Category Archives: Parenting

Kapan Waktu Aman Penggunaan Gadget Bagi Anak ?

sumber gambar : https://matakepri.com/images/data/news-pic/20170920041058-blog.tokopedia.com_.jpg

Hai sobat peduli tahukah kalian kapan waktu yang pas bagi sobat khususnya kalian para mamah papah muda atau yang baru saja mempunyai anak saat ingin mengenalkan gadget kepada anak – anak kalian?

Pernah gak sih sobat menenangkan bayi kalian saat nangis dengan menontonkan video kartun atau lucu kepadanya ? Yaps munkin itu adalah alternatif juga mungkin itu merupakan cara efektif diera digital saat ini untuk sobat para orang tua untuk menenangkan atau menghibur si bayi tanpa harus keluar rumah dan tenaga. Cukup geser – geser, ketik – ketik dah jadi. Mungkin maksud kita baik namun justru sebaliknya itu cara tersebut kurang baik jika dilakukan pada anak- anak kita khususnya balita.

Dilansir dari halodoc.com American Association of Pediatrics (AAP) melaporkan bahwa anak-anak menghabiskan rata-rata tujuh jam sehari untuk menggunakan media. Ini termasuk televisi, laptop, smartphone, dan alat elektronik lainnya. Padahal, sebuah studi menunjukkan bahwa penggunaan media terlalu dini dan berlebihan bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak, lho. Seperti :

  • Rentan mengalami ketergantungan pada gadget.
  • Memengaruhi kemampuan berbicara dan bersosialisasi.
  • Memengaruhi perkembangan kesehatan mental dan sosial.
  • Berisiko terpapar pengaruh buruk dari internet, termasuk rentan menjadi korban bullying.

Untuk itu American Association of Pediatrics (AAP) mengeluarkan beberapa aturan :

Usia Dibawah 18 bulan

Untuk anak dengan usia dibawah 18 bulan anak hanya boleh menggunakan video chatting atau video call pada gadget hal tersebut dikarenakan mungkin dari sobat para orang tua ada yang sedang bekerja du luar kota atau punya keluarga dari luar kota. Jadi hal ini bertujuan untuk mengajarkan si kecil berkomunikasi.

Usia 18 – 24 bulan

Duisia ini peranan sobat sebagai orang tua benar – benar sangat penting dalam mendampingi si kecil jika sobat ingin mengenalkan gadget kepadanya. Mulai dari memilih aplikasi yang edukatif dan tentunya perlu pendampingan agar si kecil tidak berlebihan menggunakannya. Namun alangkah lebih baik jika sobat juga mengajak si kecil dengan berbagai aktifitas fisik dan aktifitas edukatif lainnya agar menstimulasi tumbuh kembang otak dan juga kreativitasnya juga untuk melatih kemampuan berbicara dan juga bersosialisasi.

Usia 2 5 tahun

beberapa aturan aman bermain gadget di usia 2-5 tahun:

  • Batasi waktu Si Kecil bermain gadget, yaitu maksimal 2 jam per hari. Tetapkan juga kapan dan dimana Si Kecil boleh dan tidak boleh menggunakan gadget.
  • Jangan izinkan Si Kecil bermain gadget saat makan, waktu belajar, dan satu jam sebelum tidur. Matikan televisi dan hindari gadget dari Si Kecil di waktu-waktu tersebut.
  • Pilih program televisi yang edukatif, informatif, dan tidak mengandung kekerasan. Pastikan ibu selalu mendampingi Si Kecil saat ini menonton televisi atau menonton video melalui smartphone.
  • Jangan memberikan Si Kecil gadget saat rewel. Jika dibiasakan, ini akan memengaruhi perkembangan pengendalian emosinya.
  • Jangan meletakkan televisi di kamar Si Kecil agar tidak memengaruhi kualitas dan kebiasaan tidur Si Kecil.
  • Pastikan juga Si Kecil tetap melakukan aktivitas fisik yang interaktif. Misalnya, membaca atau bermain bersama keluarga dan teman sepermainannya.

Usia 6 tahun lebih

Tetap batasi waktu dan jenis tayangan yang Si Kecil lihat melalui gadget. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan gadget tidak memengaruhi kualitas tidur, aktivitas fisik, dan perilakunya. Agar komunikasi tetap terjalin, ibu bisa menyediakan waktu khusus untuk berbincang dengan Si Kecil. Misalnya, saat makan siang/malam, di dalam kendaraan, atau di kamar tidur. Pastikan juga ibu memberitahu Si Kecil tentang batasan dalam penggunaan gadget, termasuk tentang etika dan cara menghargai orang di dunia nyata dan maya.

