Perjalanan Peduli Sahabat

Bagi kawan-kawan yang masih baru mengenal Peduli Sahabat, mungkin masih bertanya tanya atau masih bingung dengan Peduli Sahabat.

Kali ini saya akan berbagi tentang awal mula bagaimana Peduli Sahabat terbentuk hingga telah menjadi Yayasan resmi dengan salah satu misinya yaitu memberikan pendampingan dan konsultasi individu yang merasa bermasalah dengan orientasi seksual dan identitas sesksualnya, individu yang yang maniak gadget/game/pornografi, individu yang mengalami perundungan, individu yang mengalami pelecehan/kekerasan seksual, individu yang melakukan seks pranikah, baik pribadi yang bersangkutan atau pendampingan kepada keluarga dan orang terdekatnya.

Dan bagi yang ingin ditangani oleh Peduli Sahabat jangan khawatir karena setiap pendampingan dan konsultasi tidak akan dipungut biaya sepeserpun alias gratis karena Peduli Sahabat murni memberikan layanan berbasis sosial untuk membuka kapling yang baik di akhirat kelak.

Saya perkenalkan siapa pendiri Peduli Sahabat dan perjalanan Peduli Sahabat.

Ya pendirinya adalah Agung Sugiarto atau yang sering kita panggil Kak Sinyo, entah apa sejarahnya kok bisa dipanggil Sinyo tapi mungkin itu yang membuat kita lebih mudah mengingat kalo denger kata Kak Sinyo pasti teringat Peduli Sahabat. Beliau berasal dari Magelang Jawa Tengah yang pada awalnya juga sama dengan orang awam lainnya buta soal dunia LGBT.

Hingga pada tahun 2008 ketika salah satu lini Penerbit Erlangga bernama Esensi mengadakan lomba menulis kisah nyata dengan topik (memilih salah satu) yaitu PSK, narkoba, selingkuh, dan homoseksual dengan syarat narasumber harus nyata/asli.

Dari keempat topik tersebut menurut Kak Sinyo topik homoseksual paling menarik dan berkesempatan untuk menang karena topik yang lain mudah untuk digali oleh para peserta lomba sebab narasumbernya banyak tersedia di masyarakat. Topik homoseksual agak beda karena tidak akan mudah mencari narasumbernya.

Di tahun itu Kak Sinyo masih bekerja di salah satu penyedia jasa layanan internet, maka untuk mencari narasumber homoseksual dilakukan lewat online. Kak Sinyo membuat pengumuman berisi pencarian narasumber untuk diwawancarai menjadi naskah buku di milis-milis seperti FLP (Forum Lingkar Pena), blog pribadi, dan juga di salah satu situs portal gay yang cukup terkenal di Indonesia.

Sayangnya saat mencari narasumber itu yang didapatkan dari kaum gay bukan tanggapan positif melainkan tanggapan negatif. Menurutu kaum gay bahwa orientasi dan tindakan homoseksual itu bukan penyakit sedangkan sesuai yang Kak Sinyo pelajari dalam Islam hal itu tergolong penyakit hati dan penyimpangan seksual. Sebab tidak ada ilmu pengetahuan untuk berdiskusi tentang hal itu maka Kak Sinyo mengurungkan niat mengikuti lomba menulis tersebut.

Beberapa waktu setelah Kak Sinyo memutuskan batal ikut lomba ada email masuk yang memberitahunya bahwa ada komunitas orang-orang yang tertarik sesama jenis (SSA) namun tidak mau menjadi LGBT. Mereka tergabung dalam sebuah milis (mailing list) ‘hijrah_euy’dari grup Yahoo.com. Tentu informasi itu menarik minat Kak Sinyo kembali untuk mengikuti lomba dan mengulik komunitas tersebut karena sepemahamannya semua yang berbau tentang homoseksual pasti LGBT namun ternyata tidak semuanya begitu.

Dari situlah kemudian Kak Sinyo mulai mendaftar menjadi member di milis ‘hijrah_euy’ (HE) dan mencari narasumber di sana untuk diwawancarai guna dijadikan naskah lomba. Tanggapan member milis HE ternyata sangat positif bahkan pemilik milisnya turun tangan langsung memberikan masukan baik berupa bacaan cetak atau tautan-tautan online tentang dunia homoseksual.

Namun karena data milis HE sangat banyak dan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan naskah lomba tidak terkejar Kak Sinyo gagal untuk mengkuti lomba. Kak Sinyo membutuhkan waktu kurang lebih setahun untuk menulis naskah tentang homoseksual.

Kak Sinyo terlanjur menjadi tempat curhat puluhan teman-teman SSA. Lama-lama semakin banyak apalagi saat naskah yang buat lomba diterbitkan secara indie di tahun 2011 ( judul bukunya adalah ‘Dua Wajah Rembulan’ ). Ada teman yang telpon berjam-jam sampai hp Kak Sinyo hang, banyak yang chat lewat YM (Yahoo Messeger), sampai datang ke rumah.

