Category Archives: Parenting

MENGOPTIMALKAN PENGASUHAN BERDASAR ILMU NEUROPARENTING

sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSogZYzZQiqUdd5Lbx1At4NijDFbTr-ywhw8Y5xWWP1XBGtZs9A

*Ani Khairani, M.Psi, Psikolog*

(Direktur UNIK.Edu+ Educational Psychological Consultancy, Aktivis gerakan Indonesia Beradab, Pemilik Khalifah Childcare Tapos Depok)

A. MENGENAL OTAK SEBAGAI SUMBER PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DAN PERILAKU*

Kenapa kita merasa hidup selalu di kelilingi masalah? Kenapa ada orang yang berperilaku baik dan buruk, apa yang mendasarinya? Dari mana proses kepribadian itu bertumbuh dan berkembang?

Manusia diberikan potensi Akal yang terdiri dari organ otak di bagian tertinggi di tubuhnya yaitu kepala.

Otak adalah mahluk Ajaib, kurang lebih 1500 gr beratnya dari tubuh kita, dengan tekstur lembut seperti kembang tahu, yang dilapis 7 lapisan dalam sel neuron di cortex cerebri (kulit otak) dan 7 lapisan Tengkorak – selaput otak terdalam. Dan dilapisan tengkorak ini harus menggunakan gergaji khusus untuk membukanya.

Jika satu otak di jadikan satu lembar saja niscaya ia akan menutupi lapangan sepakbola, dan jika lapisan itu dibuat lebih tipis lagi niscaya dia akan menutupi seluruh permukaan bumi.

_*Apakah pernah selama ini kita mensyukuri karunia dan nikmat memiliki otak ini?*_

Otak terdiri dari 100 milyar neuron yang siap distimulasi, yang setiap 1 neuron sanggup untuk bersambungan dengan 10.000 neuron yang lain, membentuk koneksi sirkuit bakat, kemampuan, perilaku bahkan pribadi..

Dari keseluruhan kurang lebih 100 onderdil otak, mari kita kenali onderdil otak mana saja yang mempengaruhi pengasuhan pada anak.

*Otak pada anak yg harus distimulasi dlm pengasuhan* adalah: Pancaindera, Amygdala, Ganglia basalis, Broca wernick, labus parientalis, Hippocampus, Insula.

CARA MENSTIMULASINYA :

*Pancaindera* : Stimulasi keseluruhan indera Anak sekaligus ketika memahamkan dan membiasakan sesuatu. Belajar dengan praktek 90% akan lebih diterima otak dibanding hanya melihat atau mendengarkan saja.

*Amygdala*: Kenalkan emosi dasar (takut, sedih, bahagia, Jijik, Marah), teladankan ekspresi emosi yang baik.

*Ganglia basalis*: Kemampuan otomatisasi, biasakan anak untuk berbuat baik, dan buat itu menjadi otomatis.

*Broca wernick*: luangkn waktu untuk dialog dengan anak untuk menstimulasi kemampuan dan pemahaman bahasa

*lobus parientalis* : Masukan imajinasi-imajinasi yang konstruktif, bimbing imajinasinya untuk membuat anak kelak tumbuh menjadi visoner, namun jika kebalikannya justru kita menstimuasi imajinasi yang destruktif, anak akan memiliki sirkuit “rumah hantu” tempat false belief/bias2 berpikir akan mengarahkan kehidupannya kelak.

*Hippocampus:* tumbuh di usia anak 4 tahun, stimulasi dengan berpikir rasional/kognitif, memilih, menilai, baca dan kalkulasi, ini bekal untuk kemampuannya mengelola stress.

*Insula*: mengatur stimulus yang diterima indera dan diasosiasikan menjadi harmoni yang baik.

Sedangkan *OTAK YANG KITA PERLUKAN SEBAGAI ORANGTUA* yang mengasuh anak adalah PFC, sistem limbic dalam (amygdala), Cingulat, Basal Ganglia.

Cara menstimuasinya :
*PFC* Tanamkan niat yang baik, tanamkan bahwa setiap perilaku yang kita tampilkan harus mempunyai tujuan

*sistem limbic dalam (amygdala)*: latih amygdala dengan kendalikan dorongan emosi, tunda keinginan yang muncul, kaitkan perasaan dengan nilai dan moral yang telah dipahami dalam PFC.

*Cingulat* : Latih kemampuan penyesuaian diri, dan fleksibilitas dalam menghadapi segala sesuatu sehingga memiliki alternatif pemecahan masalah, kurangi sikap perfeksionis.

*Basal Ganglia:* Ganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik. Cukup memerlukan waktu 3 bulan untuk mengubah kebiasaan.

