Monthly Archives: November 2019

Lindungi Anak Dari Gadaikan Hidup Untuk Gadget dan Game Online

sumber gambar : https://img.harianjogja.com/posts/2018/07/23/929517/hl.jpg

Membicarakan mengenai kecanduan gadget dan game online memang tidak akan ada habisnya. Namun inilah perhatian pentingnya, karena masalah kecanduan gadget dan game online sudah kian memprihatinkan. Semakin hari makin banyak gadget – gadget baru bermunculan dengan beragam spesifikasi tinggi namun harga murah, game – game online kian mengembangkan inovasi gamenya agar lebih dinikmati oleh kalangan masyarakat.

Kita sebagai bangsa yang yang sedang berkembang wajib untuk selalu waspada karena kecenderungannya adalah mudah kagum dan kaget terhadap perkembangan teknologi baru terutama gadget dan game online. Dan parahnya kita akan jadi mangsa besar bagi para pelaku usaha gadget dan game online untuk memperbesar pundi – pundi kekayaannya.

Tanpa kita sadari telah banyak dari kalangan masyarakat yang telah terjebak dalam kecanduan gadget dan terutama anak – anak . Sekarang banyak dari anak – anak lebih menghabiskan hari harinya hanya bersama gadget, tidak pernah keluar rumah mengurung diri dalam kesendirian yang membahagiakan. Bagi angkatan kelahiran 90-an akan sangat bosan jika berada di dalam rumah terus tetapi sebaliknya di jaman sekarang.

Begitu memprihatinkan, bagaimana banyak yang hilang dari masa – masa anak – anak yang seharusnya belajar berinteraksi sosial dengan linngkungan sekitar, berinteaksi sosial dengan alam yang mana akan berguna sebagai bekal hidup di masa depan. Dan sepertinya dari kebanyakan orang tua milenial malah seperti menikmati saja perkembangan teknologi sekarang tanpa mengeksplore lebih dalam tentang banyak dampak negatif maupun positifnya.

Bahkan sekarang sudah hal biasa jika ada kasus seorang anak yang kecanduan gadget harus dirawat di Rumah Sakit entah karena gangguan mental, atau gangguan penyakit akibat radiasi dari layar gadget. Bagi kita yang mendengarkan berita itu pasti sudah tidak akan kaget seperti sudah menjadi tren saat ini.

Yang lebih mengerikan sudah keluar beberapa artikel yang memberitakan tentang remaja yang mengakhiri hidupnya hanya karena ditegur untuk berhenti bermain game, sungguh kalo kita resapi dalam – dalam masalah kecanduan gadget dan game online sudah bukan lagi masalah yang bisa dianggap sepele. Perlu adanya perombakan sistem dari pemerintah dan peran seluruh masyarakat tentang masalah kecanduan gadget dam game online ini, bahkan kalo perlu ada Undang – Undang yang mengatur tentang penggunaan gadget dan memainkan game online pada anak – anak dan remaja. Karena mereka generasi muda adalah aset untuk masa depan bangsa.

Mungkin langkah awal yang bisa kita lakukkan saat ini adalah dilingkungan keluarga terutama peran orang tua dalam memberikan pola asuhnya dan filter terhadap dampak negatif perkembangan teknologi. Sempatkanlah untuk memberikan edukasi penting mengenai dampak negatif dan positif perkembangan teknologi, sempatkanlah untuk bincang – bincang santai dengan anak – anak mengenai masalah pribadinya, sempatkanlah untuk bermain bersama,suruhlah anak – anak untuk ikut bersosialisasi dilingkungan masyarakat misal kalo masih anak – anak ikutkan kegiatan TPQ ( Mengaji ) kalo sudah remaja ikutkan sebagai anggota karang taruna atau remaja masjid dan kegiatan keluarga lainnya yang bisa menjadi filter dan juga pengalih untuk menjadi kegiatan yang lebih positif.

Saya pernah mendengar perkataan dari seorang psikolog “Kita sebagai orang tua kadang hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita inginkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua bagi anak – anak mereka kelak”

Jangan sampai geneasi muda masa depan bangsa ini pelan – pelan kropos akhlaknya, kropos sosialnya, kropos kemanusiaannya karena perkembangan teknologi yang tidak terfilter.

