 2020

Penjelasan Mudah Kecanduan Pornografi

sumber gambar : https://cdn2.tstatic.net/jateng/foto/bank/images/ilustrasi-pornografi_20170612_220721.jpg

Salah satu PR yang Peduli Sahabat berikan kepada klien adalah menghindari dan menutup semua akses media berisi pornografi. Nah apa alasannya?

Baca sampai akhir gan, bikin merinding

Sering kita dengar kalau Bahaya Pornografi itu adalah merusak otak, mengacaukan pikiran, membuat malas. Just it ? Ahhhhhh, saya belum merasa belum puas dengan semua penjabaran itu. Saya butuh yang lebih ekstrim penjabarannya. Setelah mencari – cari beberapa referensi dan mendengarkan ceramah orang, yang tak kunjung menghilangkan dahaga penasaran itu. Dan akhirnya saya sekarang tahu Bahayanya Pornografi Bagi Siapapun pecandunya ! Dan sekarang saya ingin berbagi kepada anda.

Saya yakin penjabaran saya akan menjelaskan secara krusial, intinya bahaya pornografi itu apa !

Jadi saya mohon banget perhatian anda sebentar ! Jadi kalau lagi chatting sambil ngakak – ngakak, lagi facebook-an untuk ngomentarin status – status teman, lagi download lagu dan film, atau lagi ngeliat – ngeliat gambar. Please………. STOP dulu !!! Baca artikel ini sampai selesai. Baru anda boleh melanjutkan kegiatan anda tadi. Oke ?

Kita Mulai !!!

Pada hari Jumat 1 Oktober 2010 saya mengikuti seminar seharian diadakan oleh Yayasan Kita & Buah Hati yang ”dikomandani ” Ibu Elly Risman ,Psi .

Pembicaranya adalah : Ibu Elly Risman,Psi dan Dr. Randall F. Hyde,Ph.D, Dr. Randall F. Hyde,Ph.D adalah seorang psikolog senior di negara Amerika sana. Sedangkan Ibu Elly Risman,Psi adalah pakarnya parenting di Indonesai ini.

Pembukaan

Dia (Dr. Randall F. Hyde,Ph.D) berkata :”percayalah pornografi adalah suatu bencana yang kami sendiri ( maksudnya negara Amerika sendiri ) keteteran . Negara kami dapat mempersiapkan perang, dengan senjata dan tentara. Negara kami bisa menghadapi penyakit dengan temuan obat – obat dengan penelitian ilmuwan kami. Tapi untuk pornografi, percayalah, pada awalnya kami tidak siap dan tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk melawannya”.

Oia, merebaknya pornografi di Amerika pada saat sekarang, sudah jauh berkurang dibandingkan 20 tahun silam. Ya !!! Anak – anak di Amerika sana serta remaja -remaja disana dilanda pornografi 20 tahun lalu. Waktu lagi parah – parahnya banget. Sekarang bisa dikatakan sudah sembuh untuk ukuran penyakit satu negara.

Kalau negera kita Indonesia, sekarang inilah yang lagi merebak – rebaknya! “Maka dari itu saya (Dr. Randall F. Hyde,Ph.D) datang kesini, karena saya ingin ikut dalam upaya pembersihan pornografi di negara kita ini. Karena negara kamipun pernah dilanda bencana ini. Dan itu sangat mengganggu. Dan syukurnya kami sudah melewati itu sekarang”.

Dia juga berkata : “I love your country, I love your people” ( Saya sempat terharu mendengarnya ), dua detik kemudian saya tertawa, karena berikutnya dia mengatakan : “I love your cendol too” Gurakrak hahaha.

Di tubuh kita banyak hormon yang bekerja. (Tenang bagi yang agak alergi dengan istilah kimia, meskipun nanti ada istilah kimia, akan dijelaskan secara santai kok ^_^)

Ada 4 hormon yang yang dirusak cara kerjanya. Hormon ini jika bekerja secara normal, akan menguntungkan kita. Nah pornografi membuat ke – 4 hormon ini keluar secara berlebihan dan terus menerus.

Inilah “daging” dari artikel ini !

* DOPAMINE *

Kalau anda sedang kesusahan mengerjakan suatu soal matematika saat ujian, dateng telat, belom makan, eh pas datang ternyata soalnya susah banget, anda pasrah,,, lunglai,,, merasa bakal jeblok nilanya gara-gara tidak ada satupun soal yang bisa anda kerjakan.

Lagi frustasi frustasinya, tiba -tiba ketemu cara ngerjain soalnya,,, YES !!! I Got IT !!! Alhamdullillah !!! Bagaimana perasaanya ? Senang yang bukan main bukan ? Serasa puas campur bahagia. Seperti itulah efek hormon dopamine kalau lagi bekerja. Menimbulkan SENSASI puas, senang , bahagia di dalam dada.

Eits,,, tunggu dulu,,, efek dopamine ternyata menimbulkan peningkatan kebutuhan level.

Maksudnya gini, kalau kemaren anda puas dan loncat loncat kegirangan gara – gara mengerjakan soal anak TK, apakah saat besoknya anda mengerjakan soal yang sama anda merasa puas dan loncat loncat yang sama dengan yang anda lakukan kemaren ?

Tentu tidak ! Anda pasti butuh untuk bisa mengerjakan soal anak SD, baru loncat – loncat kegirangan lagi. Betul gak ? Seperti itulah efek dari bekerjanya si dopamine. NAHHHHH ! pornografi itu membuat si dopamine bekerja terus menerus, sayangnya penyebab dia bekerja adalah karena pornografi !

Ilustrasi :

  1. Pertama kali si Nyoman akan berteriak “oh my god gambar apa sih tuh ?” ( sambil tutup mata tapi agak direnggangin jarinya buat ngintip )
  2. Eh kemaren gambar apa sih ? mengunjungi lagi situs yang menampilkan gambar perempuan memakai bikini tersebut. Dilihat terus.
  3. Besok – besoknya si Nyoman harus melihat perempuan bertelanjang dada agar bisa merasakan sensasi yang “wuooowwww”
  4. Besoknya tentu harus melihat yang lebih parah dari melihat perempuan bertelanjang dada. Bisa yang cuma pakai kanc*t doank atau langsung bug*l.

Begitu seterusnya, dari melihat cewe bug*l, melakukan seks, lebih parah, terus dan terus, harus lebih parah atau minimalnya beda gambar, agar merasakan sensasi “wuooowwww”.

Bisa dibayangkan kan , setelah puas melihat gambar – gambar yang terparah sekalipun, apa yang harus dilakukan agar merasakan sensasi “wuooowwww” ? Nonton videonya beneran donk ! Lalu terus dan seterusnya ? Melakukan seks beneran donk ! Bener banget ! Waktu melakukan seks juga begitu, karena dari awalnya dilandaskan si dopamine tadi, maka akan beda dengan seks yang dilakukan orang normal yang biasa.

Dia selalu butuh teknik seks yang baru, baru dan baru, kalau perlu yang gak normal dan aneh. Makanya kalau para pelaku seks yang melakukan seks gara – gara pertamanya dia kepincut pornografi, akan butuh gaya yang baru dan menuju ke arah penyimpangan seksual. Sampai jadi nyoba incest ( berhubungan dengan saudara sendiri ), berhubungan seks dengan binatang, pemerkosaan, penyiksaan dalam seks. Hanya karena butuh utuk merasakan sensasi “wuooowwww” tersebut.

