Category Archives: Wara-Wiri

Benarkah Sesaknya Penjara Bikin Napi Jadi Gay? Aktivis LGBT Tak Setuju

sumber gambar : https://thumbor.medkomtek.com/gDf6MRA_n4ZOhFSqK7niR9Yewso=/1200×675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/klikdokter-media-buckets/medias/2303395/original/055562100_1549003334-Risiko-Kesehatan-yang-Rentan-Dialami-Tahanan-di-Penjara-By-FOTOKITA-Shutterstock.jpg

Jakarta – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Liberti Sitinjak, menyatakan bahwa sel yang penuh membuat narapidana menjadi homoseksual. Aktivis pembela hak kaum gay di Indonesia tak setuju dengan Liberti.

“Orientasi seksual dan tindakan seksual tidak selalu sinkron,” kata Pembina Yayasan GAYa NUSANTARA, organisasi pembela hak LGBTIQ, Dede Oetomo, kepada wartawan, Rabu (10/7/2019).

Menurut Dede, seseorang yang melakukan hubungan seks sesama jenis belum tentu punya orientasi seksual sesama jenis juga. Kedua hal tersebut tak selalu sinkron.

Napi yang dulu tertarik dengan lawan jenis (heteroseksual) tak lantas menjadi suka dengan sesama jenis (homoseksual) hanya karena pernah dipaksa oleh keadaan berhubungan seksual dengan sesama jenisnya di penjara. Dimungkinkan, dia pasif saja menerima perlakuan seksual di dalam penjara.

“Orientasi seksualnya sendiri tidak berubah,” kata Dede. “Dan data menunjukkan bahwa ada orang yang bisa melakukan tindakan seks tertentu tanpa harus punya orientasinya.”

Dede menyimpulkan, pernyataan Liberti Sitinjak tidak tepat. “Iya salah, karena dia menyebutkan orientasi, bahkan identitas seksual. Kemungkinan besar yang terjadi hanya perilaku seks sesama gender saja,” kata Dede.

Sebelumnya, Liberti Sitinjak mengungkapkan lapas-lapas kelebihan kapasitas karena saat ini dihuni 23,681 orang warga binaan. Padahal, kapasitasnya hanya 15,658 orang warga binaan.

“Lapas dan rutan sudah over kapasitas. Ibarat kata, kondisi itu membuat kaki ketemu kaki, kepala ketemu kepala badan ketemu badan. Dampaknya munculnya homoseksualitas (gay) dan lesbian,” ujar Liberti di SOR Arcamanik, Kota Bandung, Senin (8/7) lalu.

Kadivpas Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris mengaku belum memiliki data jumlah warga binaan yang mengalami seks menyimpang. Meski begitu, ia memastikan jumlahnya tidak signifikan.

“Kita belum punya data lengkap. Tapi itu hanya beberapa kasus aja, persentasenya belum kita teliti lagi. Kita belum bisa sebutkan (lapas mana saja),” tutur dia.

Soal perilaku seksual di dalam penjara, pernah ada penelitian di Amerika Serikat (AS). Profesor peradilan kriminal dari Universitas Tennesse di Chattonooga, Christopher Hensley, menyatakan perubahan perilaku seksual di penjara dimungkinkan karena kurangnya akses seksual terhadap lawan jenis.

Hensley membikin studi yang dia klaim sebagai yang pertama kali dilakukan untuk memeriksa orientasi seksual di penjara. Dia dan rekannya bertanya ke 142 napi di tentang orientasi seksual mereka. Mereka menemukan ada 24 pria yang orientasi seksualnya berubah selama di penjara.

Dari 24 pria itu, 18 pria di antaranya berubah dari straight (heteroseksual/pria tertarik dengan perempuan) menjadi biseksual, 3 pria berubah dari biseksual menjadi straight, 1 pria berubah dari biseksual menjadi gay, 1 orang berubah dari gay menjadi biseksual, dan 1 orang berubah dari gay menjadi heteroseksual.

Namun Christopher Hensley sendiri, dilansir Politifact, menyatakan responden penelitiannya terlalu sedikit, sehingga tidak bisa mendukung argumen bahwa pria heteroseksual bisa menjadi homoseksual karena masuk penjara, atau kesimpulan lainnya.