Salam dari Bim

Mencegah Anak dari Kecanduan Gadget

sumber gambar : http://www.inhilklik.com/assets/berita/original/48258911399-candu_game.png

Jaman semakin maju dan berkembang maka segala yang ada didalamnya pun juga akan mengikutinya seperti halnya pola pengasuhan orang tua terhadapa anak pasti akan sangat berbeda jauh dengan tahun di era 90-an yang cenderung keras dan tegas.

Berbeda dengan pola asuh orang tua terhadap anak yang terjadi di jaman yang maju dan berkembang ini sekarang mereka jarang berbicara dengan anaknya karena dengan segala kesibukannya. Si Ayah sibuk dengan pekerjaan di kantor sedangkan si Ibu sibuk dengan online shop atau sibuk chatingan dengan grup – grup WA, dan si anak hanya menghabiskan hari – harinya dengan dibekali gadget oleh orang tua dan menikmati kesendiriannya.

Bagaimana mugkin didalam suatu keluarga tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak – anaknya, dan itulah yang sering terjadi di jaman yang sudah maju dan berkembang. Dan pada akhirnya siapa yang menjadi korban ?? Ya anak.

Anak hanya akan berbicara kepada temannya yaitu gadget dan kesendiriannya dan lambat laun jika itu terjadi dalam jenjang waktu yang lama maka akan menimbulkan candu bagi anak. Karena anak sudah terbiasa tanpa orang tua dan hanya berbekal gadgetpun mereka merasa terhibur dan jika dibiarkan tambah lama lagi maka parahnya akan berdampak pada mental anak, banyak kasus anak yang dirawat intensif karena kecanduan gadget.

Salah satu tanda ketika gadget sudah berdampak pada mental anak yaitu saat anak merasa gelisah,resah dan suka marah marah sendiri ketika gadget tidak bersamanya satu hari bahkan satu jam pun tidak bersama gadget rasanya sudah tidak karuan

Lantas, bagaimana cara mencegah anak-anak agar terbebas dari kecanduan gadget? Berikut tipsnya:

1.Ciptakan quality time dengan buah hati.

Saat anak rewel, orangtua kerap memberi si kecil gadget agar anak tenang. Namun anak-anak, terutama balita, masih memiliki keterampilan kognitif yang belum sempurna. Pemrosesan informasi dari gadget terbukti kurang menguntungkan daripada interaksi aktual dengan orang tua. Balita dan proses kognitif simbolik anak-anak akan mendapat manfaat besar ketika ada orang dewasa yang menjelaskan dan berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan menjadi penerima informasi pasif. Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga akan meningkat ketika ada interaksi yang sebenarnya. Semakin banyak waktu bermakna yang kita habiskan dengan anak, semakin kecil waktu sang anak untuk terpapar dengan gadget. Menyediakan waktu khusus untuk sang anak dapat menciptakan ikatan yang lebih intim antara orangtua dan anak.

Untuk itu, daripada memberikan gadget untuk si kecil, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini bersama si buah hati: Baca buku bersama, Masak bersama, Mengobrol bersama sang anak , Berlibur dengan sang anak

Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak. Jadi, sediakanlah waktu khusus untuk si kecil sehingga anak kita tak melulu bermain dengan gadget.

2.Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

Agar sang anak terhindar dari kecanduan gadget, orangtua harus menetapkan batasan. Dengan cara ini, anak-anak akan lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka akan lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk menggunakan gadget dan kapan harus berhenti. Kita bisa menetapkan batasan penggunaan gadget pada anak dengan menggunakan aplikasi atau pengaturan gadget. Kita juga bisa mengunci koneksi internet dalam jangka waktu tertentu dan memberi si kecil jadwal khusus untuk bermain gadget. Anak-anak harus memiliki waktu interaksi dengan lingkungan sekitar untuk melatih perkembangan motorik halus mereka. Perkembangan sosial-emosional juga dapat meningkat ketika mereka bermain dengan teman sebayanya. Di sisi lain, banyak sekolah sekarang mengadaptasi teknologi sebagai bagian dari strategi pengajaran mereka. Kegiatan, kerja kolaboratif, dan bahkan penugasan menggunakan teknologi dan kehadiran online. Untuk itu, orangtua harus menerapkan batasan penggunaan gadget yang lebih bijaksana untuk anak-anak mereka.

