Category Archives: Wara-Wiri

Mitos Gay Gene, Benarkah ada gen ‘Gay’ ?

sumber gambar : https://cdn.pixabay.com/photo/2018/12/22/13/18/dna-3889611__340.jpg

Sebelum menentukan apakah perilaku SSA = same sex attraction (homoseksual) berasal dari gen atau faktor keturunan. Mari kita luruskan terlebih dahulu bahwa sebenarnya perilaku SSA bukan berasal dari gen atau faktor keturunan, mengapa demikian karena belum ada sebuah penelitian atau riset yang benar – benar membuktikan bahwa perilaku SSA disebabkan karena gen atau faktor keturunan.

Kita khususnya umat muslim pun telah dijelaskan ALLAH melalui AL QURAN :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ(80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ(81)

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).

Meski secara umum masyarakat Indonesia menolak eksistensi kaum gay dan lesbian, tetapi sebetulnya aktifitas mereka eksis dan teraba. Mereka pun tengah berjuang agar keberadaan mereka diterima dan legal secara hukum. Apalagi ada dalih hak asasi manusia dan alasan genetis; bahwa gay adalah karena faktor keturunan. Benarkah demikian?

Gay Bukanlah Genetis
Salah satu alasan yang sering dikemukakan kalangan gay dan liberal agar publik menerima eksistensi kaum gay adalah teori ‘gen gay’ (gay gene theory) atau teori ‘lahir sebagai gay’ (born gay). Mereka memaparkan sejumlah penelitian bahwa homoseksual dan lesbian disebabkan ketentuan genetis. Sifat bawaan yang ada pada kalangan yang kemudian menjadi pembentuk karakter gay pada seseorang.

Ilmuwan pertama yang memperkenalkan teori “born gay” adalah ilmuwan Jerman, Magnus Hirscheld pada 1899. Dia menegaskan bahwa homoseksual adalah bawaan sehingga dan dia menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual.

Pada 1991, 2 periset Dr Michael Bailey & Dr Richard Pillard melakukan penelitian untuk membuktikan apakah homoseksual diturunkan alias bawaan. Yang diteliti 2 periset ini adalah pasangan saudara –- kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis, dan saudara-saudara adopsi –- yang salah satu di antaranya adalah seorang gay.

Ringkasnya, riset itu menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Mereka menyatakan, 52 persen pasangan kembar identik dari orang gay berkembang pula menjadi gay. Sementara hanya 22 persen pasangan kembar biasa yang menunjukkan sifat itu.

Sedangkan saudara biologis mempunyai kecenderungan 9,2%, dan saudara adopsi 10,5%. Sedangkan gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu tak berhasil ditemukan.

Pada 1993, riset ini dilanjutkan oleh Dean Hamer, seorang gay. Dia meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Hasil risetnya menyatakan bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual.
Riset Dean ini sangat “dipuja-puja” oleh kalangan homoseksual dan menjadi senjata terkuat mereka. Riset ini dianggap sebagai “penemuan ilmiah yang monumental.” Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah kodrati, tak bisa dikatakan sebagai penyimpangan, dan tidak bisa dibenahi.

Meskipun Dean menyatakan homoseksual di kromosom Xq28 ditemukan, namun hingga 6 tahun kemudian, gen pembawa sifat homoseksual itu tak juga ketemu. Dan Dean Hamer mengakui bahwa risetnya itu tak mendukung bahwa gen adalah faktor utama/yang menentukan yang melahirkan homoseksualitas.

“Kami tahu bahwa gen-gen hanyalah bagian dari jawaban. Kami menerima bahwa lingkungan juga mempunyai peranan membentuk orientasi seksual. Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay, saya kira kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Hamer juga menyebut bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual adalah bawaan. “Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harapkan kami temukan: sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Pada faktanya, kami tak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya,” tulis Hamer.

