Perjalanan Hijrah

sumber gambar : https://artikula.id/wp-content/uploads/2018/06/taubat-768×512.jpg

ALLAH tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya

Masih banyak dari kita termasuk saya yang mungkin masih selalu mengeluh saat ALLAH menguji kita. Selalu bertanya – tanya kenapa aku yang harus menerima ujian ini, kenapa aku harus menjadi salah satu yang harus menerima ujian ini, adilkah ini Ya ALLAH ?, dan masih banyak lagi.

Ya itulah sifat alamiah manusia, namun jarang kita dan saya sadari bahwa kita selalu mengingnkan Surga namun apa yang telah kita perbuat untuk menuju Surga ?

Apakah amal soleh kita jauh lebih banyak dari dosa kita ? Rasanya dosa kita malah jauh lebih buanyak dibandingkan amal soleh kita.

Mulai berfikir kan kenapa ALLAH menguji kita ?

Bisa jadi saat ALLAH menguji kita itulah altenatif / jalan yang sedang ALLAH siapkan untuk kita dalam perjalanan menuju Surganya ALLAH, bukankah harusnya kita bahagia?

Ya itulah kita manusia termasuk saya sendiri.

Marilah teman – teman untuk kita selalu berprasangka baik kepada ALLAH tentang apapun yang telah menimpa kita, tentang apapun yang ALLAH ujikan kepada kita, karena sungguh pendahulu kitapun juga mendapatkan ujian yang bahkan lebih berat daripada kita.

Menuju Surga bagi kita manusia biasa bukanlah perkara mudah, tetapi jika kita ikhlas dalam menjalani apapun dan selalu berprasangka baik kepada ALLAH, insyaALLAH semua akan terasa mudah dan tanpa diduga – duga.

Seperti kisah dibawah ini yang mengajarkan bagaimana sikap kita saat ALLAH sedang memberikan kita ujian.

Ingin medapatkan dunia saja harus melalui berbagai jurang terjal, lha ini Surga yang tingkatannya juauh lebih tinggi tak terhingga dibandingkan dunia, pantaskah untuk memasukinya tanpa melalui ujian?

Simak kisahnya

Mengenal peduli sahabat 2014-2019

Tahun 2016, ada mahasiswa psikologi yang memintaku untuk menjadi respondennya dalam penelitian skripsi. Awalnya ragu, tapi kemudian meyakinkan diri untuk menyanggupi. Walau sadar, akhirnya akan bertambah orang yang mengenalku sebagai SSA.

Wawancara demi wawancara sudah aku lewati. Sampai kemudian, dia mengenalkanku pada peduli sahabat. Dia tahu grup ini dari dari buku yang ditulis kak Sinyo Egie.

Alhamdulillah, waktu itu aku bersyukur banget bisa kenal dengan peduli sahabat. Karena aku menemukan teman-teman yang senasib seperjuangan. Menemukan orang – orang yang menerima dan mendukung perjuangan kami.

Dan yang paling penting aku punya konsep diri yang baru. Aku gak lagi merasa minder, merasa gak percaya diri, merasa gak layak dan berbagai hal negatif lainnya.

Sejak kenal kak Sinyo Egie dan Peduli Sahabat, aku punya semangat dan cita – cita ingin seperti kak Sinyo. Menolong teman – teman yang punya masalah sama denganku. Menjadi teman berbagi pengalaman jatuh bangun hijrah.

Dan Alhamdulilah, dua kali ALLAH memberi kesempatan padaku untuk bertatap muka langsung dengan kak Sinyo dan ikut pelatihan dari beliau. Dan saat ini, aku sedang belajar menerapkan ilmu yang aku dapat dari beliau.

Sejak mengenal peduli sahabat dan punya konsep diri yang baru, aku juga semakin percaya diri untuk bisa terbuka tentang ke-SSA-anku pada orang – orang terdekat. Tujuannya, agar aku bisa mengajak mereka berpikir terbuka dan tahu bahwa gak semua orang yang punya kecenderungan menyukai sesama jenis itu hanya memikirkan nafsu semata.

Bahwa ada diantara mereka yang berjuang keras untuk hijrah dan butuh dukungan. Bahwa ada diantara mereka yang masih berpikir dan bertindak waras. Bahwa ada diantara mereka yang ingin hidup normal seperti yang lainnya.

Dan akhirnya, aku menemukan orang – orang yang menerimaku, mendukungku dan selalu memberi semangat untuk bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Proses hijrahku sama dengan teman – teman SSA yang lain. Penuh drama jatuh bangun. Pernah berpikir untuk bunuh diri, pernah ingin menjual diri sebagai PSK sesama jenis, pernah merasa benci, jijik dan muak pada diri sendiri, pernah membenci Tuhan, pernah ingin membunuh dan balas dendam pada orang yang melukaiku di masa kecil dan seabrek perasaan negatif lainnya.

Alhamdulillah semua itu tak pernah terealisasi. Sampai sekarangpun, aku tak pernah punya pasangan sesama jenis. ALLAH selalu menarik tanganku untuk bangkit saat aku hampir terjatuh ke jurang maksiat.

Saat ini aku sepenuhnya menyadari, bahwa apapun takdir kita itulah yang terbaik. Ada hikmah yang luar biasa yang sedang ALLAH siapkan. Walau kita belum menemukannya saat itu juga, teruslah berada di jalan ALLAH.

Bersabar dengan aktif dan teruslah mencari solusi terbaik. Lakukan hal-hal positif agar tak ada celah untuk meratapi takdir. Cintai dirimu, cintai semua ujian – ujianmu dan cintai semua kesulitanmu. Agar ALLAH mencintaimu dan menguatkan hatimu untuk menjalani hidupmu yang istimewa.

Terima kasih kak Sinyo Egie. Semoga ALLAH memberkahi perjuangan kakak dan memberkahi keluarga kakak. Untuk teman – teman seperjuangan, semangat berjuang dan semoga ALLAH menguatkan langkah kita untuk tetap berada di jalan ALLAH.

Bumi Allah
31 Desember 2019

Salam Peduli Sahabat

sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Bagaimana Jika Mempunyai Suami Ternyata SSA

sumber gambar : https://images.unsplash.com/photo-1505765052322-75804bb2e5f1?ixlib=rb-1.2.1&ixid=eyJhcHBfaWQiOjEyMDd9&w=1000&q=80

Sudah menjadi fitrahnya jika manusia diciptakan berpasang – pasangan, tapi juga manusia pun pasti tak luput akan mendapatkan ujian dari ALLAH dengan tujuan untuk menguji seberapa kuat iman kita dan yang pastinya dibalik ujian dari ALLAH pasti sedang ada hal baik yang sedang menunggu sebagai hikmah dari ujian tersebut.

