Category Archives: Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Grooming ? Dibalik Kekerasan Seksual Terhadap Anak

sumber gambar : https://www.secureverifyconnect.info/sites/default/files/styles/image_740x431/public/field/image/OnlineGrooming.jpg?itok=Cba3sq9I

Kecanggihan teknologi kian tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat juga para penggunanya pun mengalami peningkatan kuantitas baik dari kalangan anak – anak hingga usia lanjut usia. Namun perlu kita waspadai khususnya bagi orang tua yang di era milenial saat ini yang kerap memberikan kebebasa anak – anak untuk menggunakan gadget tanpa edukasi, filter, juga pengawasan.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini tanpa kita sadari kejahatan juga berkembang secara diam – diam, menyamar, dan bersembunyi bahkan bisa mengawasi setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial maupun internet . Salah satu yang harus diwaspadai secara ekstra khususnya bagi orang tua milenial saat ini adalah banyak para pelaku kejahatan melakukan Grooming terhadap anak- anak.

APA ITU GROOMING ?

Menurut lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka.

Dan saat ini Grooming menjadi modus baru bagi para pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual yang memanfaatkan peran media sosial untuk melancarkan aksinya melakukan pelecehan seksual dengan target mereka adalah melainkan dari kalangan anak – anak khususnya anak perempuan.

Biasanya para pelaku grooming atau groomer membuat akun/identitas palsu untuk mengelabuhi korban. Seperti kasus yang terjadi di Surabaya ketika pihak kepolisian berhasil menangkap tersangka pelaku grooming berinisial TR ( 25 ). Dengan menggunakan akun/identitas palsu dari seoraang guru pelaku TR berhasil mengumpulkan 1300 foto dan video anak tanpa busana didalam akun e-maillnya, dari sekian banyaknya foto dan video sudah terindentifikasi sebanyak 50 anak dengan identitas berbeda.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) yang mendapat laporan dari seorang guru bahwa akun media sosialnya dipalsukan. Dan setelah diselidiki ternyata pelaku pemalsuan akun media sosial guru tersebut tak lain adalah tersangka TR ( 25 ).

Saat melancarkan aksinya groomer akan membangun karakter tersendiri untuk memikat korban yang sudah menjadi target si groomer. Dan setelah itu goomer akan mulai menghubungi korban dan mulai membangun hubungan, memberikan perhatian – perhatian atau saran kepada korban . Entah apa skill yang dimiliki si groomer hingga ia mampu menjadi sosok figur yang didambakan korban, sosok mentor, dan bahkan bisa menjadi kekasih si korban yang notabene mereka hanya melakukan hubungan melalui media sosial.

Semakin dekat hubungan groomer dengan korban maka pelan – pelan groomer akan mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbau seksual dan mulai berani untuk meminta foto dan video yang berbau seksual dengan iming – iming berupa uang, hadiah, dan hal – hal lain yang memmbuat si korban mau menuruti permintaan si groomer bahkan bisa jadi si groomer juga akan membuat ancaman yang membuat korban mejadi ketakutan.

Pelaku groomer sangat lihai dalam mengelabuhi korbannya karena jika korban dan groomer sudah mempunyai hubungan erat dan keterbukaan maka akan sulit untuk mengetahui modusnya. Untuk prosesnya pun tergantung dari keahlian groomernya itu sendiri bisa lama atau singkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa menjadi korban dari groomer, mereka yang menjadi korban groomer biasanya mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, tidak percaya diri, mengalami masalah keluarga. Namun jika kita lebih teliti terdapat ciri – ciri atau indikasi korban dari groomer.

CIRI – CIRI KORBAN GROOMING

seorang korban grooming dapat kita lihat dari berbagai ciri – ciri dibawah ini :

  1. Menjadi sangat tertutup
  2. Punya pacar yang umurnya lebih tua
  3. Memiliki barang baru dan uang berlebih
  4. Mudah tertekan dan sensitif

