Category Archives: Parenting

Ajari,Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial

sumber gambar : https://goresangurusemai.files.wordpress.com/2013/08/copy-header-blog-guru.jpg

Oke kali ini saya akan membahas mengenai sebuah topik yang mungkin kelihatan biasa – biasa saja ya? Emmm tentang Ajari, Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya mengenai kata – kata yang pernah saya dengar dari seorang psikolog yang berbunyi :

“Kita sebagai orang tua hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita harapkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua untuk anak – anak menreka kelak”

Statemen yang mungkin hanya sebagian orang saja yang mau merenungkan. Saat saya mendengar statemen ini saya baru sadar dengan apa yang psikolog itu katakan. Di era kemajuan jaman, kemajuan teknologi,komunikasi,iptek dan hal – hal lainnya saat ini. Banyak dari kita untuk berlomba – lomba mendapatkan sebuah pengakuan dari sebuah apa yang telah kita capai dan banyak pula orang tua yang berlomba – lomba untuk menyekolahkan anak – anak mereka ke sekolah favorit, unoversitas favorit, ataupun ke akademi – akademi yang notabene setelah lulus akan mendapatkan gelar dan juga pekerjaan yang bagus dan membangga – banggakan apa yang telah anak mereka peroleh.

Ya itu sih wajar – wajar saja jika orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak – anaknya, tetapi banyak yang mereka lupa ajarkan kepada anak – anak mereka untuk bekal nilai – nilai kehidupan dimasa depan khususnya dalam aspek bersosialisasi dengan lingkungan sekitar minimal di tempat tinggalnya. Orang tua lupa bahwa kelak anaknya juga akan menjadi seperti mereka membesarkan anak dan juga bersosialisasi dengan lingkungan disekitar tempat tinggal mereka.

Pernahkah saudara – saudara melihat jika ada kerja bakti bersih bersih kampung, kerja bakti pegajian, kerja bakti untuk kegiatan peringatan kemerdekaan, kegiatan remaja masjid dan even – even lainnya yang berada di lingkungan tempat tinggal, pernahkah melihat orang tua yang mengajak anak – anaknya yang ikut membaur melakukan kegiatan tersebut ? Sangat jarang sekali di era kemajuan jaman sekarang ini kita melihat anak- anak atau remaja ikut membaur dalam kegiatan sosial seperti diatas. Yang ada orang tua ikut kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal tetapi anak malah dibiarkan asyik dirumah bermain atau melakukan kegiatan lainnya di rumah. Dengan alasan anak sudah lelah sekolah, les, dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa sistem pendidikan di negara kita memang masih belum sempurna dengan berbagai mata pelajaran yang ada dan waktu sekolah yang panjang, mengakibatkan lingkungan sosial anak kebanyakan hanya dihabiskan di sekolah, namun sebagai orang tua hendaknya menyadari bahwa kebutuhan anak bukan hanya kebutuhan mengenai ilmu materi namun kebutuhan ilmu sosial juga diperlukan untuk memberikan pondasi saat mereka nanti beranjak menjadi dewasa bahkan menjadi orang tua.

Sesekali ajaklah bahkan suruhlah anak – anak untuk ikut membaur dalam kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tnggal . Agar terbentuk sebuah kepribadian yang matang jika nanti anak – anak sudah dewasa dan menghadapi berbagai karakter orang yang berbeda – beda. Menurut sudut pandang saya sendiri, saya khawatir jika anak – anak tidak pernah diajak sesekali ataupun disuruh untuk ikut kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, saya khawatir rasa sosial mereka dengan antar sesama akan biasa – biasa saja dan suasana rasa simpati juga empati terhadap sesama juga akan biasa biasa saja dan bisa jadi menjadi seorang yang kurang peka.

Sekarang kita lihat banyak aksi bulli di kalangan anak, banyak aksi anak /murid yang sudah berani melawan gurunya sendiri, banyakkan sekarang guru menjadi sasaran laporan ke pihak yang berwajib hanya karena memarahi atau mengingatkan anak/murid yang salah dan ironisnya orang tua juga ikut – ikutan tidak terima jika anaknya dmarahi/atau sang guru, bahkan disuatu artikel memberitakan seorang murid mengakhiri nyawa gurunya hanya karena diingatkan saat merokok.

