Monthly Archives: December 2019

Usaha Tidak Akan Menghianati Hasil, Tetap semangat..

Screenshot diatas adala bukti bahwa tidak ada usaha yang sia – sia jika dibarengi dengan terus berdoa kepada ALLAH, tetap berjuang menuju fitrah yang telah ditentukan, pantang menyerah, dan tetap berprasangka baik kepada ALLAH bahwa pasti ALLAH akan beri jalan disetiap masalah dan pastinya jika kita masih diberi ujian oleh ALLAH tandanya bahwa ALLAH sayang kita, ALLAH ingin kita kembali menuju jalan baik dan kelak insyaAllah kita akan dimasukkan ke surga dan termasuk orang – orang saleh.

Semoga Klien tetap istiqamah dalam menuju jalan kebaikan, menjadi hamba yang lebih baik lagi, dan menjadi hamba sesuai dengan fitrahnya. Dan semoga nanti kita bisa berjumpa di surganya ALLAH. aaaaaamiiiiin.

Tetap semangat !!!!!!!

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Mitos Gay Gene, Benarkah ada gen ‘Gay’ ?

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2018/12/22/13/18/dna-3889611__340.jpg

Sebelum menentukan apakah perilaku SSA = same sex attraction (homoseksual) berasal dari gen atau faktor keturunan. Mari kita luruskan terlebih dahulu bahwa sebenarnya perilaku SSA bukan berasal dari gen atau faktor keturunan, mengapa demikian karena belum ada sebuah penelitian atau riset yang benar – benar membuktikan bahwa perilaku SSA disebabkan karena gen atau faktor keturunan.

Kita khususnya umat muslim pun telah dijelaskan ALLAH melalui AL QURAN :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ(80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ(81)

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).

Meski secara umum masyarakat Indonesia menolak eksistensi kaum gay dan lesbian, tetapi sebetulnya aktifitas mereka eksis dan teraba. Mereka pun tengah berjuang agar keberadaan mereka diterima dan legal secara hukum. Apalagi ada dalih hak asasi manusia dan alasan genetis; bahwa gay adalah karena faktor keturunan. Benarkah demikian?

Gay Bukanlah Genetis
Salah satu alasan yang sering dikemukakan kalangan gay dan liberal agar publik menerima eksistensi kaum gay adalah teori ‘gen gay’ (gay gene theory) atau teori ‘lahir sebagai gay’ (born gay). Mereka memaparkan sejumlah penelitian bahwa homoseksual dan lesbian disebabkan ketentuan genetis. Sifat bawaan yang ada pada kalangan yang kemudian menjadi pembentuk karakter gay pada seseorang.

Ilmuwan pertama yang memperkenalkan teori “born gay” adalah ilmuwan Jerman, Magnus Hirscheld pada 1899. Dia menegaskan bahwa homoseksual adalah bawaan sehingga dan dia menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual.

Pada 1991, 2 periset Dr Michael Bailey & Dr Richard Pillard melakukan penelitian untuk membuktikan apakah homoseksual diturunkan alias bawaan. Yang diteliti 2 periset ini adalah pasangan saudara –- kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis, dan saudara-saudara adopsi –- yang salah satu di antaranya adalah seorang gay.

Ringkasnya, riset itu menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Mereka menyatakan, 52 persen pasangan kembar identik dari orang gay berkembang pula menjadi gay. Sementara hanya 22 persen pasangan kembar biasa yang menunjukkan sifat itu.

Sedangkan saudara biologis mempunyai kecenderungan 9,2%, dan saudara adopsi 10,5%. Sedangkan gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu tak berhasil ditemukan.

Pada 1993, riset ini dilanjutkan oleh Dean Hamer, seorang gay. Dia meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Hasil risetnya menyatakan bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual.
Riset Dean ini sangat “dipuja-puja” oleh kalangan homoseksual dan menjadi senjata terkuat mereka. Riset ini dianggap sebagai “penemuan ilmiah yang monumental.” Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah kodrati, tak bisa dikatakan sebagai penyimpangan, dan tidak bisa dibenahi.

Meskipun Dean menyatakan homoseksual di kromosom Xq28 ditemukan, namun hingga 6 tahun kemudian, gen pembawa sifat homoseksual itu tak juga ketemu. Dan Dean Hamer mengakui bahwa risetnya itu tak mendukung bahwa gen adalah faktor utama/yang menentukan yang melahirkan homoseksualitas.

