Category Archives: Story

Jika Saja Kala Itu

Ini adalah kisah dari seorang teman yang memintaku untuk menuliskannya. Dia sangat berharap semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisahnya.

Untuk memudahkan dalam penulisan, aku menggunakan Point Of View (POV) alias sudut pandang orang pertama.

POV Rizal.

Pertengahan September, 2008.

Agak tergopoh aku berjalan masuk ke lorong Fakultas Sosial. Hari ini ada mata kuliah Antropologi di kelas lantai dua, dan sialnya aku telat. Tadi di perjalanan tiba – tiba ban motor bocor, membuatku harus menuntun motor sekira lima ratus meter untuk sampai di tukang tambal ban. Sambil menaiki anak tangga fakultas aku menatap jam di pergelangan tangan, Duh, sudah lima belas menit aku terlambat.

Dosen Antropologi terkenal disiplin, aku tidak berani menyebut ‘killer’. Telat 5 menit, boleh masuk kelas tapi tidak akan diceklist di daftar kehadiran. Bagi mahasiswa yang ‘bener’ ia memilih masuk, meski tidak diabsen lumayan dapat ilmu, tapi kebanyakan langsung balik ke kosan atau nongkrong di kantin, buat apa di kelas kalau tidak dipresensi? Yang penting itu presensinya kok. Karena tidak masuk tiga kali, alamat tak bisa ikut ujian semester. Ilmu mah, nomor sekian. Bahkan untuk hal ini, mahasiswa rela titip tanda tangan kehadiran ke teman, dianya sendiri bolos.

Akhirnya aku sampai di depan kelas. Nampak pintu sudah tertutup. Di dalam, samar-samar terdengar seorang lelaki paruh baya menerangkan sesuatu. Aku nekad mengetuk pintu sembari membuka pintu perlahan.

“Assalamualaikum,” aku mengangguk tatkala dosen tiba – tiba berhenti berbicara dan menoleh padaku.

“Waalaikumsalam,” jawab dosen dingin.

“Maaf, tadi ban saya bocor, Pak.”

“Sudah dua mahasiswa yang pakai alasan ban bocor, lain kali janjian dulu sama temanmu kalau mau alasan, biar gak sama. Silakan keluar.”

Ucapan dosen itu seketika membuat kelas riuh oleh tawa teman-teman. Aku nyengir getir, mundur teratur dan menutup pintu perlahan. Ah, padahal tadi beneran ban motorku bocor. Aku segera mencari tempat duduk di lorong lantai dua. Mengambil air yang kubawa dari rumah lalu meminumnya. Air itu membasahi tenggorokan yang kering. Segar.

“Kamu ikut kelas Antropologi, bukan?”

Tiba – tiba seseorang menyapaku. Saat aku mengangkat pandangan nampaklah lelaki yang rambutnya tersisir rapi dan tubuhnya agak gempal.

“Iya,” aku menimpali.

“Kenapa gak masuk?” ucapnya.

“Telat. Disuruh keluar.”

Dia tersenyum, “Hehe. Sama.”

Sebenarnya aku merasa ada yang aneh dari cara bicara lelaki ini. Karena meski tubuhnya besar, tapi cara sikapnya ‘girly’ banget.

“Boleh kenalan? Aku Fahmi.” Dia menjulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya, “Rizal. Kamu angkatan 2008 juga?”

“Iya. Loh, kita kan satu kelas di mata kuliah Antropologi?”

“Eh, iya kah? Aku gak tau, maaf, baru dua minggu kuliah. Jadi belum hafal betul sama teman kelas.”

“Gak masalah.” Dia kembali tersenyum.

Memang kuliah beda dengan sekolah. Karena mahasiswa nyari jadwal sendiri, berpindah-pindah kelas sesuai jadwal, dan jadwal mahasiswa satu dengan yang lain sering berbeda. Jadi aku tidak seberapa memperhatikan mahasiswa lain.

Lalu, kami mengobrol tentang dari mana berasal, tinggal di mana, dan topik lain sampai tak terasa bel tanda jam mata kuliah pertama usai. Aku dan Fahmi berpisah, karena harus lanjut kuliah jam kedua.

Teman, nanti awal perkenalanku dengan Fahmi ini akan begitu terekam kuat di memori otak setelah peristiwa memilukan itu terjadi. Dan sampai sekarang aku tidak menyangka, segala firasatku tentang dia benar-benar menjadi nyata.

Semester satu telah berlalu. Seusai liburan cukup panjang aku dan mahasiswa lain kembali masuk kuliah. Di satu mata kuliah ternyata aku satu kelas lagi dengan Fahmi. Cara bicara dan tingkahnya tak berubah. Tetap ‘girly’.

Suatu saat dosen memberi tugas lapangan kepada kami. Satu kelompok terdiri 6 mahasiswa. Qadarullah, aku satu kelompok dengan Fahmi. Saat itu kami harus mencari data terkait pemberdayaan perempuan di suatu desa. Kami memilih komunitas bantaran sungai sebagai tempat riset. Kami lakukan riset itu selama 4 minggu. Rencananya, tiap satu minggu kami hadir di lapangan sebanyak 2 kali. Surat izin dari pihak akademik dan RT setempat sudah kami pegang.

“Zal, aku gak punya motor. Boleh aku nebeng kamu ke lokasi riset?” Fahmi berucap padaku.

Aku mengangguk, “Oke.”