Dari beberapa narasumber yang sudah berhasil menjalani hidup di jalan ALLAH walau tertarik secara seks kepada sesama jenis maka mulailah Kak Sinyo membuat uji coba dengan menyusun langkah-langkah untuk membantu teman-teman yang mempunyai SSA. Ternyata rangkaian langkah tersebut cukup efektif membantu.

Tahun 2014 buku Dua Wajah Rembulan dibuat versi parenting dengan judul Anakku Bertanya tentang LGBT dan pada tahun yang sama berdirilah komunitas Peduli Sahabat di Facebook yang digawangi oleh Kak Sinyo untuk membantu orang-orang dengan SSA agar tetap dapat hidup sebagai orang yang sesuai dengan fitrahnya (heteroseksual). Sedangkan Yayasan Peduli Sahabat sendiri didirikan pada tahun 2015 lewat bantuan Aila (Aliansi Cinta Keluarga) hingga sekarang.

Salam Peduli Sahabat

Dont Judge !!!

Woy banci !!!

Woy dasar maho !!!

Woy dasar murahan !!!

Dan masih banyak woy woy woy yang lainnya !

Pernahkah kalian ngatain orang dengan kata – kata tersebut, dengan penuh keyakinan bahwa orang yang kalian kata – katain seperti apa yang kalian katakan.

Pasti jawabnya banyak yang pernah .

Ya sayapun mungkin juga pernah ngatain kayak gitu walaupun mungkin sudah lupa kapan.

Namun setelah saya baca kisah ini, mungkin saya dan kalian telah melakukan suatu kesalahan besar saat dengan mudahnya ngata – ngatain orang . Semoga ALLAH ampuni dosa kita jika kita pernah melakukannya.

Sungguh kisah ini mungkin akan membuat kita mulai berfikir lagi saat ingin menjudge orang.

Simak kisahnya

Labelling

Beberapa hari yang lalu saya membaca kisah orang tua kak SM, ayahnya gay. Saat kak SM kecil, seringkali berjalan dengan ayahnya yang tampan, rapi, halus, sopan, guru SD dan anak-anak tetangga sekitar meledek ayah kak SM, “Woyy bencong…bencong ..bencooong…”

Hmm mulut anak-anak itu memang kasar tapi menyuarakan kebenaran, yang akan terungkap pada sidang perceraian menginjak 33 tahun usia pernikahan ortu kak SM.

Saya teringat masa kecil saya. Adik-adikku yang laki-laki sering mengata-ngatai anak laki – laki tetangga kami bernama AD sebagai Si Bencong. Anak-anak lelaki di lingkungan kami tak mau mengajak AD bermain karena AD kemayu, putih, tampan dan senang bermain dengan anak perempuan, bermain anjang-anjangan (masak-masakan), bermain boneka.

AD kadang menangis dan mengadu pada ortunya. Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, mulutnya tidak bisa disumpal nasehat orang tua. Labelling “Bencong” melekat pada AD, mungkin walau perih AD akhirnya abai terhadap sebutan itu. Ia tidak lagi reaktif menangis keras, kala anak-anak lelaki bermain sepeda ramai-ramai sambil teriak, “Bencong wooy Bencong” saat AD bermain Barbie dengan anak-anak perempuan.

Bertahun-tahun kemudian, saat itu tahun pertama pernikahan saya, saat kendaraan kami melintas di jalan komplek perumahan yang kami tempati, suami saya mengomentari sosok perempuan cantik, full make up, berpenampilan sexy, “Wuih…di sini ternyata ada cewek 200%.”
(Tahun pertama itu, kami masih tinggal di Kompleks Mertua Indah, di rumah ortuku😅).

Ternyata cewek 200% itu AD! Konon dia juara 1 kontes waria tingkat provinsi. Pantesan …cuantik bgt🤭🤭. Nah kan? Ledekan anak-anak itu seperti ramalan yang akan menjadi kenyataan suatu hari nanti….

Tepat di 10 tahun pernikahan kami, saat suamiku opname di sebuah RSUD, tak sengaja aku bertemu dengan JY, adiknya AD. “Eh, JY naha maheh di dieu ….Saha nu geuring?” AD jawabnya. Tapi di ruang isolasi, kemungkinan AIDS.

Tak berapa lama, suamiku sehat kembali sedangkan AD meninggal dunia.
….

Saya kemudian teringat masa SMP. Saya bersekolah di SMP favorit di kotaku. Saat kelas 2, Ada guru matematika ganteng, wangi, agak melambai. Busananya khas, bersafari, celana pantalon ketat. Guru math itu berinisial SDSB wkkkk seperti singkatan judi yang hits kala itu. Dia minta dipanggil Pard*d*.

Pard*d* guru yang baik tapi galak jika menghadapi kami, siswinya. Lembut menghadapi siswa. Pernah aku salah menjawab soal di papan tulis, dan dia menarik rambut lembut yang ada dekat pelipis. Dia tarik kencang. Perih, sakit tau, dasar homo!

Nah, Aku baru tahu istilah homo dari teman2ku. Di depan guru math, kami memanggil dia Pak Pard*d*, dibelakang kami sebut dia si PJ homo. Soalnya ngeselin banget tau! Itu sama si BY, dia kasih les tambahan gratis. Tiap malam Minggu datang ke rumah BY ngasih les math. Belum lagi sama YD …kata temen sekelas YD, si PJ homo ngasih satu set jangka. Pokoknya si homo jadi perbincangan hot kala itu.

