Monthly Archives: November 2019

Ajari,Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial

sumber gambar : https://goresangurusemai.files.wordpress.com/2013/08/copy-header-blog-guru.jpg

Oke kali ini saya akan membahas mengenai sebuah topik yang mungkin kelihatan biasa – biasa saja ya? Emmm tentang Ajari, Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya mengenai kata – kata yang pernah saya dengar dari seorang psikolog yang berbunyi :

“Kita sebagai orang tua hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita harapkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua untuk anak – anak menreka kelak”

Statemen yang mungkin hanya sebagian orang saja yang mau merenungkan. Saat saya mendengar statemen ini saya baru sadar dengan apa yang psikolog itu katakan. Di era kemajuan jaman, kemajuan teknologi,komunikasi,iptek dan hal – hal lainnya saat ini. Banyak dari kita untuk berlomba – lomba mendapatkan sebuah pengakuan dari sebuah apa yang telah kita capai dan banyak pula orang tua yang berlomba – lomba untuk menyekolahkan anak – anak mereka ke sekolah favorit, unoversitas favorit, ataupun ke akademi – akademi yang notabene setelah lulus akan mendapatkan gelar dan juga pekerjaan yang bagus dan membangga – banggakan apa yang telah anak mereka peroleh.

Ya itu sih wajar – wajar saja jika orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak – anaknya, tetapi banyak yang mereka lupa ajarkan kepada anak – anak mereka untuk bekal nilai – nilai kehidupan dimasa depan khususnya dalam aspek bersosialisasi dengan lingkungan sekitar minimal di tempat tinggalnya. Orang tua lupa bahwa kelak anaknya juga akan menjadi seperti mereka membesarkan anak dan juga bersosialisasi dengan lingkungan disekitar tempat tinggal mereka.

Pernahkah saudara – saudara melihat jika ada kerja bakti bersih bersih kampung, kerja bakti pegajian, kerja bakti untuk kegiatan peringatan kemerdekaan, kegiatan remaja masjid dan even – even lainnya yang berada di lingkungan tempat tinggal, pernahkah melihat orang tua yang mengajak anak – anaknya yang ikut membaur melakukan kegiatan tersebut ? Sangat jarang sekali di era kemajuan jaman sekarang ini kita melihat anak- anak atau remaja ikut membaur dalam kegiatan sosial seperti diatas. Yang ada orang tua ikut kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal tetapi anak malah dibiarkan asyik dirumah bermain atau melakukan kegiatan lainnya di rumah. Dengan alasan anak sudah lelah sekolah, les, dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa sistem pendidikan di negara kita memang masih belum sempurna dengan berbagai mata pelajaran yang ada dan waktu sekolah yang panjang, mengakibatkan lingkungan sosial anak kebanyakan hanya dihabiskan di sekolah, namun sebagai orang tua hendaknya menyadari bahwa kebutuhan anak bukan hanya kebutuhan mengenai ilmu materi namun kebutuhan ilmu sosial juga diperlukan untuk memberikan pondasi saat mereka nanti beranjak menjadi dewasa bahkan menjadi orang tua.

Sesekali ajaklah bahkan suruhlah anak – anak untuk ikut membaur dalam kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tnggal . Agar terbentuk sebuah kepribadian yang matang jika nanti anak – anak sudah dewasa dan menghadapi berbagai karakter orang yang berbeda – beda. Menurut sudut pandang saya sendiri, saya khawatir jika anak – anak tidak pernah diajak sesekali ataupun disuruh untuk ikut kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, saya khawatir rasa sosial mereka dengan antar sesama akan biasa – biasa saja dan suasana rasa simpati juga empati terhadap sesama juga akan biasa biasa saja dan bisa jadi menjadi seorang yang kurang peka.

Sekarang kita lihat banyak aksi bulli di kalangan anak, banyak aksi anak /murid yang sudah berani melawan gurunya sendiri, banyakkan sekarang guru menjadi sasaran laporan ke pihak yang berwajib hanya karena memarahi atau mengingatkan anak/murid yang salah dan ironisnya orang tua juga ikut – ikutan tidak terima jika anaknya dmarahi/atau sang guru, bahkan disuatu artikel memberitakan seorang murid mengakhiri nyawa gurunya hanya karena diingatkan saat merokok.