Mereka tahu itu salah, tapi tetap melakukannya.
Mereka tahu itu salah, tapi tidak bisa melawannya.

Itulah parahnya hormon dopamine yang dibikin bekerja secara terus menerus oleh pornografi !

* NEUROPINIPHRIN *

Kalau seorang pebisnis sejati, otaknya dipenuhi dengan yang namanya peluang dan keuntungan. Ngeliat usaha yang bisa dijadikan ladang uang, selalu dimanfaatkan dengan baik. Instingnya ke bisniiiiis mulu ! Nah inilah yang terjadi juga terhadap para pecandu pornografi.

Otaknya selalu berputar – putar dengan yang namanya pornografi. Ngeliat yang ngerangsang dikit, otak udah ngebayanginnya yang lain – lain. Kalau ada perempuan yang memakai baju seksi, mungkin orang normal hanya kan berkata “perempuan itu seksi”. Tetapi kalau orang yang sudah kecanduan pornografi, akan berfikir, gimana ya rasanya bersetubuh dengan dia,,, ( sambil ngiler diem diem bego gitu ). Lagi berdiri disamping perempuan, langsung otaknya ngeres dah ! padahal perempuannya biasa aja, gak ngedance, ngeliuk-liukin badan, apalagi striptise. Sama sekali enggak ! Tapi otaknya sudah yang gimana gitu.

Itulah yang dirasakan orang yang sudah berurusan dengan pornografi. Ngerusak otak ! Nah inilah yang sering digembor – gemborkan orang bahwa pornografi itu ngerusak otak, inilah yang diamaksudkan. Sering terbayang selalu, akibatnya tidak bisa berfikir jernih, males belajar, males mikir, males kretif. Karena otaknya sudah dipenuhi dengan daftar kosakata atau kejadian yang bisa otak dia sambung – sambungin dengan yang namanya seks.

Kerjaannya siapa ? kerjaannya hormon neorupiniphrin yang sudah disutradarai oleh pornografi.

* SEROTONIN *

Saat seorang perokok lagi stress, dia akan merokok. Kenapa begitu ? karena rokok adalah sesuatu yang bisa membuatnya senang, tentram, damai, piss, ( itulah betapa shittnya rokok ! )

Itulah efek kerja dari hormon serotonin, membuat seseorang merasa nyaman saat hormon itu keluar. Nah saat orang bersentuhan dengan yang namanya pornografi, hormon itupun keluar, fly,,, lihat porno, gue fly gue tenang, gw oke,,, piss man.

Efeknya ? Setiap orang itu kesel, orang itu frustasi, orang itu sedih, orang itu kesepian, orang itu mengalamai hal yang menyulitkan dirinya, dia akan lari ke pornografi ! Karena itu yang membuatnya tentram.

Sedih ya ? yaiyalah, kalau orang stres, pelariannya ke ibadah, mantep ! Kalo pelariannya ke bermeditasi, keren ! Kalau pelariannya ke hang out bersama teman- teman atau kalau yang perempuan shooping ? Masih okelah. Lah kalau sebuah pelarian haruslah ke pornografi misalkan langsung ke warnet dan langsung searching pretty ukr*ini*n girl ??? yalkkk! kan cuma buang – buang duit sama waktu.

* OKSITOSIN*

Anda tahu kenapa seorang ibu dengan anak – anaknya ada ikatan batin ? Karena hormon oksitosinlah jawabannya. Saat seorang ibu melahirkan, hormon oksitisoin terpancar banjir keluar dari tubuhnya. Nah efeknya adalah, dia mencintai sesuatu yang membuat orang tersebut mengeluarkan hormon oksitosin itu ! Karena si ibu itu jadi keluar hormon oksitosinnya, gara – gara anak yang dilahirkannya tersebut ! Maka dia akan jadi punya ikatan batin dengan anak tersebut ! Itulah sistem kerjanya si hormon okitosin.

Pornografi itu membuat hormon oksitosin bekerja secara terus menerus pada saat si orang tersebut mengakses pornografi. Sudah tahu kan akibatnya jadi seperti apa ? Dia menjadi terikat secara batin dengan pornografi tersebut. Makanya yang kecanduan pornografi itu, ada rasa kangen, jika tidak melihat pornografi selama beberapa hari.

Jyaaaalllk ! terikat batin dengan pornografi !

Apa yang bisa dibanggakan dengan terikatnya seseorang dengan pornografi ???

Itulah penjabaran saya tentang bahaya pornografi yang saya dapat dari Dr. Randall F. Hyde.

Semoga jelas, semoga nancep. Semoga makin sadar kalau pornografi itu menyebabkan kerusakan otak secara permanen tapi perlahan, yaiyalah ! yang diserang otak !

Bagi yang baca ini setelah ingin memulai terjun di bidang pornografi, yah sebaiknya berhenti ya. Bagi yang sudah kecanduan dan merasa artikel ini “kok kayaknya gw banget”, silahkan sadar dengan sesadar – sadarnya bahwa pornografi itu gak bagus friend! Kecanduan pornografi sebenarnya sama dengan kecanduan narkoba.

Kalau kencanduan narkoba jelas keliatan parahnya. Kalau kecanduan pornografi tidak kelihatan secara fisik. Tahu – tahu sudah bego aja tuh otak. Dan serasa tidak berguna yang namanya hidup.

sumber artikel : http:// https://abangdani.wordpress.com/2013/09/12/dampak-mengerikan-dibalik-pornografi/ atau https://www.kaskus.co.id/thread/51b7ddf61cd7190f22000002/ngeri-dampak-pornografi-yang-harus-anda-tahu/

WHO AM I

WHO AM I?

Sebenarnya tidak terlalu penting siapa saya. Yang penting adalah apa yang saya tulis (dan dengan demikian Anda baca). Tapi in case data berikut bisa membantu Anda, inilah saya:

Nama saya Alif Hamzah, usia di atas 30, dan sejak remaja saya menyadari kondisi bahwa saya mempunyai “keistimewaan”. Keistimewaan tersebut adalah bahwa saya (dalam penafsiran saya yang kadang tidak lazim) dikaruniai kekuatan untuk menanggung cobaan yang sangat berat. Karena Allah sudah memberi kekuatan tersebut, Dia menguji saya dengan memberi saya ketertarikan kepada sesama pria.

Ketertarikan ini harus saya tanggung sepanjang hidup dan hanya orang yang tidak berperasaanlah yang mengatakan bahwa memikul ujian seperti ini bukan hal yang berat. Bagi sebagian kecil orang barangkali memiliki ketertarikan pada sesama bukanlah suatu masalah (bagi sebagian lain merupakan end-of -the-world), tapi jika Anda faham bagaimana menggelegaknya dorongan hasrat yang tidak bisa tersalurkan, sementara di sisi lain Anda meyakini bahwa keyakinan Anda melarangnya, maka kata “cobaan berat” saja kadang tidak bisa mewakili apa yang saya tanggung.

Namun demikian, karena keyakinan pula saya mampu bertahan. Jika sampai akhir hayat saya sanggup untuk tidak mengumbar hawa nafsu di arena yang tidak dibenarkan, itu karena masih ada setitik iman dalam hati.