Lama waktu berselang, saat itu aku sudah kuliah di universitas negeri ternama, aku sedang jalan kaki menuju rumahku. Deg! Kulihat pemandangan mengharukan. Seorang bapak menggendong bocah memakai kain aisan sambil memegang payung. Di samping bapak itu, seorang perempuan ayu berjilbab menjinjing belanjaan di tangan kanannya. Tangan kirinya menggenggam anak kecil kisaran 5 tahun.

Kami berpapasan, dan tak akan kulupa pemandangan mengharukan tersebut. Si PJ homo ternyata telah menikah dan punya 2 anak. Duh! Ternyata dia tidak homo? Batinku. Kali ini mulut kasar jaman remaja muda ternyata salah? Syukurlah dia tidak homo. Dia tampil jadi bapak penyayang, walau aneh. Iya aneh, karena dia menggendong anaknya memakai samping (kain batik tradisional) sambil membawa payung. Fatherhood? He’s just fathering. ..what a day!

Bertahun2 kemudian, saat itu aku sedang mengambil S2 di univ ternama juga di Jkt, aku sedang santai baca Kompas. Kubaca berita tentang seorang kepsek SMP initial SDSB di kota asalku yang dilaporkan OB atas tindak pencabulan. OB tersebut disodomi secara paksa. Dia tidak terima sehingga membuat laporan pada kepolisian setempat.

OMG! Si PJ homo ternyata memang homo!!

Labeling, sekali lagi labeling. Penyebutan negatif secara berulang-ulang menorehkan luka mendalam. Entah karena labeling di masa kecil, lantas AD kelak menjelma jadi waria.

Labeling, kutemukan pada kisah kakak2 di sini. Betapa seorang SSA menjadi tertekan karena sedari kecil dicap BANCI oleh teman2 masa kecil sehingga di usia dewasa menjadi pribadi intovert yang takut bersosialisasi, takut di panggil misalnya dengan sebutan “Si PJ homo” panggilan “kesayangan” kami anak2 smp pada guru math kami.

Maka ada baiknya kita mengajarkan pada anak2 kita untuk tidak mengolok2 dengan panggilan yang menyakitkan hati. Mungkin takdir bisa sangat berbeda bila AD, tetaplah kita panggil AD. Atau PJ Homo kita panggil Pard*d* saja …sebab nama adalah doa!

Sekian

Sudah agak ngeh kan sekarang saat kita mau ngata – ngatain orang, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada setiap orang nantinya. Namun setelah membaca kisah ini setidaknya berfikirlah kembali saat ingin ngata – ngatain atau mengolok – olok orang dan fikirkan lagi dampak apa yang akan terjadi.

ta mau ngata – ngatain orang, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada setiap orang nantinya. Namun setelah membaca kisah ini setidaknya berfikirlah kembali saat ingin ngata – ngatain atau mengolok – olok orang dan fikirkan lagi dampak apa yang akan terjadi.

Seperti cerita diatas jika mungkin Si AD tetap dipanggil sesuai dengan namanya yaitu AD dan kita nasehati ,kita tetap mau bergaul dengan AD, dan memberikan motivasi – motivasi agar AD bisa menjadi laki – laki sesuai dengan fitrahnya. Bisa saja kejadian dia Si AD yang akhirnya jadi seorang waria dan berakhir denga AIDS bisa terhindarkan.

Semoga ALLAH ampuni dosa kita dan selalu dituntun dijalan kebaikan dan tetap sabar dan ikhlas dalam menerima setiap ujiannya.

Dan semoga dengan kisah diatas kita bisa jadi lebih peduli terhadap sodara sodara kita yang mungkin sedang menerima ujian yang sama seperti Si AD. Agar tetap mau bergaul, menasehati dan memberikan motivasi motivasi agar menjadi manusia sesuai dengan fitrahnya.

Sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/

Perjuanganku

sumber gambar : https://tebuireng.online/wp-content/uploads/2018/08/Berjuang.jpg

Yakinlah selalu ada hikmah dibalik apapun yang sedang ataupun yang telah terjadi pada kehidupan ini. Bersandarlah selalu dan memohon pertolongan kepada ALLAH karena ALLAH lebih tahu dari apa yang tidak kita ketahui.

Jadikan kisah masa lalu sebagai bekal agar masa depan menjadi lebih baik,

Dan juga maafkanlah masa lalu agar tidak menimmbulkan penyakit hati, agar mempermudah langkah di masa depan.

Simak kisahnya

Perkenalkan saya Nur Hidayat. (Nama Samaran)

Saya seorang SSA yang sudah beristri dan mepunyai seorang putra. Saya mencoba mengingat kembali apa yang menjadikan saya seorang SSA. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran untuk member grup MM sekalian.

Kata orang tua saya, dulu saya adalah sosok anak yang pintar, lucu dan aktif. Saya mempunyai 3 orang kakak perempuan dan 1 orang kakak laki-laki (abang). Masa kecil saya adalah anak yang baik budi dan sangat dimanja. Berbeda dengan saya, abang adalah anak yang cukup nakal. Abang tidak dekat dengan saya.