*TUJUAN NEUROPARENTING*

Menjadikan Anak : *TANGGUH, CERDAS dan BERAKHLAQ BAIK*

Untuk mencapai tujuan ini harus di lalui dengan SYARAT:

Otak Rasio, Otak Emosi, Otak sensorik dan Motorik HARUS NORMAL

*Untuk mencapai OTAK NORMAL :*
1. Nutrisi Yang Cukup Dan Tepat : Nutrisi terbaik Ikan-ikanan dan kacang-kacangan
2. Lingkungan Yang Sesuai : cari tempat tinggal berdasarkan lingkungannya yang baik
3. Pengalaman Emosi Yang Membangun : contoh-contoh-contohkan keteladanan dalam mengelola dan mengendalikan emosi dari significant other. Anak bisa mengidentifikasi perasaan hatinya
4. Stimulus Rasional Yang Tepat : ajari berpikir benar/ contoh berpikir salah : dari kecil ditakuti hantu, kalau jatuh disalahkan kodok, dll
5. Aktivitas Fisik Yang Sesuai : Anak yang normal adalah anak yang bisa berlari dan memanjat ketika kecilnya.

*B. PETA PERKEMBANGAN OTAK MANUSIA*

Ketiga tujuan Neuroparenting ini dibagi menjadi 3 Sesi Peta perkembangan :

*Usia 0-7 Tahun*

– TANGGUH ditumbuhkan dengan menstimulasi otak emosinya : supaya dia bisa mengidentifikasi perasaaannya dan mengelola emosinya: CARANYA: TELADAN Emosi dari Orangtua, tularkan beremosi yang sehat..

– 0-3 Tahun percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 8x dari orng dewasa, seperti spons, dia akan menyerap seluruhnya air yang ada di sekitarnya. Kekejian yang biasa dilakukan orangtua pada usia ini adalah ketika anak dilabel negatif dan buruk, dia akan menganggap 8 kali lebih buruk dari apa yang kita sampaikan kepadanya.

– Stimulasi yang baik pada Otak emosi ketika Bayi : adalah pembiasaan yang ditampilkan oleh orangtuanya, yaitu: tatapan mata yang teduh, intonasi suara yang terkendali, detak jantung yang tenang, hembusan nafas yang nyaman, keringat yang normal.

– 3-7 Tahun percepatan penyerapan otak manusia berkurang pada usia ini menjadi 5x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *50% kemampuan EMOSI, 40% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 10% kemampuan kognitif/Rasio.*

*Usia 7-14 Tahun*

– CERDAS ditumbuhkan dengan menstimulasi otak PFC (prefrontal Cortex)nya CARANYA: masukan ilmu yang benar, nilai dan moral melalui dialog dua arah, luangkan waktu untuk membimbing rasionalitasnya.

– Tanamkan disiplin dan pengaturan diri, hubungan sebab akibat yang benar, ajarkan makna kebaikan..

– Percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 3-4x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *30% kemampuan EMOSI, 20% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 50% kemampuan kognitif/Rasio.*

*Usia 14-21 Tahun*

– ASAH JATI DIRI Dampingi konsistensinya dalam kebaikan dan berakhlaq baik.

– Percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 2x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *30% kemampuan EMOSI, 5% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 65% kemampuan kognitif/Rasio.*


*C. YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANGTUA*

Kenapa kita senantiasa merasa menghadapi banyak masalah dan muncul keputusasaan dalam mengasuh anak?

*Hal ini terjadi karena tidak terlatih dalam kemampuan berpikir. Boleh jadi kita berpikir setiap hari namun PIKIRAN yang kita munculkan HANYA BERSIFAT INSTINGTIF/naluriah belaka, bukan BERPIKIR yang TERLATIH.*

Berpikir dengan Insting merupakan berpikir “daya hewani” lebih banyak menggunakan Sistem limbic (mengutamakan perasaan dan emosi) , dibandingkan dengan berpikir terlatih yang menggunakan Prefrontal Cortex (mengutamakan nilai, kedalaman ilmu, moral).

