Category Archives: Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Lindungi Buah Hati dari Predator Seksual

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2018/08/09/2688602482.jpg

Di jaman dulu seringkali orang tua selalu mengingatkan anak – anaknya terutama anak perempuan untuk berhati hati dalam bergaul, ya walaupun itu juga berlaku bagi anak laki – laki tapi tetap saja peringatan tersebut bakal lebih ditekankan kepada anak perempuan mereka.

Namun diera sekarang hendaknya juga orang tua tidak hanya memberikan peringatan khusus kepada anak perempuannya tetapi juga kepada anak laki – laki mereka, kenapa demikian ? jawabnya ‘waspadalah predator seksual sekarang berada dimana – mana’. Baik laki – laki maupun perempuan dari anak – anak hingga dewasa bisa menjadi target dari para predator seksual.

Kenapa predator seksual bisa berada dimana mana ? karena mereka sangatlah susah untuk dikenali ciri – cirinya bahkan mungkin mereka berada disekitar anda entah teman atau keluarga sendiri. Maka dari itu sebagai orang tua diera sekarang hendaknya harus lebih cermat terhadap pergaulan anak – anak mereka baik laki — laki maupun perempuan. Patut dicurigai jika anak laki – laki atau anak perempuan kalian menjalin persahabatan dengan sesama jenisnya secara akrab bahkan sampai intens, bukannya apa – apa atau tidak percaya namun hal itu sebagai cara menghindarkan anak dari hal yang tidak diinginkan.

Jadilah sahabat bagi anak – anak kalian agar timbul keterbukaan untuk menceritakan berbagai hal atau masalah yang dialami anak, dan jangan lupa untuk memberikan pendidikan seksualitas sejak dini kepada anak, sesuai dengan kemampuan dan umurnya, sudah saatnya tidak risih bahkan jijik saat mendengar kata seksualitas, karena diera sekarang sangatlah penting memberikan pendidikan seksualitas kepada anak, agar anak menjadi tau bagaimana harus bertindak kepada sesamanya atau lawan jenisnya dan juga agar membentuk tameng pada diri anak agar dapat menjaga diri dari hal yang tidak diinginkan.

Kisah dibawah ini adalah salah satu contoh bahwa begitu kejamnya predator seksual dan parahnya mereka berada disekitar lingkungannya, hingga menimbulkan dampak yang serius bagi korban, semoga korban tetap istiqamah, semangat dan tidak putus asa memohon pertolongan ALLAH.

Simak kisahnya

“DUNIA SAYA HANCUR SETELAH KEJADIAN ITU”

(Silahkan dibaca sampai selesai. Apa yang saya tuliskan adalah adaptasi kisah nyata salah seorang mahasiswa bimbingan sahabat saya, maaf untuk kesamaan nama, waktu dan tempat).

Jumat pagi selepas senam di halaman fakultas, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak saya kenali. “Gak usah diangkatlah, paling – paling tawaran kredit atau asuransi lagi,” batin saya.
Bukannya saya anti, tapi seringkali mba/mas oknum perusahaan tersebut melupakan etika menelpon.

Pagi ini, sepertinya ada kekuatan lain yang mendorong saya untuk mengangkat telpon tersebut.
“ Assalamualaikum , maaf ini siapa?”
“ Waalaikum salam Bu, maaf mengganggu Bu. Ini saya Budi Bu, mahasiswa bimbingan Ibu angkatan 12. Saya pakai nomor baru, Bu,” jelas suara di ujung sana.
“ Anda bagimana kabarnya, sudah setahun menghilang, masih mau lanjut skripsinya?”
“Maaf Bu, saya sakit setahun terakhir. Ibu ada dikampuskah hari ini, saya bisa ketemu, Ibu? Ada masalah yang harus saya ceritakan kepada Ibu.”
“Saya hari ini rapat sampai jam tiga. Kalau mau, saya ada waktu selepas Ashar. Silahkan ke kantor saya jam 4 sore ya.”
“ Baik Bu, terima kasih. Nanti InsyaAllah saya ke kampus jam 4 sore Bu.”

Teleponpun ditutup.

Jam empat lebih lima menit, terdengar salam dan ketukan dari pintu ruangan saya.
“Waalaikumsalam, silahkan masuk.”
Seorang mahasiswa dengan perawakan kurus dan tinggi masuk ke ruangan saya.

“Astaghfirullah aladzim….kamu kenapa Bud? Duduk..duduk..”
Budi yang dulu berbadan tegap dan berwajah ceria, sekarang tampak berubah total. Kurus dan ceking.

“Apa kabar Bud, kemana saja menghilang?”
“ Iya Bu, beginilah kondisi saya sekarang, jadi seorang pesakitan. Kalaulah saya nggak sakit, nggak mungkin saya menunda nunda skripsi saya Bu.”

“Memangnya Anda sakit apa? Badan jadi kurus ceking begitu.”
“hmmm anu Bu..tapi Ibu jangan cerita-cerita sama dosen-dosen yang lain ya Bu.”

