Category Archives: Wara-Wiri

Menanamkan Empati Pada Anak Agar Jauh Dari Perilaku Bullying

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2019/04/12/3785499358.jpg

Orang tua sebagai sumber pendidikan pertama bagi anak merupakan sebuah hal yang sangat penting dimana sebagai anak, mereka akan selalu memperhatikan bagaimana perilaku orang tua, bagaimana komuikasi orang tua, dan bagaimana cara orang tua memperlakukan anaknya itu sendiri.

Berbagai macam orang tua pun sangat berbeda beda dalam memberikan sebuah pendidikan bagi anak mereka. Namun bagi orang tua dengan tipe yang sangat kritis banyak dari mereka yang terlalu menilai anak atau istilahnya sedikit – sedikit di dikomentari secara kritis entah karena perilakunya, penampilannya,nilainya, dan lain – lainnya. Mungkin maksud dari orang tua bukan untuk membully teteapi siapa sangka justru perilaku orang tua yang seperti ini bisa membuat berkurangnya kepercayaan diri anak dan bisa jadi anak juga akan meniru gaya orang tua yang sedikit – sedikit selalu berkomentar dan anak akan menerapkannya jika ada teman atau seseorang yang menurutnya tidak bagus secara penampilan,perilaku,atau hal lainnya.

Maka dari itu sebagai orang tua hendaknya harus selalu waspada dan beerhati – hati dalam mengomentari atau berperilaku di depan anak, karena anak sebagai peniru yang baik akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya apakah akan menjadi seorang yang percaya diri atau tidak dan apakah akan menjadi seorang pembully atau tidak itu semua tergantung kepada bagaimana peran orang tua masing – masing.

Berikut rangkuman mengenai faktor anak bisa menjadi pelaku bullying, karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying, tentang bagaimana pujian yang baik bagi orang tua terhadap anak, tindakan orang tua terhadap pelaku bullying, dan menanamkan rasa empati kepada anak agar terhindar dari perilaku bullying yang dirangkum dari popmama.com.

Popmama Parenting Academy menghadirkan Maureen Hitipeuw dari komunitas Single Mom dan juga Katiana Taslim, M.Psi., selaku Psikolog Personal Growth dalam mengisi talkshow seputar Stop Bullying dan Body Shamming di Kalangan Anak.

“Selalu mengingatkan untuk selalu berempati, bahwa empati itu asalnya dari rumah. Perilaku anak itu cerminan dari orangtuanya juga. Harapannya anak tidak menjadi pelaku bullying. Penting banget awalnya pendidikan dasar dari rumah,” ujar Maureen Hitipeuw selaku founder dari komunitas Single Mom.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasinya berdasarkan kegiatan Popmama Parenting Academy yang dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2019 di Summarecon Mall Serpong.

Faktor penyebab anak menjadi pelaku bullying

Bullying adalah sebuah perilaku agresi yang ditunjukan pada target tertentu, biasanya ada tujuan dibalik sikap membully. Bullying bisa dilakukan secara fisik, atau dalam bentuk kata-kata verbal. Pada era modern saat ini, bullying juga dapat dilakukan di media sosial yang disebut juga dengan cyberbullying

Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi anak dalam tindakan bullying. Yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri anak sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari keluarga serta lingkungannya.

Faktor internal yang mempengaruhi anak adalah keterampilan sosial anak dalam melakukan sosialisasi dengan orang lain tidak terasah dengan baik sehingga keluar perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini, orangtua bisa memberikan edukasi untuk keterampilan sosial anak

Faktor eksternalnya adalah anak tidak memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Hal ini dipengaruhi dari anak yang tidak mendapatkan contoh yang baik dari rumah atau lingkungan di sekitarnya.

Karakteristik anak yang sering menjadi korban bullying di lingkungannya

Anak-anak yang menjadi pelaku bullying memiliki tujuan tertentu dalam melakukan tindakannya, biasanya terdapat karakteristik khusus bagi anak yang menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri atau lingkungannya.

