Monthly Archives: October 2019

Jika saja ‘Joker’ Tahu Tentang Kisah Para Nabi

sumber gambar : https://esqnews.id/uploads/images/5d9f027b40fc6.jpg

Perbincangan mengenai sebuah film memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat dan penikmat film dalam hal ini adalah film JOKER yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Mengapa demikian ?

Dari kesekian banyak film yang telah saya lihat memang kalau kita telaah dalam – dalam ada sebuah pesan tersirat yang sangat mendalam dari film tersebut. Salah satunya bagaimana kerja keras seorang Joker untuk menjadi komedian terkenal dengan bekerja disebuah agensi dan merias wajahnya layaknya seorang badut untuk menghibur orang. Tak jarang dia akan dibulli habis – habisan oleh banyak orang dan menjadi bahan tertawaan. Tapi karena pesan Ibunya untuk selalu tersenyum, dia selalu berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Namun dibalik itu semua tersimpan rasa tertekan yang sangat mendalam di dalam hatinnya yang berujung dendam terhadap orang orang yang pernah membullinya, bahkan ia tidak ragu melakukan tindakan kriminalitas kepada para pembullinya untuk melampiaskan apa yang yang telah ia tahan selam ini.

Dan yang menarik dari film ini, terdapat sebuah tagline “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti.” benarkah statemen demikian jika kita terapkan dalam kehidupan nyata. Tentu akan banyak pro dan kontra jika kita terapkan statemen demikian di dalam kehidupan nyata

Namun jika kita seorang muslim mungkin pernyataan mengenai “Bahwa Orang jahat adalah adalah orang baik yang tersakiti ” itu tidak mesti terjadi, tak selalu orang baik akan menjadi jahat jika ia disepelekan,dimanfaatkan ataupun dibulli habis habisan. Karena kita sebagai seorang muslim selalu diajarkan untuk memaafkan masalah bagaimana tentang orang yang telah mendzolimi kita ?. Sepenuhnya, mari kita serahkan kepada hakim yang maha adil yaitu ALLAH.

Dan juga kita sebagai umat muslim patut untuk menengok sejarah bagaiman perjuangan para Nabi,Rasul, dan para pejuang muslim untuk menyebarkan agama ISLAM di dunia ini apakah mereka mendapat respon yang baik. Tentunya juga tidak, mereka juga mendapatkan kedzoliman dari kaum yang menentang ISLAM bahkan tak jarang ada yang sampai dibunuh atau terbunuh dalam memperjuangkan ISLAM. Tetapi apa yang mereka lakukan ? Mereka tetap sabar dan istiqomah juga memafkan para kaum yang menentang ISLAM bahkan mereka malah mendoakan para kaum yang menentang ISLAM agar segera diberi hidayah oleh ALLAh untuk segera bertaubat dan memeluk agama ALLAH yaitu ISLAM

Banyak kisah para Nabi dan Rasul yang sepanjang hidupnya tersakiti, tapi toh mereka bisa tetap menjadi orang baik dan bahkan suri tauladan bagi umat manusia. 

Mulai dari Nabi Ibrahim AS yang dibakar hidup-hidup, Nabi Yusuf AS yang jadi korban kedengkian saudara-saudaranya sendiri, Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS yang dibuli dan dijahati masyarakatnya. Hingga Nabi Muhammad SAW, yang dijahati sepanjang masa dakwahnya. 

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kejahatan tak selamanya mengubah orang baik jadi jahat. 

“Pertama yang pasti Nabi yang kita tahu perjuangan hidupnya itu adalah orang-orang spesial yang memang dijaga Allah dari akhlak tercela. Mereka terjaga dari fitnah,” kata Yeni Cerahmawarti, SPd, konsultan keluarga dan parenting dari Rumah Keluarga Indonesia  (RKI) Kota Bekasi. Yeni yang sering menjadi narasumber tentang pendidikan dan parenting dalam berbagai kesempatan.

Jika menengok kisah para Nabi, pasti kita juga akan menemukan bagaimana mereka memiliki beberapa orang dewasa sangat menyayangi mereka yang mengajarkan tentang akhlak mulia sejak kanak-kanak. 