“Kami tahu bahwa gen-gen hanyalah bagian dari jawaban. Kami menerima bahwa lingkungan juga mempunyai peranan membentuk orientasi seksual. Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay, saya kira kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Hamer juga menyebut bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual adalah bawaan. “Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harapkan kami temukan: sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Pada faktanya, kami tak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya,” tulis Hamer.

Teori “gay gene” kian runtuh ketika pada 1999 Prof George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih besar. Rice menyatakan, hasil penelitian terbaru tak mendukung adanya kaitan gen X yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Rice dan tiga koleganya memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tak memperlihatkan kesamaan penanda di Xq28 – yang sebelumnya dirilis oleh Dean Hamer, kecuali secara kebetulan.
Dengan data itu para peneliti Kanada tersebut menyatakan mereka dapat meniadakan segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas. Namun demikian, menurut Rice, pencarian faktor genetik pada homoseksualitas terus berlangsung dan mereka juga sedang mencari kaitan pada kromosom lain. Meski demikian, hasil keseluruhan dari berbagai penelitian tampaknya menunjukkan kalaupun ada kaitan genetik, hal itu sangat lemah sehingga menjadi tidak penting.

Selain Prof Rice, hasil riset ini didukung oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago. Riset Sander yang tak dipublikasikan juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas.
Ruth Hubbard, seorang pengurus The Council for Responsible Genetics yang juga penulis buku Exploding the Gene Myth menyatakan bahwa pencarian sebuah gen gay, “bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Izinkan saya memperjelasnya: Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada komponen-komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Hasil riset di atas, meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun menyatakan bahwa gen bukanlah faktor yang dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Kebenaran Islam
Jauh sebelum para pakar menyanggah teori genetik-gay, Islam telah menjelaskan kepada umat manusia bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan sempurna (fisik dan fitrahnya), yakni kecenderungan tertarik pada lawan jenis dan bukan kepada sesama jenis. Firman ALLAH Ta’ala:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(TQS. At-Tin [95]: 4).

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(TQS. Ali Imran [3]: 14).

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(TQS. An-Nisa [4]: 1).

Kemarahan ALLAH SWT. dan Nabi Luth as. kepada warga  negeri Sodom yang telah mempraktekkan homoseksual dan lesbian (liwath) menunjukkan bahwa mereka melakukan penyimpangan perilaku seksual, bukan karena faktor genetis/keturunan.

FirmanNya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).

Lafadz  “ata’tûna al-fâhisyata mâ sabaqokum bihâ min ahadin min al-‘alamîn (Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?)” menunjukkan dengan jelas pengetahuan Luth as. (atas bimbingan ALLAH), bahwa tidak ada satupun umat sebelum penduduk Sodom yang  melakukan perbuatan terkutuk tersebut, baik secara sosial ataupun genetis. Atas kejahatan tersebut ALLAH menimpakan azab yang sangat keras kepada mereka.

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,”(TQS. Hud [11]: 82).

Tidak mungkin ALLAH Ta’ala mengazab satu kaum melainkan jika kaum tersebut telah menentang perintahNya dan melanggar laranganNya, sebagaimana kaum-kaum lain. Demikian pula tidak mungkin ALLAH mengazab suatu kaum karena faktor keturunan yang melekat pada mereka seperti warna kulit, warna rambut, warna dan bentuk bola mata, dsb.

تِلْكَ ءَايَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.”(TQS. Ali-Imran [3]: 108).

Islam pun menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir ke alam dunia dalam keadaan fitrah, tidak membawa sifat dan perilaku menyimpang. Tidak ada pula dosa turunan. Sabda Nabi saw.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap manusia lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani sebagaimana hewan ternak kalian dilahirkan apakah ada padanya anggota tubuhnya yang terpotong hingga kalian membuatnya cacat.”(HR. Imam Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan bersih, siap menerima hidayah dari ALLAH. Akan tetapi pendidikan dari kedua orang tuanyalah yang akan membentuk kepribadiannya kelak, apakah akan tetap beriman ataukah justru keluar dari hidayah ALLAH. Bisa dipahami dari nash hadits ini berarti lingkungan pergaulan dan norma-norma yang ditanamkan pada seseorang akan membentuk karakternya.
Masyarakat hari ini mengembangkan gaya hidup hedonis yang berkembang hari ini membentuk individu menjadi budak nafsu. Mencari berbagai cara untuk memuaskan hawa nafsunya, termasuk dengan perilaku menyimpang menjadi gay.