Berlatih untuk memiliki BERPIKIR yang TERLATIH adalah dengan :

– Cari terus ilmu

– Kelola informasi dengan baik

– Hilangkan bias-bias negative/false belief

– Latih berpikir kritis dan berpikir kreatif


*KEMAMPUAN YANG HARUS DIMILIKI ORANGUA YANG AKAN TERTULAR KEPADA ANAK :*

A. Ketrampilan kalkulatif : kemampuan memprediksi, mengira dan menghitung baik dan buruk suatu aktivitas dilakukan

B. Kemampuan Komunikatif : kemampuan yang bukan hanya berbicara tapi bisa berbahasa

C. Kemampuan analitik dan kreatif : proses berpikir yang menggunakan kemampuan kreatif dan analitis sekaligus dalam memecahkan persoalan yang ada

D. Motivasi dan pengendalian diri : dasar kemampuan yang dapat mengelola emosi dan mengaktifkan berpikir yang benar.

E. Kemampuan memilih dan memutuskan : kemampuan mengeksekusi keputusan yang diambil untuk menghindari rasa ragu dan plinplan

F. Kemampuan fisik : memenuhi nutrisi dan aktivitas fisik yang mencukupi

*Tak cukup dengan otak normal yg membuat kita hidup.. tapi kita harus memiliki otak sehat, yg membuat Kita menjadi “MANUSIA” *

*OTAK SEHAT* : memiliki 3 komponen yaitu otak yang normal (memiliki keterampilan berpikir + pemahaman dan pembiasaan konsep2 agama dan spiritual).

Otak yang sehat menghasilkan pikiran dan perilaku dan kepribadian yang sehat.

Otak memiliki kemampuan untuk menyehatkan dirinya sendiri melalui:

*PERBAIKAN BERPIKIR dan LATIHAN-LATIHAN* intens dan Permanen (Istiqomah dan istimror)

Fitrah Otak bagian Prefrontal Cortex adalah fitrah kebaikan…

Semasa pembuahan zygote sudah terinstall nilai kebaikan-kebaikan didalam otak kita. Jika ada ketidakbenaran yang dilakukan maka reaksi tubuh akan destruktif (Prof. Donald W.Puff : dlm Bukunya Foreplay)

False Beliefs yang dipahami seseorang akan menjadi benturan terhadap Nilai kebaikan yang sudah ada.

False Beliefs itulah yang membuat seseorang mengambil keputusan atas permasalahan yang
dihadapi dipastikan berdasarkan emosinya,

Amygdala meng-hijack Prefrontal cortex agar nilai kebaikan ditinggalkannya dalam membuat keputusan dan mendahulukan sesuatu yg alih-alih rasional namun nyatanya emosional.

Ketika kudeta amygdala ini respon yang akan kita tampilkan adalah respon darurat, Reaktif dan tanpa pilihan yaitu : *Menyerang/FIGHT, dan Kabur/FLIGHT*

Dan ketika ini terjadi otak bekerja dalam kondisi yang tidak sehat dan dipastikan akan terjadi kondisi destruktif secara fisik.

Jika ini terulang terus maka jadilah habit/kebiasaan. Nilai kebaikan sebelumnya akan perlahan ditanggalkan, jadilah Amygdala menguasai hidupnya. Saat itulah dikatakan, kondisi otak yang tidak sehat.

Begitupun untuk false beliefs yang lainnya..
Maka selalu berupaya menginstall otak kita dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, akan menyehatkan baik otak maupun fisik kita.

*Yang perlu menjadi perhatian dan diperbaiki dalam BEREMOSI adalah:

1.Cakap emosi (caranya : kenali emosi, kelola emosi, tanamkan dan biasakan empati) hal ini akan mengendalikan otak amygdala kita. Memendam emosi dan memuntahkannya sama-sama merusak otak, Yang betul adalah KELOLA EMOSI.

2.Tanamkan pikiran positif dan banyak menggali ilmu dan hikmah dimanapun berada hal ini akan menyambungkan dan memperkaya otak kognisi kita dibagian prefrontal cortex.

3.Latihan dan biasakan selalu respon yg positif terhadap sesuatu, sehingga terjadilah pemecahan masalah yg tepat.

4.Temukan selalu hal-hal yg menjadi stimulan destruktif/merusak dlm pikiran kita

5.Gantilah berbagai keburukan yg telah kita lakukan dengan kebaikan-kebaikan.

6.Tanamkan tujuan untuk mencapai kemuliaan dalam hidup, baik didunia maupun diakhirat selalu memiliki tujuan ketika melakukan segala sesuatu–> tanamkan niat kebaikan atas apa yg akan kita lakukan.

7. Latih dan biasakan terus untuk bermanfaat bagi orang lain..

Demikian, semoga bermanfaat ….

#HeldbyDiskusiEmakkekinianGrup
#SalamOtakSehat
#Depok, 4 April 2017
~Ankhaira@2017

sumber artikel : https://www.facebook.com/291070504245884/photos/mengoptimalkan-pengasuhan-berdasar-ilmu-neuroparentingani-khairani-mpsi-psikolog/1771995429486710/

Tren Parenting Organic, Bagaimana Kriteria Orang Tua Supaya menjadi Parenting Organic

sumber gambar : https://img.lovepik.com/original_origin_pic/18/10/19/9f0bd4d1f5501c878efab2c955dcd0e4.png_wh860.png

Pola pengasuhan orang tua pada anak kian hari makin menunjukkan berbagai inovasi, dikarenakan di era milenial dan di kemajuan jaman saat ini, pasti akan banyak pola perubahan perilaku manusia khususnya juga terhadap pekembangan pola perilaku anak – anak yang mestinya sangat berbeda dengan pola perilaku anak- anak diera tahun 90-an.

