Monthly Archives: October 2019

Mari Bersama Bergandeng Tangan untuk Mengawal Generasi Muda Dari Bahaya Pornografi

sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcTjDHK0s79BqwCLYbySlfWLOoVwiGuw-0HbSVtdSdqgRed-oASg

Pornografi memang menjadi momok besar dan ancaman besar bagi anak- anak juga generasi muda. Para pengedar pornografi kian marak melesatkan aksinya dengan membangun website – website khusus pornografi untuk meraih keuntungan semata.

Dan untuk mengaksesnya pun sangat mudah tidak perlu konfirmasi umur untuk mengaksesnya. Parahnya lagi bagi sebagian anak – anak atau generasi muda yang masih awam mengenai edukasi seksual dan juga minim pendidikan tentang edukasi seksual, pasti akan selalu penasaran dengan apa yang dibicarakan para orang tua dan orang dewasa mengenai seksual.

Jadi mereka akan mencari cari di berbagai media internet, memang di Indonesia sekarang sudah tidak akan keluar di search engine google jika kita mengetikkan pencarian berbau pornografi, akan tetapi tunggu dulu, masih banyak para jenius di jagat maya yang memperlihatkan bahkan memberitahu bagaimana cara membuka akses situs/website pornografi dengan mudah dan simple dari kalangan anak – anak pun bisa mempraktekkan langkah – langkahnya.

Alangkah luasnya dunia ini untuk memerangi pornografi, tidak hanya membutuhkan peran pemerintah dalam hal internet, jaringan, dan komunikasi tapi semua dari kalangan masyarakan harus ikut turun tangan untuk memerangi pornografi atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Narkolema/Narkotika Lewat Mata. Mulai dari lingkungan keluarga,sekolah,universitas dan masih banyak lainnya. Karena jika dibiarkan sampai kecanduan pornografi akan timbul berbagai dampak negatif untuk pecandu juga lingkungan disekitarnya. Dan butuh waktu dan pendampingan juga semangat ekstra untuk keluar dari candu pornografi.

Diwartakan dari watyutink.com Kami menaruh perhatian khusus terhadap tumbuh kembang anak dengan mengajak orang tua untuk aktif berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh anak sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Jangan sampai nanti anak dengan rasa ingin tahunya yang besar mengambil informasi dari media internet.

Salah satu informasi yang penting diberi tahukan kepada anak adalah seputar pendidikan seks atau kesehatan reproduksi sesuai dengan usia anak. Akan berbahaya jika anak mencari informasi tersebut melalui media internet. Bisa jadi anak justru terjebak ke dalam bahaya pornografi. Di dalam otak manusia, khususnya bagian tengah depan, ada yang namanya Pre Frontal Cortex (PFC). Ini yang membedakan manusia dengan hewan. PFC adalah bagian sangat istimewa dan menjadi pusat kendali karena berfungsi sebagai pusat pengembangan dan pengambilan keputusan.

Kecanduan dan khayalan akibat pornografi mengakibatkan produksi hormon dopamim yang berlebihan. Jika dupamim merendam PFC, akibatnya seseorang kehilangan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal (baik atau buruknya sesuatu). PFC bisa rusak fungsinya akibat dupamim yang diproduksi secara berlebihan. Menurut Donald Hilton Jr (seorang dokter ahli bedah otak), otak yang rusak akibat pornografi jika difoto dengan Magnetic Resonance Image (MRI) hasilnya akan sama dengan kerusakan otak akibat kecelakaan. Ia juga mengatakan jika kerusakan otak akibat narkotika hanya terjadi di tiga bagian, akibat pornografi kerusakan terjadi di lima bagian otak.

Tetapi kerusakan PFC pada anak masih bisa diobati, direkonstruksi ulang. Ini karena otak anak masih mengalami pembentukan. Untuk kembali memperbaiki PFC pada otak anak, perlu menanamkan hal-hal yang baik. Ditanamkan akhlak dan perilaku yang baik. Orang tua memiliki peranan penting dalam menghentikan kecanduan akibat narkolema (narkoba lewat mata) yaitu pornografi, yang bahayanya sama dengan kecanduan narkoba.

