Category Archives: Bullying dan Diskriminasi

Menanamkan Empati Pada Anak Agar Jauh Dari Perilaku Bullying

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2019/04/12/3785499358.jpg

Orang tua sebagai sumber pendidikan pertama bagi anak merupakan sebuah hal yang sangat penting dimana sebagai anak, mereka akan selalu memperhatikan bagaimana perilaku orang tua, bagaimana komuikasi orang tua, dan bagaimana cara orang tua memperlakukan anaknya itu sendiri.

Berbagai macam orang tua pun sangat berbeda beda dalam memberikan sebuah pendidikan bagi anak mereka. Namun bagi orang tua dengan tipe yang sangat kritis banyak dari mereka yang terlalu menilai anak atau istilahnya sedikit – sedikit di dikomentari secara kritis entah karena perilakunya, penampilannya,nilainya, dan lain – lainnya. Mungkin maksud dari orang tua bukan untuk membully teteapi siapa sangka justru perilaku orang tua yang seperti ini bisa membuat berkurangnya kepercayaan diri anak dan bisa jadi anak juga akan meniru gaya orang tua yang sedikit – sedikit selalu berkomentar dan anak akan menerapkannya jika ada teman atau seseorang yang menurutnya tidak bagus secara penampilan,perilaku,atau hal lainnya.

Maka dari itu sebagai orang tua hendaknya harus selalu waspada dan beerhati – hati dalam mengomentari atau berperilaku di depan anak, karena anak sebagai peniru yang baik akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya apakah akan menjadi seorang yang percaya diri atau tidak dan apakah akan menjadi seorang pembully atau tidak itu semua tergantung kepada bagaimana peran orang tua masing – masing.

Berikut rangkuman mengenai faktor anak bisa menjadi pelaku bullying, karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying, tentang bagaimana pujian yang baik bagi orang tua terhadap anak, tindakan orang tua terhadap pelaku bullying, dan menanamkan rasa empati kepada anak agar terhindar dari perilaku bullying yang dirangkum dari popmama.com.

Popmama Parenting Academy menghadirkan Maureen Hitipeuw dari komunitas Single Mom dan juga Katiana Taslim, M.Psi., selaku Psikolog Personal Growth dalam mengisi talkshow seputar Stop Bullying dan Body Shamming di Kalangan Anak.

“Selalu mengingatkan untuk selalu berempati, bahwa empati itu asalnya dari rumah. Perilaku anak itu cerminan dari orangtuanya juga. Harapannya anak tidak menjadi pelaku bullying. Penting banget awalnya pendidikan dasar dari rumah,” ujar Maureen Hitipeuw selaku founder dari komunitas Single Mom.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasinya berdasarkan kegiatan Popmama Parenting Academy yang dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2019 di Summarecon Mall Serpong.

Faktor penyebab anak menjadi pelaku bullying

Bullying adalah sebuah perilaku agresi yang ditunjukan pada target tertentu, biasanya ada tujuan dibalik sikap membully. Bullying bisa dilakukan secara fisik, atau dalam bentuk kata-kata verbal. Pada era modern saat ini, bullying juga dapat dilakukan di media sosial yang disebut juga dengan cyberbullying

Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi anak dalam tindakan bullying. Yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri anak sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari keluarga serta lingkungannya.

Faktor internal yang mempengaruhi anak adalah keterampilan sosial anak dalam melakukan sosialisasi dengan orang lain tidak terasah dengan baik sehingga keluar perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini, orangtua bisa memberikan edukasi untuk keterampilan sosial anak

Faktor eksternalnya adalah anak tidak memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Hal ini dipengaruhi dari anak yang tidak mendapatkan contoh yang baik dari rumah atau lingkungan di sekitarnya.

Karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying di lingkungannya

Anak-anak yang menjadi pelaku bullying memiliki tujuan tertentu dalam melakukan tindakannya, biasanya terdapat karakteristik khusus bagi anak yang menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri atau lingkungannya.

Beberapa karakteristik seorang anak yang menjadi tujuan pelaku bullying. Salah satu karakteristiknya adalah anak yang menjadi korban memiliki fisik atau personaliti yang berbeda sehingga anak tidak sesuai dengan kelompok teman-temannya.

“Anak yang menjadi korban bullying menjadi anak yang tertutup, sehingga tidak memiliki banyak teman. Tanamkan pada anak perbedaan itu bukan hal yang salah karena anak memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terkadang anak sendiri tidak merasa dapat bergaul dan tidak dapat diterima,” ujar Katiana Salim.

Biasakan orangtua untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja

Tentunya, sebagai orangtua sulit untuk menghindari perilaku bully. Cara menghindari anak menjadi kurang percaya diri terhadap diri sendiri adalah, fokus dalam mengingatkan anak bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengendalikan orang lain. 

