Category Archives: Kecanduan Gadget dan Pornografi

Lindungi Anak Dari Gadaikan Hidup Untuk Gadget dan Game Online

sumber gambar : https://img.harianjogja.com/posts/2018/07/23/929517/hl.jpg

Membicarakan mengenai kecanduan gadget dan game online memang tidak akan ada habisnya. Namun inilah perhatian pentingnya, karena masalah kecanduan gadget dan game online sudah kian memprihatinkan. Semakin hari makin banyak gadget – gadget baru bermunculan dengan beragam spesifikasi tinggi namun harga murah, game – game online kian mengembangkan inovasi gamenya agar lebih dinikmati oleh kalangan masyarakat.

Kita sebagai bangsa yang yang sedang berkembang wajib untuk selalu waspada karena kecenderungannya adalah mudah kagum dan kaget terhadap perkembangan teknologi baru terutama gadget dan game online. Dan parahnya kita akan jadi mangsa besar bagi para pelaku usaha gadget dan game online untuk memperbesar pundi – pundi kekayaannya.

Tanpa kita sadari telah banyak dari kalangan masyarakat yang telah terjebak dalam kecanduan gadget dan terutama anak – anak . Sekarang banyak dari anak – anak lebih menghabiskan hari harinya hanya bersama gadget, tidak pernah keluar rumah mengurung diri dalam kesendirian yang membahagiakan. Bagi angkatan kelahiran 90-an akan sangat bosan jika berada di dalam rumah terus tetapi sebaliknya di jaman sekarang.

Begitu memprihatinkan, bagaimana banyak yang hilang dari masa – masa anak – anak yang seharusnya belajar berinteraksi sosial dengan linngkungan sekitar, berinteaksi sosial dengan alam yang mana akan berguna sebagai bekal hidup di masa depan. Dan sepertinya dari kebanyakan orang tua milenial malah seperti menikmati saja perkembangan teknologi sekarang tanpa mengeksplore lebih dalam tentang banyak dampak negatif maupun positifnya.

Bahkan sekarang sudah hal biasa jika ada kasus seorang anak yang kecanduan gadget harus dirawat di Rumah Sakit entah karena gangguan mental, atau gangguan penyakit akibat radiasi dari layar gadget. Bagi kita yang mendengarkan berita itu pasti sudah tidak akan kaget seperti sudah menjadi tren saat ini.

Yang lebih mengerikan sudah keluar beberapa artikel yang memberitakan tentang remaja yang mengakhiri hidupnya hanya karena ditegur untuk berhenti bermain game, sungguh kalo kita resapi dalam – dalam masalah kecanduan gadget dan game online sudah bukan lagi masalah yang bisa dianggap sepele. Perlu adanya perombakan sistem dari pemerintah dan peran seluruh masyarakat tentang masalah kecanduan gadget dam game online ini, bahkan kalo perlu ada Undang – Undang yang mengatur tentang penggunaan gadget dan memainkan game online pada anak – anak dan remaja. Karena mereka generasi muda adalah aset untuk masa depan bangsa.

Mungkin langkah awal yang bisa kita lakukkan saat ini adalah dilingkungan keluarga terutama peran orang tua dalam memberikan pola asuhnya dan filter terhadap dampak negatif perkembangan teknologi. Sempatkanlah untuk memberikan edukasi penting mengenai dampak negatif dan positif perkembangan teknologi, sempatkanlah untuk bincang – bincang santai dengan anak – anak mengenai masalah pribadinya, sempatkanlah untuk bermain bersama,suruhlah anak – anak untuk ikut bersosialisasi dilingkungan masyarakat misal kalo masih anak – anak ikutkan kegiatan TPQ ( Mengaji ) kalo sudah remaja ikutkan sebagai anggota karang taruna atau remaja masjid dan kegiatan keluarga lainnya yang bisa menjadi filter dan juga pengalih untuk menjadi kegiatan yang lebih positif.