“Bonding yang kuat dengan sosok yang mengajarkan kebajikan ini akan tertanam lama di bawah alam bawah sadar. Maka ketika para Nabi ini mendapat cobaan, misalnya Nabi Yusuf AS saat digoda Zulaikha yang teringat adalah pesan ayahandanya,” kata Yeni.

Sementara dalam kisah Joker, dia tak memiliki sosok sebagai panutan dalam masa perkembangannya. Lebih jauh dia tak punya ‘bonding’ yang kuat dengan seseorang yang tulus mencintainya. 

“Sepemahaman saya kisah Joker ini adalah kisah anak dengan kepribadian yang pecah. Ini bisa terjadi pada anak korban bullying berat yang tak tertangani. Sehingga dia tak tahu mana yang nyata dan mana yang halusinasi,” kata Yeni. “Kesedihannya terlalu dalam di luar ambang batas kemanusiaan. Dari segi pengasuhan memang bisa jadinya seperti itu.” 

Namun Yeni menggarisbawahi fakta lapangan yang menyatakan korban bullying tak mesti berakhir seperti Joker yang jadi pelaku kejahatan. 

Dengan bimbingan yang tepat, semua tergantung pada korban bullying sendiri dalam memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya. “Ya, bisa berpotensi memunculkan dendam, tapi juga bisa diarahkan untuk potensi mendewasakan si korban. Dalam arti jika dia bisa memaafkan pelaku dan move on menjalani hidup.” 

Yeni mencatat, selain para Nabi yang memang sudah dijamin penjagaan akhlaknya, banyak korban bullying yang bisa ‘survive’ dan malah menjadi relawan untuk menolong korban-korban lain. “Biasanya korban seperti ini sudah mencapai tingkat kesadarannya bahwa perilaku bullying yang pernah dialami itu bukan kesalahannya sendiri, tapi takdir yang memang terjadi dan mau tak mau harus diterima.” 

Yeni mengutip ucapan Ustadz Bendri Jaisyurahman yang mengatakan seorang anak termasuk korban bullying yang bisa disebut Mandiri. Yakni jika anak tersebut bisa mengatasi tiga hal berdasarkan kisah Nabi Yusuf AS. “Anak bisa mengatasi syahwatnya, bisa mengatasi ujian hidup dan terakhir bisa memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim padanya,” kata Yeni.

sumber artikel : http://www.moeslimchoice.com/read/2019/10/23/28174/andai-%E2%80%98joker%E2%80%99-belajar-tentang-kisah-para-nabi RABU, 23 OKTOBER 2019 | 01:30 WIB

HATI HATI !!! Pedofilia Bersembunyi di Balik Keramahan

sumber gambar : https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/pedo.jpg

Fenomena pedofilia memang menjadi pecutan keras bagi kita bangsa Indonesia yang kian hari makin gencar melakukan aksinya. Dan jika dilihat dari gelagatnya, mereka nampak seperti orang biasa saja bahkan mereka sering dianggap orang baik. Tetapi dibalik semua itu kita kadang tidak pernah menyadari jika ternyata ada sisi gelap yang tidak disangka sangka.

Karena tanpa kita sadari pelaku pedofilia berada disekitar kita mungkin dari teman,tetangga bahkan ada pula yang dari keluarga. Kita pun tidak pernah tahu kapan pelaku pedofilia akan melakukan aksinya. Maka dari itu di era sekarang kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar dan khususnya bagi orang tua untuk lebih ekstra saat mengawasi anak – anak ketika berada di luar jangkauan orang tua atau saat bertemu dengan orang tak dikenal. Karena para pelaku pedofilia sangat mahir menyembunyikan gelagat mereka dengan kebaikan – kebaikan yang mereka berikan atau bahkan ancaman secara tidak sadar.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pedofilia terus terjadi di Indonesia, ada kemungkinan erat kaitannya dengan fenomena gunung es .