Budi mengumpulkan seluruh energinya untuk memulai bercerita…

“ Saya kena H.I.V Bu….” Budi tak kuasa menahan tangisnya.
“H.I.V?” saya seakan tidak percaya.
“ Iya Bu…”
“ Kenapa bisa Bud? Kamu salah pergaulan? “ tanya saya mulai menginterogasi

“ Panjang ceritanya Bu. Saya sendiri nggak menyangka akan seperti ini. Entah apa kesalahan saya sehingga saya diberi ujian seberat ini,” Budi makin tak kuasa menahan tangisnya.
“ Nih Bud…” saya menyodorkan kotak tisu.
“ Gimana ceritanya?”

“ Ibu kan tau saya suka badminton. Saya sering main badminton disalah satu sports hall di daerah Jagakarsa. Disini saya ketemu dengan kawan-kawan baru, baik yang masih mahasiswa dan yang sudah bekerja, salah satunya Tony, seorang karyawan perusahaan swasta. Suatu sore hari minggu tiga tahun lalu, saya diajak untuk main badminton ba’da Isya. Pas saja memang lagi libur dan di kampus tidak ada kegiatan, saya menerima ajakan tersebut. Selepas main, Tony mengajak saya untuk nginap saja di rumahnya yang tidak jauh dari tempat kami main. Karena orangnya baik, dan kami sudah cukup akrab setelah beberapa kali main bareng, jadilah saya menginap dirumahnya”

“Rumahnya lumayan besar ada dua kamar, satu kamarnya Tony dan satu lagi kamar untuk tamu. Dan saya tentunya tidur di kamar tamu. Selama dirumahnya dia bercerita mengenai aktifitas dia di kantor dan memberikan beberapa motivasi buat saya. Sebelum tidur Tony sempat menyuguhkan teh manis. Dan minuman inilah awal dari malapetaka. Selepas meminum minuman yang disuguhkan, saya merasa sangat mengantuk sekali. Saya kemudian ijin tidur duluan. Pintu kamar tidak saya kunci. Saya tertidur sangat pulas”

Budi menarik nafas, melihat kelangit-langit. Bulir-bulir bening kemudian mengalir lagi dari matanya.
“ Ketika saya terbangun, saya mendapati dubur saya sangat sakit sekali. Saya nggak usah cerita Bu. Ibu tahulah apa yang saya alami. Tony sudah tidak ada, sudah berangkat kerja. Yang ada mba – mba yang tiap hari datang pagi pulang sore yang bersihin rumahnya. Sakit,sedih kesal campur jadi satu Bu. Bodohnya saat itu saya tidak lapor siapa-siapa. Saya langsung pulang kerumah, dan mengubur kisah ini dalam – dalam. Saya trauma sekali Bu. Saya tidak berani lewat di depan hall, semua akses saya ke Tony saya blok. Saya ganti nomor, ganti akun sosmed. Setelah kejadian itu saya berdo’a kepada ALLAH SWT agar kuat dengan ujian yang saya alami malam itu.”

“Dua minggu setelah kejadian saya sempat panas demam, dan ruam kulit. Saya coba google, takut kenapa-napa karena kasus di rumah Tony. Gejala yang saya alami mengarah ke HIV, tapi saya membuang jauh pikiran itu bahkan saya juga nggak berani ke dokter karena takut kalau memang positif HIV. Tapi setelah dua tahun, tiba tiba tubuh saya drop bu, berat badan saya turun dan pembengkakan kelenjar getah bening. Keluarga membawa saya ke dokter. Dan saya divonis positif HIV”

“Saya hancur bu, saya merasa nggak punya masa depan. Nggak ada gunanya lagi saya kuliah dan menyelesaikan skripsi saya. Saya hanya akan menyusahkan keluarga dan banyak pihak”

Budi mengambil nafas dalam-dalam

“ Saya sempat depresi dan mau mati saja. Nggak ada gunanya saya hidup. Beruntung, ayah, ibu dan kakek saya sangat mensupport Bu. Mereka yang menguatkan saya untuk bertahan. Ayah yang senantiasa memotivasi saya untuk bertahan, menyelesaikan kuliah. Beliau percaya saya masih bisa melakukan sesuatu. Beliau percaya saya bisa selesai kuliah dan diwisuda. Beliau sangat ingin melihat saya, anak pertamanya bisa pakai toga, karena dilingkungan kami memang belum ada yang lulus perguruan tinggi negeri Bu.”

Budi mengambil beberapa helai tisu, air matanya mengalir makin deras

“ Selepas idul fitri kemaren, Ayah saya meninggal dunia. Salah satu orang yang paling mensupport saya pergi meninggalkan saya. Saya sangat kehilangan dan kembali drop. Tapi saya ingat pesan beliau bahwa saya bisa bertahan dan saya bisa menyelesaikan kuliah saya. Salah satu motivasi saya saat ini, ya itu Bu, saya ingin Ayah saya di alam sana bisa melihat saya wisuda.

Saya juga tidak kuasa menahan air mata. Saya tahu persis karakter dan potensi yang dimiliki Budi

“ Saya turut sedih dan prihatin Bud dengan kasus Anda. Saya sendiri nggak tau harus bagaimana jika kejadian ini menimpa anak saya. Anda tahu kan solusi terbaiknya”
“ Iya bu…mendekatkan diri kepada ALLAH SWT”
“ iya betul. ALLAH yang maha pemilik rencana, ALLAHlah sang Maha pemilik kehidupan. Serahkan semua masalah kepada-Nya.”