Saya pernah mendengar perkataan dari seorang psikolog “Kita sebagai orang tua kadang hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita inginkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua bagi anak – anak mereka kelak”

Jangan sampai geneasi muda masa depan bangsa ini pelan – pelan kropos akhlaknya, kropos sosialnya, kropos kemanusiaannya karena perkembangan teknologi yang tidak terfilter.

Salam dari Bim

Mencegah Anak dari Kecanduan Gadget

sumber gambar : http://www.inhilklik.com/assets/berita/original/48258911399-candu_game.png

Jaman semakin maju dan berkembang maka segala yang ada didalamnya pun juga akan mengikutinya seperti halnya pola pengasuhan orang tua terhadapa anak pasti akan sangat berbeda jauh dengan tahun di era 90-an yang cenderung keras dan tegas.

Berbeda dengan pola asuh orang tua terhadap anak yang terjadi di jaman yang maju dan berkembang ini sekarang mereka jarang berbicara dengan anaknya karena dengan segala kesibukannya. Si Ayah sibuk dengan pekerjaan di kantor sedangkan si Ibu sibuk dengan online shop atau sibuk chatingan dengan grup – grup WA, dan si anak hanya menghabiskan hari – harinya dengan dibekali gadget oleh orang tua dan menikmati kesendiriannya.

Bagaimana mugkin didalam suatu keluarga tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak – anaknya, dan itulah yang sering terjadi di jaman yang sudah maju dan berkembang. Dan pada akhirnya siapa yang menjadi korban ?? Ya anak.

Anak hanya akan berbicara kepada temannya yaitu gadget dan kesendiriannya dan lambat laun jika itu terjadi dalam jenjang waktu yang lama maka akan menimbulkan candu bagi anak. Karena anak sudah terbiasa tanpa orang tua dan hanya berbekal gadgetpun mereka merasa terhibur dan jika dibiarkan tambah lama lagi maka parahnya akan berdampak pada mental anak, banyak kasus anak yang dirawat intensif karena kecanduan gadget.

Salah satu tanda ketika gadget sudah berdampak pada mental anak yaitu saat anak merasa gelisah,resah dan suka marah marah sendiri ketika gadget tidak bersamanya satu hari bahkan satu jam pun tidak bersama gadget rasanya sudah tidak karuan

Lantas, bagaimana cara mencegah anak-anak agar terbebas dari kecanduan gadget? Berikut tipsnya:

1.Ciptakan quality time dengan buah hati.

Saat anak rewel, orangtua kerap memberi si kecil gadget agar anak tenang. Namun anak-anak, terutama balita, masih memiliki keterampilan kognitif yang belum sempurna. Pemrosesan informasi dari gadget terbukti kurang menguntungkan daripada interaksi aktual dengan orang tua. Balita dan proses kognitif simbolik anak-anak akan mendapat manfaat besar ketika ada orang dewasa yang menjelaskan dan berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan menjadi penerima informasi pasif. Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga akan meningkat ketika ada interaksi yang sebenarnya. Semakin banyak waktu bermakna yang kita habiskan dengan anak, semakin kecil waktu sang anak untuk terpapar dengan gadget. Menyediakan waktu khusus untuk sang anak dapat menciptakan ikatan yang lebih intim antara orangtua dan anak.

Untuk itu, daripada memberikan gadget untuk si kecil, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini bersama si buah hati: Baca buku bersama, Masak bersama, Mengobrol bersama sang anak , Berlibur dengan sang anak

Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak. Jadi, sediakanlah waktu khusus untuk si kecil sehingga anak kita tak melulu bermain dengan gadget.

