Category Archives: Bullying dan Diskriminasi

Mengenal “ROOTS”, Program Anti Perundungan

sumber gambar : https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/styles/media_large_image/public/_DSC0108-edit.jpg?itok=O62JfGRE

Sekolah masih saja menjadi tempat yang bebas bagi sebagian orang/murid untuk melakukkan aksi perundungan. Hal tersebut harusnya menjadi peringatan bagi kita bahwa seharusnya sekolah menjadi tempat aman, nyaman dan menyenangkan bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu, teman, dan pengalaman.

Kali ini datang kisah dari Klaten, Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten Klaten bersama dengan dukungan UNICEF tengah mengembangkan Program Anti Perundungan yang bernama “ROOTS”. Program ini ditujukan untuk membantu anak – anak yang menjadi korban perundungan agar menemukan cara positif untuk mengatasi aksi perundungan.

Devi Tulak Astuti salah satu siswi sekolah menengah pertama SMPN 3 Klaten yang menjadi anggota dari Program Anti Perundungan “ROOTS”. Mengaku sebelum ia menjadi anggota dan ikut peran dalam ROOTS, sebelumnya ia juga merupakan korban dari aksi perundungan yang terjadi di sekolahnya.

Sempat ia membalas perilaku aksi perundungan tersebut namun yang terjadi malah keadaanya semakin memburuk. Saat program anti perundungan bernama ROOTS masuk ke sekolahnya, Devi pun sadar mungkin ada cara yang lebih baik untuk mengatasi situasi yang ia alami. Ia segera mengajukan diri untuk ikut serta. “Saya ikut karena saya sendiri mengalami di-bully,” katanya. “Saya ingin membantu mengubah sekolah agar tidak ada murid lain yang mengalaminya.” Program ini diujicobakan di empat sekolah dan kini sudah diperluas ke dua sekolah lain.

UNICEF Child Protection Officer Naning Julianingsih menjelaskan bahwa, “Masalah mendasar di sini adalah masyarakat Indonesia tidak menganggap perundungan sebagai masalah serius. Mereka melihatnya sebagai bagian wajar dalam kehidupan anak-anak dan kehidupan bersekolah. Secara sosial, perundungan diterima. Ada juga guru yang menghukum pelaku, tetapi alasan perbuatan itu sendiri tidak diatasi. Program Roots berupaya mengubah itu.”

Bagaimana program ROOTS bekerja ?

Fasilitator ROOTS mengikuti pelatihan yang materinya dirancang pemerintah dengan dukungan UNICEF. Pertama, anak-anak diminta menilai situasi di sekolah mereka menggunakan U-Report, platform dunia maya berbasis media sosial untuk mengadakan jajak pendapat secara anonim. Menggunakan cara ini, di SMPN 3 Klaten ditemukan bahwa 74% murid pernah mengalami perundungan, rata-rata 4 hingga 5 kali sepekan. Jenis-jenis perundungan pun beragam, mulai dari anak dipukul, dicubit, diejek, digosipkan, dan dirundung di dunia maya.

Setelah mengetahui situasi yang ada, fasilitator belajar bekerja bersama anak dan remaja untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif. Mereka membantu para murid membuat kampanye sendiri berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah mereka. Membuat poster, menyusun rencana kerja untuk melawan perundungan di sekolah, dan mencontohkah perilaku positif adalah contoh bentuk-bentuk kampanye yang bisa dilakukan.

“Kami mendorong para fasilitator untuk mendengarkan anak-anak, mengetahui alasan perundungan, dan mendiskusikan cara-cara mengatasinya,” jelas Naning. “Biasanya, pelaku perundungan mengalami masalah di rumahnya. Mereka meniru perilaku yang mereka lihat dari orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jadi, kita perlu tahu dulu sebab sebenarnya di balik perundungan dan mencoba mengatasinya.”

Berkat program ROOTS kini di sekolah Devi SMPN 3 Klaten telah berhasil menciptakan lingkungan yang positif untuk belajar. Kepala Sekolah SMPN 3 Klaten, Purwanta, yang baru menjabat selama enam bulan pun melihat perbandingan positif antara SMPN 3 Klaten dengan sekolah lain di Klaten, tempatnya dahulu bekerja.

“Karakter siswa di sini, baik di dalam dan di luar sekolah, berbeda,” terang Purwanta. “Di desa, setiap hari saya memergoki siwa berkelahi. Di sini berbeda sekali. Selama enam bulan di sini, saya belum pernah melihat ada satu pun perkelahian. Sikap siswa kepada sesama siswa dan kepada guru juga sangat berbeda. Mereka saling menghormati dan senang berteman.”