Menurut saya kejadian kejadian ini dikarenakan kurangnya pendidikan moral dan sosial dari orang tua di era kemajuan jaman saat ini. Sempatkanlah dan ajarkanlah, mungkin itu yang harus orang tua lakukan walau sibuk dengan pekerjaan. Apa gunanya mengejar harta jika anak tidak berlaku baik dan juga tidak saling mengasihi anatar sesama. Diharapkan dengan anak diajarkan, diajak dan disuruh untuk mengikuti kegiatan – kegiatan sosial dan juga berbaur minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, minimal mereka anak -anak akan lebih peka terhadap apa yang sedang terjadi, lebih simpati dengan sesama, dan lebih menghormati dengan sesama. Karena pendidikan yang mahal bukanlah dengan menyekolahkan di sekolah atau universitas favorit tetapi pendidikan yang mahal adalah pendididikan tentang nilai – nilai aspek kehidupan bersosialisasi dengan sesama yang akan menjadi bekal atau pondasi di kehidupan masa depan.

Jika terdapat salah kata saya mohon maaf karena semua memiliki presepsi masing – masing dan ini merupakan sudut pandang saya sendiri mengenai perlunya orang tua mengajarkan dan juga menanamkan nilai – nilai sosial dalam kehidupan ini.

Salam dari Bim

Berikut Beberapa Metode Pendidikan untuk anak laki laki agar terhindar dari SSA

  1. Jangan memberi mainan anak perempuan kepada anak laki-laki (seperti boneka, bunga, mainan alat masak, accesories wanita seperti bando, jepitan rambut, bedak wajah, alat kosmetik, buku-buku perempuan seperti buku / majalah kecantikan merawat kulit dan rambut wanita, majalah fashion untuk wanita, buku resep memasak untuk ibu-ibu, buku komik degan karakter utama anak perempuan, dll
  2. Jangan memberi tontonan tv anak perempuan kepada anak laki-laki seperti anime yang tokoh utamanya perempuan seperti sailormoon, wedding peach, dll
  3. Jauhkan anak dari tontonan tv yang ada banci nya, atau karakter laki-laki yang menyerupai perempuan
  4. Hitung teman laki-laki dan perempuannya di rumah dan sekolah, jangan sampai teman perempuannya lebih banyak daripada teman laki-lakinya
  5. Usahakan carikan anak teman yang sebaya/seumuran di lingkungan dan sekolahnya
  6. Jangan sampai anak terlalu dekat dengan ibunya, tetapi ada jarak dengan ayahnya, karena ayah akan mewarisi sifat keberanian kepada anaknya sedangkan ibu akan mewarisi sifat kelemahlembutan kepada anaknya, jadi keduanya harus seimbang
  7. Jangan menghukum anak dengan hukuman fisik, karena hukuman fisik hanya akan menyebabkan anak semakin takut untuk berkomunikasi degan orang tuanya, sehingga orang tua menjadi tidak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran anak
  8. Jangan hanya bisa menyuruh, memarahi dan menceramahi anak tapi tidak pernah memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara dan jadilah pendengar yang baik untuk keluh kesah anak
  9. Ajarkan anak laki-laki degan olahraga dan dukunglah dia untuk mencintai olahraga yang ia sukai, karena dengan olahraga dapat fisik anak laki-laki semakin kuat sehingga dapat menambah kepercayaan dirinya
  10. Sentuhlah anak laki-laki baik fisik dan juga jiwanya, ayah harus sering memeluk, menggandeng menggendong dan mencium anaknya sejak kecil agar komunikasi ayah dengan anak semakin baik
  11. Buatlah hari spesial untuk anak seminggu sekali degan ayah dan 1 orang anak saja, ajaklah anak bermain, jangan ada banyak perintah dan larangan pada hari itu, lebih banyakkan bermain dan mendengar isi hati anak
  12. Jauhkan anak dari gadget/hp dan tv, batasi maksimal hanya 2 jam per hari, tempatkan gadget/hp dan tv pada ruang utama sehingga orang tua leluasa untuk memantau, ajarkan anak untuk meminta izin kepada orang tua terlebih dahulu sebelum memakai gadget/hp atau menyalakan tv
  13. Jangan memberi anak laki-laki pakaian / accesories yang mirip degan perempuan, misal kaos yang berwarna pink, kaos yang ada gambar bunga, boneka, dll