2.Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

Agar sang anak terhindar dari kecanduan gadget, orangtua harus menetapkan batasan. Dengan cara ini, anak-anak akan lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka akan lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk menggunakan gadget dan kapan harus berhenti. Kita bisa menetapkan batasan penggunaan gadget pada anak dengan menggunakan aplikasi atau pengaturan gadget. Kita juga bisa mengunci koneksi internet dalam jangka waktu tertentu dan memberi si kecil jadwal khusus untuk bermain gadget. Anak-anak harus memiliki waktu interaksi dengan lingkungan sekitar untuk melatih perkembangan motorik halus mereka. Perkembangan sosial-emosional juga dapat meningkat ketika mereka bermain dengan teman sebayanya. Di sisi lain, banyak sekolah sekarang mengadaptasi teknologi sebagai bagian dari strategi pengajaran mereka. Kegiatan, kerja kolaboratif, dan bahkan penugasan menggunakan teknologi dan kehadiran online. Untuk itu, orangtua harus menerapkan batasan penggunaan gadget yang lebih bijaksana untuk anak-anak mereka.

3.Buat si kecil melakukan hal lain.

Mencegah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak bisa kita lakukan dengan cara lain untuk mengekspresikan diri dan menggunakannya waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih relevan dan lebih bermanfaat untuk si kecil. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan si kecil kegiatan seperti olahraga, kegiatan seni, pelajaran musik atau apapun yang menjauhkan snag anak dari gadget. Memiliki rutinitas atau jadwal kegiatan tertentun juga bisa membuat sang anak tidak terlalu aktif dengan gadget dan membuat mereka mampu melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas mereka.

sumber berita : Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/083000365/tips-mencegah-kecanduan-gadget-pada-anak?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Sari Hardiyanto

Terbukti, Balita yang Sering Pakai Gadget Berisiko Terlambat Bicara

Oleh Fauzan Budi Prasetya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri – Dokter Umum

sumber gambar : https://warasmedia.com/wp-content/uploads/2017/10/anak-mudah-pakai-gadget.jpg

Tak diragukan lagi, gadget (gawai) seperti smartphone dan tablet memang memiliki segudang manfaat bagi manusia, bahkan bagi anak kecil. Cukup banyak orangtua yang memberikan gadget kepada anaknya. Alasannya biasanya seperti hiburan yang aman karena anak hanya akan duduk diam sambil bermain atau menonton. Namun, apakah ada pengaruh gadget bagi perkembangan anak?

Segudang pengaruh gadget yang positif bagi anak

Pengaruh gadget bisa sangat baik terhadap kemampuan kognitif anak. Dibandingkan membaca atau melihat gambar pada buku, anak-anak lebih tertarik dengan gambar-gambar yang bergerak dan bersuara. Anak-anak bisa menonton video edukasi melalui berbagai aplikasi. Anak bisa melihat berbagai video seperti video tentang kehidupan hewan dan tumbuhan, video tentang benda-benda di luar angkasa, hingga video sejarah pada masa lalu. Selain itu, berbagai aplikasi seperti aplikasi kuis dan berbagai games edukatif sudah banyak sekali ditemukan pada smartphone.

Bahkan, gadget dengan mesin pencari akan menjadi guru yang hebat untuk membuka wawasannya. Ketika anak ingin mencari tahu mengenai sesuatu, dia tinggal mengetikkan kata kuncinya pada mesin pencari ribuan jawaban mengenai hal tersebut siap untuk dibuka.

Pengaruh gadget terhadap kemampuan bicara Anak

Namun di sisi lain, memberikan gadget kepada anak bisa berbalik arah jadi hal yang negatif. Salah satunya adalah gadget terbukti berpengaruh terhadap kemampuan bicara anak.

Seorang spesialis jiwa anak dan remaja, dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K) dalam sebuah diskusi media Rumah Sakit Pondok Indah pada Maret 2017 mengungkapkan bahwa pemberian gadget di bawah usia lima tahun akan mengurangi rangsangan pada interaksi sosialnya. dr. Gita menjelaskan lebih jauh kepada Viva, ini karena gadget tidak butuh respon anak, sehingga sulit untuk berinteraksi dan hal ini berdampak pada proses bicaranya.