Menurut saya kejadian kejadian ini dikarenakan kurangnya pendidikan moral dan sosial dari orang tua di era kemajuan jaman saat ini. Sempatkanlah dan ajarkanlah, mungkin itu yang harus orang tua lakukan walau sibuk dengan pekerjaan. Apa gunanya mengejar harta jika anak tidak berlaku baik dan juga tidak saling mengasihi anatar sesama. Diharapkan dengan anak diajarkan, diajak dan disuruh untuk mengikuti kegiatan – kegiatan sosial dan juga berbaur minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, minimal mereka anak -anak akan lebih peka terhadap apa yang sedang terjadi, lebih simpati dengan sesama, dan lebih menghormati dengan sesama. Karena pendidikan yang mahal bukanlah dengan menyekolahkan di sekolah atau universitas favorit tetapi pendidikan yang mahal adalah pendididikan tentang nilai – nilai aspek kehidupan bersosialisasi dengan sesama yang akan menjadi bekal atau pondasi di kehidupan masa depan.

Jika terdapat salah kata saya mohon maaf karena semua memiliki presepsi masing – masing dan ini merupakan sudut pandang saya sendiri mengenai perlunya orang tua mengajarkan dan juga menanamkan nilai – nilai sosial dalam kehidupan ini.

Salam dari Bim

Grooming ? Dibalik Kekerasan Seksual Terhadap Anak

sumber gambar : https://www.secureverifyconnect.info/sites/default/files/styles/image_740x431/public/field/image/OnlineGrooming.jpg?itok=Cba3sq9I

Kecanggihan teknologi kian tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat juga para penggunanya pun mengalami peningkatan kuantitas baik dari kalangan anak – anak hingga usia lanjut usia. Namun perlu kita waspadai khususnya bagi orang tua yang di era milenial saat ini yang kerap memberikan kebebasa anak – anak untuk menggunakan gadget tanpa edukasi, filter, juga pengawasan.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini tanpa kita sadari kejahatan juga berkembang secara diam – diam, menyamar, dan bersembunyi bahkan bisa mengawasi setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial maupun internet . Salah satu yang harus diwaspadai secara ekstra khususnya bagi orang tua milenial saat ini adalah banyak para pelaku kejahatan melakukan Grooming terhadap anak- anak.

APA ITU GROOMING ?

Menurut lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka.

Dan saat ini Grooming menjadi modus baru bagi para pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual yang memanfaatkan peran media sosial untuk melancarkan aksinya melakukan pelecehan seksual dengan target mereka adalah melainkan dari kalangan anak – anak khususnya anak perempuan.

Biasanya para pelaku grooming atau groomer membuat akun/identitas palsu untuk mengelabuhi korban. Seperti kasus yang terjadi di Surabaya ketika pihak kepolisian berhasil menangkap tersangka pelaku grooming berinisial TR ( 25 ). Dengan menggunakan akun/identitas palsu dari seoraang guru pelaku TR berhasil mengumpulkan 1300 foto dan video anak tanpa busana didalam akun e-maillnya, dari sekian banyaknya foto dan video sudah terindentifikasi sebanyak 50 anak dengan identitas berbeda.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) yang mendapat laporan dari seorang guru bahwa akun media sosialnya dipalsukan. Dan setelah diselidiki ternyata pelaku pemalsuan akun media sosial guru tersebut tak lain adalah tersangka TR ( 25 ).

Saat melancarkan aksinya groomer akan membangun karakter tersendiri untuk memikat korban yang sudah menjadi target si groomer. Dan setelah itu goomer akan mulai menghubungi korban dan mulai membangun hubungan, memberikan perhatian – perhatian atau saran kepada korban . Entah apa skill yang dimiliki si groomer hingga ia mampu menjadi sosok figur yang didambakan korban, sosok mentor, dan bahkan bisa menjadi kekasih si korban yang notabene mereka hanya melakukan hubungan melalui media sosial.

Semakin dekat hubungan groomer dengan korban maka pelan – pelan groomer akan mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbau seksual dan mulai berani untuk meminta foto dan video yang berbau seksual dengan iming – iming berupa uang, hadiah, dan hal – hal lain yang memmbuat si korban mau menuruti permintaan si groomer bahkan bisa jadi si groomer juga akan membuat ancaman yang membuat korban mejadi ketakutan.