Sebagai informasi menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KemenPPPA ) bahwa kasus grooming sudah terjadi sejak tahun 2016. Namun banyak dari masyarakat baru mengetahui kasus ini karena di tahun 2019 telah lebih dari 236 kasus grooming terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Pesan penting bagi para orang tua milenial saat ini bahwa penyebab dari aksi grooming ini sendiri bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang semakin maju saat ini namun peran orang tua yang kurang waspada dan kurang memperhatikan anak di era kejuan teknologi saat ini terutama saat orang tua membebaskan anak untuk bermain gadget tanpa diberikan edukasi yang baik mengenai bagaimana cara menggunakan gagdet yang baik dan mengontrol atau memfilter kegiatan anak di dalam gadgetnya.

sumber penulisan : 1. https://news.detik.com/berita/d-4635087/mengenal-grooming-modus-baru-pelecehan-seksual-terhadap-anak 2. https://www.indozone.id/news/d5snEe/ketahui-taktik-ciri-grooming-modus-pelecehan-seksual-pada-anak 3. https://www.solopos.com/grooming-kekerasan-seksual-pada-anak-via-medsos-1023078

Bagaimana Dampak Memviralkan video kekerasan anak ?

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan juga komunikasi, berbagai informasi terkini ataupun update informasi dari berbagai sumber media dapat kita dapatkan secara cepat juga mudah. Beredarnya berita sekarang pun juga bukan dari mulut ke mulut tapi dari share ke share mekakui platsform media sosial.

Namun tidak semua memiliki kebijaksanaan dalam menyebarkan informasi melalui media sosial apakah inforasi ini akan menimbulkan dampak baik atau tidak jika disebar luaskan. Karena sebenarnya pun penyebar informasi belum benar – benar tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kita sebagai muslim pun diingatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmannya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Untuk itu marilah kita bijak dalam menyebarkan informasi yang beredar luas di dunia maya saat ini, kroscek dulu dari berbagai sumber lain apakah informasi ini benar adanya atau tidak sebelum mengeshare informasi tersebut tetapi dengan etika yang baik untuk mengeshare berita. Berikut informasi yang dijelaskan bbc.com/indonesia mengenai bagaimana dampak memviralkan informasi khusunya pada kasus kekerasan pada anak.

Seperti dilansir dari bbc.com/indonesia beberapa hari yang lalu, ada suatu video yang viral di media sosial. Dan, tidak, saya tidak akan menjadikan video itu lebih viral lagi dengan mencantumkan tautannya di sini.

Video itu menunjukkan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan mengenakan seragam sekolah. Dia tampak diinterogasi oleh orang-orang dewasa tentang luka dan memar yang ada di tubuhnya.

Beberapa orang dewasa kemudian membuka baju dan celana si anak, sembari menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya. Ketika ditanya siapa pelakunya, anak itu menjawab, “Bunda.”

Komentar-komentar orang dewasa di dalam video dan juga orang-orang di media sosial cukup seragam. Mereka mengutuk perbuatan itu, mengasihani si anak, dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Ini bukan kali pertama kita melihat video yang menunjukkan identitas anak sebagai korban kekerasan dengan jelas. Kasus ini bukan pula kasus kekerasan terhadap anak pertama yang kisahnya tersebar di dunia maya.

Harap diingat, kekerasan di sini bukan melulu terkait dengan kekerasan fisik. Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah tindakan atau praktik yang meliputi kekerasan fisik, seksual, emosional, penelantaran, dan eksploitasi.

Serba tidak tahu

Sebenarnya kalau kita pikirkan lagi, setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak, kita serba tidak tahu.

Kita tidak tahu apakah anak itu sudah dirujuk ke pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keterampilan untuk menangani kasus kekerasan pada anak. Kita juga tidak tahu siapa orang-orang dewasa yang menginterogasi, merekam, dan menyebarkan video itu.

Padahal, cara menangani yang salah justru bisa menimbulkan kembali kekerasan terhadap anak, membuat anak harus mengulang peristiwa traumatis tanpa dukungan konseling, dan tanpa kepastian akan adanya pertolongan yang memadai dan tepat.

Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi“.

Anda mungkin balik bertanya, “Loh, tapi kami sebarkan karena kami peduli. Masa peduli itu salah?”

Tentu peduli tidak salah. Tetapi mari kita coba membayangkan apa rasanya bila video kita yang sedemikian sensitif tersebar ke seluruh penjuru negeri ini.

Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol “share”.

Kita tidak tahu apa saja yang dapat menjadi faktor pemicu trauma anak tersebut. Sebaiknya kita pikirkan dengan matang sebelum menyebarkan informasi atau…melakukan apapun.