Penelitian yang dipresentasikan di Pediatric Academic Societies Meeting di San Francisco menjelaskan hal ini. Catherine Birken, seorang dokter anak di Hospital for Sick Children in Toronto Kanada menemukan adanya hubungan antara penggunaan gadget dengan kemampuan bicara pada anak.

Dari tahun 2011 hingga 2015, Birken menanyakan kepada orangtua yang memiliki anak berumur 6 hingga 24 minggu, berapa lama mereka biasa diberikan waktu menonton lewat layar gadget.  Nah, 20 persen dari anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini menggunakan gadget paling tidak selama 28 menit setiap harinya.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa setiap tambahan 30 menit waktu yang digunakan untuk bermain gadget dapat meningkatkan risiko terlambat bicara atau speech delay hingga 49 persen. Sedangkan bentuk komunikasi lain seperti bahasa tubuh, emosi, hingga tatapan mata tidak terpengaruh.

Namun, Barken mengunggapkan bahwa riset lanjutan masih diperlukan, misalnya riset eksperimental untuk membuktikan pengaruhnya secara klinis. Namun, riset awalan ini dapat menjadi acuan ke depan bagi para orangtua dan tenaga kesehatan anak.

Studi lain yang dilakukan oleh University College London Inggris menemukan bahwa waktu yang digunakan di depan layar juga berpengaruh terhadap perkembangan otak. Studi tersebut menemukan bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk menonton gadget bisa menyebabkan berkurangnya waktu tidur hingga 16 menit. Padahal, tidur amat bermanfaat bagi otak anak, apalagi pada masa-masa perkembangan otak ketika perkembangan syaraf sedang bagus-bagusnya.

Pengaruh keterlambatan bicara pada kehidupan anak

Keterlambatan untuk mulai berbicara dapat membawa dampak lainnya. Jenny Radesky, seorang ahli dari University of Michigan Amerika Serikat, berpendapat bahwa ketika anak-anak tidak mampu mengekspresikan rasa frustasinya lewat kata-kata, mereka akan cenderung menggunakan gerakan tubuhnya atau suara lantang untuk menarik perhatian. Dengan kata lain, anak-anak akan terlihat tidak mampu mengontrol emosi.

Selain itu, keterlambatan berbicara bisa memengaruhi kemampuan akademis anak di sekolah nantinya. Kemampuan dalam memahami teks dan merangkai kata bukan hanya penting dalam pelajaran bahasa saja, namun bisa pada pelajaran lainnya seperti sains, matematika, seni, dan ilmu sosial.

Jadi apakah anak tidak boleh pegang gadget sama sekali?

Meski ada pengaruh gadget yang harus diwaspadai, Anda bisa menggunakan gadget sebagai media pembelajaran.

Untuk anak usia 18 bulan ke bawah, sebaiknya gadget hanya digunakan untuk video-chatting. Bila Anda ingin mengenalkan media digital, ini bisa Anda lakukan pada anak usia 18-24 bulan dengan menonton tayangan edukatif. Pastikan Anda menonton bersama anak dan menjelaskan apa yang ditonton agar anak paham betul mengenai apa yang ia tonton.

Pada anak usia 2-5 tahun, Anda dapat membiarkan anak untuk menggunakan gadget maksimal satu jam per hari. Orang tua harus menggunakan gadget bersama anak dan menjelaskan mengenai apa yang ditampilkan serta menerapkan apa yang didapat dari tayangan tersebut ke dunia sekitar.

Jadi, pada usia 5 tahun ke bawah, jangan biarkan anak asyik sendiri dengan gadget. Gunakanlah gadget seperti layaknya buku. Pegang gadget dan duduklah Anda di samping anak Anda sambil bercerita atau menjelaskan mengenai gambar yang ada di layar. Berinteraksilah bersama anak ketika sedang melakukan ini.

Untuk anak usia 6 tahun ke atas, Anda tidak perlu selalu berada di sisi anak ketika menggunakan gadget. Namun, Anda harus sadar bahwa ada banyak media pembelajaran lainnya di luar sana. Misalnya pergi ke kebun binatang atau tempat rekreasi lainnya yang bisa membuat anak lebih aktif bergerak dan berinteraksi dibandingkan menggunakan gadget.