  14. Larang anak untuk bermain internet di warnet tanpa pendampingan dari orang tua
  15. Jangan pelit untuk memuji anak bila anak berhasil mencapai sesuatu walaupun itu hal yang sangat sepele bagi orang tua
  16. Orang tua harus belajar dan mengajarkan pendidikan sex bagi anak, orang tua harus bisa menjawab setiap pertanyaaan anak tentang sex dengan penjelasan yang sesuai dengan umurnya dengan baik, karena bila tidak, anak akan mencari jawabannya diluar seprti warnet, bertanya kepada orang yang tidak dikenal, dll
  17. Pisahkan tempat tidur anak dengan orang tua atau dengan adik dan kakaknya ketika berumur 7 tahun
  18. Ajarkan anak untuk mengetuk pintu dan meminta izin masuk bila ingin masuk kamar, jangan sampai anak melihat orangtua nya yang sedang berhubungan badan atau sedang terbuka auratnya saat ganti baju
  19. Jangan sering membanding-bandingkan anak dengan yangg lain, baik dari segi fisik, prestasi atau apapun karena hanya akan menyebabkan anak minder dan tidak percaya diri, padahal seorang anak laki-laki seharusnya harus dididik untuk memiliki keberanian dan kepercayaan diri
  20. Jangan pelit untuk membelikan anak laki-laki makanan yang bergizi agar fisiknya kuat dan sehat, sehingga anak laki-laki dapat semakin percaya diri karena memiliki fisik yang sehat dan kuat
  21. Sering-seringlah mengungkapkan kata2 seperti “ayah sayang bayu”dalam momen tertentu saat intim degan anak
  22. Setelah menghukum anak (bukan hukuman fisik tentunya), tunggu sampai anak tenang, kemudian peluk anak dan minta maaflah dan beri penjelasan kenapa anak dihukum
  23. Jangan mengajak anak utk bermain permainan anak perempuan, seperti main bekel, lompat tali/semprengan, engkleng, main dakon, ibu-ibuan, dll
  24. Jangan membiarkan anak utk menonton film-film hollywood / non hollywood yang ada adegan orang dewasa seperti cium-ciuman, hubungan intim, walaupun itu film adaptasi dari komik marvel misal nya seperti spiderman, superman, batman, dll
  25. Ajaklah anak laki-laki dengan kegiatan laki2, seperti mencuci motor, membantu ayah mengangkat barang berat, mengecat tembok, menservice lampu yang rusak, membenarkan gendeng yg bocor, mencuci mobil, main kelereng, main layangan, beladiri, sholat jamaah di masjid, memancing, nonton sepakbola di stadion/tv , nonton motorgp, nonton balapan kuda, dll
  26. Tunjukkan kemesraan ayah dengan ibunya, misal ajak anak laki-laki mempersiapkan kejutan untuk merayakan ulang tahun ibunya
  27. Berhati-hatilah dalam menitipkan pengasuhan anak kepada orang lain walupun itu orang terdekat misal neneknya, kakeknya, budenya, omnya, tetangganya, karena biasanya pelecehan seksual sering terjadi dari orang terdekat anak, sebisa mungkin diasuh sendiri, bila tempat kerja membolehkan membawa anak sebaiknya dibawa saja agar anak juga mengenal pekerjaan ayahnya
  28. Jangan menujukkan pertengkaran / ketidakharmonisan di depan anak
  29. Jangan mengajak anak untuk membenci ayahnya sendiri karena sifat buruk ayahnya yang tidak disuka ibunya
  30. Usahakan jangan sampai terjadi perceraian, bila memang mau bercerai selesaikan dengan baik-baik dan jelaskan kepada anak dengan penjelasan yang baik kenapa ayah ibu berpisah dan asuhlah anakmu dengan penuh kasih sayang seperti sebelum bercerai dulu
  31. Jangan menganggap tugas mendidik anak adalah tugas ibu saja, tapi juga tugas seorang ayah, karena anak butuh figur seorang ayah untuk mengisi jiwanya
  32. Ajarkan anak dengan sifat malu bila auratnya terbuka sejak dini
  33. Ajarkan anak tentang bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain
  34. Ajarkan anak untuk segera melaporkan ke orang tua atau melawan bila ada bagian tubuh anak yang tidak boleh disentuh oleh orang lain walaupun diancam bila memberitahu
  35. Ajarkan anak tentang tauhid sejak dini
  36. Ajarkan anak untuk mencintai Allah, Rosul Allah dan Al-quran sejak dini