Berdasarkan cerita dari ibu, dulu kakak perempuan saya sering mengajari saya tarian india. Dan saya sangat lihai menari (*kalau mama cerita ini saya merasa malu). Mungkin ini salah satu faktor penguat yang membuat saya menjadi SSA.

Ibu saya adalah sosok yang sangat saya banggakan. Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Saya sangat sayang dan sangat dekat dengan ibu. Lalu, bagaimana dengan ayah? Ayah saya orangnya cuek. Orangnya juga keras, dan kalau marah sangat menyeramkan. Ingatan yang paling kuat soal ayah adalah : kepala saya pernah dipukul sampai bengkak gara-gara tidak mau diminta tolong membelikan korek api ke warung.

Setelah saya ingat-ingat lagi, ayah tidak pernah mengajak saya shalat kemasjid, mangajarkan mengaji, mengajak main dsb. Semua diserahkan kepada guru ngaji. Padahal ayah saya adalah orang yang taat beribadah dan terkadang diminta menjadi imam di mesjid. Pernah saya merasa iri kepada teman sepermainan yang mereka sangat dimanja/disayangi oleh ayahnya.

Suatu hari dikampung saya sedang musim permainan gangsing dari kayu. Teman-teman saya mempunyai gangsing yang sangat keren. Mereka bilang mereka dibuatkan gangsing oleh ayah mereka. Saya pulang sambil mendatangi ayah.
Saya: “Yah, bikinin gangsing yah. “
Ayah: ”Ah males. Ayah capek. Bikin sendiri saja sana” *Dengan nada yang tidak enak.

Betapa hancurnya hati ini saat itu. Akhirnya saya pun membuat gangsing sendiri yang alakadarnya dan tentunya tidak sekeren gangsing teman-teman yang dibuatkan oleh ayah mereka.
Semenjak itu, saya tidak pernah minta dibuatkan mainan apapun lagi.

Saya coba ingat-ingat lagi. Saya lupa kapan terakhir saya dipeluk ayah. Saya lupa pernah dicium ayah. Saya lupa pernah diajak main oleh ayah.

Apakah ayah saya yang membuat saya seperti ini?

Tidak, bukan. Ayah saya adalah orang yang baik. Orang yang sayang keluarga, orang yang bertanggung jawab walaupun ia tidak banyak bicara. Saya sangat menyayangi ayah. Mungkin memang karakter beliau yang seperti itu. Mungkin beliau sangat lelah seharian bekerja dan lelah pulang pergi menggoes sepedanya yang sudah usang.

Ya Allah hamba memaafkan kesalahan ayah hamba. Semua ini terjadi semata-mata hanya karena ujian dari engkau.

Saya flasback lagi. Ternyata semasa kecil, saya banyak bergaul dengan perempuan. Alasanya karena anak laki-laki dikampung saya adalah anak yang kasar. Dan saya sering dikerjain/menjadi bahan bulian. Kalau main petak umpet semua anak laki-laki selalu bersekongkol untuk ngerjain saya. Saya bisa 20 kali jaga/kalah berturut-turut. Saya melihat mereka tersenyum bahagia setiap kali ngerjain/membuli saya. Sehingga saya lebih senang bergaul dengan anak perempuan yang tidak kasar. Walaupun sebenarnya saya masih tidak suka dengan permainan perempuan. Mungkin pembulian kepada saya terjadi karena saya terlalu dimanja dirumah. Sehingga tidak mampu beradaptasi/bersaing dengan dunia luar yang keras. Tapi syukurnya, semenjak SD kelas 4 saya tidak suka bergaul dengan perempuan lagi. Mungkin karena faktor sering dikatain banci karena main dengan perempuan terus.

Saya flash back lebih dalam lagi, ternyata saya pernah dilecehkan saudara sendiri. Pertama oleh tetangga yang masih saudara yang datang mampir kerumah memakai sarung. Kepala saya dimasukan kedalam sarung untuk dipaksa melakukan or*l s*x. Dan yang kedua kali, oleh abang yang tidur sekamar dengan saya.

Saat tengah malam, abang saya membuka celananya dan memaksa saya melakukan or*l s*x. Saya hanya diam mengikuti. Semenjak itu saya merasa ada yang aneh dengan diri saya, saya malah menikmatinya. Sebagai anak kecil, saya tidak berpikiran itu adalah hal yang salah. Ditambah lagi dilakukan oleh saudara sendiri. Kejadian itu dilakukan abang hingga 3 kali. Saat saya minta yang keempat kalinya, abang marah-marah kepada saya. Mungkin karena beliau memang sudah baligh dan paham hal itu adalah dosa. Lalu bagaimana dengan saya? Ingatan utu masih membekas sampai saat ini.

Aku maafkan semua orang yang pernah mendzolimiku dulu, termasuk abang. Mungkin dia saat itu baru memasuki usia puber dan hasrat nya sedang tinggi saat itu. Alhamdulillah abang saya stright dan saat ini dia sudah menikah. Saya tidak tahu apakah perbuatan masa kecil itu masih diingat oleh abang atau tidak. Yang jelas saya memilih untuk pura-pura lupa dihadapannya.