“Sekarang Anda kontrol dimana?

“ Alhamdulillah Bu, ada salah satu RS di Jakarta Pusat yang memberi pelayanan gratis untuk orang-orang posistif HIV seperti saya lengkap dengan obatnya”

“ Alhamdulillah, Kalau begitu. Anda sudah cerita kesiapa saja? Teman-teman anda ada yang tahu?

“ Saya gak berani Bu. Tante dan Om saya saja ada yang tidak mau ketemu saya, karena katanya takut Bu. Saya berani cerita ke Ibu, karena selain pembimbing saya Ibu juga perhatian terhadap kondisi dan prestasi mahasiswa. Teman-teman deket sudah saya ceritakan, dan alhamdulillah mereka mensupport saya, bahkan mengingatkan jadwal minum obat saya.”

“Bud, setiap hamba punya cobaan masing-masing. Dan saya tau ini cobaan yang sangat berat bagi Anda. Semoga Anda kuat ya. Sama seperti almarhum Ayah Anda, saya percaya bahwa Anda juga akan mampu menyelesaikan skripsi ini. Saya tau aktifitas-aktifitas Anda, potensi Anda. Anda adalah orang yg punya komitmen dan bertanggungjawab pada pekerjaan dan tugas- tugas anda di organisasi. Terkait skripsi ini, InsyaAllah bisa segera Anda selesaikan.”


Budi, seorang aktifis mahasiswa yang pintar, berakhlak baik, berasal dari keluarga sederhana, kemudian terjangkit H.I.V karena keganasan para predator di sekitar kita.

Kalau dulu orang bilang, hati-hati anak gadis anda. Sekarang semuanya sama. Hati hati juga dengan anak bujang Anda. Di luar sana banyak predator yang siap memangsa mereka.

Perhatikan pergaulan mereka, dengan siapa mereka bergaul. Anda sudah mulai harus curiga jika ada dua anak gadis terlalu akrab, begitu juga dengan dua anak bujang yang sangat akrab, sering nginap bareng. Bisa saja mereka terkena virus pencinta sesama.

Buat para dosen, bisa bantu untuk ingatkan mahasiswanya, khususnya mahasiswa baru untuk tidak terlalu lugu dan naif dengan pergaulan kota besar. Banyak ancaman mengintai mereka.

Untuk para ayah bunda, jadilah sahabat dan tempat curhat anak-anak kita dan jangan lupa berikan putra-putri tercinta wawasan dengan kejahiliyahan jaman now dan ingatkan kalau banyak predator di sekitar kita.

Dan yang paling utama marilah kita selalu berdo’a kepada ALLAH karena ALLAH adalah sebaik-baik penjaga untuk anak-anak kita.

**

Tulisan ini saya tulis atas permintaan sahabat saya. Sekali lagi Ini adalah kisah nyata, tidak ada fitnah untuk mendeskriditkan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) . Dan semoga bisa jadi pelajaran dan pengingat bagi kita semua.

Abak Munas [Munas Ramli Ph.D]
Dosen FITK UIN Jakarta

Tetaplah waspada kepada siapapun orang yang anda kenal ataupun yang baru anda kenal, predator seksual biasanya bersembunyi dibalik keramahan mereka.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Jaga Privasi Anak dari Pelaku Kejahatan dan Pelecehan Seksual

sumber gambar : http://www.kesekolah.com/images2/big/2014082615444510403.jpg

Dear para orang tua, seiring dengan keamjuan teknologi digital saat ini, kejahatan pun juga makin menunjukan taringnya melalui teknologi digital yang sekarang hampir setiap orang bisa menggunakannya, patut diwaspadai kepada setiap orang tua untuk selalu menjaga privasi anaknya terutama di dunia digital saat ini.

Karena jika kita kritisi di era saat ini sudah kian memprihatinkan perilaku kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak mulai dari penculikan, pengeksploitasi anak – anak hingga sudah sangat kronis saat ini bila kita mendengar yang namanya kejahatan seksual terhadap anak – anak.

Untuk itu perlu diketahui untuk para orang tua bagaimana cara menjaga privasi anak untuk mencegah berbagai perilaku kejahatan anak :

1.Jangan terlalu sering memposting foto anak di media sosial, apalagi kalo anak sedang tidak mengenakan pakaian atau sedang mandi.

Media sosial memang kadang menjadi sarana kita untuk berbagai sebuah cerita atau kebahagiaan salah satunya melalui sebuah foto. Di era sekarang sadar gak sadar para orang tua kerap memposting kegiatan anak – anak di sosial media. Jika kita tanya ya mungkin tak ada salahnya, apalagi bila baru mempunyai seorang anak tak jarang orang tua akan sering memposting kegiatan anak dari bangun sampai tertidur lagi.

Wahai para orang tua ketahuilah di era kemajuan digital saat ini banyak kejahatan yang dimulai dari media sosial. Sangat disayangkan juga jika ada orang tua yang memposting kegiatan anaknya yang sedang mandi dengan alasan masih kecil atau apapun. Bagi para pelaku pedofilia jika melihat hal tersebut mereka akan sangat antusias dan bergairah, maka berhati – hatilah, dan ingatlah pelaku pedofilia tak jarang ada juga yang berasal dari kalangan keluarga sendiri.

