Daily Archives: November 25, 2019

Grooming ? Dibalik Kekerasan Seksual Terhadap Anak

sumber gambar : https://www.secureverifyconnect.info/sites/default/files/styles/image_740x431/public/field/image/OnlineGrooming.jpg?itok=Cba3sq9I

Kecanggihan teknologi kian tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat juga para penggunanya pun mengalami peningkatan kuantitas baik dari kalangan anak – anak hingga usia lanjut usia. Namun perlu kita waspadai khususnya bagi orang tua yang di era milenial saat ini yang kerap memberikan kebebasa anak – anak untuk menggunakan gadget tanpa edukasi, filter, juga pengawasan.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini tanpa kita sadari kejahatan juga berkembang secara diam – diam, menyamar, dan bersembunyi bahkan bisa mengawasi setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial maupun internet . Salah satu yang harus diwaspadai secara ekstra khususnya bagi orang tua milenial saat ini adalah banyak para pelaku kejahatan melakukan Grooming terhadap anak- anak.

APA ITU GROOMING ?

Menurut lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka.

Dan saat ini Grooming menjadi modus baru bagi para pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual yang memanfaatkan peran media sosial untuk melancarkan aksinya melakukan pelecehan seksual dengan target mereka adalah melainkan dari kalangan anak – anak khususnya anak perempuan.

Biasanya para pelaku grooming atau groomer membuat akun/identitas palsu untuk mengelabuhi korban. Seperti kasus yang terjadi di Surabaya ketika pihak kepolisian berhasil menangkap tersangka pelaku grooming berinisial TR ( 25 ). Dengan menggunakan akun/identitas palsu dari seoraang guru pelaku TR berhasil mengumpulkan 1300 foto dan video anak tanpa busana didalam akun e-maillnya, dari sekian banyaknya foto dan video sudah terindentifikasi sebanyak 50 anak dengan identitas berbeda.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) yang mendapat laporan dari seorang guru bahwa akun media sosialnya dipalsukan. Dan setelah diselidiki ternyata pelaku pemalsuan akun media sosial guru tersebut tak lain adalah tersangka TR ( 25 ).

Saat melancarkan aksinya groomer akan membangun karakter tersendiri untuk memikat korban yang sudah menjadi target si groomer. Dan setelah itu goomer akan mulai menghubungi korban dan mulai membangun hubungan, memberikan perhatian – perhatian atau saran kepada korban . Entah apa skill yang dimiliki si groomer hingga ia mampu menjadi sosok figur yang didambakan korban, sosok mentor, dan bahkan bisa menjadi kekasih si korban yang notabene mereka hanya melakukan hubungan melalui media sosial.

Semakin dekat hubungan groomer dengan korban maka pelan – pelan groomer akan mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbau seksual dan mulai berani untuk meminta foto dan video yang berbau seksual dengan iming – iming berupa uang, hadiah, dan hal – hal lain yang memmbuat si korban mau menuruti permintaan si groomer bahkan bisa jadi si groomer juga akan membuat ancaman yang membuat korban mejadi ketakutan.

Pelaku groomer sangat lihai dalam mengelabuhi korbannya karena jika korban dan groomer sudah mempunyai hubungan erat dan keterbukaan maka akan sulit untuk mengetahui modusnya. Untuk prosesnya pun tergantung dari keahlian groomernya itu sendiri bisa lama atau singkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa menjadi korban dari groomer, mereka yang menjadi korban groomer biasanya mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, tidak percaya diri, mengalami masalah keluarga. Namun jika kita lebih teliti terdapat ciri – ciri atau indikasi korban dari groomer.

CIRI – CIRI KORBAN GROOMING

seorang korban grooming dapat kita lihat dari berbagai ciri – ciri dibawah ini :

  1. Menjadi sangat tertutup
  2. Punya pacar yang umurnya lebih tua
  3. Memiliki barang baru dan uang berlebih
  4. Mudah tertekan dan sensitif

Sebagai informasi menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KemenPPPA ) bahwa kasus grooming sudah terjadi sejak tahun 2016. Namun banyak dari masyarakat baru mengetahui kasus ini karena di tahun 2019 telah lebih dari 236 kasus grooming terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Pesan penting bagi para orang tua milenial saat ini bahwa penyebab dari aksi grooming ini sendiri bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang semakin maju saat ini namun peran orang tua yang kurang waspada dan kurang memperhatikan anak di era kejuan teknologi saat ini terutama saat orang tua membebaskan anak untuk bermain gadget tanpa diberikan edukasi yang baik mengenai bagaimana cara menggunakan gagdet yang baik dan mengontrol atau memfilter kegiatan anak di dalam gadgetnya.

sumber penulisan : 1. https://news.detik.com/berita/d-4635087/mengenal-grooming-modus-baru-pelecehan-seksual-terhadap-anak 2. https://www.indozone.id/news/d5snEe/ketahui-taktik-ciri-grooming-modus-pelecehan-seksual-pada-anak 3. https://www.solopos.com/grooming-kekerasan-seksual-pada-anak-via-medsos-1023078