Mari kita terus belajar tentang isu kekerasan terhadap anak, apa saja bentuk-bentuknya, dan dampaknya bagi anak.

Kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah

Berdasarkan penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW), sebanyak 84% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Penelitian yang dirilis awal Maret tahun 2014 ini melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM yang terlibat. Penelitian dilakukan di Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Tingginya tingkat kekerasan di lingkungan sekolah Indonesia melampaui tren kekerasan di lingkungan pendidikan di kawasan Asia, yaitu 70%.

Menanggapi data temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa jumlah tersebut sejatinya merupakan fenomena gunung es dan belum mewakili fakta kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan satuan pendidikan, apalagi kekerasan yang dialami anak sehari-hari.

Dugaan ini muncul karena tak semua kasus kekerasan didata, dilaporkan, dan ditangani oleh lembaga layanan, sehingga datanya belum dapat merepresentasikan tren nasional.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan yang keras diperlukan untuk membentuk generasi yang kuat dan ‘tahan banting’, timbul banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya tidak tahu apa yang beliau maksud dengan pendidikan keras dan generasi ‘tahan banting’. Saya juga ingin tahu rujukan beliau menghubungkan pendidikan keras dengan kualitas pendidikan.

Tetapi bisa kita bayangkan, anak akan menghabiskan paling tidak 10 tahun dari masa kanak-kanaknya di sekolah.

Oleh sebab itu, kita perlu terus mendorong pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapan sekolah untuk menjadi ruang yang aman bagi anak.

Misalnya, apakah disiplin positif sudah masuk ke dalam kurikulum ajar guru? Apakah kepekaan terhadap kepentingan anak sudah menjadi salah standar kualifikasi seseorang untuk bekerja di lingkungan sekolah?

Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang tidak aman bagi murid-muridnya. Dan jangan sampai sekolah tidak tahu atau melakukan tindakan yang salah terhadap muridnya yang menjadi korban kekerasan.

Kita punya peran

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya institusi. Ada keluarga, pesantren, tempat les, dan masyarakat sekitar yang menentukan apakah anak dapat merasa aman.

Beberapa penelitian di Namibia, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang yang mereka kenal dekat. Data laporan dari KPAI juga menunjukkan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak juga terjadi di lingkungan keluarga/privat. Bisa jadi pelaku kekerasan berpendapat sama bahwa “anak perlu pendidikan yang keras agar bisa kuat” atau pandangan bahwa anak adalah ‘milik’ orangtua sehingga orangtua berhak melakukan berbagai hal pada anaknya.

Sebelum menyalahkan keluarga, kita perlu ingat bahwa keluarga tidak berdiri sendiri. Ada struktur-struktur di luarnya yang bisa menentukan kesejahteraan dan keselamatan anak di dalam keluarga.

Pemerintah dengan pelayanannya, misalnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk untuk melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Akan tetapi, menurut siaran pers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2016, dengan asumsi bahwa masalah perempuan dan anak tersebar di seluruh wilayah tanah air, dan setidaknya setiap wilayah provinsi dan kabupaten/kota memiliki minimal satu P2TP2A, masih ada 260 kabupaten/kota yang belum memiliki P2TP2A.

Untuk itu, ke depan, selain menambah jumlah P2TP2A, daerah juga perlu terus meningkatkan kualitas P2TP2A, baik dari fasilitas maupun SDM.

Pertanyaan saya adalah, apakah P2TP2A yang ada sudah sangat siap menangani semua laporan? Sudahkah mereka membangun jejaring sebanyak-banyaknya, seperti dengan psikolog anak, polisi, titik layanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang berketerampilan dalam menghadapi anak korban kekerasan?

Apakah kita punya cukup psikolog yang berpengalaman dalam menangani anak korban kekerasan? Apakah jajaran kepolisian cukup sensitif ketika menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak?

Apakah bidan di tiap desa bisa memberi layanan kesehatan yang tepat untuk anak korban kekerasan?

Bagaimana dengan pekerja sosial, apakah kita punya cukup pekerja sosial yang mampu menangani konflik kekerasan terhadap anak di dalam keluarga?

Sekarang, sebagian dari Anda mungkin sedang berpikir, “Itu kan pemerintah, bagaimana dengan saya sebagai anggota masyarakat?