Maka dari itu bijaklah orang tua saat ingin membagi momen bersama dengan sang anak di media sosial, ini bukan soal tidak boleh ini itu tetapi sebagai orang tua patutlah mulai sekarang untuk pelan – pelan belajar tentang betapa besar pengaruh dunia digital terhadap dunia kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak.

2.Berhati – hatilah mengenai informasi alamat rumah dan alamat sekolah anak

Saat orang tua memposting kegiatan anak di media sosial tak jarang mereka ikut menyertakan alamat atau lokasi kegiatan. Hal ini patut diwaspadai dan dianjurkan untuk tidak menyertakan lokasi terutama yang berkaitan dengan alamat yang penting seperti alamat rumah atau alamat sekolah anak. .Dengan mengetahui lokasi, pelaku kejahatan akan sangat mudah melancak target. Pasti pernah dengar ‘kan tentang kasus penipuan melalui telepon yang sering mengabarkan tentang kecelakaan anak di sekolah (jatuh saat bermain, jatuh dari tangga, dan sebagainya). Penipu biasanya tahu persis nama anak dan di mana ia sekolah.

Apalagi bagi para pelaku penculikan anak – anak informasi mengenai alamat tersebut sangatlah penting. Untuk itu berhati – hatilah dalam memberitahukan atau menyertakan alamat atau lokasi di media sosial.

3.Saat berada di kolam renang waspada dan pakaikanlah pakaian renang yang tertutup untuk anak – anak

Mengingat semakin maraknya perilaku pedofilia, waspadailah orang tua saat membawa anak di tempat umum terutama saat mengajak anak berenang di pemandian umun atau kolam renang umum pakaikanlah anak dengan pakaian renang yang tertutup.

Mengingat juga di kolam renang atau pemandian biasanya dari yang anak – anak sampai yang dewasa berada di kolam yang sama, walaupun ada juga kolam khusus anak – anak tapi tak jarang para orang tua ada juga yang tetap mengajak anak untuk berenang di kolam yang untuk umum, hal itu bisa menguntungkan bagi para pelaku pedofilia yang sulit untuk diketahui ciri – cirinya.

4.Stiker anggota keluarga yang ditempel di kaca mobil ternyata ada sisi buruknya.

sumber gambar : https://thenewswheel.com/wp-content/uploads/2014/05/stick-figure-family-danger-700×378.jpg
bisa juga dibaca di : https://thenewswheel.com/police-advising-families-remove-stick-figure-decals-bumper-stickers/

Mungkin bisa dibilang hanya sebuah tempelan tapi dalam hal analisa penjahat bisa lebih pandai dalam memindai dan mempelajari sebuah informasi untuk melakukan aksinya. Jadi berhati – hati juga dalam menempel stiker di kendaraan yang kita tumpangi terutama yang berkaitan dengan informasi keluarga entah stiker anggota keluarga, stiker parkir di perusahaan, stiker tempat anak sekolah. Bisa jadi itu menjadi media informasi si penjahat untuk melakukan aksinya.

Mari bersama menjadi orang tua yang sadar, bijak dan mau belajar, jangan menjadi orang tua yang kaku akan informasi, setidaknya dengan kemajuan teknologi juga bisa menambah pengetahuan untuk mengetaui dan mencegah tindakan kejahatan yang berbahaya bagi anak – anak kita.

Sumber penulisan : https://www.hipwee.com/wedding/4-pedoman-sederhana-lindungi-anak-dari-kejahatan-seksual-ngeri-kalau-baca-berita-akhir-akhir-ini/ oleh  JULIA ALELA

Grooming ? Dibalik Kekerasan Seksual Terhadap Anak

sumber gambar : https://www.secureverifyconnect.info/sites/default/files/styles/image_740x431/public/field/image/OnlineGrooming.jpg?itok=Cba3sq9I

Kecanggihan teknologi kian tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat juga para penggunanya pun mengalami peningkatan kuantitas baik dari kalangan anak – anak hingga usia lanjut usia. Namun perlu kita waspadai khususnya bagi orang tua yang di era milenial saat ini yang kerap memberikan kebebasa anak – anak untuk menggunakan gadget tanpa edukasi, filter, juga pengawasan.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini tanpa kita sadari kejahatan juga berkembang secara diam – diam, menyamar, dan bersembunyi bahkan bisa mengawasi setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial maupun internet . Salah satu yang harus diwaspadai secara ekstra khususnya bagi orang tua milenial saat ini adalah banyak para pelaku kejahatan melakukan Grooming terhadap anak- anak.

APA ITU GROOMING ?

Menurut lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka.

Dan saat ini Grooming menjadi modus baru bagi para pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual yang memanfaatkan peran media sosial untuk melancarkan aksinya melakukan pelecehan seksual dengan target mereka adalah melainkan dari kalangan anak – anak khususnya anak perempuan.