Kesalahan yang terjadi dulu cukup ku ambil hikmahnya. Sebagai seorang ayah Inysa Allah akan kuberikan kasih sayang kepada anak laki-lakiku saat ini. Akan ku ajak ia bermain dan kubuatkan mainan semampuku dan kubahagiakan dia. Tidak akan kubiarkan hal yang menimpaku terjadi padanya. Cukuplah ujian yang sangat berat ini menimpaku saja.

Dan sungguh islam sangat sempurnya. Islam melarang anak tidur satu kasur dengan saudarnya meskipun satu jenis kelamin. Pisahkanlah anak-anak anda saat tidur dan saat mandi dengan saudaranya. Ajari anak kita tentang aurat dan bagian mana yang boleh disentuh.

Semoga kisahku bisa diambil pelajaran. Terima kasih 😇

sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/permalink/3311550725540352/

Waspada Dunia Pelangi di Dalam Anime

sumber gambar : https://statik.tempo.co/data/2016/04/01/id_494460/494460_620.jpg

Anda suka anime ?

Pasti jawabannya “Ya saya suka anime” termasuk saya juga ! penggemar anime sejak kecil terutama anime yang bergenre action dan olahraga.

Siapa sih yang gak suka anime, hampir seluruh anak kecil hingga orang dewasa pasti tahu dan suka dengan anime.

Ada berbagai genre anime yang sekarang bermunculan, dari yang biasa sampai anime ektrim pun ada.

Kalo saya dari kecil sukanya cuma anime itu – itu saja seperti naruto, captain tsubasa, dragon ball, dan upin – ipin walaupun serialnya diulang – ulang ditonton berulang – ulang tetap tidak bosan,hahahaha

Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi dan makin mudahnya akses internet untuk berbagai kalangan masyarakat, Semua dari anak kecil, orang dewasa, orang tua, semua pegang yang namanya smartphone dan tidak mungkin kalo tidak bisa membukka akses internet.

Karena kebebasan dan kemudahan akses internet itulah maka juga semakin lebarnya kesempatan hal – hal negatif untuk diakses, walaupun di mesin pencarian google di negara kita sudah tidak akan keluar jika mengetikkan kata kunci berbau mesum namun ketahuilah bukan hal sulit untuk menemukan hal negatif dan mesum di internet dengan kecanggihan teknologi saat ini, terutama dalam tulisan ini saya mengkhususkannya ke anime.

Tulisan ini saya salinkan dari anggota group facebook menanti mentari, yang sharing tentang fenomena dunia pelangi di dalam anime dan efeknya.

Simak penjelasannya

Jadi gini. Beberapa hari lalu, ada postingan grup Polygot di beranda saya yang membahas guyonan LGBT, saya baca sekilas komentar-komentar netizen. Lalu perhatian saya teralihkan pada beberapa akun yang menggunakan pp anime.

Saya stalk. Dan nyesek saya bacanya saat kepoin juga akun lain yang mirip-mirip. Pemilik akun-akun tersebut kebanyakan adalah para remaja, dan mereka mengaku sebagai wibu. Wibu adalah sebutan untuk orang yang amat menggemari segala hal tentang Jepang, entah anime, manga, serial drama, kebudayaan, bahasa dan lain sebagainya tentang Jepang. Biasanya kebanyakan wibu adalah otaku. Otaku adalah sebutan untuk orang yang benar-benar fanatik serial anime, manga, tokusatsu.

Gak ada yang aneh dari para wibu atau otaku. Sah-sah aja toh dulu jaman saya SMP ~ SMA saya sempat menjadi wibu/otaku (sekarang enggak, udah emak-emak). Yang bikin saya terkejut dan nyesek adalah wibu dan otaku jaman sekarang ternyata lebih SINTING daripada generasi jaman dulu (90’an akhir ~ 2000’an awal). Serius SINTING.

Mungkin karena jaman millenial ini segala informasi mudah diakses bahkan sulit untuk disaring. Sehingga muatan-muatan negatif yang dimiliki oleh kebudayaan negara lain akhirnya tertelan mentah-mentah.

Jepang misalnya, bangsa Jepang terkenal bersih, disiplin dan hardworking. Tetapi mereka juga punya sisi negatif lain, salah satunya budaya LGBT yang dibiarkan tumbuh subur di sana bahkan mungkin sudah menjadi budaya pop. LGBT begitu transparan, gak lagi tabu bahkan diterima meski pun belum ada undang-undang yang meresmikan pernikahan sesama jenis. Begitu yang pernah saya baca. Di sana itu, sebuah perusahaan gak bisa main pecat karyawan yang ketahuan LGBT. Malah mereka diberi hak yang sama seperti karyawan lainnya, misal karyawan yang memilik pasangan sejenis dan anak adopsi diberi fasilitas tunjangan kesehatan dan asuransi jiwa dari perusahaan, mereka diberi hak yang sama dengan pasangan hetero yang lain. Gak boleh ada yang menjudge malah. Demikian lah Jepang, negara yang belum meresmikan pernikahan sesama jenis, tetapi LGBT begitu diterima. CMIIW.