Pernikahan merupakan dambaan setiap insan manusia, berkeluarga memiliki keturunan dan bisa saling menguatkan satu sama lain. Dan dari pernikahan pula akan memberikan banyak pelajaran hidup yang mana menyatukan dua hati yang berbeda memanglah bukan suatu hal yang mudah.

Ya memang tidak mudah menyatukan dua hatu yang berbeda.

Terlebih pasti kita tidak tahu bagaimana kehidupan pasangan kita sebelumnya, bagaimana masa lalunya.

Seperti yang ada pada kisah yang satu ini, yang mana diketahui bahwa ternyata pasangannya (suami) adalah seorang SSA, namun yang patut dijadikan teladan bahwa si istri memilih untuk bertahan dengan waktu tertentu sambil berdoa dan berikhtiar agar kelak semoga suaminya bisa segera berubah kembali sesuai fitrahnya sebagai seorang suami.

Simak kisahnya

Upaya untuk tetap sehat jiwa saat memilki suami yanng ternyata SSA.

Pengalaman pahit kadang – kadang mengajarkan sesuatu pada kita. Seperti halnya yang saya alami beberapa waktu terakhir saat mengetahui ternyata pasangan (suami) SSA.

Awalnya memang pahit terdapat getir sekali. Tetapi jangan terlalu lama bersedih hati, segeralah “move on” walau rasa kecewa masih hilang timbul.

Segera berbenah diri, perbaikilah yang mash bisa diperbaiki, tinggalkan jika memang tidak layak dipertahankan.

Ada 3 option dari kak sinyo :
1. Bercerai
2. Bertahan
3. Bertahan dlm waktu tertentu

Setelah konsultasi sana sini dan perenungan diri saya mengambil sikap untuk bertahan dalam waktu tertentu dengan “syarat dan ketentuan berlaku”.

Tentu saja syaratnya adalah berjirah dan istiqomah dijalan yang lurus.

Dalam waktu tertentu saya maksudkan selama anak – anak belum dewasa dan masih butuh figur seorang ayah.

Seperti yang kita tahu bagi para istri yang ternyata memiliki pasangan (suami) SSA bertahan / berpisah sama – sama bukan hal yang mudah.

Dengan pilihan option ketiga tersebut memberikan harapan bahagia bagi saya untuk berharap yang lebih baik dengan berbagai ikhtiar dan doa mendampingi suami dalam proses hijrahnya.

Tetapi juga untuk antisipasi hal yang buruk, juga harus mempersiapkan segala macam kemungkinan.

Berikut langkah – langkah yang saya lakukan :

1. Mendekatkan diri pada Alloh

2. Punya daftar pendamping untuk konsultasi seperti psikolog / rohaniawan yang dikunjungi.

3. Bergabung dengan kelompok sosial yang positif seperti majelis taklim / lembaga sosial / keagamaan

4. Pererat dan jalin kembali silaturahmi / komunikasi dengan sanak keluarga ( untuk antisipasi bila perpisahan benar – benar terjadi kita akan sangat butuh dukungan )

5. Bersikap terbuka dalam pergaulan, berteman dengan orang – orang sholeh, jangan menutup diri.

6. Belajar tentang ilmu agama, parenting, seksual, keluarga, termasuk belajar prosedur perceraian. Buat daftar yang harus didatangi bila terjadi perceraian. Komunikasikan hak pengasuhan anak, dan persiapan pendidikan anak / jaminan kesehatan.

7. Inventaris uang simpanan, harta benda dan surat – surat berharga. Buat daftar yang harus dibagi dan pemiliknya.

8. Jika mampu usahakan rumah tinggal lebih dari satu ( buat rumah baru ), duplikasi kebutuhan hidup menjadi dua, agar mudah bila sewaktu – waktu berpisah.

9. Bijaksana mengelola keuangan, bila tidak bekerja mulailah menyisihkan uang untuk disimpan. Jika perlu mulai bisnis kecil – kecilan agar jika berpisah sudah punya penghasilan sendiri.

10. Berusahalah untuk mandiri tidak banyak tergantung kepada suami, Punya penghasilan sendiri, bisa berkendaraan sendiri, bisa mengasuh anak – anak sendiri.

11. Jangan terlalu berharap / bergantung pada manusia (suami) bergantung-lah sepenuhnya pada ALLAH. Teladani Rasulululloh.

12. Mencintai dan membenci sesuatu karena ALLAH, dan tinggalkan sesuatu juga karena ALLAH.

13. Buat perjanjian tertulis dengan suami

14. Kumpulkan / dokumentasikan segala bentuk temuan – temuan, seperti rekaman chat, dvd atau apapun.

15. Hargai dan cintailah diri sendiri. Sesekali refresing, olahraga, menekuni hobi, perawatan diri ke salon, jalan – jalan.

16. Dampingi suami mendapatkan terapi / pendampingan. Jangan beri toleransi / penerimaan untuk penyimpangan seksualnya.

17. Mungkin sesekali harus jadi detektif bagi suami dan jalani prosesnya, serahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa.

18. Berserah diri pada ALLAH. Mintalah untuk selalu ditemani apapun yang terjadi dalam hidup ini.

Demikian dari saya, semoga beberapa langkah atau juga saran bagi para ibu / istri yang sedang berjuang menghadapi ataupun juga mendampingi pasangannya ( suami ) yang ternyata SSA bermanfaat, tetap berprasangka baik kepada ALLAH, semoga ALLAH segera beri pertolongan dan apapun akhirnya nanti selalu serahkan, pasrahkan kepada ALLAH.

Salam Peduli Sahabat

Sumber kisah : https://web.facebook.com/groups/menantimentari/ ((group khusus dari Peduli Sahabat yang menampung suami atau istri (juga para simpatisan) yang pasangannya diketahui berorientasi non-heteroseskual))

Sistem Pendampingan Peduli Sahabat

sumber gambar : https://www.elsevier.com/__data/assets/image/0004/823261/information-system-supporting-science.jpg

Lulusan Pertama Versi 2.0

Dulu saat Peduli Sahabat masih sepi , setiap perkembangan klien kami umumkan di grup termasuk kelulusan pendampingan.

Sekarang karena tidak memungkinkan maka progres pendampingan klien hanya diketahui pihak Peduli Sahabat sehingga grup lebih banyak dimanfaatkan sebagai sarana informasi bagi member dan klien.

Nah khusus kelulusan klien kali ini kami umumkan di semua grup karena alasan:

1. Klien sudah menggunakan Sistem Pendampingan versi 2.0 (versi terbaru dimulai tahun 2019, membangun sistem terbaru inilah yang mengalahkan tesis saya jiahahaha biar ada alasan gitu.).