Hari Sabtu kami kumpul di kampus untuk berangkat bareng. Kami bawa tiga motor. Aku berboncengan sama Fahmi. Anehnya, saat Fahmi duduk di jok motorku, empat teman lain tiba-tiba berseru, “Cieee… Rizal dipepet Fahmi, ciyeee…”

Aku tak paham dengan apa yang mereka ‘ciye-ciyekan’. Tak ambil pusing, aku meminta teman-teman agar segera berangkat.

Di perjalanan menuju lokasi riset, aku dan Fahmi ngobrol ngalor-ngidul. Hingga pada suatu titik ia bertanya,

“Rizal sudah punya pacar?”

Sembari nyetir motor, aku jawab, “Belum.”

“Masa’ mahasiswa ganteng dan rajin kayak kamu belum punya pacar?”

Aku nyengir, “Belum waktunya mungkin, Mi. Nanti aja mikir cewek kalau udah lulus kuliah. Sekalian langsung nikah, biar enak.”

“Wah, selain ganteng sama rajin, kamu juga sholeh ya, Zal?”

“Biasa aja, Mi.”

“Beruntung banget yang bisa jadi pasanganmu nanti.” Lalu muncullah kalimat aneh itu, “Yang jadi istrimu nanti harus perempuan ya, Zal?”

Deg! Aku refleks menurunkan gas, berusaha mencerna baik-baik perkataannya.

“Gimana, Mi?” aku memastikan. Barangkali tadi salah dengar.

“Eh, gak kok. Sudah jangan dipikirin. Tuh, lokasi risetnya sudah dekat.” Fahmi menunjuk kea rah depan.

Tentang riset itu sudah berlalu beberapa bulan lalu. Alhamdulillah kami dapat nilai memuaskan. Tapi kejadian ketika aku membonceng Fahmi itu memiliki kepingan kisah lain. Dan untuk itulah aku mengisahkan ini pada kalian semua. Rela begadang menulis panjang, mengorbankan waktu tidur, agar semua dapat mengambil pelajaran.

Di suatu siang, sembari menunggu jam mata kuliah ketiga, aku berkumpul dengan mahasiswa sejurusan. Kongkow biasa. Ngobrol tak tentu arah. Dan hukum itu berlaku; bila anak cowok kumpul sama cowok, yang dibahas pasti cewek. Sebaliknya bila cewek kumpul sama cewek, yang diobrolin sangat pasti terkait cowok.

Itulah yang terjadi siang itu.

“Eh, si Laksmi itu cantik ternyata, ya?” ucap salah seorang teman.

Ditimpali sama yang lain, “Lebih cantik Rini tau. Laksmi mah judes.”

“Laksmi judesnya sama kamu doang. Soalnya kamu jelek.”

Kami tertawa.

“Eh, si Rizal tuh cocok loh ya sama Laksmi. Satunya ganteng, satunya cantik. Sama-sama pinter lagi,” timpal yang lain.

Loh, kenapa sekarang malah bawa-bawa namaku? Sebenarnya aku hendak protes, tapi keduluan oleh Fahmi yang seketika menyahut,

“Hey, enak aja. Aku duluan yang pingin jadi pacarnya Rizal. Jadi Laksmi minggir dulu, ya.” Gestur Fahmi genit sekali saat itu.

Aku terhenyak dengan perkataan Fahmi, tapi teman-teman malah tertawa mendengarnya.

“Ciyeee… kalau beneran mau jadi pacarnya Rizal, joget dulu hayo.” Begitu tantang Rudi, salah satu teman dekat Fahmi.

Tak disangka, Fahmi benar-benar berjoget. Berlenggak-lenggok macam penari ular. Beneran. Teman-teman kegirangan melihat hal tersebut. Goyangan Fahmi seketika terhenti ketika bel jam kuliah ke-3 berdering. Kami bubar, dan berjalan menuju kelas.

Tatkala aku bersiap menenteng tas, Rudi berbisik di telingaku, “Fahmi suka kamu, Zal.”

Saat itulah aku langsung berkesimpulan; ADA SESUATU YANG SALAH DALAM DIRI FAHMI!

Semua misteri ini akhirnya terjawab ketika kami praktek lapangan. Praktek lapangan ini berbeda dengan KKN. Kalau KKN pesertanya bisa dari berbagai jurusan dikumpulkan jadi satu kelompok, Praktek Lapangan hanya diikuti oleh satu jurusan saja. Satu jurusan dibagi 4 kelompok. Total satu kelompok ada 12 mahasiswa. Dan qadarullah aku satu kelompok lagi dengan Fahmi. Kami ditempatkan di satu desa di kaki gunung, selama satu bulan.

Di suatu malam, selesai makan dan mengumpulkan data makanan. Kami terbiasa menghabiskan waktu dengan nonton film India di laptop, atau ngobrol. Beberapa yang lain sibuk nyari sinyal buat teleponan dengan pacar. Nah, tersisa 5 orang, termasuk aku dan Fahmi tak ada kegiatan. Hingga salah satu teman cewek, Rani, mengajak kami bikin mainan. Dia menyuruh kami segera duduk melingkar. Kami menurut.

“Ini ada botol,” ucap Rani, “Nanti aku putar botol ini. Dan kalau botolnya sudah berhenti berputar, kita lihat mengarah ke siapa bagian tutup botolnya. Orang yang berada persis di arah tutup botol, dia harus mau jawab dengan jujur sesuai pertanyaan. Paham?”

Kami mengangguk. Ini seperti permainan di salah satu adegan film “Mujhse Dosti Kagore”. Ternyata film India yang telah merasukimu, Kawan.