Menurut Katiana Salim, ajarkan anak untuk mengatur bagaimana cara menanggapi atau bereaksi terhadap bully. Orangtua dapat membiasakan anak untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja, namun berikan pujian pada anak secara keterampilan, kemampuan, kreatifitas, dan tingkah laku anak.

Hal ini dapat membuat anak tidak hanya berfokus pada penampilan dirinya. Selain itu, fokuskan pada anak bahwa tipe fisik setiap orang itu berbeda-beda. Berikan pengertian pada anak kalau fisik tidak menentukan kesuksesan.

Caranya adalah dengan menunjukan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik namun tetap sukses di bidangnya masing-masing, sehingga dapat memotivasi anak untuk tetap percaya diri pada fisiknya.

Tindakan orangtua dalam menanggapi orang lain yang membully anaknya

Bukan hal yang jarang ketika ada orang lain yang mengomentari fisik atau kemampuan dari anak, mungkin Mama seringkali bingung dalam menanggapinya karena satu sisi ingin membela anak namun tidak mau ada hubungan buruk dengan kerabat atau saudara yang berkomentar.

Dalam hal ini Mama dapat melakukan pemilihan kata-kata yang tepat untuk menyadarkan dengan tujuan agar orang lain tidak berkata atau berkomentar buruk tentang anak. Mama dapat mencari bukti berupa jurnal, website, ataupun bukti ilmiah lainnya yang dapat mendukung bahwa anak bertumbuh dengan normal.

Selain itu, faktor mood juga penting untuk dijaga, jika dalam keadaan mood yang baik, Mama dapat berargumen secara perlahan dan mengeluarkan bukti-bukti tersebut, namun tidak jarang juga beberapa Mama merasa komentar tersebut tidak penting sehingga tidak perlu dijawab secara terus menerus.

Ajak anak untuk mengeksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati

Menurut Maureen, happy moms is happy kids, terutama menjadi Mama harus bahagia. Jika Mama merasa bahagia, dengan sendirinya anak akan tertular perasaan bahagia tersebut. Sama seperti empati, tanamkan anak untuk mengerti penerimaan terhadap perbedaan.

Selain itu, penting juga bagi anak untuk eksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati. Ajak anak-anak untuk meningkatkan empati seperti bermain dengan binatang, bertemu dengan banyak anak-anak lainnya.

Dan jangan lupa untuk mengajak anak dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kreatifitas serta kemampuannya. Tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, cukup seperti memasak bersama, olahraga bersama, hal ini juga dapat meningkatkan quality time serta bonding time yang baik antara orangtua dan anak.

sumber artikel : https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/jemima/tanamkan-empati-pada-anak-agar-tidak-menjadi-pelaku-bully/full 12 Oktober 2019 oleh Jemima Karyssa Rompies

Jangan Takut diBully

Oleh: Syaripudin Zuhri

sumber gambar : https://images.pexels.com/photos/163403/box-sport-men-training-163403.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&dpr=2&h=650&w=940

Masih ingat ketika seorang anak sampai bunuh diri karena dibully, dihina, diejek, dipermalukan dan apapun istilahnya? Begitu bahayanya tindakan atau perbuatan menghina, mencela, mengejek dan lain sebagainya bila diterima oleh jiwa yang rapuh atau anak-anak yang tak tahan dipermalukan, dihina, dibully oleh teman-temannya sendiri atu oleh orang-orang yang berada di lingkunganya sendiri, baik di rumah, di sekolah, dan lain sebagainya.

Memang begitulah sifat orang-orang yang sombong karena kekayaannya, kecerdasan, kecantikannya dan lain sebagainya yang tidak dibarengi oleh iman yang kuat, akan mudah merendahkan orang lain, menghina orang lain, membully orang lain yang berada di bawahnya, baik karena kemiskinan, kebodohan atau wajah yang buruk dan dengan berbagai alasannya lainnya.

Coba aja perhatikan kalimat-kalimat buruk ini yang sering disampaikan oleh para pembully, dari mulai anak-anak sampai orang dewasa:

“ Sudah jangan bermimpi tinggi-tinggi, jangan punya cita-cita tinggi, lu kan orang miskin, percuma!”

“ Eh jelek sana lu, ini kumpulan orang cakep, orang jelek dilarang gabung!”

“ Dasar bodoh, tolol, menghitung segitu saja tidak bisa!”

“ Hai kere…jangan ke sini, sana aja lu ke tempat sampah!”

Dan banyak lagi kata-kata buruk yang sering disampaikan oleh orang-orang yang sukanya mencela, membully orang lain, lihat tulisan saya sebelumnya, “ Hobby Kok Mencela” di ruang ini juga. Jadi memang begitulah manusia yang suka membully, enak saja menghina orang lain, sepertinya dunia ini milik dirinya sendiri, lupa pada Tuhan yang menciptakan dirinya, lupa pada Tuhan yang membuatnya kaya, pintar, cakep dan lain sebagainya. Dan bagi pembully, sepertinya orang miskin, jelek, bodoh, kere dan sebagainya tak boleh hidup!