3.Buat si kecil melakukan hal lain.

Mencegah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak bisa kita lakukan dengan cara lain untuk mengekspresikan diri dan menggunakannya waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih relevan dan lebih bermanfaat untuk si kecil. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan si kecil kegiatan seperti olahraga, kegiatan seni, pelajaran musik atau apapun yang menjauhkan snag anak dari gadget. Memiliki rutinitas atau jadwal kegiatan tertentun juga bisa membuat sang anak tidak terlalu aktif dengan gadget dan membuat mereka mampu melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas mereka.

sumber berita : Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/083000365/tips-mencegah-kecanduan-gadget-pada-anak?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Sari Hardiyanto

Memviralkan video kekerasan anak: Apa dampaknya bagi korban?

Marsha Habib ,Pekerja bidang perlindungan anak PUSKAPA

  • 3 Februari 2018

Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja melihat suatu video yang viral di media sosial. Dan, tidak, saya tidak akan menjadikan video itu lebih viral lagi dengan mencantumkan tautannya di sini.

Video itu menunjukkan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan mengenakan seragam sekolah. Dia tampak diinterogasi oleh orang-orang dewasa tentang luka dan memar yang ada di tubuhnya.

Beberapa orang dewasa kemudian membuka baju dan celana si anak, sembari menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya. Ketika ditanya siapa pelakunya, anak itu menjawab, “Bunda.”

Komentar-komentar orang dewasa di dalam video dan juga orang-orang di media sosial cukup seragam. Mereka mengutuk perbuatan itu, mengasihani si anak, dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Ini bukan kali pertama kita melihat video yang menunjukkan identitas anak sebagai korban kekerasan dengan jelas. Kasus ini bukan pula kasus kekerasan terhadap anak pertama yang kisahnya tersebar di dunia maya.

Harap diingat, kekerasan di sini bukan melulu terkait dengan kekerasan fisik. Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah tindakan atau praktik yang meliputi kekerasan fisik, seksual, emosional, penelantaran, dan eksploitasi.

Serba tidak tahu

Sebenarnya kalau kita pikirkan lagi, setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak, kita serba tidak tahu.

Kita tidak tahu apakah anak itu sudah dirujuk ke pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keterampilan untuk menangani kasus kekerasan pada anak. Kita juga tidak tahu siapa orang-orang dewasa yang menginterogasi, merekam, dan menyebarkan video itu.

Padahal, cara menangani yang salah justru bisa menimbulkan kembali kekerasan terhadap anak, membuat anak harus mengulang peristiwa traumatis tanpa dukungan konseling, dan tanpa kepastian akan adanya pertolongan yang memadai dan tepat.

Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi“.

Anda mungkin balik bertanya, “Loh, tapi kami sebarkan karena kami peduli. Masa peduli itu salah?”

Tentu peduli tidak salah. Tetapi mari kita coba membayangkan apa rasanya bila video kita yang sedemikian sensitif tersebar ke seluruh penjuru negeri ini.

Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol “share”.

Kita tidak tahu apa saja yang dapat menjadi faktor pemicu trauma anak tersebut. Sebaiknya kita pikirkan dengan matang sebelum menyebarkan informasi atau…melakukan apapun.

Mari kita terus belajar tentang isu kekerasan terhadap anak, apa saja bentuk-bentuknya, dan dampaknya bagi anak.

Kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah

Berdasarkan penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW), sebanyak 84% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Penelitian yang dirilis awal Maret tahun 2014 ini melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM yang terlibat. Penelitian dilakukan di Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Tingginya tingkat kekerasan di lingkungan sekolah Indonesia melampaui tren kekerasan di lingkungan pendidikan di kawasan Asia, yaitu 70%.