Rani memutar botol. Dan saat botol itu berhenti, kami mulai bertanya jawab. Pertanyaannya terserah. Entah yang lucu atau yang serius.

Hingga tibalah saat tutup botol itu mengarah pada Fahmi. Lalu Rani bertanya,

“Mi, jujur, sejak kapan kamu suka sama cowok?”

Pertanyaan itu membuat ruangan jadi hening seketika. Bagiku, itu pertanyaan yang tak terduga. Jadi benar selama ini Fahmi punya ‘penyakit’?

Lantas tanpa membuang waktu, Fahmi mengangguk. Lelaki besar itu pun berucap, “Benar.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kecil.”

Fahmi kemudian berkisah tentang dirinya. Entah bagaimana ceritanya, kelainan itu ada sejak ia masih duduk di kelas 2 SD. Ketika melihat ibunya berganti pakaian dan mengenakan (maaf, br*), ada rasa dalam dirinya ingin memakai juga. Waktu ibunya pergi ke pasar, diam – diam ia masuk ke kamar ibunya, mengambil bra dalam lemari, lantas membawanya ke kamar sendiri. Di dalam kamar ia memakai bra tersebut sembari berkaca. Kurang puas, ia masuk lagi ke kamar ibunya mengambil lipstick. Dioleskan lipstick tersebut di bibir, berkaca lagi. Kemudian ia berjalan lenggak-lenggok macam model perempuan di tivi.

Fahmi juga bercerita, dari kecil ia memang lebih suka main bersama anak cewek. Main masak-masakan, dandan-dandanan, gendong bayi dari boneka, dll. Ia merasa lebih nyaman kumpul dengan cewek. Dia senang jadi cewek. Hal itu membuat dia dibully di sekolah. Disebut banci serta bencong.

Dan yang paling membekas dalam hidupnya adalah ketika dia kelas 4 SD, seorang remaja lelaki SMP tak tau untung mengajaknya ke semak-semak dekat rumah. Lalu terjadilah peristiwa tersebut. Itulah pertama kali ia mendapatkan pelecehan seksual.

Perilaku Fahmi yang tak seperti anak laki – laki lain, membuat orang tuanya curiga. Pada suatu hari, kecurigaan itu pun menjelma nyata tatkala pada suatu siang, mereka mendapati Fahmi berdandan layaknya ibu – ibu. Ia memakai bra, daster, lipstick dan jepit rambut. Orang tua Fahmi sangat sabar. Ia tidak dimarahi hanya dinasehati kalau laki – laki tidak boleh berpakaian seperti itu.

Setelah lulus SD, Fahmi langsung didaftarkan ke pondok pesantren. Fahmi yakin, tujuan orang tua mendaftarkannya ke pesantren, agar ia bisa berubah, mendapat bekal agama yang baik.

Tapi perilaku Fahmi selama di pesantren tidak berubah. Malah, di sana ‘keanehan’ dia mendapat apresiasi dari teman-teman sekamar. Fahmi seperti botol yang ketemu tutup. Dulu, ia sembunyi – sembunyi ketika ingin berdandan ala perempuan. Sekarang teman-temannya malah yang memfasilitasi. Entah dari mana, teman – teman sekamar Fahmi memberinya daster dan lipstick, jika waktu istirahat tiba, Fahmi disuruh memakai semua perabotan cewek itu. Teman – temannya tertawa, Fahmi pun senang.

“Percaya atau tidak,” begitu ucap Fahmi, “Di pondok aku juga pernah mengalami pelecehan. Sama seperti yang aku alami saat SD. Yang ngelakuin ya kakak kelasku.”

Kami menutup mulut. Benar-benar tak menyangka. Bahkan di lingkungan pesantren pun ada oknum santri yang seperti itu.

Seusai menuntaskan sekolah Aliyah, Fahmi memutuskan kuliah. Kuliah tempat dia saat ini.

“Selama kuliah kamu suka cowok di kelas ndak, Mi?” Rani kembali bertanya. Semangat betul dia mengorek sisi pribadi Fahmi.

Yang ditanya mengangguk.

“Siapa?”

“Rizal.”

Bibir langsung mengucap istighfar saat namaku disebut.

“Mi,” aku segera menanggapi, “Eh, maaf, apa kamu sadar kalau perilakumu itu menyimpang?”

Fahmi mengangguk lagi dan berucap lirih. “Tapi aku benar-benar gak ngerti kenapa aku punya perasaan seperti ini.”

“Tapi jujur,” Rudi sekarang menimpali, “Apakah kamu punya keinginan pada perempuan.”

“Ndak punya. Tapi aku ingin sembuh. Aku ingin kayak laki-laki normal. Menikah dan punya anak. Tapi di mana aku mengadu? Di mana aku harus curhat? Aku gak tau. Karena setiap aku cerita begini, pasti dianggap lucu-lucuan. Atau yang paling parah dianggap aib.”

Saat itu. Kami semua tak bisa berkata apa pun.

Mei 2019

Tujuh tahun sudah aku meninggalkan kampus dengan membawa gelar sarjana sosial. Dua tahun setelah wisuda, aku menikah. Dan kini telah dikaruniai seorang anak lelaki.

Pada suatu sore, aku membaca pesan di grup WA alumni, dari Rani,

[Teman – teman, gak adakah yang mau jenguk Fahmi? InsyaAllah selasa aku sama suami mau jenguk. Barangkali ada yang mau bareng.]