Selain itu, untuk mencegah pengaruh gadget yang negatif, tentukan durasi pemakaian gadget yang konsisten dan pastikan penggunaan gadget tidak mengganggu waktu tidur, waktu bermain atau beraktivitas fisik, dan kegiatan lainnya yang penting untuk kesehatan.

sumber artikel : https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/pengaruh-gadget-bicara-anak/

Direview tanggal: September 26, 2017 | Terakhir Diedit: September 14, 2017

Pornografi Tetap Hidup dan Baik-Baik Saja di Semesta Twitter

Oleh: Ahmad Zaenudin – 11 Juli 2019

sumber gambar : https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2015/05/07/537484/670×335/konten-pornografi-di-twitter-makin-mengkhawatirkan.jpg

Ketika konten pornografi mudah ditemukan di Twitter.

tirto.id – Perang terhadap pornografi di internet tak kunjung usai. Padahal, di 2018 lalu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) rajin melakukan aksi blokir, termasuk pada pemain-pemain besar. Pada bulan Maret 2018, misalnya, Kominfo resmi memblokir Tumblr. Lantas, empat bulan berselang, giliran TikTok yang bernasib serupa.

Selain diperangi pemerintah, pornografi pun diperangi para pemilik platform. Google, misalnya, memiliki fitur bernama SafeSearch guna membendung kata kunci berbau mesum menghasilkan hasil pencarian yang relevan. Pada Agustus tahun lalu, fitur ini secara aktif bagi seluruh pengguna internet Indonesia.

Lalu, ada pula Facebook. Media sosial sejuta umat ini, sejak Maret 2019, mempekerjakan artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi, sebagaimana diwartakan CNET, “foto atau video telanjang yang dibagikan tanpa persetujuan di Facebook dan Instagram.”

Kerja Facebook memerangi pornografi itu merupakan perluasan dari apa yang mereka lakukan pada Oktober 2018. Kala itu, untuk membendung pornografi anak berkembang biak d Facebook, Facebook menciptakan machine learning khusus.

Sayangnya, meskipun telah dicekik pemerintah melalui aksi blokir, juga oleh pemilik platform dengan segala fiturnya, pornografi tak enyah dari dunia internet, khususnya media sosial. Dan setelah sukar berkembang di Tumblr dan sulit ditemukan di Google, pornografi kini berpusat pada Twitter. Microblogging yang didirikan Jack Dorsey dan Evan Willian pada 2006 silam ini masih menjadi tempat terbaik konten mesum bertempat.

Mencari konten pornografi di Twitter bukanlah hal yang sukar dilakukan. Kuncinya ada di kolom pencarian. Dari kolom itu, pengguna tinggal memasukkan kata-kata mesum nan cabul apa pun. Twitter memang tidak memblokir penggunaan kata-kata mesum dan cabul di sistem pencariannya.

Dari kata mesum yang diketikkan, Twitter lantas memberi hasil pencarian berupa konten-konten pornografi di platformnya. Beberapa bahkan menampilkan video mesum berdurasi sekitar 2 menit. Dan dari hasil pencarian yang diberikan Twitter pula, pengguna dapat diarahkan pada pengguna Twitter yang saban hari mengunggah konten pornografi, misalnya @vcrsc* hingga @penggila_jilb*b.

Pada akun-akun penyebar konten cabul itu, Twitter hanya memberikan peringatan “Caution: This profile may include potentially sensitive content” yang mudah dilewati. Video pendek pornografi, baik dari cuplikan video porno profesional seperti dari Pornhub ataupun video porno balas dendam, dapat ditemukan pada akun-akun cabul di Twitter.

Dari akun-akun mesum ini, pengguna dapat memperoleh informasi dari penyebar konten mesum lainnya di jagat Twitter, karena Twitter menerapkan konsep “rekomendasi sejenis.” Yang mengherankan, segala konten pornografi yang ada di Twitter dapat diakses tanpa virtual private network (VPN) ataupun harus meregistrasi diri di Twitter.