Dulu jaman saya sekolah tahun 90’an sampai 2000’an. Satu-satunya media yang memberikan informasi soal anime dan manga hanya televisi dan penerbit elex, juga majalah-majalah anime. Memang saat itu ada warnet namun gak banyak. Di jaman itu kita disuguhkan beberapa anime yang genre nya masih aman, seperti Detektif Conan, Captain Tsubasa, Rurouni Kenshin, Inu Yasha, beberapa serial tokusatsu (Power Ranger, Ultraman, Kamen Rider), serial J-Drama dan anime lain sebagainya. Saat itu sependek yang saya tahu, semua masih aman, para wibu/otaku remaja masih lebih suka serial kisah cinta male x female. Normal.

Namun sekarang? Kebanyakan selera para otaku/wibu jaman now melenceng dari jalur. Selera percintaan mereka mulai bergeser ke arah LGBT. Bahkan mereka berpendapat, jaman now gak musim lagi kisah cinta lawan jenis. Jaman sekarang lebih asik serial Yaoi dan Yuri.

FYI, Yaoi adalah anime/manga kisah Boy’s love (kisah cinta antara sesama laki-laki/Gay) dan Yuri adalah anime/manga kisah Girl’s love (kisah cinta antara sesama perempuan/Lesbian).

Jaman now para otaku dan wibu sudah banyak juga yang melenceng seleranya. Siapakah mereka? Mereka adalah Fujoshi dan Fudanshi.

Fujoshi adalah sebutan untuk kaum cewek yang sangat menggemari serial anime/manga Yaoi Yuri.

Fudanshi adalah sebutan untuk kaum cowok yang sangat menggemari serial anime/manga Yaoi Yuri.

Betapa jumlah mereka mulai semakin banyak dan sangat banyak. Anak remaja yang tadinya straight bisa banget berpotensi SSA. Kok bisa? Bisa lah. Kan cerita yang disuguhkan dikemas sangat manis dan indah. Tahu sendiri lah manga-manga Jepang yang pernah kita baca, ceritanya selalu menarik dan bervariasi. Termasuk manga/anime LGBT. Menurut mereka cinta itu universal, tidak peduli apa pun jenis kelaminnya, cinta adalah cinta. Nah, rasanya saya juga dulu pernah berpikiran sama.

Jaman saya sekolah dulu saya langganan majalah Animonster. Majalah anime/manga terkeren pada jamannya. Di majalah itu banyak sekali bahas anime manga terbaru, bahkan membahas tentang musik, drama, hingga kebudayaan dan bahasa Jepang. Dan saya tahu soal LGBT dari majalah tersebut. Ada beberapa volume yang mengupas tuntas perkara anime/manga LGBT. Dari majalah itu saya tahu anime/manga mana saja yang genrenya LGBT dan mana yang enggak. Dan manga LGBT pertama yang saya baca judulnya adalah GRAVITATION (Yaoi).

Saat itu saya antusias, pikir saya keren nih kisah cinta cowok x cowok, maka saya baca lah manga itu. Manga Gravitation berkisah soal seorang rocker muda yang terkenal yang jatuh cinta kepada seorang penulis tekenal. Keduanya adalah publik figure. Karena mereka figure terkenal, mereka menyembunyikan hubungan terlarang mereka dari publik, lalu suatu hari hubungan mereka akhirnya ketahuan, kemudian ramailah berita percintaan homo mereka sampai geger se-Jepang. Lalu ada scene di mana si novelis ini mengadakan konferensi pers lalu menyatakan kepada publik bahwa tidak ada yang salah dari hubungan mereka, kurang lebih begini isi dialog balonnya ;

“Apa yang salah dari cinta kami? Apa hanya karena dia seorang laki-laki lalu aku tak berhak mencintainya? Seandainya dia seorang gadis, aku pun pasti akan mencintainya. Hanya kebetulan ia adalah seorang laki-laki. Jadi tak ada yang salah dari cinta kami.”

Nah dulu saat saya masih remaja, saya sempat terbius juga tuh dengan quotes tersebut. Ya saya pikir gak ada yang salah kok, namanya juga cinta. Namun tetap sih di hati kecil, saya merasa jengah juga, untungnya saya gak jadi Fujoshi. Saya masih lebih suka serial manga/anime yang genrenya normal-normal aja. Alhamdulillah. Karena kalau enggak, kemungkinan saya bakal jadi fanatik fujoshi.

Banyak banget ternyata serial manga/anime yang memasukkan kaum pelangi sebagai tokoh utamanya. Bahkan serial Sailor Moon, Cardcaptor Sakura, Naruto, juga Saint Saiya sebenarnya juga ada unsur LGBT hanya saja tersajikan secara samar/halus. Nah yang halus/samar ini sebutannya serial shounen-ai dan shoujo-ai.

Shounen = Anak laki-laki
Shoujo = Anak perempuan
Ai =Cinta.