Aku segera mengetik balasan, [Fahmi sakit apa, Ran?]

[TBC.] Rani jawab singkat.

Dibalas sama alumni lain, [Padahal Fahmi gak pernah merokok, loh, ya?]

[Ayo siapa yang mau ikut? Kita bisa bareng.] Rani tak menjawab pertanyaan terakhir.

[Ran,] ketikku, [maaf aku gak bisa ikut ke rumah Fahmi. Ada kerjaan, ngisi raport online siswa. Nanti kalau sudah sampai di rumah Fahmi, aku mau video call.]

[Oke, Zal.]

Persis sepulang dari sholat isya’, Rani WA aku, [Zal, ini aku sudah di rumah Fahmi. Mau video call?]

Aku balas cepat, [Mau.]

Lalu Rani ngevideo call aku, tak lama hapenya dipegang Fahmi.

[Assalamualaikum, Rizal.]

Ya Allah, lihatlah, tubuh Fahmi nampak kurus sekali. Mukanya yang dulu tembem sekarang jadi tirus. Mataku langsung berembun melihat kondisinya.

[Eh, waalaikumsalam, Fahmi. Gimana keadaannya?]

[Alhamdulillah enakan. Kamu gimana? Katanya sudah jadi guru?]

Aku mengangguk.

[Sudah berapa anakmu, Zal?] tanyanya.

[Baru satu.]

Percakapan kami tersendat karena sinyal yang kurang bagus.

[Zal, aku minta maaf kalau punya banyak salah, ya?]

[Kamu gak punya salah apa-apa ke aku. Lekas sembuh ya.]

[Aamiin. Makasih, Rizal.]

Sesi video call kami benar-benar terhenti setelah itu.

Dan ternyata, itulah terakhir kalinya aku berbicara dan menatap wajah Fahmi.

Sebab, sudah hari berselang aku mendapat kabar bahwa Fahmi dilarikan ke rumah sakit umum daerah. Statusnya kritis. Itu berita yang tersebar di grup pada siang hari. Dan di subuh sehari setelahnya, Rani memberi kabar di grup,

[Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal teman kita Fahmi Hamid, pukul 02.30 dini hari tadi. Mohon doanya semoga Allah mengampuni beliau dan menerima segala amal kebaikannya.]

Pesan itu menghentak kalbu. Ya Allah. Batas usia hamba hanya Engkau yang tau. Tapi mohon, berikan hamba kematian yang husnul khotimah.

[Ran, kapan dikuburkan?] tanyaku di grup.

[Kata keluarga segera.]

[Oke, aku hari ini izin libur ngajar. Mau ke sana.]

Karena harus memandikan si kecil, dan beres – beres aku baru bisa berangkat pukul 06.30 wib. Kalau lancar, aku akan sampai di rumah duka sejam kemudian, mengingat jarak yang cukup jauh. Di tengah perjalanan, terdengar suara dering hape tanda ada pesan WA masuk. Aku membuka pesan itu ketika berada di lampu merah.

Ternyata itu pesan dari Rani. Dia mengirim foto satu petak makam penuh bunga, tak lupa diberi caption, “Selamat Jalan Kawan.”

Aku merasa ada yang ganjil. Seolah pemakaman Fahmi diburu – buru. Seperti tak mau ada orang tahu pemakamannya. Bahkan nampak di foto hanya segelintir orang yang datang menguburkannya.Segera aku menepi dan menjapri Rani.

[Ran, maaf kalau dirasa lancang. Sebenarnya Fahmi sakit apa?]

Pesanku terbalas segera, [Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya?]

[Iya.]

[Fahmi positif HIV.]

Allahu Akbar! Aku benar-benar tak menyangka akan hal ini.

Lalu tanpa diminta Rani menjelaskan,

[Enam bulan lalu, Fahmi pernah bercerita kalau dia ‘main’ sama anak Jawa Barat. Nah, dia yakin kalau anak itu yang nularin, karena ‘itu’ nya bernanah waktu dimasukin.]

Aku membaca pesan itu dengan menahan mual.

[Aku dikasih tau dokternya waktu nemenin keluarga si Fahmi. Ibunya malu, Zal. Makanya ngarang kalau Fahmi kena TBC. Jasad Fahmi itu ditreatment khusus. Soalnya bisa nular. Itu sebabnya pemakamannya dibuat cepet, gak nunggu keluarga yang dari luar kota dulu.]

Sumpah, aku seperti tak bisa bernafas membaca penjelasan Rani. Tak menyangka Fahmi melakukan hal sejauh itu. Ya Allah, mohon lindungi semua dari perbuatan yang membuat-Mu murka.

Epilog

POV Penulis

“Gitu ceritanya, Fit.” Rizal menjelaskan semua kronologis kisah temannya padaku, “Minta tolong tuliskan kisah ini, ya. Aku gak pandai merangkai kata sepertimu. Semoga setelah ini banyak orang yang sadar betapa bahayanya perbuatan eljibiti itu.”

Aku mengangguk lemah. Mendengar kisahnya membuatku begidik ngeri. Tak sampai terfikir ada orang yang melakukan hal keji itu. Bahkan teman dekat sendiri.