Menurut Purwanta, perbedaan ini tercipta berkat program ROOTS, yang menurutnya juga berhasil meningkatkan nilai belajar. “Sekolah ini tadinya menduduki peringkat 18 dari 65 sekolah di Klaten. Sejak ada program, kami naik ke peringkat 1,” tambahnya. “Jika anak bahagia di sekolah, mereka juga belajar dengan lebih baik.”

Bagi Devi, program ROOTS juga mengajarkannya hal-hal praktis yang bisa langsung ia terapkan. “Saya belajar juga mengurangi keinginan mem-bully atau merespon bullying,” katanya. “Saya belajar satu trik. Saya tutup mata dan bilang: ‘tidak boleh bully, tidak boleh bully.’ Jika saya melihat ada murid yang mem-bully anak lain, saya ingatkan mereka. Setelah tiga kali memberikan peringatan, baru saya laporkan kepada guru.”

Devi sepakat dengan kepala sekolahnya bahwa budaya di sekolah sudah berubah. “Saya tidak melihat perkelahian lagi di sekolah,” katanya .”Murid laki-laki juga berhenti mengata-ngatai saya. Dulu, suasana di sekolah tidak menyenangkan. Sekarang, saya bersemangat pergi sekolah. Saya lebih percaya diri dan nyaman dengan diri saya.”

Semoga program ROOTS segera bisa menyebar dan memasuki sekolah – sekolah di seluruh wilayah INDONESIA dan semoga berbagai aksi perundungan di sekolah juga semakin berkurang agar tercipta semangat berangkat sekolah dan belajar juga akrab bersama teman – teman di sekolah tanpa saling membedakan .

sumber artikel : https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/pahlawan-super-di-sekitar-kita oleh Andrew Brown, UNICEF Indonesia 22 Juli 2019

RIZKA Pencipta Komik Anti Perundungan berjudul “CIPTA” Sekaligus Pemenang Kontes Komik Superhero UNICEF dan Comic’s Uniting Nations

sumber gambar : https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/styles/press_release_feature/public/UN0327087.jpg?itok=9x8H-8Yo

Aksi perundungan memang sudah kian marak terjadi sekarang dan tidak jarang korban aksi perundungan cenderung takut untuk melawan aksi perundungan tersebut dan memilih diam hingga menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupannya dan juga akan menimbulkan bekas luka yang mungkin akan terus tersimpan seumur hidupnya.

Juga masih banyak juga kalangan masyarakat masih menganggap sepele aksi perundungan ini, dan masih banyak diantara kita yang tidak tahu bahaya atau dampak dari aksi perundungan itu sendiri, peran orang tua sebagai teman/sahabat bagi anak – anaknya sendiri juga masih belum maksimal jadi tidak ada keterbukaan dari korban aksi perundungan karena tidak ada yang mendengarkan keluh kesahnya.

Kali ini datang kisah inspirasif seorang pelajar asal Makasar Rizka Raisa Fatimah Ramli yang melalui kisahnya ia berhasil memenangkan sebuah ajang kontes komik superhero UNICEF dan Comic’s Uniting Nations dengan komik ciptaannya yang berjudul “CIPTA” pada bulan Januari lalu. Komik itu dibuat bertujuan untuk memberikan dukungan atau semangat terhadap korban atau saksi sebuah peristiwa kekerasan untuk berani bersuara.

“Ide dalam komik ini adalah menyemangati korban dan saksi peristiwa kekerasan untuk angkat bicara,” ujar Rizka. “Seperti saya, banyak orang merasa menggambar lebih mudah daripada berbicara, apalagi kalau kejadian yang mereka alami menimbulkan trauma.”

Ide dari pembuatan komik ‘CIPTA” pun juga tak luput dari pengalaman Rizka yang pernah menjadi korban dari aksi perundungan yaitu saat Rizka berusia sembilan tahun ketika pertama kali merasakan bullying, atau perundungan, secara langsung. Saat itu, ia tengah bersepeda sendirian di sekitar rumah. Saat menepi di sebuah gang, ia tiba-tiba diserang secara verbal oleh sekelompok anak dari lingkungan setempat yang lebih tua darinya.

“Saya berbalik, tetapi ada anak-anak lain yang menghalangi jalan. Saya terpojok. Jadi, saya diam saja di atas sepeda, menunggu sampai magrib hingga anak-anak itu pergi. Saya seolah lumpuh.”