Saya pikir gak aneh sih kenapa negara Jepang sangat ramah terhadap kaum pelangi. Karena jaman dulu, di jaman edo, jaman kekaisaran Shogun Tokugawa masih bertakhta, sempat terbentuk suatu kelompok kepolisian samurai yang bertugas sebagai pelindung pemerintahan Shogun dari para pemberontak. Nama organisasi itu adalah Shinsengumi. Mereka ini pasukan khusus yang dibina sejak remaja sampai dewasa hingga terbentuk menjadi pasukan Shinsegumi siap pakai. Kayaknya semacam sekolah militer kali ya, cuma alatnya pedang katana, karena saat pelatihan mereka diharuskan tinggal di asrama. Nah karena dari usia remaja hingga dewasa ketemu nya sema kawan sejenis lagi, dan lagi maka gak sedikit dari mereka yang terlibat cinta lokasi sesama jenis. Banyak manga/anime yang mengangkat tema Shinsengumi, dan biasanya pasti ada saja tokohnya yang diceritakan gay. Karena memang begitulah adanya. Pemerintah kekaisaran dulu gak melarang praktik homosexual merebak di kalangan militer.

Itu di Jepang ya, di negara lain pun pasti ada. Termasuk negara kita, hanya saja negara kita masih waras (semoga seterusnya).

Di dalam serial Rurouni Kenshin juga diceritakan kelompok Shinsegumi ini. Kalau pernah nonton film Rurouken pasti tahu adegan saat di mana Himura Kenshin membantai para samurai muda yang tengah berjalan beriringan di gang sempit, seragam pakaian yukata yang mereka kenakan sangat khas, yaitu berwarna biru muda dengan aksen zigzag putih di tepian lengan. Ciri khas lain kepala plontos menyisakan cepol ditengah, sambil nyelipin pedang katana di sela ikat pinggang. Nah mereka itulah pasukan Shinsengumi. Tapi gak semua anggotanya homo, masih ada kok yang hetero.

Selain Shinsegumi ada juga budaya kuno Jepang yang berpotensi banget mempraktekkan LGBT, yaitu Kabuki. Kabuki adalah seni teater di mana tokohnya adalah seorang aktor yang diwajibkan berperan sebagai seorang wanita (bisa berperan jadi geisha atau wanita bangsawan) pokoknya harus pria yang memerankan peran wanita, gak boleh wanita asli. Semua pemeran harus laki-laki, wanita gak boleh ikut di teater Kabuki. Entah lah kenapa harus begitu, emak pun tak tahu. Belum cek Google.

Di Indonesia juga ada deh, seni ritual kuno yang melibatkan figure transgender sebagai pemimpin ritual adat di dalamnya. Ah saya lupa naman ritualnya dan daerah mana. CMIIW.

Yah, makanya serial manga/anime bahkan drama Jepang sana, udah gak aneh lagi, banyak banget serial yang bertemakan kaum LGBT, bahkan ada satu atau dua boyband yang semua membernya adalah gay. Sengaja katanya demi memuaskan para penggemar fujoshi dan fudanshi. Saya lupa nama boybandnya. Video klipnya sungguh menggelikan.

Makin ke sini ternyata semakin parah. Jaman millenial yang serba cepat mengakses informasi ini, menjadikan anak-anak remaja mudah terpapar LGBT dalam bentuk apa pun. Para wibu/otaku di jaman ini telah banyak menjelma menjadi para fujoshi dan fudanshi. Kata saya sih lebih Sinting.

LGBTQ emang pinter menularkan virusnya. Dikemas dalam bentuk apa pun dan mereka selalu menggaungkan bunyi yang sama, bunyi dialog tiap kali saya baca serial manga yaoi/yuri, pasti kurang lebih gini ;

“Tidak ada yang salah dari cinta kami. Meskipun dia laki-laki dan aku laki-laki, kami saling mencintai.”

atau

“Tidak peduli ia adalah seorang perempuan sepertiku, tidak ada yang salah, kami sama-sama saling mencintai.”

Nah secara gak sadar, pembaca akan tercuci otaknya. Sering baca/nonton serial begituan lambat laun akan menerima LGBT. LGBT akan menjadi gak aneh lagi, bahkan mungkin menantang. Malah kalau saya baca komentar remaja wibu yang fujoshi/fudanshi, mereka akan cenderung lebih menyukai kisah percintaan sesama jenis lalu bukan tidak mungkin mereka akan terpapar hasrat SSA di jiwa mereka atau malah mempraktikkannya. Maka gak jarang, kita temukan remaja jaman sekarang tiba-tiba jadi belok dan malah bangga akan kebelokannya.

Ya itu tadi kisah percintaan sesama jenis dibuat begitu indah dan sweet, lalu penokohan/pewatakan para tokoh imajiner bisa dikemas sangat keren. Dua cowok tampan yang saling jatuh cinta atau dua cewek cantik yang saling jatuh cinta. Ditambah dengan quotes andalan kaum pelangi bahwa Cinta itu Universal, apa pun jenis kelaminnya gak ada yang salah dari cinta kami.

Eww 😑

Sekian …..

Jadi harus lebih waspada sekarang , dan peran orang tua sangatlah penting dalam hal ini, orang tua harus jadi sahabat bagi anak, dengan begitu dalam hal ini orang tua bisa menggali tentang apa saja kesukaan atau apa saja yang suka anak akses di dunia maya.