Kecanduan pornografi membuat anak bisa terjerumus ke dalam seks bebas. Ini bisa berdampak kehamilan yang tidak diinginkan/di luar nikah. Jalan pintasnya adalah aborsi. Di Indonesia dalam setahun terjadi dua juta kasus aborsi, dan sebagian besar dilakukan oleh remaja dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan nyawa mereka. Sudah ada hukum yang mengatur pelaku aborsi dan orang yang ikut serta (mengantarkan, menunjukan tempat, dan memaksa melakukan aborsi), yaitu KUHP Pasal 346 dan 347.

Untuk mencegah anak-aak kita terjerumus ke dalam bahaya narkoba, narkolema (pornografi), pornoaksi dan aborsi tanpa rekomendasi medis, sebagai orang tua kita perlu berperan aktif. Bukan hanya aktif mengawal anak-anak kandung kita atau kerabat kita saja, tetapi anak-anak yang ada di sekeliling kita. Kita bukan hanya menjadi orang tua biologis dari anak-anak kandung kita, tetapi kita juga perlu menjadi orang tua sosial bagi anak-anak di sekitar lingkungan kita. Bergandeng tangan mengawal generasi muda yang menjadi harapan masa depan bangsa.

sumber atikel : https://www.watyutink.com/opini/Perlu-Bergandeng-Tangan-untuk-Mengawal-Generasi-Muda

Tren Parenting Organic, Bagaimana Kriteria Orang Tua Supaya menjadi Parenting Organic

sumber gambar : https://img.lovepik.com/original_origin_pic/18/10/19/9f0bd4d1f5501c878efab2c955dcd0e4.png_wh860.png

Pola pengasuhan orang tua pada anak kian hari makin menunjukkan berbagai inovasi, dikarenakan di era milenial dan di kemajuan jaman saat ini, pasti akan banyak pola perubahan perilaku manusia khususnya juga terhadap pekembangan pola perilaku anak – anak yang mestinya sangat berbeda dengan pola perilaku anak- anak diera tahun 90-an.

Maka dari itu perlu inovasi di dalam pola asuh anak diera saat ini. Dulu mungkin di era 90-an pola pengasuhan lebih keras dan tegas namun di era sekarang sangatlah tidak bisa sembarangan untuk mengasuh anak. Di era jaman 90-an mungkin anak akan langsung diam ketika orang tua marah, alih – alih marah bahkan kadang ada juga yang marah sambil menggunakan kekerasan fisik untuk membuat anak jera.

Dari tahun ke tahun perkembangan berbagai pola pengasuhan yang sudah banyak yang dinovasi, dan salah satunya adalah Organic Parenting, hal yang unik dari pola pengasuhan anak ini adalah menurut mungkin lebih mengingatkan saya pada pola pengasuhan di era 90-an yang lebih menyatu dengan alam tapi tidak dengan kekerasan fisik yang mana di era 90-an pola asuh orang tua terhadap anak identik dengan kata – kata tegas kekerasan fisik .

TEMPO.CO, JakartaOrganic parenting adalah salah satu pola asuh anak yang sedang diperbincangkan. Secara sederhana, orang tua akan menggunakan gaya alami dalam membesarkan dan pendidikan anak-anak.

Sebagai bentuk penggambaran yang lebih detail, psikolog tumbuh kembang anak, Chitra Annisya, pun menjelaskan empat karakteristik dari pengasuhan organik ini. Pertama, orang tua akan menetapkan pola makan yang bergizi tapi organik. 

“Artinya dia tidak menyentuh pestisida dan kandungan nonorganik lainnya, sehingga benar-benar alami,” katanya.