Apa yang harus saya lakukan apabila menduga atau menghadapi anak yang menjadi korban kekerasan?

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa kok untuk berdiam sejenak dan memikirkan apa langkah yang harus diambil. Kita perlu menjadi seseorang yang lebih reflektif dibanding reaktif.

Sebagai anggota masyarakat, ada empat langkah yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Jangan menyebarkan identitas anak atau bentuk dokumentasinya ke orang yang tidak berwenang. Baik di media sosial, grup WhatsApp, atau media-media lainnya. Kalau ada yang membagikan tautan ke foto atau video anak korban kekerasan, pastikan tautan itu berhenti di Anda.
  2. Hubungi crisis center terdekat. Contohnya P2TP2A yang merupakan lembaga pemerintah, atau bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tanya ke pihak-pihak yang berwenang, apa yang harus Anda lakukan di situasi tersebut. Sebaiknya masing-masing dari kita mengetahui kontak informasi crisis center terdekat.
  3. Manfaatkan internet sebagai tempat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Sebarkan cerita si anak (tanpa menyebarkan foto atau identitas si anak) dan kontak rujukannya ke orang lain. Ingat, tujuan dari menyebarkan adalah untuk berbagi informasi tentang rujukan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan bila berada di situasi yang sama seperti Anda.
  4. Cari tahu lebih banyak lagi informasi tentang crisis center di dekat Anda. Bahkan jika tertarik, Anda bisa menjadi sukarelawan atau mengambil kelas tentang perlindungan anak dan etikanya.

Saya yakin kita semua punya niat baik dan ingin melindungi anak dari kekerasan. Ayo, kita gabungkan niat baik kita dengan praktik yang baik dan melindungi anak.

Sadari apa peran dan kemampuan kita, dan jangan sampai melakukan sesuatu di luar kapasitas. Jangan sampai kita blunder dan memperburuk keadaan.

sumber artikel : 1. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42928417 2. https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html

HATI HATI !!! Pedofilia Bersembunyi di Balik Keramahan

sumber gambar : https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/pedo.jpg

Fenomena pedofilia memang menjadi pecutan keras bagi kita bangsa Indonesia yang kian hari makin gencar melakukan aksinya. Dan jika dilihat dari gelagatnya, mereka nampak seperti orang biasa saja bahkan mereka sering dianggap orang baik. Tetapi dibalik semua itu kita kadang tidak pernah menyadari jika ternyata ada sisi gelap yang tidak disangka sangka.

Karena tanpa kita sadari pelaku pedofilia berada disekitar kita mungkin dari teman,tetangga bahkan ada pula yang dari keluarga. Kita pun tidak pernah tahu kapan pelaku pedofilia akan melakukan aksinya. Maka dari itu di era sekarang kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar dan khususnya bagi orang tua untuk lebih ekstra saat mengawasi anak – anak ketika berada di luar jangkauan orang tua atau saat bertemu dengan orang tak dikenal. Karena para pelaku pedofilia sangat mahir menyembunyikan gelagat mereka dengan kebaikan – kebaikan yang mereka berikan atau bahkan ancaman secara tidak sadar.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pedofilia terus terjadi di Indonesia, ada kemungkinan erat kaitannya dengan fenomena gunung es .

“Tukang Tambal Ban di Majalengka Pemangsa Anak Kecil.” Ini judul berita di “Tagar” (7 Oktober 2019). Sepintas berita ini biasa saja sebagai berita kriminalitas di media, dalam hal ini media online.

Berita tsb. juga hanya menceritakan sekilas awal kejadian sampai ke polisi. Lagi-lagi berita ini tidak menunjukkan apakah ada sesuatu di balik kejadian itu. Kasus-kasus kriminalitas, seperti pencurian, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dll. jadi salah satu topik di media massa.

Bak Dewa

Banyak berita kriminalitas, seperti berita yang terjadi di Majalengka, Jawa Barat (sekitar 187 km arah timur laut Kota Bandung), tidak memberikan gambaran riil tentang latar belakangan perisitiwa dari aspek seksualitas.