Jika Anda dengan tulus berdoa untuk saya (dan orang-orang yang berjuang seperti saya, for that matter), barangkali Tuhan akan menjadikan titik iman itu lebih besar dari waktu ke waktu. Dan barangkali suatu saat saya bisa mencapai apa yang saya cita-citakan : ikhlas sepenuhnya dengan apa pun yang Allah berikan untuk saya. Amiin

Ini adalah blog pertama saya dan ini adalah tulisan pertama di sini. Saya akan menulis topik sebagaimana niatan blog ini dibuat : perihal homoseksualitas dan keyakinan agama.

Tulisan di bawah ini semula adalah tanggapan yang saya kirim ke sebuah bloglain untuk mengomentari topik homoseksualitas yang dia angkat. Saya meng-copy-nya kembali untuk dijadikan tulisan pertama saya.

The – path 1

Bagi sebagian orang, barangkali tema homoseksualitas adalah tema yang bikin jengah, bikin risih, dan karenanya dihindari, bagi sebagian yang lain, mungkin tema yang membuat penasaran dan karenanya dicari (dengan alasan yang sama, mungkin ada yang berpendapat mengangkat tema ini hanya upaya mencari perhatian).

Bagi saya, mengangkat tema homoseksualitas adalah berbicara tentang apa yang saya hadapi dalam hidup ini. Sangat sulit untuk menulis sesuatu secara netral, benar-benar obyektif, apalagi jika kita merupakan “obyek” yang menjadi topik pembicaraan. Tapi dengan segala keterbatasan tersebut, saya mencoba menyampaikan apa yang keluar dari hati saya tentang topik ini.

Tulisan ini insya Allah ditulis dengan semangat memberi kejelasan dan amar maruf nahi munkar, dan mudah-mudahan dibaca dengan semangat yang sama. Tidak ada judgement di sini, saya hanya menulis apa yang saya alami dan dalami. So, be prepared!

HOMOSEKSUALITAS

Saya perlu menekankan perbedaan antara kecenderungan atau dorongan terhadap homoseksual dengan aktivitas homoseksual itu sendiri. Yang pertama dikenal secara umum sebagai Same-Sex Attractions (SSA) dan yang kedua adalah perilaku atau aktivitas yang memenuhi dorongan atau kecenderungan SSA tersebut. Pelaku inilah yang dapat dikategorikan sebagai homoseksual/gay.

Yang perlu difahami, karena seseorang memiliki SSA (ketertarikan kepada sesama jenis) tidak dengan sendirinya dia menjadi homoseks atau gay (kedua istilah ini belakangan dipakai baik untuk laki-laki maupun wanita, meskipun untuk wanita lebih sering dipakai istilah lesbian). Sangat banyak orang yang memiliki SSA tapi tidak mewujudkannya dalam tindakan karena berbagai alasan. Moral, sosial, religi, medis, bisa menjadi alasan yang membuat orang tidak menindaklanjuti dorongan seksualnya.

DARI MANA DATANGNYA KETERTARIKAN ITU?

Ada dua kubu pendapat tentang asal-usul kecenderungan homoseksual. Meyakini mana dari kedua mazhab tersebut yang benar akan menentukan bagaimana sikap dan pandangan kita terhadapnya (baik Anda sebagai orang yang memiliki SSA ataupun tidak).

Teori Pertama bahwa sifat itu bawaan lahir, genetik, innate, terberi, sudah ditakdirkan.

Teori Kedua bahwa kecenderungan ini bukan bawaan lahir, dia tumbuh dan berkembang karena banyak faktor dalam masa perkembangan seseorang.

Tentu tidak banyak yang bisa dibicarakan dengan teori pertama. Kalau sesuatu dikatakan sudah takdir, sudah ada sejak lahir, apa lagi yang bisa diperbuat? Kalau Anda dilahirkan dengan rambut kriting, meskipun Anda melakukan rebounding berkali-kali, tetap saja rambut Anda akan kembali kriwil-kriwil.

Michael Jackson tidak menjadi seorang white meskipun melakukan terapi bleachingkulit berulang kali. Karena dia ditakdirkan untuk lahir dari orang tua black. Dengan pola yang sama, kecenderungan homoseksual jika sudah ada sejak lahir berarti sesuatu yang normal, merupakan ketetapan Tuhan, dan tidak bisa dirubah.

Tapi apakah demikian?

Mazhab kedua tidak meyakini hal ini. Menurut mazhab ini, setiap manusia lahir dengan fitrah. Dan fitrah awal manusia adalah mencintai atau menyukai lawan jenisnya. Pengaruh (dari berbagai arah) selama masa bayi, anak-anak, dan remaja-lah yang kemudian memberi peluang tertanamnya bibit – bibit SSA dan membiarkan SSA itu tumbuh dan berkembang subur dalam diri seseorang. Karena tidak mungkin untuk memberikan uraian lebih detail di sini, tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, ada paling tidak tiga penyebab timbulnya homoseksualitas:

1. Karena pernah mengalami pelecehan (abuse) waktu kecil, kanak-kanak atau bahkan setelah masa remaja.

2. Karena pola asuh oleh orang tua yang tidak tepat.

3. Karena faktor lingkungan lainnya (media massa, pergaulan, perlakuan orang lain terhadapnya, pendidikan, faham-faham tertentu, dll).

(CATATAN: kapan-kapan akan kita bahas tentang ketiga faktor ini lebih dalam).

Yang paling menonjol dari faktor-faktor tersebut adalah tidak terpenuhinya kebutuhan yang sangat krusial dalam perkembangan psikologis seorang anak, yakni ikatan emosiaonal antara anak dengan orang tua sesama gender (anak laki-laki dengan ayah, anak perempuan dengan ibu). Adanya jarak atau terlepasnya ikatan emosional (emotional detachment) antara anak dan ayah (atau dengan ibu, kalau anaknya perempuan) merupakan sesuatu yang hilang dalam perkembangan seorang anak.

Karena kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi (unmet) semasa kecil, terdapat semacam kekosongan dalam dirinya dan di masa remaja atau dewasa atau bahkan sepanjang hayatnya si anak akan berusaha memenuhinya. Kebutuhan akan hubungan emosional sesama lelaki (male bonding) tersebut semula tidak terkait dengan fisik atau seksual, tapi seiring berkembangnya hormon seseorang, maka ketika masuk masa pubertas, kehausan tersebut bergeser menjadi hal-hal seksual.

Keinginan dekat dengan sesama lelaki bukan lagi hanya emosional, tapi telah dicampuri dengan seksual. Hampir semua hal yang berbau lelaki akan menjadi sesuatu yang dapat membangkitkan hasrat seksualnya. Bagi seorang yang memiliki SSA, melihat lelaki lain yang memenuhi citra idealnya, merupakan suatu sensasi. Membaca nama seseorang yang dikaguminya (jangan lagi melihat wajahnya, apalagi lebih jauh dari itu), akan memberikan getaran yang sulit dimengerti orang-orang yang tidak mengalaminya. Membaca nama orang yang dikaguminya dalam deretan inbox email atau sms saja akan memberikan getaran yang (mungkin) melebihhi yang dialami seorang straight yang menerima kecupan dari kekasihnya.