2. Beliau adalah klien pertama kali dari grup pasangan (Menanti Mentari) yaitu orang yang datang dengan keluhan bagaimana menghadapi pasangannya yang tertarik sesama jenis atau telah melakukan seks sesama jenis.

Perlu pembaca ketahui dulu di Sistem Pendampngan Peduli Sahabat versi 1.0 (dimulai pada tahun 2016) klien yang tergabung dalam grup pasangan belum dapat didampingi secara tersistem alias masih manual.

Nama samaran pendeknya kak Uza (data detail asli lengkap) dari Jabar, ikut pendampingan (terdaftar) sejak tanggal 20-2-2019 dan lulus dengan baik (lihat hasil chat terakhir) pada hari ini Rabu tanggal 15-01-2020.

Kami hanya mendampingi untuk mengarahkan, bukan memberikan terapi atau mengobati. Semoga hidup kak Uza penuh dengan keberkahan di hari-hari selanjutnya.

Kepada semua member yang sudah mendoakan untuk Peduli Sahabat beserta klien kami berdoa semoga dibalas dengan kebaikan berlimpah, aamiin.

Sinyo Peduli Sahabat

sumber : https://web.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

Penjelasan Mudah Kecanduan Pornografi

sumber gambar : https://cdn2.tstatic.net/jateng/foto/bank/images/ilustrasi-pornografi_20170612_220721.jpg

Salah satu PR yang Peduli Sahabat berikan kepada klien adalah menghindari dan menutup semua akses media berisi pornografi. Nah apa alasannya?

Baca sampai akhir gan, bikin merinding

Sering kita dengar kalau Bahaya Pornografi itu adalah merusak otak, mengacaukan pikiran, membuat malas. Just it ? Ahhhhhh, saya belum merasa belum puas dengan semua penjabaran itu. Saya butuh yang lebih ekstrim penjabarannya. Setelah mencari – cari beberapa referensi dan mendengarkan ceramah orang, yang tak kunjung menghilangkan dahaga penasaran itu. Dan akhirnya saya sekarang tahu Bahayanya Pornografi Bagi Siapapun pecandunya ! Dan sekarang saya ingin berbagi kepada anda.

Saya yakin penjabaran saya akan menjelaskan secara krusial, intinya bahaya pornografi itu apa !

Jadi saya mohon banget perhatian anda sebentar ! Jadi kalau lagi chatting sambil ngakak – ngakak, lagi facebook-an untuk ngomentarin status – status teman, lagi download lagu dan film, atau lagi ngeliat – ngeliat gambar. Please………. STOP dulu !!! Baca artikel ini sampai selesai. Baru anda boleh melanjutkan kegiatan anda tadi. Oke ?

Kita Mulai !!!

Pada hari Jumat 1 Oktober 2010 saya mengikuti seminar seharian diadakan oleh Yayasan Kita & Buah Hati yang ”dikomandani ” Ibu Elly Risman ,Psi .

Pembicaranya adalah : Ibu Elly Risman,Psi dan Dr. Randall F. Hyde,Ph.D, Dr. Randall F. Hyde,Ph.D adalah seorang psikolog senior di negara Amerika sana. Sedangkan Ibu Elly Risman,Psi adalah pakarnya parenting di Indonesai ini.

Pembukaan

Dia (Dr. Randall F. Hyde,Ph.D) berkata :”percayalah pornografi adalah suatu bencana yang kami sendiri ( maksudnya negara Amerika sendiri ) keteteran . Negara kami dapat mempersiapkan perang, dengan senjata dan tentara. Negara kami bisa menghadapi penyakit dengan temuan obat – obat dengan penelitian ilmuwan kami. Tapi untuk pornografi, percayalah, pada awalnya kami tidak siap dan tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk melawannya”.

Oia, merebaknya pornografi di Amerika pada saat sekarang, sudah jauh berkurang dibandingkan 20 tahun silam. Ya !!! Anak – anak di Amerika sana serta remaja -remaja disana dilanda pornografi 20 tahun lalu. Waktu lagi parah – parahnya banget. Sekarang bisa dikatakan sudah sembuh untuk ukuran penyakit satu negara.

Kalau negera kita Indonesia, sekarang inilah yang lagi merebak – rebaknya! “Maka dari itu saya (Dr. Randall F. Hyde,Ph.D) datang kesini, karena saya ingin ikut dalam upaya pembersihan pornografi di negara kita ini. Karena negara kamipun pernah dilanda bencana ini. Dan itu sangat mengganggu. Dan syukurnya kami sudah melewati itu sekarang”.

Dia juga berkata : “I love your country, I love your people” ( Saya sempat terharu mendengarnya ), dua detik kemudian saya tertawa, karena berikutnya dia mengatakan : “I love your cendol too” Gurakrak hahaha.

Di tubuh kita banyak hormon yang bekerja. (Tenang bagi yang agak alergi dengan istilah kimia, meskipun nanti ada istilah kimia, akan dijelaskan secara santai kok ^_^)

Ada 4 hormon yang yang dirusak cara kerjanya. Hormon ini jika bekerja secara normal, akan menguntungkan kita. Nah pornografi membuat ke – 4 hormon ini keluar secara berlebihan dan terus menerus.

Inilah “daging” dari artikel ini !

* DOPAMINE *

Kalau anda sedang kesusahan mengerjakan suatu soal matematika saat ujian, dateng telat, belom makan, eh pas datang ternyata soalnya susah banget, anda pasrah,,, lunglai,,, merasa bakal jeblok nilanya gara-gara tidak ada satupun soal yang bisa anda kerjakan.

Lagi frustasi frustasinya, tiba -tiba ketemu cara ngerjain soalnya,,, YES !!! I Got IT !!! Alhamdullillah !!! Bagaimana perasaanya ? Senang yang bukan main bukan ? Serasa puas campur bahagia. Seperti itulah efek hormon dopamine kalau lagi bekerja. Menimbulkan SENSASI puas, senang , bahagia di dalam dada.

Eits,,, tunggu dulu,,, efek dopamine ternyata menimbulkan peningkatan kebutuhan level.

Maksudnya gini, kalau kemaren anda puas dan loncat loncat kegirangan gara – gara mengerjakan soal anak TK, apakah saat besoknya anda mengerjakan soal yang sama anda merasa puas dan loncat loncat yang sama dengan yang anda lakukan kemaren ?

Tentu tidak ! Anda pasti butuh untuk bisa mengerjakan soal anak SD, baru loncat – loncat kegirangan lagi. Betul gak ? Seperti itulah efek dari bekerjanya si dopamine. NAHHHHH ! pornografi itu membuat si dopamine bekerja terus menerus, sayangnya penyebab dia bekerja adalah karena pornografi !