Pelaku groomer sangat lihai dalam mengelabuhi korbannya karena jika korban dan groomer sudah mempunyai hubungan erat dan keterbukaan maka akan sulit untuk mengetahui modusnya. Untuk prosesnya pun tergantung dari keahlian groomernya itu sendiri bisa lama atau singkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa menjadi korban dari groomer, mereka yang menjadi korban groomer biasanya mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, tidak percaya diri, mengalami masalah keluarga. Namun jika kita lebih teliti terdapat ciri – ciri atau indikasi korban dari groomer.

CIRI – CIRI KORBAN GROOMING

seorang korban grooming dapat kita lihat dari berbagai ciri – ciri dibawah ini :

  1. Menjadi sangat tertutup
  2. Punya pacar yang umurnya lebih tua
  3. Memiliki barang baru dan uang berlebih
  4. Mudah tertekan dan sensitif

Sebagai informasi menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KemenPPPA ) bahwa kasus grooming sudah terjadi sejak tahun 2016. Namun banyak dari masyarakat baru mengetahui kasus ini karena di tahun 2019 telah lebih dari 236 kasus grooming terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Pesan penting bagi para orang tua milenial saat ini bahwa penyebab dari aksi grooming ini sendiri bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang semakin maju saat ini namun peran orang tua yang kurang waspada dan kurang memperhatikan anak di era kejuan teknologi saat ini terutama saat orang tua membebaskan anak untuk bermain gadget tanpa diberikan edukasi yang baik mengenai bagaimana cara menggunakan gagdet yang baik dan mengontrol atau memfilter kegiatan anak di dalam gadgetnya.

sumber penulisan : 1. https://news.detik.com/berita/d-4635087/mengenal-grooming-modus-baru-pelecehan-seksual-terhadap-anak 2. https://www.indozone.id/news/d5snEe/ketahui-taktik-ciri-grooming-modus-pelecehan-seksual-pada-anak 3. https://www.solopos.com/grooming-kekerasan-seksual-pada-anak-via-medsos-1023078

Lindungi Anak Dari Gadaikan Hidup Untuk Gadget dan Game Online

sumber gambar : https://img.harianjogja.com/posts/2018/07/23/929517/hl.jpg

Membicarakan mengenai kecanduan gadget dan game online memang tidak akan ada habisnya. Namun inilah perhatian pentingnya, karena masalah kecanduan gadget dan game online sudah kian memprihatinkan. Semakin hari makin banyak gadget – gadget baru bermunculan dengan beragam spesifikasi tinggi namun harga murah, game – game online kian mengembangkan inovasi gamenya agar lebih dinikmati oleh kalangan masyarakat.

Kita sebagai bangsa yang yang sedang berkembang wajib untuk selalu waspada karena kecenderungannya adalah mudah kagum dan kaget terhadap perkembangan teknologi baru terutama gadget dan game online. Dan parahnya kita akan jadi mangsa besar bagi para pelaku usaha gadget dan game online untuk memperbesar pundi – pundi kekayaannya.

Tanpa kita sadari telah banyak dari kalangan masyarakat yang telah terjebak dalam kecanduan gadget dan terutama anak – anak . Sekarang banyak dari anak – anak lebih menghabiskan hari harinya hanya bersama gadget, tidak pernah keluar rumah mengurung diri dalam kesendirian yang membahagiakan. Bagi angkatan kelahiran 90-an akan sangat bosan jika berada di dalam rumah terus tetapi sebaliknya di jaman sekarang.

Begitu memprihatinkan, bagaimana banyak yang hilang dari masa – masa anak – anak yang seharusnya belajar berinteraksi sosial dengan linngkungan sekitar, berinteaksi sosial dengan alam yang mana akan berguna sebagai bekal hidup di masa depan. Dan sepertinya dari kebanyakan orang tua milenial malah seperti menikmati saja perkembangan teknologi sekarang tanpa mengeksplore lebih dalam tentang banyak dampak negatif maupun positifnya.