“Tukang Tambal Ban di Majalengka Pemangsa Anak Kecil.” Ini judul berita di “Tagar” (7 Oktober 2019). Sepintas berita ini biasa saja sebagai berita kriminalitas di media, dalam hal ini media online.

Berita tsb. juga hanya menceritakan sekilas awal kejadian sampai ke polisi. Lagi-lagi berita ini tidak menunjukkan apakah ada sesuatu di balik kejadian itu. Kasus-kasus kriminalitas, seperti pencurian, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dll. jadi salah satu topik di media massa.

Bak Dewa

Banyak berita kriminalitas, seperti berita yang terjadi di Majalengka, Jawa Barat (sekitar 187 km arah timur laut Kota Bandung), tidak memberikan gambaran riil tentang latar belakangan perisitiwa dari aspek seksualitas.

Padahal, pelaku ES, 52 tahun, melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak perempuan berumur 9 tahun. Dari aspek seksualitas perilaku ES merupakan bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan seksual dengan cara yang lain. Terkait dengan perbuatan ES ini perilaku itu disebut pedofilia yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan dorongan seksual dengan anak-anak umur 7 – 12 tahun.

Kasus-kasus pedofilia yang ditangani polisi tidak menggambarkan kejadian riil di masyarakat karena berbagai alasan, misalnya, keluarga malu. Itu artinya kasus pedofilia seperti fenomena gunung es. Kasus yang ditangani polisi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Pelaku pedofilia sering berlaku seperti ‘dewa’, misalnya, mereka jadi orang tua angkat, jadikan anak sebagai keponakan angkat, bahkan jadikan korban sebagai istri melalui prosedur perkawinan.

Banyak orang yang tidak memahami gelagat pedofilia karena kemampuan mereka menyebunyikan orientasi seksual sebagai parafilia. Di salah satu daerah tujuan wisata (DTW), misalnya, pedofilia menawarkan kurus bahasa asing gratis. Lalu membantu orang tua anak-anak yang akan dijadikan sasaran secara ekonomi.

Maka, tidaklah pemandangan yang aneh bagi masyarakat jika di sebuah rumah ada kulkas tapi tidak ada aliran listrik. Ada pula mobil di garasi sedangkan jalan ke rumah itu hanya jalan setapak.

Sebelum Filipina menerapkan suntik mati bagi pelaku pedofilia negara itu jadi sorga bagi pedofilia. Tapi, setelah ancaman hukuman suntik mati itu kalangan pedeofilia mencari negara lain, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Imigrasi Bali, misalnya, tahun 2017 saja menangkal 107 terduga pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau pedofilia, 92 di antaranya berasal dari Australia, masuk ke Bali (BBC News Indonesia, 14 Juli 2017). Ini menunjukkan Indonesia jadi sasaran pedofilia.

Jaringan Internasional

Australia membuat UU yang tidak memberikan paspor kepada pelaku pedofilia. Ada 20.000 waga Australia dalam daftar pelaku kejahatan seksual pada anak. Seperti diberitakan “BBC” tujuan pencekalan itu untuk menghentikan warga negara Australia yang berencana melakukan aksi pedofilia di negara-negara Asia Tenggara.

Catatan penulis menunjukkan kasus pedofilia yang ditangani polisi sekitar 70-an. Tapi, ini erat kaitannya dengan fenonema gunung es tadi. Di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, misalnya, ada seorang anak laki-laki umur 9 tahun yang diopname. Anak ini jadi anak angkat salah seorang kerabat. Ada dugaan terjadi pelecehan seksual, tapi pihak rumah sakit memilih diam.

Dilaporkan oleh pemerintah Australia, pada 2016 hampir 800 orang dari 20.000 yang masuk dalam daftar pelaku pedeofila meninggalkan Australia dan hampir 40 persen dari mereka melakukan kejahatan seksual terhadap anak di bawah usia 13 tahun.

Interpol menyelamatkan 50 anak dari cengkeraman pedofilia di Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Seperti diberitakan “BBC News Indonesia”, 24 Mei 2019, kasus itu terkait dengan jaringan pedofilia internasional. Penyelidikan dimulai tahun 2017 dan difokuskan terhadap sebuah situs “web gelap” tersembunyi dengan 63.000 pengguna di seluruh dunia.