Menanggapi data temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa jumlah tersebut sejatinya merupakan fenomena gunung es dan belum mewakili fakta kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan satuan pendidikan, apalagi kekerasan yang dialami anak sehari-hari.

Dugaan ini muncul karena tak semua kasus kekerasan didata, dilaporkan, dan ditangani oleh lembaga layanan, sehingga datanya belum dapat merepresentasikan tren nasional.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan yang keras diperlukan untuk membentuk generasi yang kuat dan ‘tahan banting’, timbul banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya tidak tahu apa yang beliau maksud dengan pendidikan keras dan generasi ‘tahan banting’. Saya juga ingin tahu rujukan beliau menghubungkan pendidikan keras dengan kualitas pendidikan.

Tetapi bisa kita bayangkan, anak akan menghabiskan paling tidak 10 tahun dari masa kanak-kanaknya di sekolah.

Oleh sebab itu, kita perlu terus mendorong pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapan sekolah untuk menjadi ruang yang aman bagi anak.

Misalnya, apakah disiplin positif sudah masuk ke dalam kurikulum ajar guru? Apakah kepekaan terhadap kepentingan anak sudah menjadi salah standar kualifikasi seseorang untuk bekerja di lingkungan sekolah?

Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang tidak aman bagi murid-muridnya. Dan jangan sampai sekolah tidak tahu atau melakukan tindakan yang salah terhadap muridnya yang menjadi korban kekerasan.

Kita punya peran

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya institusi. Ada keluarga, pesantren, tempat les, dan masyarakat sekitar yang menentukan apakah anak dapat merasa aman.

Beberapa penelitian di Namibia, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang yang mereka kenal dekat. Data laporan dari KPAI juga menunjukkan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak juga terjadi di lingkungan keluarga/privat. Bisa jadi pelaku kekerasan berpendapat sama bahwa “anak perlu pendidikan yang keras agar bisa kuat” atau pandangan bahwa anak adalah ‘milik’ orangtua sehingga orangtua berhak melakukan berbagai hal pada anaknya.

Sebelum menyalahkan keluarga, kita perlu ingat bahwa keluarga tidak berdiri sendiri. Ada struktur-struktur di luarnya yang bisa menentukan kesejahteraan dan keselamatan anak di dalam keluarga.

Pemerintah dengan pelayanannya, misalnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk untuk melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Akan tetapi, menurut siaran pers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2016, dengan asumsi bahwa masalah perempuan dan anak tersebar di seluruh wilayah tanah air, dan setidaknya setiap wilayah provinsi dan kabupaten/kota memiliki minimal satu P2TP2A, masih ada 260 kabupaten/kota yang belum memiliki P2TP2A.

Untuk itu, ke depan, selain menambah jumlah P2TP2A, daerah juga perlu terus meningkatkan kualitas P2TP2A, baik dari fasilitas maupun SDM.

Pertanyaan saya adalah, apakah P2TP2A yang ada sudah sangat siap menangani semua laporan? Sudahkah mereka membangun jejaring sebanyak-banyaknya, seperti dengan psikolog anak, polisi, titik layanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang berketerampilan dalam menghadapi anak korban kekerasan?

Apakah kita punya cukup psikolog yang berpengalaman dalam menangani anak korban kekerasan? Apakah jajaran kepolisian cukup sensitif ketika menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak?

Apakah bidan di tiap desa bisa memberi layanan kesehatan yang tepat untuk anak korban kekerasan?

Bagaimana dengan pekerja sosial, apakah kita punya cukup pekerja sosial yang mampu menangani konflik kekerasan terhadap anak di dalam keluarga?

Sekarang, sebagian dari Anda mungkin sedang berpikir, “Itu kan pemerintah, bagaimana dengan saya sebagai anggota masyarakat?

Apa yang harus saya lakukan apabila menduga atau menghadapi anak yang menjadi korban kekerasan?

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa kok untuk berdiam sejenak dan memikirkan apa langkah yang harus diambil. Kita perlu menjadi seseorang yang lebih reflektif dibanding reaktif.