Selanjutnya, orang tua juga memperkenalkan banyak aktivitas fisik, sebab di era yang semakin modern ini, secara tidak sadar kegiatan yang membutuhkan gerakan itu sangat minim. Padahal, menurut Chitra, kegiatan multisensori sangat penting untuk tumbuh kembang anak. 

“Sekarang kalau mewarnai pakai gadget hanya menggunakan sentuhan jari saja. Hal ini bisa memperlambat sensorik dan motorik anak. Jadi untuk orang tua yang menerapkan organic parenting akan banyak mengimbau aktivitas multisensori,” katanya.

Ada pula interaksi dua arah antara orang tua dan anak. Menurut Chitra, orang tua sering kali mau berbicara namun enggan mendengar. Sedangkan bagi orang tua yang menerapkan pengasuhan organik, hukum alam untuk berbicara dan mendengar pun akan dilakukan.

“Biasanya orang tua lebih liberal. Jadi dia tidak malu dan mau menerima masukan maupun pendapat dari anak,” katanya.

Terakhir, orang tua dengan pengasuhan organik akan menyatukan anak dengan alam sebab berbagai manfaat positif bisa diraih dari hal ini. Misalnya, anak tidak mudah sakit karena kekebalan tubuh yang meningkat hingga lebih bahagia, sebab paparan sinar matahari bisa melepas hormon senang tersebut.

“Mereka biasanya kalau berlibur tidak ke mal tapi naik gunung atau ke pantai,” katanya.

Dari empat ciri ini, apakah Anda melakukan hampir semuanya? Bisa disimpulkan, Anda adalah seorang penganut pola asuh organik.

Dari berbagai pola asuh anak yang sedang berkembang pasti juga terdapat kelebihan dan kekurangannya, namun kita sebagai orang tua pasti juga tahu apa yang terbaik untuk anak, mau pola asuh seperti di era 90-an yang keras dan tegas juga masih boleh asalkan sesuai dengan proporsi dan tidak berlebihan, begitu pula sebaliknya mau menggunakan pola asuh yang lebih santai tapi tegas atau yang lainnya bisa – bisa saja asalkan sesuai kondisi dan proporsinya. Masih banyak berbagai macam pola asuh yang dapat kita terapkan sebagai orang tua terhadap anak – anak. Mari menjadi orang tua yang cerdas dan menyenangkan bagi anak- anak.

sumber artikel : https://gaya.tempo.co/read/1253385/kriteria-orang-tua-agar-masuk-kategori-tren-parenting-organic/full&view=ok Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua , Editor: Yayuk Widiyarti , Sabtu, 28 September 2019 09:48 WIB

PEDULI SAHABAT ,[ SAHABAT ITU PEDULI]

Oleh . Langit Senja

sumber gambar : http://renunganlenterajiwa.com/wp-content/uploads/2018/11/Saling-membantu.jpg?w=640

“Apa yang kau rasakan itu dosa!” Kata murabbiyahku. Ada gurat kecewa di wajahnya. Mengetahui kenyataan bahwa aku, mutarabhiyahnya memiliki orientasi seks yang menyimpang. Dan kini, aku ada di hadapannya. Mengatakan kondisi diriku karena bingung harus bagaimana lagi menghilangkan perasaan terlarang itu.

Aku hanya tertunduk takut. Bulir-bulir bening mengalir dari mataku tanpa bisa ku tahan lagi. “Jika memang apa yang aku rasakan adalah dosa, lalu untuk apa aku bertahan selama ini?” Batinku menjerit. Bukankah lebih baik aku menikmati maksiat dengan sesama perempuan? Daripada lelah menahan hasrat, tapi tetap berdosa juga.

“Lalu aku harus bagaimana, kak?” Aku bertanya dengan wajah masih menunduk. Tak berani menatap wajahnya. Takut ada ekspresi jijik di sana yang bisa membuat hatiku sakit.

“Kau harus menyembuhkan penyakit laknat itu!” Ucap beliau dingin.

“Tapi bagaimana caranya?” Jawabku pelan.