Bagi mereka penganut teori bahwa homoseksualitas bukan sesuatu yang ditakdirkan, melainkan pengaruh dalam masa perkembangan, maka kecenderungan tersebut dianggap sebagai deviasi (penyimpangan) dan karenanya bisa diluruskan.

PANDANGAN AGAMA TERHADAP HOMOSEKSUALITAS

Karena saya seorang Muslim, tanpa mengurangi rasa hormat kepada non-Muslim, saya hanya akan mengutarakan apa yang saya pelajari dari agama Islam.

Di beberapa negara seperti AS dan UK, banyak organisasi yang mewadahi kaum G*BTQ Muslim (at least thats what they call themselves). Mereka biasa berpartisipasi dalam gay pride parade dengan membawa plakat sebangsa, We are gay and Muslim and proud. Dalam berargumen, mereka menekankan bahwa mereka ditakdirkan sebagai gay dan melawan kecenderungan tersebut merupakan perlawanan terhadap takdir. Mereka berdalih bahwa tidak ada ayat yang secara eksplisit melarang praktik homoseksual. Pendapat bahwa homoseksual adalah haraam karena penafsiran yang ada saat ini didominasi oleh rezim hetero.

Adapun tentang kisah Nabi Luth mereka mengatakan bahwa yang diharamkan bukanlah perilaku homoseksual yang consent (suka sama suka), diazabnya kaum Nabi Luth karena kejahatan-kejahatan lain yang dilakukan yaitu (terutama) perkosaan. Jadi selama perilaku homoseksual itu dilakukan atas dasar kasih sayang (tanpa paksaan) dan suka sama suka, bagi mereka, tidak diharamkan.

Nah, saat ini rupanya gejala tersebut bukan hanya muncul di AS atau UK (atau Eropa) saja, tapi sudah merambah ke mana-mana, termasuk ke Timur Tengah (terutama Lebanon) bahkan sampai ke Indonesia. Beberapa organisasi yang selama ini tidak diembeli label keagamaan, kini ada yang mencari pembenaran dari sisi agama.

Bagi kalangan mainstream Muslim, tentu apa yang mereka sampaikan hanyalah upaya justifikasi dari perilaku mereka. Kaum G*BTQ Muslim tersebut menilai mereka progresif dalam menafsirkan Al Quran, sementara sebagian besar yang lain menilainya sebagai upaya memelintir ayat untuk membenarkan perilaku mereka.

Dalam Al Quran sendiri ada belasan ayat yang mengecam perilaku homoseksual. Di antaranya:
An-Nisa 4:16 Al-Araf 7:80 Al-Shuara 26: 166-170 Al-Naml 27:55-57.

Perlu ditekankan bahwa yang dikecam (dan dihukum) dalam Al-Quran adalah TINDAKAN atau AKSInya, bukan KECENDERUNGAN. Artinya memiliki kecenderungan terhadap sesama jenis (SSA) bukanlah suatu dosa. Mewujudkan kecenderungan atau dorongan tersebut dalam tindakan, itulah yang dinilai sebagai dosa besar.

Jadi sebagai apakah SSA tersebut?

Sebagaimana yang sudah disebut beberapa orang, tak lain adalah sebuah ujian. Di sinilah pentingnya penggunaan istilah. Seseorang yang diuji dengan SSA, tetapi karena berpedoman kepada Al Quran dan meyakini bahwa ajaran agama melarang perbuatan homoseksual, dia tidak serta merta menjadi gay.

Bagi yang sadar bahwa SSA adalah sebuah ujian, ada perbedaan besar antara dua kalimat berikut:

a. Saya seorang gay.

b. Saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki.

Pada saat seseorang mengatakan Saya gay, maka dia memasukkan suatu konsep dalam dirinya. Konsep tentang gay ini juga tidak terlepas dari stereotype tentang gay. Dan seseorang cenderung untuk memenuhi predikat yang disematkan padanya (self-fulfilling prophecy). Dengan mengatakan diri sendiri gay, seseorang menafikan unsur-unsur lain dalam dirinya yang sebenarnya berkarakter straight. Jika kita yakin dengan kondisi fitrah kita saat lahir, seharusnya kualitas yang diperlukan bagi setiap lelaki telah ada dalam diri kita. Potensi itulah yang harus digali untuk menumbuhkan karakter laki-laki dari setiap orang yang memiliki SSA.

Dengan menyadari saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki tetapi saya bukan gay, seseorang sebenarnya telah secara sadar menepis image atau stereotype gay bagi dirinya.

Dalam Islam, semata kecenderungan atau dorongan bukanlah dosa. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari/Muslim tentang seseorang yang berniat jelek tapi tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Lihatlah janji Allah dalam surat Al-Bayyinah (98:8) bagi mereka yang sanggup menahan hawa nafsu dan berusaha menjaga keimanan.

Supaya tidak terlalu berkepanjangan (inipun udah panjaaang, pasti udah banyak yang bete bacanya), saya ingin berpesan kepada beberapa pihak:

1. Kepada Mereka Yang Stright

Saya tidak ingin menyebut yang straight sebagai normal, karena itu akan menjadi unfair karena konsekuensinya yang memiliki kecenderungan gay berarti abnormal.Saya sangat menghargai mereka yang memandang kaum gay dengan netral tanpa menjadi judgemental. Saya himbau kepada mereka yang mencela apalagi sampai menghujat kaum gay untuk berfikir ulang.

Tahukah Anda jumlah orang yang memiliki kecenderungan ini?

Sebuah riset menyebut jumlahnya antara 5-10% dari seluruh populasi (ok, Ok, riset lain ada yang menyebut di bawah 5%). Mengagetkan? Tentu, karena sebagian besar dari yang 5-10% tersebut tidak menunjukkan ke-gay-annya (dengan berbagai alasan) sehingga tidak diketahui orang-orang sekitar, bahkan orang terdekat sekalipun.

Pernahkah Anda berfikir bahwa orang terdekat Anda sebenarnya punya kecenderungan gay? Pernahkan terfikir bahwa tetangga Anda yang penolong itu, paman Anda tempat Anda curhat, adik yang Anda sayangi, kakak atau sepupu yang Anda hormati, sebenarnya gay? Pasti Anda akan menyebut bahwa saya mengada-ada kalau saya katakan bahwa bisa jadi ayah yang sangat Anda banggakan, atau suami (jika Anda wanita) yang begitu memanjakan Anda, sebenarnya punya kecenderungan gay?

Percayalah, itu mungkin. Dan percayalah, orang-orang dengan kecenderungan gay ini (di Indonesia) lebih banyak yang menikah dan memiliki anak daripada yang melajang. (Karena tidak mungkin saya membuktikannya di sini, Anda sebaiknya percaya saja. Just believe me, I know what Im talking about.)

Dan tahukah Anda apa yang menyuburkan ke-gay-an seseorang?

Salah satunya, adalah sikap homophobia dari mereka yang menyebut dirinya straight. Sindiran, celaan, hujatan, makian, penolakan, pengucilan, hanya akan membuat mereka semakin terikat dengan dunia mereka dan terpisah dari dunia straight pada umumnya. Dan karena adanya rasa terasing itu, mereka semakin merasa kesepian. Di sinilah kondisi menjadi semakin memburuk, karena rasa kesepian semakin memperkuat ketertarikan dan keterikatan mereka kepada kaum senasib.