Bahkan sekarang sudah hal biasa jika ada kasus seorang anak yang kecanduan gadget harus dirawat di Rumah Sakit entah karena gangguan mental, atau gangguan penyakit akibat radiasi dari layar gadget. Bagi kita yang mendengarkan berita itu pasti sudah tidak akan kaget seperti sudah menjadi tren saat ini.

Yang lebih mengerikan sudah keluar beberapa artikel yang memberitakan tentang remaja yang mengakhiri hidupnya hanya karena ditegur untuk berhenti bermain game, sungguh kalo kita resapi dalam – dalam masalah kecanduan gadget dan game online sudah bukan lagi masalah yang bisa dianggap sepele. Perlu adanya perombakan sistem dari pemerintah dan peran seluruh masyarakat tentang masalah kecanduan gadget dam game online ini, bahkan kalo perlu ada Undang – Undang yang mengatur tentang penggunaan gadget dan memainkan game online pada anak – anak dan remaja. Karena mereka generasi muda adalah aset untuk masa depan bangsa.

Mungkin langkah awal yang bisa kita lakukkan saat ini adalah dilingkungan keluarga terutama peran orang tua dalam memberikan pola asuhnya dan filter terhadap dampak negatif perkembangan teknologi. Sempatkanlah untuk memberikan edukasi penting mengenai dampak negatif dan positif perkembangan teknologi, sempatkanlah untuk bincang – bincang santai dengan anak – anak mengenai masalah pribadinya, sempatkanlah untuk bermain bersama,suruhlah anak – anak untuk ikut bersosialisasi dilingkungan masyarakat misal kalo masih anak – anak ikutkan kegiatan TPQ ( Mengaji ) kalo sudah remaja ikutkan sebagai anggota karang taruna atau remaja masjid dan kegiatan keluarga lainnya yang bisa menjadi filter dan juga pengalih untuk menjadi kegiatan yang lebih positif.

Saya pernah mendengar perkataan dari seorang psikolog “Kita sebagai orang tua kadang hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita inginkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua bagi anak – anak mereka kelak”

Jangan sampai geneasi muda masa depan bangsa ini pelan – pelan kropos akhlaknya, kropos sosialnya, kropos kemanusiaannya karena perkembangan teknologi yang tidak terfilter.

Salam dari Bim

Mencegah Anak dari Kecanduan Gadget

sumber gambar : http://www.inhilklik.com/assets/berita/original/48258911399-candu_game.png

Jaman semakin maju dan berkembang maka segala yang ada didalamnya pun juga akan mengikutinya seperti halnya pola pengasuhan orang tua terhadapa anak pasti akan sangat berbeda jauh dengan tahun di era 90-an yang cenderung keras dan tegas.

Berbeda dengan pola asuh orang tua terhadap anak yang terjadi di jaman yang maju dan berkembang ini sekarang mereka jarang berbicara dengan anaknya karena dengan segala kesibukannya. Si Ayah sibuk dengan pekerjaan di kantor sedangkan si Ibu sibuk dengan online shop atau sibuk chatingan dengan grup – grup WA, dan si anak hanya menghabiskan hari – harinya dengan dibekali gadget oleh orang tua dan menikmati kesendiriannya.

Bagaimana mugkin didalam suatu keluarga tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak – anaknya, dan itulah yang sering terjadi di jaman yang sudah maju dan berkembang. Dan pada akhirnya siapa yang menjadi korban ?? Ya anak.

Anak hanya akan berbicara kepada temannya yaitu gadget dan kesendiriannya dan lambat laun jika itu terjadi dalam jenjang waktu yang lama maka akan menimbulkan candu bagi anak. Karena anak sudah terbiasa tanpa orang tua dan hanya berbekal gadgetpun mereka merasa terhibur dan jika dibiarkan tambah lama lagi maka parahnya akan berdampak pada mental anak, banyak kasus anak yang dirawat intensif karena kecanduan gadget.

Salah satu tanda ketika gadget sudah berdampak pada mental anak yaitu saat anak merasa gelisah,resah dan suka marah marah sendiri ketika gadget tidak bersamanya satu hari bahkan satu jam pun tidak bersama gadget rasanya sudah tidak karuan

Lantas, bagaimana cara mencegah anak-anak agar terbebas dari kecanduan gadget? Berikut tipsnya:

1.Ciptakan quality time dengan buah hati.