Cipluk Carlita, Twitter Head of Communications Indonesia, Thailand, Philippines, tak merespon ketika dimintai konfirmasi terkait terpaparnya Twitter oleh pornografi.

Sedikit, tapi Berpengaruh

Dalam berkehidupan, manusia memiliki sistem bernama jaringan sosial. Jaringan sosial ialah sistem yang merekatkan orang-orang dengan melalui topik relevan tertentu. Dalam jaringan sosial, tak hanya ada topik-topik yang beradab, tetapi juga menyimpang. Contohnya adalah topik terkait kekerasan atau pornografi yang pada akhirnya menciptakan “deviant network” atau “jaringan menyimpang.”

Mauro Coletto, dalam dalam papernya berjudul “Pornography Consumption in Social Media” (2016), menyebut bahwa media sosial memudahkan orang-orang membentuk jaringan menyimpang. Salah satu topik populernya ialah pornografi. Temuannya, 0,8 persen dari seluruh pengguna Tumblr dan 1,1 persen pengguna Flickr masuk dalam jaringan menyimpang yang disatukan pornografi.

Coletto menyebut konten-konten pornografi di media sosial diramaikan oleh pengguna yang ia sebut “produser,” sosok pengguna yang secara aktif mengunggah konten pornografi. Juga ada “konsumen,” sosok pengguna yang tidak mengunggah konten pornografi namun menjadi pengikut produser.

Dalam kasus Twitter di atas, @vcrsc* merupakan sosok producer yang memiliki lebih dari 208 ribu consumer.

Sayangnya, konten pornografi yang ditransaksikan di media sosial bukan hanya antara produsen-konsumen belaka. Menurut Coletto, ada pula “unintentionally exposed user,” yakni pengguna media sosial yang dipaksa mengkonsumsi pornografi di media sosial. Sangat mungkin anak-anak merupakan bagian dari unintentionally exposed user ini.

Meskipun meresahkan, konten pornografi di media sosial merupakan daya tarik tersendiri. Kaskus, misalnya, pernah memiliki sub-forum bernama BB17 yang khusus membahas hal-hal dewasa sebagai daya tarik sebelum akhirnya ditutup demi menghindari permasalahan dengan peraturan perundang-undangan. Sementara itu, sebagaimana dipaparkan Statista, Tumblr mengalami penurunan pengunjung semanjak mereka memerangi pornografi eksis di platform itu.

Di bulan September 2018, Tumblr dikunjungi 568 juta pengunjung aktif bulanan. Namun, dua bulan berselang total kunjungannya berkurang menjadi 538 juta pengunjung aktif. Pada Februari lalu, media sosial ini hanya dikunjungi 369 juta pengunjung aktif.

Konten pornografi mungkin menguntungkan bagi platform media sosial, tetapi unintentionally exposed user, dalam hal ini anak-anak, harus menjadi pihak utama yang dilindungi.

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani

sumber artikel : https://tirto.id/pornografi-tetap-hidup-dan-baik-baik-saja-di-semesta-twitter-ed17

Tanda Si Kecil Sudah Kecanduan Gadgetnya

sumber gambar : https://blogpictures.99.co/cara-mengatasi-kecanduan-gadget-header.jpg

Sudah menjadi hal biasa bagi setiap manusia dijaman milenial saat ini memiliki sebuah ponsel pintar atau sebuah gadget. Hampir bisa kita lihat sekarang baik balita sampai lanjut usia semua sudah mengenal yang mengenal yang namanya gadget. Dulu saat di era sekitar tahun 2016 kebawah gadget masih menjadi barang langka bagi setiap kalangan masyarakat karena untuk mendapatkan spesifikasi tinggi dari sebuuah gadget perlu merogoh kocek yang lumayan mahal. Tapi di era sekitar tahun 2016 keatas mulai berdatangan vendor – vendor baru yang menjual produknya khususnya gadget dengan harga yang cukup murah tetapi dengan spesifikasi yang sudah tinggi dan juga mumpuni.