Cuma, ada baiknya tidak hanya memikirkan pelaku pedofilia asing, khususnya dari Australia, karena pelaku pedeofilia warga Indonesia sendiri tidak sedikit. Sejauh ini belum ada survei atau penelitian mengapa banyak kasus pedofilia terjadi di Indonesia.

Ancaman hukuman pidana sudah berat sesuai dengan Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman sampai mati dan kebiri kimia.

Persoalannya kemudian adalah banyak keluarga yang memilih mendiamkan kasus agar tidak malu sehingga banyak dark number yaitu kasus yang tidak dilaporkan. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru menyalahkan korban.

Bahkan, polisi dan media sering memberikan ‘panggung’ kepada pelaku kejahatan seksual untuk membela diri. Misalnya, pelaku mengatakan dulu pernah jadi korban. Ada lagi pelaku yang mengatakan karena terpengaruh miras dan video porno.

Ini akan jadi keuntungan bagi pelaku pedofilia. Apalagi ada kasus di salah satu DTW yang justru menempatkan pedofilia sebagai ‘dewa’ karena menarik warga dari kemiskinan dengan berbagai bentuk bantuan.

sumber berita : https://www.tagar.id/pelaku-pedofilia-bersembunyi-di-balik-keramahan Oleh: Syaiful W. Harahap, 7 Oktober 2019 16.04 WIB

50% Anak Kecanduan Pornografi, Perlindungan Anak Indonesia Terhadap Pornografi Cenderung Lambat

sumber gambar : https://serempak.id/wp-content/uploads/2016/10/SOCITE-Child-copy.jpg

Di era kemajuan teknologi pada saat ini, mudah bagi segenap kalangan masyarakan untuk mengetahui berbagai hal dan ilmu pengetahuan dengan hanya menggunakan internet.

Khusunya bagi anak – anak yang rentan terhadap pornografi yang sampai saat ini masih dapat bebas diakses dengan berbagai cara walaupun di search engine google indonesia tidak akan menampilkan pencarian yang mengandung kata – kata yang berkaitan dengan pornografi tapi dengan kecanggihan teknologi saat ini itu bukan menjadi masalah besar karena masih terdapat berbagai banyak cara lain yang masih tersebar luas di jagat maya untuk membuka situs pornografi.

Menteri Pemberdayaan Pe­rempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise, mengatakan Indone­sia termasuk terlambat dalam mengendalikan pornografi se­bagai dampak buruk perkem­bangan teknologi informasi.

Sementara itu, negara-ne­gara lain sudah lebih dulu me­lakukan antisipasi. Hasil dari antisipasi yang dilakukan ada­lah angka eksploitasi seksual anak secara daring di negara-negara tersebut menurun se­cara signifikan.

“Kita (Indonesia) tidak me­miliki konsep antisipasi sehing­ga perkembangan teknologi informasi susah kita atur. Di In­donesia, bayi saja sudah dike­nalkan dengan ponsel cerdas,” kata Yohana, saat pencanangan delapan desa/kelurahan bebas pornografi, di Jakarta, Selasa (3/9).

Yohana mengakui bahwa pornografi di belahan dunia mana pun menjadi masalah sehingga banyak negara yang berusaha melindungi anak-anaknya dari bahaya por­nografi. Anak yang kecanduan pornografi, sangat mungkin melakukan kekerasan seksual terhadap anak lainnya.

“Contoh sederhana tetapi membuat kita kaget adalah pelaku pencabulan sembilan anak di Mojokerto yang divo­nis hukuman tambahan kebiri kimia. Pelaku kecanduan por­nografi sehingga akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal tidak senonoh kepada anak yang usianya be­ragam,” tuturnya.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Nahar, menambahkan, penyebarluas­an pornografi yang semakin mudah melalui internet telah menjadi salah satu pemicu ke­kerasan seksual.