Beberapa karakteristik seorang anak yang menjadi tujuan pelaku bullying. Salah satu karakteristiknya adalah anak yang menjadi korban memiliki fisik atau personaliti yang berbeda sehingga anak tidak sesuai dengan kelompok teman-temannya.

“Anak yang menjadi korban bullying menjadi anak yang tertutup, sehingga tidak memiliki banyak teman. Tanamkan pada anak perbedaan itu bukan hal yang salah karena anak memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terkadang anak sendiri tidak merasa dapat bergaul dan tidak dapat diterima,” ujar Katiana Salim.

Biasakan orangtua untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja

Tentunya, sebagai orangtua sulit untuk menghindari perilaku bully. Cara menghindari anak menjadi kurang percaya diri terhadap diri sendiri adalah, fokus dalam mengingatkan anak bahwa sebagai manusia kita tidak dapat mengendalikan orang lain. 

Menurut Katiana Salim, ajarkan anak untuk mengatur bagaimana cara menanggapi atau bereaksi terhadap bully. Orangtua dapat membiasakan anak untuk tidak memberikan pujian dalam hal fisik saja, namun berikan pujian pada anak secara keterampilan, kemampuan, kreatifitas, dan tingkah laku anak.

Hal ini dapat membuat anak tidak hanya berfokus pada penampilan dirinya. Selain itu, fokuskan pada anak bahwa tipe fisik setiap orang itu berbeda-beda. Berikan pengertian pada anak kalau fisik tidak menentukan kesuksesan.

Caranya adalah dengan menunjukan orang-orang yang memiliki kekurangan fisik namun tetap sukses di bidangnya masing-masing, sehingga dapat memotivasi anak untuk tetap percaya diri pada fisiknya.

Tindakan orangtua dalam menanggapi orang lain yang membully anaknya

Bukan hal yang jarang ketika ada orang lain yang mengomentari fisik atau kemampuan dari anak, mungkin Mama seringkali bingung dalam menanggapinya karena satu sisi ingin membela anak namun tidak mau ada hubungan buruk dengan kerabat atau saudara yang berkomentar.

Dalam hal ini Mama dapat melakukan pemilihan kata-kata yang tepat untuk menyadarkan dengan tujuan agar orang lain tidak berkata atau berkomentar buruk tentang anak. Mama dapat mencari bukti berupa jurnal, website, ataupun bukti ilmiah lainnya yang dapat mendukung bahwa anak bertumbuh dengan normal.

Selain itu, faktor mood juga penting untuk dijaga, jika dalam keadaan mood yang baik, Mama dapat berargumen secara perlahan dan mengeluarkan bukti-bukti tersebut, namun tidak jarang juga beberapa Mama merasa komentar tersebut tidak penting sehingga tidak perlu dijawab secara terus menerus.

Ajak anak untuk mengeksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati

Menurut Maureen, happy moms is happy kids, terutama menjadi Mama harus bahagia. Jika Mama merasa bahagia, dengan sendirinya anak akan tertular perasaan bahagia tersebut. Sama seperti empati, tanamkan anak untuk mengerti penerimaan terhadap perbedaan.

Selain itu, penting juga bagi anak untuk eksplorasi kegiatan yang berhubungan dengan empati. Ajak anak-anak untuk meningkatkan empati seperti bermain dengan binatang, bertemu dengan banyak anak-anak lainnya.

Dan jangan lupa untuk mengajak anak dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kreatifitas serta kemampuannya. Tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, cukup seperti memasak bersama, olahraga bersama, hal ini juga dapat meningkatkan quality time serta bonding time yang baik antara orangtua dan anak.

sumber artikel : https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/jemima/tanamkan-empati-pada-anak-agar-tidak-menjadi-pelaku-bully/full 12 Oktober 2019 oleh Jemima Karyssa Rompies

Ajari,Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial

sumber gambar : https://goresangurusemai.files.wordpress.com/2013/08/copy-header-blog-guru.jpg