Ilustrasi :

  1. Pertama kali si Nyoman akan berteriak “oh my god gambar apa sih tuh ?” ( sambil tutup mata tapi agak direnggangin jarinya buat ngintip )
  2. Eh kemaren gambar apa sih ? mengunjungi lagi situs yang menampilkan gambar perempuan memakai bikini tersebut. Dilihat terus.
  3. Besok – besoknya si Nyoman harus melihat perempuan bertelanjang dada agar bisa merasakan sensasi yang “wuooowwww”
  4. Besoknya tentu harus melihat yang lebih parah dari melihat perempuan bertelanjang dada. Bisa yang cuma pakai kanc*t doank atau langsung bug*l.

Begitu seterusnya, dari melihat cewe bug*l, melakukan seks, lebih parah, terus dan terus, harus lebih parah atau minimalnya beda gambar, agar merasakan sensasi “wuooowwww”.

Bisa dibayangkan kan , setelah puas melihat gambar – gambar yang terparah sekalipun, apa yang harus dilakukan agar merasakan sensasi “wuooowwww” ? Nonton videonya beneran donk ! Lalu terus dan seterusnya ? Melakukan seks beneran donk ! Bener banget ! Waktu melakukan seks juga begitu, karena dari awalnya dilandaskan si dopamine tadi, maka akan beda dengan seks yang dilakukan orang normal yang biasa.

Dia selalu butuh teknik seks yang baru, baru dan baru, kalau perlu yang gak normal dan aneh. Makanya kalau para pelaku seks yang melakukan seks gara – gara pertamanya dia kepincut pornografi, akan butuh gaya yang baru dan menuju ke arah penyimpangan seksual. Sampai jadi nyoba incest ( berhubungan dengan saudara sendiri ), berhubungan seks dengan binatang, pemerkosaan, penyiksaan dalam seks. Hanya karena butuh utuk merasakan sensasi “wuooowwww” tersebut.

Mereka tahu itu salah, tapi tetap melakukannya.
Mereka tahu itu salah, tapi tidak bisa melawannya.

Itulah parahnya hormon dopamine yang dibikin bekerja secara terus menerus oleh pornografi !

* NEUROPINIPHRIN *

Kalau seorang pebisnis sejati, otaknya dipenuhi dengan yang namanya peluang dan keuntungan. Ngeliat usaha yang bisa dijadikan ladang uang, selalu dimanfaatkan dengan baik. Instingnya ke bisniiiiis mulu ! Nah inilah yang terjadi juga terhadap para pecandu pornografi.

Otaknya selalu berputar – putar dengan yang namanya pornografi. Ngeliat yang ngerangsang dikit, otak udah ngebayanginnya yang lain – lain. Kalau ada perempuan yang memakai baju seksi, mungkin orang normal hanya kan berkata “perempuan itu seksi”. Tetapi kalau orang yang sudah kecanduan pornografi, akan berfikir, gimana ya rasanya bersetubuh dengan dia,,, ( sambil ngiler diem diem bego gitu ). Lagi berdiri disamping perempuan, langsung otaknya ngeres dah ! padahal perempuannya biasa aja, gak ngedance, ngeliuk-liukin badan, apalagi striptise. Sama sekali enggak ! Tapi otaknya sudah yang gimana gitu.

Itulah yang dirasakan orang yang sudah berurusan dengan pornografi. Ngerusak otak ! Nah inilah yang sering digembor – gemborkan orang bahwa pornografi itu ngerusak otak, inilah yang diamaksudkan. Sering terbayang selalu, akibatnya tidak bisa berfikir jernih, males belajar, males mikir, males kretif. Karena otaknya sudah dipenuhi dengan daftar kosakata atau kejadian yang bisa otak dia sambung – sambungin dengan yang namanya seks.

Kerjaannya siapa ? kerjaannya hormon neorupiniphrin yang sudah disutradarai oleh pornografi.

* SEROTONIN *

Saat seorang perokok lagi stress, dia akan merokok. Kenapa begitu ? karena rokok adalah sesuatu yang bisa membuatnya senang, tentram, damai, piss, ( itulah betapa shittnya rokok ! )

Itulah efek kerja dari hormon serotonin, membuat seseorang merasa nyaman saat hormon itu keluar. Nah saat orang bersentuhan dengan yang namanya pornografi, hormon itupun keluar, fly,,, lihat porno, gue fly gue tenang, gw oke,,, piss man.

Efeknya ? Setiap orang itu kesel, orang itu frustasi, orang itu sedih, orang itu kesepian, orang itu mengalamai hal yang menyulitkan dirinya, dia akan lari ke pornografi ! Karena itu yang membuatnya tentram.

Sedih ya ? yaiyalah, kalau orang stres, pelariannya ke ibadah, mantep ! Kalo pelariannya ke bermeditasi, keren ! Kalau pelariannya ke hang out bersama teman- teman atau kalau yang perempuan shooping ? Masih okelah. Lah kalau sebuah pelarian haruslah ke pornografi misalkan langsung ke warnet dan langsung searching pretty ukr*ini*n girl ??? yalkkk! kan cuma buang – buang duit sama waktu.

* OKSITOSIN*

Anda tahu kenapa seorang ibu dengan anak – anaknya ada ikatan batin ? Karena hormon oksitosinlah jawabannya. Saat seorang ibu melahirkan, hormon oksitisoin terpancar banjir keluar dari tubuhnya. Nah efeknya adalah, dia mencintai sesuatu yang membuat orang tersebut mengeluarkan hormon oksitosin itu ! Karena si ibu itu jadi keluar hormon oksitosinnya, gara – gara anak yang dilahirkannya tersebut ! Maka dia akan jadi punya ikatan batin dengan anak tersebut ! Itulah sistem kerjanya si hormon okitosin.

Pornografi itu membuat hormon oksitosin bekerja secara terus menerus pada saat si orang tersebut mengakses pornografi. Sudah tahu kan akibatnya jadi seperti apa ? Dia menjadi terikat secara batin dengan pornografi tersebut. Makanya yang kecanduan pornografi itu, ada rasa kangen, jika tidak melihat pornografi selama beberapa hari.

Jyaaaalllk ! terikat batin dengan pornografi !

Apa yang bisa dibanggakan dengan terikatnya seseorang dengan pornografi ???

Itulah penjabaran saya tentang bahaya pornografi yang saya dapat dari Dr. Randall F. Hyde.

Semoga jelas, semoga nancep. Semoga makin sadar kalau pornografi itu menyebabkan kerusakan otak secara permanen tapi perlahan, yaiyalah ! yang diserang otak !

Bagi yang baca ini setelah ingin memulai terjun di bidang pornografi, yah sebaiknya berhenti ya. Bagi yang sudah kecanduan dan merasa artikel ini “kok kayaknya gw banget”, silahkan sadar dengan sesadar – sadarnya bahwa pornografi itu gak bagus friend! Kecanduan pornografi sebenarnya sama dengan kecanduan narkoba.