Kembali ke Dede Oetomo, dia belum bisa mengambil kesimpulan apakah orientasi seksual itu adalah pilihan (seseorang bisa memilih menjadi homoseksual atau heteroseksial), kondisi alamiah (bawaan lahir atau genetik), atau bisa dibentuk oleh lingkungan misalnya dibentuk oleh kondisi penjara.

“Para ilmuwan yang jujur dan terbuka belum bisa menjawab secara tuntas tentang hal ini,” kata Dede.

sumber berita : https://news.detik.com/berita/d-4618481/benarkah-sesaknya-penjara-bikin-napi-jadi-gay-aktivis-lgbt-tak-setuju


Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak

KOMPAS.com – Tantangan orangtua di era digital saat ini bertambah. Pasalnya selain harus menjadikan anak mereka mampu mengikuti kemajuan teknologi, upaya mencegah anak-anak agar tidak kecanduan gadget menjadi tantangan tersendiri. Kemajuan teknologi tak melulu membawa pengaruh positif. Faktanya, banyak anak-anak yang kecanduan gadget hingga mereka harus berakhir dalam perawatan intensif di rumah sakit jiwa. Efek adiktif dalam penggunaan gadget bisa berkembang menjadi masalah mental serius.

Lantas, bagaimana cara mencegah anak-anak agar terbebas dari kecanduan gadget? Berikut tipsnya:

1.Ciptakan quality time dengan buah hati.

Saat anak rewel, orangtua kerap memberi si kecil gadget agar anak tenang. Namun anak-anak, terutama balita, masih memiliki keterampilan kognitif yang belum sempurna. Pemrosesan informasi dari gadget terbukti kurang menguntungkan daripada interaksi aktual dengan orang tua. Balita dan proses kognitif simbolik anak-anak akan mendapat manfaat besar ketika ada orang dewasa yang menjelaskan dan berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan menjadi penerima informasi pasif. Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga akan meningkat ketika ada interaksi yang sebenarnya. Semakin banyak waktu bermakna yang kita habiskan dengan anak, semakin kecil waktu sang anak untuk terpapar dengan gadget. Menyediakan waktu khusus untuk sang anak dapat menciptakan ikatan yang lebih intim antara orangtua dan anak.

Untuk itu, daripada memberikan gadget untuk si kecil, sebaiknya kita melakukan hal-hal berikut ini bersama si buah hati: Baca buku bersama, Masak bersama, Mengobrol bersama sang anak , Berlibur dengan sang anak

Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak. Jadi, sediakanlah waktu khusus untuk si kecil sehingga anak kita tak melulu bermain dengan gadget.

2.Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

Agar sang anak terhindar dari kecanduan gadget, orangtua harus menetapkan batasan. Dengan cara ini, anak-anak akan lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka akan lebih memahami kapan waktu yang tepat untuk menggunakan gadget dan kapan harus berhenti. Kita bisa menetapkan batasan penggunaan gadget pada anak dengan menggunakan aplikasi atau pengaturan gadget. Kita juga bisa mengunci koneksi internet dalam jangka waktu tertentu dan memberi si kecil jadwal khusus untuk bermain gadget. Anak-anak harus memiliki waktu interaksi dengan lingkungan sekitar untuk melatih perkembangan motorik halus mereka. Perkembangan sosial-emosional juga dapat meningkat ketika mereka bermain dengan teman sebayanya. Di sisi lain, banyak sekolah sekarang mengadaptasi teknologi sebagai bagian dari strategi pengajaran mereka. Kegiatan, kerja kolaboratif, dan bahkan penugasan menggunakan teknologi dan kehadiran online. Untuk itu, orangtua harus menerapkan batasan penggunaan gadget yang lebih bijaksana untuk anak-anak mereka.

3.Buat si kecil melakukan hal lain.