Padahal, pelaku ES, 52 tahun, melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak perempuan berumur 9 tahun. Dari aspek seksualitas perilaku ES merupakan bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan seksual dengan cara yang lain. Terkait dengan perbuatan ES ini perilaku itu disebut pedofilia yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan dorongan seksual dengan anak-anak umur 7 – 12 tahun.

Kasus-kasus pedofilia yang ditangani polisi tidak menggambarkan kejadian riil di masyarakat karena berbagai alasan, misalnya, keluarga malu. Itu artinya kasus pedofilia seperti fenomena gunung es. Kasus yang ditangani polisi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Pelaku pedofilia sering berlaku seperti ‘dewa’, misalnya, mereka jadi orang tua angkat, jadikan anak sebagai keponakan angkat, bahkan jadikan korban sebagai istri melalui prosedur perkawinan.

Banyak orang yang tidak memahami gelagat pedofilia karena kemampuan mereka menyebunyikan orientasi seksual sebagai parafilia. Di salah satu daerah tujuan wisata (DTW), misalnya, pedofilia menawarkan kurus bahasa asing gratis. Lalu membantu orang tua anak-anak yang akan dijadikan sasaran secara ekonomi.

Maka, tidaklah pemandangan yang aneh bagi masyarakat jika di sebuah rumah ada kulkas tapi tidak ada aliran listrik. Ada pula mobil di garasi sedangkan jalan ke rumah itu hanya jalan setapak.

Sebelum Filipina menerapkan suntik mati bagi pelaku pedofilia negara itu jadi sorga bagi pedofilia. Tapi, setelah ancaman hukuman suntik mati itu kalangan pedeofilia mencari negara lain, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Imigrasi Bali, misalnya, tahun 2017 saja menangkal 107 terduga pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau pedofilia, 92 di antaranya berasal dari Australia, masuk ke Bali (BBC News Indonesia, 14 Juli 2017). Ini menunjukkan Indonesia jadi sasaran pedofilia.

Jaringan Internasional

Australia membuat UU yang tidak memberikan paspor kepada pelaku pedofilia. Ada 20.000 waga Australia dalam daftar pelaku kejahatan seksual pada anak. Seperti diberitakan “BBC” tujuan pencekalan itu untuk menghentikan warga negara Australia yang berencana melakukan aksi pedofilia di negara-negara Asia Tenggara.

Catatan penulis menunjukkan kasus pedofilia yang ditangani polisi sekitar 70-an. Tapi, ini erat kaitannya dengan fenonema gunung es tadi. Di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, misalnya, ada seorang anak laki-laki umur 9 tahun yang diopname. Anak ini jadi anak angkat salah seorang kerabat. Ada dugaan terjadi pelecehan seksual, tapi pihak rumah sakit memilih diam.

Dilaporkan oleh pemerintah Australia, pada 2016 hampir 800 orang dari 20.000 yang masuk dalam daftar pelaku pedeofila meninggalkan Australia dan hampir 40 persen dari mereka melakukan kejahatan seksual terhadap anak di bawah usia 13 tahun.

Interpol menyelamatkan 50 anak dari cengkeraman pedofilia di Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Seperti diberitakan “BBC News Indonesia”, 24 Mei 2019, kasus itu terkait dengan jaringan pedofilia internasional. Penyelidikan dimulai tahun 2017 dan difokuskan terhadap sebuah situs “web gelap” tersembunyi dengan 63.000 pengguna di seluruh dunia.

Cuma, ada baiknya tidak hanya memikirkan pelaku pedofilia asing, khususnya dari Australia, karena pelaku pedeofilia warga Indonesia sendiri tidak sedikit. Sejauh ini belum ada survei atau penelitian mengapa banyak kasus pedofilia terjadi di Indonesia.

Ancaman hukuman pidana sudah berat sesuai dengan Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman sampai mati dan kebiri kimia.

Persoalannya kemudian adalah banyak keluarga yang memilih mendiamkan kasus agar tidak malu sehingga banyak dark number yaitu kasus yang tidak dilaporkan. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru menyalahkan korban.

Bahkan, polisi dan media sering memberikan ‘panggung’ kepada pelaku kejahatan seksual untuk membela diri. Misalnya, pelaku mengatakan dulu pernah jadi korban. Ada lagi pelaku yang mengatakan karena terpengaruh miras dan video porno.