Oke kali ini saya akan membahas mengenai sebuah topik yang mungkin kelihatan biasa – biasa saja ya? Emmm tentang Ajari, Ajak dan Suruhlah Anak Untuk Bersosial.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya mengenai kata – kata yang pernah saya dengar dari seorang psikolog yang berbunyi :

“Kita sebagai orang tua hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita harapkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua untuk anak – anak menreka kelak”

Statemen yang mungkin hanya sebagian orang saja yang mau merenungkan. Saat saya mendengar statemen ini saya baru sadar dengan apa yang psikolog itu katakan. Di era kemajuan jaman, kemajuan teknologi,komunikasi,iptek dan hal – hal lainnya saat ini. Banyak dari kita untuk berlomba – lomba mendapatkan sebuah pengakuan dari sebuah apa yang telah kita capai dan banyak pula orang tua yang berlomba – lomba untuk menyekolahkan anak – anak mereka ke sekolah favorit, unoversitas favorit, ataupun ke akademi – akademi yang notabene setelah lulus akan mendapatkan gelar dan juga pekerjaan yang bagus dan membangga – banggakan apa yang telah anak mereka peroleh.

Ya itu sih wajar – wajar saja jika orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak – anaknya, tetapi banyak yang mereka lupa ajarkan kepada anak – anak mereka untuk bekal nilai – nilai kehidupan dimasa depan khususnya dalam aspek bersosialisasi dengan lingkungan sekitar minimal di tempat tinggalnya. Orang tua lupa bahwa kelak anaknya juga akan menjadi seperti mereka membesarkan anak dan juga bersosialisasi dengan lingkungan disekitar tempat tinggal mereka.

Pernahkah saudara – saudara melihat jika ada kerja bakti bersih bersih kampung, kerja bakti pegajian, kerja bakti untuk kegiatan peringatan kemerdekaan, kegiatan remaja masjid dan even – even lainnya yang berada di lingkungan tempat tinggal, pernahkah melihat orang tua yang mengajak anak – anaknya yang ikut membaur melakukan kegiatan tersebut ? Sangat jarang sekali di era kemajuan jaman sekarang ini kita melihat anak- anak atau remaja ikut membaur dalam kegiatan sosial seperti diatas. Yang ada orang tua ikut kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal tetapi anak malah dibiarkan asyik dirumah bermain atau melakukan kegiatan lainnya di rumah. Dengan alasan anak sudah lelah sekolah, les, dan berbagai kegiatan lainnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa sistem pendidikan di negara kita memang masih belum sempurna dengan berbagai mata pelajaran yang ada dan waktu sekolah yang panjang, mengakibatkan lingkungan sosial anak kebanyakan hanya dihabiskan di sekolah, namun sebagai orang tua hendaknya menyadari bahwa kebutuhan anak bukan hanya kebutuhan mengenai ilmu materi namun kebutuhan ilmu sosial juga diperlukan untuk memberikan pondasi saat mereka nanti beranjak menjadi dewasa bahkan menjadi orang tua.

Sesekali ajaklah bahkan suruhlah anak – anak untuk ikut membaur dalam kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tnggal . Agar terbentuk sebuah kepribadian yang matang jika nanti anak – anak sudah dewasa dan menghadapi berbagai karakter orang yang berbeda – beda. Menurut sudut pandang saya sendiri, saya khawatir jika anak – anak tidak pernah diajak sesekali ataupun disuruh untuk ikut kegiatan sosial minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, saya khawatir rasa sosial mereka dengan antar sesama akan biasa – biasa saja dan suasana rasa simpati juga empati terhadap sesama juga akan biasa biasa saja dan bisa jadi menjadi seorang yang kurang peka.

Sekarang kita lihat banyak aksi bulli di kalangan anak, banyak aksi anak /murid yang sudah berani melawan gurunya sendiri, banyakkan sekarang guru menjadi sasaran laporan ke pihak yang berwajib hanya karena memarahi atau mengingatkan anak/murid yang salah dan ironisnya orang tua juga ikut – ikutan tidak terima jika anaknya dmarahi/atau sang guru, bahkan disuatu artikel memberitakan seorang murid mengakhiri nyawa gurunya hanya karena diingatkan saat merokok.