Sejak saat itu juga para vendor – vendor besar yang dulunya menjual gadget spesifikasi tinggi dengan harga mahal mulai mengikuti para vendor – vendor baru untuk menjual produk gadgetnya dengan harga yang cukup murah atau bisa dijangkau dari kalangan kelas bawah sampai kalangan kelas atas.

Dan dampaknya sekarang sudah benar benar nyata khususnya bagi kalangan anak – anak. Sejak keluarnya model – model gadget yang sudah kekinian, spesifikasi tinggi, dan juga harganya murah. Banyak dari orang tua memilih untuk membelikan gadget kepada anak – anak sebagai sebuah sarana bermain dan pengalihan anak – anak agar tidak rewel. Dan sepertinya fenomena seperti ini pun telah menjadi kebiasaan dan sekarang bahkan sudah menjadi kebutuhan untuk para orang tua membelikan sebuah gadget untuk anak – anak mereka agar mereka dengan alasan bisa mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja tanpa ada gangguan dari anak, karena anak sudah nyaman dan anteng ( kalau dalam istilah jawa ) jika sudah memegang gadget.

Namun dibalik itu semua akan timbul berbagai dampak yang dapat mempengaruhi keharmonisan sebuah keluarga dari penggunaan gadget yang berlebihan, dari sekian dampak positifnya ada juga dampak negatif yang mungkin tanpa kita sadari dampak negatif tersebut telah mempengaruhi keharmonisan hubungan antara anak dan orang tua, terutama berkurangnya komunikasi dan kasih sayang antara anak dan orang tua.

Nah untuk mencegah dampak negatif itu terjadi perlu adanya filter dan juga kewaspadaan sebagai tanda bahwa anak sudah berlebihan bahkan menjadi kecanduan dengan gadgetnya. Diberitakan dari hellosehat.com berikut beberapa tanda yang harus diketahui orang tua ketika anak sudah berlebihan atau kecanduan gadgetnya.

Tanda anak kecanduan gadget

Menurut DR. Aric Sigman (psikolog Amerika Serikat yang menulis Screen Dependency Disorder: A New Challenge for Child Neurology), Screen Dependency Disorder atau SDD adalah perilaku adiksi terhadap layar gadget. Kondisi ini dapat menyerang anak usia berapapun, bahkan usia 3 sampai 4 tahun dapat terkena SSD.

Salah satu ciri khas dari anak dengan SDD adalah, ia selalu mengambil gadget nya ketika bangun tidur dan makan di meja dengan mata yang terpaku ke layar, entah itu untuk bermain game, menonton youtube, atau sekedar membuka-buka aplikasi.

Gangguan ini dapat memberikan berbagai gejala fisik seperti ganguan tidur, nyeri punggung, peningkatan atau penurunan berat badan, gangguan pengelihatan, sakit kepala, dan gangguan nutrisi.

Secara psikologis, anak akan mengalami kecemasan, anak sering bohong, perasaan bersalah, dan kesepian. Banyak dari anak-anak tersebut yang memilih untuk mengisolasi dirinya, sering mengalami agitasi, dan perubahan mood yang sangat cepat.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Sigman, anak yang mengalami adiksi terhadap layar juga mengalami masalah perilaku seperti terus meningkatkan penggunaan gadget, gagal mengurangi atau menghentikan aktivitas dengan layar, terus menerus meminta untuk menggunakan gadget, dan kehilangan minat terhadap dunia luar.

Sebagai orang tua, Anda sebaiknya mulai berhati-hati jika aktivitas keluarga sehari-hari tidak dapat diikuti oleh anak-anak karena ia tidak bisa dipisahkan dari gadgetnya. Contohnya, anak enggan pergi ikut beberlanja mingguan, enggan makan malam bersama, malas untuk membuat kue bersama-sama, karena anak tidak mau melewati aktivitasnya dengan gadget. Ini menandakan bahwa fokus anak Anda hanya ada pada gadgetnya. Situasi ini tidak baik bagi perkembangan anak.