Kalau kencanduan narkoba jelas keliatan parahnya. Kalau kecanduan pornografi tidak kelihatan secara fisik. Tahu – tahu sudah bego aja tuh otak. Dan serasa tidak berguna yang namanya hidup.

sumber artikel : http:// https://abangdani.wordpress.com/2013/09/12/dampak-mengerikan-dibalik-pornografi/ atau https://www.kaskus.co.id/thread/51b7ddf61cd7190f22000002/ngeri-dampak-pornografi-yang-harus-anda-tahu/

WHO AM I

WHO AM I?

Sebenarnya tidak terlalu penting siapa saya. Yang penting adalah apa yang saya tulis (dan dengan demikian Anda baca). Tapi in case data berikut bisa membantu Anda, inilah saya:

Nama saya Alif Hamzah, usia di atas 30, dan sejak remaja saya menyadari kondisi bahwa saya mempunyai “keistimewaan”. Keistimewaan tersebut adalah bahwa saya (dalam penafsiran saya yang kadang tidak lazim) dikaruniai kekuatan untuk menanggung cobaan yang sangat berat. Karena Allah sudah memberi kekuatan tersebut, Dia menguji saya dengan memberi saya ketertarikan kepada sesama pria.

Ketertarikan ini harus saya tanggung sepanjang hidup dan hanya orang yang tidak berperasaanlah yang mengatakan bahwa memikul ujian seperti ini bukan hal yang berat. Bagi sebagian kecil orang barangkali memiliki ketertarikan pada sesama bukanlah suatu masalah (bagi sebagian lain merupakan end-of -the-world), tapi jika Anda faham bagaimana menggelegaknya dorongan hasrat yang tidak bisa tersalurkan, sementara di sisi lain Anda meyakini bahwa keyakinan Anda melarangnya, maka kata “cobaan berat” saja kadang tidak bisa mewakili apa yang saya tanggung.

Namun demikian, karena keyakinan pula saya mampu bertahan. Jika sampai akhir hayat saya sanggup untuk tidak mengumbar hawa nafsu di arena yang tidak dibenarkan, itu karena masih ada setitik iman dalam hati.

Jika Anda dengan tulus berdoa untuk saya (dan orang-orang yang berjuang seperti saya, for that matter), barangkali Tuhan akan menjadikan titik iman itu lebih besar dari waktu ke waktu. Dan barangkali suatu saat saya bisa mencapai apa yang saya cita-citakan : ikhlas sepenuhnya dengan apa pun yang Allah berikan untuk saya. Amiin

Ini adalah blog pertama saya dan ini adalah tulisan pertama di sini. Saya akan menulis topik sebagaimana niatan blog ini dibuat : perihal homoseksualitas dan keyakinan agama.

Tulisan di bawah ini semula adalah tanggapan yang saya kirim ke sebuah bloglain untuk mengomentari topik homoseksualitas yang dia angkat. Saya meng-copy-nya kembali untuk dijadikan tulisan pertama saya.

The – path 1

Bagi sebagian orang, barangkali tema homoseksualitas adalah tema yang bikin jengah, bikin risih, dan karenanya dihindari, bagi sebagian yang lain, mungkin tema yang membuat penasaran dan karenanya dicari (dengan alasan yang sama, mungkin ada yang berpendapat mengangkat tema ini hanya upaya mencari perhatian).

Bagi saya, mengangkat tema homoseksualitas adalah berbicara tentang apa yang saya hadapi dalam hidup ini. Sangat sulit untuk menulis sesuatu secara netral, benar-benar obyektif, apalagi jika kita merupakan “obyek” yang menjadi topik pembicaraan. Tapi dengan segala keterbatasan tersebut, saya mencoba menyampaikan apa yang keluar dari hati saya tentang topik ini.

Tulisan ini insya Allah ditulis dengan semangat memberi kejelasan dan amar maruf nahi munkar, dan mudah-mudahan dibaca dengan semangat yang sama. Tidak ada judgement di sini, saya hanya menulis apa yang saya alami dan dalami. So, be prepared!

HOMOSEKSUALITAS

Saya perlu menekankan perbedaan antara kecenderungan atau dorongan terhadap homoseksual dengan aktivitas homoseksual itu sendiri. Yang pertama dikenal secara umum sebagai Same-Sex Attractions (SSA) dan yang kedua adalah perilaku atau aktivitas yang memenuhi dorongan atau kecenderungan SSA tersebut. Pelaku inilah yang dapat dikategorikan sebagai homoseksual/gay.

Yang perlu difahami, karena seseorang memiliki SSA (ketertarikan kepada sesama jenis) tidak dengan sendirinya dia menjadi homoseks atau gay (kedua istilah ini belakangan dipakai baik untuk laki-laki maupun wanita, meskipun untuk wanita lebih sering dipakai istilah lesbian). Sangat banyak orang yang memiliki SSA tapi tidak mewujudkannya dalam tindakan karena berbagai alasan. Moral, sosial, religi, medis, bisa menjadi alasan yang membuat orang tidak menindaklanjuti dorongan seksualnya.

DARI MANA DATANGNYA KETERTARIKAN ITU?

Ada dua kubu pendapat tentang asal-usul kecenderungan homoseksual. Meyakini mana dari kedua mazhab tersebut yang benar akan menentukan bagaimana sikap dan pandangan kita terhadapnya (baik Anda sebagai orang yang memiliki SSA ataupun tidak).

Teori Pertama bahwa sifat itu bawaan lahir, genetik, innate, terberi, sudah ditakdirkan.

Teori Kedua bahwa kecenderungan ini bukan bawaan lahir, dia tumbuh dan berkembang karena banyak faktor dalam masa perkembangan seseorang.

Tentu tidak banyak yang bisa dibicarakan dengan teori pertama. Kalau sesuatu dikatakan sudah takdir, sudah ada sejak lahir, apa lagi yang bisa diperbuat? Kalau Anda dilahirkan dengan rambut kriting, meskipun Anda melakukan rebounding berkali-kali, tetap saja rambut Anda akan kembali kriwil-kriwil.

Michael Jackson tidak menjadi seorang white meskipun melakukan terapi bleachingkulit berulang kali. Karena dia ditakdirkan untuk lahir dari orang tua black. Dengan pola yang sama, kecenderungan homoseksual jika sudah ada sejak lahir berarti sesuatu yang normal, merupakan ketetapan Tuhan, dan tidak bisa dirubah.

Tapi apakah demikian?