Semoga Bermanfaat 🙂

MENGOPTIMALKAN PENGASUHAN BERDASAR ILMU NEUROPARENTING

sumber gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSogZYzZQiqUdd5Lbx1At4NijDFbTr-ywhw8Y5xWWP1XBGtZs9A

*Ani Khairani, M.Psi, Psikolog*

(Direktur UNIK.Edu+ Educational Psychological Consultancy, Aktivis gerakan Indonesia Beradab, Pemilik Khalifah Childcare Tapos Depok)

A. MENGENAL OTAK SEBAGAI SUMBER PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DAN PERILAKU*

Kenapa kita merasa hidup selalu di kelilingi masalah? Kenapa ada orang yang berperilaku baik dan buruk, apa yang mendasarinya? Dari mana proses kepribadian itu bertumbuh dan berkembang?

Manusia diberikan potensi Akal yang terdiri dari organ otak di bagian tertinggi di tubuhnya yaitu kepala.

Otak adalah mahluk Ajaib, kurang lebih 1500 gr beratnya dari tubuh kita, dengan tekstur lembut seperti kembang tahu, yang dilapis 7 lapisan dalam sel neuron di cortex cerebri (kulit otak) dan 7 lapisan Tengkorak – selaput otak terdalam. Dan dilapisan tengkorak ini harus menggunakan gergaji khusus untuk membukanya.

Jika satu otak di jadikan satu lembar saja niscaya ia akan menutupi lapangan sepakbola, dan jika lapisan itu dibuat lebih tipis lagi niscaya dia akan menutupi seluruh permukaan bumi.

_*Apakah pernah selama ini kita mensyukuri karunia dan nikmat memiliki otak ini?*_

Otak terdiri dari 100 milyar neuron yang siap distimulasi, yang setiap 1 neuron sanggup untuk bersambungan dengan 10.000 neuron yang lain, membentuk koneksi sirkuit bakat, kemampuan, perilaku bahkan pribadi..

Dari keseluruhan kurang lebih 100 onderdil otak, mari kita kenali onderdil otak mana saja yang mempengaruhi pengasuhan pada anak.

*Otak pada anak yg harus distimulasi dlm pengasuhan* adalah: Pancaindera, Amygdala, Ganglia basalis, Broca wernick, labus parientalis, Hippocampus, Insula.

CARA MENSTIMULASINYA :

*Pancaindera* : Stimulasi keseluruhan indera Anak sekaligus ketika memahamkan dan membiasakan sesuatu. Belajar dengan praktek 90% akan lebih diterima otak dibanding hanya melihat atau mendengarkan saja.

*Amygdala*: Kenalkan emosi dasar (takut, sedih, bahagia, Jijik, Marah), teladankan ekspresi emosi yang baik.

*Ganglia basalis*: Kemampuan otomatisasi, biasakan anak untuk berbuat baik, dan buat itu menjadi otomatis.