Teori “gay gene” kian runtuh ketika pada 1999 Prof George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih besar. Rice menyatakan, hasil penelitian terbaru tak mendukung adanya kaitan gen X yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Rice dan tiga koleganya memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tak memperlihatkan kesamaan penanda di Xq28 – yang sebelumnya dirilis oleh Dean Hamer, kecuali secara kebetulan.
Dengan data itu para peneliti Kanada tersebut menyatakan mereka dapat meniadakan segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas. Namun demikian, menurut Rice, pencarian faktor genetik pada homoseksualitas terus berlangsung dan mereka juga sedang mencari kaitan pada kromosom lain. Meski demikian, hasil keseluruhan dari berbagai penelitian tampaknya menunjukkan kalaupun ada kaitan genetik, hal itu sangat lemah sehingga menjadi tidak penting.

Selain Prof Rice, hasil riset ini didukung oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago. Riset Sander yang tak dipublikasikan juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas.
Ruth Hubbard, seorang pengurus The Council for Responsible Genetics yang juga penulis buku Exploding the Gene Myth menyatakan bahwa pencarian sebuah gen gay, “bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Izinkan saya memperjelasnya: Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada komponen-komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Hasil riset di atas, meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun menyatakan bahwa gen bukanlah faktor yang dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Kebenaran Islam
Jauh sebelum para pakar menyanggah teori genetik-gay, Islam telah menjelaskan kepada umat manusia bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan sempurna (fisik dan fitrahnya), yakni kecenderungan tertarik pada lawan jenis dan bukan kepada sesama jenis. Firman ALLAH Ta’ala:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(TQS. At-Tin [95]: 4).

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(TQS. Ali Imran [3]: 14).

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(TQS. An-Nisa [4]: 1).

Kemarahan ALLAH SWT. dan Nabi Luth as. kepada warga  negeri Sodom yang telah mempraktekkan homoseksual dan lesbian (liwath) menunjukkan bahwa mereka melakukan penyimpangan perilaku seksual, bukan karena faktor genetis/keturunan.

FirmanNya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).

Lafadz  “ata’tûna al-fâhisyata mâ sabaqokum bihâ min ahadin min al-‘alamîn (Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?)” menunjukkan dengan jelas pengetahuan Luth as. (atas bimbingan ALLAH), bahwa tidak ada satupun umat sebelum penduduk Sodom yang  melakukan perbuatan terkutuk tersebut, baik secara sosial ataupun genetis. Atas kejahatan tersebut ALLAH menimpakan azab yang sangat keras kepada mereka.

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,”(TQS. Hud [11]: 82).

Tidak mungkin ALLAH Ta’ala mengazab satu kaum melainkan jika kaum tersebut telah menentang perintahNya dan melanggar laranganNya, sebagaimana kaum-kaum lain. Demikian pula tidak mungkin ALLAH mengazab suatu kaum karena faktor keturunan yang melekat pada mereka seperti warna kulit, warna rambut, warna dan bentuk bola mata, dsb.

تِلْكَ ءَايَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.”(TQS. Ali-Imran [3]: 108).

Islam pun menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir ke alam dunia dalam keadaan fitrah, tidak membawa sifat dan perilaku menyimpang. Tidak ada pula dosa turunan. Sabda Nabi saw.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap manusia lahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani sebagaimana hewan ternak kalian dilahirkan apakah ada padanya anggota tubuhnya yang terpotong hingga kalian membuatnya cacat.”(HR. Imam Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan bersih, siap menerima hidayah dari ALLAH. Akan tetapi pendidikan dari kedua orang tuanyalah yang akan membentuk kepribadiannya kelak, apakah akan tetap beriman ataukah justru keluar dari hidayah ALLAH. Bisa dipahami dari nash hadits ini berarti lingkungan pergaulan dan norma-norma yang ditanamkan pada seseorang akan membentuk karakternya.
Masyarakat hari ini mengembangkan gaya hidup hedonis yang berkembang hari ini membentuk individu menjadi budak nafsu. Mencari berbagai cara untuk memuaskan hawa nafsunya, termasuk dengan perilaku menyimpang menjadi gay.

Teori yang menyatakan bahwa gay adalah sifat genetis adalah propaganda palsu untuk melegitimasi penyimpangan perilaku tersebut. Bahwa sebenarnya mereka adalah penyakit sosial yang harus dan bisa disembuhkan. Bukan dianggap sebagai sifat bawaan yang bisa ditolerir keberadaannya.