Mazhab kedua tidak meyakini hal ini. Menurut mazhab ini, setiap manusia lahir dengan fitrah. Dan fitrah awal manusia adalah mencintai atau menyukai lawan jenisnya. Pengaruh (dari berbagai arah) selama masa bayi, anak-anak, dan remaja-lah yang kemudian memberi peluang tertanamnya bibit – bibit SSA dan membiarkan SSA itu tumbuh dan berkembang subur dalam diri seseorang. Karena tidak mungkin untuk memberikan uraian lebih detail di sini, tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, ada paling tidak tiga penyebab timbulnya homoseksualitas:

1. Karena pernah mengalami pelecehan (abuse) waktu kecil, kanak-kanak atau bahkan setelah masa remaja.

2. Karena pola asuh oleh orang tua yang tidak tepat.

3. Karena faktor lingkungan lainnya (media massa, pergaulan, perlakuan orang lain terhadapnya, pendidikan, faham-faham tertentu, dll).

(CATATAN: kapan-kapan akan kita bahas tentang ketiga faktor ini lebih dalam).

Yang paling menonjol dari faktor-faktor tersebut adalah tidak terpenuhinya kebutuhan yang sangat krusial dalam perkembangan psikologis seorang anak, yakni ikatan emosiaonal antara anak dengan orang tua sesama gender (anak laki-laki dengan ayah, anak perempuan dengan ibu). Adanya jarak atau terlepasnya ikatan emosional (emotional detachment) antara anak dan ayah (atau dengan ibu, kalau anaknya perempuan) merupakan sesuatu yang hilang dalam perkembangan seorang anak.

Karena kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi (unmet) semasa kecil, terdapat semacam kekosongan dalam dirinya dan di masa remaja atau dewasa atau bahkan sepanjang hayatnya si anak akan berusaha memenuhinya. Kebutuhan akan hubungan emosional sesama lelaki (male bonding) tersebut semula tidak terkait dengan fisik atau seksual, tapi seiring berkembangnya hormon seseorang, maka ketika masuk masa pubertas, kehausan tersebut bergeser menjadi hal-hal seksual.

Keinginan dekat dengan sesama lelaki bukan lagi hanya emosional, tapi telah dicampuri dengan seksual. Hampir semua hal yang berbau lelaki akan menjadi sesuatu yang dapat membangkitkan hasrat seksualnya. Bagi seorang yang memiliki SSA, melihat lelaki lain yang memenuhi citra idealnya, merupakan suatu sensasi. Membaca nama seseorang yang dikaguminya (jangan lagi melihat wajahnya, apalagi lebih jauh dari itu), akan memberikan getaran yang sulit dimengerti orang-orang yang tidak mengalaminya. Membaca nama orang yang dikaguminya dalam deretan inbox email atau sms saja akan memberikan getaran yang (mungkin) melebihhi yang dialami seorang straight yang menerima kecupan dari kekasihnya.

Bagi mereka penganut teori bahwa homoseksualitas bukan sesuatu yang ditakdirkan, melainkan pengaruh dalam masa perkembangan, maka kecenderungan tersebut dianggap sebagai deviasi (penyimpangan) dan karenanya bisa diluruskan.

PANDANGAN AGAMA TERHADAP HOMOSEKSUALITAS

Karena saya seorang Muslim, tanpa mengurangi rasa hormat kepada non-Muslim, saya hanya akan mengutarakan apa yang saya pelajari dari agama Islam.

Di beberapa negara seperti AS dan UK, banyak organisasi yang mewadahi kaum G*BTQ Muslim (at least thats what they call themselves). Mereka biasa berpartisipasi dalam gay pride parade dengan membawa plakat sebangsa, We are gay and Muslim and proud. Dalam berargumen, mereka menekankan bahwa mereka ditakdirkan sebagai gay dan melawan kecenderungan tersebut merupakan perlawanan terhadap takdir. Mereka berdalih bahwa tidak ada ayat yang secara eksplisit melarang praktik homoseksual. Pendapat bahwa homoseksual adalah haraam karena penafsiran yang ada saat ini didominasi oleh rezim hetero.

Adapun tentang kisah Nabi Luth mereka mengatakan bahwa yang diharamkan bukanlah perilaku homoseksual yang consent (suka sama suka), diazabnya kaum Nabi Luth karena kejahatan-kejahatan lain yang dilakukan yaitu (terutama) perkosaan. Jadi selama perilaku homoseksual itu dilakukan atas dasar kasih sayang (tanpa paksaan) dan suka sama suka, bagi mereka, tidak diharamkan.

Nah, saat ini rupanya gejala tersebut bukan hanya muncul di AS atau UK (atau Eropa) saja, tapi sudah merambah ke mana-mana, termasuk ke Timur Tengah (terutama Lebanon) bahkan sampai ke Indonesia. Beberapa organisasi yang selama ini tidak diembeli label keagamaan, kini ada yang mencari pembenaran dari sisi agama.

Bagi kalangan mainstream Muslim, tentu apa yang mereka sampaikan hanyalah upaya justifikasi dari perilaku mereka. Kaum G*BTQ Muslim tersebut menilai mereka progresif dalam menafsirkan Al Quran, sementara sebagian besar yang lain menilainya sebagai upaya memelintir ayat untuk membenarkan perilaku mereka.

Dalam Al Quran sendiri ada belasan ayat yang mengecam perilaku homoseksual. Di antaranya:
An-Nisa 4:16 Al-Araf 7:80 Al-Shuara 26: 166-170 Al-Naml 27:55-57.

Perlu ditekankan bahwa yang dikecam (dan dihukum) dalam Al-Quran adalah TINDAKAN atau AKSInya, bukan KECENDERUNGAN. Artinya memiliki kecenderungan terhadap sesama jenis (SSA) bukanlah suatu dosa. Mewujudkan kecenderungan atau dorongan tersebut dalam tindakan, itulah yang dinilai sebagai dosa besar.

Jadi sebagai apakah SSA tersebut?

Sebagaimana yang sudah disebut beberapa orang, tak lain adalah sebuah ujian. Di sinilah pentingnya penggunaan istilah. Seseorang yang diuji dengan SSA, tetapi karena berpedoman kepada Al Quran dan meyakini bahwa ajaran agama melarang perbuatan homoseksual, dia tidak serta merta menjadi gay.

Bagi yang sadar bahwa SSA adalah sebuah ujian, ada perbedaan besar antara dua kalimat berikut:

a. Saya seorang gay.

b. Saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki.

Pada saat seseorang mengatakan Saya gay, maka dia memasukkan suatu konsep dalam dirinya. Konsep tentang gay ini juga tidak terlepas dari stereotype tentang gay. Dan seseorang cenderung untuk memenuhi predikat yang disematkan padanya (self-fulfilling prophecy). Dengan mengatakan diri sendiri gay, seseorang menafikan unsur-unsur lain dalam dirinya yang sebenarnya berkarakter straight. Jika kita yakin dengan kondisi fitrah kita saat lahir, seharusnya kualitas yang diperlukan bagi setiap lelaki telah ada dalam diri kita. Potensi itulah yang harus digali untuk menumbuhkan karakter laki-laki dari setiap orang yang memiliki SSA.