Setelah itu, selama beberapa waktu Rizka tidak mau keluar dari rumah. Untuk pergi dan pulang dari sekolah, ia harus diantar dan dijemput oleh salah satu kakaknya. Pada masa sulit inilah, Rizka menemukan rasa aman dari menggambar, dan ia belajar dari permainan video, film anime, dan buku komik. 

Di SMP, peristiwa perundungan dan pelecehan semakin sering ia temui. Matanya segera terbuka terhadap berbagai bentuk kekerasan ini. “Kadang, saya menangis di rumah. Saya sampai berhenti menggambar karena tidak mau mengingat apa-apa. Saya makan banyak dan menjadi gemuk. Mungkin, saya ingin membuat diri saya tidak tampak menarik. Namun, tidak ada yang berubah. Saya masih diolok-olok, digoda, dirundung oleh baik anak lelaki dan perempuan.”

Di akhir masa SMP, tanpa sengaja ia menemukan kembali dunia menggambar dan komik. “Saat itu saya mulai sadar, ternyata ada cara untuk bercerita tentang suatu masalah tanpa harus mengucapkannya.” Perasaan inilah yang, sedikit demi sedikit, menguat dalam dirinya, hingga Oktober 2018, ketika UNICEF mengumumkan konteks menggambar pahlawan super untuk murid sekolah. Kontes ini memang bertujuan membantu mengakhiri perundugan dan kekerasan yang dihadapi anak-anak dan kaum muda lain di seluruh dunia.

“Saya jadi tergerak,” kata Rizka. “Saya memikirkan hubungan saya dan menggambar, dan kemungkinan menggunakan seni sebagai alat untuk melawan.” Kontes ini juga membuatnya banyak berefleksi. “Saya jadi tahu bahwa pada dasarnya saya tidak suka konfrontasi. Mungkin, itu juga sebabnya saya memilih merpati sebagai pembawa pesan Cipta.”

sumber gambar : http://Cuplikan komik karya Rizka yang dibuat berdasarkan pengalaman sang ilustrator dengan perundungan dan program Roots

Semoga kisah inspiratif ini dapat menjadi contoh terutama bagi para korban aksi perundungan untuk berani bersuara ketika mengalami aksi perundungan seperti RIzka saat ia mau bercerita mengenai masalahnya ia memilih untuk menggambar untuk menyuarakan isi hatinya, jadi segala masalah yang mungkin berasal dari aksi perundungan bisa ia luapkan dalam kegiatan yang positif.

So Jangan Takut Jika ada seorang yang membuli, tetap jadilah pribadi yang tegar dan pemberani. Juga pesan kepada para orang tua jadilah teman/sahabat bagi anak – anak kalian, buat suasana komunikasi antara anak dan orang tua layaknya seorang sahabat kepada temannya, agar timbul saling keterbukaan jika mungkin anak mengalami masalah dan takut untuk menceritakan cobalah orang tua untuk bertanya terlebih dahulu, berikan masukan, dukungan, dan motivasi yang positif agar anak bisa melewati masalahnya dengan cara yang positif dan juga untuk membantu pembentukan mental yang kuat.

sumber artikel : https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/rizka oleh Laksmi Pamuntjak, 16 Juli 2019

Menanamkan Empati Pada Anak Agar Jauh Dari Perilaku Bullying

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2019/04/12/3785499358.jpg

Orang tua sebagai sumber pendidikan pertama bagi anak merupakan sebuah hal yang sangat penting dimana sebagai anak, mereka akan selalu memperhatikan bagaimana perilaku orang tua, bagaimana komuikasi orang tua, dan bagaimana cara orang tua memperlakukan anaknya itu sendiri.

Berbagai macam orang tua pun sangat berbeda beda dalam memberikan sebuah pendidikan bagi anak mereka. Namun bagi orang tua dengan tipe yang sangat kritis banyak dari mereka yang terlalu menilai anak atau istilahnya sedikit – sedikit di dikomentari secara kritis entah karena perilakunya, penampilannya,nilainya, dan lain – lainnya. Mungkin maksud dari orang tua bukan untuk membully teteapi siapa sangka justru perilaku orang tua yang seperti ini bisa membuat berkurangnya kepercayaan diri anak dan bisa jadi anak juga akan meniru gaya orang tua yang sedikit – sedikit selalu berkomentar dan anak akan menerapkannya jika ada teman atau seseorang yang menurutnya tidak bagus secara penampilan,perilaku,atau hal lainnya.