Menurut saya kejadian kejadian ini dikarenakan kurangnya pendidikan moral dan sosial dari orang tua di era kemajuan jaman saat ini. Sempatkanlah dan ajarkanlah, mungkin itu yang harus orang tua lakukan walau sibuk dengan pekerjaan. Apa gunanya mengejar harta jika anak tidak berlaku baik dan juga tidak saling mengasihi anatar sesama. Diharapkan dengan anak diajarkan, diajak dan disuruh untuk mengikuti kegiatan – kegiatan sosial dan juga berbaur minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal, minimal mereka anak -anak akan lebih peka terhadap apa yang sedang terjadi, lebih simpati dengan sesama, dan lebih menghormati dengan sesama. Karena pendidikan yang mahal bukanlah dengan menyekolahkan di sekolah atau universitas favorit tetapi pendidikan yang mahal adalah pendididikan tentang nilai – nilai aspek kehidupan bersosialisasi dengan sesama yang akan menjadi bekal atau pondasi di kehidupan masa depan.

Jika terdapat salah kata saya mohon maaf karena semua memiliki presepsi masing – masing dan ini merupakan sudut pandang saya sendiri mengenai perlunya orang tua mengajarkan dan juga menanamkan nilai – nilai sosial dalam kehidupan ini.

Salam dari Bim

Grooming ? Dibalik Kekerasan Seksual Terhadap Anak

sumber gambar : https://www.secureverifyconnect.info/sites/default/files/styles/image_740x431/public/field/image/OnlineGrooming.jpg?itok=Cba3sq9I

Kecanggihan teknologi kian tahun mengalami peningkatan yang sangat pesat juga para penggunanya pun mengalami peningkatan kuantitas baik dari kalangan anak – anak hingga usia lanjut usia. Namun perlu kita waspadai khususnya bagi orang tua yang di era milenial saat ini yang kerap memberikan kebebasa anak – anak untuk menggunakan gadget tanpa edukasi, filter, juga pengawasan.

Seiring dengan kemajuan teknologi saat ini tanpa kita sadari kejahatan juga berkembang secara diam – diam, menyamar, dan bersembunyi bahkan bisa mengawasi setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial maupun internet . Salah satu yang harus diwaspadai secara ekstra khususnya bagi orang tua milenial saat ini adalah banyak para pelaku kejahatan melakukan Grooming terhadap anak- anak.

APA ITU GROOMING ?

Menurut lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka.

Dan saat ini Grooming menjadi modus baru bagi para pelaku kejahatan khususnya kejahatan seksual yang memanfaatkan peran media sosial untuk melancarkan aksinya melakukan pelecehan seksual dengan target mereka adalah melainkan dari kalangan anak – anak khususnya anak perempuan.

Biasanya para pelaku grooming atau groomer membuat akun/identitas palsu untuk mengelabuhi korban. Seperti kasus yang terjadi di Surabaya ketika pihak kepolisian berhasil menangkap tersangka pelaku grooming berinisial TR ( 25 ). Dengan menggunakan akun/identitas palsu dari seoraang guru pelaku TR berhasil mengumpulkan 1300 foto dan video anak tanpa busana didalam akun e-maillnya, dari sekian banyaknya foto dan video sudah terindentifikasi sebanyak 50 anak dengan identitas berbeda.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) yang mendapat laporan dari seorang guru bahwa akun media sosialnya dipalsukan. Dan setelah diselidiki ternyata pelaku pemalsuan akun media sosial guru tersebut tak lain adalah tersangka TR ( 25 ).

Saat melancarkan aksinya groomer akan membangun karakter tersendiri untuk memikat korban yang sudah menjadi target si groomer. Dan setelah itu goomer akan mulai menghubungi korban dan mulai membangun hubungan, memberikan perhatian – perhatian atau saran kepada korban . Entah apa skill yang dimiliki si groomer hingga ia mampu menjadi sosok figur yang didambakan korban, sosok mentor, dan bahkan bisa menjadi kekasih si korban yang notabene mereka hanya melakukan hubungan melalui media sosial.