“Aku sudah konsultasi beberapa kali ke psikolog. Sudah ruqyah juga. Hipnoterapi juga sudah aku coba. Tapi hasilnya masih belum seperti yang kuharapkan. Aku belum bisa menghilangkan perasaan ini.” Kali ini, aku beranikan bicara sambil menatap wajah beliau. Dan aku temukan ekspresi yang tak bisa kutebak. Entah apa yang sedang beliau pikirkan tentangku.

“Kalau begitu, pulanglah dulu. Perbanyak ibadah. Nanti kita cari solusinya sama-sama.”

Aku mendesah pelan. Jujur, ada sedikit kecewa saat itu. Beliau yang biasanya hangat tiba-tiba berubah seperti orang yang tak ku kenal. Apakah aku sudah menjelma menjadi makhluk mengerikan di hadapannya? Entahlah.

Kutinggalkan rumah beliau dengan perasaan campur aduk. Ada bisikan agar aku menyerah saja. Tak ada gunanya bertahan. Buat apa selama ini aku menutup aurat? Ikut kajian? Ikut dalam aktivitas dakwah di kampus dan masyarakat. Kalau semua itu tak ada gunanya. Buat apa aku menahan diri untuk tidak pacaran dengan siapapun. Buat apa semua itu?

Mungkin, keberanianku menceritakan semua ini adalah hal konyol. Bunuh diri. Tapi saat ini aku benar-benar galau. Aku hampir menyerah karena lelah menahan beban dalam jiwa. Aku takut terjerumus ke dalam maksiat.

“Ya Allah, selamatkan hamba-MU ini!” Bisikku dalam hati.

🌷🌷🌷

Sampai di kontrakan aku langsung masuk kamar. Aku rebahkan badan di kasur tipis. Mencoba menenangkan jiwa yang sedang gundah gulana. Aku merenungi semua perjalanan hidupku. Mulai dari peristiwa menyakitkan itu hingga aku bisa sampai seperti ini. Kalau dipikir-pikir sudah banyak yang aku korbankan untuk bisa bertahan dengan kondisi ini. Waktu, pikiran dan juga uang. Aku rela menahan diri untuk tak membeli barang-barang yang kuinginkan, padahal menurut orang-orang gajiku lumayan. Uangnya aku tabung, dan aku pakai untuk konsultasi ke psikolog dan hipnoterapi. Apakah aku harus menyerah setelah berjuang sejauh ini? Lalu bagaimana dengan ibuku jika tahu anak yang dibanggakannya ini punya orientasi seks yang menyimpang? Mungkin beliau tak akan menganggapku lagi sebagai anaknya. Ah, lelah sekali jika memikirkan semua ini.

Aku memilih tidur untuk menghilangkan penat pikiran. Berharap bisa bangun dengan hati yang sedikit lapang.

Setelah bangun tidur dan membersihkan badan, aku mencoba berselancar di dunia Maya. Dengan smartphone baru yang aku beli seminggu yang lalu. Awalnya, aku tak berani memakai ponsel pintar itu. Karena takut terjerumus ke dalam komunitas-komunitas LGBT yang kian hari kian menjamur. Tapi akhirnya aku terpaksa membelinya karena tuntutan pekerjaan. Dan kini, akan aku manfaatkan untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang metode penyembuhan orientasi seks yang menyimpang.

Aku ketikkan kalimat LGBT dan metode penyembuhannya dimesin penjelajah. Aku buka artikel ataupun yang muncul di sana. Hampir semuanya berisi hal-hal yang sudah aku lakukan. Aku hampir putus asa saat netraku membaca sebuah tulisan yang berisi rangkuman pelatihan dari seseorang. Tulisan itu berisi tentang sebuah metode pendampingan bagi SSA yang ingin hijrah. aku baca dengan jeli apa yang dimaksud dengan SSA. Jujur, itu pertama kali aku membaca istilah tersebut. Selama ini, aku hanya mendengar orang-orang seperti kami disebut lesbian. Ternyata ada istilah lain yang lebih manusiawi; SSA (same seks attraction). Istilah ini digunakan untuk penyuka sesama jenis yang tidak ingin diakui identitasnya secara hukum agama, masyarakat dan negara.