Oke sobat itulah beberapa aturan yang harus sobat terapkan saat ingin mengenalkan gadget pada anak – anak kalian tetapi jangan lupa peranan sobat sebagai orang tua untuk mendampingi dan mengawasi juga sangat penting saat anak mulai mengenal gadget, jangan sampai anak menjadi berlebihan dan menjadi candu terhadap gadgetnya.

Sumber artikel : https://www.halodoc.com/aturan-aman-penggunaan-gadget-pada-anak oleh Redaksi Halodoc 29 June 2018

APAKAH Kalian Termasuk Helikopter Parenting ? Wahai Para Orang Tua

sumber gambar : https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2019/11/10/1710-helicopter-parenting-5dc78c88d541df5f1a7274c2.png

Hai para orang tua pernahkah kalian selalu merasa harus berasda di dekat anak, selalu ingin mengawasi apa saja yang sedang dilakukan anak di luar sana, selalu ingin membantu anak ketika ia mengalami kesusahan.

Perlu diketahui wahai para orang tua, mungkin tujuan kalian baik sekali ingin selalu melihat dan membuat anak bahagia atau ingin selalu menjadi pahlawan bagi anak – anak kalian, namun jangan salah dengan kalian memperlakukan anak dengan perhatian – perhatian yang berlebih justru akan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak yang nantinya akan menghadapi berbagai macam ujian hidup dan juga berbagai macam karakter manusia yang berada disekitarnya.

Mungkin fenomena Helikopter Parenting adalah hal yang pas untuk para orang tua yang kadang terlalu memberikan perhatian berlebih pada anak – anak mereka. Dilansir dari popmama.com ingin tahu bagaimana pembahsan mengenai helikopter parenting ? Simak ulasannya dibawah ini.

1. Gaya pengasuhan yang selalu membayangi si Kecil

Layaknya helikopter yang terbangnya tidak setinggi pesawat lain, gaya pengasuhan helikopter menerapkan hal yang sama. Dengan kata lain, orangtua kerap membayangi si Kecil. 

Tujuan utamanya, agar si Kecil tetap dalam perlindungan dan pengawasan orangtua. Maksud awalnya baik, ingin si Kecil terlindungi dari hal yang tidak diinginkan. Namun bisa berefek buruk pada perkembangan anak.

Gaya pengasuhan ini yang membuat Mama selalu memperhatikan anak saat di taman bermain dan tak ragu untuk membela anak saat terlibat konflik. 

Atau, yang membuat Mama terus bertanya pada guru si Kecil mengenai keseharian anak, di luar dari laporan yang sudah diberikan. Sehingga Mama bisa mengetahui keseluruhan kegiatan si Kecil. Dengan kata lain, agar Mama bisa terus mengontrol perkembangan buah hati.

Dengan begitu, anak tidak akan belajar inisiatif untuk menyelesaikan konflik dan berkembang jadi pribadi yang lebih berani. Anak akan cenderung diam dan kurang inisiatif karena bagian itu sudah dilakukan oleh Mama atau Papanya.

2. Kerap menyelamatkan anak dari keadaan tidak menyenangkan

Mama selalu membantu tugas sekolah si Kecil. Bahkan, saat buah hati sudah terlalu lelah dan tak bisa menyelesaikannya, Mama bisa membenahinya tanpa diminta. 

Saat si Kecil ketinggalan tugas atau buku pelajarannya, Mama akan mengantarkannya ke sekolah agar mereka bisa belajar dengan maksimal.

Ketika anak terlibat dalam konflik antar sesama teman, Mama tidak ragu mengintervensi keadaan agar konflik segera selesai dan si Kecil bisa kembali bermain. Serta segudang penyelamatan lainnya. 

Jika sering dilakukan, anak akan selalu mengandalkan orangtua mereka. Tak peduli tanggung jawab yang telah dibebankan padanya, karena orangtuanya pasti menolongnya. 

Bagaimana jika Mama tidak bisa lagi ada di sisinya? Bagaimana ia akan menjalani hari-harinya?