Persoalan Hukum
Persoalan sesungguhnya bukanlah teori genetis, tetapi gay sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) liberal yang bernaung dalam demokrasi dan hak asasi manusia. Demokrasi dan HAM memang menjamin kebebasan berekspresi termasuk dalam urusan seksual. Inilah sebenarnya yang menjadi pangkal persoalan diterima atau tidaknya eksistensi kaum gay.
Adanya jaminan kebebasan berekspresi/perilaku akan membolehkan setiap orang melakukan apa saja, selama tidak dengan paksaan. Industri pornografi boleh didirikan, perzinaan adalah legal, sah bergonta-ganti pasangan, termasuk mempraktekkan hubungan seks keji semisal dengan sesama jenis, dengan binatang atau dengan mayat sekalipun. Semuanya dijamin dalam liberalisme.
Kenyataan inilah yang bertentangan dengan Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak mengajarkan gaya hidup bebas/liberalisme. Setiap perbuatan manusia ada landasan hukumnya. Tujuannya tidak lain untuk menjaga keseimbangan dan kepentingan manusia itu sendiri.

Perilaku homoseksual mengancam keseimbangan dan kepentingan manusia. Gay dan lesbian mengancam keberlangsungan pertumbuhan umat manusia. Padahal bumi membutuhkan manusia untuk menciptakan keselarasan hidup. Selain itu, terbukti gay dan lesbian menjadi penyebab faktor penting dalam penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS, selain penggunaan jarum suntik pada narkoba.

Wajar dan tepat bila Islam mengharamkan perilaku seperti ini. Bahkan Islam memberikan sanksi yang keras pada para pelaku gay dan lesbian. Jumhur ulama bersepakat bahwa pelaku gay (liwath) mendapat hukuman mati. Nabi saw. bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوهُ ، الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang menjumpai satu kaum yang melakukan seperti perbuatannya kaum Nabi Luth maka bunuhlah ia, pelakunya dan obyeknya (temannya).”(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaiy, Ahmad).

Gay dan lesbian adalah tindak kriminal, bukan penyakit ataupun kelainan jiwa. Terbukti para ahli biologi, kedokteran dan sosiologi, membuktikannya.

Akan tetapi selama kaum muslimin masih menerima demokrasi dan HAM sebagai patokan dalam kehidupan, maka desakan agar menerima gaya hidup gay akan terus dikumandangkan. Mereka merasa hal itu sebagai hak-hak warga negara yang wajib dilindungi. Tampak jelas gay, lesbian, voyeurism, sadomasochism, pedofili, bestality dan perzinaan tumbuh subur dalam masyarakat demokrasi.

Oleh karenanya, hanya dengan penegakkan syariat Islam, perilaku seksual akan dapat dihilangkan. Tanpa itu, mustahil umat dapat diselamatkan dari kejahatan yang mengundang malapetaka ini. Sejarah mencatat kota Pompeii di Itali yang terkubur letusan Gunung Vesuvius, ternyata penduduknya berperilaku menyimpang. Perzinaan dan pelacuran merajalela, termasuk gaya hidup homoseksual dan lesbian. Rumah-rumah pelacuran banyak berdiri hampir menyamai jumlah rumah penduduk, dan imitasi alat kelamin lelaki digantung sebagai hiasan rumah di mana-mana. Sampai kemudian kota tersebut terkubur dalam-dalam oleh lahar.

Mahabenar ALLAH dengan segala firmanNya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(QS. Al-An’am: 44).

sumber artikel : http://www.iwanjanuar.com/gay-bukan-genetis-beginilah-cara-islam-menangani-kaum-homoseksual/?fbclid=IwAR2Hl0vfozWO6cXTFhkzRClmv0kk26S-LbxYxAyK-SuILIXuYaarYkeeWc4 oleh Iwan Januar October 15, 2013

Mengenal “ROOTS”, Program Anti Perundungan

sumber gambar : https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/styles/media_large_image/public/_DSC0108-edit.jpg?itok=O62JfGRE

Sekolah masih saja menjadi tempat yang bebas bagi sebagian orang/murid untuk melakukkan aksi perundungan. Hal tersebut harusnya menjadi peringatan bagi kita bahwa seharusnya sekolah menjadi tempat aman, nyaman dan menyenangkan bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu, teman, dan pengalaman.