Mencegah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak bisa kita lakukan dengan cara lain untuk mengekspresikan diri dan menggunakannya waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, orangtua harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih relevan dan lebih bermanfaat untuk si kecil. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan si kecil kegiatan seperti olahraga, kegiatan seni, pelajaran musik atau apapun yang menjauhkan snag anak dari gadget. Memiliki rutinitas atau jadwal kegiatan tertentun juga bisa membuat sang anak tidak terlalu aktif dengan gadget dan membuat mereka mampu melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas mereka.

sumber berita : Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tips Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/18/083000365/tips-mencegah-kecanduan-gadget-pada-anak?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Sari Hardiyanto

Suami Ketahuan Punya Orientasi Seksual Berbeda Setelah Menikah, Harus Bagaimana? Jangan buat keputusan terburu-buru, tapi pertimbangkan hal ini

Mengetahui orientasi seksual suami berbeda daripada yang diharapkan tentu membuat Moms sedih. Siapa yang tidak marah dibohongi oleh pasangan selama pernikahan karena sang suami ternyata menyukai sesama jenis?

Hal ini pula yang terjadi pada penyanyi dangdut Dewi Perssik. Perempuan yang akrab disapa Depe itu sudah menikah tiga kali. Melalui akun media sosialnya, Depe mengungkap alasanya menceraikan mantan-mantan suaminya terdahulu.

Salah satu mantan suaminya diceraikan Depe karena kedapatan menyukai sesama jenis alias homoseksual. Dewi memang tidak menyebut secara frontal mantan suami mana yang merupakan seorang homoseksual.

Dari unggahannya itu, diketahui bahwa Depe baru mengetahui orientasi seksual suaminya menyimpang setelah mereka menikah. Depe lalu memilih jalan keluar dengan bercerai.

Langsung Memutuskan Bercerai?

sumber gambar : https://hargo.co.id/wp-content/uploads/2018/07/b586fd78-e110-4fc2-932d-e7d463ed20c7.jpg

Amity Buxton dari Straightspouse.org mengatakan bahwa ada lebih dari 2 juta pasangan beda orientasi seksual di Amerika Serikat. Ketika orientasi seksual pasangan terungkap, sebanyak 1/3 jumlah tersebut memutuskan bercerai saat itu juga, seperti yang dilakukan Depe.

“Sebanyak 1/3 lainnya bertahan selama 1-2 tahun untuk memilah apa yang harus dilakukan, lalu bercerai. Sisanya berusaha memertahankan rumah tangga. Setengah dari yang mempertahankan rumah tangga ini pada akhirnya bercerai. Setengah lagi tetap bertahan hingga 3-4 tahun,” ungkap Amity.

Menerima pasangan dengan orientasi seksual berbeda memang sulit. Tidak semua orang bisa menerima kenyataan tersebut dan memilih untuk segera berpisah. Verywellmind.com punya tips untuk mengatasi hal tersebut.

Hal yang Harus Dilakukan Ketika Mengetahui Suami Berbeda Orientasi Seksual

1. Berkomunikasi dengan suami

Komunikasi adalah hal penting. Banyak pasangan yang tidak mau lagi berkomunikasi dan malah memilih untuk langsung sampai pada keputusan cerai.

Moms sebaiknya berkomunikasi dan berdiskusi dengan suami terlebih dahulu. Kalian berdua sama-sama dalam kondisi yang tidak baik sehingga ada baiknya untuk saling support.

2. Lakukan pengecekan penyakit menular seksual (PMS)

Moms dan suami harus langsung melakukan pengecekan PMS. Moms bisa saja tertular PMS dari suami yang pernah berhubungan dengan seseorang yang mengidap PMS. Dengan diketahui lebih awal, PMS bisa ditangani lebih baik.

3. Buat keputusan bersama

Memilih untuk bercerai tanpa berbiara terlebih dahulu dengan pasangan adalah keputusan prematur.

Moms sebaiknya berdiskusi untuk membuat keputusan bersama. Bercerai adalah keputusan besar, terlebih jika Moms dan suami sudah memiliki anak.

4. Beri pengertian kepada anak

Anak akan jadi pihak yang paling terdampak perceraian Moms dan suami. Berilah pengertian sesuai dengan usia Si Kecil.

Moms mungkin membutuhkan bimbingan dari profesional untuk menyampaikan kabar ini kepada Si Kecil. Yang harus diingat adalah Si Kecil butuh merasa dicintai dan dilindungi.