3. Seringnya orangtua tidak menyadari melakukan gaya pengasuhan ini

Pada dasarnya, tidak ada orangtua yang ingin mengasuh dengan gaya helicopter parenting. Namun di sisi lain, ada keinginan besar agar si Kecil selalu bisa berhasil dan bisa nyaman menjalankan hari.

Hal inilah yang membuat Mama menjadi terlibat dalam pengasuhan helicopter parenting. 

Bahkan beberapa orangtua sadar hal ini tidak baik untuk perkembangan si Kecil. Hanya saja tidak tahan melihat si Kecil mengalami ketidaknyamanan atau kegagalan. 

Kalau sudah begini, bukan anak yang harus berubah. Tapi orangtua yang harus membenahi diri dan mengatur kembali mindset pengasuhan anak.

4. Biarkan anak mengenal konsekuensi

Untuk menghindari gaya pengasuhan helicopter parenting yang tidak sehat bagi anak dan orangtua, ada baiknya mengenalkan anak pada konsekuensi. 

Saat anak lupa bawa tugasnya, biarkan ia mendapatkan konsekuensinya dari sekolah. Dengan begitu, ia akan belajar untuk lebih teliti dan bertanggung jawab atas tugasnya. 

Begitu juga saat terjadi konflik, biarkan anak belajar menyelesaikan masalah. Jika kesalahan ada di si Kecil, saatnya ia belajar untuk jadi pribadi yang baik. Jika kesalahan ada di temannya, saatnya ia belajar memaafkan. 

Dengan begitu, ia bisa lebih berhati-hati jika ingin melakukan sesuatu. Juga, anak bisa menimbang mana yang prioritas, mana yang tidak. 

Biarkan ia mengenal konsekuensi dan menjadi anak yang lebih mandiri. 

5. Ajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya

Salah satu efek negatif jangka panjang helicopter parenting adalah anak tidak mengenal kegagalan. Ini dikarenakan orangtua kerap melindungi anak dari merasakan kegagalan. 

Jika tidak pernah gagal dan pada suatu hari mereka merasakan pahitnya terjatuh, kemungkinan besar bisa berujung pada depresi. Paling parah, bisa terpuruk dan akan sulit untuk kembali bangkit. 

Belum terlambat bagi Mama untuk mengajarkan anak bahwa kegagalan bukanlah akhir dunia. Serta, kegagalan bisa jadi proses pendewasaan dan penyempurnaan diri. 

Terima kegagalan dan belajar dari sana agar jadi pribadi yang lebih kuat dan berani. Ini adalah bekal penting yang harus dimiliki anak di kemudian hari. 

Tak ada kata terlambat untuk menghentikan gaya pengasuhan yang tidak sehat ini, Ma. Masih ada memperbaiki keadaan dan membekali anak untuk jadi pribadi yang kuat dan hebat. 

sumber artikel : https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/faela-shafa/tipe-helicopter-parenting-dan-efeknya-untuk-anak/full oleh Faela Shafa 27 November 2019

Jaga Privasi Anak dari Pelaku Kejahatan dan Pelecehan Seksual

sumber gambar : http://www.kesekolah.com/images2/big/2014082615444510403.jpg

Dear para orang tua, seiring dengan keamjuan teknologi digital saat ini, kejahatan pun juga makin menunjukan taringnya melalui teknologi digital yang sekarang hampir setiap orang bisa menggunakannya, patut diwaspadai kepada setiap orang tua untuk selalu menjaga privasi anaknya terutama di dunia digital saat ini.

Karena jika kita kritisi di era saat ini sudah kian memprihatinkan perilaku kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak mulai dari penculikan, pengeksploitasi anak – anak hingga sudah sangat kronis saat ini bila kita mendengar yang namanya kejahatan seksual terhadap anak – anak.

Untuk itu perlu diketahui untuk para orang tua bagaimana cara menjaga privasi anak untuk mencegah berbagai perilaku kejahatan anak :

1.Jangan terlalu sering memposting foto anak di media sosial, apalagi kalo anak sedang tidak mengenakan pakaian atau sedang mandi.

Media sosial memang kadang menjadi sarana kita untuk berbagai sebuah cerita atau kebahagiaan salah satunya melalui sebuah foto. Di era sekarang sadar gak sadar para orang tua kerap memposting kegiatan anak – anak di sosial media. Jika kita tanya ya mungkin tak ada salahnya, apalagi bila baru mempunyai seorang anak tak jarang orang tua akan sering memposting kegiatan anak dari bangun sampai tertidur lagi.