Sebagai anggota masyarakat, ada empat langkah yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Jangan menyebarkan identitas anak atau bentuk dokumentasinya ke orang yang tidak berwenang. Baik di media sosial, grup WhatsApp, atau media-media lainnya. Kalau ada yang membagikan tautan ke foto atau video anak korban kekerasan, pastikan tautan itu berhenti di Anda.
  2. Hubungi crisis center terdekat. Contohnya P2TP2A yang merupakan lembaga pemerintah, atau bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tanya ke pihak-pihak yang berwenang, apa yang harus Anda lakukan di situasi tersebut. Sebaiknya masing-masing dari kita mengetahui kontak informasi crisis center terdekat.
  3. Manfaatkan internet sebagai tempat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Sebarkan cerita si anak (tanpa menyebarkan foto atau identitas si anak) dan kontak rujukannya ke orang lain. Ingat, tujuan dari menyebarkan adalah untuk berbagi informasi tentang rujukan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan bila berada di situasi yang sama seperti Anda.
  4. Cari tahu lebih banyak lagi informasi tentang crisis center di dekat Anda. Bahkan jika tertarik, Anda bisa menjadi sukarelawan atau mengambil kelas tentang perlindungan anak dan etikanya.

Saya yakin kita semua punya niat baik dan ingin melindungi anak dari kekerasan. Ayo, kita gabungkan niat baik kita dengan praktik yang baik dan melindungi anak.

Sadari apa peran dan kemampuan kita, dan jangan sampai melakukan sesuatu di luar kapasitas. Jangan sampai kita blunder dan memperburuk keadaan.

sumber artikel : https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42928417

Terbukti, Balita yang Sering Pakai Gadget Berisiko Terlambat Bicara

Oleh Fauzan Budi Prasetya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri – Dokter Umum

sumber gambar : https://warasmedia.com/wp-content/uploads/2017/10/anak-mudah-pakai-gadget.jpg

Tak diragukan lagi, gadget (gawai) seperti smartphone dan tablet memang memiliki segudang manfaat bagi manusia, bahkan bagi anak kecil. Cukup banyak orangtua yang memberikan gadget kepada anaknya. Alasannya biasanya seperti hiburan yang aman karena anak hanya akan duduk diam sambil bermain atau menonton. Namun, apakah ada pengaruh gadget bagi perkembangan anak?

Segudang pengaruh gadget yang positif bagi anak

Pengaruh gadget bisa sangat baik terhadap kemampuan kognitif anak. Dibandingkan membaca atau melihat gambar pada buku, anak-anak lebih tertarik dengan gambar-gambar yang bergerak dan bersuara. Anak-anak bisa menonton video edukasi melalui berbagai aplikasi. Anak bisa melihat berbagai video seperti video tentang kehidupan hewan dan tumbuhan, video tentang benda-benda di luar angkasa, hingga video sejarah pada masa lalu. Selain itu, berbagai aplikasi seperti aplikasi kuis dan berbagai games edukatif sudah banyak sekali ditemukan pada smartphone.

Bahkan, gadget dengan mesin pencari akan menjadi guru yang hebat untuk membuka wawasannya. Ketika anak ingin mencari tahu mengenai sesuatu, dia tinggal mengetikkan kata kuncinya pada mesin pencari ribuan jawaban mengenai hal tersebut siap untuk dibuka.

Pengaruh gadget terhadap kemampuan bicara Anak

Namun di sisi lain, memberikan gadget kepada anak bisa berbalik arah jadi hal yang negatif. Salah satunya adalah gadget terbukti berpengaruh terhadap kemampuan bicara anak.

Seorang spesialis jiwa anak dan remaja, dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K) dalam sebuah diskusi media Rumah Sakit Pondok Indah pada Maret 2017 mengungkapkan bahwa pemberian gadget di bawah usia lima tahun akan mengurangi rangsangan pada interaksi sosialnya. dr. Gita menjelaskan lebih jauh kepada Viva, ini karena gadget tidak butuh respon anak, sehingga sulit untuk berinteraksi dan hal ini berdampak pada proses bicaranya.