Dengan menyadari saya memiliki ketertarikan terhadap sesama lelaki tetapi saya bukan gay, seseorang sebenarnya telah secara sadar menepis image atau stereotype gay bagi dirinya.

Dalam Islam, semata kecenderungan atau dorongan bukanlah dosa. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari/Muslim tentang seseorang yang berniat jelek tapi tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Lihatlah janji Allah dalam surat Al-Bayyinah (98:8) bagi mereka yang sanggup menahan hawa nafsu dan berusaha menjaga keimanan.

Supaya tidak terlalu berkepanjangan (inipun udah panjaaang, pasti udah banyak yang bete bacanya), saya ingin berpesan kepada beberapa pihak:

1. Kepada Mereka Yang Stright

Saya tidak ingin menyebut yang straight sebagai normal, karena itu akan menjadi unfair karena konsekuensinya yang memiliki kecenderungan gay berarti abnormal.Saya sangat menghargai mereka yang memandang kaum gay dengan netral tanpa menjadi judgemental. Saya himbau kepada mereka yang mencela apalagi sampai menghujat kaum gay untuk berfikir ulang.

Tahukah Anda jumlah orang yang memiliki kecenderungan ini?

Sebuah riset menyebut jumlahnya antara 5-10% dari seluruh populasi (ok, Ok, riset lain ada yang menyebut di bawah 5%). Mengagetkan? Tentu, karena sebagian besar dari yang 5-10% tersebut tidak menunjukkan ke-gay-annya (dengan berbagai alasan) sehingga tidak diketahui orang-orang sekitar, bahkan orang terdekat sekalipun.

Pernahkah Anda berfikir bahwa orang terdekat Anda sebenarnya punya kecenderungan gay? Pernahkan terfikir bahwa tetangga Anda yang penolong itu, paman Anda tempat Anda curhat, adik yang Anda sayangi, kakak atau sepupu yang Anda hormati, sebenarnya gay? Pasti Anda akan menyebut bahwa saya mengada-ada kalau saya katakan bahwa bisa jadi ayah yang sangat Anda banggakan, atau suami (jika Anda wanita) yang begitu memanjakan Anda, sebenarnya punya kecenderungan gay?

Percayalah, itu mungkin. Dan percayalah, orang-orang dengan kecenderungan gay ini (di Indonesia) lebih banyak yang menikah dan memiliki anak daripada yang melajang. (Karena tidak mungkin saya membuktikannya di sini, Anda sebaiknya percaya saja. Just believe me, I know what Im talking about.)

Dan tahukah Anda apa yang menyuburkan ke-gay-an seseorang?

Salah satunya, adalah sikap homophobia dari mereka yang menyebut dirinya straight. Sindiran, celaan, hujatan, makian, penolakan, pengucilan, hanya akan membuat mereka semakin terikat dengan dunia mereka dan terpisah dari dunia straight pada umumnya. Dan karena adanya rasa terasing itu, mereka semakin merasa kesepian. Di sinilah kondisi menjadi semakin memburuk, karena rasa kesepian semakin memperkuat ketertarikan dan keterikatan mereka kepada kaum senasib.

Padahal yang diperlukan oleh mereka yang berusaha untuk menekan kecenderungan ini (if you know what I mean, ketertarikan itu tidak bisa dihilangkan, hanya dikendalikan) adalah bergaul secara sehat dengan sesama lelaki, terutama yang straight. Begitu mereka merasa menjadi bagian dari lelaki biasa mereka lebih bisa mengendalikan dirinya, menerima dirinya, dan menumbuhkan kualitas kelelakian dalam dirinya.

Kalau mereka semakin tenggelam dalam dunia (yang Anda nilai) sesat karena sikap Anda kepada mereka, bukankah Anda pun punya andil dalam keterpurukan mereka? (Dengan segala hormat kepada mereka yang memiliki kecenderungan gay dan menganggap kecenderungan tersebut tidak perlu dilawan : saya menghargai sikap Anda, meski saya tidak menyetujuinya). So, please, fikir ulanglah next time Anda mengeluarkan hujatan.

2. Kepada Para Orang Tua

Jika di sini ada yang sudah memiliki anak (lelaki ataupun perempuan) saya ingin berpesan : syukurilah dan jagalah karunia Allah tersebut. Berhati – hatilah dengan cara Anda memperlakukan anak Anda.

Sebagian besar orang yang ber-SSA disebabkan karena pola asuh dan pola didik yang salah oleh orang tua. Saya sempat berfikir bahwa para orang tua sekarang sudah lebih well-informed tentang bagaimana perkembangan psikologis seorang anak, sehingga seharusnya mereka lebih tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tapi melihat jumlah penyandang SSA dari kalangan usia muda semakin banyak belakangan ini, anggapan saya bahwa para orang tua sudah lebih tahu bagaimana mendidik anak, harus saya telan kembali.

Para ayah (juga berlaku bagi ibu, untuk anak perempuan), kapan Anda terakhir kali memeluk anak lelaki Anda? Atau tidak pernah? Berapa kalikah Anda menyuruh anak diam karena Anda kelelahan sehabis kerja? Apakah secara tidak sengaja Anda pernah menyakitinya? Pernahkan Anda melihat anak Anda merasa ragu atau takut untuk mendekati Anda? Pernahkah Anda merasakan ketidaknyamanan pada anak justru pada saat Anda ada di dekatnya? Pernahkan Anda tanpa sadar melakukan tindakan berbau pelecehan karena Anda menganggapnya sebagai suatu joke atau sekadar fun atau iseng?

Ayah, berhati-hatilah saat anak berusia 3-7 tahun. Jika pada masa itu Anda gagal membangun ikatan emosional dengan anak, Anda masih ada kesempatan untuk memperbaikinya di usia 8 hingga pertengahan belasan. Tapi jika kesempatan kedua itu Anda sia-siakan maka tanpa Anda sadari Anda telah menanamkan benih-benih homoseksual di diri anak Anda. Anda telah menorehkan luka yang dalam dalam diri anak Anda, sebuah luka yang akan dibawa dengan pedih oleh anak sepanjang hayat.

Luka itu menyedot energi dan emosi anak, menempatkannya pada posisi tersudut, membuatnya selalu dahaga akan ikatan emosional dan kepercayaan diri dan untuk memenuhinya ia akan terus mencari sepanjang hidupnya. Pencarian itu bisa membawanya kepada kebaikan, tapi tak jarang justru menjerumuskannya di lembah nista.