Biasanya para pelaku grooming atau groomer membuat akun/identitas palsu untuk mengelabuhi korban. Seperti kasus yang terjadi di Surabaya ketika pihak kepolisian berhasil menangkap tersangka pelaku grooming berinisial TR ( 25 ). Dengan menggunakan akun/identitas palsu dari seoraang guru pelaku TR berhasil mengumpulkan 1300 foto dan video anak tanpa busana didalam akun e-maillnya, dari sekian banyaknya foto dan video sudah terindentifikasi sebanyak 50 anak dengan identitas berbeda.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) yang mendapat laporan dari seorang guru bahwa akun media sosialnya dipalsukan. Dan setelah diselidiki ternyata pelaku pemalsuan akun media sosial guru tersebut tak lain adalah tersangka TR ( 25 ).

Saat melancarkan aksinya groomer akan membangun karakter tersendiri untuk memikat korban yang sudah menjadi target si groomer. Dan setelah itu goomer akan mulai menghubungi korban dan mulai membangun hubungan, memberikan perhatian – perhatian atau saran kepada korban . Entah apa skill yang dimiliki si groomer hingga ia mampu menjadi sosok figur yang didambakan korban, sosok mentor, dan bahkan bisa menjadi kekasih si korban yang notabene mereka hanya melakukan hubungan melalui media sosial.

Semakin dekat hubungan groomer dengan korban maka pelan – pelan groomer akan mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbau seksual dan mulai berani untuk meminta foto dan video yang berbau seksual dengan iming – iming berupa uang, hadiah, dan hal – hal lain yang memmbuat si korban mau menuruti permintaan si groomer bahkan bisa jadi si groomer juga akan membuat ancaman yang membuat korban mejadi ketakutan.

Pelaku groomer sangat lihai dalam mengelabuhi korbannya karena jika korban dan groomer sudah mempunyai hubungan erat dan keterbukaan maka akan sulit untuk mengetahui modusnya. Untuk prosesnya pun tergantung dari keahlian groomernya itu sendiri bisa lama atau singkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa menjadi korban dari groomer, mereka yang menjadi korban groomer biasanya mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, tidak percaya diri, mengalami masalah keluarga. Namun jika kita lebih teliti terdapat ciri – ciri atau indikasi korban dari groomer.

CIRI – CIRI KORBAN GROOMING

seorang korban grooming dapat kita lihat dari berbagai ciri – ciri dibawah ini :

  1. Menjadi sangat tertutup
  2. Punya pacar yang umurnya lebih tua
  3. Memiliki barang baru dan uang berlebih
  4. Mudah tertekan dan sensitif

Sebagai informasi menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KemenPPPA ) bahwa kasus grooming sudah terjadi sejak tahun 2016. Namun banyak dari masyarakat baru mengetahui kasus ini karena di tahun 2019 telah lebih dari 236 kasus grooming terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Pesan penting bagi para orang tua milenial saat ini bahwa penyebab dari aksi grooming ini sendiri bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang semakin maju saat ini namun peran orang tua yang kurang waspada dan kurang memperhatikan anak di era kejuan teknologi saat ini terutama saat orang tua membebaskan anak untuk bermain gadget tanpa diberikan edukasi yang baik mengenai bagaimana cara menggunakan gagdet yang baik dan mengontrol atau memfilter kegiatan anak di dalam gadgetnya.

sumber penulisan : 1. https://news.detik.com/berita/d-4635087/mengenal-grooming-modus-baru-pelecehan-seksual-terhadap-anak 2. https://www.indozone.id/news/d5snEe/ketahui-taktik-ciri-grooming-modus-pelecehan-seksual-pada-anak 3. https://www.solopos.com/grooming-kekerasan-seksual-pada-anak-via-medsos-1023078

Bagaimana Dampak Memviralkan video kekerasan anak ?

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan juga komunikasi, berbagai informasi terkini ataupun update informasi dari berbagai sumber media dapat kita dapatkan secara cepat juga mudah. Beredarnya berita sekarang pun juga bukan dari mulut ke mulut tapi dari share ke share mekakui platsform media sosial.

Namun tidak semua memiliki kebijaksanaan dalam menyebarkan informasi melalui media sosial apakah inforasi ini akan menimbulkan dampak baik atau tidak jika disebar luaskan. Karena sebenarnya pun penyebar informasi belum benar – benar tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kita sebagai muslim pun diingatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmannya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Untuk itu marilah kita bijak dalam menyebarkan informasi yang beredar luas di dunia maya saat ini, kroscek dulu dari berbagai sumber lain apakah informasi ini benar adanya atau tidak sebelum mengeshare informasi tersebut tetapi dengan etika yang baik untuk mengeshare berita. Berikut informasi yang dijelaskan bbc.com/indonesia mengenai bagaimana dampak memviralkan informasi khusunya pada kasus kekerasan pada anak.

Seperti dilansir dari bbc.com/indonesia beberapa hari yang lalu, ada suatu video yang viral di media sosial. Dan, tidak, saya tidak akan menjadikan video itu lebih viral lagi dengan mencantumkan tautannya di sini.

Video itu menunjukkan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan mengenakan seragam sekolah. Dia tampak diinterogasi oleh orang-orang dewasa tentang luka dan memar yang ada di tubuhnya.