“Makanya, aku sebel banget, Fit, Kalau ada orang yang memaklumi perilaku eljibiti dengan alasan hak asasi manusia. Dia bisa ngomong kayak gitu karena gak kena ke keluarganya sendiri. Coba kalau anaknya yang kena HIV, apa masih bisa dia bicara hak asasi? Dosa dari perbuatan itu emang hakmu, tapi akibatnya bisa sekampung kena. Jasad Fahmi dikasih penanganan khusus, dibungkus rapat, supaya tidak ada cairan dari tubuhnya yang jatuh dan kena orang lain, bisa nular. Bahkan yang memandikan jasadnya pun harus pakai baju khusus. Ngeri, Fit. Sumpah.”

“Kalau menurutmu apa ya, Zal, langkah untuk meminimalisir hal ini?” aku bertanya. Sebagai sesama rekan guru, aku mengenal betul Rizal orangnya pemikir dan suka baca. InsyaAllah aku akan dapat jawaban yang memuaskan darinya.

“Menurutku, pertama, kita harus peduli. Ketika melihat ada saudara atau kerabat yang terindikasi penyakit eljibiti itu, maka langkah pertama kita harus dekati dia. Didekati agar mau disembuhkan alias direhab. Itulah salahku pada Fahmi. Saat mengetahui dia punya kelainan, aku malah menjauhi dia. Bahkan tak pernah kontak setelah lulus kuliah, akhirnya dia memilih jalan yang ia anggap benar, padahal jalan itulah yang membuat celaka. Nah, sayangnya, para ‘penderita’ kelainan ini malu untuk ‘berobat’, karena dianggapnya aib. Kalau orang kena penyakit lain segera ke dokter, tanpa malu. Tapi kalau sakit yang ini mana ada pasien yang rela datang berobat? Padahal penyakit ini juga tak kalah ngeri akibatnya. Itu sebabnya harus didampingi, terutama keluarga, didampingi sampai sembuh.”

Aku masih mendengarkan.

“Kedua, penyebab kelainan ini tak pernah bisa tuntas adalah, karena selalu ditutup-tutupi. Ini seperti fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan hanya sebagian kecil saja, yang tak kelihatan itu yang malah luar biasa banyak. Faktanya, jika anggota keluarga kena HIV akibat dari perilaku menyimpang itu, mereka akan bilang anaknya kena TBC. Malu, itu wajar. Tapi akibatnya adalah bahwa perilaku menyimpang itu dianggap tidak bahaya oleh orang lain. Padahal bahayanya luar biasa. Aku salut banget sama keluarga yang terus terang pada orang lain bahwa anaknya kena HIV akibat kelakuan menyimpang. Akhirnya orang pada hati – hati. “

“Dan ketiga, selain kuatkan doa serta pendidikan seksual pada anak, kita juga harus STOP tayangan orang – orang yang berlagak banci. Meski hanya sekedar lucu – lucuan. Kalau lagi nonton tivi ada adegan orang banci, langsung matikan. Kalau di kampung diadakan lomba bapak-bapak pakai daster, pakai lipstick, segera usul ke RT agar dibatalkan. Diganti lomba lain. Banyak lomba lain yang lebih seru dan lucu ketimbang pakai pakaian yang tak wajar. Bukankah Rasul melaknat orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita? Kita tidak sadar, bahwa pemakluman terhadap laki – laki yang memakai baju perempuan, bisa membuat warga jadi menganggap remeh tentang eljibiti ini. Kita tak pernah tau bahwa tawa kita melihat bapak – bapak pakai baju perempuan bisa berakibat tangisan tak berujung.”

Aku kembali mengangguk, dan berjanji akan menuliskan pengalaman sahabatku ini nanti.

Surabaya, 11 Oktober 2019
02.35 wib

CC: Fitrah Ilhami

Pelajaran sangat berharga yang kita dapat dari kisah ini, maka dari itu marilah kita bersama – sama, jika kita memiliki saudara, teman atau tetangga yang memilki orientasi seksual SSA, jangan takut untuk tetap bersosial dan berinteraksi dengan mereka tentunya dengan batasan – batasan yang kita tentukan sendiri. Ya mungkin tidak semua orang bisa dengan mudah menerima perilaku SSA tersebut, namun jika kita biarkan dan tidak diarahkan sangat disayangkan sekali jika nantinya malah semakin terjebur ke dalam hal yang lebih berbahaya.

Tidak mudah memang, namun sebagai sesama muslim hendaknya walau hanya sekedar mengingatkan semoga pelan – pelan saudara kita yang sedang berjuang dengan SSAnya segera medapatkan pertolongan ALLAH.

Sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Berdoalah Terus Sampai ALLAH Kabulkan

sumber gambar : https://www.islampos.com/wp-content/uploads/2017/02/Berdoa.jpg

Judul diatas adalah sebuah penggambaran bagaimana layaknya kita sebagimana hamba ALLAH menanggapi doa yang kita sampaikan kepada ALLAH, sebagaimana janji ALLAH yang pasti akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Namun banyak diantara kita yang selalu merasa ‘kenapa doa saya tak kunjung dikabulkan oleh ALLAH’ tanpa kita berkaca pada diri seberapa dosa kita kepada ALLAH.

Kita selalu terburu – ingin meminta sesuatu kepada ALLAH tetapi ibadah kita pun seperti dikejar waktu, kita selalu memiliki mimpi yang tinggi namun sujud kita kurang lama dan kita kurang mengendap, merendah dihadapan ALLAH. ALLAH pasti kabulkan doa kita dan seberapa cepat ALLAH kabulkan doa kita bergantung kepada dosa – dosa yang ada dalam diri kita. Teruslah berdoa kepada ALLAH sampai dikabulkan sembari memperbaiki diri dari dosa – dosa yang pernah kita perbuat, jikalaupun permintaan kita tidak ALLAH kabulkan di dunia pasti nanti di akhirat ALLAH akan kabulkan permintaan kita karena ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak kita ketahui.