Padahal perjalanan hidup itu seperti musim di Moskow, tidak selamanya musim dingin, seperti saat ini, keadaan musim dingin akan berakhir dengan datangnya musim semi menuju musim panas! Di saat musim panas segeralah waspada, karena berikutnya akan datang musim gugur menuju musim dingin kembali, begitulah seterusnya berputar selama matahari terbit dari Timur dan terbenar di Barat.

Bagi yang sering mendapat celaan, hinaan, caci maki dan sebagainya atau istilah yang lagi ngetop sekarang ini, di bully! Jangan pernah menyerah, jengan pernah kalah, jangan pernah tunduk pada yang suka membully, jangan pernah tunduk pada yang suka menghina, tunjukan bahwa dunia akan berputar! Kalau sekarang miskin, nanti kaya, kalau sekarang bodoh nanti pintar dan seterusnya. Dunia akan berubah dengan usaha dan kerja keras bagi orang yang suka dibully. Tentu saja dengan pertolongan Allah SWT.

Terimalah hidup ini sebagai mana adanya, bukan bagaimana maunya anda.

Bila anda dibully katakan kepada yang suka menghina atau membully, katakan padanya: “Silahkan apapun yang anda lakukan bebas, silahkan berbuat sesuka hati, tapi ingat anda akan mati. Silahkan anda perbanyak harta dan kau tumpuk hartamu, tapi semua itu tidak akan anda bawa mati. Silahkan percantik diri anda sedemikian rupa hingga dapat mengalahkan bidadari, tapi ingat anda akan menjadi bangkai. Silahkan anda perhebat kegagahyan diri anda dengan berbagai macam olah raga hingga sekuat banteng, tapi ingat akhirnya tubuhnya hanya tinggal tulang belulang”

“Silahkan anda kejar, anda raih kedudukan dan jabatan hingga orang lain tunduk kepada anda, tapi ingat kau akan menjadi santapan cacing-cacing tanah. Silahkan anda perbagus rumah anda, sehingga mengalahkan istana raja- raja, tapi ingat rumah anda yang terakhir adalah kuburan!” Bilapun anda masih belum puas, silahkan terus menghina orang lain, tapi sekali lagi, ingat anda akan mati juga, ingat pembalasan di akherat nanti.

Dan bekal untuk orang yang dibully adalah tigal hal yaitu Taqwa, Ikhlas dan Sabar, Kuatkan iman dan terus menerus meminta perlindungan Allah SWT. Jangan pernah putus asa walaupun sering dhina atau atau dibully. Ingat, setiap pembawa risalah pada jamannya, juga orang-orang yang sering dibully, dihina, dicacimaki, dianggap gila dan lain sebagainya, bahkan mereka menjadi sasaran pembunuhan!

Jadi ketika anda dihina atau dibully, itu masih belum apa-apa, yang dihina hanya mungkin kebodohan anda, kemiskinan anda, keburukan fisik atau wajah anda, itu hanya masalah pribadi, bukan iman anda! Tapi bila yang dihina atau dibully iman anda, keyakinan anda atau agama anda, jangan diam! Harus dilawan, harus dijawab tantangan tersebut. Tentu saja dengan penuh hikmah dan bijaksana, tidak dengan anarkis atau dengan kekerasan, tetap dengan kelembutan hati!

Jadi kuatkan iman dan Islam anda ketika menghadapi celaan atau hinaan. Katakan: Dibully, siapa takut?” Ingat keadaan iman bisa di ibaratkan pohon pada musim gugur, silahkan daun-daun, ranting-ranting berguguran dan patah, tapi akar pohon tidak boleh tercabut, tetap kokoh. Walaupun seperti pohon yang mati tapi tetap hidup, dan pada saatnya akan kembali menghijau, itulah iman.

Jadi ketika dihina atau dibully, ibarat daun di pohon keimanan dan keislaman anda sedang digugurkan oleh orang orang yang suka membully, biarkan daun-daun itu berguguran, tapi pohon keimanan dan keislaman anda tidak mati, tidak roboh tidak hancur. Dan pada saatnya di musim semi akan kembali pohon anda tumbuh dengan dedaunan dan buahnya yang segar.

Begitulah buah ketaqwaan, kesabaran dan keikhlasan anda ketika dibully, Pada saatnya nanti anda akan meraih kesuksesan, karena dibully bukan menyebabkan kiamat pada kehidupan anda! Dibully itu ibarat pupuk pada pohon keimanan anda, semakin banyak dibully, semakin banyak pupuk yang diberikan dan itu membuat jiwa anda semakin kuat! Jadi kenapa harus takut dan minder ketika dibully? Sekali lagi katakan: EGP, Emangnya Gue Pikirin! Dan jikanpun di bully itu racun, jadikan racun itu obat, beres!

Moskow, 20 Oktober 2014

sumber artikel : https://www.eramuslim.com/oase-iman/dibully-kenapa-takut.htm#.XcIxndUxXIV