Daily Archives: October 24, 2019

Jika saja ‘Joker’ Tahu Tentang Kisah Para Nabi

sumber gambar : https://esqnews.id/uploads/images/5d9f027b40fc6.jpg

Perbincangan mengenai sebuah film memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat dan penikmat film dalam hal ini adalah film JOKER yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Mengapa demikian ?

Dari kesekian banyak film yang telah saya lihat memang kalau kita telaah dalam – dalam ada sebuah pesan tersirat yang sangat mendalam dari film tersebut. Salah satunya bagaimana kerja keras seorang Joker untuk menjadi komedian terkenal dengan bekerja disebuah agensi dan merias wajahnya layaknya seorang badut untuk menghibur orang. Tak jarang dia akan dibulli habis – habisan oleh banyak orang dan menjadi bahan tertawaan. Tapi karena pesan Ibunya untuk selalu tersenyum, dia selalu berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Namun dibalik itu semua tersimpan rasa tertekan yang sangat mendalam di dalam hatinnya yang berujung dendam terhadap orang orang yang pernah membullinya, bahkan ia tidak ragu melakukan tindakan kriminalitas kepada para pembullinya untuk melampiaskan apa yang yang telah ia tahan selam ini.

Dan yang menarik dari film ini, terdapat sebuah tagline “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti.” benarkah statemen demikian jika kita terapkan dalam kehidupan nyata. Tentu akan banyak pro dan kontra jika kita terapkan statemen demikian di dalam kehidupan nyata

Namun jika kita seorang muslim mungkin pernyataan mengenai “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti ” itu tidak mesti terjadi, tak selalu orang baik akan menjadi jahat jika ia disepelekan,dimanfaatkan ataupun dibulli habis habisan. Karena kita sebagai seorang muslim selalu diajarkan untuk memaafkan masalah bagaimana tentang orang yang telah mendzolimi kita ?. Sepenuhnya, mari kita serahkan kepada hakim yang maha adil yaitu ALLAH.

Dan juga kita sebagai umat muslim patut untuk menengok sejarah bagaiman perjuangan para Nabi,Rasul, dan para pejuang muslim untuk menyebarkan agama ISLAM di dunia ini apakah mereka mendapat respon yang baik. Tentunya juga tidak, mereka juga mendapatkan kedzoliman dari kaum yang menentang ISLAM bahkan tak jarang ada yang sampai dibunuh atau terbunuh dalam memperjuangkan ISLAM. Tetapi apa yang mereka lakukan ? Mereka tetap sabar dan istiqomah juga memafkan para kaum yang menentang ISLAM bahkan mereka malah mendoakan para kaum yang menentang ISLAM agar segera diberi hidayah oleh ALLAh untuk segera bertaubat dan memeluk agama ALLAH yaitu ISLAM

Banyak kisah para Nabi dan Rasul yang sepanjang hidupnya tersakiti, tapi toh mereka bisa tetap menjadi orang baik dan bahkan suri tauladan bagi umat manusia. 

Mulai dari Nabi Ibrahim AS yang dibakar hidup-hidup, Nabi Yusuf AS yang jadi korban kedengkian saudara-saudaranya sendiri, Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS yang dibuli dan dijahati masyarakatnya. Hingga Nabi Muhammad SAW, yang dijahati sepanjang masa dakwahnya. 

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kejahatan tak selamanya mengubah orang baik jadi jahat. 

“Pertama yang pasti Nabi yang kita tahu perjuangan hidupnya itu adalah orang-orang spesial yang memang dijaga Allah dari akhlak tercela. Mereka terjaga dari fitnah,” kata Yeni Cerahmawarti, SPd, konsultan keluarga dan parenting dari Rumah Keluarga Indonesia  (RKI) Kota Bekasi. Yeni yang sering menjadi narasumber tentang pendidikan dan parenting dalam berbagai kesempatan.

Jika menengok kisah para Nabi, pasti kita juga akan menemukan bagaimana mereka memiliki beberapa orang dewasa sangat menyayangi mereka yang mengajarkan tentang akhlak mulia sejak kanak-kanak. 

“Bonding yang kuat dengan sosok yang mengajarkan kebajikan ini akan tertanam lama di bawah alam bawah sadar. Maka ketika para Nabi ini mendapat cobaan, misalnya Nabi Yusuf AS saat digoda Zulaikha yang teringat adalah pesan ayahandanya,” kata Yeni.

Sementara dalam kisah Joker, dia tak memiliki sosok sebagai panutan dalam masa perkembangannya. Lebih jauh dia tak punya ‘bonding’ yang kuat dengan seseorang yang tulus mencintainya. 

