Daily Archives: December 2, 2019

Menanamkan Empati Pada Anak Agar Jauh Dari Perilaku Bullying

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2019/04/12/3785499358.jpg

Orang tua sebagai sumber pendidikan pertama bagi anak merupakan sebuah hal yang sangat penting dimana sebagai anak, mereka akan selalu memperhatikan bagaimana perilaku orang tua, bagaimana komuikasi orang tua, dan bagaimana cara orang tua memperlakukan anaknya itu sendiri.

Berbagai macam orang tua pun sangat berbeda beda dalam memberikan sebuah pendidikan bagi anak mereka. Namun bagi orang tua dengan tipe yang sangat kritis banyak dari mereka yang terlalu menilai anak atau istilahnya sedikit – sedikit di dikomentari secara kritis entah karena perilakunya, penampilannya,nilainya, dan lain – lainnya. Mungkin maksud dari orang tua bukan untuk membully teteapi siapa sangka justru perilaku orang tua yang seperti ini bisa membuat berkurangnya kepercayaan diri anak dan bisa jadi anak juga akan meniru gaya orang tua yang sedikit – sedikit selalu berkomentar dan anak akan menerapkannya jika ada teman atau seseorang yang menurutnya tidak bagus secara penampilan,perilaku,atau hal lainnya.

Maka dari itu sebagai orang tua hendaknya harus selalu waspada dan beerhati – hati dalam mengomentari atau berperilaku di depan anak, karena anak sebagai peniru yang baik akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya apakah akan menjadi seorang yang percaya diri atau tidak dan apakah akan menjadi seorang pembully atau tidak itu semua tergantung kepada bagaimana peran orang tua masing – masing.

Berikut rangkuman mengenai faktor anak bisa menjadi pelaku bullying, karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying, tentang bagaimana pujian yang baik bagi orang tua terhadap anak, tindakan orang tua terhadap pelaku bullying, dan menanamkan rasa empati kepada anak agar terhindar dari perilaku bullying yang dirangkum dari popmama.com.

Popmama Parenting Academy menghadirkan Maureen Hitipeuw dari komunitas Single Mom dan juga Katiana Taslim, M.Psi., selaku Psikolog Personal Growth dalam mengisi talkshow seputar Stop Bullying dan Body Shamming di Kalangan Anak.

“Selalu mengingatkan untuk selalu berempati, bahwa empati itu asalnya dari rumah. Perilaku anak itu cerminan dari orangtuanya juga. Harapannya anak tidak menjadi pelaku bullying. Penting banget awalnya pendidikan dasar dari rumah,” ujar Maureen Hitipeuw selaku founder dari komunitas Single Mom.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasinya berdasarkan kegiatan Popmama Parenting Academy yang dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2019 di Summarecon Mall Serpong.

Faktor penyebab anak menjadi pelaku bullying

Bullying adalah sebuah perilaku agresi yang ditunjukan pada target tertentu, biasanya ada tujuan dibalik sikap membully. Bullying bisa dilakukan secara fisik, atau dalam bentuk kata-kata verbal. Pada era modern saat ini, bullying juga dapat dilakukan di media sosial yang disebut juga dengan cyberbullying

Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi anak dalam tindakan bullying. Yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri anak sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari keluarga serta lingkungannya.

Faktor internal yang mempengaruhi anak adalah keterampilan sosial anak dalam melakukan sosialisasi dengan orang lain tidak terasah dengan baik sehingga keluar perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini, orangtua bisa memberikan edukasi untuk keterampilan sosial anak

Faktor eksternalnya adalah anak tidak memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Hal ini dipengaruhi dari anak yang tidak mendapatkan contoh yang baik dari rumah atau lingkungan di sekitarnya.

Karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying di lingkungannya

Anak-anak yang menjadi pelaku bullying memiliki tujuan tertentu dalam melakukan tindakannya, biasanya terdapat karakteristik khusus bagi anak yang menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri atau lingkungannya.

Beberapa karakteristik seorang anak yang menjadi tujuan pelaku bullying. Salah satu karakteristiknya adalah anak yang menjadi korban memiliki fisik atau personaliti yang berbeda sehingga anak tidak sesuai dengan kelompok teman-temannya.

“Anak yang menjadi korban bullying menjadi anak yang tertutup, sehingga tidak memiliki banyak teman. Tanamkan pada anak perbedaan itu bukan hal yang salah karena anak memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terkadang anak sendiri tidak merasa dapat bergaul dan tidak dapat diterima,” ujar Katiana Salim.

Biasakan orangtua untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja

Tentunya, sebagai orangtua sulit untuk menghindari perilaku bully. Cara menghindari anak menjadi kurang percaya diri terhadap diri sendiri adalah, fokus dalam mengingatkan anak bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengendalikan orang lain. 

Menurut Katiana Salim, ajarkan anak untuk mengatur bagaimana cara menanggapi atau bereaksi terhadap bully. Orangtua dapat membiasakan anak untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja, namun berikan pujian pada anak secara keterampilan, kemampuan, kreatifitas, dan tingkah laku anak.

Hal ini dapat membuat anak tidak hanya berfokus pada penampilan dirinya. Selain itu, fokuskan pada anak bahwa tipe fisik setiap orang itu berbeda-beda. Berikan pengertian pada anak kalau fisik tidak menentukan kesuksesan.

Caranya adalah dengan menunjukan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik namun tetap sukses di bidangnya masing-masing, sehingga dapat memotivasi anak untuk tetap percaya diri pada fisiknya.

Tindakan orangtua dalam menanggapi orang lain yang membully anaknya

Bukan hal yang jarang ketika ada orang lain yang mengomentari fisik atau kemampuan dari anak, mungkin Mama seringkali bingung dalam menanggapinya karena satu sisi ingin membela anak namun tidak mau ada hubungan buruk dengan kerabat atau saudara yang berkomentar.

Dalam hal ini Mama dapat melakukan pemilihan kata-kata yang tepat untuk menyadarkan dengan tujuan agar orang lain tidak berkata atau berkomentar buruk tentang anak. Mama dapat mencari bukti berupa jurnal, website, ataupun bukti ilmiah lainnya yang dapat mendukung bahwa anak bertumbuh dengan normal.

Selain itu, faktor mood juga penting untuk dijaga, jika dalam keadaan mood yang baik, Mama dapat berargumen secara perlahan dan mengeluarkan bukti-bukti tersebut, namun tidak jarang juga beberapa Mama merasa komentar tersebut tidak penting sehingga tidak perlu dijawab secara terus menerus.

Ajak anak untuk mengeksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati

Menurut Maureen, happy moms is happy kids, terutama menjadi Mama harus bahagia. Jika Mama merasa bahagia, dengan sendirinya anak akan tertular perasaan bahagia tersebut. Sama seperti empati, tanamkan anak untuk mengerti penerimaan terhadap perbedaan.

Selain itu, penting juga bagi anak untuk eksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati. Ajak anak-anak untuk meningkatkan empati seperti bermain dengan binatang, bertemu dengan banyak anak-anak lainnya.

Dan jangan lupa untuk mengajak anak dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kreatifitas serta kemampuannya. Tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, cukup seperti memasak bersama, olahraga bersama, hal ini juga dapat meningkatkan quality time serta bonding time yang baik antara orangtua dan anak.

sumber artikel : https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/jemima/tanamkan-empati-pada-anak-agar-tidak-menjadi-pelaku-bully/full 12 Oktober 2019 oleh Jemima Karyssa Rompies