Saat anak rewel, orangtua kerap memberi si kecil gadget agar anak tenang. Namun anak-anak, terutama balita, masih memiliki keterampilan kognitif yang belum sempurna. Pemrosesan informasi dari gadget terbukti kurang menguntungkan daripada interaksi aktual dengan orang tua. Balita dan proses kognitif simbolik anak-anak akan mendapat manfaat besar ketika ada orang dewasa yang menjelaskan dan berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan menjadi penerima informasi pasif. Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga akan meningkat ketika ada interaksi yang sebenarnya. Semakin banyak waktu bermakna yang kita habiskan dengan anak, semakin kecil waktu sang anak untuk terpapar dengan gadget. Menyediakan waktu khusus untuk sang anak dapat menciptakan ikatan yang lebih intim antara orangtua dan anak.

Untuk itu, daripada memberikan gadget untuk si kecil, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini bersama si buah hati: Baca buku bersama, Masak bersama, Mengobrol bersama sang anak , Berlibur dengan sang anak

Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak. Jadi, sediakanlah waktu khusus untuk si kecil sehingga anak kita tak melulu bermain dengan gadget.

2.Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

Agar sang anak terhindar dari kecanduan gadget, orangtua harus menetapkan batasan. Dengan cara ini, anak-anak akan lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka akan lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk menggunakan gadget dan kapan harus berhenti. Kita bisa menetapkan batasan penggunaan gadget pada anak dengan menggunakan aplikasi atau pengaturan gadget. Kita juga bisa mengunci koneksi internet dalam jangka waktu tertentu dan memberi si kecil jadwal khusus untuk bermain gadget. Anak-anak harus memiliki waktu interaksi dengan lingkungan sekitar untuk melatih perkembangan motorik halus mereka. Perkembangan sosial-emosional juga dapat meningkat ketika mereka bermain dengan teman sebayanya. Di sisi lain, banyak sekolah sekarang mengadaptasi teknologi sebagai bagian dari strategi pengajaran mereka. Kegiatan, kerja kolaboratif, dan bahkan penugasan menggunakan teknologi dan kehadiran online. Untuk itu, orangtua harus menerapkan batasan penggunaan gadget yang lebih bijaksana untuk anak-anak mereka.

3.Buat si kecil melakukan hal lain.

Mencegah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak bisa kita lakukan dengan cara lain untuk mengekspresikan diri dan menggunakannya waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih relevan dan lebih bermanfaat untuk si kecil. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan si kecil kegiatan seperti olahraga, kegiatan seni, pelajaran musik atau apapun yang menjauhkan snag anak dari gadget. Memiliki rutinitas atau jadwal kegiatan tertentun juga bisa membuat sang anak tidak terlalu aktif dengan gadget dan membuat mereka mampu melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas mereka.

sumber berita : Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/083000365/tips-mencegah-kecanduan-gadget-pada-anak?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Sari Hardiyanto

Bagaimana Dampak Memviralkan video kekerasan anak ?

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan juga komunikasi, berbagai informasi terkini ataupun update informasi dari berbagai sumber media dapat kita dapatkan secara cepat juga mudah. Beredarnya berita sekarang pun juga bukan dari mulut ke mulut tapi dari share ke share mekakui platsform media sosial.

Namun tidak semua memiliki kebijaksanaan dalam menyebarkan informasi melalui media sosial apakah inforasi ini akan menimbulkan dampak baik atau tidak jika disebar luaskan. Karena sebenarnya pun penyebar informasi belum benar – benar tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kita sebagai muslim pun diingatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmannya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Untuk itu marilah kita bijak dalam menyebarkan informasi yang beredar luas di dunia maya saat ini, kroscek dulu dari berbagai sumber lain apakah informasi ini benar adanya atau tidak sebelum mengeshare informasi tersebut tetapi dengan etika yang baik untuk mengeshare berita. Berikut informasi yang dijelaskan bbc.com/indonesia mengenai bagaimana dampak memviralkan informasi khusunya pada kasus kekerasan pada anak.

Seperti dilansir dari bbc.com/indonesia beberapa hari yang lalu, ada suatu video yang viral di media sosial. Dan, tidak, saya tidak akan menjadikan video itu lebih viral lagi dengan mencantumkan tautannya di sini.