*Broca wernick*: luangkn waktu untuk dialog dengan anak untuk menstimulasi kemampuan dan pemahaman bahasa

*lobus parientalis* : Masukan imajinasi-imajinasi yang konstruktif, bimbing imajinasinya untuk membuat anak kelak tumbuh menjadi visoner, namun jika kebalikannya justru kita menstimuasi imajinasi yang destruktif, anak akan memiliki sirkuit “rumah hantu” tempat false belief/bias2 berpikir akan mengarahkan kehidupannya kelak.

*Hippocampus:* tumbuh di usia anak 4 tahun, stimulasi dengan berpikir rasional/kognitif, memilih, menilai, baca dan kalkulasi, ini bekal untuk kemampuannya mengelola stress.

*Insula*: mengatur stimulus yang diterima indera dan diasosiasikan menjadi harmoni yang baik.

Sedangkan *OTAK YANG KITA PERLUKAN SEBAGAI ORANGTUA* yang mengasuh anak adalah PFC, sistem limbic dalam (amygdala), Cingulat, Basal Ganglia.

Cara menstimuasinya :
*PFC* Tanamkan niat yang baik, tanamkan bahwa setiap perilaku yang kita tampilkan harus mempunyai tujuan

*sistem limbic dalam (amygdala)*: latih amygdala dengan kendalikan dorongan emosi, tunda keinginan yang muncul, kaitkan perasaan dengan nilai dan moral yang telah dipahami dalam PFC.

*Cingulat* : Latih kemampuan penyesuaian diri, dan fleksibilitas dalam menghadapi segala sesuatu sehingga memiliki alternatif pemecahan masalah, kurangi sikap perfeksionis.

*Basal Ganglia:* Ganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik. Cukup memerlukan waktu 3 bulan untuk mengubah kebiasaan.

*TUJUAN NEUROPARENTING*

Menjadikan Anak : *TANGGUH, CERDAS dan BERAKHLAQ BAIK*

Untuk mencapai tujuan ini harus di lalui dengan SYARAT:

Otak Rasio, Otak Emosi, Otak sensorik dan Motorik HARUS NORMAL

*Untuk mencapai OTAK NORMAL :*
1. Nutrisi Yang Cukup Dan Tepat : Nutrisi terbaik Ikan-ikanan dan kacang-kacangan
2. Lingkungan Yang Sesuai : cari tempat tinggal berdasarkan lingkungannya yang baik
3. Pengalaman Emosi Yang Membangun : contoh-contoh-contohkan keteladanan dalam mengelola dan mengendalikan emosi dari significant other. Anak bisa mengidentifikasi perasaan hatinya
4. Stimulus Rasional Yang Tepat : ajari berpikir benar/ contoh berpikir salah : dari kecil ditakuti hantu, kalau jatuh disalahkan kodok, dll
5. Aktivitas Fisik Yang Sesuai : Anak yang normal adalah anak yang bisa berlari dan memanjat ketika kecilnya.

*B. PETA PERKEMBANGAN OTAK MANUSIA*

Ketiga tujuan Neuroparenting ini dibagi menjadi 3 Sesi Peta perkembangan :

*Usia 0-7 Tahun*

– TANGGUH ditumbuhkan dengan menstimulasi otak emosinya : supaya dia bisa mengidentifikasi perasaaannya dan mengelola emosinya: CARANYA: TELADAN Emosi dari Orangtua, tularkan beremosi yang sehat..

– 0-3 Tahun percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 8x dari orng dewasa, seperti spons, dia akan menyerap seluruhnya air yang ada di sekitarnya. Kekejian yang biasa dilakukan orangtua pada usia ini adalah ketika anak dilabel negatif dan buruk, dia akan menganggap 8 kali lebih buruk dari apa yang kita sampaikan kepadanya.

– Stimulasi yang baik pada Otak emosi ketika Bayi : adalah pembiasaan yang ditampilkan oleh orangtuanya, yaitu: tatapan mata yang teduh, intonasi suara yang terkendali, detak jantung yang tenang, hembusan nafas yang nyaman, keringat yang normal.