Teori yang menyatakan bahwa gay adalah sifat genetis adalah propaganda palsu untuk melegitimasi penyimpangan perilaku tersebut. Bahwa sebenarnya mereka adalah penyakit sosial yang harus dan bisa disembuhkan. Bukan dianggap sebagai sifat bawaan yang bisa ditolerir keberadaannya.

Persoalan Hukum
Persoalan sesungguhnya bukanlah teori genetis, tetapi gay sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) liberal yang bernaung dalam demokrasi dan hak asasi manusia. Demokrasi dan HAM memang menjamin kebebasan berekspresi termasuk dalam urusan seksual. Inilah sebenarnya yang menjadi pangkal persoalan diterima atau tidaknya eksistensi kaum gay.
Adanya jaminan kebebasan berekspresi/perilaku akan membolehkan setiap orang melakukan apa saja, selama tidak dengan paksaan. Industri pornografi boleh didirikan, perzinaan adalah legal, sah bergonta-ganti pasangan, termasuk mempraktekkan hubungan seks keji semisal dengan sesama jenis, dengan binatang atau dengan mayat sekalipun. Semuanya dijamin dalam liberalisme.
Kenyataan inilah yang bertentangan dengan Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak mengajarkan gaya hidup bebas/liberalisme. Setiap perbuatan manusia ada landasan hukumnya. Tujuannya tidak lain untuk menjaga keseimbangan dan kepentingan manusia itu sendiri.

Perilaku homoseksual mengancam keseimbangan dan kepentingan manusia. Gay dan lesbian mengancam keberlangsungan pertumbuhan umat manusia. Padahal bumi membutuhkan manusia untuk menciptakan keselarasan hidup. Selain itu, terbukti gay dan lesbian menjadi penyebab faktor penting dalam penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS, selain penggunaan jarum suntik pada narkoba.

Wajar dan tepat bila Islam mengharamkan perilaku seperti ini. Bahkan Islam memberikan sanksi yang keras pada para pelaku gay dan lesbian. Jumhur ulama bersepakat bahwa pelaku gay (liwath) mendapat hukuman mati. Nabi saw. bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوهُ ، الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang menjumpai satu kaum yang melakukan seperti perbuatannya kaum Nabi Luth maka bunuhlah ia, pelakunya dan obyeknya (temannya).”(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaiy, Ahmad).

Gay dan lesbian adalah tindak kriminal, bukan penyakit ataupun kelainan jiwa. Terbukti para ahli biologi, kedokteran dan sosiologi, membuktikannya.

Akan tetapi selama kaum muslimin masih menerima demokrasi dan HAM sebagai patokan dalam kehidupan, maka desakan agar menerima gaya hidup gay akan terus dikumandangkan. Mereka merasa hal itu sebagai hak-hak warga negara yang wajib dilindungi. Tampak jelas gay, lesbian, voyeurism, sadomasochism, pedofili, bestality dan perzinaan tumbuh subur dalam masyarakat demokrasi.

Oleh karenanya, hanya dengan penegakkan syariat Islam, perilaku seksual akan dapat dihilangkan. Tanpa itu, mustahil umat dapat diselamatkan dari kejahatan yang mengundang malapetaka ini. Sejarah mencatat kota Pompeii di Itali yang terkubur letusan Gunung Vesuvius, ternyata penduduknya berperilaku menyimpang. Perzinaan dan pelacuran merajalela, termasuk gaya hidup homoseksual dan lesbian. Rumah-rumah pelacuran banyak berdiri hampir menyamai jumlah rumah penduduk, dan imitasi alat kelamin lelaki digantung sebagai hiasan rumah di mana-mana. Sampai kemudian kota tersebut terkubur dalam-dalam oleh lahar.

Mahabenar ALLAH dengan segala firmanNya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(QS. Al-An’am: 44).

sumber artikel : http://www.iwanjanuar.com/gay-bukan-genetis-beginilah-cara-islam-menangani-kaum-homoseksual/?fbclid=IwAR2Hl0vfozWO6cXTFhkzRClmv0kk26S-LbxYxAyK-SuILIXuYaarYkeeWc4 oleh Iwan Januar October 15, 2013

Simulasi

Apa yang kami lakukan di Peduli Sahabat itu bukan terapi atau sejenisnya. Kita hanya mengenalkan simulasi kalau meminjam istilah masak-memasak ya ‘mencicipi’.