Orang tua harus mulai mau belajar dengan yang namanya teknologi karena jika orang tua acuh dengan teknologi dan hanya memfasilitasi anaknya dengan kemajuan teknologi yang ada tanpa orang tua juga mau belajar maka antipasi dan pengawasan orang tua kepada anak dari hal negatif hanya sebatas yang ia lihat secara nyata tanpa tahu aktifitas anak di dunia maya.

Karena dunia maya menawarkan fasilitas yang lebih menarik di jaman sekarang, dan siapa saja bisa mendapatkannya.

Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari ALLAH Ta’ala dari hal – hal yang buruk dan selalu dibimbing dijalan yang lurus.

sumber : https://web.facebook.com/groups/menantimentari/permalink/3513177075424274/ Grup Menanti Mentari merupakan grup khusus dari Peduli Sahabat yang menampung suami atau istri (juga para simpatisan) yang pasangannya diketahui berorientasi non-heteroseskual.

Modus Penelitian Berbuntut Pelecehan Seksual Oleh Seorang Guru

sumber gambar : https://www.law-justice.co/img_post/1/2019/2019-07-21/ed04c64bc6003129280918f0f81b6519_1.jpg

Seorang guru yang harusnya memberikan teladan dan pendidikan bagi murid-muridnya justru malah memanfaatkan muridnya sebagai bahan pelampiasan hasrat seksualnya.

Seperti dengan apa yang terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama yang ada di Malang seorang guru telah diduga melakukan pelecehan seksual kepada beberapa muridnya dengan modus menyuruh muridnya untuk bermasturbasi dengan alasan untuk penelitian.

MALANG – Seorang guru bimbingan konseling di sebuah SMP di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ditangkap polisi karena diduga melakukan pelecehan seksual. Pria berinisial CH (38) itu diduga meminta 18 siswanya bermasturbasi atau onani dengan modus untuk penelitian.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan, kasus itu terungkap setelah ada seorang korban mengadu ke orangtuanya terkait perbuatan CH. Orangtua siswa lalu berkoordinasi dengan guru yang ditindaklanjuti dengan mengumpulkan 18 siswa yang jadi korban.

Setelah itu kasusnya dilaporkan ke polisi, pada 3 Desember 2019. Polisi kemudian menyelidikinya dengan memeriksa saksi-saksi serta mendatangi tempat kejadian.

“Pelaku mengarah ke CH ini, lalu dilakukan penyelidikan. Namun yang bersangkutan tidak pulang di rumahnya di Kepanjen sejak 3 Desember,” kata Yade dalam konferensi pers di Mapolres Malang, Sabtu (7/12/2019).

Setelah dicari, polisi akhirnya menemukan dan menangkap CH di daerah Turen, pada Jumat 6 Desember 2019 sore.

Berdasarkan penyelidikan polisi, CH diketahui melakukan perbuatan cabulnya sejak Agustus 2017 sampai Oktober 2019 di ruang tamu bimbingan konseling (BK) di sekolah tempat kerjanya. Aksi itu sering dilakukan di luar jam sekolah.

“Saat jam istirahat (CH) memanggil muridnya meminta untuk menemuinya usai pulang sekolah di ruang BK. Di sanalah perbuatan cabul dilakukan pelaku,” ujar Yade.

Menurut Yade, polisi sudah mendata ada 18 siswa yang korban pencabulan CH. Mereka telah dimintai keterangan dan divisum.

Pelaku CH yang telah memiliki seorang istri dan seorang anak mengaku perbuatan itu dilakukan karena dirinya mempunyai hasrat seksual ke sesama laki – laki. “Punya hasrat seksual (ke laki-laki) sejak usia 20 tahun,” ujar CH saat ditanya wartawan.

Akibat perbuatannya, CH akan dijerat dengan Pasal 82 Juncto 76 E Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta Pasal 82 Ayat 2.

“Oleh karena pelaku merupakan tenaga pendidik maka hukumannya ditambah sepertiga menjadi 20 tahun penjara maksimal,” pungkas Yade.

Pemberian edukasi sesksual memang sangatlah penting, namun sayangnya masih banyak dari orang tua kita yang jarang memberikan edukasi tentang seksual kepada anak sesuai dengan umurnya. Entak karena tidak tahu, tidak ada waktu untuk anak, risih, ataupun masih tabu dengan hal yang berbau seksual.

Predator seksual sangatlah mahir dalam menyembunyikan perilakunya, maka dari itu sebagai orang tua hendaknya harus tahu tentang edukasi dan mau memberikan edukasi seksual terhadap anak.

Di jaman sekarang mudah sekali para predator seksual melakukan aksi buruknya dengan berbagai modus yang bersembunyi dibalik identitas maupun kebaikan.

Sumber artikel : https://news.okezone.com/read/2019/12/07/519/2139171/guru-smp-di-malang-minta-18-siswanya-masturbasi-modusnya-untuk-penelitian?page=1 oleh Avirista Midaada, Jurnalis Sabtu 07 Desember 2019 16:42 WIB