Wahai para orang tua ketahuilah di era kemajuan digital saat ini banyak kejahatan yang dimulai dari media sosial. Sangat disayangkan juga jika ada orang tua yang memposting kegiatan anaknya yang sedang mandi dengan alasan masih kecil atau apapun. Bagi para pelaku pedofilia jika melihat hal tersebut mereka akan sangat antusias dan bergairah, maka berhati – hatilah, dan ingatlah pelaku pedofilia tak jarang ada juga yang berasal dari kalangan keluarga sendiri.

Maka dari itu bijaklah orang tua saat ingin membagi momen bersama dengan sang anak di media sosial, ini bukan soal tidak boleh ini itu tetapi sebagai orang tua patutlah mulai sekarang untuk pelan – pelan belajar tentang betapa besar pengaruh dunia digital terhadap dunia kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak.

2.Berhati – hatilah mengenai informasi alamat rumah dan alamat sekolah anak

Saat orang tua memposting kegiatan anak di media sosial tak jarang mereka ikut menyertakan alamat atau lokasi kegiatan. Hal ini patut diwaspadai dan dianjurkan untuk tidak menyertakan lokasi terutama yang berkaitan dengan alamat yang penting seperti alamat rumah atau alamat sekolah anak. .Dengan mengetahui lokasi, pelaku kejahatan akan sangat mudah melancak target. Pasti pernah dengar ‘kan tentang kasus penipuan melalui telepon yang sering mengabarkan tentang kecelakaan anak di sekolah (jatuh saat bermain, jatuh dari tangga, dan sebagainya). Penipu biasanya tahu persis nama anak dan di mana ia sekolah.

Apalagi bagi para pelaku penculikan anak – anak informasi mengenai alamat tersebut sangatlah penting. Untuk itu berhati – hatilah dalam memberitahukan atau menyertakan alamat atau lokasi di media sosial.

3.Saat berada di kolam renang waspada dan pakaikanlah pakaian renang yang tertutup untuk anak – anak

Mengingat semakin maraknya perilaku pedofilia, waspadailah orang tua saat membawa anak di tempat umum terutama saat mengajak anak berenang di pemandian umun atau kolam renang umum pakaikanlah anak dengan pakaian renang yang tertutup.

Mengingat juga di kolam renang atau pemandian biasanya dari yang anak – anak sampai yang dewasa berada di kolam yang sama, walaupun ada juga kolam khusus anak – anak tapi tak jarang para orang tua ada juga yang tetap mengajak anak untuk berenang di kolam yang untuk umum, hal itu bisa menguntungkan bagi para pelaku pedofilia yang sulit untuk diketahui ciri – cirinya.

4.Stiker anggota keluarga yang ditempel di kaca mobil ternyata ada sisi buruknya.

sumber gambar : https://thenewswheel.com/wp-content/uploads/2014/05/stick-figure-family-danger-700×378.jpg
bisa juga dibaca di : https://thenewswheel.com/police-advising-families-remove-stick-figure-decals-bumper-stickers/

Mungkin bisa dibilang hanya sebuah tempelan tapi dalam hal analisa penjahat bisa lebih pandai dalam memindai dan mempelajari sebuah informasi untuk melakukan aksinya. Jadi berhati – hati juga dalam menempel stiker di kendaraan yang kita tumpangi terutama yang berkaitan dengan informasi keluarga entah stiker anggota keluarga, stiker parkir di perusahaan, stiker tempat anak sekolah. Bisa jadi itu menjadi media informasi si penjahat untuk melakukan aksinya.

Mari bersama menjadi orang tua yang sadar, bijak dan mau belajar, jangan menjadi orang tua yang kaku akan informasi, setidaknya dengan kemajuan teknologi juga bisa menambah pengetahuan untuk mengetaui dan mencegah tindakan kejahatan yang berbahaya bagi anak – anak kita.