“Sepemahaman saya kisah Joker ini adalah kisah anak dengan kepribadian yang pecah. Ini bisa terjadi pada anak korban bullying berat yang tak tertangani. Sehingga dia tak tahu mana yang nyata dan mana yang halusinasi,” kata Yeni. “Kesedihannya terlalu dalam di luar ambang batas kemanusiaan. Dari segi pengasuhan memang bisa jadinya seperti itu.” 

Namun Yeni menggarisbawahi fakta lapangan yang menyatakan korban bullying tak mesti berakhir seperti Joker yang jadi pelaku kejahatan. 

Dengan bimbingan yang tepat, semua tergantung pada korban bullying sendiri dalam memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya. “Ya, bisa berpotensi memunculkan dendam, tapi juga bisa diarahkan untuk potensi mendewasakan si korban. Dalam arti jika dia bisa memaafkan pelaku dan move on menjalani hidup.” 

Yeni mencatat, selain para Nabi yang memang sudah dijamin penjagaan akhlaknya, banyak korban bullying yang bisa ‘survive’ dan malah menjadi relawan untuk menolong korban-korban lain. “Biasanya korban seperti ini sudah mencapai tingkat kesadarannya bahwa perilaku bullying yang pernah dialami itu bukan kesalahannya sendiri, tapi takdir yang memang terjadi dan mau tak mau harus diterima.” 

Yeni mengutip ucapan Ustadz Bendri Jaisyurahman yang mengatakan seorang anak termasuk korban bullying yang bisa disebut Mandiri. Yakni jika anak tersebut bisa mengatasi tiga hal berdasarkan kisah Nabi Yusuf AS. “Anak bisa mengatasi syahwatnya, bisa mengatasi ujian hidup dan terakhir bisa memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim padanya,” kata Yeni.

sumber artikel : http://www.moeslimchoice.com/read/2019/10/23/28174/andai-%E2%80%98joker%E2%80%99-belajar-tentang-kisah-para-nabi RABU, 23 OKTOBER 2019 | 01:30 WIB

HATI HATI !!! Pedofilia Bersembunyi di Balik Keramahan

sumber gambar : https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/pedo.jpg

Fenomena pedofilia memang menjadi pecutan keras bagi kita bangsa Indonesia yang kian hari makin gencar melakukan aksinya. Dan jika dilihat dari gelagatnya, mereka nampak seperti orang biasa saja bahkan mereka sering dianggap orang baik. Tetapi dibalik semua itu kita kadang tidak pernah menyadari jika ternyata ada sisi gelap yang tidak disangka sangka.

Karena tanpa kita sadari pelaku pedofilia berada disekitar kita mungkin dari teman,tetangga bahkan ada pula yang dari keluarga. Kita pun tidak pernah tahu kapan pelaku pedofilia akan melakukan aksinya. Maka dari itu di era sekarang kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar dan khususnya bagi orang tua untuk lebih ekstra saat mengawasi anak – anak ketika berada di luar jangkauan orang tua atau saat bertemu dengan orang tak dikenal. Karena para pelaku pedofilia sangat mahir menyembunyikan gelagat mereka dengan kebaikan – kebaikan yang mereka berikan atau bahkan ancaman secara tidak sadar.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pedofilia terus terjadi di Indonesia, ada kemungkinan erat kaitannya dengan fenomena gunung es .

“Tukang Tambal Ban di Majalengka Pemangsa Anak Kecil.” Ini judul berita di “Tagar” (7 Oktober 2019). Sepintas berita ini biasa saja sebagai berita kriminalitas di media, dalam hal ini media online.

Berita tsb. juga hanya menceritakan sekilas awal kejadian sampai ke polisi. Lagi-lagi berita ini tidak menunjukkan apakah ada sesuatu di balik kejadian itu. Kasus-kasus kriminalitas, seperti pencurian, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dll. jadi salah satu topik di media massa.

Bak Dewa

Banyak berita kriminalitas, seperti berita yang terjadi di Majalengka, Jawa Barat (sekitar 187 km arah timur laut Kota Bandung), tidak memberikan gambaran riil tentang latar belakangan perisitiwa dari aspek seksualitas.

Padahal, pelaku ES, 52 tahun, melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak perempuan berumur 9 tahun. Dari aspek seksualitas perilaku ES merupakan bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan seksual dengan cara yang lain. Terkait dengan perbuatan ES ini perilaku itu disebut pedofilia yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan dorongan seksual dengan anak-anak umur 7 – 12 tahun.