– 3-7 Tahun percepatan penyerapan otak manusia berkurang pada usia ini menjadi 5x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *50% kemampuan EMOSI, 40% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 10% kemampuan kognitif/Rasio.*

*Usia 7-14 Tahun*

– CERDAS ditumbuhkan dengan menstimulasi otak PFC (prefrontal Cortex)nya CARANYA: masukan ilmu yang benar, nilai dan moral melalui dialog dua arah, luangkan waktu untuk membimbing rasionalitasnya.

– Tanamkan disiplin dan pengaturan diri, hubungan sebab akibat yang benar, ajarkan makna kebaikan..

– Percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 3-4x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *30% kemampuan EMOSI, 20% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 50% kemampuan kognitif/Rasio.*

*Usia 14-21 Tahun*

– ASAH JATI DIRI Dampingi konsistensinya dalam kebaikan dan berakhlaq baik.

– Percepatan penyerapan otak manusia bekerja pada usia ini adalah 2x dari orng dewasa,

– Saat periode ini kejar PERKEMBANGAN : *30% kemampuan EMOSI, 5% kemampuan kinestetik dn psikomotor, 65% kemampuan kognitif/Rasio.*


*C. YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANGTUA*

Kenapa kita senantiasa merasa menghadapi banyak masalah dan muncul keputusasaan dalam mengasuh anak?

*Hal ini terjadi karena tidak terlatih dalam kemampuan berpikir. Boleh jadi kita berpikir setiap hari namun PIKIRAN yang kita munculkan HANYA BERSIFAT INSTINGTIF/naluriah belaka, bukan BERPIKIR yang TERLATIH.*

Berpikir dengan Insting merupakan berpikir “daya hewani” lebih banyak menggunakan Sistem limbic (mengutamakan perasaan dan emosi) , dibandingkan dengan berpikir terlatih yang menggunakan Prefrontal Cortex (mengutamakan nilai, kedalaman ilmu, moral).

Berlatih untuk memiliki BERPIKIR yang TERLATIH adalah dengan :

– Cari terus ilmu

– Kelola informasi dengan baik

– Hilangkan bias-bias negative/false belief

– Latih berpikir kritis dan berpikir kreatif


*KEMAMPUAN YANG HARUS DIMILIKI ORANGUA YANG AKAN TERTULAR KEPADA ANAK :*

A. Ketrampilan kalkulatif : kemampuan memprediksi, mengira dan menghitung baik dan buruk suatu aktivitas dilakukan

B. Kemampuan Komunikatif : kemampuan yang bukan hanya berbicara tapi bisa berbahasa

C. Kemampuan analitik dan kreatif : proses berpikir yang menggunakan kemampuan kreatif dan analitis sekaligus dalam memecahkan persoalan yang ada

D. Motivasi dan pengendalian diri : dasar kemampuan yang dapat mengelola emosi dan mengaktifkan berpikir yang benar.

E. Kemampuan memilih dan memutuskan : kemampuan mengeksekusi keputusan yang diambil untuk menghindari rasa ragu dan plinplan

F. Kemampuan fisik : memenuhi nutrisi dan aktivitas fisik yang mencukupi

*Tak cukup dengan otak normal yg membuat kita hidup.. tapi kita harus memiliki otak sehat, yg membuat Kita menjadi “MANUSIA” *

*OTAK SEHAT* : memiliki 3 komponen yaitu otak yang normal (memiliki keterampilan berpikir + pemahaman dan pembiasaan konsep2 agama dan spiritual).

Otak yang sehat menghasilkan pikiran dan perilaku dan kepribadian yang sehat.