Video itu menunjukkan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan mengenakan seragam sekolah. Dia tampak diinterogasi oleh orang-orang dewasa tentang luka dan memar yang ada di tubuhnya.

Beberapa orang dewasa kemudian membuka baju dan celana si anak, sembari menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya. Ketika ditanya siapa pelakunya, anak itu menjawab, “Bunda.”

Komentar-komentar orang dewasa di dalam video dan juga orang-orang di media sosial cukup seragam. Mereka mengutuk perbuatan itu, mengasihani si anak, dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Ini bukan kali pertama kita melihat video yang menunjukkan identitas anak sebagai korban kekerasan dengan jelas. Kasus ini bukan pula kasus kekerasan terhadap anak pertama yang kisahnya tersebar di dunia maya.

Harap diingat, kekerasan di sini bukan melulu terkait dengan kekerasan fisik. Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah tindakan atau praktik yang meliputi kekerasan fisik, seksual, emosional, penelantaran, dan eksploitasi.

Serba tidak tahu

Sebenarnya kalau kita pikirkan lagi, setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak, kita serba tidak tahu.

Kita tidak tahu apakah anak itu sudah dirujuk ke pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keterampilan untuk menangani kasus kekerasan pada anak. Kita juga tidak tahu siapa orang-orang dewasa yang menginterogasi, merekam, dan menyebarkan video itu.

Padahal, cara menangani yang salah justru bisa menimbulkan kembali kekerasan terhadap anak, membuat anak harus mengulang peristiwa traumatis tanpa dukungan konseling, dan tanpa kepastian akan adanya pertolongan yang memadai dan tepat.

Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi“.

Anda mungkin balik bertanya, “Loh, tapi kami sebarkan karena kami peduli. Masa peduli itu salah?”

Tentu peduli tidak salah. Tetapi mari kita coba membayangkan apa rasanya bila video kita yang sedemikian sensitif tersebar ke seluruh penjuru negeri ini.

Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol “share”.

Kita tidak tahu apa saja yang dapat menjadi faktor pemicu trauma anak tersebut. Sebaiknya kita pikirkan dengan matang sebelum menyebarkan informasi atau…melakukan apapun.

Mari kita terus belajar tentang isu kekerasan terhadap anak, apa saja bentuk-bentuknya, dan dampaknya bagi anak.

Kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah

Berdasarkan penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW), sebanyak 84% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Penelitian yang dirilis awal Maret tahun 2014 ini melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM yang terlibat. Penelitian dilakukan di Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Tingginya tingkat kekerasan di lingkungan sekolah Indonesia melampaui tren kekerasan di lingkungan pendidikan di kawasan Asia, yaitu 70%.

Menanggapi data temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa jumlah tersebut sejatinya merupakan fenomena gunung es dan belum mewakili fakta kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan satuan pendidikan, apalagi kekerasan yang dialami anak sehari-hari.

Dugaan ini muncul karena tak semua kasus kekerasan didata, dilaporkan, dan ditangani oleh lembaga layanan, sehingga datanya belum dapat merepresentasikan tren nasional.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan yang keras diperlukan untuk membentuk generasi yang kuat dan ‘tahan banting’, timbul banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya tidak tahu apa yang beliau maksud dengan pendidikan keras dan generasi ‘tahan banting’. Saya juga ingin tahu rujukan beliau menghubungkan pendidikan keras dengan kualitas pendidikan.

Tetapi bisa kita bayangkan, anak akan menghabiskan paling tidak 10 tahun dari masa kanak-kanaknya di sekolah.

Oleh sebab itu, kita perlu terus mendorong pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapan sekolah untuk menjadi ruang yang aman bagi anak.

Misalnya, apakah disiplin positif sudah masuk ke dalam kurikulum ajar guru? Apakah kepekaan terhadap kepentingan anak sudah menjadi salah standar kualifikasi seseorang untuk bekerja di lingkungan sekolah?

Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang tidak aman bagi murid-muridnya. Dan jangan sampai sekolah tidak tahu atau melakukan tindakan yang salah terhadap muridnya yang menjadi korban kekerasan.