Beberapa orang dewasa kemudian membuka baju dan celana si anak, sembari menunjukkan bekas-bekas luka di tubuhnya. Ketika ditanya siapa pelakunya, anak itu menjawab, “Bunda.”

Komentar-komentar orang dewasa di dalam video dan juga orang-orang di media sosial cukup seragam. Mereka mengutuk perbuatan itu, mengasihani si anak, dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Ini bukan kali pertama kita melihat video yang menunjukkan identitas anak sebagai korban kekerasan dengan jelas. Kasus ini bukan pula kasus kekerasan terhadap anak pertama yang kisahnya tersebar di dunia maya.

Harap diingat, kekerasan di sini bukan melulu terkait dengan kekerasan fisik. Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah tindakan atau praktik yang meliputi kekerasan fisik, seksual, emosional, penelantaran, dan eksploitasi.

Serba tidak tahu

Sebenarnya kalau kita pikirkan lagi, setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak, kita serba tidak tahu.

Kita tidak tahu apakah anak itu sudah dirujuk ke pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keterampilan untuk menangani kasus kekerasan pada anak. Kita juga tidak tahu siapa orang-orang dewasa yang menginterogasi, merekam, dan menyebarkan video itu.

Padahal, cara menangani yang salah justru bisa menimbulkan kembali kekerasan terhadap anak, membuat anak harus mengulang peristiwa traumatis tanpa dukungan konseling, dan tanpa kepastian akan adanya pertolongan yang memadai dan tepat.

Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi“.

Anda mungkin balik bertanya, “Loh, tapi kami sebarkan karena kami peduli. Masa peduli itu salah?”

Tentu peduli tidak salah. Tetapi mari kita coba membayangkan apa rasanya bila video kita yang sedemikian sensitif tersebar ke seluruh penjuru negeri ini.

Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol “share”.

Kita tidak tahu apa saja yang dapat menjadi faktor pemicu trauma anak tersebut. Sebaiknya kita pikirkan dengan matang sebelum menyebarkan informasi atau…melakukan apapun.

Mari kita terus belajar tentang isu kekerasan terhadap anak, apa saja bentuk-bentuknya, dan dampaknya bagi anak.

Kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah

Berdasarkan penelitian oleh Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW), sebanyak 84% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Penelitian yang dirilis awal Maret tahun 2014 ini melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM yang terlibat. Penelitian dilakukan di Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Tingginya tingkat kekerasan di lingkungan sekolah Indonesia melampaui tren kekerasan di lingkungan pendidikan di kawasan Asia, yaitu 70%.

Menanggapi data temuan itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa jumlah tersebut sejatinya merupakan fenomena gunung es dan belum mewakili fakta kekerasan yang sesungguhnya terjadi di lingkungan satuan pendidikan, apalagi kekerasan yang dialami anak sehari-hari.

Dugaan ini muncul karena tak semua kasus kekerasan didata, dilaporkan, dan ditangani oleh lembaga layanan, sehingga datanya belum dapat merepresentasikan tren nasional.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan yang keras diperlukan untuk membentuk generasi yang kuat dan ‘tahan banting’, timbul banyak pertanyaan di kepala saya.

Saya tidak tahu apa yang beliau maksud dengan pendidikan keras dan generasi ‘tahan banting’. Saya juga ingin tahu rujukan beliau menghubungkan pendidikan keras dengan kualitas pendidikan.

Tetapi bisa kita bayangkan, anak akan menghabiskan paling tidak 10 tahun dari masa kanak-kanaknya di sekolah.

Oleh sebab itu, kita perlu terus mendorong pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapan sekolah untuk menjadi ruang yang aman bagi anak.

Misalnya, apakah disiplin positif sudah masuk ke dalam kurikulum ajar guru? Apakah kepekaan terhadap kepentingan anak sudah menjadi salah standar kualifikasi seseorang untuk bekerja di lingkungan sekolah?

Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang tidak aman bagi murid-muridnya. Dan jangan sampai sekolah tidak tahu atau melakukan tindakan yang salah terhadap muridnya yang menjadi korban kekerasan.

Kita punya peran

Tentu saja sekolah bukan satu-satunya institusi. Ada keluarga, pesantren, tempat les, dan masyarakat sekitar yang menentukan apakah anak dapat merasa aman.

Beberapa penelitian di Namibia, Australia, Amerika, dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang yang mereka kenal dekat. Data laporan dari KPAI juga menunjukkan hal yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan pada anak juga terjadi di lingkungan keluarga/privat. Bisa jadi pelaku kekerasan berpendapat sama bahwa “anak perlu pendidikan yang keras agar bisa kuat” atau pandangan bahwa anak adalah ‘milik’ orangtua sehingga orangtua berhak melakukan berbagai hal pada anaknya.

Sebelum menyalahkan keluarga, kita perlu ingat bahwa keluarga tidak berdiri sendiri. Ada struktur-struktur di luarnya yang bisa menentukan kesejahteraan dan keselamatan anak di dalam keluarga.

Pemerintah dengan pelayanannya, misalnya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dibentuk untuk melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi.