Setelah mencicipi terserah si klien apakah mau meneruskan atau tidak yang jelas Peduli Sahabat hanya semacan guide (pemandu) berbagai alternatif kehidupan yang tersedia.

Kalau berhasil ya Alhamdulillah.

Jika masih belum merasakan manfaatnya ya didoakan agar mendapat hidayah.

SS di bawah ini adalah testimoni satu klien perempuan kami yang tertarik sesama jenis. Manfaat yang beliau dapatkan adalah atas usahanya sendiri sementara kami hanya mendampingi saja.

#LovePeduliSahabat

Jangan menyerah untuk selalu menuju jalan kebaikan, walaupun banyak rintangan dan tantangan, ingatlah ALLAH selalu bersama kita.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Jangan Menyerah ! Mudahnya Sembuh Dari SSA

Hanya dengan pertolongan ALLAH kita bisa mengatasi segala permasalahan yang ada di kehidupan kita. Kita selalu dingatkan bahwa ALLAH tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-NYA. Tetaplah selalu berprasangka baik kepada ALLAH, karena ALLAH lah sebaik – baiknya pemberi pertolongan.

Semoga kisah ini memberikan motivasi dan pembelajaran bahwa SSA bisa disembuhkan.

Simak kisahnya

Oke saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya adalah laki – laki . Ayah saya seorang aparat negara, ibu saya seorang ibu rumah tangga biasa. Saya dibesarkan di lingkugan asrama dimana tempat ayah saya berdinas dimana yang sudah pasti tempat yang sangat disiplin dengan peraturan,

Dulu saya pernah melihat ayah bertengkar dengan ibu beberapa kali sehingga membuat saya sedih, pada saat itu usia saya sekitar 6 tahun tetapi setelah itu sampai saat ini saya tidak pernah melihat mereka bertengkar lagi.

Ayah saya tidak pernah marah kepada anak – anaknya tetapi kami takut kepada ayah, Ayah juga tipe yang jarang ngobrol dengan anak – anaknya, agak jauh dengan anak – anak menurut saya, anak – anak terutama saya sangat dekat sekali dengan ibu walau sebenarnya beliau terkadang galak dan menyebalkan.

Dilingkungan tempat tinggal saya pada saat kecil kebanyakan adalah anak perempuan, jadi otomatis saya bergaul dengan mereka.

Saya mulai sadar bahwa saya menyukai sesama jenis ketika usia SMP mulai suka menghayal dengan orang dewasa, tertarik melihat pria dewasa, apalagi di lingkungan saya banyak praja muda yang berolahraga tanpa baju, atau ketika di kamar bilas para pria bisanya tidak mengenakan pakaian sehelai pun tanpa risih, mulai tertarik pada guru laki – laki, tertarik pada teman laki – laki.

Hal tersebut membuat saya menjadi tertutup dengan lingkungan yang baru, kurang nyaman bila harus masuk ke tempat Baru. Hal ini belangsung hingga saya lulus SMA.

Awal saya berani bersentuhan langsung dengan dunia SSA adalah ketika awal kuliah thn 2007 mulai mengenal internet, jejaring sosial media, menemukan grup – group penyuka sesama, mulai berani ketemuan bahkan sampai hal yang sangat berlebihan semua sudah pernah saya rasakan. Saya sangat menikmati walau dalam hati menolak.

Saya mulai tersadar ketika teman – teman seusia saya sudah menikah, semua mungkin kira – kira setelah kuliah, dimana masa – masa banyak pertanyaan – pertanyaan dari saudara dan orang tua mengenai kapan menikah, dan pada tahun 2015 ALLAH tegur saya dengan sakit akibat perbuatan saya, hingga saya harus berobat lama dan memakan biaya, hingga dokter nyatakan saya sembuh total, saya sangat bersyukur ALLAH masih sayang kepada saya, ALLAH tidak meberikan HIV kepada saya.

Saya sangat ingin sembuh, mulai mencari pengobatan – pengobatan atau terapi ,tetapi saya tidak menemukan selain kembali ke jalan ALLAH dan menikah. Saya terus mendekatkan diri kepada ALLAH dengan harapan ingin sembuh, tetapi tidak terfikr untuk menikah, bagaimana saya mau menikah tertarik secara seksual saja tidak, saya khawatir tidak dapat memenuhi nafkah biologis kepada istri saya nanti.