5. Tetap perhatikan diri sendiri

Moms mungkin mengalami depresi karena kenyataan tersebut, tapi jangan lupa untuk mengurus diri sendiri.

Moms harus punya cukup banyak energi untuk menyelesaikan permasalahan ini sampai betul-betul tuntas.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan

1. Jangan mengisolasi diri sendiri

Moms mungkin merasa hancur, malu, dan tidak tahu harus berbuat apa. Moms juga mungkin mempertanyakan apa yang salah pada diri Moms sehingga harus menerima kenyataan bahwa suami merupakan seorang homoseksual.

Tapi, jangan sampai Moms mengisolasi diri. Keluarga Moms sedang di ujung tanduk lho! Cari bantuan dari support group atau bantuan profesional.

2. Jangan berasumsi bahwa pernikahan telah berakhir

Sebagian pernikahan beda orientasi merupakan pernikahan yang bahagia. Sebuah studi menunjukan bahwa 15 persen dari pasangan beda orientasi seksual berusaha untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Tapi hanya 7 persen yang bertahan cukup lama setelah mengetahui pasangannya memiliki orientasi seksual berbeda.

3. Jangan biarkan kemarahan menghapus memori indah bersama

Moms mungkin benci pada suami karena memiliki orientasi seksual berbeda. Moms juga mungkin kesal dengan diri sendiri yang bisa tertipu.

Tapi jangan sampai kemarahan Moms menghapus semua kebaikan dan memori indah yang dibuat suami.

Itulah beberapa hal yang bisa Moms lakukan jika mengetahui bahwa suami memiliki orientasi seksual yang berbeda.

Tidak mudah memang menerima kenyataan tersebut, namun Moms harus lebih bisa mengendalikan diri agar tidak salah mengambil langkah.

sumber berita : https://parenting.orami.co.id/magazine/suami-berbeda-orientasi-seksual-apa-yang-sebaiknya-dilakukan

Kasus LGBT Terbanyak di Lingkup Kampus dan Sekolah

sumber gambar : https://thumbs.dreamstime.com/z/logo-heart-rainbow-rainbow-heart-conceptual-design-gay-lesbian-support-symbol-lgbt-theme-vector-illustration-126348175.jpg

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Masyarakat Sumbar dihebohkan dengan kasus tertangkapnya pasangan gay yang beridentitas sebagai dosen dan mahasiswa didua kampus swasta berbeda di Sumbar, Senin (2/9). Didapati dari telepon genggam kedua pelaku LGBT tersebut sejumlah video porno hubungan sejenis. Kasus tersebut seakaan menguak bahwa dunia pendidikan di Sumbar tidak lepas dari pelaku LGBT.

dr. Armen Ahmad mengatakan, jumlah pelaku LGBT di lingkup kampus dan sekolah di Sumbar dapat dikatakan banyak.

“Dulu ada yang bilang sekitar 15.000 orang, padahal lebih dari itu. Jumlah/presentase pelaku LGBT di sekolah dan kampus yang ada di Sumbar, kita tidak bisa pastikan karena tidak ada data tentang itu. Akan tetapi saya bisa bilang di kawasan kampus dan sekolah pelakunya terbilang banyak. Jika ketemu 1 orang pelaku LGBT maka ada 100 orang LGBT di sekitar populasinya. Sedangkan kemarin ada 2 dan itu dari dua kampus swasta yang berbeda, maka setidaknya ada 200 orang di sekitar ruang lingkup mereka. Kita mencarinya dari data HIV/Aids tapi siapa-siapa saja orangnya itu yang kita tidak tahu,” ungkap dr. Armen Ahmad.

Meskipun sekolah dan kampus merupakan kawasan intelektual, dr. Armen menambahkan banyak faktor yang bisa memicu adanya fenomena LGBT di kampus.