Akan tetapi, menurut siaran pers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2016, dengan asumsi bahwa masalah perempuan dan anak tersebar di seluruh wilayah tanah air, dan setidaknya setiap wilayah provinsi dan kabupaten/kota memiliki minimal satu P2TP2A, masih ada 260 kabupaten/kota yang belum memiliki P2TP2A.

Untuk itu, ke depan, selain menambah jumlah P2TP2A, daerah juga perlu terus meningkatkan kualitas P2TP2A, baik dari fasilitas maupun SDM.

Pertanyaan saya adalah, apakah P2TP2A yang ada sudah sangat siap menangani semua laporan? Sudahkah mereka membangun jejaring sebanyak-banyaknya, seperti dengan psikolog anak, polisi, titik layanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang berketerampilan dalam menghadapi anak korban kekerasan?

Apakah kita punya cukup psikolog yang berpengalaman dalam menangani anak korban kekerasan? Apakah jajaran kepolisian cukup sensitif ketika menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak?

Apakah bidan di tiap desa bisa memberi layanan kesehatan yang tepat untuk anak korban kekerasan?

Bagaimana dengan pekerja sosial, apakah kita punya cukup pekerja sosial yang mampu menangani konflik kekerasan terhadap anak di dalam keluarga?

Sekarang, sebagian dari Anda mungkin sedang berpikir, “Itu kan pemerintah, bagaimana dengan saya sebagai anggota masyarakat?

Apa yang harus saya lakukan apabila menduga atau menghadapi anak yang menjadi korban kekerasan?

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa kok untuk berdiam sejenak dan memikirkan apa langkah yang harus diambil. Kita perlu menjadi seseorang yang lebih reflektif dibanding reaktif.

Sebagai anggota masyarakat, ada empat langkah yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Jangan menyebarkan identitas anak atau bentuk dokumentasinya ke orang yang tidak berwenang. Baik di media sosial, grup WhatsApp, atau media-media lainnya. Kalau ada yang membagikan tautan ke foto atau video anak korban kekerasan, pastikan tautan itu berhenti di Anda.
  2. Hubungi crisis center terdekat. Contohnya P2TP2A yang merupakan lembaga pemerintah, atau bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Tanya ke pihak-pihak yang berwenang, apa yang harus Anda lakukan di situasi tersebut. Sebaiknya masing-masing dari kita mengetahui kontak informasi crisis center terdekat.
  3. Manfaatkan internet sebagai tempat untuk memperkuat sistem perlindungan anak. Sebarkan cerita si anak (tanpa menyebarkan foto atau identitas si anak) dan kontak rujukannya ke orang lain. Ingat, tujuan dari menyebarkan adalah untuk berbagi informasi tentang rujukan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan bila berada di situasi yang sama seperti Anda.
  4. Cari tahu lebih banyak lagi informasi tentang crisis center di dekat Anda. Bahkan jika tertarik, Anda bisa menjadi sukarelawan atau mengambil kelas tentang perlindungan anak dan etikanya.

Saya yakin kita semua punya niat baik dan ingin melindungi anak dari kekerasan. Ayo, kita gabungkan niat baik kita dengan praktik yang baik dan melindungi anak.

Sadari apa peran dan kemampuan kita, dan jangan sampai melakukan sesuatu di luar kapasitas. Jangan sampai kita blunder dan memperburuk keadaan.

sumber artikel : 1. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42928417 2. https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html

HATI HATI !!! Pedofilia Bersembunyi di Balik Keramahan

sumber gambar : https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/pedo.jpg

Fenomena pedofilia memang menjadi pecutan keras bagi kita bangsa Indonesia yang kian hari makin gencar melakukan aksinya. Dan jika dilihat dari gelagatnya, mereka nampak seperti orang biasa saja bahkan mereka sering dianggap orang baik. Tetapi dibalik semua itu kita kadang tidak pernah menyadari jika ternyata ada sisi gelap yang tidak disangka sangka.

Karena tanpa kita sadari pelaku pedofilia berada disekitar kita mungkin dari teman,tetangga bahkan ada pula yang dari keluarga. Kita pun tidak pernah tahu kapan pelaku pedofilia akan melakukan aksinya. Maka dari itu di era sekarang kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar dan khususnya bagi orang tua untuk lebih ekstra saat mengawasi anak – anak ketika berada di luar jangkauan orang tua atau saat bertemu dengan orang tak dikenal. Karena para pelaku pedofilia sangat mahir menyembunyikan gelagat mereka dengan kebaikan – kebaikan yang mereka berikan atau bahkan ancaman secara tidak sadar.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pedofilia terus terjadi di Indonesia, ada kemungkinan erat kaitannya dengan fenomena gunung es .

“Tukang Tambal Ban di Majalengka Pemangsa Anak Kecil.” Ini judul berita di “Tagar” (7 Oktober 2019). Sepintas berita ini biasa saja sebagai berita kriminalitas di media, dalam hal ini media online.

Berita tsb. juga hanya menceritakan sekilas awal kejadian sampai ke polisi. Lagi-lagi berita ini tidak menunjukkan apakah ada sesuatu di balik kejadian itu. Kasus-kasus kriminalitas, seperti pencurian, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dll. jadi salah satu topik di media massa.