Seperti apa yang dialami klien kita yang akhirnya bisa menjadikan dirinya sebagaimana fitrahnya yang telah ditetapkan ALLAH dan bisa membina rumah tangga yang baik, semoga kelak bisa menjadi saksi bahwa orang dengan SSA pun tetap bisa menjadi hamba ALLAH yang baik, yang penting jangan pernah putus asa berdoa memohon pertolongan ALLAH dan selalu berprasangka baik kepada ALLAH.

Tetap semangat dan istiqomah kepada klien , semoga selalu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah dan mendapat keberkahan dari ALLAH. aaaaaamiiiiin

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Lindungi Buah Hati dari Predator Seksual

sumber gambar : https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/2018/08/09/2688602482.jpg

Di jaman dulu seringkali orang tua selalu mengingatkan anak – anaknya terutama anak perempuan untuk berhati hati dalam bergaul, ya walaupun itu juga berlaku bagi anak laki – laki tapi tetap saja peringatan tersebut bakal lebih ditekankan kepada anak perempuan mereka.

Namun diera sekarang hendaknya juga orang tua tidak hanya memberikan peringatan khusus kepada anak perempuannya tetapi juga kepada anak laki – laki mereka, kenapa demikian ? jawabnya ‘waspadalah predator seksual sekarang berada dimana – mana’. Baik laki – laki maupun perempuan dari anak – anak hingga dewasa bisa menjadi target dari para predator seksual.

Kenapa predator seksual bisa berada dimana mana ? karena mereka sangatlah susah untuk dikenali ciri – cirinya bahkan mungkin mereka berada disekitar anda entah teman atau keluarga sendiri. Maka dari itu sebagai orang tua diera sekarang hendaknya harus lebih cermat terhadap pergaulan anak – anak mereka baik laki — laki maupun perempuan. Patut dicurigai jika anak laki – laki atau anak perempuan kalian menjalin persahabatan dengan sesama jenisnya secara akrab bahkan sampai intens, bukannya apa – apa atau tidak percaya namun hal itu sebagai cara menghindarkan anak dari hal yang tidak diinginkan.

Jadilah sahabat bagi anak – anak kalian agar timbul keterbukaan untuk menceritakan berbagai hal atau masalah yang dialami anak, dan jangan lupa untuk memberikan pendidikan seksualitas sejak dini kepada anak, sesuai dengan kemampuan dan umurnya, sudah saatnya tidak risih bahkan jijik saat mendengar kata seksualitas, karena diera sekarang sangatlah penting memberikan pendidikan seksualitas kepada anak, agar anak menjadi tau bagaimana harus bertindak kepada sesamanya atau lawan jenisnya dan juga agar membentuk tameng pada diri anak agar dapat menjaga diri dari hal yang tidak diinginkan.

Kisah dibawah ini adalah salah satu contoh bahwa begitu kejamnya predator seksual dan parahnya mereka berada disekitar lingkungannya, hingga menimbulkan dampak yang serius bagi korban, semoga korban tetap istiqamah, semangat dan tidak putus asa memohon pertolongan ALLAH.

Simak kisahnya

“DUNIA SAYA HANCUR SETELAH KEJADIAN ITU”

(Silahkan dibaca sampai selesai. Apa yang saya tuliskan adalah adaptasi kisah nyata salah seorang mahasiswa bimbingan sahabat saya, maaf untuk kesamaan nama, waktu dan tempat).

Jumat pagi selepas senam di halaman fakultas, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak saya kenali. “Gak usah diangkatlah, paling – paling tawaran kredit atau asuransi lagi,” batin saya.
Bukannya saya anti, tapi seringkali mba/mas oknum perusahaan tersebut melupakan etika menelpon.

Pagi ini, sepertinya ada kekuatan lain yang mendorong saya untuk mengangkat telpon tersebut.
“ Assalamualaikum , maaf ini siapa?”
“ Waalaikum salam Bu, maaf mengganggu Bu. Ini saya Budi Bu, mahasiswa bimbingan Ibu angkatan 12. Saya pakai nomor baru, Bu,” jelas suara di ujung sana.
“ Anda bagimana kabarnya, sudah setahun menghilang, masih mau lanjut skripsinya?”
“Maaf Bu, saya sakit setahun terakhir. Ibu ada dikampuskah hari ini, saya bisa ketemu, Ibu? Ada masalah yang harus saya ceritakan kepada Ibu.”
“Saya hari ini rapat sampai jam tiga. Kalau mau, saya ada waktu selepas Ashar. Silahkan ke kantor saya jam 4 sore ya.”
“ Baik Bu, terima kasih. Nanti InsyaAllah saya ke kampus jam 4 sore Bu.”

Teleponpun ditutup.

Jam empat lebih lima menit, terdengar salam dan ketukan dari pintu ruangan saya.
“Waalaikumsalam, silahkan masuk.”
Seorang mahasiswa dengan perawakan kurus dan tinggi masuk ke ruangan saya.

“Astaghfirullah aladzim….kamu kenapa Bud? Duduk..duduk..”
Budi yang dulu berbadan tegap dan berwajah ceria, sekarang tampak berubah total. Kurus dan ceking.

“Apa kabar Bud, kemana saja menghilang?”
“ Iya Bu, beginilah kondisi saya sekarang, jadi seorang pesakitan. Kalaulah saya nggak sakit, nggak mungkin saya menunda nunda skripsi saya Bu.”