Akhirnya saya memutuskan untuk menikah setelah memikirkan pertanyaan2 ini:
Mau apa lagi hidup ini ?
Mau Jadi hamba soleh ?
Atau mau jadi hamba durhaka ?

Mau Jadi SSA seumur hidup?
Mau nikah sama sesama ngga ada yang setia didunia penyuka sesama,
Nanti kalau tua siapa yang ngurus ?
Nanti kalau mati siapa yang mendoakan ?

Akhirnya saya putuskan menikah di 2017 mulai berdoa kepada ALLAH untuk di petemukan jodoh nya, di berikan rezeki harta untuk menikah, mulailah mendekat kepad pemilik dunia ini, karena saya yakin hanya Dia lah yang bisa memberikan segalanya termasuk kesembuhan.

Mulailah saya mencari pasangan lewat teman – teman, tukar CV, dan ketemulah calon istri di December 2017, disini saya kembali mulai ragu apakah benar keputusan saya , apakah saya bisa membina rumah tangga, Saya terus berdoa kepada ALLAH sambil memperbaiki diri dan memantaskan diri untk menikah.

Akhirnya September 2018 saya menikah, semakin dekat ke hari pernikahan saya semakin khawatir mengenai apakah saya bisa melakukan hubungan badan dengan wanita semantara saya tidak terangsang, tak putus saya memohon kepada ALLAH agar dimampukan dalam urusan itu. Saya mulai mencari testimoni para SSA yang sudah menikah, ketemulah dengan Peduli Sahabat sempat telepon kak Sinyo Egie ( malah setelah menikah).

Ternyata teman – teman, sudah fitrahnya laki – laki berhubung badan dengan wanita, nanti juga on dengan sendirinya, yang penting niat karena ALLAH dan rileks begitu pesan kak Sinyo heheheheh, Allhamdullilah sampai saat ini tidak ada kendala masalah hubungan pasutri

Mohon doa kepada semua teman – teman disini semoga saya tetap istiqomah, semoga teman – teman yang ragu menikah menjadi termotivasi.

Kuncinya adalah kembali ke perintah agama.

Semoga teman – teman yang sedang hijrah tetap istiqomah aamiin.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Mengenal “ROOTS”, Program Anti Perundungan

sumber gambar : https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/styles/media_large_image/public/_DSC0108-edit.jpg?itok=O62JfGRE

Sekolah masih saja menjadi tempat yang bebas bagi sebagian orang/murid untuk melakukkan aksi perundungan. Hal tersebut harusnya menjadi peringatan bagi kita bahwa seharusnya sekolah menjadi tempat aman, nyaman dan menyenangkan bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu, teman, dan pengalaman.

Kali ini datang kisah dari Klaten, Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten Klaten bersama dengan dukungan UNICEF tengah mengembangkan Program Anti Perundungan yang bernama “ROOTS”. Program ini ditujukan untuk membantu anak – anak yang menjadi korban perundungan agar menemukan cara positif untuk mengatasi aksi perundungan.

Devi Tulak Astuti salah satu siswi sekolah menengah pertama SMPN 3 Klaten yang menjadi anggota dari Program Anti Perundungan “ROOTS”. Mengaku sebelum ia menjadi anggota dan ikut peran dalam ROOTS, sebelumnya ia juga merupakan korban dari aksi perundungan yang terjadi di sekolahnya.

Sempat ia membalas perilaku aksi perundungan tersebut namun yang terjadi malah keadaanya semakin memburuk. Saat program anti perundungan bernama ROOTS masuk ke sekolahnya, Devi pun sadar mungkin ada cara yang lebih baik untuk mengatasi situasi yang ia alami. Ia segera mengajukan diri untuk ikut serta. “Saya ikut karena saya sendiri mengalami di-bully,” katanya. “Saya ingin membantu mengubah sekolah agar tidak ada murid lain yang mengalaminya.” Program ini diujicobakan di empat sekolah dan kini sudah diperluas ke dua sekolah lain.