Maka dari itu perlu inovasi di dalam pola asuh anak diera saat ini. Dulu mungkin di era 90-an pola pengasuhan lebih keras dan tegas namun di era sekarang sangatlah tidak bisa sembarangan untuk mengasuh anak. Di era jaman 90-an mungkin anak akan langsung diam ketika orang tua marah, alih – alih marah bahkan kadang ada juga yang marah sambil menggunakan kekerasan fisik untuk membuat anak jera.

Dari tahun ke tahun perkembangan berbagai pola pengasuhan yang sudah banyak yang dinovasi, dan salah satunya adalah Organic Parenting, hal yang unik dari pola pengasuhan anak ini adalah menurut mungkin lebih mengingatkan saya pada pola pengasuhan di era 90-an yang lebih menyatu dengan alam tapi tidak dengan kekerasan fisik yang mana di era 90-an pola asuh orang tua terhadap anak identik dengan kata – kata tegas kekerasan fisik .

TEMPO.CO, JakartaOrganic parenting adalah salah satu pola asuh anak yang sedang diperbincangkan. Secara sederhana, orang tua akan menggunakan gaya alami dalam membesarkan dan pendidikan anak-anak.

Sebagai bentuk penggambaran yang lebih detail, psikolog tumbuh kembang anak, Chitra Annisya, pun menjelaskan empat karakteristik dari pengasuhan organik ini. Pertama, orang tua akan menetapkan pola makan yang bergizi tapi organik. 

“Artinya dia tidak menyentuh pestisida dan kandungan nonorganik lainnya, sehingga benar-benar alami,” katanya.

Selanjutnya, orang tua juga memperkenalkan banyak aktivitas fisik, sebab di era yang semakin modern ini, secara tidak sadar kegiatan yang membutuhkan gerakan itu sangat minim. Padahal, menurut Chitra, kegiatan multisensori sangat penting untuk tumbuh kembang anak. 

“Sekarang kalau mewarnai pakai gadget hanya menggunakan sentuhan jari saja. Hal ini bisa memperlambat sensorik dan motorik anak. Jadi untuk orang tua yang menerapkan organic parenting akan banyak mengimbau aktivitas multisensori,” katanya.

Ada pula interaksi dua arah antara orang tua dan anak. Menurut Chitra, orang tua sering kali mau berbicara namun enggan mendengar. Sedangkan bagi orang tua yang menerapkan pengasuhan organik, hukum alam untuk berbicara dan mendengar pun akan dilakukan.

“Biasanya orang tua lebih liberal. Jadi dia tidak malu dan mau menerima masukan maupun pendapat dari anak,” katanya.

Terakhir, orang tua dengan pengasuhan organik akan menyatukan anak dengan alam sebab berbagai manfaat positif bisa diraih dari hal ini. Misalnya, anak tidak mudah sakit karena kekebalan tubuh yang meningkat hingga lebih bahagia, sebab paparan sinar matahari bisa melepas hormon senang tersebut.

“Mereka biasanya kalau berlibur tidak ke mal tapi naik gunung atau ke pantai,” katanya.

Dari empat ciri ini, apakah Anda melakukan hampir semuanya? Bisa disimpulkan, Anda adalah seorang penganut pola asuh organik.

Dari berbagai pola asuh anak yang sedang berkembang pasti juga terdapat kelebihan dan kekurangannya, namun kita sebagai orang tua pasti juga tahu apa yang terbaik untuk anak, mau pola asuh seperti di era 90-an yang keras dan tegas juga masih boleh asalkan sesuai dengan proporsi dan tidak berlebihan, begitu pula sebaliknya mau menggunakan pola asuh yang lebih santai tapi tegas atau yang lainnya bisa – bisa saja asalkan sesuai kondisi dan proporsinya. Masih banyak berbagai macam pola asuh yang dapat kita terapkan sebagai orang tua terhadap anak – anak. Mari menjadi orang tua yang cerdas dan menyenangkan bagi anak- anak.

sumber artikel : https://gaya.tempo.co/read/1253385/kriteria-orang-tua-agar-masuk-kategori-tren-parenting-organic/full&view=ok Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua , Editor: Yayuk Widiyarti , Sabtu, 28 September 2019 09:48 WIB