“Memangnya Anda sakit apa? Badan jadi kurus ceking begitu.”
“hmmm anu Bu..tapi Ibu jangan cerita-cerita sama dosen-dosen yang lain ya Bu.”

Budi mengumpulkan seluruh energinya untuk memulai bercerita…

“ Saya kena H.I.V Bu….” Budi tak kuasa menahan tangisnya.
“H.I.V?” saya seakan tidak percaya.
“ Iya Bu…”
“ Kenapa bisa Bud? Kamu salah pergaulan? “ tanya saya mulai menginterogasi

“ Panjang ceritanya Bu. Saya sendiri nggak menyangka akan seperti ini. Entah apa kesalahan saya sehingga saya diberi ujian seberat ini,” Budi makin tak kuasa menahan tangisnya.
“ Nih Bud…” saya menyodorkan kotak tisu.
“ Gimana ceritanya?”

“ Ibu kan tau saya suka badminton. Saya sering main badminton disalah satu sports hall di daerah Jagakarsa. Disini saya ketemu dengan kawan-kawan baru, baik yang masih mahasiswa dan yang sudah bekerja, salah satunya Tony, seorang karyawan perusahaan swasta. Suatu sore hari minggu tiga tahun lalu, saya diajak untuk main badminton ba’da Isya. Pas saja memang lagi libur dan di kampus tidak ada kegiatan, saya menerima ajakan tersebut. Selepas main, Tony mengajak saya untuk nginap saja di rumahnya yang tidak jauh dari tempat kami main. Karena orangnya baik, dan kami sudah cukup akrab setelah beberapa kali main bareng, jadilah saya menginap dirumahnya”

“Rumahnya lumayan besar ada dua kamar, satu kamarnya Tony dan satu lagi kamar untuk tamu. Dan saya tentunya tidur di kamar tamu. Selama dirumahnya dia bercerita mengenai aktifitas dia di kantor dan memberikan beberapa motivasi buat saya. Sebelum tidur Tony sempat menyuguhkan teh manis. Dan minuman inilah awal dari malapetaka. Selepas meminum minuman yang disuguhkan, saya merasa sangat mengantuk sekali. Saya kemudian ijin tidur duluan. Pintu kamar tidak saya kunci. Saya tertidur sangat pulas”

Budi menarik nafas, melihat kelangit-langit. Bulir-bulir bening kemudian mengalir lagi dari matanya.
“ Ketika saya terbangun, saya mendapati dubur saya sangat sakit sekali. Saya nggak usah cerita Bu. Ibu tahulah apa yang saya alami. Tony sudah tidak ada, sudah berangkat kerja. Yang ada mba – mba yang tiap hari datang pagi pulang sore yang bersihin rumahnya. Sakit,sedih kesal campur jadi satu Bu. Bodohnya saat itu saya tidak lapor siapa-siapa. Saya langsung pulang kerumah, dan mengubur kisah ini dalam – dalam. Saya trauma sekali Bu. Saya tidak berani lewat di depan hall, semua akses saya ke Tony saya blok. Saya ganti nomor, ganti akun sosmed. Setelah kejadian itu saya berdo’a kepada ALLAH SWT agar kuat dengan ujian yang saya alami malam itu.”

“Dua minggu setelah kejadian saya sempat panas demam, dan ruam kulit. Saya coba google, takut kenapa-napa karena kasus di rumah Tony. Gejala yang saya alami mengarah ke HIV, tapi saya membuang jauh pikiran itu bahkan saya juga nggak berani ke dokter karena takut kalau memang positif HIV. Tapi setelah dua tahun, tiba tiba tubuh saya drop bu, berat badan saya turun dan pembengkakan kelenjar getah bening. Keluarga membawa saya ke dokter. Dan saya divonis positif HIV”

“Saya hancur bu, saya merasa nggak punya masa depan. Nggak ada gunanya lagi saya kuliah dan menyelesaikan skripsi saya. Saya hanya akan menyusahkan keluarga dan banyak pihak”

Budi mengambil nafas dalam-dalam

“ Saya sempat depresi dan mau mati saja. Nggak ada gunanya saya hidup. Beruntung, ayah, ibu dan kakek saya sangat mensupport Bu. Mereka yang menguatkan saya untuk bertahan. Ayah yang senantiasa memotivasi saya untuk bertahan, menyelesaikan kuliah. Beliau percaya saya masih bisa melakukan sesuatu. Beliau percaya saya bisa selesai kuliah dan diwisuda. Beliau sangat ingin melihat saya, anak pertamanya bisa pakai toga, karena dilingkungan kami memang belum ada yang lulus perguruan tinggi negeri Bu.”

Budi mengambil beberapa helai tisu, air matanya mengalir makin deras

“ Selepas idul fitri kemaren, Ayah saya meninggal dunia. Salah satu orang yang paling mensupport saya pergi meninggalkan saya. Saya sangat kehilangan dan kembali drop. Tapi saya ingat pesan beliau bahwa saya bisa bertahan dan saya bisa menyelesaikan kuliah saya. Salah satu motivasi saya saat ini, ya itu Bu, saya ingin Ayah saya di alam sana bisa melihat saya wisuda.