Sumber penulisan : https://www.hipwee.com/wedding/4-pedoman-sederhana-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual-ngeri-kalau-baca-berita-akhir-akhir-ini/ oleh  JULIA ALELA

Jangan Risih, Pendidikan Seks Usia dini Itu Perlu

sumber gambar : https://4.bp.blogspot.com/-FywsfrKQE0w/WRKlwbY3LmI/AAAAAAAAE8g/NASoFG0qrj8F5Qpx2NPXOKIW5cPwjopOACLcB/s1600/Pentingnya%2BPendidikan%2BSeks%2BUsia%2BDini.jpg

Hello sahabat peduli kali ini mari kita bahas sesuatu yang diantara banyak orang tua masih risih atau tabu jika mendengarkannya ataupun juga masih enggan mengajarkannnya kepada anak dengan alasan menunggu umur yang tepat, Tapi kapan ???

Yak apakah itu ? Yups betul Pendidikan Seks Untuk Anak Usia Dini, kenapa kita perlu bahas tema ini, karena sebagian dari orang tua menganggap pendidikan seks usia dini hanya menuju kepada aktivitas seksual padahal sebenarnya tujuan dari dari pendidikan seks usia dini adalah untuk memperkenalkan anak tentang kesehatan reproduksi manusia dari cara menjaga kebersihannya, mengetahui perbedaan jenis kelamin, bagian tubuh mana yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, semua itu perlu diajarkan kepada anak sedini mungkin secara bertahap tentunya dengan penjelasan yang mudah dan menyenangkan agar anak mudah mengerti.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pun menyarankan setiap negara di dunia untuk menerapkan pendidikan seksual yang komprehensif, termasuk Indonesia. Rekomendasi ini berdasarkan pada kajian terbaru dari Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO.

Dalam kajian itu, GEM Report mendapati 15 juta anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak berusia 15-19 tahun dan satu juta anak perempuan di bawah 15 tahun melahirkan setiap tahunnya di dunia.

“Lebih dari satu dari sepuluh kelahiran terjadi di antara anak perempuan berusia antara 15-19 tahun. Ini tidak hanya berarti akhir dari pendidikan mereka, tetapi juga seringkali berakibat fatal, dengan kehamilan dan kelahiran merupakan penyebab utama kematian di antara kelompok usia ini,”

Maka dari itu sangat perlu terutama perang orang tua dalam memberikan pendidikan seks usia dini, untuk itu mari kita jabarkan seberapa penting pendidikan seks usia dini,

1.PENDIDIKAN SEKS AGAR ANAK MENGENALI DIRI SENDIRI

Bagi seorang balita membedakan jenis kelamin bukanlah hal mudah karena konsep jenis kelamin merupakan hal baru bagi mereka, untuk itu orang tua perlu memberikan pemahaman yang mudah dan menyenangkan agar mudah untuk dipahami, cukup dengan menjelaskan bahwa anak laki – laki kelak akan tumbuh seperti ayah dan anak perempuan kelak akan tumbuh seperti ibu,

Berikan pula barang, mainan ,dan juga pakaian yang sesuai dengan jenis kelaminnya, jika orang tua memiliki kecenderungan mungkin si ibu adalah sosok yang agak tomboy tetaplah berusaha untuk menggunakan barang, melakukan aktivitas dan memakai pakaian yang sesuai dengan perempuan semestinya, begitu pula sebaliknya jika si ayah adalah seorang yang agak kalem,lemah gemulai tetaplah berusaha didepan anak untuk memperlihatkan ketegasan, kewibawaan dan juga kebijaksanaan seorang ayah agar anak tidak bingung dalam menentukan jati dirinya.

2.PENDIDIKAN SEKS AGAR MENGERTI BATASAN – BATASAN

Hal ini ditujukan kepada anak untuk mengenalkan bagian tubuh si anak, menjelaskan fungsi bagian tubuh tertentu dan juga menjelaskan kepada anak bagian – bagian mana dari tubuh yang tidak bolek dipegang sama sekali oleh orang lain seperti organ reproduksi, pantat, paha, bibir, dada.

Pemahaman ini sangat perlu agar tercipta tameng dalam diri anak untuk melindungi dirinya saat nanti mulai bersosialisasi dengan banyak orang.

3.PENDIDIKAN SEKS AGAR MENGETAHUI CARA MENJAGA KEBERSIHAN ORGAN REPRODUKSI

Saat anak mulai tumbuh tentu lama – lama kita sebagai orang tua harus memberikan potty training kepada anak agar anak bisa menjaga kebersihan organ reproduksi misalnya dengan mengajarkan untuk membasuh organ reproduksi setelah selesai buang air dan kemudian mencuci tangannya.