Aku bersemangat membaca tulisan tersebut. Apalagi saat penulis menyarankan untuk bergabung di grup peduli sahabat yang didirikan oleh kak Sinyo Egie. Itu grup tertutup di Facebook yang bisa jadi tempat berbagi dengan sesama SSA dan kalau aku mau, bisa mendapatkan pendampingan online secara gratis.

Segera aku buka akun Facebook, mencari grup peduli sahabat. Aku meminta bergabung. Dan menunggu sampai disetujui. Aku menunggu cukup lama, seminggu. Hampir tiap hari aku cek notifikasi. Berharap sudah diterima jadi anggota grup. Jiwaku dipenuhi semangat dan harapan baru.

Setelah aku diterima jadi anggota grup, segera Aku baca file wajib. Dan, disitulah aku menemukan jawaban dari apa yang aku pertanyaanku selama ini. Salah satu file yang yang berjudul hukum berniat buruk menjelaskan bahwa perasaan SSA ini tidak dihukumi dosa jika tidak diekspresikan dengan apapun. Semua perjuanganku untuk bertahan selama ini tak sia-sia. Aku sujud syukur.

Bahagia membuncah dalam dada. Ada konsep baru dalam diriku. Aku SSA, bukan LGBT. Dan SSA itu adalah ujian diantara banyak ujian yang Allah berikan pada masing-masing hamba-NYA. Aku diuji sebagai SSA, karena aku mampu untuk melewatinya. Jadi, tak ada alasan apapun yang bisa membuatku menyerah. Biarlah orang menganggapku buruk, pendosa, manusia dengan penyakit jiwa, yang penting dalam pandangan Tuhanku, aku sama seperti manusia lainnya. Aku akan berusaha terus memperbaiki diri. Semoga bisa istiqomah hingga akhir usia. Dan semoga kesabaran menjalani ujian sebagai SSA, kelak akan menghantarkan ku ke surga.

Setelah “gay gene” tak (akan pernah) terbukti….

sumber gambar : https://img.jakpost.net/c/2019/03/20/2019_03_20_68107_1553071053._large.jpg

1. HAM
Adalah hak azazi untuk mengatur diri sendiri termasuk jenis kelamin dan orientasi seks. Terserah yang punya badan seandainya jenis kelamin laki-laki tapi ingin menikah dengan laki-laki. Atau ingin berdandan dan bergaya seperti perempuan. Juga tak ada yang bisa melarang laki-laki berhubungan seks dengan laki tapi juga suka dengan perempuan. Begitu juga untuk yang perempuan. Bebas bergaya berlagak seperti laki-laki dan suka perempuan. Atau gaya tetap perempuan tapi suka perempuan. Dan kalau sudah bicara HAM, standar nya sudah pasti barat yang sekuler liberal tanpa peduli nilai agama. Karena mereka memposisikan HAM diatas agama.
https://www.amnestyusa.org/the-state-of-lgbt-rights-worldw…/

2. Kaum liberal sekuler

Dalil agama yang melarang suka dan berhubungan seks sejenis sudah tak relevan. Kalau homo dan biseks dilarang, mengapa negara barat yang banyak homo nya tak dihancurkan seperti kaum nabi Luth? eLGiBiTi yang salah atau cara pandang kita terhadap agama yang keliru? Apa iya, walau sangat baik tapi Homo atau Bi, atau Trans atau Lesb tetap masuk neraka? Kok ngga adil ya?