Semakin dekat hubungan groomer dengan korban maka pelan – pelan groomer akan mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang berbau seksual dan mulai berani untuk meminta foto dan video yang berbau seksual dengan iming – iming berupa uang, hadiah, dan hal – hal lain yang memmbuat si korban mau menuruti permintaan si groomer bahkan bisa jadi si groomer juga akan membuat ancaman yang membuat korban mejadi ketakutan.

Pelaku groomer sangat lihai dalam mengelabuhi korbannya karena jika korban dan groomer sudah mempunyai hubungan erat dan keterbukaan maka akan sulit untuk mengetahui modusnya. Untuk prosesnya pun tergantung dari keahlian groomernya itu sendiri bisa lama atau singkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa menjadi korban dari groomer, mereka yang menjadi korban groomer biasanya mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua, tidak percaya diri, mengalami masalah keluarga. Namun jika kita lebih teliti terdapat ciri – ciri atau indikasi korban dari groomer.

CIRI – CIRI KORBAN GROOMING

seorang korban grooming dapat kita lihat dari berbagai ciri – ciri dibawah ini :

  1. Menjadi sangat tertutup
  2. Punya pacar yang umurnya lebih tua
  3. Memiliki barang baru dan uang berlebih
  4. Mudah tertekan dan sensitif

Sebagai informasi menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KemenPPPA ) bahwa kasus grooming sudah terjadi sejak tahun 2016. Namun banyak dari masyarakat baru mengetahui kasus ini karena di tahun 2019 telah lebih dari 236 kasus grooming terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Pesan penting bagi para orang tua milenial saat ini bahwa penyebab dari aksi grooming ini sendiri bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang semakin maju saat ini namun peran orang tua yang kurang waspada dan kurang memperhatikan anak di era kejuan teknologi saat ini terutama saat orang tua membebaskan anak untuk bermain gadget tanpa diberikan edukasi yang baik mengenai bagaimana cara menggunakan gagdet yang baik dan mengontrol atau memfilter kegiatan anak di dalam gadgetnya.

sumber penulisan : 1. https://news.detik.com/berita/d-4635087/mengenal-grooming-modus-baru-pelecehan-seksual-terhadap-anak 2. https://www.indozone.id/news/d5snEe/ketahui-taktik-ciri-grooming-modus-pelecehan-seksual-pada-anak 3. https://www.solopos.com/grooming-kekerasan-seksual-pada-anak-via-medsos-1023078

Lindungi Anak Dari Gadaikan Hidup Untuk Gadget dan Game Online

sumber gambar : https://img.harianjogja.com/posts/2018/07/23/929517/hl.jpg

Membicarakan mengenai kecanduan gadget dan game online memang tidak akan ada habisnya. Namun inilah perhatian pentingnya, karena masalah kecanduan gadget dan game online sudah kian memprihatinkan. Semakin hari makin banyak gadget – gadget baru bermunculan dengan beragam spesifikasi tinggi namun harga murah, game – game online kian mengembangkan inovasi gamenya agar lebih dinikmati oleh kalangan masyarakat.

Kita sebagai bangsa yang yang sedang berkembang wajib untuk selalu waspada karena kecenderungannya adalah mudah kagum dan kaget terhadap perkembangan teknologi baru terutama gadget dan game online. Dan parahnya kita akan jadi mangsa besar bagi para pelaku usaha gadget dan game online untuk memperbesar pundi – pundi kekayaannya.

Tanpa kita sadari telah banyak dari kalangan masyarakat yang telah terjebak dalam kecanduan gadget dan terutama anak – anak . Sekarang banyak dari anak – anak lebih menghabiskan hari harinya hanya bersama gadget, tidak pernah keluar rumah mengurung diri dalam kesendirian yang membahagiakan. Bagi angkatan kelahiran 90-an akan sangat bosan jika berada di dalam rumah terus tetapi sebaliknya di jaman sekarang.