Ini akan jadi keuntungan bagi pelaku pedofilia. Apalagi ada kasus di salah satu DTW yang justru menempatkan pedofilia sebagai ‘dewa’ karena menarik warga dari kemiskinan dengan berbagai bentuk bantuan.

sumber berita : https://www.tagar.id/pelaku-pedofilia-bersembunyi-di-balik-keramahan Oleh: Syaiful W. Harahap, 7 Oktober 2019 16.04 WIB

Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional, Beberapa Fakta Miris yang Tengah Dihadapi

sumber gambar : https://lakilakibaru.or.id/wp-content/uploads/2015/11/kekerasan-seksual-anak-1280×720.jpg

Kekerasan masih menjadi masalah bagi anak – anak khususnya anak perempuan di seluruh dunia. Hal inilah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap tanggal 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan International (International Day of Girl Child).

Diharapkan dengan adanyan peringatan Hari Anak Perempuan Internasional segenap masyarakat dunia akan lebih menyadari dan lebih empati betapa seriusnya masalah kekerasan terhadap anak- anak khususnya terhadap anak perempuan diberbagai penjuru dunia

Berikut adalah lima fakta tentang bagaimana kondisi anak perempuan di seluruh dunia menurut hasil penelitian UNICEF

1. Sejumlah besar anak perempuan dilecehkan

Seperempat anak perempuan melaporkan menjadi korban beberapa bentuk kekerasan fisik. Itu termasuk anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun di seluruh dunia atau sekitar sekitar 70 juta anak perempuan yang melaporkan kekerasan sejak usia 15 tahun. Angka itu hanya mencakup kasus yang dilaporkan; sementara masih sangat banyak yang tidak menjadi perhatian.

2. Kekerasan seksual adalah masalah besar yang mereka alami

1 dari 10 anak perempuan telah mengalami tindakan seksual paksa. Itu angkanya sama dengan sekitar 120 juta gadis di bawah 20 tahun di seluruh dunia. Sepertiga dari mereka berusia antara 15 sampai 19 tahun dan sudah menikah, dan telah menjadi korban kekerasan emosional, fisik atau seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangan mereka.

3. Kebanyakan kekerasan terhadap anak perempuan tidak dilaporkan.

Di beberapa negara, sebanyak 70 persen anak perempuan tidak pernah mencari bantuan. Hampir setengah dari anak perempuan usia 15 hingga 19 tahun berpikir jika seorang pria dibenarkan untuk memukuli istri atau pasangannya jika mereka menolak berhubungan seks, meninggalkan rumah tanpa izin, berdebat, mengabaikan anak-anak mereka atau tidak menyiapkan  makan malam.

4. Pernikahan anak adalah hal biasa

Lebih dari 700 juta wanita di seluruh dunia menikah sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Sekitar sepertiga atau sekitar 250 juta dari mereka menikah sebelum usia 15 tahun. Dan di beberapa tempat, terutama komunitas pengungsi Suriah, insiden pernikahan anak meningkat.

5. Intimidasi tersebar luas

1 dari 3 anak perempuan di seluruh dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun mengalami intimidasi secara teratur. Ini termasuk intimidasi langsung seperti menggoda, intimidasi tidak langsung seperti menyebarkan desas-desus, hingga cyber-bullying.

“Kita semua bertanggung jawab untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak perempuan,” kata Geeta Rao Gupta, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF.

sumber artikel : https://www.suara.com/health/2019/10/11/081500/hari-anak-perempuan-internasional-ini-5-fakta-miris-yang-tengah-dihadapi oleh Ade Indra Kusuma | Dinda Rachmawati Jum’at, 11 Oktober 2019 | 08:15 WIB

BAHAYA!!! TRAUMA TUNDA TERHADAP ANAK – ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

http://penyabangan-buleleng.desa.id/assets/files/artikel/sedang_1561431617kekerasan.jpg

TRIBUNWOW.COM – Seorang psikolog, Elly Risman menyebut korban yang masih anak-anak, akan alami trauma tunda atas kekerasan seksual yang diperoleh. Sedangkan sang pelaku hanya akan menjalani hukuman penjara yang tidak terlalu lama. Kekecewaan itu disampaikannya saat mengikuti diskusi di Indonesia Lawyers Club yang tayang di tvOne. Acara tersebut juga diunggah di channel YouTube Indonesia Lawyers Club dengan judul ‘Closing Statement Elly Risman Soal Pemerkosa Anak Divonis Kebiri, Setimpalkah?’ yang tayang pada Selasa (27/8/2019).