UNICEF Child Protection Officer Naning Julianingsih menjelaskan bahwa, “Masalah mendasar di sini adalah masyarakat Indonesia tidak menganggap perundungan sebagai masalah serius. Mereka melihatnya sebagai bagian wajar dalam kehidupan anak-anak dan kehidupan bersekolah. Secara sosial, perundungan diterima. Ada juga guru yang menghukum pelaku, tetapi alasan perbuatan itu sendiri tidak diatasi. Program Roots berupaya mengubah itu.”

Bagaimana program ROOTS bekerja ?

Fasilitator ROOTS mengikuti pelatihan yang materinya dirancang pemerintah dengan dukungan UNICEF. Pertama, anak-anak diminta menilai situasi di sekolah mereka menggunakan U-Report, platform dunia maya berbasis media sosial untuk mengadakan jajak pendapat secara anonim. Menggunakan cara ini, di SMPN 3 Klaten ditemukan bahwa 74% murid pernah mengalami perundungan, rata-rata 4 hingga 5 kali sepekan. Jenis-jenis perundungan pun beragam, mulai dari anak dipukul, dicubit, diejek, digosipkan, dan dirundung di dunia maya.

Setelah mengetahui situasi yang ada, fasilitator belajar bekerja bersama anak dan remaja untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif. Mereka membantu para murid membuat kampanye sendiri berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah mereka. Membuat poster, menyusun rencana kerja untuk melawan perundungan di sekolah, dan mencontohkah perilaku positif adalah contoh bentuk-bentuk kampanye yang bisa dilakukan.

“Kami mendorong para fasilitator untuk mendengarkan anak-anak, mengetahui alasan perundungan, dan mendiskusikan cara-cara mengatasinya,” jelas Naning. “Biasanya, pelaku perundungan mengalami masalah di rumahnya. Mereka meniru perilaku yang mereka lihat dari orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jadi, kita perlu tahu dulu sebab sebenarnya di balik perundungan dan mencoba mengatasinya.”

Berkat program ROOTS kini di sekolah Devi SMPN 3 Klaten telah berhasil menciptakan lingkungan yang positif untuk belajar. Kepala Sekolah SMPN 3 Klaten, Purwanta, yang baru menjabat selama enam bulan pun melihat perbandingan positif antara SMPN 3 Klaten dengan sekolah lain di Klaten, tempatnya dahulu bekerja.

“Karakter siswa di sini, baik di dalam dan di luar sekolah, berbeda,” terang Purwanta. “Di desa, setiap hari saya memergoki siwa berkelahi. Di sini berbeda sekali. Selama enam bulan di sini, saya belum pernah melihat ada satu pun perkelahian. Sikap siswa kepada sesama siswa dan kepada guru juga sangat berbeda. Mereka saling menghormati dan senang berteman.”

Menurut Purwanta, perbedaan ini tercipta berkat program ROOTS, yang menurutnya juga berhasil meningkatkan nilai belajar. “Sekolah ini tadinya menduduki peringkat 18 dari 65 sekolah di Klaten. Sejak ada program, kami naik ke peringkat 1,” tambahnya. “Jika anak bahagia di sekolah, mereka juga belajar dengan lebih baik.”

Bagi Devi, program ROOTS juga mengajarkannya hal-hal praktis yang bisa langsung ia terapkan. “Saya belajar juga mengurangi keinginan mem-bully atau merespon bullying,” katanya. “Saya belajar satu trik. Saya tutup mata dan bilang: ‘tidak boleh bully, tidak boleh bully.’ Jika saya melihat ada murid yang mem-bully anak lain, saya ingatkan mereka. Setelah tiga kali memberikan peringatan, baru saya laporkan kepada guru.”

Devi sepakat dengan kepala sekolahnya bahwa budaya di sekolah sudah berubah. “Saya tidak melihat perkelahian lagi di sekolah,” katanya .”Murid laki-laki juga berhenti mengata-ngatai saya. Dulu, suasana di sekolah tidak menyenangkan. Sekarang, saya bersemangat pergi sekolah. Saya lebih percaya diri dan nyaman dengan diri saya.”

Semoga program ROOTS segera bisa menyebar dan memasuki sekolah – sekolah di seluruh wilayah INDONESIA dan semoga berbagai aksi perundungan di sekolah juga semakin berkurang agar tercipta semangat berangkat sekolah dan belajar juga akrab bersama teman – teman di sekolah tanpa saling membedakan .

sumber artikel : https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/pahlawan-super-di-sekitar-kita oleh Andrew Brown, UNICEF Indonesia 22 Juli 2019