4.PENDIDIKAN SEKS AGAR MEMILKI BUDAYA MALU

Orang tua harus mengajarkan norma atau aturan – aturan yang berlaku di lingkungan sekitar seperti agar masuk kamar mandi umum sesuai dengan jenis kelaminnya, tidak buang air sembarangan, jangan buka baju disembarang tempat harus di tempat tertutup, dan juga memberikan penjelasan batasan – batasan saat bermain dengan lawan jenisnya.

Hal ini perlu karena kebiasaaan sejak dini akan dibawa sampai dewasa.

5.PENDIDIKAN SEKS AGAR ANAK MENJADI TERBUKA

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak akan mengalami masa pubertas yang mana akan terjadi perubahan – perubaha hormon di dalam tubuh begitu pula dengan hormon yang berkaitan dengan seksual .

Jika pendidikan seks tidak diajarkan sejak dini maka anak akan tabu,risih, dan malu bertanya kepada orang tua tentang hal yang berbau seks dan mereka akan mencari sendiri dari sumber lain yang saat ini sangatlah mudah untuk mencarinya tinggal browsing di internet dan tidak jarang dari sumber – sumber yang beredar di internet banyak sekali terselip iklan – iklan yang menuju ke hal yang tidak baik seperti iklan yang mengandung konten pornografi, jika dibiarkan berlarut akan sangat rentan terhadap anak – anak yang baru mengalami masa pubertas.

Maka dari itu pendidikan seks perlu diajarkan sejak usia dini agar terbangun sebuah keterbukaan antara orang tua terhadap anak – anak mengenai pendidikan seks, diharapkan jika anak sudah mengalami masa pubertas maka anak tidak akan malu bertanya kepada orang tua dan mau terbuka tentang hal yang belum diketahuinya tertutama dalam hal seks.

Setelah mengetahui pentingnya pendidikan seks usia dini hal yang perlu dilakukan orang tua adalah mengajarkannya secara bertahap karena anak tidak bisa langsung mengerti dan juga pemahaman anak disetiap umurnya juga akan berbeda beda, dikhawatirkan jika penjelasan yang diberika terlalu banyak nanti akan timbul kesalahpahaman.

Misal saat anak menginjak usia dibawah 5 tahun cukup ajarkan tentang perbedaan jenis kelamin antara laki – laki dan perempuan,ajarkan cara membasuh organ reproduksi, dan ajarkan tentang bagian mana saja dari tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain kecuali orang tua dalam artian pada saat anak usia 0 – 2 tahun mungkin anak belum bisa membasuh organ reproduksi sendiri nah disini orang tua bisa membantu membersihkan sekaligus pelan – pelan untuk mengajarinya.

Dan jangan lupa dalam memberikan pendidikan seks usia dini sampaikanlah materi secara mudah, sederhana dan menyenangkan.

sumber penulisan :1. https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/bernadine/seberapa-penting-pendidikan-seks-untuk-balita/full 2 Desember 2019 oleh Bernandine Natasha 2. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190614052418-255-403174/unesco-pendidikan-seks-harus-diterapkan-secara-komprehensif oleh Tim, CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 06:10 WIB

Ajari,Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial

sumber gambar : https://goresangurusemai.files.wordpress.com/2013/08/copy-header-blog-guru.jpg

Oke kali ini saya akan membahas mengenai sebuah topik yang mungkin kelihatan biasa – biasa saja ya? Emmm tentang Ajari, Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya mengenai kata – kata yang pernah saya dengar dari seorang psikolog yang berbunyi :

“Kita sebagai orang tua hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita harapkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua untuk anak – anak menreka kelak”

Statemen yang mungkin hanya sebagian orang saja yang mau merenungkan. Saat saya mendengar statemen ini saya baru sadar dengan apa yang psikolog itu katakan. Di era kemajuan jaman, kemajuan teknologi,komunikasi,iptek dan hal – hal lainnya saat ini. Banyak dari kita untuk berlomba – lomba mendapatkan sebuah pengakuan dari sebuah apa yang telah kita capai dan banyak pula orang tua yang berlomba – lomba untuk menyekolahkan anak – anak mereka ke sekolah favorit, unoversitas favorit, ataupun ke akademi – akademi yang notabene setelah lulus akan mendapatkan gelar dan juga pekerjaan yang bagus dan membangga – banggakan apa yang telah anak mereka peroleh.