Kali ini datang kisah dari Klaten, Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten Klaten bersama dengan dukungan UNICEF tengah mengembangkan Program Anti Perundungan yang bernama “ROOTS”. Program ini ditujukan untuk membantu anak – anak yang menjadi korban perundungan agar menemukan cara positif untuk mengatasi aksi perundungan.

Devi Tulak Astuti salah satu siswi sekolah menengah pertama SMPN 3 Klaten yang menjadi anggota dari Program Anti Perundungan “ROOTS”. Mengaku sebelum ia menjadi anggota dan ikut peran dalam ROOTS, sebelumnya ia juga merupakan korban dari aksi perundungan yang terjadi di sekolahnya.

Sempat ia membalas perilaku aksi perundungan tersebut namun yang terjadi malah keadaanya semakin memburuk. Saat program anti perundungan bernama ROOTS masuk ke sekolahnya, Devi pun sadar mungkin ada cara yang lebih baik untuk mengatasi situasi yang ia alami. Ia segera mengajukan diri untuk ikut serta. “Saya ikut karena saya sendiri mengalami di-bully,” katanya. “Saya ingin membantu mengubah sekolah agar tidak ada murid lain yang mengalaminya.” Program ini diujicobakan di empat sekolah dan kini sudah diperluas ke dua sekolah lain.

UNICEF Child Protection Officer Naning Julianingsih menjelaskan bahwa, “Masalah mendasar di sini adalah masyarakat Indonesia tidak menganggap perundungan sebagai masalah serius. Mereka melihatnya sebagai bagian wajar dalam kehidupan anak-anak dan kehidupan bersekolah. Secara sosial, perundungan diterima. Ada juga guru yang menghukum pelaku, tetapi alasan perbuatan itu sendiri tidak diatasi. Program Roots berupaya mengubah itu.”

Bagaimana program ROOTS bekerja ?

Fasilitator ROOTS mengikuti pelatihan yang materinya dirancang pemerintah dengan dukungan UNICEF. Pertama, anak-anak diminta menilai situasi di sekolah mereka menggunakan U-Report, platform dunia maya berbasis media sosial untuk mengadakan jajak pendapat secara anonim. Menggunakan cara ini, di SMPN 3 Klaten ditemukan bahwa 74% murid pernah mengalami perundungan, rata-rata 4 hingga 5 kali sepekan. Jenis-jenis perundungan pun beragam, mulai dari anak dipukul, dicubit, diejek, digosipkan, dan dirundung di dunia maya.

Setelah mengetahui situasi yang ada, fasilitator belajar bekerja bersama anak dan remaja untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif. Mereka membantu para murid membuat kampanye sendiri berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah mereka. Membuat poster, menyusun rencana kerja untuk melawan perundungan di sekolah, dan mencontohkah perilaku positif adalah contoh bentuk-bentuk kampanye yang bisa dilakukan.

“Kami mendorong para fasilitator untuk mendengarkan anak-anak, mengetahui alasan perundungan, dan mendiskusikan cara-cara mengatasinya,” jelas Naning. “Biasanya, pelaku perundungan mengalami masalah di rumahnya. Mereka meniru perilaku yang mereka lihat dari orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jadi, kita perlu tahu dulu sebab sebenarnya di balik perundungan dan mencoba mengatasinya.”

Berkat program ROOTS kini di sekolah Devi SMPN 3 Klaten telah berhasil menciptakan lingkungan yang positif untuk belajar. Kepala Sekolah SMPN 3 Klaten, Purwanta, yang baru menjabat selama enam bulan pun melihat perbandingan positif antara SMPN 3 Klaten dengan sekolah lain di Klaten, tempatnya dahulu bekerja.

“Karakter siswa di sini, baik di dalam dan di luar sekolah, berbeda,” terang Purwanta. “Di desa, setiap hari saya memergoki siwa berkelahi. Di sini berbeda sekali. Selama enam bulan di sini, saya belum pernah melihat ada satu pun perkelahian. Sikap siswa kepada sesama siswa dan kepada guru juga sangat berbeda. Mereka saling menghormati dan senang berteman.”