Tidak penting apakah si anak menyadari kesalahan ayahnya itu, atau bahwa ia menyadari bahwa dirinya memiliki luka. Yang jelas karena kelalaian sang ayah, luka itu tertoreh dan itu adalah luka yang lebar dan dalam. Tidak terlalu bermanfaat jika setelah dewasa sang anak mengkonfrontir ayahnya atas perlakuan terhadapnya semasa kecil atau remaja. Konfrontasi tidak akan menyembuhkan luka, apalagi biasanya sang ayah merasa tidak berbuat salah.

Oleh karena itu, para orang tua, cegahlah sebelum kesalahan itu Anda perbuat terhadap anak Anda. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana beratnya cobaan dan godaan yang dihadapi anak yang memiliki SSA. Orang bisa mengatakan bahwa tidak perlu pergi ke kutub untuk mengetahui gunung es. Tapi untuk SSA, itu tidak berlaku. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana berat dan pedih rasanya memikul cobaan ini sampai Anda mengalaminya sendiri.

3. Kepada Mereka Yang Punya Kecenderungan Gay

Terlepas dari bagaimana rasa ketertarikan ini muncul pada diri kita (kalau sampai di paragraf di atas belum jelas bagi Anda, yes, I also have SSA), yang lebih penting sesungguhnya bukan bagaimana kita memiliki SSA, tapi bagaimana SIKAP kita terhadap kecenderungan ini.

Kalau saya melakukan pendekatan agama dalam menulis ini, karena itulah yang bagi saya bisa memberikan solusi saat ini. Saya telah mencoba mengatasi permasalahan ini dengan mengkaji dari berbagai cara approach. Beberapa cara lain telah saya pelajari, tapi pada akhirnya agamalah yang bisa memberi jawaban.

Saya ingin menyampaikannya dalam beberapa poin:

Adalah HAK setiap orang untuk menentukan pilihan. Anda berhak untuk menentukan jalan hidup Anda. Menjadi gay atau tidak sepenuhnya pilihan Anda. Tapi setiap pilihan mengandung konsekuensi. Dan karena ketetapan tentang homoseksual telah ditetapkan dalam Alkitab, apapun asal-usul kecenderungan ini (karena pelecehan, karena salah asuh, karena salah gaul, atau bahkan jika Anda menganggap hal ini bawaan lahir) tanggung jawab dan konsekuensinya tetaplah sama. Saya ingin mengatakan, jika menentukan pilihan adalah HAK Anda, maka membuat pilihan yang BENAR adalah KEWAJIBAN (Making choices is a right, making the right choice is an obligation).

Masuk akal-kah jika Allah menciptakan kita sebagai gay, kemudian mengutuk kita for being gay? Kalau kita percaya dengan firman Allah, berarti kecenderungan ini bukanlah pemberiannya yang kemudian harus diikuti, ini adalah ujian. Dan sebagaimana kita telah diajarkan, kita tidak akan diberi ujian yang melampaui kemampuan kita. Sekarang bahwa kita memiliki kecenderungan ini, sebenarnya kita orang-orang terpilih, yang sudah dibekali Allah dengan kemampuan mengendalikannya. Apakah kita mau menggunakan kemampuan mengendalikan itu atau tidak, berpulang kepada Anda.

Seorang ahli mengatakan, Every homosexual is a latent heterosexual. Jadi ada jiwa heteroseks dalam diri kita, dan itulah sebenarnya fitrah. Katakanlah kita punya dua serigala peliharaan, yang satu bersifat pemarah, sirik, munafik, pelit, pembohong, & dengki, sedangkan binatang yang satunya lagi bersifat ramah, soleh, penuh harapan, dermawan, empati, penyayang dan bahagia. Nah, manakah dari dua serigala itu yang akan menang? (Jika Anda serius untuk mengetahui jawabannya, silakan diskusi dengan saya melalui alif2hamzah@yahoo.com).

Kebutuhan yang harus kita penuhi adalah rasa komplet menjadi seorang lelaki untuk meraih keseimbangan dalam hidup. Rasa sebagai lelaki itulah yang kita dambakan sepanjang hidup. Jika kita berhubungan secara tidak sehat dengan sesama lelaki, kita tidak memenuhi kebutuhan itu, karena kita melepaskan karakter kelelakian kita kepada yang lain. Yang timbul justru rasa kekosongan yang lebih dalam dan keterlepasan kita kepada karakter kelelakian.

Silakan simak surat Al-Baqarah (2:216) “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita bisa mengendalikan orientasi seksualitas kita. Dan ini adalah sesuatu yang harus di-manage. Hanya karena Anda menikah tidak berarti Anda telah mengatasi kecenderungan Anda terhadap sesama. Berapa banyak dari kita yang living double lives? Menikah dan sekaligus menjalani kehidupan sebagai gay di belakang istri? Menikah dan resolving SSA adalah dua hal yang berbeda dan dua-duanya harus dikelola secara benar.

Tanpa mengurangi pandangan saya terhadap perlunya upaya – upaya lain, jika kita memang berniat untuk meninggalkan kehidupan gay, hal paling pertama kita lakukan ialah memasrahkan diri kepada Allah. Pasrah dan ikhlas dalam arti yang sebenar-benarnya. Yakin bahwa Allah akan memberikan Anda hal terbaik dalam hidup Anda kini dan di akhirat kelak. Pasrah dan ikhlas di sini dalam arti Anda rela menerima cobaan ini dan rela untuk menjalani kehidupan sesuai dengan perintah-Nya.

Anda berdamai dengan diri sendiri, tidak menyalahkan orang tua, orang yang pernah melecehkan Anda, menyalah diri sendiri, apalagi menyalahkan Tuhan. Terimalah semuanya sebagai garis hidup. Bahwa memang Anda harus menjalani cobaan ini dan yakinlah bahwa Allah akan menolong setiap langkah Anda, dan akan membalas segala upaya Anda untuk hidup di jalan-Nya.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Tapi bukan perjalanan pergi, melainkan perjalanan kembali. Kembali kepada-Nya. Tentu, jalan yang kita tempuh bukan jalan tol yang mulus. Jalan kehidupan penuh liku, banyak tanjakan dan turunan, banyak lubang dan duri, ada halangan disetiap ruas. Tapi Allah telah memberi rambu-rambu. Jika pun Anda sempat salah belok, selalu terbuka untuk kembali ke jalan yang lurus.

Ampunan Allah selalu terbuka. Rahmat Allah tak terkira luasnya. Berjalanlah padanya, maka Dia akan menyambutmu dengan berlari. Adalah tidak masuk akal sehat jika Anda menukar kebahagiaan abadi di akhirat dengan kenikmatan sesaat di dunia.

Sumber: http://alif2hamzah.blogdetik.com/2008/08/26/halo-dunia/