Otak memiliki kemampuan untuk menyehatkan dirinya sendiri melalui:

*PERBAIKAN BERPIKIR dan LATIHAN-LATIHAN* intens dan Permanen (Istiqomah dan istimror)

Fitrah Otak bagian Prefrontal Cortex adalah fitrah kebaikan…

Semasa pembuahan zygote sudah terinstall nilai kebaikan-kebaikan didalam otak kita. Jika ada ketidakbenaran yang dilakukan maka reaksi tubuh akan destruktif (Prof. Donald W.Puff : dlm Bukunya Foreplay)

False Beliefs yang dipahami seseorang akan menjadi benturan terhadap Nilai kebaikan yang sudah ada.

False Beliefs itulah yang membuat seseorang mengambil keputusan atas permasalahan yang
dihadapi dipastikan berdasarkan emosinya,

Amygdala meng-hijack Prefrontal cortex agar nilai kebaikan ditinggalkannya dalam membuat keputusan dan mendahulukan sesuatu yg alih-alih rasional namun nyatanya emosional.

Ketika kudeta amygdala ini respon yang akan kita tampilkan adalah respon darurat, Reaktif dan tanpa pilihan yaitu : *Menyerang/FIGHT, dan Kabur/FLIGHT*

Dan ketika ini terjadi otak bekerja dalam kondisi yang tidak sehat dan dipastikan akan terjadi kondisi destruktif secara fisik.

Jika ini terulang terus maka jadilah habit/kebiasaan. Nilai kebaikan sebelumnya akan perlahan ditanggalkan, jadilah Amygdala menguasai hidupnya. Saat itulah dikatakan, kondisi otak yang tidak sehat.

Begitupun untuk false beliefs yang lainnya..
Maka selalu berupaya menginstall otak kita dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, akan menyehatkan baik otak maupun fisik kita.

*Yang perlu menjadi perhatian dan diperbaiki dalam BEREMOSI adalah:

1.Cakap emosi (caranya : kenali emosi, kelola emosi, tanamkan dan biasakan empati) hal ini akan mengendalikan otak amygdala kita. Memendam emosi dan memuntahkannya sama-sama merusak otak, Yang betul adalah KELOLA EMOSI.

2.Tanamkan pikiran positif dan banyak menggali ilmu dan hikmah dimanapun berada hal ini akan menyambungkan dan memperkaya otak kognisi kita dibagian prefrontal cortex.

3.Latihan dan biasakan selalu respon yg positif terhadap sesuatu, sehingga terjadilah pemecahan masalah yg tepat.

4.Temukan selalu hal-hal yg menjadi stimulan destruktif/merusak dlm pikiran kita

5.Gantilah berbagai keburukan yg telah kita lakukan dengan kebaikan-kebaikan.

6.Tanamkan tujuan untuk mencapai kemuliaan dalam hidup, baik didunia maupun diakhirat selalu memiliki tujuan ketika melakukan segala sesuatu–> tanamkan niat kebaikan atas apa yg akan kita lakukan.

7. Latih dan biasakan terus untuk bermanfaat bagi orang lain..

Demikian, semoga bermanfaat ….

#HeldbyDiskusiEmakkekinianGrup
#SalamOtakSehat
#Depok, 4 April 2017
~Ankhaira@2017

sumber artikel : https://www.facebook.com/291070504245884/photos/mengoptimalkan-pengasuhan-berdasar-ilmu-neuroparentingani-khairani-mpsi-psikolog/1771995429486710/

Tren Parenting Organic, Bagaimana Kriteria Orang Tua Supaya menjadi Parenting Organic

sumber gambar : https://img.lovepik.com/original_origin_pic/18/10/19/9f0bd4d1f5501c878efab2c955dcd0e4.png_wh860.png

Pola pengasuhan orang tua pada anak kian hari makin menunjukkan berbagai inovasi, dikarenakan di era milenial dan di kemajuan jaman saat ini, pasti akan banyak pola perubahan perilaku manusia khususnya juga terhadap pekembangan pola perilaku anak – anak yang mestinya sangat berbeda dengan pola perilaku anak- anak diera tahun 90-an.