Menurut Purwanta, perbedaan ini tercipta berkat program ROOTS, yang menurutnya juga berhasil meningkatkan nilai belajar. “Sekolah ini tadinya menduduki peringkat 18 dari 65 sekolah di Klaten. Sejak ada program, kami naik ke peringkat 1,” tambahnya. “Jika anak bahagia di sekolah, mereka juga belajar dengan lebih baik.”

Bagi Devi, program ROOTS juga mengajarkannya hal-hal praktis yang bisa langsung ia terapkan. “Saya belajar juga mengurangi keinginan mem-bully atau merespon bullying,” katanya. “Saya belajar satu trik. Saya tutup mata dan bilang: ‘tidak boleh bully, tidak boleh bully.’ Jika saya melihat ada murid yang mem-bully anak lain, saya ingatkan mereka. Setelah tiga kali memberikan peringatan, baru saya laporkan kepada guru.”

Devi sepakat dengan kepala sekolahnya bahwa budaya di sekolah sudah berubah. “Saya tidak melihat perkelahian lagi di sekolah,” katanya .”Murid laki-laki juga berhenti mengata-ngatai saya. Dulu, suasana di sekolah tidak menyenangkan. Sekarang, saya bersemangat pergi sekolah. Saya lebih percaya diri dan nyaman dengan diri saya.”

Semoga program ROOTS segera bisa menyebar dan memasuki sekolah – sekolah di seluruh wilayah INDONESIA dan semoga berbagai aksi perundungan di sekolah juga semakin berkurang agar tercipta semangat berangkat sekolah dan belajar juga akrab bersama teman – teman di sekolah tanpa saling membedakan .

sumber artikel : https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/pahlawan-super-di-sekitar-kita oleh Andrew Brown, UNICEF Indonesia 22 Juli 2019

RIZKA Pencipta Komik Anti Perundungan berjudul “CIPTA” Sekaligus Pemenang Kontes Komik Superhero UNICEF dan Comic’s Uniting Nations

sumber gambar : https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/styles/press_release_feature/public/UN0327087.jpg?itok=9x8H-8Yo

Aksi perundungan memang sudah kian marak terjadi sekarang dan tidak jarang korban aksi perundungan cenderung takut untuk melawan aksi perundungan tersebut dan memilih diam hingga menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupannya dan juga akan menimbulkan bekas luka yang mungkin akan terus tersimpan seumur hidupnya.

Juga masih banyak juga kalangan masyarakat masih menganggap sepele aksi perundungan ini, dan masih banyak diantara kita yang tidak tahu bahaya atau dampak dari aksi perundungan itu sendiri, peran orang tua sebagai teman/sahabat bagi anak – anaknya sendiri juga masih belum maksimal jadi tidak ada keterbukaan dari korban aksi perundungan karena tidak ada yang mendengarkan keluh kesahnya.

Kali ini datang kisah inspirasif seorang pelajar asal Makasar Rizka Raisa Fatimah Ramli yang melalui kisahnya ia berhasil memenangkan sebuah ajang kontes komik superhero UNICEF dan Comic’s Uniting Nations dengan komik ciptaannya yang berjudul “CIPTA” pada bulan Januari lalu. Komik itu dibuat bertujuan untuk memberikan dukungan atau semangat terhadap korban atau saksi sebuah peristiwa kekerasan untuk berani bersuara.

“Ide dalam komik ini adalah menyemangati korban dan saksi peristiwa kekerasan untuk angkat bicara,” ujar Rizka. “Seperti saya, banyak orang merasa menggambar lebih mudah daripada berbicara, apalagi kalau kejadian yang mereka alami menimbulkan trauma.”

Ide dari pembuatan komik ‘CIPTA” pun juga tak luput dari pengalaman Rizka yang pernah menjadi korban dari aksi perundungan yaitu saat Rizka berusia sembilan tahun ketika pertama kali merasakan bullying, atau perundungan, secara langsung. Saat itu, ia tengah bersepeda sendirian di sekitar rumah. Saat menepi di sebuah gang, ia tiba-tiba diserang secara verbal oleh sekelompok anak dari lingkungan setempat yang lebih tua darinya.