“Meskipun mereka orang terpelajar, kaum intelektual banyak penyebabnya bisa jadi sewaktu kecil pernah disodomi, pengasuhan waktu kecil, trauma masa lalu, pendidikan, pemahaman agama yang tidak bagus, tidak ada sex education dari orang tua sejak kecil sedangkan anak ingin tau banyak hal maka mereka mencari tau sendiri tanpa pendampingan, faktor lingkungan, pengaruh teknologi zaman sekarang yang sangat mudah diakses dalam genggaman, stigma dari masyarakat yang menilai pernikahan harus sempurna baik dari segi financial, dsb sehingga banyak orang yang mengalami krisis akan stigma tersebut dan memilih mencari pasangan sejenis karena menganggap kepuasannya terpenuhi,” kata dia.

Pelaku LGBT, tutur dr.Armen tidak hanya berasal dari kalangan yang kurang pendidikan, bahkan yang telah S3 pun ada yang merupakan pelaku LGBT.

“Karena pelaku LGBT ada dari semua kalangan. Dari yang miskin, sedang, berkecukupan hingga kaya raya. Dari yang muda, paruh baya, hingga tua. Dari yang SD hingga S3, apapun profesinya ada. Ada itu 3-4 prang pasien saya usianya sudah 70 tahun,” ungkapnya.

Ia menambahkan pelaku LGBT dapat diantisipasi melalui pendidikan dan edukasi yang menyertakan pelaku LGBT secara langsung.

“Antisipasimya bagaimana? Seluruh pihak harus turut serta. Orangtua harua ikut andil memberikan pengawasan, pendampingan dan kenali dengan siapa saja anaknya bergaul, mengajari sex education dari dini, kemudian tanya keinginan anak-anak kalau ada yang ingin menikah tapi terkendala biaya, fasilitasi agar hal-hal tidak dionginkan tidak terjadi. Kemudian antisipasi yang paling penting itu di lingkungan selplah dan kampus adalah menyampaikan informasi secara massive, ditampilkan pelaku LGBT itu dihadapan kelas, ini lo akibatnya karena kalau orang kesehatan yang koar-koar tidak akan didengar, kalau pelaku nya sendiri yang bilang kan ada itu buktinya,” kata dia.

Selain itu, dr. Armen juga mengusulkan pemerintah tidak tutup mata dengan LGBT.

“Bila perlu dan saya rasa sangat ampuh, pemerintah daerah maupun pihak swasta bisa saja mewajibkan semua pegawainya melakukan tes HIV sekali 1 tahun, juga bagi pasangan yang akan menikah melakukan tes HIV, seleksi masuk sekolah dan kuliah syaratnya lulus HIV, pasti akan kocar kacir dan dapat menjadi antisipasi berkembangnya LGBT,” paparnya.

Sejalan dengan itu, aktivis penanggulangan LGBT, Tan Rajo khairul Anwar menuturkan hal yang senada bahwa pelaku LGBT di lingkungan kampus terbilang banyak.

“LGBT banyak di sumbar, saya tidak bisa sebut angka pasti yang jelas ribuan jumlahnya dan itu tersebar di kabupaten/ kota. Mereka ada dimana-mana, ada dilembaga pendidikan, seperti sekolah menengah dan perguruan tinggi, ada juga di lembaga pemerintah dan swasta,” ungkapnya kepada Haluan, Selasa (3/9).

Ia juga menjelaskan banyak faktor yang jadi pencetus munculnya prilaku LGBT.

“LGBT banyak hal yang menyebabkan mereka berubah perilaku, bisa karena trauma terhadap lawan jenis, faktor ekonomi, ikut-ikutan bahkan trend. Mereka banyak berkembang disekolah dan kampus karena dijadikan trend disamping mereka membentuk perkumpulan ataupun organisasi komunitas mereka,” jelas khairul.

Ia menegaskan, untuk mengatasinya, pemerintah dan semua kalangan harus turut serta. “Solusinya, pemerintahan semua elemen masyarakat harus meyakini bahwa mereka ada disekitar kita, dan secara bersama-sama harus kita waspadai kalau itu hal yang bertentangan dengan norma,” ucapnya.

sumber berita : https://www.harianhaluan.com/news/detail/77817/kasus-lgbt-terbanyak-di-lingkup-kampus-dan-sekolah

Perlindungan Anak, Indonesia Lambat Kendalikan Pornografi, 50% Anak Kecanduan Pornografi

sumber gambar : https://serempak.id/wp-content/uploads/2016/10/SOCITE-Child-copy.jpg

Konsep antisipasi dampak buruk perkembangan teknologi informasi harus segera dibuat agar anak-anak tidak menjadi korban.