“Laporan yang masuk se­cara daring ke Kementerian PPPA mencapai 1.500 laporan. Dalam satu tahun ke belakang, angka kekerasan seksual juga masih tinggi. Satu dari 11 anak perempuan, dan satu dari 17 anak laki-laki, mengalami ke­kerasan seksual,” ungkap dia.

Kecanduan Pornografi

Sementara itu, Koordinator Nasional ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornogra­phy and Trafficking of Children for Sexual Purposes) Indonesia, Ahmad Sofian, mengatakan dampak buruk dari kemudah­an membuat dan menyebarlu­askan pornografi melalui inter­net adalah bahaya kecanduan pornografi terhadap anak.

“Penelitian ECPAT mene­mukan 50 persen anak yang kecanduan pornografi melaku­kan kekerasan seksual kepada anak lainnya,” katanya.

ECPAT Indonesia merupa­kan sebuah jaringan nasional untuk menghapus eksploitasi seksual anak.

Sofian mengatakan seha­rusnya ada sistem yang bisa melindungi anak-anak dari pornografi, yang mudah di­sebarluaskan melalui ponsel cerdas yang sangat dikuasai anak-anak saat ini.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susan­to, mengatakan modus operasi kekerasan seksual pada anak di Indonesia terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Modus pelaku pun mengalami perubahan. Kasus terbaru adalah dengan trans­portasi online atau ojek.

Ketua Lembaga Perlindung­an Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo Suryo, menye­but dalam kurun dua tahun terakhir laporan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kekerasan seksual terhadap anak mengalami pe­ningkatan.

Pada 2018 terdapat 104 per­mohonan perlindungan terha­dap kasus TPPO dan sebanyak 284 permohonan perlindungan terhadap kasus kekerasan sek­sual terhadap anak. “Sedang­kan pada 2019 sampai bulan Juli telah ada 297 permohon­an perlindungan untuk kasus TPPO dan 420 permohonan perlidungan untuk kasus ke­kerasan terhadap anak,” pung­kasnya.

Sudah saatnya Indonesia tegas terhadap serangan pornografi sebagaimana pecandu narkoba pecandu pornografi tidak kalah mengerikannya bahkan dengan berbagai kasus yang terjadi bagaimana pornografi bisa membuat manusia tidak layaknya seperti manusia yang menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi hasrat seksualnya dan lebih parahnya anak – anak dibawah juga menjadi target hasrat seksual mereka yang telah kecanduan pornografi berat. Kita negara besar tapi kalau kita lengah kita akan menjadi mangsa legit pornografi yang kan merusak pelan pelan moral.

sumber artikel : http://www.koran-jakarta.com/50–anak-kecanduan-pornografi/ Rabu 4/9/2019 | 06:44

Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional, Beberapa Fakta Miris yang Tengah Dihadapi

sumber gambar : https://lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2015/11/kekerasan-seksual-anak-1280×720.jpg

Kekerasan masih menjadi masalah bagi anak – anak khususnya anak perempuan di seluruh dunia. Hal inilah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap tanggal 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan International (International Day of Girl Child).

Diharapkan dengan adanyan peringatan Hari Anak Perempuan Internasional segenap masyarakat dunia akan lebih menyadari dan lebih empati betapa seriusnya masalah kekerasan terhadap anak- anak khususnya terhadap anak perempuan diberbagai penjuru dunia

Berikut adalah lima fakta tentang bagaimana kondisi anak perempuan di seluruh dunia menurut hasil penelitian UNICEF

1. Sejumlah besar anak perempuan dilecehkan

Seperempat anak perempuan melaporkan menjadi korban beberapa bentuk kekerasan fisik. Itu termasuk anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun di seluruh dunia atau sekitar sekitar 70 juta anak perempuan yang melaporkan kekerasan sejak usia 15 tahun. Angka itu hanya mencakup kasus yang dilaporkan; sementara masih sangat banyak yang tidak menjadi perhatian.

2. Kekerasan seksual adalah masalah besar yang mereka alami

1 dari 10 anak perempuan telah mengalami tindakan seksual paksa. Itu angkanya sama dengan sekitar 120 juta gadis di bawah 20 tahun di seluruh dunia. Sepertiga dari mereka berusia antara 15 sampai 19 tahun dan sudah menikah, dan telah menjadi korban kekerasan emosional, fisik atau seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangan mereka.