“Saya berbalik, tetapi ada anak-anak lain yang menghalangi jalan. Saya terpojok. Jadi, saya diam saja di atas sepeda, menunggu sampai magrib hingga anak-anak itu pergi. Saya seolah lumpuh.”

Setelah itu, selama beberapa waktu Rizka tidak mau keluar dari rumah. Untuk pergi dan pulang dari sekolah, ia harus diantar dan dijemput oleh salah satu kakaknya. Pada masa sulit inilah, Rizka menemukan rasa aman dari menggambar, dan ia belajar dari permainan video, film anime, dan buku komik. 

Di SMP, peristiwa perundungan dan pelecehan semakin sering ia temui. Matanya segera terbuka terhadap berbagai bentuk kekerasan ini. “Kadang, saya menangis di rumah. Saya sampai berhenti menggambar karena tidak mau mengingat apa-apa. Saya makan banyak dan menjadi gemuk. Mungkin, saya ingin membuat diri saya tidak tampak menarik. Namun, tidak ada yang berubah. Saya masih diolok-olok, digoda, dirundung oleh baik anak lelaki dan perempuan.”

Di akhir masa SMP, tanpa sengaja ia menemukan kembali dunia menggambar dan komik. “Saat itu saya mulai sadar, ternyata ada cara untuk bercerita tentang suatu masalah tanpa harus mengucapkannya.” Perasaan inilah yang, sedikit demi sedikit, menguat dalam dirinya, hingga Oktober 2018, ketika UNICEF mengumumkan konteks menggambar pahlawan super untuk murid sekolah. Kontes ini memang bertujuan membantu mengakhiri perundugan dan kekerasan yang dihadapi anak-anak dan kaum muda lain di seluruh dunia.

“Saya jadi tergerak,” kata Rizka. “Saya memikirkan hubungan saya dan menggambar, dan kemungkinan menggunakan seni sebagai alat untuk melawan.” Kontes ini juga membuatnya banyak berefleksi. “Saya jadi tahu bahwa pada dasarnya saya tidak suka konfrontasi. Mungkin, itu juga sebabnya saya memilih merpati sebagai pembawa pesan Cipta.”

sumber gambar : http://Cuplikan komik karya Rizka yang dibuat berdasarkan pengalaman sang ilustrator dengan perundungan dan program Roots

Semoga kisah inspiratif ini dapat menjadi contoh terutama bagi para korban aksi perundungan untuk berani bersuara ketika mengalami aksi perundungan seperti RIzka saat ia mau bercerita mengenai masalahnya ia memilih untuk menggambar untuk menyuarakan isi hatinya, jadi segala masalah yang mungkin berasal dari aksi perundungan bisa ia luapkan dalam kegiatan yang positif.

So Jangan Takut Jika ada seorang yang membuli, tetap jadilah pribadi yang tegar dan pemberani. Juga pesan kepada para orang tua jadilah teman/sahabat bagi anak – anak kalian, buat suasana komunikasi antara anak dan orang tua layaknya seorang sahabat kepada temannya, agar timbul saling keterbukaan jika mungkin anak mengalami masalah dan takut untuk menceritakan cobalah orang tua untuk bertanya terlebih dahulu, berikan masukan, dukungan, dan motivasi yang positif agar anak bisa melewati masalahnya dengan cara yang positif dan juga untuk membantu pembentukan mental yang kuat.

sumber artikel : https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/rizka oleh Laksmi Pamuntjak, 16 Juli 2019

Sulitnya Berantas Pornografi, Simak Penjelasannya

sumber gambar : http://waspada.co.id/wp-content/uploads/2018/11/ilustrasi-internet-sehat.jpg

Pemerintah tengah berusaha untuk memerangi pornografi dengan upaya memblokir berbagai situs yang mengandung unsur pornografi, meski telah berhasil memblokir ratusan ribu situs bahkan mungkin sudah sampai jutaan situs yang diblokir namun nyatanya pemerintah masih menemui kesulitan untuk memberantas pornografi.