Pernah dengar pernyataan-pertanyaan seperti itu? Sile googling sesiapa yang pernah ber statemen seperti itu.

https://www.bbc.com/…/majalah/2016/02/160216_trensosial_mus…
https://www.republika.co.id/…/nqyqw2-ade-armando-allah-tida…
https://www.dw.com/id/lgbt-mulia-di-sisi-allah/a-19070695

Karena gerakan eLGiBiTi ini sadar, mereka tak bisa berketurunan, jadi harus menambah simpatisan dan pengikut untuk tetap bertahan. Mereka perlu “support all out” dari orang-orang “keminter” lagi nekat. Dengan kesaktiannya Liberal Sekuler berani memutar balik bahkan menantang dalil agama. Logikanya “terkesan” kuat, sehingga bisa mengganggu keyakinan anak-anak kita yang masih remaja.

3. Tekanan Asing

Sepertinya indonesia dibuat tak berdaya dalam hal apapun termasuk dalam menghadapi isu eLGiBiti. https://www.beritasatu.com/…/bamsoet-sebut-ada-tekanan-asin…
http://politiktoday.com/duta-besar-negara-uni-eropa-lobi-d…/

Tekanan dari dunia barat sangatlah kuat, entah apa kepentingannya. Teori “proxy” cukup masuk akal untuk jadi jawaban.
https://nasional.tempo.co/…/menteri-pertahanan-lgbt-itu-bag…

Isu eLGiBiTi juga merupakan isu “duit gede” bukan recehan yang dikumpulkan dengan kaleng kencleng. Hingga sanggup membuat orang dengan mental miskin “fight” bertarung demi bayaran. https://www.republika.co.id/…/o2fsmh282-undp-keluarkan-rp-1…

Sandaran untuk tetap menjadi eLGiBiTi sangatlah rapuh kecuali mengais-ngais perlindungan dibalik isu HAM, dan mendekati sekuler liberal sebagai “JUBIR”, sambil berharap tekanan asing plus “duit gede” nya. Tinggallah yang bodoh dan jauh dari tuntunan jadi bingung dan meng IYA kan.

Kalau alasannya HAM, jangan lupakan HAM nya perempuan korban lelaki BISEKS yang entah istri atau pacar yang sering jadi korban tertular HIV. Jangan lupakan HAM nya anak-anak yang tertular HIV dari orang tua yang BISEKS atau korban predator. Jangan lupakan HAM nya anak yang jadi yatim, bahkan yatim piatu yang orangtuanya mati karena AIDS sedang ia sendiri HIV positiv dan harus minum obat seumur hidup.

Jangan juga lupakan HAM nya tenaga kesehatan yang berisiko tertular saat merawat si HoMO atau Bi yang HIV sementara pegiat HAM pergi menjauh. https://m.jpnn.com/news/pekerja-rs-rentan-tertular-hivaids

Jangan lupakan HAM nya pemandi jenazah yang memandikan jasad Homo / bi dengan serius sementara kawan Homo nya tak mampu memandikan, apalagi men sholat kan. https://lifestyle.okezone.com/…/waspada-penyakit-penyakit-i…

FYI, kita memang bukan pemegang kunci pintu sorga tapi agama memberitahu kita mana arah sorga mana arah neraka. Kita juga tak bisa memaksa orang percaya akan adanya sorga dan neraka, karena tugas kita semua hanya menjadi da’i.

#JagaAnakTurunan
#AgamaDiAtasHAM
#SemogaDiluruskanNiat

https://harvardmagazine.com/2019/…/there-s-still-no-gay-gene
https://www.cbc.ca/…/genes-dna-same-sex-behaviour-study-1.5…

Fitur Baru Dari Instagram , Blokir Komentar Bullying

sumber gambar : https://media.idownloadblog.com/wp-content/uploads/2019/04/Instagram-Away-Mode-Nudge-Set-Limits.jpg

Aksi perundungan atau yang kerap disebut bulli makin kian merajalela di berbagai kalangan dan tempat, dan dampak yang diakibatkan dari aksi bulli tesebut tidaklah hanya bisa dilihat sebelah mata. Salah satu dari berbagai dampak mengerikannya dari bulli ketika seorang korban bulli telah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Dan bahkan aksi itu kini kerap terjadi pada korban bulli yang memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada bangkit untuk melawan si pembulli tersebut. Sungguh ironis bukan ? Bahkan diera digital saat ini banyak orang lebih mudah untuk membulli seseorang dengan bersembunyi dibalik kata – kata pedas dan bersembunyi dibalik jari – jari yang berhasil mematahkan semangat hidup seseorang.