3. Kebanyakan kekerasan terhadap anak perempuan tidak dilaporkan.

Di beberapa negara, sebanyak 70 persen anak perempuan tidak pernah mencari bantuan. Hampir setengah dari anak perempuan usia 15 hingga 19 tahun berpikir jika seorang pria dibenarkan untuk memukuli istri atau pasangannya jika mereka menolak berhubungan seks, meninggalkan rumah tanpa izin, berdebat, mengabaikan anak-anak mereka atau tidak menyiapkan  makan malam.

4. Pernikahan anak adalah hal biasa

Lebih dari 700 juta wanita di seluruh dunia menikah sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Sekitar sepertiga atau sekitar 250 juta dari mereka menikah sebelum usia 15 tahun. Dan di beberapa tempat, terutama komunitas pengungsi Suriah, insiden pernikahan anak meningkat.

5. Intimidasi tersebar luas

1 dari 3 anak perempuan di seluruh dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun mengalami intimidasi secara teratur. Ini termasuk intimidasi langsung seperti menggoda, intimidasi tidak langsung seperti menyebarkan desas-desus, hingga cyber-bullying.

“Kita semua bertanggung jawab untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak perempuan,” kata Geeta Rao Gupta, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF.

sumber artikel : https://www.suara.com/health/2019/10/11/081500/hari-anak-perempuan-internasional-ini-5-fakta-miris-yang-tengah-dihadapi oleh Ade Indra Kusuma | Dinda Rachmawati Jum’at, 11 Oktober 2019 | 08:15 WIB

Buah Hati Bukan Benda Mati

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2016/02/29/09/57/sorrow-1228329__340.jpg

Sebulan terakhir saya bertemu tiga keluarga yang kisah hidupnya ‘mirip’.
Sang ortu sukses secara materi, mungkin sebagian dari kita ‘iri’ melihat kekayaannya ‘kapan ya kita bisa berada di posisi kemapanan harta seperti itu’.

Wajah mereka tampak fine-fine saja begitu juga anak-anaknya.
Andai kita melihat kebersamaan mereka rasanya ingin bertukar tempat ‘cling’ memakai alat ajaib Doraemon.

Tapi tahan dulu imajinasi Anda karena sebenarnya para ortu keluarga tersebut sedang ‘menangis darah’.
Dua keluarga ortunya curhat sang bujang mereka kuliah di manca negara dan saat ini sudah hidup dengan ‘sesama jenis’. Bahkan salah satu buah hati dari keluarga tersebut tidak ada pikiran menikah dengan lawan jenis, pokoknya sudah ‘mandep mantep’ menikah dengan ‘pacar lelakinya saat ini’.
Satu keluarga yang tersisa tidak kalah miris, anak-anaknya telah beberapa tahun ogah sekolah, maunya di rumah menikmati game dan media sosial. Kalau sedang emosi, si anak bisa merusak barang-barang sehingga sang ibu sampai ketakutan dibuatnya.

Sobat, buah hati kita bukan hanya membutuhkan materi tetapi juga asupan gizi di hati berupa cinta, kasih sayang, dan perhatian secara psikolgis dari kedua ortu.
Tanpanya maka anak-anak kita akan tumbuh sehat secara biologis namun jiwa dan hatinya kering kerontang atau bahkakan musnah sehingga seperti benda mati.

Jika sudah sampai tahap ini maka percayalah andaikan kita mempunyai emas segunung Uhud sekalipun tidak akan pernah bisa membeli hidayah Allah.
Tinggal tersisa butiran-butiran air mata sambil terus berdoa agar anak-anak kembali ke fitrah.

Selepas pulang melayani keluarga-keluarga seperti itu rasanya saya lebih kaya dari Raja Salman, ya memang hutang saya masih banyak namun masih bisa mencukupkan diri buat transportasi tanpa dibayari mereka bahkan menghadiahinya buku sebagai bahan renungan.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”

(QS. Ar-Ra’du: 28).