Maka dari itu sebagai orang tua hendaknya harus selalu waspada dan beerhati – hati dalam mengomentari atau berperilaku di depan anak, karena anak sebagai peniru yang baik akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya apakah akan menjadi seorang yang percaya diri atau tidak dan apakah akan menjadi seorang pembully atau tidak itu semua tergantung kepada bagaimana peran orang tua masing – masing.

Berikut rangkuman mengenai faktor anak bisa menjadi pelaku bullying, karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying, tentang bagaimana pujian yang baik bagi orang tua terhadap anak, tindakan orang tua terhadap pelaku bullying, dan menanamkan rasa empati kepada anak agar terhindar dari perilaku bullying yang dirangkum dari popmama.com.

Popmama Parenting Academy menghadirkan Maureen Hitipeuw dari komunitas Single Mom dan juga Katiana Taslim, M.Psi., selaku Psikolog Personal Growth dalam mengisi talkshow seputar Stop Bullying dan Body Shamming di Kalangan Anak.

“Selalu mengingatkan untuk selalu berempati, bahwa empati itu asalnya dari rumah. Perilaku anak itu cerminan dari orangtuanya juga. Harapannya anak tidak menjadi pelaku bullying. Penting banget awalnya pendidikan dasar dari rumah,” ujar Maureen Hitipeuw selaku founder dari komunitas Single Mom.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasinya berdasarkan kegiatan Popmama Parenting Academy yang dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2019 di Summarecon Mall Serpong.

Faktor penyebab anak menjadi pelaku bullying

Bullying adalah sebuah perilaku agresi yang ditunjukan pada target tertentu, biasanya ada tujuan dibalik sikap membully. Bullying bisa dilakukan secara fisik, atau dalam bentuk kata-kata verbal. Pada era modern saat ini, bullying juga dapat dilakukan di media sosial yang disebut juga dengan cyberbullying

Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi anak dalam tindakan bullying. Yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri anak sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari keluarga serta lingkungannya.

Faktor internal yang mempengaruhi anak adalah keterampilan sosial anak dalam melakukan sosialisasi dengan orang lain tidak terasah dengan baik sehingga keluar perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini, orangtua bisa memberikan edukasi untuk keterampilan sosial anak

Faktor eksternalnya adalah anak tidak memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Hal ini dipengaruhi dari anak yang tidak mendapatkan contoh yang baik dari rumah atau lingkungan di sekitarnya.

Karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying di lingkungannya

Anak-anak yang menjadi pelaku bullying memiliki tujuan tertentu dalam melakukan tindakannya, biasanya terdapat karakteristik khusus bagi anak yang menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri atau lingkungannya.

Beberapa karakteristik seorang anak yang menjadi tujuan pelaku bullying. Salah satu karakteristiknya adalah anak yang menjadi korban memiliki fisik atau personaliti yang berbeda sehingga anak tidak sesuai dengan kelompok teman-temannya.

“Anak yang menjadi korban bullying menjadi anak yang tertutup, sehingga tidak memiliki banyak teman. Tanamkan pada anak perbedaan itu bukan hal yang salah karena anak memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terkadang anak sendiri tidak merasa dapat bergaul dan tidak dapat diterima,” ujar Katiana Salim.

Biasakan orangtua untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja

Tentunya, sebagai orangtua sulit untuk menghindari perilaku bully. Cara menghindari anak menjadi kurang percaya diri terhadap diri sendiri adalah, fokus dalam mengingatkan anak bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengendalikan orang lain. 

Menurut Katiana Salim, ajarkan anak untuk mengatur bagaimana cara menanggapi atau bereaksi terhadap bully. Orangtua dapat membiasakan anak untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja, namun berikan pujian pada anak secara keterampilan, kemampuan, kreatifitas, dan tingkah laku anak.

Hal ini dapat membuat anak tidak hanya berfokus pada penampilan dirinya. Selain itu, fokuskan pada anak bahwa tipe fisik setiap orang itu berbeda-beda. Berikan pengertian pada anak kalau fisik tidak menentukan kesuksesan.

Caranya adalah dengan menunjukan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik namun tetap sukses di bidangnya masing-masing, sehingga dapat memotivasi anak untuk tetap percaya diri pada fisiknya.

Tindakan orangtua dalam menanggapi orang lain yang membully anaknya

Bukan hal yang jarang ketika ada orang lain yang mengomentari fisik atau kemampuan dari anak, mungkin Mama seringkali bingung dalam menanggapinya karena satu sisi ingin membela anak namun tidak mau ada hubungan buruk dengan kerabat atau saudara yang berkomentar.