Saya juga tidak kuasa menahan air mata. Saya tahu persis karakter dan potensi yang dimiliki Budi

“ Saya turut sedih dan prihatin Bud dengan kasus Anda. Saya sendiri nggak tau harus bagaimana jika kejadian ini menimpa anak saya. Anda tahu kan solusi terbaiknya”
“ Iya bu…mendekatkan diri kepada ALLAH SWT”
“ iya betul. ALLAH yang maha pemilik rencana, ALLAHlah sang Maha pemilik kehidupan. Serahkan semua masalah kepada-Nya.”

“Sekarang Anda kontrol dimana?

“ Alhamdulillah Bu, ada salah satu RS di Jakarta Pusat yang memberi pelayanan gratis untuk orang-orang posistif HIV seperti saya lengkap dengan obatnya”

“ Alhamdulillah, Kalau begitu. Anda sudah cerita kesiapa saja? Teman-teman anda ada yang tahu?

“ Saya gak berani Bu. Tante dan Om saya saja ada yang tidak mau ketemu saya, karena katanya takut Bu. Saya berani cerita ke Ibu, karena selain pembimbing saya Ibu juga perhatian terhadap kondisi dan prestasi mahasiswa. Teman-teman deket sudah saya ceritakan, dan alhamdulillah mereka mensupport saya, bahkan mengingatkan jadwal minum obat saya.”

“Bud, setiap hamba punya cobaan masing-masing. Dan saya tau ini cobaan yang sangat berat bagi Anda. Semoga Anda kuat ya. Sama seperti almarhum Ayah Anda, saya percaya bahwa Anda juga akan mampu menyelesaikan skripsi ini. Saya tau aktifitas-aktifitas Anda, potensi Anda. Anda adalah orang yg punya komitmen dan bertanggungjawab pada pekerjaan dan tugas- tugas anda di organisasi. Terkait skripsi ini, InsyaAllah bisa segera Anda selesaikan.”


Budi, seorang aktifis mahasiswa yang pintar, berakhlak baik, berasal dari keluarga sederhana, kemudian terjangkit H.I.V karena keganasan para predator di sekitar kita.

Kalau dulu orang bilang, hati-hati anak gadis anda. Sekarang semuanya sama. Hati hati juga dengan anak bujang Anda. Di luar sana banyak predator yang siap memangsa mereka.

Perhatikan pergaulan mereka, dengan siapa mereka bergaul. Anda sudah mulai harus curiga jika ada dua anak gadis terlalu akrab, begitu juga dengan dua anak bujang yang sangat akrab, sering nginap bareng. Bisa saja mereka terkena virus pencinta sesama.

Buat para dosen, bisa bantu untuk ingatkan mahasiswanya, khususnya mahasiswa baru untuk tidak terlalu lugu dan naif dengan pergaulan kota besar. Banyak ancaman mengintai mereka.

Untuk para ayah bunda, jadilah sahabat dan tempat curhat anak-anak kita dan jangan lupa berikan putra-putri tercinta wawasan dengan kejahiliyahan jaman now dan ingatkan kalau banyak predator di sekitar kita.

Dan yang paling utama marilah kita selalu berdo’a kepada ALLAH karena ALLAH adalah sebaik-baik penjaga untuk anak-anak kita.

**

Tulisan ini saya tulis atas permintaan sahabat saya. Sekali lagi Ini adalah kisah nyata, tidak ada fitnah untuk mendeskriditkan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) . Dan semoga bisa jadi pelajaran dan pengingat bagi kita semua.

Abak Munas [Munas Ramli Ph.D]
Dosen FITK UIN Jakarta

Tetaplah waspada kepada siapapun orang yang anda kenal ataupun yang baru anda kenal, predator seksual biasanya bersembunyi dibalik keramahan mereka.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Usaha Tidak Akan Menghianati Hasil, Tetap semangat..

Screenshot diatas adala bukti bahwa tidak ada usaha yang sia – sia jika dibarengi dengan terus berdoa kepada ALLAH, tetap berjuang menuju fitrah yang telah ditentukan, pantang menyerah, dan tetap berprasangka baik kepada ALLAH bahwa pasti ALLAH akan beri jalan disetiap masalah dan pastinya jika kita masih diberi ujian oleh ALLAH tandanya bahwa ALLAH sayang kita, ALLAH ingin kita kembali menuju jalan baik dan kelak insyaAllah kita akan dimasukkan ke surga dan termasuk orang – orang saleh.

Semoga Klien tetap istiqamah dalam menuju jalan kebaikan, menjadi hamba yang lebih baik lagi, dan menjadi hamba sesuai dengan fitrahnya. Dan semoga nanti kita bisa berjumpa di surganya ALLAH. aaaaaamiiiiin.

Tetap semangat !!!!!!!

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Simulasi

Apa yang kami lakukan di Peduli Sahabat itu bukan terapi atau sejenisnya. Kita hanya mengenalkan simulasi kalau meminjam istilah masak-memasak ya ‘mencicipi’.

Setelah mencicipi terserah si klien apakah mau meneruskan atau tidak yang jelas Peduli Sahabat hanya semacan guide (pemandu) berbagai alternatif kehidupan yang tersedia.

Kalau berhasil ya Alhamdulillah.

Jika masih belum merasakan manfaatnya ya didoakan agar mendapat hidayah.

SS di bawah ini adalah testimoni satu klien perempuan kami yang tertarik sesama jenis. Manfaat yang beliau dapatkan adalah atas usahanya sendiri sementara kami hanya mendampingi saja.

#LovePeduliSahabat

Jangan menyerah untuk selalu menuju jalan kebaikan, walaupun banyak rintangan dan tantangan, ingatlah ALLAH selalu bersama kita.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014