Sebagai penutup dari diskusi, Elly menjelaskan bawah rasa sakit yang dialami korban dari pelaku kekerasan seksual, akan mengalami penyembuhan yang cepat. Namun hal itu tidak dengan mental sang anak yang akan mengalami trauma setelah dewasa nantinya.

“Tapi teman-teman, bapak ibu semuanya harus menyadari, benar bahwa trauma seksual pada anak-anak itu delayed trauma, trauma tunda,” ucap Elly. Sehingga anak-anak yang mengalami kekerasan seksual akan merasakan imbasnya setelah beranjak dewasa. Bahkan trauma itu akan bertahan, hingga korban memiliki anak dan mulai lanjut usia.

“Tidak sekarang nampaknya, itu sesuai dengan perkembangan seksualnya. Kapan? Nanti kalau dia mau remaja, atau kemudian dia menikah, dia punya anak,” jelas Elly.

Psikolog itu pun memperhitungkan usia anak yang menjadi korban kekerasan seksual, dari pemerkosa di Mojokerto yaitu Muh Aris. Elly menyebut bahwa derita yang dialami korban akan berlangsung lebih lama dari pada pelaku. Pelaku Muh Aris sudah mendapat hukuman selama 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta, dan hukuman tambahan kebiri. “Bayangkanlah kalau anak itu korban Mas A ini, berumur 4 tahun 6 bulan. Dia kawin katakanlah 15 tahun kemudian, Pak A ini yang dihukum 12 tahun sudah bebas,” jelas Elly.

“Dia sampai anak itu remaja, sampai anak itu bercucu, sampai rambut putih tumbuh di kepalanya belum tentu traumanya hilang,” tambahnya. Elly pun mengaku kecewa, karena pembahasan selama diskusi di ILC hanya menyoroti masalah pelaku.

Dari apa yang disampaikan dapat kita ketahui bahwa masi perlu banyak pengkajian tentang UU Kekerasan Seksual Terhadap anak, karena memang kenyataanya trauma yang dialami oleh si korban akan lebih sulit hilang.

Untuk itu marilah kita sebagaimana telah diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, mari bersama sama kita bangun Indonesia yang aman,nyaman,dan tentram bagi anak-anak. Bagi sebagian orang mungkin sulit untuk mengerti isi hati atau mengetahui apa yang dirasakan anak – anak yang telah mengalami kekerasan seksual. Apalagi dari korban yang masih berusia dibawah umur yang dari segi ilmu pengetahuan tentang seksual juga masih awam dan masih belum bisa menjaga diri sendiri secara maksimal mudah saja bagi para pelaku untuk melakukan aksinya dengan membeikan berbagai iming – iming yang menggiurkan bagi anak – anak ataupun bahkan ancaman yang sangat mengerikan bagi anak – anak .

Sangat mudah bagi para pelaku untuk mengulangi perbuatannya kembali setelah bebas dari hukuman penjara dan hukuman kebiri tetapi baiamana nasib dan masa depan dari korban yang masih anak – anak. Kalau korban mendapatkan dukungan dari pihak pemerintah maupun dari keluarga mungkin lambat laun korban akan bisa melupakan trauma atas dirinya namun jika seballiknya ???

Apakah kita bisa menjamin korban akan hidup nyaman tanpa bayang bayang kejadian masa lalu,korban akan bisa menjalani hidup berumah tangga sebagai mana mestinya, atau bahkan korban malah menyimpan dendam terhadap kejadian masa lalu.

Jika bukan kita siapa lagi, karena anak – anak adalah aset dan masa depan bangsa. Jadilah peran dalam kita melindungi anak – anak INDONESIA dari para pelaku kekerasan seksual.

Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul Di ILC, Psikolog Sebut Anak-anak yang Jadi Korban Pemerkosaan akan Alami Trauma Tunda, https://wow.tribunnews.com/2019/08/28/di-ilc-psikolog-sebut-anak-anak-yang-jadi-korban-pemerkosaan-akan-alami-trauma-tunda?page=2.
Penulis: AmirulNisa
Editor: Rekarinta Vintoko

.