Padahal yang diperlukan oleh mereka yang berusaha untuk menekan kecenderungan ini (if you know what I mean, ketertarikan itu tidak bisa dihilangkan, hanya dikendalikan) adalah bergaul secara sehat dengan sesama lelaki, terutama yang straight. Begitu mereka merasa menjadi bagian dari lelaki biasa mereka lebih bisa mengendalikan dirinya, menerima dirinya, dan menumbuhkan kualitas kelelakian dalam dirinya.

Kalau mereka semakin tenggelam dalam dunia (yang Anda nilai) sesat karena sikap Anda kepada mereka, bukankah Anda pun punya andil dalam keterpurukan mereka? (Dengan segala hormat kepada mereka yang memiliki kecenderungan gay dan menganggap kecenderungan tersebut tidak perlu dilawan : saya menghargai sikap Anda, meski saya tidak menyetujuinya). So, please, fikir ulanglah next time Anda mengeluarkan hujatan.

2. Kepada Para Orang Tua

Jika di sini ada yang sudah memiliki anak (lelaki ataupun perempuan) saya ingin berpesan : syukurilah dan jagalah karunia Allah tersebut. Berhati – hatilah dengan cara Anda memperlakukan anak Anda.

Sebagian besar orang yang ber-SSA disebabkan karena pola asuh dan pola didik yang salah oleh orang tua. Saya sempat berfikir bahwa para orang tua sekarang sudah lebih well-informed tentang bagaimana perkembangan psikologis seorang anak, sehingga seharusnya mereka lebih tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tapi melihat jumlah penyandang SSA dari kalangan usia muda semakin banyak belakangan ini, anggapan saya bahwa para orang tua sudah lebih tahu bagaimana mendidik anak, harus saya telan kembali.

Para ayah (juga berlaku bagi ibu, untuk anak perempuan), kapan Anda terakhir kali memeluk anak lelaki Anda? Atau tidak pernah? Berapa kalikah Anda menyuruh anak diam karena Anda kelelahan sehabis kerja? Apakah secara tidak sengaja Anda pernah menyakitinya? Pernahkan Anda melihat anak Anda merasa ragu atau takut untuk mendekati Anda? Pernahkah Anda merasakan ketidaknyamanan pada anak justru pada saat Anda ada di dekatnya? Pernahkan Anda tanpa sadar melakukan tindakan berbau pelecehan karena Anda menganggapnya sebagai suatu joke atau sekadar fun atau iseng?

Ayah, berhati-hatilah saat anak berusia 3-7 tahun. Jika pada masa itu Anda gagal membangun ikatan emosional dengan anak, Anda masih ada kesempatan untuk memperbaikinya di usia 8 hingga pertengahan belasan. Tapi jika kesempatan kedua itu Anda sia-siakan maka tanpa Anda sadari Anda telah menanamkan benih-benih homoseksual di diri anak Anda. Anda telah menorehkan luka yang dalam dalam diri anak Anda, sebuah luka yang akan dibawa dengan pedih oleh anak sepanjang hayat.

Luka itu menyedot energi dan emosi anak, menempatkannya pada posisi tersudut, membuatnya selalu dahaga akan ikatan emosional dan kepercayaan diri dan untuk memenuhinya ia akan terus mencari sepanjang hidupnya. Pencarian itu bisa membawanya kepada kebaikan, tapi tak jarang justru menjerumuskannya di lembah nista.

Tidak penting apakah si anak menyadari kesalahan ayahnya itu, atau bahwa ia menyadari bahwa dirinya memiliki luka. Yang jelas karena kelalaian sang ayah, luka itu tertoreh dan itu adalah luka yang lebar dan dalam. Tidak terlalu bermanfaat jika setelah dewasa sang anak mengkonfrontir ayahnya atas perlakuan terhadapnya semasa kecil atau remaja. Konfrontasi tidak akan menyembuhkan luka, apalagi biasanya sang ayah merasa tidak berbuat salah.

Oleh karena itu, para orang tua, cegahlah sebelum kesalahan itu Anda perbuat terhadap anak Anda. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana beratnya cobaan dan godaan yang dihadapi anak yang memiliki SSA. Orang bisa mengatakan bahwa tidak perlu pergi ke kutub untuk mengetahui gunung es. Tapi untuk SSA, itu tidak berlaku. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana berat dan pedih rasanya memikul cobaan ini sampai Anda mengalaminya sendiri.

3. Kepada Mereka Yang Punya Kecenderungan Gay

Terlepas dari bagaimana rasa ketertarikan ini muncul pada diri kita (kalau sampai di paragraf di atas belum jelas bagi Anda, yes, I also have SSA), yang lebih penting sesungguhnya bukan bagaimana kita memiliki SSA, tapi bagaimana SIKAP kita terhadap kecenderungan ini.

Kalau saya melakukan pendekatan agama dalam menulis ini, karena itulah yang bagi saya bisa memberikan solusi saat ini. Saya telah mencoba mengatasi permasalahan ini dengan mengkaji dari berbagai cara approach. Beberapa cara lain telah saya pelajari, tapi pada akhirnya agamalah yang bisa memberi jawaban.

Saya ingin menyampaikannya dalam beberapa poin:

Adalah HAK setiap orang untuk menentukan pilihan. Anda berhak untuk menentukan jalan hidup Anda. Menjadi gay atau tidak sepenuhnya pilihan Anda. Tapi setiap pilihan mengandung konsekuensi. Dan karena ketetapan tentang homoseksual telah ditetapkan dalam Alkitab, apapun asal-usul kecenderungan ini (karena pelecehan, karena salah asuh, karena salah gaul, atau bahkan jika Anda menganggap hal ini bawaan lahir) tanggung jawab dan konsekuensinya tetaplah sama. Saya ingin mengatakan, jika menentukan pilihan adalah HAK Anda, maka membuat pilihan yang BENAR adalah KEWAJIBAN (Making choices is a right, making the right choice is an obligation).

Masuk akal-kah jika Allah menciptakan kita sebagai gay, kemudian mengutuk kita for being gay? Kalau kita percaya dengan firman Allah, berarti kecenderungan ini bukanlah pemberiannya yang kemudian harus diikuti, ini adalah ujian. Dan sebagaimana kita telah diajarkan, kita tidak akan diberi ujian yang melampaui kemampuan kita. Sekarang bahwa kita memiliki kecenderungan ini, sebenarnya kita orang-orang terpilih, yang sudah dibekali Allah dengan kemampuan mengendalikannya. Apakah kita mau menggunakan kemampuan mengendalikan itu atau tidak, berpulang kepada Anda.

Seorang ahli mengatakan, Every homosexual is a latent heterosexual. Jadi ada jiwa heteroseks dalam diri kita, dan itulah sebenarnya fitrah. Katakanlah kita punya dua serigala peliharaan, yang satu bersifat pemarah, sirik, munafik, pelit, pembohong, & dengki, sedangkan binatang yang satunya lagi bersifat ramah, soleh, penuh harapan, dermawan, empati, penyayang dan bahagia. Nah, manakah dari dua serigala itu yang akan menang? (Jika Anda serius untuk mengetahui jawabannya, silakan diskusi dengan saya melalui alif2hamzah@yahoo.com).