Karena memang kalau kita lihat saat ini banyak sekali situs porno yang masih bisa diakses dengan berbagai cara yang juga masih tersebar luas berbagai tutorial – tutorial untuk membuka situs yang telah diblokir. Dan juga mari kita lihat disaat game – game online mulai bermunculan masih juga dapat kita lihat ada beberapa game online yang memiliki karakter yang mengandung unsur pornografinya, apalagi kalau kita lihat juga di salah satu media sosial seperti twitter masih banyak konten pornografi yang mudah sekali untuk diakses dan mungkin masih banyak lagi konten – konten pornografi yang masih berkeliaran dibalik sebuah iklan di sebuah website.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, terdapat hal yang belum paten dalam penerapan aturan soal pornografi di Indonesia. Tidak seperti kasus terorisme, narkotika, maupun peredaran obat, aturan mengenai pornografi belum mempunyai badan khusus untuk melakukan penanganan.

“Nah, kalau yang berkaitan dengan asusila atau pornografi, tidak ada lembaga khusus yang menangani. Dan Kemenkominfo selalu mengedepankan pembinaan, terutama untuk sesuatu yang sifatnya tidak bertentangan langsung dengan pornografi,” ujar Rudiantara dalam acara Sarasehan Nasional Penanganan Konten Asusila Di Dunia Maya di Jakarta, Senin (12/8/2019).

Saat ini, lanjut Rudiantara, kasus-kasus yang berkaitan dengan konten pornografi masih ditangani dengan menggunakan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 19 Tahun 2016, meskipun hal yang sebenarnya menjadi fokus utama dari aturan tersebut adalah transaksi elektronik.

Sementara jika dilihat dari segi fungsional, penanganan konten-konten yang terindikasi pornografi oleh Kemenkominfo sendiri tidak bisa diharapkan lebih dari upaya pembinaan.

Sementara itu, sosiolog Daisy Indira menilai sulitnya penanganan konten-konten terindikasi pornografi di Indonesia terjadi karena 3 hal; pertama, belum adanya batasan hukum berupa panduan etika berinteraksi yang jelas; kedua, rendahnya literasi digital yang menyebabkan kurangnya tanggung jawab warga net; dan ketiga, terjadinya komodifikasi terhadap konten-konten seksual.

“Terdapat jaringan raksasa dalam ditribusi pornografi di Twitter, di samping jaringan berukuran sedang dan kecil,” ujar Daisy (12/8/2019).

Dia melanjutkan, terdapat tiga aktor yang terlibat dalam proses komodifikasi tersebut, yakni publisher, retweeter, dan konsumer.

Dalam hal pornografi, ilmu sosiologi sendiri dikatakan masih mempertanyakan beberapa hal, yakni paralelitas antara dunia nyata dan dunia maya dan makna istilah asusila bagi masyarakat dengan fakta bahwa nilai merupakan suatu hal yang mengikuti perkembangan zaman.

Untuk itu marilah kita bersama – sama dengan pemerintah memberantas porografi dimulai dari sendiri untuk sadar tentang bahaya dari pornografi dan mengadukan kepada kominfo jika mendapati situs atau website yang mengandung konten pornografi ke situs kominfo.go.id . Indonesia harus bebas dari pornogfari !!!

sumber artikel : https://teknologi.bisnis.com/read/20190812/101/1135476/mengapa-pornografi-sulit-diberangus-ini-penjelasan-menkominfo-rudiantara oleh Rahmad Fauzan – Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  17:08 WIB

Kapan Waktu Aman Penggunaan Gadget Bagi Anak ?

sumber gambar : https://matakepri.com/images/data/news-pic/20170920041058-blog.tokopedia.com_.jpg

Hai sobat peduli tahukah kalian kapan waktu yang pas bagi sobat khususnya kalian para mamah papah muda atau yang baru saja mempunyai anak saat ingin mengenalkan gadget kepada anak – anak kalian?

Pernah gak sih sobat menenangkan bayi kalian saat nangis dengan menontonkan video kartun atau lucu kepadanya ? Yaps munkin itu adalah alternatif juga mungkin itu merupakan cara efektif diera digital saat ini untuk sobat para orang tua untuk menenangkan atau menghibur si bayi tanpa harus keluar rumah dan tenaga. Cukup geser – geser, ketik – ketik dah jadi. Mungkin maksud kita baik namun justru sebaliknya itu cara tersebut kurang baik jika dilakukan pada anak- anak kita khususnya balita.