Kita punya peran

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya institusi. Ada keluarga, pesantren, tempat les, dan masyarakat sekitar yang menentukan apakah anak dapat merasa aman.

Beberapa penelitian di Namibia, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang yang mereka kenal dekat. Data laporan dari KPAI juga menunjukkan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak juga terjadi di lingkungan keluarga/privat. Bisa jadi pelaku kekerasan berpendapat sama bahwa “anak perlu pendidikan yang keras agar bisa kuat” atau pandangan bahwa anak adalah ‘milik’ orangtua sehingga orangtua berhak melakukan berbagai hal pada anaknya.

Sebelum menyalahkan keluarga, kita perlu ingat bahwa keluarga tidak berdiri sendiri. Ada struktur-struktur di luarnya yang bisa menentukan kesejahteraan dan keselamatan anak di dalam keluarga.

Pemerintah dengan pelayanannya, misalnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk untuk melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Akan tetapi, menurut siaran pers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2016, dengan asumsi bahwa masalah perempuan dan anak tersebar di seluruh wilayah tanah air, dan setidaknya setiap wilayah provinsi dan kabupaten/kota memiliki minimal satu P2TP2A, masih ada 260 kabupaten/kota yang belum memiliki P2TP2A.

Untuk itu, ke depan, selain menambah jumlah P2TP2A, daerah juga perlu terus meningkatkan kualitas P2TP2A, baik dari fasilitas maupun SDM.

Pertanyaan saya adalah, apakah P2TP2A yang ada sudah sangat siap menangani semua laporan? Sudahkah mereka membangun jejaring sebanyak-banyaknya, seperti dengan psikolog anak, polisi, titik layanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang berketerampilan dalam menghadapi anak korban kekerasan?

Apakah kita punya cukup psikolog yang berpengalaman dalam menangani anak korban kekerasan? Apakah jajaran kepolisian cukup sensitif ketika menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak?

Apakah bidan di tiap desa bisa memberi layanan kesehatan yang tepat untuk anak korban kekerasan?

Bagaimana dengan pekerja sosial, apakah kita punya cukup pekerja sosial yang mampu menangani konflik kekerasan terhadap anak di dalam keluarga?

Sekarang, sebagian dari Anda mungkin sedang berpikir, “Itu kan pemerintah, bagaimana dengan saya sebagai anggota masyarakat?

Apa yang harus saya lakukan apabila menduga atau menghadapi anak yang menjadi korban kekerasan?

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa kok untuk berdiam sejenak dan memikirkan apa langkah yang harus diambil. Kita perlu menjadi seseorang yang lebih reflektif dibanding reaktif.

Sebagai anggota masyarakat, ada empat langkah yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Jangan menyebarkan identitas anak atau bentuk dokumentasinya ke orang yang tidak berwenang. Baik di media sosial, grup WhatsApp, atau media-media lainnya. Kalau ada yang membagikan tautan ke foto atau video anak korban kekerasan, pastikan tautan itu berhenti di Anda.
  2. Hubungi crisis center terdekat. Contohnya P2TP2A yang merupakan lembaga pemerintah, atau bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tanya ke pihak-pihak yang berwenang, apa yang harus Anda lakukan di situasi tersebut. Sebaiknya masing-masing dari kita mengetahui kontak informasi crisis center terdekat.
  3. Manfaatkan internet sebagai tempat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Sebarkan cerita si anak (tanpa menyebarkan foto atau identitas si anak) dan kontak rujukannya ke orang lain. Ingat, tujuan dari menyebarkan adalah untuk berbagi informasi tentang rujukan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan bila berada di situasi yang sama seperti Anda.
  4. Cari tahu lebih banyak lagi informasi tentang crisis center di dekat Anda. Bahkan jika tertarik, Anda bisa menjadi sukarelawan atau mengambil kelas tentang perlindungan anak dan etikanya.

Saya yakin kita semua punya niat baik dan ingin melindungi anak dari kekerasan. Ayo, kita gabungkan niat baik kita dengan praktik yang baik dan melindungi anak.

Sadari apa peran dan kemampuan kita, dan jangan sampai melakukan sesuatu di luar kapasitas. Jangan sampai kita blunder dan memperburuk keadaan.

sumber artikel : 1. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42928417 2. https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html