Kebutuhan yang harus kita penuhi adalah rasa komplet menjadi seorang lelaki untuk meraih keseimbangan dalam hidup. Rasa sebagai lelaki itulah yang kita dambakan sepanjang hidup. Jika kita berhubungan secara tidak sehat dengan sesama lelaki, kita tidak memenuhi kebutuhan itu, karena kita melepaskan karakter kelelakian kita kepada yang lain. Yang timbul justru rasa kekosongan yang lebih dalam dan keterlepasan kita kepada karakter kelelakian.

Silakan simak surat Al-Baqarah (2:216) “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita bisa mengendalikan orientasi seksualitas kita. Dan ini adalah sesuatu yang harus di-manage. Hanya karena Anda menikah tidak berarti Anda telah mengatasi kecenderungan Anda terhadap sesama. Berapa banyak dari kita yang living double lives? Menikah dan sekaligus menjalani kehidupan sebagai gay di belakang istri? Menikah dan resolving SSA adalah dua hal yang berbeda dan dua-duanya harus dikelola secara benar.

Tanpa mengurangi pandangan saya terhadap perlunya upaya – upaya lain, jika kita memang berniat untuk meninggalkan kehidupan gay, hal paling pertama kita lakukan ialah memasrahkan diri kepada Allah. Pasrah dan ikhlas dalam arti yang sebenar-benarnya. Yakin bahwa Allah akan memberikan Anda hal terbaik dalam hidup Anda kini dan di akhirat kelak. Pasrah dan ikhlas di sini dalam arti Anda rela menerima cobaan ini dan rela untuk menjalani kehidupan sesuai dengan perintah-Nya.

Anda berdamai dengan diri sendiri, tidak menyalahkan orang tua, orang yang pernah melecehkan Anda, menyalah diri sendiri, apalagi menyalahkan Tuhan. Terimalah semuanya sebagai garis hidup. Bahwa memang Anda harus menjalani cobaan ini dan yakinlah bahwa Allah akan menolong setiap langkah Anda, dan akan membalas segala upaya Anda untuk hidup di jalan-Nya.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Tapi bukan perjalanan pergi, melainkan perjalanan kembali. Kembali kepada-Nya. Tentu, jalan yang kita tempuh bukan jalan tol yang mulus. Jalan kehidupan penuh liku, banyak tanjakan dan turunan, banyak lubang dan duri, ada halangan disetiap ruas. Tapi Allah telah memberi rambu-rambu. Jika pun Anda sempat salah belok, selalu terbuka untuk kembali ke jalan yang lurus.

Ampunan Allah selalu terbuka. Rahmat Allah tak terkira luasnya. Berjalanlah padanya, maka Dia akan menyambutmu dengan berlari. Adalah tidak masuk akal sehat jika Anda menukar kebahagiaan abadi di akhirat dengan kenikmatan sesaat di dunia.

Sumber: http://alif2hamzah.blogdetik.com/2008/08/26/halo-dunia/

Jati Diri

Kisah Si A ( Laki- laki )

Simak kisahnya

*saya membagikan cerita ini untuk jadi pelajaran. Mohon maaf, jika ada kata – kata yang tidak sopan.

Si A lahir dari keluarga biasa seperti umumnya manusia (memang begitu kan, hehehe), hidupnya jauh dari kota. Ayahnya bekerja pagi sampai sore, ibunya seorang ibu rumah tangga kegiatannya masak, beres – beres rumah, kadang ke kebun. Sifat ayah dan ibu memang agak pendiam.

Baiklah cerita ini dimulai saat si A mulai bisa mengingat secara sadar, mungkin usia 4 – 5 tahun, saat usianya segitu, selidikilah karakter bermainnya. Teman sepermainannya kebanyakan perempuan, di saat anak laki – laki seusianya termasuk saudara laki – lakinya memilih bermain dengan anak laki – laki juga.

Permainan yang dimainkan si A apalagi kalau bukan boneka-bonekaan, main lompat tali karet, juga masak – masakan. Hapus saja dari bayangan kamusnya dia bermain kelereng, layangan, menjahili anak perempuan sampai menangis (yang ada malah dia yang dijahili sampai menangis), jangan harap ada main gasing. Kalaupun main bola bersama laki – laki cuma sekadar ikut tanpa dijiwai. Pernah suatu ketika tetangganya, seorang remaja laki – laki usia SMP atau SMA mengajak si A ke kamar dan mojok untuk dipaksa berbuat hal yang tidak senonoh. Ini pengalaman seksual pertama baginya.

Tibalah si A memasuki usia SD. Teman permainannya masih sama yang terdekat adalah teman perempuan. Sering dilihatnya teman laki – laki mengganggu teman perempuan ataupun teman laki – laki mengganggu teman laki – laki juga, hatinya cuma miris, tidak mampu mencegah. Ada perasaan benci kepada laki – laki.

Saat kelas 2 – 6 SD sering jadi target bully kakak kelas, kadang teman sekelas. Bully-nya berupa dielus – elus kulitnya karena kulitnya halus seperti perempuan. Atau diambil topinya (kebetulan si A kecil sangat suka dengan topi sehingga sering pakai topi ke mana – mana). Dia sebenarnya ingin sekali ikut bermain dengan anak – anak lelaki lain, teman – teman laki – laki biasanya main voli, main bola sepak saat istirahat sekolah, namun hanya ragu dan malu yang ada, yang membuatnya mengurungkan keinginannya.

Aneh, ingin tapi malu. Ataukah malu tapi ingin, bingung. Di SD, ada seorang guru laki – laki tegas namun baik dan tegap yang menjadi idola si A. Prestasi si A di SD cenderung bagus dan beberapa kali sering jadi wakil untuk mengikuti lomba antar sekolah. Ketertarikan pada lelaki sepertinya terjadi saat kelas 6. Saat itu dia menemukan iklan underwear pria dengan model pria pada sebuah majalah. Semua berjalan begitu saja, si A belum sadar dirinya ‘berbeda’.

Saat di SMP, pergaulannya agak imbang antara teman laki – laki dan perempuan, namun di sini mulai menunjukkan kecenderungan untuk menjauhi pergaulan, minder. Si A lebih nyambung kalau diajak ngobrol gosip artis daripada kabar sepakbola. Sikap egois sebagai laki – lakinya agak nampak mungkin karena lonjokan hormon remaja. Namun lagi – lagi bisa dibilang dia gagal melalui masa awal pubertas.

Walau bisa dikatakan prestasi akademik bagus, ikut beberapa organisasi siswa, dan satu kali ikut lomba antar sekolah, namun untuk pergaulan payah, jarang berkomunikasi di kelas, bel pulang sekolah ya langsung pulang ke rumah tidak ada pikiran untuk nongkrong atau jalan – jalan bareng teman, dipikir – pikir sih dia begitu karena tidak ada yang mengarahkan perkembangan sosialnya.

Lalu bagaimana dengan pengalaman seksualnya? Pengalaman seksual hanya sebatas membayangkan lelaki telanjang, bacaan seks, berulangkali melihat gambar iklan model underwear pria yang berhasil dia gunting dan disimpan di tempat tersembunyi. Menggambar tubuh lelaki, kadang ngintip lelaki mandi. Aktivitas lainnya dia mulai mengenal onani dan hampir tiap hari dilakukannya. Yang agak aneh, si A nyaman bergaul dengan temannya yang kemayu namun pernah saat tidur bareng, teman kemayunya tersebut menggerayangi si A, malah si A merasa jijik. Pikir si A, ia tertariknya dengan lelaki macho bukan kepada yang kemayu begitu.