Penelitian yang dipresentasikan di Pediatric Academic Societies Meeting di San Francisco menjelaskan hal ini. Catherine Birken, seorang dokter anak di Hospital for Sick Children in Toronto Kanada menemukan adanya hubungan antara penggunaan gadget dengan kemampuan bicara pada anak.

Dari tahun 2011 hingga 2015, Birken menanyakan kepada orangtua yang memiliki anak berumur 6 hingga 24 minggu, berapa lama mereka biasa diberikan waktu menonton lewat layar gadget.  Nah, 20 persen dari anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini menggunakan gadget paling tidak selama 28 menit setiap harinya.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa setiap tambahan 30 menit waktu yang digunakan untuk bermain gadget dapat meningkatkan risiko terlambat bicara atau speech delay hingga 49 persen. Sedangkan bentuk komunikasi lain seperti bahasa tubuh, emosi, hingga tatapan mata tidak terpengaruh.

Namun, Barken mengunggapkan bahwa riset lanjutan masih diperlukan, misalnya riset eksperimental untuk membuktikan pengaruhnya secara klinis. Namun, riset awalan ini dapat menjadi acuan ke depan bagi para orangtua dan tenaga kesehatan anak.

Studi lain yang dilakukan oleh University College London Inggris menemukan bahwa waktu yang digunakan di depan layar juga berpengaruh terhadap perkembangan otak. Studi tersebut menemukan bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk menonton gadget bisa menyebabkan berkurangnya waktu tidur hingga 16 menit. Padahal, tidur amat bermanfaat bagi otak anak, apalagi pada masa-masa perkembangan otak ketika perkembangan syaraf sedang bagus-bagusnya.

Pengaruh keterlambatan bicara pada kehidupan anak

Keterlambatan untuk mulai berbicara dapat membawa dampak lainnya. Jenny Radesky, seorang ahli dari University of Michigan Amerika Serikat, berpendapat bahwa ketika anak-anak tidak mampu mengekspresikan rasa frustasinya lewat kata-kata, mereka akan cenderung menggunakan gerakan tubuhnya atau suara lantang untuk menarik perhatian. Dengan kata lain, anak-anak akan terlihat tidak mampu mengontrol emosi.

Selain itu, keterlambatan berbicara bisa memengaruhi kemampuan akademis anak di sekolah nantinya. Kemampuan dalam memahami teks dan merangkai kata bukan hanya penting dalam pelajaran bahasa saja, namun bisa pada pelajaran lainnya seperti sains, matematika, seni, dan ilmu sosial.

Jadi apakah anak tidak boleh pegang gadget sama sekali?

Meski ada pengaruh gadget yang harus diwaspadai, Anda bisa menggunakan gadget sebagai media pembelajaran.

Untuk anak usia 18 bulan ke bawah, sebaiknya gadget hanya digunakan untuk video-chatting. Bila Anda ingin mengenalkan media digital, ini bisa Anda lakukan pada anak usia 18-24 bulan dengan menonton tayangan edukatif. Pastikan Anda menonton bersama anak dan menjelaskan apa yang ditonton agar anak paham betul mengenai apa yang ia tonton.

Pada anak usia 2-5 tahun, Anda dapat membiarkan anak untuk menggunakan gadget maksimal satu jam per hari. Orang tua harus menggunakan gadget bersama anak dan menjelaskan mengenai apa yang ditampilkan serta menerapkan apa yang didapat dari tayangan tersebut ke dunia sekitar.

Jadi, pada usia 5 tahun ke bawah, jangan biarkan anak asyik sendiri dengan gadget. Gunakanlah gadget seperti layaknya buku. Pegang gadget dan duduklah Anda di samping anak Anda sambil bercerita atau menjelaskan mengenai gambar yang ada di layar. Berinteraksilah bersama anak ketika sedang melakukan ini.

Untuk anak usia 6 tahun ke atas, Anda tidak perlu selalu berada di sisi anak ketika menggunakan gadget. Namun, Anda harus sadar bahwa ada banyak media pembelajaran lainnya di luar sana. Misalnya pergi ke kebun binatang atau tempat rekreasi lainnya yang bisa membuat anak lebih aktif bergerak dan berinteraksi dibandingkan menggunakan gadget.