JAKARTA – Dampak buruk perkembangan teknologi in­formasi, seperti kemudahan membuat dan menyebarluas­kan pornografi harus dianti­sipasi oleh bangsa Indonesia. Konsep antisipasi harus dibuat dari sekarang agar anak-anak tidak menjadi korban.

Menteri Pemberdayaan Pe­rempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise, mengatakan Indone­sia termasuk terlambat dalam mengendalikan pornografi se­bagai dampak buruk perkem­bangan teknologi informasi.

Sementara itu, negara-ne­gara lain sudah lebih dulu me­lakukan antisipasi. Hasil dari antisipasi yang dilakukan ada­lah angka eksploitasi seksual anak secara daring di negara-negara tersebut menurun se­cara signifikan.

“Kita (Indonesia) tidak me­miliki konsep antisipasi sehing­ga perkembangan teknologi informasi susah kita atur. Di In­donesia, bayi saja sudah dike­nalkan dengan ponsel cerdas,” kata Yohana, saat pencanangan delapan desa/kelurahan bebas pornografi, di Jakarta, Selasa (3/9).

Yohana mengakui bahwa pornografi di belahan dunia mana pun menjadi masalah sehingga banyak negara yang berusaha melindungi anak-anaknya dari bahaya por­nografi. Anak yang kecanduan pornografi, sangat mungkin melakukan kekerasan seksual terhadap anak lainnya.

“Contoh sederhana tetapi membuat kita kaget adalah pelaku pencabulan sembilan anak di Mojokerto yang divo­nis hukuman tambahan kebiri kimia. Pelaku kecanduan por­nografi sehingga akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal tidak senonoh kepada anak yang usianya be­ragam,” tuturnya.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Nahar, menambahkan, penyebarluas­an pornografi yang semakin mudah melalui internet telah menjadi salah satu pemicu ke­kerasan seksual.

“Laporan yang masuk se­cara daring ke Kementerian PPPA mencapai 1.500 laporan. Dalam satu tahun ke belakang, angka kekerasan seksual juga masih tinggi. Satu dari 11 anak perempuan, dan satu dari 17 anak laki-laki, mengalami ke­kerasan seksual,” ungkap dia.

Kecanduan Pornografi

Sementara itu, Koordinator Nasional ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornogra­phy and Trafficking of Children for Sexual Purposes) Indonesia, Ahmad Sofian, mengatakan dampak buruk dari kemudah­an membuat dan menyebarlu­askan pornografi melalui inter­net adalah bahaya kecanduan pornografi terhadap anak.

“Penelitian ECPAT mene­mukan 50 persen anak yang kecanduan pornografi melaku­kan kekerasan seksual kepada anak lainnya,” katanya.

ECPAT Indonesia merupa­kan sebuah jaringan nasional untuk menghapus eksploitasi seksual anak.

Sofian mengatakan seha­rusnya ada sistem yang bisa melindungi anak-anak dari pornografi, yang mudah di­sebarluaskan melalui ponsel cerdas yang sangat dikuasai anak-anak saat ini.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susan­to, mengatakan modus operasi kekerasan seksual pada anak di Indonesia terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Modus pelaku pun mengalami perubahan. Kasus terbaru adalah dengan trans­portasi online atau ojek.

Ketua Lembaga Perlindung­an Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo Suryo, menye­but dalam kurun dua tahun terakhir laporan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kekerasan seksual terhadap anak mengalami pe­ningkatan.

Pada 2018 terdapat 104 per­mohonan perlindungan terha­dap kasus TPPO dan sebanyak 284 permohonan perlindungan terhadap kasus kekerasan sek­sual terhadap anak. “Sedang­kan pada 2019 sampai bulan Juli telah ada 297 permohon­an perlindungan untuk kasus TPPO dan 420 permohonan perlidungan untuk kasus ke­kerasan terhadap anak,” pung­kasnya.

sumber berita : http://www.koran-jakarta.com/50–anak-kecanduan-pornografi/