Bak Dewa

Banyak berita kriminalitas, seperti berita yang terjadi di Majalengka, Jawa Barat (sekitar 187 km arah timur laut Kota Bandung), tidak memberikan gambaran riil tentang latar belakangan perisitiwa dari aspek seksualitas.

Padahal, pelaku ES, 52 tahun, melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak perempuan berumur 9 tahun. Dari aspek seksualitas perilaku ES merupakan bentuk parafilia yaitu menyalurkan dorongan seksual dengan cara yang lain. Terkait dengan perbuatan ES ini perilaku itu disebut pedofilia yaitu laki-laki dewasa yang menyalurkan dorongan seksual dengan anak-anak umur 7 – 12 tahun.

Kasus-kasus pedofilia yang ditangani polisi tidak menggambarkan kejadian riil di masyarakat karena berbagai alasan, misalnya, keluarga malu. Itu artinya kasus pedofilia seperti fenomena gunung es. Kasus yang ditangani polisi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Pelaku pedofilia sering berlaku seperti ‘dewa’, misalnya, mereka jadi orang tua angkat, jadikan anak sebagai keponakan angkat, bahkan jadikan korban sebagai istri melalui prosedur perkawinan.

Banyak orang yang tidak memahami gelagat pedofilia karena kemampuan mereka menyebunyikan orientasi seksual sebagai parafilia. Di salah satu daerah tujuan wisata (DTW), misalnya, pedofilia menawarkan kurus bahasa asing gratis. Lalu membantu orang tua anak-anak yang akan dijadikan sasaran secara ekonomi.

Maka, tidaklah pemandangan yang aneh bagi masyarakat jika di sebuah rumah ada kulkas tapi tidak ada aliran listrik. Ada pula mobil di garasi sedangkan jalan ke rumah itu hanya jalan setapak.

Sebelum Filipina menerapkan suntik mati bagi pelaku pedofilia negara itu jadi sorga bagi pedofilia. Tapi, setelah ancaman hukuman suntik mati itu kalangan pedeofilia mencari negara lain, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Imigrasi Bali, misalnya, tahun 2017 saja menangkal 107 terduga pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau pedofilia, 92 di antaranya berasal dari Australia, masuk ke Bali (BBC News Indonesia, 14 Juli 2017). Ini menunjukkan Indonesia jadi sasaran pedofilia.

Jaringan Internasional

Australia membuat UU yang tidak memberikan paspor kepada pelaku pedofilia. Ada 20.000 waga Australia dalam daftar pelaku kejahatan seksual pada anak. Seperti diberitakan “BBC” tujuan pencekalan itu untuk menghentikan warga negara Australia yang berencana melakukan aksi pedofilia di negara-negara Asia Tenggara.

Catatan penulis menunjukkan kasus pedofilia yang ditangani polisi sekitar 70-an. Tapi, ini erat kaitannya dengan fenonema gunung es tadi. Di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, misalnya, ada seorang anak laki-laki umur 9 tahun yang diopname. Anak ini jadi anak angkat salah seorang kerabat. Ada dugaan terjadi pelecehan seksual, tapi pihak rumah sakit memilih diam.

Dilaporkan oleh pemerintah Australia, pada 2016 hampir 800 orang dari 20.000 yang masuk dalam daftar pelaku pedeofila meninggalkan Australia dan hampir 40 persen dari mereka melakukan kejahatan seksual terhadap anak di bawah usia 13 tahun.

Interpol menyelamatkan 50 anak dari cengkeraman pedofilia di Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Seperti diberitakan “BBC News Indonesia”, 24 Mei 2019, kasus itu terkait dengan jaringan pedofilia internasional. Penyelidikan dimulai tahun 2017 dan difokuskan terhadap sebuah situs “web gelap” tersembunyi dengan 63.000 pengguna di seluruh dunia.

Cuma, ada baiknya tidak hanya memikirkan pelaku pedofilia asing, khususnya dari Australia, karena pelaku pedeofilia warga Indonesia sendiri tidak sedikit. Sejauh ini belum ada survei atau penelitian mengapa banyak kasus pedofilia terjadi di Indonesia.

Ancaman hukuman pidana sudah berat sesuai dengan Perpu No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman sampai mati dan kebiri kimia.

Persoalannya kemudian adalah banyak keluarga yang memilih mendiamkan kasus agar tidak malu sehingga banyak dark number yaitu kasus yang tidak dilaporkan. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru menyalahkan korban.

Bahkan, polisi dan media sering memberikan ‘panggung’ kepada pelaku kejahatan seksual untuk membela diri. Misalnya, pelaku mengatakan dulu pernah jadi korban. Ada lagi pelaku yang mengatakan karena terpengaruh miras dan video porno.

Ini akan jadi keuntungan bagi pelaku pedofilia. Apalagi ada kasus di salah satu DTW yang justru menempatkan pedofilia sebagai ‘dewa’ karena menarik warga dari kemiskinan dengan berbagai bentuk bantuan.

sumber berita : https://www.tagar.id/pelaku-pedofilia-bersembunyi-di-balik-keramahan Oleh: Syaiful W. Harahap, 7 Oktober 2019 16.04 WIB