Perlu banyak gandeng tangan,kesadaran dan keikhlasan untuk menangani masalah bulli/perundungan ini. Banyak sekarang dari platform media sosial telah berupaya untuk mencegah bulli di media sosial dengan berbagai solusi dan inovasi agar bisa menekan perkembangan bulli dan menekan berbagai dampak negatif yangg ditimbulkan dari bulli.

Salah satunya dari Instagram yang telah resmi meluncurkan fitur baru untuk melindungi para pengguna instagram dari para pembulli yang berkeliaran bebas di jagat maya ini.

Instagram resmi meluncurkan fitur untuk melindungi pengguna dari bullying.

tirto.id – Instagram resmi meluncurkan fitur terbarunya ‘Restrict’ (Batasi), usai melakukan pengujian beberapa waktu lalu ke sebagian pengguna. Seperti namanya, fitur ini memungkinkan pemilik akun untuk membatasi pengguna Instagram lain yang berkomentar kasar bernada merundung (bullying) di unggahan miliknya. Fitur ini juga bisa membatasi komentar di sebuah unggahan Instagram dan hanya akan dilihat oleh pemilik unggahan dan pemberi komentar saja.

Pihak Instagram melalui blog resminya mengatakan, fitur ini diluncurkan untuk melindungi para penggunanya dari tindak perundungan (bullying) yang kerap kali terjadi pada anak muda.

“Perundungan adalah isu yang kompleks, dan kami tahu anak remaja kerap menghadapi isu ini di dunia maya, tapi mereka enggan untuk melaporkan atau memblokir teman yang mengolok-olok mereka,” kata Instagram.

Cara Menggunakannya Fitur ini terbilang sangat mudah diaplikasikan para pengguna Instagram. Cukup dengan ‘swipe left’ atau tahan komentar yang ingin dibatasi dan pilih opsi “Restrict Account”. Secara langsung, komentar yang dibatasi tersebut hanya akan bisa dilihat oleh pembuat komentar dan si pemilik unggahan, dimana artinya orang lain tidak akan bisa melihat komentar tersebut.

Di sisi lain, Engadget mewartakan, pengguna yang dibatasi komentarnya ini tidak akan mendapat notifikasi apa pun terkait dengan pemblokiran tersebut. Sehingga mereka tidak akan mengetahui bahwa sebenarnya komentar yang mereka buat tak akan lagi muncul secara terbuka di unggahan pemilik akun Instagram mana pun.

Bahkan, fitur ini juga akan berpengaruh pada “Direct Message” (DM), pesan yang dikirim oleh akun ‘Restricted’ tadi bakal masuk ke “Message Request”, sebuah wadah yang berisi pesan-pesan dari orang yang tidak dikenal. Artinya, pihak terblokir juga tidak bisa melihat kapan sang pengguna yang membatasi tersebut terakhir aktif (last seen) di Instagram dan mereka juga tidak akan mengetahui apakah pesan tersebut sudah dibaca atau belum.

“Fitur ‘Restrict’ dirancang untuk membatasi interaksi negatif di Instagram tanpa harus diketahui oleh orang tersebut,” kata Instagram. Pihak Instagram mengatakan bahwa fitur ini juga bisa dicabut kembali, cukup dengan pergi ke profil mereka atau memilih komentar yang dibuat dan pilih “Unrestrict” atau “Batal Batasi”, demikian ditulis The Verge.

sumber berita : https://tirto.id/cara-blokir-komentar-bullying-dengan-fitur-baru-instagram-ejiX 6 Oktober 2019 Kontributor: Adrian Samudro Penulis: Adrian Samudro Editor: Alexander Haryanto