Dalam hal ini Mama dapat melakukan pemilihan kata-kata yang tepat untuk menyadarkan dengan tujuan agar orang lain tidak berkata atau berkomentar buruk tentang anak. Mama dapat mencari bukti berupa jurnal, website, ataupun bukti ilmiah lainnya yang dapat mendukung bahwa anak bertumbuh dengan normal.

Selain itu, faktor mood juga penting untuk dijaga, jika dalam keadaan mood yang baik, Mama dapat berargumen secara perlahan dan mengeluarkan bukti-bukti tersebut, namun tidak jarang juga beberapa Mama merasa komentar tersebut tidak penting sehingga tidak perlu dijawab secara terus menerus.

Ajak anak untuk mengeksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati

Menurut Maureen, happy moms is happy kids, terutama menjadi Mama harus bahagia. Jika Mama merasa bahagia, dengan sendirinya anak akan tertular perasaan bahagia tersebut. Sama seperti empati, tanamkan anak untuk mengerti penerimaan terhadap perbedaan.

Selain itu, penting juga bagi anak untuk eksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati. Ajak anak-anak untuk meningkatkan empati seperti bermain dengan binatang, bertemu dengan banyak anak-anak lainnya.

Dan jangan lupa untuk mengajak anak dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kreatifitas serta kemampuannya. Tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, cukup seperti memasak bersama, olahraga bersama, hal ini juga dapat meningkatkan quality time serta bonding time yang baik antara orangtua dan anak.

sumber artikel : https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/jemima/tanamkan-empati-pada-anak-agar-tidak-menjadi-pelaku-bully/full 12 Oktober 2019 oleh Jemima Karyssa Rompies

Jangan Takut diBully

Oleh: Syaripudin Zuhri

sumber gambar : https://images.pexels.com/photos/163403/box-sport-men-training-163403.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&dpr=2&h=650&w=940

Masih ingat ketika seorang anak sampai bunuh diri karena dibully, dihina, diejek, dipermalukan dan apapun istilahnya? Begitu bahayanya tindakan atau perbuatan menghina, mencela, mengejek dan lain sebagainya bila diterima oleh jiwa yang rapuh atau anak-anak yang tak tahan dipermalukan, dihina, dibully oleh teman-temannya sendiri atu oleh orang-orang yang berada di lingkunganya sendiri, baik di rumah, di sekolah, dan lain sebagainya.

Memang begitulah sifat orang-orang yang sombong karena kekayaannya, kecerdasan, kecantikannya dan lain sebagainya yang tidak dibarengi oleh iman yang kuat, akan mudah merendahkan orang lain, menghina orang lain, membully orang lain yang berada di bawahnya, baik karena kemiskinan, kebodohan atau wajah yang buruk dan dengan berbagai alasannya lainnya.

Coba aja perhatikan kalimat-kalimat buruk ini yang sering disampaikan oleh para pembully, dari mulai anak-anak sampai orang dewasa:

“ Sudah jangan bermimpi tinggi-tinggi, jangan punya cita-cita tinggi, lu kan orang miskin, percuma!”

“ Eh jelek sana lu, ini kumpulan orang cakep, orang jelek dilarang gabung!”

“ Dasar bodoh, tolol, menghitung segitu saja tidak bisa!”

“ Hai kere…jangan ke sini, sana aja lu ke tempat sampah!”

Dan banyak lagi kata-kata buruk yang sering disampaikan oleh orang-orang yang sukanya mencela, membully orang lain, lihat tulisan saya sebelumnya, “ Hobby Kok Mencela” di ruang ini juga. Jadi memang begitulah manusia yang suka membully, enak saja menghina orang lain, sepertinya dunia ini milik dirinya sendiri, lupa pada Tuhan yang menciptakan dirinya, lupa pada Tuhan yang membuatnya kaya, pintar, cakep dan lain sebagainya. Dan bagi pembully, sepertinya orang miskin, jelek, bodoh, kere dan sebagainya tak boleh hidup!

Padahal perjalanan hidup itu seperti musim di Moskow, tidak selamanya musim dingin, seperti saat ini, keadaan musim dingin akan berakhir dengan datangnya musim semi menuju musim panas! Di saat musim panas segeralah waspada, karena berikutnya akan datang musim gugur menuju musim dingin kembali, begitulah seterusnya berputar selama matahari terbit dari Timur dan terbenar di Barat.