Selain itu, untuk mencegah pengaruh gadget yang negatif, tentukan durasi pemakaian gadget yang konsisten dan pastikan penggunaan gadget tidak mengganggu waktu tidur, waktu bermain atau beraktivitas fisik, dan kegiatan lainnya yang penting untuk kesehatan.

sumber artikel : https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/pengaruh-gadget-bicara-anak/

Direview tanggal: September 26, 2017 | Terakhir Diedit: September 14, 2017

SALAH SATU CITA CITAKU

Kantor Peduli Sahabat awalnya ada di BSD Kencanaloka Tangerang, sebab gedung di BSD mau dipakai pemiliknya maka kita memutuskan pindah. Waktu itu ada beberapa penawaran tempat bagi kami tapi akhirnya pilihan jatuh di rumah salah satu klien PS di Cibinong Griya Asri.

Klien kami ini, inisialnya R, sejak SMP kelas VII mogok sekolah karena mengalami bullying (perundungan). Di rumah kesepian akhirnya kecanduan game dan sekarang mencapai tingkat maniak.

Sholat tidak mau, berinteraksi dengan masyarakat malu, berhari-hari kadang tidak mandi, tidak sikat gigi, dan tentu saja main game melulu sudah kayak robot. keluar kamar kalau ingin ke WC atau makan habis itu tenggelam dalam kesunyian bersama game-game yang disukai sampai laptopnya panas dan mobo kebakar. dari laptop ganti ke ponsel.
jangan tanya soal doa mau tidur, bangun tidur atau masuk WC, yah kalau mau tidur ya molor saja kagak pakai aba-aba.

Sudah ditanyakan ke psikolog tidak mempan, malah psikolognya bingung mau ngapain.
Dicarikan guru dan pelatih juga enggan, pokoknya nggak mau diapa-apain dah. Ibundanya bingung tujung keliling.

Suati hari saya dihubungi kak Jumiatun Diniah untuk membantunya, pas datang mau salaman saja ditolak tangan saya oleh dik R.
Ya sudah saya buka laptop dan main di sebelahnya, main game Lost Saga wkekekeke.
Terus saya tanya password wifinya, dia jawab.
Terus saya selidiki kenapa gak mau sekolah, dia jawab.
Pas mau pulang, eh dia cium tangan saya hihihih, kalau di koran Republika saya dijuluki Penakluk L*BT maka di sini kali saya penakluk para maniak game. Dik R bertambah percaya kepada saya setelah tahu saya mantan maniak game.

Ibu dik R menawari saya sejumlah gaji untuk selalu menemani putranya tapi saya tidak sanggup, bukan soal uangnya tapi saya tidak ada waktu. Saya hanya berjanji (dan saya tepati lo ya, saya tepati janji-janji saya) bahwa akan sesekali mampir ke rumah buat memantu perkembangan dik R.

Dik R yang awalnya hanya mau belajar kepada saya, sekarang sudah ikut homeschooling dan besok tgl 22 April akan test ujian kelas IX SMP, mohon doanya ya supaya lulus lancar.
Sedikit demi sedikit mau menurunkan berat badan, kadang mau sholat walau tidak bisa diprediksi, dan tentunya sudah sering mandi.

Barusan saya telpon ibundanya, katanya dik R mencari saya karena akan ujian pekan depan tersebut. Insyaa Allah Senin besok saya kan mampir ke rumahnya setelah syuting iklan buku dengan GIP.

Adik R hanyalah salah satu klein yang saya tangani, masih banyak yang lain di berbagai tempat sayangnya tangan saya hanya dua sehingga saya hanya sanggup melayani lewat telpon saja atau ketemu sekali dua kali.

Jika saja sultan Brunei mau mendanai, saya ingin membuat pusat rehabilitasi para maniak game/gadget dan pornografi, sistemnya sudah ada di otak saya tinggal diejawantahkan dalam bentuk nyata.
Sayangnya kapan saya bisa ketemu Sultan ya, mau ketemu capres saja susah… #eh

Sinyo – Peduli Sahabat