Umunya, tanda dan gejala anak anda mengalami SDD adalah:

  • Keasyikan bermain gadget
  • Menunjukkan perilaku yang tidak nyaman ketika tidak bermain gadget
  • Terus meningkatkan waktu bermain gadget
  • Gagal untuk mengurangi atau berhenti bermain dengan gadget
  • Kehilangan ketertarikan dengan dunia luar
  • Tetap menggunakan gadget meskipun mengetahui konsekuensi negatif yang akan didapatkan
  • Berbohong mengenai lama penggunaan gadget ke orang tua
  • Menggunakan gadget untuk mengalihkan perasaan

Dampak kecanduan gadget pada anak

Berbagai perubahan perilaku pada anak yang mengalami SDD didukung dengan hasil penelitian bahwa terdapat beberapa bagian otak yang mengalami perubahan akibat penggunaan gadget sejak dini dan secara terus menerus.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lin dan Zhoui pada tahun 2012 menunjukkan bahwa layar gadget ini berkaitan dengan perubahan regio otak yang berfungsi mengontrol proses emosi, atensi, pembuatan keputusan, dan kontrol kognitif.

Dari pemeriksaan MRI terlihat beberapa bagian otak anak yang berkaitan dengan pengaturan impuls, mengalami perubahan karena penggunaan gadget terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Selain itu, “insula” atau bagian otak yang mengembangkan perilaku empati dan kasih sayang terhadap orang lain, juga mengalami gangguan.  Hal ini yang menjelaskan bagaimana anak SDD memiliki perilaku yang berbeda dibandingkan anak lainnya.

Cara mencegah anak kecanduan gadget

Meskipun penggunaan gadget memiliki pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak dapat dipungkiri bahwa gadget merupakan suatu alat yang mendukung kegiatan sehari-hari seperti komunikasi, mencari berbagai informasi, belajar, hiburan, dan lain-lain. Di sini lah peran orang tua untuk menjaga agar penggunaan gadget pada anak tidak berlebihan dan seimbang.

Beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan mengenai penggunaan gadget pada anak-anak di antaranya:

  • Jangan terus menerus menggunakan gadget sebagai media untuk menyibukkan anak atau menenangkan anak. Doronglah anak untuk bermain dengan mainannya atau bermain di luar.
  • Bayi di bawah 18 bulan sebaiknya tidak terpapar gadget atau media apapun dengan layar.
  • Pastikan anda memilih aplikasi atau program yang baik untuk anak anda. Anda harus selalu menemani anak kapanpun ia menonton video, terutama ketika ia terhubung dengan internet langsung.
  • Berikan batasan waktu sekitar beberapa jam untuk anak Anda bermain gadget.

Selama mengasuh anak, Anda dianjurkan sebisa mungkin untuk menghindari gadget sebagai penenang. Anda dapat memotivasi anak untuk menggambar di kertas menggunakan berbagai pensil warna-warni dibandingkan menggambar di smartphone atau tablet.

Anda juga dapat mengajaknya untuk bermain menggunakan balok, kardus, lego, atau mainan lain. Sebagian besar anak harus didorong untuk berinteraksi langsung dengan anak seusianya.

Biarkan anak bermain di luar sehingga ia bisa mengekspresikan dirinya dan menggunakan kontak matanya dengan baik. Hal ini tidak hanya untuk membantu membentuk kemampuan interpersonal, tetapi juga membangun kemampuan motorik dan kreativitasnya.

Direview tanggal: April 12, 2019 | Terakhir Diedit: April 12, 2019

sumber artikel : https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/penyakit-mental/tanda-anak-kecanduan-gadget/ Oleh dr. Ayuwidia Ekaputri Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus – Dokter Umum Direview tanggal: April 12, 2019 | Terakhir Diedit: November 15, 2019