Bagi yang sering mendapat celaan, hinaan, caci maki dan sebagainya atau istilah yang lagi ngetop sekarang ini, di bully! Jangan pernah menyerah, jengan pernah kalah, jangan pernah tunduk pada yang suka membully, jangan pernah tunduk pada yang suka menghina, tunjukan bahwa dunia akan berputar! Kalau sekarang miskin, nanti kaya, kalau sekarang bodoh nanti pintar dan seterusnya. Dunia akan berubah dengan usaha dan kerja keras bagi orang yang suka dibully. Tentu saja dengan pertolongan Allah SWT.

Terimalah hidup ini sebagai mana adanya, bukan bagaimana maunya anda.

Bila anda dibully katakan kepada yang suka menghina atau membully, katakan padanya: “Silahkan apapun yang anda lakukan bebas, silahkan berbuat sesuka hati, tapi ingat anda akan mati. Silahkan anda perbanyak harta dan kau tumpuk hartamu, tapi semua itu tidak akan anda bawa mati. Silahkan percantik diri anda sedemikian rupa hingga dapat mengalahkan bidadari, tapi ingat anda akan menjadi bangkai. Silahkan anda perhebat kegagahyan diri anda dengan berbagai macam olah raga hingga sekuat banteng, tapi ingat akhirnya tubuhnya hanya tinggal tulang belulang”

“Silahkan anda kejar, anda raih kedudukan dan jabatan hingga orang lain tunduk kepada anda, tapi ingat kau akan menjadi santapan cacing-cacing tanah. Silahkan anda perbagus rumah anda, sehingga mengalahkan istana raja- raja, tapi ingat rumah anda yang terakhir adalah kuburan!” Bilapun anda masih belum puas, silahkan terus menghina orang lain, tapi sekali lagi, ingat anda akan mati juga, ingat pembalasan di akherat nanti.

Dan bekal untuk orang yang dibully adalah tigal hal yaitu Taqwa, Ikhlas dan Sabar, Kuatkan iman dan terus menerus meminta perlindungan Allah SWT. Jangan pernah putus asa walaupun sering dhina atau atau dibully. Ingat, setiap pembawa risalah pada jamannya, juga orang-orang yang sering dibully, dihina, dicacimaki, dianggap gila dan lain sebagainya, bahkan mereka menjadi sasaran pembunuhan!

Jadi ketika anda dihina atau dibully, itu masih belum apa-apa, yang dihina hanya mungkin kebodohan anda, kemiskinan anda, keburukan fisik atau wajah anda, itu hanya masalah pribadi, bukan iman anda! Tapi bila yang dihina atau dibully iman anda, keyakinan anda atau agama anda, jangan diam! Harus dilawan, harus dijawab tantangan tersebut. Tentu saja dengan penuh hikmah dan bijaksana, tidak dengan anarkis atau dengan kekerasan, tetap dengan kelembutan hati!

Jadi kuatkan iman dan Islam anda ketika menghadapi celaan atau hinaan. Katakan: Dibully, siapa takut?” Ingat keadaan iman bisa di ibaratkan pohon pada musim gugur, silahkan daun-daun, ranting-ranting berguguran dan patah, tapi akar pohon tidak boleh tercabut, tetap kokoh. Walaupun seperti pohon yang mati tapi tetap hidup, dan pada saatnya akan kembali menghijau, itulah iman.

Jadi ketika dihina atau dibully, ibarat daun di pohon keimanan dan keislaman anda sedang digugurkan oleh orang orang yang suka membully, biarkan daun-daun itu berguguran, tapi pohon keimanan dan keislaman anda tidak mati, tidak roboh tidak hancur. Dan pada saatnya di musim semi akan kembali pohon anda tumbuh dengan dedaunan dan buahnya yang segar.

Begitulah buah ketaqwaan, kesabaran dan keikhlasan anda ketika dibully, Pada saatnya nanti anda akan meraih kesuksesan, karena dibully bukan menyebabkan kiamat pada kehidupan anda! Dibully itu ibarat pupuk pada pohon keimanan anda, semakin banyak dibully, semakin banyak pupuk yang diberikan dan itu membuat jiwa anda semakin kuat! Jadi kenapa harus takut dan minder ketika dibully? Sekali lagi katakan: EGP, Emangnya Gue Pikirin! Dan jikanpun di bully itu racun, jadikan racun itu obat, beres!

Moskow, 20 Oktober 2014

sumber artikel : https://www.eramuslim.com/oase-iman/dibully-kenapa-takut.htm#.XcIxndUxXIV