Maka dari itu perlu inovasi di dalam pola asuh anak diera saat ini. Dulu mungkin di era 90-an pola pengasuhan lebih keras dan tegas namun di era sekarang sangatlah tidak bisa sembarangan untuk mengasuh anak. Di era jaman 90-an mungkin anak akan langsung diam ketika orang tua marah, alih – alih marah bahkan kadang ada juga yang marah sambil menggunakan kekerasan fisik untuk membuat anak jera.

Dari tahun ke tahun perkembangan berbagai pola pengasuhan yang sudah banyak yang dinovasi, dan salah satunya adalah Organic Parenting, hal yang unik dari pola pengasuhan anak ini adalah menurut mungkin lebih mengingatkan saya pada pola pengasuhan di era 90-an yang lebih menyatu dengan alam tapi tidak dengan kekerasan fisik yang mana di era 90-an pola asuh orang tua terhadap anak identik dengan kata – kata tegas kekerasan fisik .

TEMPO.CO, JakartaOrganic parenting adalah salah satu pola asuh anak yang sedang diperbincangkan. Secara sederhana, orang tua akan menggunakan gaya alami dalam membesarkan dan pendidikan anak-anak.

Sebagai bentuk penggambaran yang lebih detail, psikolog tumbuh kembang anak, Chitra Annisya, pun menjelaskan empat karakteristik dari pengasuhan organik ini. Pertama, orang tua akan menetapkan pola makan yang bergizi tapi organik. 

“Artinya dia tidak menyentuh pestisida dan kandungan nonorganik lainnya, sehingga benar-benar alami,” katanya.

Selanjutnya, orang tua juga memperkenalkan banyak aktivitas fisik, sebab di era yang semakin modern ini, secara tidak sadar kegiatan yang membutuhkan gerakan itu sangat minim. Padahal, menurut Chitra, kegiatan multisensori sangat penting untuk tumbuh kembang anak. 

“Sekarang kalau mewarnai pakai gadget hanya menggunakan sentuhan jari saja. Hal ini bisa memperlambat sensorik dan motorik anak. Jadi untuk orang tua yang menerapkan organic parenting akan banyak mengimbau aktivitas multisensori,” katanya.

Ada pula interaksi dua arah antara orang tua dan anak. Menurut Chitra, orang tua sering kali mau berbicara namun enggan mendengar. Sedangkan bagi orang tua yang menerapkan pengasuhan organik, hukum alam untuk berbicara dan mendengar pun akan dilakukan.

“Biasanya orang tua lebih liberal. Jadi dia tidak malu dan mau menerima masukan maupun pendapat dari anak,” katanya.

Terakhir, orang tua dengan pengasuhan organik akan menyatukan anak dengan alam sebab berbagai manfaat positif bisa diraih dari hal ini. Misalnya, anak tidak mudah sakit karena kekebalan tubuh yang meningkat hingga lebih bahagia, sebab paparan sinar matahari bisa melepas hormon senang tersebut.

“Mereka biasanya kalau berlibur tidak ke mal tapi naik gunung atau ke pantai,” katanya.

Dari empat ciri ini, apakah Anda melakukan hampir semuanya? Bisa disimpulkan, Anda adalah seorang penganut pola asuh organik.

Dari berbagai pola asuh anak yang sedang berkembang pasti juga terdapat kelebihan dan kekurangannya, namun kita sebagai orang tua pasti juga tahu apa yang terbaik untuk anak, mau pola asuh seperti di era 90-an yang keras dan tegas juga masih boleh asalkan sesuai dengan proporsi dan tidak berlebihan, begitu pula sebaliknya mau menggunakan pola asuh yang lebih santai tapi tegas atau yang lainnya bisa – bisa saja asalkan sesuai kondisi dan proporsinya. Masih banyak berbagai macam pola asuh yang dapat kita terapkan sebagai orang tua terhadap anak – anak. Mari menjadi orang tua yang cerdas dan menyenangkan bagi anak- anak.

sumber artikel : https://gaya.tempo.co/read/1253385/kriteria-orang-tua-agar-masuk-kategori-tren-parenting-organic/full&view=ok Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua , Editor: Yayuk Widiyarti , Sabtu, 28 September 2019 09:48 WIB