Ya itu sih wajar – wajar saja jika orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak – anaknya, tetapi banyak yang mereka lupa ajarkan kepada anak – anak mereka untuk bekal nilai – nilai kehidupan dimasa depan khususnya dalam aspek bersosialisasi dengan lingkungan sekitar minimal di tempat tinggalnya. Orang tua lupa bahwa kelak anaknya juga akan menjadi seperti mereka membesarkan anak dan juga bersosialisasi dengan lingkungan disekitar tempat tinggal mereka.

Pernahkah saudara – saudara melihat jika ada kerja bakti bersih bersih kampung, kerja bakti pegajian, kerja bakti untuk kegiatan peringatan kemerdekaan, kegiatan remaja masjid dan even – even lainnya yang berada di lingkungan tempat tinggal, pernahkah melihat orang tua yang mengajak anak – anaknya yang ikut membaur melakukan kegiatan tersebut ? Sangat jarang sekali di era kemajuan jaman sekarang ini kita melihat anak- anak atau remaja ikut membaur dalam kegiatan sosial seperti diatas. Yang ada orang tua ikut kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal tetapi anak malah dibiarkan asyik dirumah bermain atau melakukan kegiatan lainnya di rumah. Dengan alasan anak sudah lelah sekolah, les, dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa sistem pendidikan di negara kita memang masih belum sempurna dengan berbagai mata pelajaran yang ada dan waktu sekolah yang panjang, mengakibatkan lingkungan sosial anak kebanyakan hanya dihabiskan di sekolah, namun sebagai orang tua hendaknya menyadari bahwa kebutuhan anak bukan hanya kebutuhan mengenai ilmu materi namun kebutuhan ilmu sosial juga diperlukan untuk memberikan pondasi saat mereka nanti beranjak menjadi dewasa bahkan menjadi orang tua.

Sesekali ajaklah bahkan suruhlah anak – anak untuk ikut membaur dalam kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tnggal . Agar terbentuk sebuah kepribadian yang matang jika nanti anak – anak sudah dewasa dan menghadapi berbagai karakter orang yang berbeda – beda. Menurut sudut pandang saya sendiri, saya khawatir jika anak – anak tidak pernah diajak sesekali ataupun disuruh untuk ikut kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, saya khawatir rasa sosial mereka dengan antar sesama akan biasa – biasa saja dan suasana rasa simpati juga empati terhadap sesama juga akan biasa biasa saja dan bisa jadi menjadi seorang yang kurang peka.

Sekarang kita lihat banyak aksi bulli di kalangan anak, banyak aksi anak /murid yang sudah berani melawan gurunya sendiri, banyakkan sekarang guru menjadi sasaran laporan ke pihak yang berwajib hanya karena memarahi atau mengingatkan anak/murid yang salah dan ironisnya orang tua juga ikut – ikutan tidak terima jika anaknya dmarahi/atau sang guru, bahkan disuatu artikel memberitakan seorang murid mengakhiri nyawa gurunya hanya karena diingatkan saat merokok.

Menurut saya kejadian kejadian ini dikarenakan kurangnya pendidikan moral dan sosial dari orang tua di era kemajuan jaman saat ini. Sempatkanlah dan ajarkanlah, mungkin itu yang harus orang tua lakukan walau sibuk dengan pekerjaan. Apa gunanya mengejar harta jika anak tidak berlaku baik dan juga tidak saling mengasihi anatar sesama. Diharapkan dengan anak diajarkan, diajak dan disuruh untuk mengikuti kegiatan – kegiatan sosial dan juga berbaur minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, minimal mereka anak -anak akan lebih peka terhadap apa yang sedang terjadi, lebih simpati dengan sesama, dan lebih menghormati dengan sesama. Karena pendidikan yang mahal bukanlah dengan menyekolahkan di sekolah atau universitas favorit tetapi pendidikan yang mahal adalah pendididikan tentang nilai – nilai aspek kehidupan bersosialisasi dengan sesama yang akan menjadi bekal atau pondasi di kehidupan masa depan.

Jika terdapat salah kata saya mohon maaf karena semua memiliki presepsi masing – masing dan ini merupakan sudut pandang saya sendiri mengenai perlunya orang tua mengajarkan dan juga menanamkan nilai – nilai sosial dalam kehidupan ini.

Salam dari Bim