Kasus-kasus pedofilia yang ditangani polisi tidak menggambarkan kejadian riil di masyarakat karena berbagai alasan, misalnya, keluarga malu. Itu artinya kasus pedofilia seperti fenomena gunung es. Kasus yang ditangani polisi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Pelaku pedofilia sering berlaku seperti ‘dewa’, misalnya, mereka jadi orang tua angkat, jadikan anak sebagai keponakan angkat, bahkan jadikan korban sebagai istri melalui prosedur perkawinan.

Banyak orang yang tidak memahami gelagat pedofilia karena kemampuan mereka menyebunyikan orientasi seksual sebagai parafilia. Di salah satu daerah tujuan wisata (DTW), misalnya, pedofilia menawarkan kurus bahasa asing gratis. Lalu membantu orang tua anak-anak yang akan dijadikan sasaran secara ekonomi.

Maka, tidaklah pemandangan yang aneh bagi masyarakat jika di sebuah rumah ada kulkas tapi tidak ada aliran listrik. Ada pula mobil di garasi sedangkan jalan ke rumah itu hanya jalan setapak.

Sebelum Filipina menerapkan suntik mati bagi pelaku pedofilia negara itu jadi sorga bagi pedofilia. Tapi, setelah ancaman hukuman suntik mati itu kalangan pedeofilia mencari negara lain, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Imigrasi Bali, misalnya, tahun 2017 saja menangkal 107 terduga pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau pedofilia, 92 di antaranya berasal dari Australia, masuk ke Bali (BBC News Indonesia, 14 Juli 2017). Ini menunjukkan Indonesia jadi sasaran pedofilia.

Jaringan Internasional

Australia membuat UU yang tidak memberikan paspor kepada pelaku pedofilia. Ada 20.000 waga Australia dalam daftar pelaku kejahatan seksual pada anak. Seperti diberitakan “BBC” tujuan pencekalan itu untuk menghentikan warga negara Australia yang berencana melakukan aksi pedofilia di negara-negara Asia Tenggara.

Catatan penulis menunjukkan kasus pedofilia yang ditangani polisi sekitar 70-an. Tapi, ini erat kaitannya dengan fenonema gunung es tadi. Di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, misalnya, ada seorang anak laki-laki umur 9 tahun yang diopname. Anak ini jadi anak angkat salah seorang kerabat. Ada dugaan terjadi pelecehan seksual, tapi pihak rumah sakit memilih diam.

Dilaporkan oleh pemerintah Australia, pada 2016 hampir 800 orang dari 20.000 yang masuk dalam daftar pelaku pedeofila meninggalkan Australia dan hampir 40 persen dari mereka melakukan kejahatan seksual terhadap anak di bawah usia 13 tahun.

Interpol menyelamatkan 50 anak dari cengkeraman pedofilia di Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Seperti diberitakan “BBC News Indonesia”, 24 Mei 2019, kasus itu terkait dengan jaringan pedofilia internasional. Penyelidikan dimulai tahun 2017 dan difokuskan terhadap sebuah situs “web gelap” tersembunyi dengan 63.000 pengguna di seluruh dunia.

Cuma, ada baiknya tidak hanya memikirkan pelaku pedofilia asing, khususnya dari Australia, karena pelaku pedeofilia warga Indonesia sendiri tidak sedikit. Sejauh ini belum ada survei atau penelitian mengapa banyak kasus pedofilia terjadi di Indonesia.

Ancaman hukuman pidana sudah berat sesuai dengan Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman sampai mati dan kebiri kimia.

Persoalannya kemudian adalah banyak keluarga yang memilih mendiamkan kasus agar tidak malu sehingga banyak dark number yaitu kasus yang tidak dilaporkan. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru menyalahkan korban.

Bahkan, polisi dan media sering memberikan ‘panggung’ kepada pelaku kejahatan seksual untuk membela diri. Misalnya, pelaku mengatakan dulu pernah jadi korban. Ada lagi pelaku yang mengatakan karena terpengaruh miras dan video porno.

Ini akan jadi keuntungan bagi pelaku pedofilia. Apalagi ada kasus di salah satu DTW yang justru menempatkan pedofilia sebagai ‘dewa’ karena menarik warga dari kemiskinan dengan berbagai bentuk bantuan.

sumber berita : https://www.tagar.id/pelaku-pedofilia-bersembunyi-di-balik-keramahan Oleh: Syaiful W. Harahap, 7 Oktober 2019 16.04 WIB