Ngomong-ngomong, apakah si A ada hasrat kepada perempuan? Ada. Waktu itu di SMP ada teman perempuannya yang cantik, pintar, dan pandai menyanyi. Langsung jadi idolanya dan itu jatuh cinta pertamanya kepada perempuan. Namun tidak pernah sekalipun terucap kata cinta, lagi – lagi karena si A adalah pemalu.

Usia SMA, prestasi masih sepuluh besar di kelas, namun untuk lomba antar sekolah tidak ada yang diikuti, minder-nya makin parah. Organisasi yang dikuti cuma dua macam, rohis dan satu lagi. Untuk rohis bisa dibilang panggilan hati, namun kadang jadi tameng untuk menutupi keminderannya kepada perempuan dan ketidaktertarikannya kepada mereka. Anggota rohis yang ‘agak doyan’ perempuan justru ‘diceramahi’, wah pikir si A, “saya sih aman”.

Sampai usia SMA ini dia belum sadar akan kelainan orientasi seksualnya, dia belum mengenal istilah homoseksual, namun kejadian demi kejadian yang berulang terus menguatkan ketertarikannya pada laki – laki. Dia mulai mengamati, di SMA banyak teman, kakak kelas, dan adik kelas yang ganteng. Kalau berpapasan selalu ada rasa ‘ser,,,ser’ di dada, sampai kadang refleks menelan ludah. Mengapa begitu ya?

Lulus SMA, masuk perguruan tinggi. Selama kuliah walaupun tidak berprestasi maksimal, namun termasuk bagus skor IPK-nya. Di tingkat satu, ada berita santer bahwa seorang mahasiswa homoseksual terang – terangan mengaku menyukai dosennya. Glek, kok bisa seberani itu. Itu kan seperti hasrat si A namun si A tidak akan seberani itu. Mulailah timbul rasa penasaran mencari berita dari internet tentang kelainan orientasi seksual, memangnya ada ya lelaki homoseksual selain si A.

Akses internet mulai dikenal si A, disela mengerjakan tugas kuliah seringkali dia menjelajah situs porno pria dan melihat gambar xxx (tdk perlu dijelaskan). Bahkan sering lupa waktu, tugas belum kelar, eh biaya rental warnet malah tersedot untuk kebiasaan jelek ini. Belum ada teman – temannya yang tahu akan kebiasaan jeleknya ini, setidaknya tidak ada yang diberitahu, karena si A adalah tipe penyendiri dan tidak berani bergaul.

Yang makin parah saat tinggal serumah dengan mahasiswa laki – laki beberapa orang, dia mulai berani bergerilya saat temannya terlelap tidur. Dilakukannya tes kebiasaan tidurnya dan sepulas apa tidurnya. Dengan alasan ingin tidur bareng satu ranjang, nantinya saat temannya terlelap tangannya berani pegang – pegang bagian tubuh temannya. Di lain waktu, teman lainnya jadi target berikutnya. Kadang saat naik motor berboncengan, si A duduk di jok belakang, dirapatkan tubuhnya serapat – rapatnya (modus). Kalau ditanya, ” Saya sedang kedinginan”.

Sering juga terpikir mencari perkumpulan mahasiswa homo (himaho) tapi tidak ketemu (alhamdulillah masih diselamatkan, kalau masuk perkumpulan tersebut mungkin si A akan terjerumus lebih jauh). Di masa kuliah, si A mulai ikut bermain sepakbola walau cuma sebatas permainan senggang, pernah ikut naik gunung juga. Ada hasrat untku menjadi model, dengan tampilan kurus mungkin cocoknya jadi model androgini (model lelaki tapi berpenampilan perempuan,,, glek wakwaw), tapi tidak kesampaian, lagi – lagi karena pemalu / ragu – ragu dan alhamdulillah sekarang sih berpikir kalau jadi model beneran nanti pergaulan bakal parah.

Lulus kuliah, bekerja. Di masa – masa bekerja makin parah. Pokoknya secara tampilan luar, si A adalah pemalu dan canggungan orangnya. Tetapi di malam hari, bergerilya mencari ‘mangsa’ pemuas nafsunya. Korbannya teman – teman satu kontrakan. Seperti sebelumnya yang dilakukan pertama adalah tes keterlelapan tidur, kalau tidak gampang bangun, ini nih ketemu target. Yang dilakukannya, mulai dari menggerayangi, melorotin celana, menatap dan perbuatan tidak senonoh kepada teman, menindih tubuh, ngintip mandi, tapi tidak sampai melakukan anal seks. Parah kalau anal seks bisa ketahuan, berabe pikir si A.

Akses situs dan gambar pria dewasa di internet jangan ditanya lagi, itu pun sudah parah, hampir tiap malam. Akhirnya tidak sadar umur makin tua, saudara – saudara sudah menikah, sedangkan si A pacar (target) pun belum ada. Sempat di awal kerja diperkenalkan dengan perempuan namun dengan alasan kota berjauhan si A tolak secara halus. Ada juga gadis lain yang coba mendekati, lagi – lagi dijauhi. Teman – teman sering menawarkan untuk memperkenalkan teman perempuannya, namun si A sepertinya hilang hasrat kepada perempuan.

Ragu, bingung, antara ingin tapi sepertinya tidak akan mampu mencintai, takut perempuan tersebut kecewa menemukan lelakinya punya kelainan orientasi seksual. Ada juga gebetan dua orang, yang satu tidak pernah tahu bahwa si A suka dia, akhirnya menikah duluan kalau tidak salah tahun 2012 (nyesek dah), lalu yang satu lagi tahun 2014 dengan membulatkan keberanian akhirnya si A mengungkapkan kesukaannya dan melamarnya, tapi jawabannya, “kita teman tapi belum saling mengenal jauh karena sebelumnya sudah pernah loss kontak lagipula sudah ada laki – laki yang melamar”, (jeb,,, dada si A serasa dipukul keras).

Di tahun 2014 tersebut si A mulai bertanya – tanya tentang jati diri, sifat dan karakter dirinya sendiri. Mengapa si A pemalu, canggungan, dan mengapa punya kelainan orientasi seksual. Pernah ada keinginan kuat untuk hipnoterapi dengan biaya Rp 1,5 juta dua kali pertemuan. Teman ada yang bilang, hipnoterapi hanya berefek sesaat, yang penting adalah keinginan untuk berubah dari diri sendiri dan diusahakan berada di lingkungan yang kondisinya mendukung untuk berubah. Nasehatnya lagi, jangan menyalahkan orang tua karena mungkin cara didik orang tua dulu terkait dengan kesibukan mereka karena himpitan ekonomi. Sekarang diri kita yang jadi agen perubahan, suatu saat jika punya anak, didiklah dengan cara yang baik.

Di saat pencarian jati diri itu, si A menemukan situs tentang homoseksual tapi isinya membimbing untuk keluar dari ketidaknyamanan orientasi seksual. Si A akhirnya mengontak pengelolanya (Bang Sinyo Egie) dan berkonsultasi.