Begitu memprihatinkan, bagaimana banyak yang hilang dari masa – masa anak – anak yang seharusnya belajar berinteraksi sosial dengan linngkungan sekitar, berinteaksi sosial dengan alam yang mana akan berguna sebagai bekal hidup di masa depan. Dan sepertinya dari kebanyakan orang tua milenial malah seperti menikmati saja perkembangan teknologi sekarang tanpa mengeksplore lebih dalam tentang banyak dampak negatif maupun positifnya.

Bahkan sekarang sudah hal biasa jika ada kasus seorang anak yang kecanduan gadget harus dirawat di Rumah Sakit entah karena gangguan mental, atau gangguan penyakit akibat radiasi dari layar gadget. Bagi kita yang mendengarkan berita itu pasti sudah tidak akan kaget seperti sudah menjadi tren saat ini.

Yang lebih mengerikan sudah keluar beberapa artikel yang memberitakan tentang remaja yang mengakhiri hidupnya hanya karena ditegur untuk berhenti bermain game, sungguh kalo kita resapi dalam – dalam masalah kecanduan gadget dan game online sudah bukan lagi masalah yang bisa dianggap sepele. Perlu adanya perombakan sistem dari pemerintah dan peran seluruh masyarakat tentang masalah kecanduan gadget dam game online ini, bahkan kalo perlu ada Undang – Undang yang mengatur tentang penggunaan gadget dan memainkan game online pada anak – anak dan remaja. Karena mereka generasi muda adalah aset untuk masa depan bangsa.

Mungkin langkah awal yang bisa kita lakukkan saat ini adalah dilingkungan keluarga terutama peran orang tua dalam memberikan pola asuhnya dan filter terhadap dampak negatif perkembangan teknologi. Sempatkanlah untuk memberikan edukasi penting mengenai dampak negatif dan positif perkembangan teknologi, sempatkanlah untuk bincang – bincang santai dengan anak – anak mengenai masalah pribadinya, sempatkanlah untuk bermain bersama,suruhlah anak – anak untuk ikut bersosialisasi dilingkungan masyarakat misal kalo masih anak – anak ikutkan kegiatan TPQ ( Mengaji ) kalo sudah remaja ikutkan sebagai anggota karang taruna atau remaja masjid dan kegiatan keluarga lainnya yang bisa menjadi filter dan juga pengalih untuk menjadi kegiatan yang lebih positif.

Saya pernah mendengar perkataan dari seorang psikolog “Kita sebagai orang tua kadang hanya mempersiapkan anak untuk menjadi apa yang kita inginkan tetapi lupa mempersiapkan anak untuk menjadi orang tua bagi anak – anak mereka kelak”

Jangan sampai geneasi muda masa depan bangsa ini pelan – pelan kropos akhlaknya, kropos sosialnya, kropos kemanusiaannya karena perkembangan teknologi yang tidak terfilter.

Salam dari Bim

Mencegah Anak dari Kecanduan Gadget

sumber gambar : http://www.inhilklik.com/assets/berita/original/48258911399-candu_game.png

Jaman semakin maju dan berkembang maka segala yang ada didalamnya pun juga akan mengikutinya seperti halnya pola pengasuhan orang tua terhadapa anak pasti akan sangat berbeda jauh dengan tahun di era 90-an yang cenderung keras dan tegas.

Berbeda dengan pola asuh orang tua terhadap anak yang terjadi di jaman yang maju dan berkembang ini sekarang mereka jarang berbicara dengan anaknya karena dengan segala kesibukannya. Si Ayah sibuk dengan pekerjaan di kantor sedangkan si Ibu sibuk dengan online shop atau sibuk chatingan dengan grup – grup WA, dan si anak hanya menghabiskan hari – harinya dengan dibekali gadget oleh orang tua dan menikmati kesendiriannya.