Dilansir dari halodoc.com American Association of Pediatrics (AAP) melaporkan bahwa anak-anak menghabiskan rata-rata tujuh jam sehari untuk menggunakan media. Ini termasuk televisi, laptop, smartphone, dan alat elektronik lainnya. Padahal, sebuah studi menunjukkan bahwa penggunaan media terlalu dini dan berlebihan bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak, lho. Seperti :

  • Rentan mengalami ketergantungan pada gadget.
  • Memengaruhi kemampuan berbicara dan bersosialisasi.
  • Memengaruhi perkembangan kesehatan mental dan sosial.
  • Berisiko terpapar pengaruh buruk dari internet, termasuk rentan menjadi korban bullying.

Untuk itu American Association of Pediatrics (AAP) mengeluarkan beberapa aturan :

Usia Dibawah 18 bulan

Untuk anak dengan usia dibawah 18 bulan anak hanya boleh menggunakan video chatting atau video call pada gadget hal tersebut dikarenakan mungkin dari sobat para orang tua ada yang sedang bekerja du luar kota atau punya keluarga dari luar kota. Jadi hal ini bertujuan untuk mengajarkan si kecil berkomunikasi.

Usia 18 – 24 bulan

Duisia ini peranan sobat sebagai orang tua benar – benar sangat penting dalam mendampingi si kecil jika sobat ingin mengenalkan gadget kepadanya. Mulai dari memilih aplikasi yang edukatif dan tentunya perlu pendampingan agar si kecil tidak berlebihan menggunakannya. Namun alangkah lebih baik jika sobat juga mengajak si kecil dengan berbagai aktifitas fisik dan aktifitas edukatif lainnya agar menstimulasi tumbuh kembang otak dan juga kreativitasnya juga untuk melatih kemampuan berbicara dan juga bersosialisasi.

Usia 2 5 tahun

beberapa aturan aman bermain gadget di usia 2-5 tahun:

  • Batasi waktu Si Kecil bermain gadget, yaitu maksimal 2 jam per hari. Tetapkan juga kapan dan dimana Si Kecil boleh dan tidak boleh menggunakan gadget.
  • Jangan izinkan Si Kecil bermain gadget saat makan, waktu belajar, dan satu jam sebelum tidur. Matikan televisi dan hindari gadget dari Si Kecil di waktu-waktu tersebut.
  • Pilih program televisi yang edukatif, informatif, dan tidak mengandung kekerasan. Pastikan ibu selalu mendampingi Si Kecil saat ini menonton televisi atau menonton video melalui smartphone.
  • Jangan memberikan Si Kecil gadget saat rewel. Jika dibiasakan, ini akan memengaruhi perkembangan pengendalian emosinya.
  • Jangan meletakkan televisi di kamar Si Kecil agar tidak memengaruhi kualitas dan kebiasaan tidur Si Kecil.
  • Pastikan juga Si Kecil tetap melakukan aktivitas fisik yang interaktif. Misalnya, membaca atau bermain bersama keluarga dan teman sepermainannya.

Usia 6 tahun lebih

Tetap batasi waktu dan jenis tayangan yang Si Kecil lihat melalui gadget. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan gadget tidak memengaruhi kualitas tidur, aktivitas fisik, dan perilakunya. Agar komunikasi tetap terjalin, ibu bisa menyediakan waktu khusus untuk berbincang dengan Si Kecil. Misalnya, saat makan siang/malam, di dalam kendaraan, atau di kamar tidur. Pastikan juga ibu memberitahu Si Kecil tentang batasan dalam penggunaan gadget, termasuk tentang etika dan cara menghargai orang di dunia nyata dan maya.

Oke sobat itulah beberapa aturan yang harus sobat terapkan saat ingin mengenalkan gadget pada anak – anak kalian tetapi jangan lupa peranan sobat sebagai orang tua untuk mendampingi dan mengawasi juga sangat penting saat anak mulai mengenal gadget, jangan sampai anak menjadi berlebihan dan menjadi candu terhadap gadgetnya.

Sumber artikel : https://www.halodoc.com/aturan-aman-penggunaan-gadget-pada-anak oleh Redaksi Halodoc 29 June 2018