Waktu pertama konsultasi umur si A 29 tahun, si A bercerita kondisi saat itu sekitar 80% suka pria, dan 20% suka wanita. Namun kesukaan kepada wanita hanya sebatas suka penampilannya, suka kelembutannya, tapi tidak ada gejolak seksual. Sampai beberapa lama setelah konsultasi, mulai ada perubahan pandangan dan cara berpikir tentang orientasi seksualnya. Emosi dan hasrat sesaat bisa dikendalikan dan akhirnya si A bisa memiliki hasrat kepada perempuan, calon istrinya dan menikahlah mereka.

Dari cerita ini, si A dikategorikan murni homoseksual ataukah biseksual? Sepertinya biseksual, namun karena sekian lama hasrat kepada perempuannya tidak tersalurkan akhirnya tenggelam oleh hasratnya kepada lelaki. Dengan cara pikir yang tepat, hasrat kepada perempuan bisa dibangkitkan lagi dan harus terus dijaga. Karena berulangkali hasrat kepada lelaki sering timbul manakala melihat lelaki ganteng dan tegap. Astaghfirullah, di situlah perjuangannya.

Semoga ALLAH menjadikan kita semua istiqomah di jalan-Nya. Dan semoga cerita ini bermanfaat. Saat ini si A mencintai istri dan istri mencintainya. Yang perlu diresapkan ke dalam hati adalah jagalah anugerah sekecil apapun yang telah ALLAH berikan, jangan mau dijerumuskan setan dan nafsu, tumbuhkan terus cinta kepada istri dan kepada kebaikan.

Si A, Mei 2015

*Update 23 Januari 2018:
2 bulan setelah menikah akhirnya saya cerita ke istri bahwa saya SSA. Istri kaget namun alhamdulillah tetap menerima saya utuh dan jarang mengungkit SSA saya.

Salam Peduli Sahabat

Sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Ada Niat Ada Jalan

sumber gambar : https://quotefancy.com/media/wallpaper/3840×2160/1756941-Angela-Merkel-Quote-Where-there-s-a-will-there-s-a-way.jpg

Masih Ingat?

Anda masih ingat dengan kasus klien Peduli Sahabat yang sejak SMP sampai dewasa (sekitar 13 tahunan) menjadi ‘kekasih gelap sesama jenis’ gurunya sendiri?

Alhamdulillah sudah menikah dan sekarang istrinya positif hamil. Saya mau screen shot WA beliau takut ketahuan nanti, karena orang terpandang/terkenal sehingga mudah dilacak.

Intinya beliau mengucapkan terima kasih tiada hingga ke Peduli Sahabat dan semua yang turut mendoakannya walau tidak saling kenal secara langsung.

Alhamdulillah sekarang beliau bisa hidup lebih tenang dengan meniti jalan Allah. Semoga dibalas dengan kebaikan berlimpah atas semua doa.

Jika sobat ingin tahu kisahnya silahkan cari di kolom kategori : story (sebelah kanan) yang ada di website Peduli Sahabat ini, dengan judul Dia Dia dan Dia.

Sungguh kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok, bagaimana keadaan hari esok, dan hari esok kita akan menjadi lebih baik atau tidak, semoga ALLAH Ta’ala menuntun kita untuk selalu menuju jalan kebaikan, karena ALLAH Maha Tahu dan ALLAH Maha Membolak Balikkan Hati.

Salam Peduli Sahabat

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Seks Sesama Jenis (Boarding vs Full Day School)

sumber gambar : https://cdn2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/20160226-lgbt_20160226_102505.jpg

“Kak Sinyo, saya takut memasukkan putra saya ke boarding karena katanya di sana kadang muncul tindakan seks sesama jenis. Bagaimana pendapat kakak?”

Curhatan ini banyak dikemukakan peserta seminar saat saya mengisi acara keliling Indonesia. Ketakutan yang mungkin juga dirasakan oleh pembaca.

Berdasarkan klien yang datang ke Peduli Sahabat, tindakan seks sesama jenis bisa dilakukan siapa saja tanpa memandang orientasi seksnya (apakah heteroseksual, homoseksual, biseksual, dan lain sebagainya), jenis kelamin (tapi kebanyakan laki-laki), tingkat ekonomi, latar belakang pendidikan, suku, agama, ras, atau bahkan model sekolahnya.

Pelaku seks sesama jenis ada yang bersekolah di boarding atau full day. Jadi anak kita mau sekolah di mana saja tetap ada risiko melakukan tindakan seks sesama tadi.

Apa perbedaannya?

Berikut ini empat contoh kasus seks sesama jenis (laki-laki) yang Peduli Sahabat tangani, perhatikan pola per kasus untuk diambil hikmahnya.

1. Contoh pertama di boarding school

Seorang laki-laki setara SMA di Depok berorientasi heteroseksual sudah tidak tahan menahan kantung sp*rmanya yang sudah penuh. Dia tertarik melihat paha temannya sesama jenis yang mirip perempuan maka pada suatu kesempatan dia berusaha merangsang dirinya dengan menggerayangi seputaran paha temannya.

2. Contoh kedua di boarding school

Seorang laki-laki SMP di Kab. Bogor masuk ke boarding sebagai anak pindahan. Dia menawarkan diri untuk melakukan or*l seks ke 10 orang teman sesama jenis.

Kesepuluh anak tersebut mencoba-coba mau dior*l seks dan ketagihan. Saat si anak pindahan tadi absen karena sakit maka kesepuluh anak tersebut kemudian saling melakukan or*l seks.

Masih banyak kasus lain yang serupa, ringkasnya kalau kejadian seks sesama jenis di boarding school:

a. Cepat diketahui/terlacak b. Melibatkan banyak orang dalam satu kasus

3. Contoh pertama di full day school

Di Semarang ada laki-laki SMA berorientasi heteroseksual mengaku sudah biasa dior*l seks oleh beberapa teman sesama jenis sejak SMP. Posisinya dia sebagai laki-laki dan tidak mau diminta mengor*l seks balik.

4. Contoh kedua di full day school

Di salah satu provinsi Sumatra ada anak SMP laki-laki hidup sebagai ‘pasangan’ dengan gurunya (sudah punya istri dan anak) dengan dalih anak dan bapak angkat selama 13 tahunan.

Masih banyak kasus lain yang serupa, ringkasnya kalau kejadian seks sesama jenis di full day school:

a. Senyap, tertutup, tersamar, dan gelap bahkan kadang tidak diketahui siapa saja. b. Melibatkan sedikit orang dalam satu kasus

Kembali ke pertanyaan awal para peserta seminar tadi maka:

Kalau anak kita ingin dimasukkan ke borading school idealnya:

– Cari institusi boarding yang sudah memahami dunia seks sesama jenis dengan baik. – Calon murid dan wali murid harus diedukasi tentang hal tersebut sebelum masuk sekolah. – Peraturan dibuat seketat mungkin untuk menghindari tindakan seks sesama jenis atau meminimalisirnya.

Jika anak kita masuk full day school idealnya:

– Ortu dan anak memahami dengan baik dunia seks sesama jenis.

Entah anak bersekolah di boarding atau full day school yang terbaik adalah orang tua selalu menjadi sahabat bagi anak-anaknya sehingga apa yang menjadi buah pikiran atau keresahan hatinya, maka mereka akan selalu bercerita kepada salah satu atau kedua orang tua untuk dipecahkan bersama.

Semoga bermanfaat, Sinyo Peduli Sahabat

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014