Bagaimana mugkin didalam suatu keluarga tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak – anaknya, dan itulah yang sering terjadi di jaman yang sudah maju dan berkembang. Dan pada akhirnya siapa yang menjadi korban ?? Ya anak.

Anak hanya akan berbicara kepada temannya yaitu gadget dan kesendiriannya dan lambat laun jika itu terjadi dalam jenjang waktu yang lama maka akan menimbulkan candu bagi anak. Karena anak sudah terbiasa tanpa orang tua dan hanya berbekal gadgetpun mereka merasa terhibur dan jika dibiarkan tambah lama lagi maka parahnya akan berdampak pada mental anak, banyak kasus anak yang dirawat intensif karena kecanduan gadget.

Salah satu tanda ketika gadget sudah berdampak pada mental anak yaitu saat anak merasa gelisah,resah dan suka marah marah sendiri ketika gadget tidak bersamanya satu hari bahkan satu jam pun tidak bersama gadget rasanya sudah tidak karuan

Lantas, bagaimana cara mencegah anak-anak agar terbebas dari kecanduan gadget? Berikut tipsnya:

1.Ciptakan quality time dengan buah hati.

Saat anak rewel, orangtua kerap memberi si kecil gadget agar anak tenang. Namun anak-anak, terutama balita, masih memiliki keterampilan kognitif yang belum sempurna. Pemrosesan informasi dari gadget terbukti kurang menguntungkan daripada interaksi aktual dengan orang tua. Balita dan proses kognitif simbolik anak-anak akan mendapat manfaat besar ketika ada orang dewasa yang menjelaskan dan berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan menjadi penerima informasi pasif. Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga akan meningkat ketika ada interaksi yang sebenarnya. Semakin banyak waktu bermakna yang kita habiskan dengan anak, semakin kecil waktu sang anak untuk terpapar dengan gadget. Menyediakan waktu khusus untuk sang anak dapat menciptakan ikatan yang lebih intim antara orangtua dan anak.

Untuk itu, daripada memberikan gadget untuk si kecil, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini bersama si buah hati: Baca buku bersama, Masak bersama, Mengobrol bersama sang anak , Berlibur dengan sang anak

Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak. Jadi, sediakanlah waktu khusus untuk si kecil sehingga anak kita tak melulu bermain dengan gadget.

2.Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

Agar sang anak terhindar dari kecanduan gadget, orangtua harus menetapkan batasan. Dengan cara ini, anak-anak akan lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka akan lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk menggunakan gadget dan kapan harus berhenti. Kita bisa menetapkan batasan penggunaan gadget pada anak dengan menggunakan aplikasi atau pengaturan gadget. Kita juga bisa mengunci koneksi internet dalam jangka waktu tertentu dan memberi si kecil jadwal khusus untuk bermain gadget. Anak-anak harus memiliki waktu interaksi dengan lingkungan sekitar untuk melatih perkembangan motorik halus mereka. Perkembangan sosial-emosional juga dapat meningkat ketika mereka bermain dengan teman sebayanya. Di sisi lain, banyak sekolah sekarang mengadaptasi teknologi sebagai bagian dari strategi pengajaran mereka. Kegiatan, kerja kolaboratif, dan bahkan penugasan menggunakan teknologi dan kehadiran online. Untuk itu, orangtua harus menerapkan batasan penggunaan gadget yang lebih bijaksana untuk anak-anak mereka.

3.Buat si kecil melakukan hal lain.

Mencegah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak bisa kita lakukan dengan cara lain untuk mengekspresikan diri dan menggunakannya waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih relevan dan lebih bermanfaat untuk si kecil. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan si kecil kegiatan seperti olahraga, kegiatan seni, pelajaran musik atau apapun yang menjauhkan snag anak dari gadget. Memiliki rutinitas atau jadwal kegiatan tertentun juga bisa membuat sang anak tidak terlalu aktif dengan gadget dan membuat mereka mampu melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas mereka.

sumber berita : Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/083000365/tips-mencegah-kecanduan-gadget-pada-anak?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Sari Hardiyanto